Cari

Antonius Sutedjo

Kategori

Uncategorized

Enthung Jati

ENTHUNG JATI

Aku adalah pendiri geng GAGAS, Geng Anak Gragas di Wonogiri. Gagas beranggotakan empat orang anak, yaitu Yahmin, Giman, Katno dan aku sendiri. Dari keempat anak itu hanya aku sendiri yang bukan anak asli Wonogiri. Aku anak dari Jawa Timur, yang lahir di Malang. Tetapi justru akulah yang mendirikan geng ini. Kata Gragas, yang kalau di Wonogiri di sebut Grangsang, artinya adalah ‘pemakan segala’. Apapun dimakan, asalkan tidak beracun. Markas besar kami berada di samping kuburan, di tepi Sungai Bengawan Solo.

Kegiatan Gagas adalah bertualang, keluar masuk kampung, ladang, semak belukar dan hutan. Tujuan utama kami adalah untuk mencari makanan tambahan. Kami sudah bosan dengan apa yang kami makan sehari-hari. Apalagi kalau sedang masa sulit. Sego tiwul (nasi dari singkong) dan lauknya tanpa daging. Padahal kami berempat adalah pemakan daging. Jadi naluri itulah yang membuat kami jadi gragas atau grangsang. Dan yang paling mudah dicari dan paling sering kami makan adalah serangga. Serangga yang paling sering kami makan adalah belalang. Jadi kami sering disebut pemakan belalang.

Rupanya di Wonogiri ini banyak juga penggemar serangga. Para penggemar serangga ternyata ada peringkat-peringkatnya. Yang menentukan peringkat ini adalah aku sendiri. “Peringkat pemula”, adalah mereka yang sekedar mau coba-coba makan serangga, karena mungkin mendengar dari teman-temannya bahwa serangga itu rasanya enak dan gurih sekali.

Yang kedua, “peringkat musiman”, yaitu mereka ini hanya doyan jenis serangga tertentu yang hanya ada pada musimnya.

Lalu peringkat selanjutnya, yaitu “peringkat pebisnis”. Mereka mengumpulkan serangga sebanyak-banyaknya untuk kemudian dijual. Yang terakhir adalah “peringkat senior”. Yaitu pemakan semua jenis serangga termasuk yang bukan serangga, bisa dibilang pemakan segala. Peringkat senior inilah yang juga disebut anak gragas, anak grangsang.

“Leee uler jati, leee..—leee ulat jati leee.” Teriak seorang anak, sambil berlari di jalanan. Suara anak itu menggema dengan cepat dan menyebar ke seluruh Wonogiri. Khususnya bagi para penggemar serangga. Tibalah musim ulat jati. Tanda-tanda munculnya “ulat jati”, yaitu waktu ada daun jati yang masih muda jatuh ke tanah. Daunnya itu sudah robek-robek dimakan ulat, terkadang sudah tinggal batang daunnya saja. Itulah pertanda datangnya ulat jati.

Maka kami se-geng, meninjau ke hutan jati, di Alas Kethu. Di pohon jati itu terlihat banyak sekali ulat. Ulat-ulat itu meluncur ke bawah melalui batang pohon jati bagaikan air terjun, saking banyaknya dan menuju ke tanah. Ulat-ulat itu telah kenyang memakan daun-daun jati muda. Pada waktu ulat-ulat itu turun ke bawah, aku dan anggota Gagas tenang-tenang saja, dan kami keluar dari hutan itu menuju pulang.

Beberapa hari setelah itu, aku dan teman-teman kembali berangkat menuju ke Alas Kethu, hutan jati itu. Saat itu mulai terlihat ada kerumunan manusia di bawah pohon-pohon jati itu. Apa yang mereka cari adalah kepompong, calon kupu-kupu yang berlindung di dalam bungkusan berupa sutera. Dan kepompong itulah yang dicari oleh banyak orang. Kepompong yang berwarna coklat, bentuknya terdiri dari kepala dan tubuh calon kupu-kupu. Panjangnya sekitar 2 sentimeter. Itulah yang dinamakan “enthung jati”.

Rumah enthung menempel pada daun-daun kering yang sudah tergeletak di tanah. Enthung itulah yang akan di tangkap oleh sekerumunan orang itu. Ada sekelompok anak muda, yang mengais-ngais mencari enthung dengan sangat kikuk karena merasa jijik. Nah, mereka itu adalah peringkat pemula.

“Dik, enthung ini harus diapakan? “ tanyanya kepadaku. Lalu aku menjawab, “Untuk digoreng, Mbak.” Karena aku tahu mereka adalah pemula sedangkan aku peringkat senior, maka aku nasihatkan kepada mereka supaya jangan langsung dimakan terlalu banyak. Tapi dicoba dulu dikit demi sedikit. Jika tidak apa-apa alias tubuhnya tidak bereaksi, baru boleh makan lagi. Karena apa, kalau mereka makan enthung lansung dalam jumlah banyak, mereka bisa ‘biduren’. Kulitnya akan bentol-bentol merah dan sangat gatal. Bahasa kerennya “alergi”. Tapi sebenarnya hal itu tidak apa. Karena jika hal itu terjadi, apotik pasti sudah menyediakan banyak obat penawar ‘biduren’ itu. Dan itu terjadi setiap musim enthung jati.

Lain halnya dengan “peringkat musiman”. Mereka adalah pemakan serangga yang sudah tidak merasa jijik saat memegang si enthung. Mereka mengambil secukupnya, untuk dimakan sendiri. Bagaimana dengan “peringkat pebisnis”? Umumnya mereka mengambil enthung dengan sangat serakah. Mereka ingin mengambil sebanyak-banyaknya. Seakan-akan enthung itu akan habis dari hutan itu. Padahal mana mungkin habis, karena begitu luasnya hutan jati itu. Enthung-enthung yang mereka kumpulkan itulah yang akan mereka goreng dan jual di pasar.

Setiap musim enthung, di pasar Kota Wonogiri, selalu ada mbok-mbok yang menjual enthung goreng. Mbok itu duduk di tanah dan di atas bakulnya ia letakkan “nampi” yang lebar. Di atas nampi itu teronggok enthung goreng. Jika ada yang membeli, si mbok akan menakar enthung goreng itu menggunakan batok (tempurung kelapa). Setelah itu dibungkus dengan daun jati yang lebar. Biasanya penggemar enthung beli di pasar untuk dibawa ke rumah atau dimakan sambil jalan. Enthung dapat diolah dengan digoreng atau bagi yang pandai memasak bisa juga ditumis bersama sayur-sayuran yang diberi bumbu, sehingga menjadi lauk yang sangat sedap.

Bagi aku dan anggota Gagas yang berperingkat senior, merasa enthung tidak perlu digoreng atau ditumis seperti mereka. Kok repot amat. Yang kami lakukan hanya menusuk enthung- enthung itu ke dalam tusukan bambu dan dijadikan sate. Sate enthung itu kami bakar di basecamp kami. Lalu kami pun berpesta sate enthung.

Musim enthung akan berlanjut terus,selama masih ada hujan dan pohon jati tetap bersemi. Setelah hujan menghilang dan muncul musim panas, enthung- enthung pun mulai lenyap. Dan selesailah “demam entung” di Wonogiri. Tetapi, aku dan teman-temanku satu geng, tetap tenang-tenang saja. Dari enthung, kami dapat dengan mudah beralih ke serangga yang lain, ada jangkrik, ada belalang. Makanan kami tidak pernah habis. Geng kami tetap bertualang, merasa bebas, lepas dan bahagia. Kami tidak tergantung musim, karena Tuhan menyediakan makanan yang berlimpah yang dapat kami santap, di mana pun dan kapan pun juga.

Meskipun kami dianggap sebagai anak yang gragas dan itu terdengar bukan hal yang baik bagi para orangtua dan beberapa anak rumahan, namun kenyataannya banyak dari mereka yang kurang gizi, sementara kami kelebihan gizi. Terima kasih enthung jati. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K

Aku Ini Siapa?

