Cari

Antonius Sutedjo

Kategori

Uncategorized

Mainan Anak Perang

wpid-img-20150831-wa0125-01.jpeg

MAINAN ANAK PERANG

TENTARA Belanda telah pergi meninggalkan Wonogiri. Suasana damai, aman, tenteram dan nyaman mulai terasa lagi di kota ini. Gunung Gandul tetap tegak berdiri dan siap untuk didaki. Mbok-mbok bakul pun mulai meramaikan lagi Pasar Wonogiri dan juga memeriahkan suasa jalanan di depan rumahku, di Jalan Jurang Gempal.

Tetapi benarkah itu semua? Ternyata tidak. “perang lain” ternyata baru saja akan dimulai. Semua harus mempersiapkan diri karena Belanda akan kembali datang. Itu lah yang ada di dalam pikiran kami, aku dan anak-anak Wonogiri anggota GAGAS (Geng Anak Gragas).

Maka secara hampir serentak muncullah “tentara-tentara kecil” di seluruh Wonogiri. Mereka mereka memperlengkapi diri dengan “senjata”masing-masing.

Sementara itu senjata kegemaranku adalah senjata otomatis laras panjang. Senjata itu buatanku sendiri, yaitu terbuat dari tulangan daun pisang, yang di kiri-kanannya di beri enam buah ‘coakan’ (belahan) dari atas ke bawah. Masing-masing coakan itu sepanjang sekitar sepuluh sentimeter. Coakan itu bisa dibuka dari atas ke bawah. Maka kalau tulangan daun pisang itu di genggam dengan telapak tangan dan di dorong dari bawah ke atas, maka coakan-coakan itu akan menutup dengan suara cukup keras, suaranya plok..plok…plok. Dan kalau dorongannya cepat, maka suaranya akan mirip sekali seperti rentetan suara tembakan senjata otomatis.

Selain ituaku juga suka menggunakan ikat pinggang. Pada ikat pinggangku itu bergelantungan granat. Granat adalah senjata bulat segenggaman orang dewasa, yang gunanya untuk dilemparkan ke arah musuh dan kemudian akan meledak. Konon ada dua macam granat, dibedakan dari bentuknya. Ada Granat Nanas dan ada Granat Manggis. Tetapi jenis“granat” yang aku sering gunakan adalah jenis ‘Granat Lontong’, karena bentuknya yang bulat dan panjang seperti lontong.

Granat Lontong ini terbuat dari gulungan kertas yang kemudian di dalamnya diisi dengan bubuk kapur berwarna putih, yang namanya gamping. Di kedua ujung gulungan kertas itu lalu ditutup dengan cara dilipat dan di lem rapat. Aku sangat menyukai Granat Lontong ini.

Kalau granat ini dilempar dan jatuh ke tanah maka granat itu akan pecah dan menyebarlah bubuk putih tadi. Kalau granat ini aku lemparkan lebih tinggi lagi jauh ke udara, dengan sebelumnya sedikit dilubangi, maka  granat ini akan melayang di udara sambil meninggalkan taburan bubuk putih, bagaikan asap sebuah roket. Menurtku dan teman-teman senjata ini sangat keren.

Maka, dengan ‘perlengkapan-perlengkapan perang’ itu, kini para anggota geng anak GAGAS merasa bahwa tugas kami bukan lah hanya mencari makan saja, tetapi juga untuk siap berperang melawan penjajah.

Kami anak-anak Wonogiri ini berprinsip bahwa kami semua tidak takut terhadap tentara Belanda, meskipun tentara Belanda diperlengkapi dengan pesawat tempur, meriam dan kendaraan perang yang canggih, bahkan walaupun juga dipersenjatai dengan makanan kalengan yang enak-enak dan melimpah. Kami ini lebih menghargai tentara-tentara Republik yang sederhana tetapi mempunyai semangat kepahlawanan yang membuat kami, kagum dan bangga.

Siang itu, setelah menyelesaikan operasi makan belalang para anggota Geng Anak Gragas, melanjutkan perjalanan napak tilas ke ‘front’, yaitu lokasi yang dulunya merupakan garis depan dari perjuangan tentara kita.

Kami menyeberangi jembatan sungai Bengawan Solo, dan menuju ke Pokoh, lokasi tempat tentara kita mengadakan serangan-serangan ke arah Kota Wonogiri, yang diduduki Belanda.