AKU INI SIAPA?

Pada suatu hari dalam perjalanan pulang dari Kaligunting menuju Wonogiri, aku duduk sendirian di dalam sepur kluthuk. Masa itu aku baru saja naik kelas ke kelas 3 Sekolah Dasar. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara, “Hey, siapakah sebenarnya kamu ini?” Suara itu sungguh mengejutkanku, aku hampir terloncat dari kursiku.

Suara itu ternyata datang dari dalam diriku sendiri. Diriku yang bersembunyi pada salah satu sudut di dalam hatiku. Setelah sirna rasa kagetku, aku mencoba untuk berpikir dan kemudian berusaha untuk menjawabnya seperti ini.

“Aku ini siapa? Aku dilahirkan di kota Malang. Sewaktu aku masih bayi, aku di titipkan oleh orangtuaku ke rumah Mbah Tanjung, di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang. Aku dititipkan disana karena ayah kandungku meninggal dunia”.

Sebenarnya pertanyaan mengenai “Aku ini siapa?” sudah mulai terngiang beberapa tahun sebelumnya. Yaitu pada hari aku mengetahui bahwa ibu kandungku sendirilah yang menitipkan dan meninggalkanku di rumah Mbah Tanjung. Tetapi karena waktu itu aku masih sangat kecil, pertanyaan itu dengan cepat terlupakan.

Kesibukanku sebagai anak-anak dengan mudah menyapu dan menyingkirkan pertanyaan tersebut. Aku asyik menjalani kehidupan masa balitaku di Jalan Tanjung dan kemudian bersekolah di Taman Kanak-kanak di Jalan Semeru, Malang.

Tetapi tiba-tiba aku dipindahkan ke kota Mojokerto, ke rumah Mbah Mojo, adik dari Mbah Tanjung. Aku harus tinggal di situ untuk seterusnya karena aku telah resmi diangkat sebagai anaknya. Kemudian aku di beritahu oleh Mbah Mojo bahwa aku tidak boleh lagi memanggilnya dengan panggilan ‘mbah’, tetapi dengan panggilan Pak Mojo. Aku mulai bingung.

Berikutnya, Pak Mojo melarangku memanggil Om No dan Om Nu dengan panggilan ‘om’, tapi menjadi ‘mas’. Sehingga aku harus memanggil mereka dengan Mas No dan Mas Nu. Aku bertambah bingung.

Bahkan Pak Mojo memberiku daftar nama-nama seluruh anggota keluarga besar dengan perubahan panggilan nama-nama mereka satu per satu. Yang tadinya ‘pak’ jadi ‘mas’, yang tadinya ‘mbah’ jadi ‘pak’, yang tadinya ‘mas’ jadi ‘nak’. Nah di saat itulah aku tidak hanya menjadi bingung, tapi menjadi pusing tujuh keliling. Aku menjadi limbung dan bertanya-tanya dalam hati, “Aku ini siapa sebenarnya?”

Belum lagi adanya semacam “tekanan” yang kurasakan di tengah kondisiku yang sedang bingung dan galau saat itu. Yaitu ketika ada keluarga yang berkunjung ke rumahku, rumah Pak Mojo di Mojokerto. Setiap kali aku menyaksikan terjadinya perdebatan seru antara pihak keluarga kandungku dengan Pak Mojo sebagai ayah angkatku. Aku tak paham betul hal apa yang mereka perdebatkan mengenai diriku. Aku hanya menyaksikan dan mendengar sendiri mereka ribut berhari-hari tanpa ada kesimpulan dan titik temu.

Diriku ini, yang menjadi topik utama perdebatan mereka, tidak pernah sekalipun ditanya tentang bagaimana pandanganku tentang semua hal itu. Tak pernah mereka bertanya padaku mengenai apa sebenarnya yang kubutuhkan sebagai seorang ‘anak’ atau anggota keluarga.

Bisa jadi karena mereka semua menganggap bahwa aku masih terlalu kecil, aku masih anak TK, aku belum mampu berpikir seperti mereka. Tetapi menurutku, mereka semua, orang-orang dewasa itu seharusnya mengerti, bahwa aku juga punya perasaan. Memang aku mungkin belum mampu untuk memikirkan dan mencernanya, tetapi aku sudah mampu untuk merasakannya. Aku memiliki “rasa”.

Hal-hal seperti inilah yang sering membuatku menjadi galau dan sedih. Sekiranya saja saat itu ada yang menanyakan kepadaku, apa yang sebenarnya kubutuhkan, akan kujawab, hati. Yang kubutuhkan adalah hati. Namun seperti biasa perasaan itu teralihkan oleh kegiatanku sehari-hari, bermain sebagaimana layaknya anak-anak kecil.

Kegemaranku adalah bermain sambil mengamati dan menyelidiki segala sesuatu. Apalagi dalam suasana perang seperti waktu itu, aku memiliki kesempatan untuk mengamati banyak hal. Aku mengamati bagaimana caranya pesawat tempur Belanda menjatuhkan bom. Aku mengamati bagaimana tembakan-tembakan meriam Belanda di tujukan ke arah tentara kita.

Kondisi perang itu jugalah yang akhirnya membawaku dan keluarga mengungsi ke arah barat. Berawal dari kota Malang, ke Mojokerto berakhir di Wonogiri. Kota yang hanya berjarak sekitar tiga puluh kilo meter dari Desa Kaligunting, desanya Mbah Kakungku. Tuhan rupanya sudah memiliki rencana untuk mengarahkan diriku ini untuk mendekat kepada “akar garis darah”-ku, Mbah Kaligunting. Kakek kandungku, ayah dari ayahku.

Rencana Tuhan pula yang mengirim Om No, anak Mbah Tanjung di Kota Malang yang secara mendadak muncul di Wonogiri. Om No yang dulu sering membuliku saat aku masih kecil di Malang, ternyata adalah seorang om yang “satu hati” dan sangat menyayangiku. Om No adalah malaikatku, orang yang selalu berusaha mendekatkan aku kembali ke keluarga kandungku.

Om No jugalah yang berhasil membuat Pak Mojo mengijinkanku untuk bertemu dengan Mbah Kaligunting di desanya. Itu adalah kali pertama aku berjumpa dengan kakek kandungku sendiri, akar garis sedarahku.

Setiap kali aku berada di desa Kaligunting, tinggal bersama mbah kandungku dan keluarganya, selalu ada perasaan nyaman yang kurasakan. Di sana aku merasa diperhatikan, diberi kasih sayang yang lebih, dan di-aku-kan. Aku merasa bahwa mereka semua membagi dan memberi hati mereka untukku, dan memang itulah yang sebenarnya selama ini kudambakan dan kubutuhkan.

Pada suatu hari Mbah Kaligunting, yaitu Mbah Kakung dan Mbah putri datang berkunjung ke rumahku di Wonogiri, ke rumah Pak Mojo ayah angkatku. Suatu malam, di ruang tengah, Mbah Kaligunting terlibat pembicaraan serius dengan Pak Mojo. Setiap kali aku berjalan lewat di ruangan itu mereka selalu menghentikan pembicaraan. Aku yakin bahwa mereka sedang membicarakan tentang aku. Tangan mereka sering menunjuk-nunjuk ke arah kamarku sambil bicara dengan muka tegang.

Keesokan harinya Mbah Kakung dan Mbah Putri pulang. Aku mengantar mereka ke stasiun kereta api. Tiada sepatah kata pun yang mereka ucapkan selama perjalanan menuju ke stasiun. Begitu pula pada saat aku mengantar sampai ke atas kereta bahkan sampai ke tempat duduk mereka.

Mbah Kakung hanya diam saja, beberapa kali memandangku seakan mau mengatakan sesuatu, tetapi kemudian si Mbah memalingkan muka dan melihat keluar jendela. Begitu berulang-ulang hingga akhirnya aku pun turun, karena kereta sudah akan segera berangkat.

Aku tidak tahu apa sebenarnya yang ada di dalam hati Mbah Kakung dan Mbah Putri.. Sewaktu kereta mulai berjalan, aku melambaikan tangan sambil berteriak dalam hati, “Mbaah… aku mau ikuuut..” Dari dalam sepur klutuk itu Mbah Kakung hanya memandangku. Pandangan Mbah Kakung yang semakin lama semakin menjauh itu seakan berkata kepadaku, ”Sing sabar yo lee… — Yang sabar ya cucuku.”

Sepur kluthuk itu terus berjalan ke arah selatan. Tetap kupandangi kereta itu sampai tak mampu kulihat lagi, terhalang setumpuk air yang menggenang di mataku. Tinggallah aku sendirian dengan sebuah pertanyaan yang belum juga terjawab, “Aku ini siapa?” (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K & SR Kristiawan

Lampu Di Atas Langit

LAMPU DI ATAS LANGIT

Aku akan mengunjungi desa Kaligunting lagi. Ya, aku akan kembali berkunjung ke rumah mbah kandungku yang kepala desa itu. Sebenarnya belum lama sejak terakhir kali aku berkunjung kesana, baru sekitar enam bulan yang lalu saat aku baru masuk kelas 1 SDN 3 Wonogiri.

Kunjungan pertamaku enam bulan lalu itu sungguh sangat berkesan. Bermain gamelan, mengambil air di sungai, dan merebus singkong rebus tanpa air. Semua itulah yang membuatku ingin datang lagi serta memperluas pengamatanku tentang desa Kaligunting, termasuk juga kepala desanya yaitu mbah kandungku, Mbah Kaligunting.

Kali ini aku dijemput oleh pak lik di stasiun Baturetno, stasiun terakhir rel sepur kluthuk. Dari Baturetno ini kami berjalan kaki menyusuri jalan yang juga pernah dulu aku lalui. Aku masih ingat rute ini. Aku masih ingat kebun-kebun singkong yang luas ini dan juga tanah-tanah yang gersang merekah mengerikan karena kekeringan selalu melanda wilayah ini. .

Ketika kami tiba di sungai yang pertama, ternyata sungai itu sedang banjir. Seorang bapak penduduk desa setempat menyarankan kami untuk menunggu sekitar 1 jam menunggu air surut. Pak lik menerima saran bapak tadi, kami menunggu karena untuk menggunakan jembatan yang ada kami harus berjalan berputar sejauh 10 kilometer lagi. Ternyata benar, setelah kami menunggu kurang lebih 1 jam, air sungai mulai sedikit surut.

Walau telah surut tetapi ketinggian air masih mencapai dada orang dewasa, arus juga masih cukup kuat, sehingga pak lik kemudian memanggulku. Proses menyeberangi sungai ini selalu menegangkan dan seru.

Sekitar 100 meter sebelum tiba di rumah Mbah Kaligunting, aku sudah tidak sabar lagi, aku berlari sekencang-kencangnya ingin bertemu lagi dan melepas rindu dengan Mbah Kakungku.

Sama seperti kunjunganku pertama kali 6 bulan yang lalu, Mbah Kakung menyuruh para pengawalnya untuk memetik beberapa buah kelapa muda. Lalu aku duduk bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri juga bersama pak lik dan bu lik. Sambil duduk mataku terus melirik dan tak bisa terlepas dari perangkat alat musik gamelan yang ada di dekat situ. Untunglah mereka mengerti apa yang ada di dalam pikiranku.

“Yo kono, nggamel kono… — Ya sana main gamelan dulu sana,” kata Mbah Kakung padaku. Aku pun berlari ke arah alat musik yang bernama “bonang”. Lalu aku mulai memainkan gending (lagu) yang sudah pernah aku pelajari dulu, yang aku sudah mulai hafal, judulnya Sampak.

Sampai sore aku bermain gamelan sendirian. Dari “bonang”, aku berpindah ke “cente”. Cente adalah sebuah alat gamelan yang terdiri dari bilah-bilah kuningan yang bernada dan terletak diatas kotak kayu yang pendek. Cara memukulnya memakai pemukul semacam palu yang terbuat dari kayu. Suara yang dihasilkan nyaring sekali. Karena suaranya yang nyaring, cente berfungsi sebagai melodi dalam setiap lagu. Gending yang kumainkan masih sama, Sampak.

Dari cente, aku berpindah ke alat gamelan lainnya, yaitu “gambang”. Gambang terdiri dari bilah-bilah kayu. Tiap bilah tersebut memiliki nada yang berbeda. Gambang ini juga diletakan di atas kotak kayu yang rendah tapi lebih panjang, karena jumlah bilahnya lebih banyak. Alat pemukul gambang ini berupa dua buah tongkat kecil yang pada ujungnya terdapat bulatan dan terbungkus dengan kain.

Karena terbuat dari kayu, gambang ini suaranya pelan dan halus. Aku pun sudah bisa bermain dengan dua tangan sekaligus. Tangan kanan memukul melodinya, sedangkan tangan kiriku mengiringi melodi itu dengan variasi. Gendingnya bukan Sampak, karena gambang hanya di mainkan pada gening-gending yang pelan dan lembut. Sungguh mengasyikan.

Setelah bosan bermain gamelan, aku menuju ke kebun di halaman depan. Rupanya petugas desa dan pak lik sudah menyiapkan api unggun. Saat itu sedang musim ubi jalar dan jagung, sehingga kami pun pergi ke ladang memetik beberapa buah jagung dan menggali tanah mencari ubi jalar.       Kemudian mulailah kami berpesta jagung bakar dan ubi rebus tanpa air. Ubi rebus tanpa air ini dimasak dengan cara ‘dibenem’. Yaitu dibungkus menggunakan daun pisang yang tebal dan dibenamkan pada bara api di bawah abu yang berwarna putih.

Seperti biasa, setelah menikmati hasil bumi dari ladangnya Mbah Kakung ini, aku berlari ke sungai. Di sana aku mandi seperti seakan-akan berenang, padahal sungainya dangkal, hanya setinggi pahaku.

Setelah itu, juga seperti biasanya, Mbah Kakung mengajakku duduk di meja yang besar di dalam rumah itu untuk makan malam. Kami hanya berdua makan di meja makan itu, sementara yang lain menunggu di dapur, termasuk Mbah Putri. Kalau Mbah Kakung membutuhkan sesuatu, misalnya tambah lauk, Mbah Kakung akan berteriak dan Mbah Putri yang akan datang melayani. Setelah itu Mbah Putri kembali duduk di dapur.

Setelah selesai makan malam, aku di kejutkan oleh suara ramai yang datangnya dari luar rumah. Suasana begitu ramai dan meriah oleh suara anak-anak kecil. Aku mendadak takjub dan bersemangat. Dari mana datangnya anak-anak sebanyak ini?

Semakin malam semakin banyak anak-anak dan pemuda pemudi yang mengalir berdatangan ke rumah Mbah Kakung. Aku pun sempat diajak oleh mereka untuk ikut serta dalam kemeriahan itu. Aku menolak, karena seperti biasa aku ingin mengamati terlebih dahulu.

Kulihat ada bermacam-macam kegiatan di halaman itu. Ada yang bernyanyi, menari, ada yang bekejar-kejaran hingga ada yang bermain petak-umpet yang mereka sebut “jelungan”. Aku tertarik dan memperhatikan sekelompok anak-anak dan orang-orang muda yang bergandengan tangan membuat lingkaran yang besar. Mereka menyanyikan lagu yang berjudul “Lir Ilir”. Di tengah-tengah lingkaran ada orang yang menari. Lagu ini ternyata bermakna untuk mengundang anak-anak lain yang belum hadir, untuk ikut berpesta malam itu.