Pokoh terletak diseberang sungai Bengawan Solo. Disitu, dipinggir sungai terdapat tanah terbuka yang luas dan dipenuhi semak belukar. Kemudian kami pun memulai sebuah operasi “pencarian” di tempat tersebut.

Operasi pencarian yang kami lakukan ternyata mendatangkan hasil. Kami menemukan banyak selongsong bekas peluru yang ditembakkan dari tempat itu. Perlu diketahui, bahwa jika senjata ditembakkan, pelurunya akan melesat, tetapi selongsong peluru akan terlontar ke samping dari senjata itu. Banyak sekali kami temukan selongsong peluru yang bertebaran disitu.

Tetapi operasi pencarian kami terus berlanjut. Kami mulai juga membongkar semak-semak di daerah itu, sambil mencari ular tentunya. Akhirnya kami menemukan apa yang sebenarnya kami cari-cari, yaitu peluru yang masih utuh, yang belum ditembakkan.

Maka dengan hati-hati kami memasukkan peluru utuh tersebut ke dalam sebuah kantong. Setelah itu kami kembali pulang menyeberangi jembatan dan menuju ke base-camp. Di sana kami sembunyikan peluru-peluru tersebut di bawah bebatuan di semak-semak, lalu kami pulang ke rumah.

Keesokan harinya kami kembali ke pos dengan membawa beberapa perlengkapan berupa tang, pisau dan gunting. Acara geng GAGAS hari itu hanya satu, yaitu mencoba membongkar peluru-peluru utuh yang kemarin kami temukan, tentu saja tanpa ada yang boleh meledak.

Dengan sangat hati-hati kami melepaskan kepala peluru yang tajam itu dari selongsongnya. Semua ini harus dilakukan dengan sangat lembut, tidak boleh ada satu hentakan pun . Kalau sampai ada hentakan, atau peluru itu terjatuh apalagi terantuk di benda keras, maka mesiu yang ada di dalam peluru itu akan meledak, dan kepala peluru yang tajam itu bisa melesat dan menerjang apapun dan siapapun yang menghalanginya.

Setelah bersusah payah dan penuh ketegangan akhirnya sebuah peluru berhasil mereka buka. Lalu dengan cermat dan berhati-hati kami keluarkan mesiu yang ada di dalam peluru itu. Ini sungguh berbahaya, “please don’t try this at home” ya….

Mesiu yang sangat berbahaya tersebut berbeda-beda bentuknya, ada yang berbentuk seperti bihun yang berwarna kuning, ada juga yang berbentuk biji-biji batu yang kecil-kecil sebesar beras dan berwarna hitam. Mesiu itulah yang kemudian kami kumpulkan dengan hati-hati dan kemudian kami masukkan ke dalam kotak. Aku mengambil sejumput kecil mesiu itu lalu kubungkus dengan kertas timah. Nah, sekarang jadilah sebuah “bom kecil”.

Bungkusan kertas timah yang di dalamnya berisi mesiu itu kami letakkan di atas batu yang besar dan rata bagian atasnya, lalu ditumbuk dengan batu lainnya maka “DOR!!..”, terjadilah ledakan yang keras. Semakin besar bungkusan itu, semakin besar dan keras pula suara ledakannya. Kadang-kadang kami sering berpura-pura menembak ‘musuh’ dengan ledakan yang sebenarnya, dari mesiu itu.

Pada suatu siang, kami bersiap untuk mengadakan latihan perang-perangan secara besar-besaran antar kampung. Kampungku, yang berada di Selatan Jalan Raya Jurang Gempal, akan melawan Kampung yang berada di sisi Utara jalan raya. Perundingan pun diadakan, kami semua sepakat bahwa perang-perangan itu hanya akan menggunakan Granat Lontong, tidak boleh menggunakan batu, anak panah atau senjata tajam lainnya. Pertempuran akan dilakukan dengan saling melempar ‘granat’ berisi gamping (bubuk kapur).

Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Pasukanku berhasil mendesak musuh masuk ke utara jalan raya. Aku paling semangat berteriak memberikan aba-aba agar pasukan kampung kami maju menyerang lawan. Dan mereka pun dengan keberanian yang luar biasa maju ke depan sambil berteriak-teriak.

Aku memberikan aba-aba itu bukan dari depan, tapi dari belakang pasukan, karena pasukan terdepan adalah anak-anak yang badannya lebih besar daripada badanku. Dan aku pun harus selalu waspada memperhatikan barisan yang terdepan itu. Kalau mereka kelihatan akan mundur, maka aku akan berlari terlebih dulu meninggalkan pertempuran itu.