Seorang anak lelaki datang dan mengajakku untuk bermain ‘jelungan’. Satu orang di suruh menutup matanya di bawah pohon. Sedangkan anak-anak lain termasuk aku menyebar bersembunyi. Anak yang menutup mata, berteriak, “Wisss…? Wisss…? — Sudaaaah? Sudaaah?” berulang-ulang. Selama masih ada yang bilang “Duruuunng — beluuuuum,” ia belum boleh membuka matanya untuk mencari kami.

Aku ngacir berlari ke tengah ladang dan bersembunyi di bawah rumpun pohon jagung. Cukup lama aku di sana, tetapi entah mengapa tidak ada yang datang mencariku. Aku kemudian keluar dari tempat persembunyianku dan kembali ke tempat permainan. Mereka tertawa terbahak saat melihat kedatanganku, ternyata aku telah melanggar peraturan permainan. Tempat bersembunyi seharusnya hanya boleh di dalam lingkungan rumah Mbah Kaligunting. Tidak boleh keluar dari area halaman rumah, apalagi sampai ke tengah ladang.

Kemudian ada seorang gadis menarik tanganku, aku diminta untuk berbaring telungkup di atas tanah. Lalu ada beberapa tangan yang diletakan di atas punggungku. Kemudian mereka menyanyikan lagu yang berjudul ‘Cublak-Cublak Suweng’. Aku bisa merasakan ada yang menekan tangan-tangan di punggungku secara bergantian.

Pada refrain lagu itu, mereka semua mengangkat tangannya dari punggungku lalu membuat genggaman. Mereka bertepuk tangan dengan hanya menggunakan jari telunjuk saja. Pada saat itu aku harus bangkit dan harus mencari siapa diantara mereka yang ada batu dalam genggamannya. Permainan yang sangat menarik.

Keriaan malam itu makin meriah saja. Aku terkagum karena acara ini bagaikan sebuah pasar malam yang tanpa lampu. “Lampunya” berada jauh di atas langit. Yaitu bulan purnama, yang malam itu bersinar bulat sempurna bagaikan lampu neon yang bersinar dan menerangi seluruh desa ini. Ya, malam ini adalah malam terang bulan!

Mbah Kakung dan Mbah Putri duduk berdua di pendopo sambil mengamati kami semua yang sedang bermain. Aku yakin ada rasa bahagia di dalam hati mereka berdua, melihat keluarga besar bersama rakyatnya berbaur menjadi satu. Bergembira dan bermain di halaman rumah mereka, rumah seorang kepala desa.

Malam itu semua penduduk desa bergembira. Melupakan sejenak segala penderitaan atas kekeringan, masa paceklik dan kesulitan hidup yang sedang melanda mereka. Mereka bersukacita hingga lewat tengah malam. Suasana saat itu bagaikan kata-kata di dalam syair terakhir dari sebuah lagu keroncong terkenal ciptaan R. Maladi yang berbunyi seperti ini.

“Di bawah sinar bulan purnama,

Hati susah jadi senang,

Si miskin pun yang hidup sengsara,

Di malam itu bersuka.”

(*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Editor: Veronica K & SR Kristiawan

Laron Goreng

LARON GORENG

Malam itu seluruh anggota Gagas lengkap berkumpul di rumah Giman. Kami berempat sedang membantu keluarga Giman membuat gaplek. Gaplek merupakan makanan pokok di daerah Wonogiri pada saat itu. Yang kami sedang lakukan adalah mengupas ketela pohon (singkong) dari kulitnya. Itu adalah langkah paling awal dalam pembuatan gaplek. Kegiatan keluarga Giman memang adalah memproduksi gaplek, untuk dijadikan tepung lalu di jual. Keluarga ini adalah salah satu dari ribuan keluarga lain yang turut berpartisipasi sehingga kota Wonogiri ini terkenal dengan sebutan Kota Gaplek.

Suasana di dalam rumah sederhana yang hanya berlantaikan tanah itu begitu hening, dari luar terdengar sayup-sayup suara jangkrik saling bersahutan di kebun yang gelap. Kami hanya diterangi oleh sebuah lampu sentir, yaitu botol kecil yang berisi minyak dan bersumbu. Sinarnya berwarna merah dan sangat redup.

Suasana itu membuat aku sedikit melamun dan berpikir tentang gengku ini. Gagas, Geng Anak Gragas, yang sangat kompak, sehati. Apakah diantara kami berempat ini tidak ada perbedaan sehingga kami bisa kompak? Ternyata tidak. Kami punya banyak sekali perbedaan. Mengenai nama geng saja sejak semula sudah berbeda pendapat. Aku yang mendirikan geng ini memberi nama Gagas, singkatan dari kata geng anak gragas. Mereka bertiga, yang putra daerah Wonogiri itu menolak kata “gragas”, karena tidak mengerti apa artinya.

Aku berkata, “Gragas itu artinya pemakan segala, itu bahasa Jawa Timuran”. Yahmin langsung menjawab, “Oh, kalau disini namanya bukan gragas, tapi grangsang.” Jadi mereka mengusulkan nama Gebog, singkatan dari Geng Bocah Grangsang. Begitulah, sampai sekarang pun belum ada titik temu. Jadi sementara ini kami memiliki dua nama. Terserah masing-masing, mau pakai nama yang mana.

Perbedaan yang lain adalah, bahwa aku ini anak Jawa Timur, suka bicara ceplas-ceplos. Maksudnya aku seringkali langsung mengatakan apa saja yang ada di dalam kepalaku ini tanpa dipikir lebih dahulu. Disamping itu aku juga suka bicara dengan suara yang keras. Sedangkan mereka berbicara dengan suara yang pelan, sopan, berpikir dulu sebelum bicara dan bicaranya tidak langsung ke pokok masalah, sering menggunakan istilah-istilah. Hal itulah yang terkadang membingungkan aku si anak Malang ini.

“Maan, jukukno wakul..!– Man, ambilkan wakul” Teriak simboknya Giman dari dapur. ‘Wakul’ adalah tempat nasi yang terbuat dari bambu. Memang dari tadi sudah tercium harumnya sego tiwul (nasi dari gaplek) yang baru masak. Dan si mbok rupanya masih di dapur memasak sayur.

Suasana kembali menjadi hening, membuat aku melanjutkan lamunanku. Lalu apa yang membuat kami tetap kompak? Apakah karena kami sama-sama anak gragas (ngrangsang)? Ada benarnya, tetapi rupanya bukan hanya hal itu yang membuat kami ini menjadi sehati. Ternyata kami ini saling membutuhkan. Aku memerlukan teman yang bisa mengerem kenakalanku ini yang kadang suka nekad dan keras kepala. Juga, mereka pun bisa mengajariku tentang kebiasaan dan tata-krama. Sedangkan dari diriku, sahabat-sahabat gengku itu memerlukan ide-ide yang membuat mereka lebih dinamis, lebih hidup dan bergairah.

Para orang tua mereka juga tampak senang dengan kehadiranku dalam persahabatan itu. Mungkin mereka terhibur melihat seorang “anak kota” yang nakal tapi lucu. Kami memang saling berbeda, tetapi kami tetap kompak dan bersatu hati. Buktinya kalau ada salah seorang dari kami beberapa hari saja tidak hadir di markas besar kami yang letaknya di pinggir kuburan di tepi Bengawan Solo, kami selalu merasa khawatir dan langsung bergerak mencarinya.

Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang melintasi tempat kami berkumpul. “Laron..!” kataku. Dan kami pun dengan cepat bergerak. Masing-masing sudah tahu apa yang harus kami lakukan. “Laron” adalah serangga kecil yang bersayap yang berasal anai-anai atau rayap. Kami mengambil ember besar berisi air. Di atas ember itu kami nyalakan sebuah lampu teplok. ‘Lampu teplok’ adalah lampu minyak yang di sekeliling sumbunya dilindungi dengan semprong, kaca bulat, sehingga nyalanya tidak tertiup angin. Lampu teplok tersebut sinarnya lebih terang dari pada sentir.

Benar juga, beberapa detik kemudian ruangan itu sudah di penuhi oleh ribuan laron yang beterbangan ke sana kemari. Laron-laron tersebut selalu mencari sinar terang. Karenanya begitu melihat sinar dari lampu teplok dan bayangan sinar di air yang di dalam ember, mereka langsung menerjunkan diri ke dalam ember. Sangat seru, bagaikan ratusan pesawat-pesawat kamikaze Jepang yang menerjunkan diri ke kapal-kapal perang Amerika di Pearl Harbour.

Dalam waktu tak terlalu lama ember sudah dipenuhi dengan laron yang tewas terapung. Mboknya Giman sudah menyiapkan wajan tanpa minyak di atas tungku. Maka laron-laron itu langsung kami masukkan ke dalam wajan tanpa minyak itu.

“Sreeeng…” Begitulah suara laron yang masih basah saat kami masukkan kedalam penggorengan. Tidak berapa lama, terciumlah bau yang sangat sedap dari laron goreng, ini karena laron-laron itu mengeluarkan minyak dari dalam tubuhnya sendiri. Langkah berikutnya adalah wajan tersebut kami kipasi dan beterbanganlah sayap-sayap laron hangus itu dari dalam wajan.

Akhirnya, pekerjaan kami mengupas dan membelah singkong itu telah selesai. Kami pun makan bersama, keluarga Giman beserta kami anggota geng. Menu malam itu adalah sego (nasi) tiwul, sayur lodeh dan laron goreng. Nikmatnya bukan kepalang. Kami makan dengan “posisi bebas”, ada yang duduk di atas tikar, ada yang duduk di atas dingklik (bangku pendek), tapi kebanyakan makan sambil jongkok, gaya makan khas Wonogiri.

Malam itu aku berjalan kaki pulang sambil membawa oleh-oleh perut kenyang. Rasa gurih laron goreng masih belum hilang dari mulutku. Tetapi jauh lebih penting dari itu semua, malam itu aku menjadi lebih paham akan arti sebuah persahabatan. Aku merasa bersyukur, memiliki teman-teman dari keluarga yang sangat sederhana (baca: miskin) tetapi mereka tulus. Aku bangga pada geng Gagas ini, kompak dan sehati. Sebuah pengalaman dan pelajaran yang akan kukenang selamanya, terimakasih geng Gagas. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Penunggu Sendang

PENUNGGU SENDANG

Sudah kumulai “proyek” pengamatan di daerah sekitar rumah baruku. Rumah baru keluarga kami ini terletak di kompleks Perumahan Rakyat, di daerah Kajen, di belakang kantor Kabupaten Wonogiri. Lokasi kompleks kami ini ternyata lebih dekat dengan pusat kota dibandingkan dengan rumah kami yang lama.

Dari jalan raya kota Wonogiri, tepat di seberang pasar ada jalan berbatu-batu yang menurun landai ke arah timur. Jalan berbatu itu berujung pada sebuah pertigaan. Di pertigaan jalan itu jika engkau menengok ke arah timur, akan terlihat dataran tanah yang rendah. Di atas dataran itulah adanya kompleks perumahan kami.

Dari pertigaaan jalan itu, jika engkau berbelok ke kanan atau ke arah selatan engkau akan menuju ke jalan Kajen. Sedangkan kalau engkau ambil jalan ke kiri, engkau akan tiba di jalan yang mengelilingi Kantor Kabupaten.

Nah, di belakang kantor kabupaten itu ada sebidang tanah. Di sana ada semacam kolam penampung air yang bersumber dari sebuah mata air yang tak pernah henti mengeluarkan air. Kolam seperti ini sering di sebut ‘sendang’.

Lebar sendang itu sekitar enam kali enam meter dan kedalamannya kurang lebih tiga meter. Kolam itu juga dikelilingi oleh tembok setinggi pinggang orang dewasa. Air segar lagi jernih itu terus memancar dari dalam tanah, tak pernah habis dan selalu tersedia cuma-cuma bagi masyarakat sekitar.

Di samping sendang itu terdapat sebuah pohon beringin yang tinggi dan rindang. Batangnya besar berlekuk tak beraturan sampai ke akarnya. Sulur-sulurnya menjulur bagai rambut-rambut panjang yang dikepang, membuat suasana di sekitarnya menjadi agak seram dan kadang membuat bulu kuduk bergidik. Lebih lagi di bawah pohon itu sering kutemukan sebuah ‘anglo’, tungku kecil dari tanah liat yang berisi arang menyala dan menyebarkan bau kemenyan.

Suatu pagi ketika aku sedang duduk sendirian di tepi sendang, tiba-tiba terjadi sebuah keributan. Orang-orang yang sedang mengambil air di situ terlihat berdebat dan ribut tentang sesuatu. Mereka beradu bicara sambil saling melongok dan menunjuk-nunjuk ke dalam sendang tersebut.

“Ikan-ikan itu harus segera di keluarkan. Ini kan air untuk diminum?!” kata seorang ibu yang kemudian disetujui oleh yang lain. Suasana mulai memanas ketika tiba-tiba seorang bapak tua berkata, “Ojoo…, iwak-iwak iki kagungane sing nunggu –Jangan, ikan-ikan ini adalah milik si penunggu.”

Penunggu yang dimaksud disini adalah nama alias dari sesosok halus yang tidak yang kasat mata, yang konon bersemayam di pohon beringin tersebut. Mendengar ucapan orang tua itu, semua orang terdiam seribu bahasa. Mereka saling memandang satu sama lain, lalu kemudian kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing. Sementara kedua ekor ikan mas yang berada di dalam sendang itu terus berenang sana-sini tanpa peduli, saling berkejar-kejaran dengan asik.

Malam harinya aku mencari sebatang tongkat bambu yang kecil, sebuah peniti dan seutas benang. Untuk apa? Aku akan membuat sebuah alat pancing untuk memancing kedua ikan mas tersebut. Tetapi kalian pasti masih penasaran ya, dari mana datangnya ikan mas dua ekor itu?

Begini ceritanya. Aku mempunyai seorang teman baru di Jalan Kajen. Temanku itu memiliki sebuah kolam kecil di halaman depan rumahnya. Ia memelihara banyak ikan dari berbagai macam jenis, yang terbanyak adalah ikan mas.

Sehari sebelumnya dengan susah payah aku berhasil membujuknya untuk memberikan padaku dua ekor saja dari ikan-ikan mas miliknya. Ia mengambil sebuah ember, mengisinya dengan air, dan kemudian memasukan dua ekor ikan mas seukuran telapak tanganku. Malamnya saat suasana sudah sepi, aku pergi ke sendang dan diam-diam menuangkan air beserta ikan yang ada di emberku itu kedalamnya. Itulah sebabnya mengapa tadi pagi terjadi keributan karena orang-orang tiba-tiba mendapati ada dua ekor ikan mas di dalam sendang.

Sebenarnya memang sudah sejak lama aku ingin mencoba belajar memancing ikan, tapi tak pernah kutemukan tempat untuk itu. Ketika melihat sendang itulah aku menemukan ide untuk memenuhi hasratku untuk belajar memancing. Maka sebuah pancingan sederhana dari bambu yang kubuat sendirilah yang kugunakan untuk memancing.

Setiap hari saat tidak ada orang dan sendang sedang sepi, aku melakukan percobaanku memancing 2 ekor ikan mas itu. Pada hari pertama usahaku gagal, karena umpan yang kugunakan saat itu hanyalah butiran nasi. Seorang teman kemudian menasihatiku untuk menggunakan umpan cacing tanah. Esoknya, dengan umpan cacing tanah itu aku berhasil menangkap seekor dari dua ekor ikan mas itu.