Beruntunglah anak-anak dari kampung kami berhasil memenangkan perang tersebut, dengan meninggalkan “kerusakan” parah di pihak lawan. Jalanan, halaman dan atap-atap rumah dipenuhi dengan bubuk berwarna putih, bagaikan salju yang menyelimuti rumah-rumah di Iceland, di dekat kutub utara sana. Sejak itu permainan perang-perangan yang biasa anak-anak suka lakukan ini dilarang.

Maka kembalilah anggota GAGAS, Geng Anak Gragas ke posnya, untuk kembali kepada tugas semula, mencari makan. Belalang! (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Naik Peringkat Satu Generasi

NAIK PERINGKAT SATU GENERASI

SAAT meninggalkan rumah Mbah Tanjung di kota Malang dan pindah ke kota Mojokerto, aku masih sekolah di Taman Kanak-kanak. Aku secara resmi telah diangkat sebagai anak oleh Mbah Mojo. Karena statusku sudah resmi menjadi anak Mbah Mojo, maka terjadi kekacauan dalam silsilah di keluargaku. Perubahan status ini berdampak besar pada diriku.

Sewaktu di Malang, biasanya aku memanggil anak-anak Mbah Tanjung dengan panggilan Om, seperti Om No dan Om Nu. Tetapi, setelah statusku menjadi anak Pak Mojo, maka mulai saat itu aku tidak boleh lagi memanggil mereka dengan panggilan Om. Aku harus memanggil mereka dengan Mas, Mas No dan Mas Nu. Jika aku sampai salah memanggil mereka, maka Pak Mojo akan marah besar.

Pak Mojo sangat keras dalam perkara panggilan ini. Demikian juga kepada seluruh anggota keluarga besar yang lain, aku diwajibkan memanggil mereka dengan cara yang baru. Sebenarnya hal ini membuat aku merasa seperti naik peringkat satu generasi, tetapi hal ini malah seringkali membuatku menjadi bingung. Pak Mojo tetap bersikeras meminta supaya panggilan kepada mereka diubah. Sementara keluarga besar lainnya seakan “tidak rela” dengan perubahan sistem panggilan ini. Mbah Tanjung menjadi Pak Tanjung. Om Nu menjadi Mas Nu. Yang semula Tante, berubah menjadi Mbak, dan seterusnya dan seterusnya.

Lucunya adalah keadaan pada saat tidak ada Pak Mojo di sekitar kami, semua panggilan akan kembali ke panggilan yang semula. Karena memang mereka menghendaki bahwa panggilan terhadap keluarga besar itu, tidak perlu diubah, tetap sama seperti saat aku belum diangkat anak oleh Pak Mojo.

Ketika ada keluarga besar datang berkunjung ke Mojokerto, sering terjadi keributan. Kalau aku salah memanggil mereka dengan sebutan yang lama, maka Pak Mojo akan marah besar. Marah baik kepadaku maupun kepada keluarga.

Keributan-keributan seperti ini membuat aku bingung dan merasa apatis jika menyangkut hubungan antar-keluarga. Memang beberapa anggota keluarga yang lain mengganggap kekisruhan ini sebagai hal kecil yang lucu dan biasa saja. Tetapi, bagiku, ini adalah hal yang sangat serius.

Suatu hari di rumah Mbah Mojo, kami saling memanggil dengan cara lama. Om ya Om, tante ya tante. Tetapi, tiba-tiba di antara mereka ada yang mengatakan, “Awas-awas, ada Pak Mojo!” Kami sempat panik, tapi kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.

Seringkali juga aku mendapat wejangan panjang lebar dari Pak Mojo, mengenai statusku di dalam keluarga besarnya. Maksud Pak Mojo, agar aku tidak salah dalam menyebut panggilan baru itu. Pak Mojo menjelaskan dan memberi contoh. Misalnya, kepada si ‘ini’ aku harus panggil ‘Mas’. Kepada si ‘itu’ sekarang harus panggil ‘Nak’, si ‘ini’ sekarang harus dipanggil ‘Pak’, begitu seterusnya. Sungguh membingungkan!

Sebenarnya aku merasa malas dan jengkel perkara perubahan nama panggilan ini. Tetapi, nyatanya perkara yang membingungkanku ini berlangsung terus.