Hilangnya satu ekor ikan mas dari dalam sendang itu membuat orang-orang menjadi gempar. Mereka percaya bahwa satu ekor ikan mas itu sudah dimakan oleh si “penunggu” sendang. Pada hari yang ke lima, barulah aku berhasil memancing ikan mas yang satunya lagi.  Dan orang-orang menjadi lebih heboh lagi. Mereka percaya bahwa semua ikan itu sudah dimakan habis oleh sang “penunggu”, sosok halus yang tinggal di pohon beringin yang seram itu. Keesokan harinya situasi di sendang kembali normal, tak ada lagi gangguan dari adanya kehadiran ikan mas peliharaan “penunggu” sendang.

Akhir kata aku pun merasa sangat puas, bukan hanya karena akhirnya keinginanku untuk belajar memancing telah terwujud, tetapi kemampuan memancingku telah teruji dengan sangat baik. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronika K & SR Kristiawan

Rumah Baru

RUMAH BARU

Walau semula agak ragu, akhirnya Pak Mojo mengambil keputusan untuk pindah ke rumah baru. Rumah baru kami di Perumahan Rakyat di daerah Kajen, di belakang kabupaten.

Sebelum pindah, lebih dulu kami meninjau rumah yang hampir selesai itu. Rumah tersebut adalah salah satu dari sepuluh rumah batu yang bentuknya seragam dan saling berhadapan, ada lima rumah di setiap sisi. Ada perbedaan yang mencolok antara rumah lama kami di Jalan Raya Jurang Gempal, dengan rumah baru ini.

Rumah kami yang lama terletak di tepi jalan raya dan letak rumahnya lebih tinggi dari jalan. Sedangkan rumah baru kami ini letaknya di ujung sebuah jalan yang lebih kecil dan berbatu. Lokasinya lebih rendah dibanding jalan-jalan yang ada di kota Wonogiri. Ada dua macam perasaan bercampur aduk di dalam hatiku. Rasa berat meninggalkan rumah lama dan rasa penasaran akan lingkungan yang baru nanti.

Maka tibalah harinya, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku pindah dan menempati rumah baru kami itu. Semangatku makin tinggi setelah mencium aroma rumah baru. Bau cat tembok yang belum lagi kering serta debu semen yang kadang menyesakkan dada.

Aku senang sekaligus sedikit bingung membayangkan betapa banyaknya hal-hal yang nanti harus kuamati dan kuselidiki di daerah baru ini. Misalnya, perkampungan di sebelah kanan rumah kami setelah ujung jalan komplek, juga ada sebuah sendang, semacam kolam berbatu yang mengeluarkan air bersih dari mata air di bawahnya, letaknya di sudut jalan di atas komplek. Atau tetangga di depan rumah kami, yaitu Pak Wayat, yang rumahnya paling ujung dekat kampung. Konon ia adalah seorang pejabat tinggi dibidang keuangan. Pak Wayat langsung akan merombak dan memperluas tanah dan juga rumahnya.

Di tengah kebingunganku untuk memberi perhatian pada hal yang mana lebih dulu, tiba-tiba aku mendapat kunjungan mendadak dari sahabat-sahabatku, anggota Gagas, Geng Anak Gragas. Mereka langsung kuajak tur berkeliling rumah dan kebun. Mereka begitu kagum akan rumah baru ini, sementara aku begitu bangga.

“Halaman ini mau ditanami apa?” celetuk si Yahmin. Pertanyaan mendadak dari Yahmin itu serta merta memprovokasi pikiranku. Aku menjadi sadar, bahwa aku juga harus menaruh perhatian kepada halaman rumahku, ada halaman depan dan juga ada kebun di belakang rumah baru ini.

“Ayo, kita pergi ke Pertanian.” lanjut Yahmin, seakan membangunkanku dari kebingungan. Maka setelah meminta ijin dan juga sejumlah uang dari pak Mojo, kami berempat pergi berjalan kaki menuju ke Pertanian. Yang dimaksud dengan Pertanian, adalah sebuah tempat pembibitan aneka tanaman yang berada di pinggir kota Wonogiri.

Disana kami membeli bermacam-macam bibit tanaman, ada rumput gajah, bibit mangga harum manis dan mangga golek, tomat dan anggur. Sebagai tambahan aku juga membeli sebatang kayu dari batang pohon kelapa yang telah dilubangi di bagian dalamnya. Lubang ini yang akan berfungsi sebagai rumah bagi lebah madu. Aku sungguh bersemangat, karena ini adalah keinginanku sejak dulu, yaitu beternak lebah madu.

Kami juga membeli beberapa peralatan untuk berkebun. Seperti cangkul, arit, cetok dan ‘gembor’. Gembor adalah semacam ember, yang diberi moncong lebar, berlubang-lubang kecil untuk menyiram tanaman.

Maka dimulailah sebuah kesibukan di rumah baruku. Kalau di rumah Pak Wayat, yang di ujung komplek itu dipenuhi dengan tukang-tukang untuk membangun kembali rumahnya, maka di rumahku penuh dengan tukang-tukang kebun cilik yang juga sibuk dengan cangkul-cangkulnya. Alhasil selama tiga hari ini, anggota geng Gagas libur dan tidak beroperasi untuk berburu belalang, tetapi sibuk di rumah baruku.

Pada hari keempat, aku merasa puas melihat hasil kerja kami di kebun itu. Halaman depan telah ditanami rumput gajah, dibatasi dengan rumput krekot berwarna merah. Pada sisi kiri dan kanan halaman depan, tertanam pohon mangga golek dan mangga harum manis. Di kebun belakang ada tanaman tomat, anggur hijau dan ketela pohon. Tetapi dari itu semua aku paling tertarik dengan potongan batang pohon kelapa yang telah dilubangi tengahnya itu. Potongan ini kugantung di ujung paling belakang kebun, sebagai rumah lebah madu. Aku girang membayangkan bahwa sebentar lagi aku akan mempunyai bisnis madu lebah!

Setelah bekerja keras selama empat hari berturut-turut, kami berempat anggota Gragas duduk-duduk beristirahat bersama sambil membayangkan, bahwa dalam beberapa bulan lagi di sini akan ada sebuah taman yang indah dan teduh. Hari sudah siang saat kudengar teman-teman gengku itu tertawa cekikikan di teras belakang rumah. Aku penasaran. Ketika kuintip, ternyata mereka sedang makan siang. Mereka saling memperlihatkan isi piringnya sambil tertawa mengangguk-angguk. Dan apa yang mereka saling perlihatkan dan tertawakan ternyata bukanlah lauk yang mereka makan. Tetapi nasi, nasi putih!

Aku tersadar dan terharu. Memang setelah perang usai, perekonomian keluarga kami mulai membaik dan kami kembali bisa makan nasi putih lagi setiap hari. Tetapi bagi tiga sahabatku ini tidak begitu, buat mereka nasi putih tetap menjadi barang mewah. Mereka tinggal di desa yang miskin dan gersang. Makanan pokok mereka tetap ‘sego tiwul’, nasi dari gaplek (singkong).

Lewat jendela belakang, aku memandangi tiga sahabatku yang luar biasa itu, aku bersyukur dan merasa turut berbahagia. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K dan SR Kristiawan

Alas Kethu

ALAS KETHU

Suatu hari aku menaruh perhatian lebih kepada kata “semedi” (meditasi). Hal ini terjadi sejak aku melihat orang yang sedang duduk bersila di bawah batu raksasa Plintheng Semar. Batu Plintheng Semar itu terletak di sebuah tebing di tepi jalan di sisi Utara kota Wonogiri.

Saat itu temanku yang menjelaskan bahwa orang-orang itu sedang bersemedi. Menurutnya banyak orang yang bersemedi di Wonogiri ini, misalnya di alas Kethu (hutan Kethu). Ini membuatku jadi penasaran. Lalu kukumpulkan teman-teman gengku, Gagas, Geng Anak Gragas, di markas besar kami. Semua anggota Gagas itu adalah putra daerah Wonogiri, kecuali aku. Maka aku pun mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang orang -orang yang ber-semedi tersebut.

“Ya, aku tahu banyak mengenai tempat orang bersemedi,” kata Yahmin, anak asli Wonogiri yang paling senior di geng Gagas. Lalu Yahmin menjelaskan, bahwa di daerah Wonogiri ini banyak sekali tempat untuk bersemedi. Misalnya di sekitar goa-goa, batu, kedung (bagian terdalam pada sungai), sendang (tempat penampungan mata air) dan juga tempat-tempat petilasan yang artinya adalah suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh orang penting. Salah satu tempat petilasan atau peninggalan sejarah yang terkenal ada di .Alas Kethu.

Maka pagi itu kami berempat berangkat menuju ke Alas Kethu. Ternyata hutan ini tidak terlalu jauh letaknya dari kota Wonogiri. Kami berempat, mengambil jalan pintas. Yaitu dari rumahku di Jalan Jurang Gempal, menuju ke arah Utara, melewati kampung-kampung. Setelah keluar dari perkampungan itu, kami menerabas melintasi ladang-ladang singkong milik penduduk kampung tersebut. Setelah berjalan sekitar lima belas menit menyusuri ladang, sampailah kami di kaki sebuah gunung yang dipenuhi dengan pepohonan yang lebat. Gunung atau bukit ini tidak terlalu tinggi seperti Gunung Gandul. Tetapi jika berjalan dari bawah gunung, harus menanjak terjal untuk bisa sampai di puncaknya karena gunung ini berbentuk kerucut.

Lalu kami berempat mulai mendaki. Kami ini bagaikan semut-semut kecil yang sedang merayap menaiki “nasi tumpeng” raksasa. Rupanya hutan ini adalah hutan jati. Di kiri-kanan kami ditumbuhi pohon jati. Hutan ini berbeda dibandingkan gunung-gunung lainnya di daerah Wonogiri yang gersang.

Alas Kethu ini sangat teduh karena pohon-pohon jati tersebut menjulang tinggi. Jika pohon-pohon yang lain kebanyakan batangnya tumbuh bercabang-cabang melebar dan banyak rantingnya sehingga tampak rimbun, pohon jati berbeda, batangnya lurus menjulang ke atas. Karena itu kayu jati sangat terkenal dan harganya mahal. Di samping kayunya kuat kayu jati juga bisa dipakai sebagai tiang bangunan yang tinggi.

Yang unik juga dari pohon jati adalah daunnya. Daun jati sangat lebar dan permukaannya kasar seperti ampelas, sedangkan jika daun jati digores, maka akan keluar getah yang berwarna merah seperti darah.

Hampir setengah perjalanan kami berempat mendaki menuju puncak. “Kraak, kraak,kraak..” Itulah suara yang menemani perjalanan kami sejak memasuki hutan ini. Suara itu demikian kerasnya hingga menggema ke seluruh hutan.

Aku mulai menyadari dari mana datangnya suara-suara itu. Rupanya itu adalah suara yang berasal dari daun-daun jati yang telah kering. Daun-daun itu berbunyi saat kami melangkah dan menginjaknya. Daun jati kering ini sangat lebar dan memiliki tulang daun yang keras dan kaku, sehingga jika diinjak akan menghasilkan suara yang keras menggema.

Tiba-tiba aku punya ide. Aku minta ke teman-temanku untuk berjalan berderap seperti sedang berbaris. Dan, jadilah, langkah tegap kami itu terdengar di seluruh hutan itu bagaikan seribu tentara sedang berderap berbaris menuju puncak gunung tersebut. Luar biasa.

Setelah beberapa lama kami berjalan berderap dan hampir mendekati puncak, kami terkejut melihat seorang kakek yang sepertinya telah berdiri menunggu kedatangan kami. Ia lalu memberi tanda dengan tangannya. Ia meminta kami agar kami berjalan pelan-pelan saja. Kakek itu rupanya kurang senang mendengar keributan dari suara-suara yang kami buat tadi.

Sesampainya kami di puncak, aku melihat ada sebuah bangunan seperti rumah. Bagian luar bangunan itu penuh di kelilingi oleh orang-orang yang sedang duduk bersila. Aku baru sadar ternyata mereka itu sedang bersemedi. Pantas saja kami disuruh berjalan pelan-pelan tadi, karena mereka butuh ketenangan.

Aku mulai penasaran, apa sebenarnya yang ada di dalam bangunan itu. Semula kukira itu adalah sebuah makam, tetapi kelihatannya hanya sebuah batu. Aku lalu mendekati kakek yang menjaga tempat tersebut. Dia sedang duduk santai di bangku panjang di bawah pohon agak jauh dari rumah itu.

Aku mencoba menarik perhatian kakek itu dengan bertanya, ”Itu makam siapa, mbah?”. Ia terpancing oleh pertanyaanku tadi dan menjawab, ”Itu bukan makam, itu petilasan.” katanya. Kami pun duduk mengelilinginya. Kakek itu menghela napas panjang dan memang sepertinya adalah tugasnya untuk memberi penjelasan kepada siapapun yang bertanya mengenai tempat itu.

Kakek itu mulai menjelaskan, bahwa pada jaman dahulu kala, pada awal penyebaran agama Islam di Jawa, ada salah seorang dari Wali Songo, yang bernama Sunan Giri. Sunan Giri menjelajahi pulau Jawa, termasuk di daerah Wonogiri ini. Selain menyebarkan agama Islam, Sunan Giri juga mencari kayu yang baik untuk digunakan sebagai salah satu tiang penyangga Masjid Demak. Dan ternyata dia tertarik dengan gunung ini. Di saat sedang memilih kayu yang terbaik, ia beristirahat di puncak gunung ini dan melakukan salat di sini. Di atas batu, di dalam rumah itu, terdapat tanda bekas telapak kaki dari Sunan Giri.

Melihat kami berempat meyimak ceritanya dengan serius sambil mengangguk-angguk, kakek bercerita dengan lebih bersemangat. Konon, masa itu daerah ini masih merupakan hutan lebat dan bergunung-gunung. Di dalam penjelajahannya, Sunan Giri juga sambil memberi nama setiap daerah yang di laluinya. Maka jadilah nama Wonogiri. Wono, artinya hutan. Dan Giri, berarti gunung. Memang banyak nama-nama desa yang menggunakan kata “giri” di wilayah ini. Misalnya, Giriwoyo, Giritontro, Selogiri dan sebagainya. Mungkin karena kehabisan nama, maka ada sebuah kota kecil yang diberi nama kebalikan dari Wonogiri yaitu Giriwono.

“Lalu gunung ini diberi nama apa, mbah?” Aku bertanya kepada si kakek. Dia menjelaskan, bahwa, karena gunung ini bentuknya seperti gunung (maksudnya: kerucut), maka diberi nama Gunung Giri. Gunung, artinya ya gunung, sedangkan Giri, artinya juga gunung.

Setelah mengucapkan terimakasih pada sang kakek, kami, keempat anak anggota Geng Anak Gragas, berlari menuruni Gunung Giri, dengan melintasi Alas Kethu yang cukup curam itu. Kami menuju ke markas besar kami, di samping kuburan di tepi Bengawan Solo. Masih ada waktu berburu belalang, untuk santapan nanti sore. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Buku LAYANG LAYANG MALAM

wpid-mtf_hemtn_296.jpg.jpg

TELAH TERBIT

Buku
LAYANG-LAYANG MALAM
Kumpulan Cerita Pendek Kisah si Ompa
Karya: Antonius Sutedjo

Hanya dicetak dalam jumlah terbatas.

Berisi 33 cerita pendek tentang masa kecil Ompa yang tidak biasa.

Dua diantara 33 cerpen di buku ini belum di publikasikan via WordPress ataupun Facebook.