Ya begitulah, mungkin hal ini terlihat kecil dan biasa untuk orang lain, tetapi tidak bagiku.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Perempuan Misterius

Skectch illustration by Tjatri Devi
Skectch illustration by Tjatri Devi

.

PEREMPUAN MISTERIUS

 

SEJAK masih bayi, aku tinggal di rumah Mbah Tanjung di Kota Malang. Aku tinggal bersama anak-anak lain yang lebih besar yang juga dititipkan oleh orang tua mereka. Alasan aku dititipkan adalah karena ayahku telah meninggal dunia ketika aku masih bayi.

Aku ingat secara samar-samar saat aku masih sangat kecil, saat aku belum bisa melakukan banyak hal. Mungkin saat itu aku baru bisa duduk dan merangkak, belum bisa berjalan.

Nah ijinkan aku sekarang mencoba mengingat-ingat jauh ke masa kecilku.

Aku masih ingat saat-saat dimana ada sosok seorang perempuan sedang duduk di depanku, di atas dipan. Perempuan itu memandangku sambil menangis. Saat itu, aku bingung, mengapa ia terus menangis di depanku. Siapakah perempuan itu sebenarnya. Terkadang aku digendongnya berjalan mondar-mandir di sekitar rumah Mbah Tanjung. Sebelum ia pergi, aku dikembalikan lagi ke atas dipan, lalu perempuan itu menangis lagi sambil memandangi aku. Tidak berapa lama kemudian perempuan itu pergi dan tak kelihatan lagi.

Pada lain waktu, kejadian seperti itu terulang lagi. Perempuan itu datang ke rumah Mbah Tanjung, duduk lagi di dipan tepat di depanku, menggendongku, dan menangis lagi sambil memandangiku, lalu ia pergi lagi.

Aku merasa aneh melihat perempuan asing itu. Pernah suatu kali aku digendongnya, berjalan mondar-mandir, diajaknya menuju halaman, melihat-lihat apa yang ada disitu. Ada ayam, kucing, burung, yang sepertinya ia ingin menunjukan semua itu kepadaku. Padahal aku ini sudah terbiasa melihatnya, karena memang binatang-binatang itu setiap hari ada di sekitar rumah Mbah Tanjung. Aku yang masih sangat kecil waktu itu menurut saja.

.Suatu pagi perempuan itu datang lagi. Tetapi, kali ini ia tidak menangis. Aku lalu ‘didandani’-nya dengan pakaian rapih. Tidak lama kemudian, aku telah berada dalam gendongannya, dan yang aku ingat, tiba-tiba kami sudah berada di tengah keramaian pasar. Ya, aku diajaknya ke pasar.

Di pasar, perempuan itu berbisik ke telingaku, “Koe arep opo?…(kamu mau apa?).” Aku lalu menunjuk apa saja yang ada di depanku. Ada kue, aku tunjuk, dan ia membelikan kue itu buatku. Lalu aku menunjuk lagi ke tempat lain. Ada permen, aku tunjuk, dan perempuan itu lalu membelikannya. Begitu seterusnya, apapun yang aku tunjuk selalu dibelikannya, hingga sekeranjang penuh. Aku merasa sangat bahagia saat itu. Pulang dari pasar, kami berdua naik becak. Di atas becak aku tertidur. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat sosok perempuan itu.

Bertahun-tahun kemudian setelah kejadian itu, aku baru mengerti bahwa perempuan misterius itu adalah Ibu kandungku.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Kembang dan Kumbang

Duapuluh dua Agustus, seribu sembilan ratus enampuluh enam,
Duapuluh dua Agustus, seribu sembilan ratus enampuluh enam,

KEMBANG DAN KUMBANG

-Edisi Spesial. Edisi Anniversary Ompa & Utie ke 49-

AKU, si Ompa, dan juga isteriku yang biasa dipanggil Utie, merasa sering kerepotan ketika ditanya oleh anak cucuku mengenai kisah percintaan kami. Misalnya, pertanyaan yang sederhana ini. “Ompa sama Utie, siapa yang naksir lebih dulu?” Jawabannya bisa membuat keadaan heboh.

Aku merasa, Utie yang naksir lebih dulu. Sebaliknya, Utie merasa bahwa aku yang mendekatinya lebih dulu. Apalagi kalau ada permintaan agar menceritakan kisah pertemuan dan percintaan Ompa-Utie. Permintaan yang sulit bagiku dan Utie. Sulit, karena mau dimulainya dari mana, dan bagian mana yang mau diceritakan.

Mengapa? Karena banyak hal yang terlanjur menjadi rahasia, yang tidak boleh diketahui orang lain. Kami berdua, Ompa dan Utie, sering menggunakan istilah, isyarat, atau sejenis sandi, yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua. Kalau orang lain mendengarkan, pembicaraan itu akan terasa aneh dan lucu.

Bagi yang sudah menikah pasti maklum sebab adanya suatu rahasia. Tetapi, baiklah, akan aku coba untuk ceritakan.

Utie, dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, di daerah elit yang bernama Menteng. Tepatnya di Jalan Cilacap No.1. Utie dibesarkan di dalam keluarga yang terhormat, sangat tertib dan memiliki disiplin yang ketat.

Sedangkan aku dilahirkan di daerah pinggiran kota Malang, di Jalan Tanjung Gang Dua. Sejak masa kanak-kanak, aku sudah memiliki kehidupan yang cukup bebas. Aku bisa bebas bermain dan bergaul dengan siapa saja, dan biasa melakukan banyak hal yang bersifat petualangan.

Utie kuliah di universitas negeri yang sangat kondang, Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba Raya. Sedangkan aku saat itu sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, PNS, sambil melanjutkan kuliah di sebuah universitas swasta, yang tempat kuliahnya menumpang di kampus UI. Tepatnya, di ruangan belakang kampus, di ruangan yang biasa dipakai untuk nonton film bagi para mahasiswa UI.

Pada masa itu, di samping kuliah, kami juga ikut menjadi anggota sebuah organisasi mahasiswa yang sangat populer waktu itu. Utie lebih dulu menjadi anggota organisasi itu dari padaku. Aku baru bergabung belakangan. Melalui organisasi mahasiswa itulah, pertama kali aku bertemu dan berkenalan dengan Utie.

Tetapi mungkin waktu itu Utie belum memperhatikanku. Mengapa? Karena Utie orang yang sangat populer di situ. Cantik dan sangat aktif, sehingga dia bagaikan kembang yang dikerubungi oleh banyak kumbang. Ada kumbang yang berani mendekati si kembang. Ada yang hanya terbang berputar-putar dari jarak dekat sambil mencari kesempatan. Ada juga kumbang yang hanya berani terbang memutar dari jarak jauh. Tetapi, itu semua tergantung sang kembang, ia mau berpaling kemana. Atau, bisa juga tergantung pada nyali si kumbang. Aku sendiri termasuk kumbang yang terbangnya di kejauhan saja. Tahu diri. Bukan berarti kurang nyali!

Suatu malam organisasi mahasiswa kami mengadakan acara kumpul-kumpul di luar kota. Pada malam berikutnya dilanjutkan dengan camping, berkemah di sebuah lapangan yang luas. Di sekeliling lapangan itu didirikan tenda-tenda kecil untuk menginap.

Dalam acara tersebut aku ditugaskan sebagai orang yang bertanggung jawab atas keamanan seluruh acara perkemahan. Karena itu, aku rutin mengadakan patroli berkeliling di daerah perkemahan dan sekitarnya dengan menggunakan mobil Jeep milik kantorku. Aku ditemani oleh si Pance (bukan nama sebenarnya). Pance selalu duduk di sampingku selama berpatroli, sambil mengalungkan gitarnya. Maklum, ia memang dari seksi kesenian.

Tepat jam dua belas malam, aku mengadakan patroli rutin. Aku berkeliling lapangan sambil menyorotkan lampu mobil Jeep ke arah tenda-tenda, satu demi satu. Pada waktu Ompa menyorotkan lampu ke salah satu tenda, terlihat si Utie ada di dalam tenda tersebut. Aku lalu mematikan lampu dan mesin mobilku, agak jauh di depan tenda Utie. Entah ada angin apa malam itu, di tengah kesunyian berpatroli, si Pance yang duduk di sampingku tiba-tiba mulai curhat (mencurahkan isi hatinya).

Si Pance mengatakan bahwa sebenarnya ia jatuh cinta kepada Utie, tapi ia tidak berani lebih lanjut mendekati Utie karena sering dicuekin (tidak diacuhkan) Utie. Jadi, selama ini Pance hanya memendam rasa cintanya kepada Utie. Malam itu si Pance memetik gitarnya dan menyanyikan lagu, yang syairnya seperti ini: Why oh why, must I go on like this… dan seterusnya dan seterusnya.