Hubungi:
VERONICA
SMS/WhatsApp : 087881955022 atau 08161412704
BBM: 5A5BF29D

.

LLM Andy Noya

.

LLM Rosi

Cobek Meletot

COBEK MELETOT

Hari itu, pertemuan rutin Geng Anak Gragas tidak lengkap, hanya Katno, Giman dan aku sendiri. Kurang satu anak yaitu si Yahmin. Hanya kami bertiga yang duduk-duduk berkumpul di basecamp kami, di samping kuburan di pinggir sungai Bengawan Solo.

Dari keempat anggota geng-ku ini, Yahminlah yang paling bijak. Ia anak yang tenang, sabar dan sudi membimbing anak yang lain. Katno dan Giman sifatnya penurut, selalu menjalankan tugas dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab. Sedangkan aku sendiri dikenal sebagai anak yang paling banyak ide, banyak tingkah, dan kadang sering membuat mereka bingung. Walau kami berbeda, kami tetap satu, kami berempat sangat kompak.

Siang itu aku terpikir tentang si Yahmin, mengapa ia sampai tidak hadir pada pertemuan ini. Mungkin saja ia belum menyelesaikan tugas harian keluarganya yaitu mengambil tanah liat, yang biasa disebut lempung, di tepi sungai. Lempung adalah bahan dasar untuk membuat gerabah, sebutan untuk peralatan yang dibuat dari tanah liat.

Di rumahnya yang berdindingkan gedek, atau anyaman bambu itulah Yahmin tinggal. Ia hidup bertiga bersama bapak dan si mboknya (ibunya). Keluarga si Yahmin adalah keluarga pembuat gerabah. Mereka membuat berbagai macam peralatan dapur dan peralatan rumah tangga, seperti  cobek, piring, mangkuk dan lain sebagainya. Jika ada pesanan khusus keluarga Yahmin juga bisa membuat guci, gentong, bahkan genteng dan batu-bata.

Sehari-hari tugas Yahmin adalah mengambil lempung yang memang banyak terdapat di tepi sungai Bengawan Solo. Yahmin menggali untuk mendapatkan lempung, tanah yang berwarna merah dan liat yang berkualitas bagus, yaitu tanah lekat dan bersih dari akar tanaman. Lempung itu lalu ia pikul ke rumahnya lalu ditumpuk seperti sebuah bukit kecil. Pada bagian atasnya dibuat lekukan seperti kawah. Lalu kawah itu diisi penuh dengan air. Tugas bapaknya adalah menginjak-injak tanah lempung itu sampai lumat dan mencapai kelembekan tertentu, untuk kemudian ditutup dengan kain basah agar tidak mengeras.

Yang tersulit adalah tugas si mbok yang harus membentuk lempung itu menjadi apa yang akan dibuat. Caranya dengan menggunakan papan putar, yang di putar menggunakan kaki.

“Ayo kita ke rumah Yahmin!” kataku kepada si Katno dan Giman. Aku punya firasat kurang baik siang itu. Benar saja, setelah kami masuk ke rumah Yahmin, aku melihat bapaknya Yahmin sedang tergeletak di atas dipan. Rupanya ia sedang sakit keras. Sejenak aku mengamati sekeliling rumah itu, dan aku berkesimpulan bahwa keluarga ini perlu bantuan segera.

Aku menemukan kayu-kayu bakar dan tumpukan jerami sudah siap di dekat tobong. Tobong adalah rumah tempat pembakaran gerabah yang sudah dijemur dan sudah kering. Ternyata bahan-bahan yang harus mereka bakar masih belum siap, padahal empat hari lagi akan tiba Hari Pasaran. Di Hari Pasaran itulah gerabah buatan keluarga Yahmin ini harus dijual ke pasar kota Wonogiri. Jadi, menurutku, keadaan bisnis mereka ini memang sudah “kritis”.

Kami bertiga langsung terjun turun tangan untuk membantu keluarga si Yahmin. Katno dan Giman bertugas menginjak-injak tumpukan lempung, sedangkan aku membantu Yahmin membuat genteng menggunakan cetakannya. ”Miin, lempung Miin..!”, kata bapaknya Yahmin, sambil berusaha bangkit dari dipannya. “Sampun, Bapak sare mawon..— Sudah, bapak tidur saja.” kataku kepada bapaknya Yahmin.

Yahmin pun bergegas pergi dengan membawa pikulannya menuju sungai untuk mengambil lempung tambahan. Pembuatan genteng itu masih sangat tradisional, menggunakan tangan, bukan pakai mesin press.

Kuletakkan gumpalan lempung yang lembek di atas cetakan genteng, kemudian kutekan kuat-kuat sambil meratakan di atas cetakan. Lalu kusiramkan sedikit air di atasnya dan meratakan lagi agar permukaan genteng menjadi halus dan pori-pori nya tertutup. Berikutnya aku tinggal memotong pinggiran genteng tersebut, lalu di angin-anginkan di tempat yang teduh disamping rumah. Sebelumnya aku sudah sering belajar bagaimana cara membuat genteng ini, saat menjemput Yahmin untuk pergi bermain.

Saat sedang asik membuat genteng, mataku sempat melirik kearah papan putar yang sedang dipakai oleh si mbok untuk membuat guci. Sewaktu si mbok berhenti untuk beristirahat makan, aku langsung mengambil alih dan duduk di samping papan putar tersebut. Aku ingin mencoba alat ini. “Papan putar” itu adalah dua buah papan bulat yang ditumpuk, tetapi di poros tengahnya diberi semacam paku yang menumpang pada papan di bawahnya, sehingga papan yang di atas bisa diputar. Kedua papan bulat itu di letakkan di atas tanah, sehingga cara memutarnya dengan menggunakan kaki.

Aku mencoba memutar papan itu dengan kakiku, dan di tengah papan itu kuletakkan gumpalan lempung yang masih sangat lembek. Lempung itu pun berputar, bagian tengahnya kupegang dengan jari-jariku yang sudah aku basahi. Saat jari-jariku kutarik pelan-pelan melebar, maka lempung itu juga mengikuti jari-jariku. Wow, luar biasa, aku serasa sedang bermain sulap!

Tetapi yang menjadi masalah adalah papan putar itu sudah agak rusak, jadi papan itu berputar sambil bergoyang turun naik. Setelah bersusah payah karena memang tidak mudah, akhirnya, aku berhasil membuat sebuah “cobek” walaupun bentuknya tidak karuan, meletot-letot. “Hihihi,” simboknya Yahmin tidak tahan menahan tawa saat melihat cobek hasil karyaku itu. “Hush!..” ujar bapaknya Yahmin kepada si mbok. Si mbok rupanya kaget lalu menutup mulutnya dengan tangan sambil menahan tawa.

Dua hari sebelum Hari Pasaran, api di tobong pun dinyalakan untuk membakar gerabah yang sudah pada kering itu. Sewaktu melihat api membara sangat panas di dalam tobong itu aku membayangkan bahwa cobek meletot hasil karya perdanaku itu juga sedang ikut dibakar dan diproses. Proses pembakaran gerabah itu berlangsung satu setengah hari, hari-hari yang menegangkan buatku.

Dua hari kemudian, tibalah Hari Pasaran di Wonogiri. Masyarakat berbondong-bondong menuju ke Pasar Kota untuk berjual-beli. Dari halaman rumahku aku melihat simboknya Yahmin berjalan terbongkok-bongkok menuju ke pasar. Ia membawa beban berat berupa bakul besar di punggungnya yang di penuhi dengan gerabah dagangannya. Sedangkan si Yahmin berjalan setengah berlari di belakang sang ibu, membawa pikulan penuh dengan gerabah hasil karyanya sendiri. Aku berlari masuk rumah, tak mau kalah, dengan bangga aku memasang cobek mletot hasil karyaku untuk kupajang pada dinding kamarku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