Walaupun tahu Pance adalah kompetitorku, tetapi aku tidak mau patah semangat. Mendengar keluhannya membuatku menjadi kasihan kepada Pance. Kalau terhadap sikap Utie yang sok cuek (acuh tak acuh) itu, aku sih berpikirnya seperti ini: “Aaah, belum tahu dia, siapa Ompa ini!”

Sekitar dua bulan menjelang Natal, ada rapat pimpinan organisasi mahasiswa untuk membentuk Panitia Perayaan Hari Natal. Dalam keputusannya, aku yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia. Aku berhak menyusun sendiri pengurus panitia itu, termasuk sekretaris panitia Natal. Dan siapakah yang aku tunjuk sebagai sekretaris? Tidak salah lagi, Utie!

Maka sejak saat itu aku harus sering bertemu dengan Utie demi mensukseskan acara Perayaan Natal yang akan diselenggarakan di Gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin Jakarta.

Aku sebenarnya ada kendaraan. Tetapi perjalanan dari Jalan Thamrin ke Jalan Cilacap nomor 1, Menteng tersebut tentu lebih enak dengan menggunakan becak. Di atas becak itulah aku dan Utie bisa punya waktu lebih lama untuk membicarakan masalah-masalah organisasi dan masalah kepanitiaan Natal, demi suksesnya Perayaan Natal tentunya.

Begitulah, hubungan aku dan Utie semakin hari semakin mulus saja. Rupanya Utie telah mengambil sebuah keputusan yang tepat untuk memilihku sebagai pasangan hidupnya. Dahulu kala, sebelum aku dilahirkan, ada sebuah lagu yang ujung syairnya berbunyi begini: Jangan percaya mulutnya lelaki, berani sumpah tapi takut mati.

Kumbang-kumbang yang mengerumuni Utie dulu itu, semua ternyata takut mati. Untung datanglah aku, si Ompa ini yang berani tampil beda: takut sumpah, tapi berani mati.

Tetapi ada satu hal yang sering membuat aku kurang percaya diri, yaitu keluarga Utie. Yang aku takuti bukan hanya Papinya Utie, tetapi juga Maminya Utie yang keturunan Belanda. Utie pernah ditegur oleh Maminya: “Awas ya, dia itu orang Jawa”. Lalu, Utie ngeles (berkilah): “Enggak kok Mam, dia cuma teman biasa”.

Perlu diketahui bahwa keluarga Utie itu berasal dari Maluku. Tapi aku yakin bahwa beliau-beliau itu orang baik. Mereka memang harus melindungi anak gadisnya. Cerita Utie tentang peringatan Maminya itu, terus terang membuat kumbang ini agak down dan pesimis, sehingga aku menjadi sangat kaku setiapkali berada di rumah Utie.

Sampai pada suatu sore, saat aku berkunjung ke rumah Utie di Jalan Cilacap untuk suatu urusan. Seperti biasa aku tidak mau terlalu lama di sana. Sungkan! Tetapi, saat aku mau pamit pulang, tiba-tiba keluarlah seorang tante dari dalam rumah, tantenya Utie, namanya Tante Bo, yang berkata dengan manis kepadaku, “Mas, mau minum kopi susu?”. Aku terkejut tetapi lalu dengan spontan dan gugup Ompa menjawab: “Ma.. ma… mau, Tante”.

Sore itu aku pulang dari rumah Jalan Cilacap Nomor Satu dengan perasaan sedikit lega. Aku merasa lebih optimis. Sikap Tante Bo itu membuat aku yakin dan percaya diri bahwa kisah percintaan ini akan berakhir mulus. Kejadian itu membuat aku berani mengalahkan rasa takut dan lebih percaya diri.

Singkat cerita, tentu dengan seijin Tuhan, aku berhasil mempersunting Utie, dan kami melangsungkan pesta pernikahan di Gedung Wanita, Menteng, pada tanggal 22 Agustus 1966. Empat puluh sembilan tahun yang lalu.

Akhirnya, Kembang mendapatkan Kumbang yang tepat. Seperti akhir cerita ala Cinderella, kisah percintaan Ompa dan Utie juga berakhir dengan… (*)

And they live happily everafter.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

Antara Wayang dan Timlo

cso Wayang_Orang_Sriwedari_Solo

ANTARA WAYANG DAN TIMLO

 

INI sudah hari ketiga aku berada di kota Solo. Kota yang nyaman dan aman. Bahkan aku sampai lupa bahwa sebenarnya aku sedang mengungsi. Tentara Belanda kembali ke bumi Indonesia untuk mengganggu bangsa yang sudah merdeka.

Di kota Solo ini, kami, Pak Mojo, bu Mojo dan aku tinggal di rumah adik dari Pak Mojo. Panggil saja dengan nama Om So. Om So dan keluarganya tinggal di bagian selatan kota Solo. Mbak Tut, anaknya om So, kalau hendak naik becak biasanya bilang ke tukang becak, “ke Gading Ngidul (Gading ke Selatan).”

Sore itu Mbak Tut menyuruh aku untuk segera berganti pakaian. Dengan wajah berseri-seri dan cerah, secerah kota Solo saat itu, Mbak Tut mengatakan bahwa kita semua akan pergi jalan-jalan ke Taman Sriwedari. Mbak Tut terlihat sangat bersemangat. Pasti ini perjalanan istimewa, pikirku.

Kami pergi dengan menggunakan dua becak beriringan. Kami menuju ke arah utara melewati Gading, belok ke kiri, lalu ke kanan, lalu lurus, dan sampailah kami di jalan yang sangat lebar. Rupanya itu adalah jalan utama di kota Solo. Jalan yang sangat terkenal, dulu namanya Wilhelmina Straat, kemudian berganti Poerwosarie Weg, dan sekarang bernama Jalan Slamet Riyadi.

Kami terus menuju ke arah Barat menyusuri jalan besar itu. Di atas becak, kepalaku sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku sibuk menikmati pemandangan yang bisa kulihat. Di kiri-kanan jalan raya itu penuh dengan bangunan gedung-gedung dan toko-toko yang besar.

Tiba-tiba dari arah Barat datanglah sebuah benda berwarna hitam yang sangat aneh. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Benda itu datang semakin lama semakin mendekat, semakin dekat dan semakin jelas. Ternyata itu adalah…Sepur Kluthuk. Ini ajaib. Sepur Kluthuk berjalan di atas jalan raya, bukankah seharusnya berjalan di atas rel di sawah-sawah? Di atas becak aku mendadak menjadi gelisah bercampur heran.

Setelah kereta api itu berpapasan dengan becak kami, baru aku percaya 100%, bahwa apa yang aku lihat tadi adalah nyata. Itu Sepur Kluthuk yang di dalamnya berisi sahabat-sahabatku, orang-orang yang sederhana dan baik hatinya.

Belum hilang rasa heran melihat Sepur Kluthuk di jalan raya tadi, kami sudah memasuki area Taman Sriwedari. Sriwedari merupakan tempat rekreasi, taman hiburan yang sangat terkenal bagi warga kota Solo dan sekitarnya. Bahkan, tempat ini ramai pula dikunjungi oleh para wisatawan dari daerah lain.

Kami berjalan berkeliling di area rekreasi itu. Dari pintu masuk kami berjalan ke kiri untuk melihat ada beberapa macam binatang yang berada di dalam kerangkeng (jeruji yang dijadikan kandang). Kami hanya melihat-lihat. Lalu melanjutkan lagi, kami berjalan semakin masuk ke dalam area taman. Ada banyak kios yang menjual pakaian dan barang-barang kebutuhan lainnya. Juga ada tempat permainan untuk anak-anak. Tetapi aku kurang tertarik melihat semua itu.

Semangat dan gairahku baru muncul setelah melihat sesuatu yang ada di ujung depan, sebuah deretan panjang. Dari tempat aku berdiri aku bisa melihat banyak restoran dan warung makan yang menyediakan beraneka macam makanan. Melihat itu semua aku menjadi sangat gembira, gelisah, gugup, sekaligus penuh harap.

Tetapi, tiba-tiba perhatianku beralih ke arah lain, aku tertarik mendengar suara musik gamelan Jawa yang berbunyi nyaring bertalu-talu. Aku tersentak dan ingin berlari mendekati suara gamelan itu. Mbak Tut melihatku dan mengerti, mereka pun mengajakku menuju sumber suara itu.

Di sana aku melihat sebuah bangunan yang besar tapi sederhana. Rupanya itulah gedung pertunjukan yang terbesar di Sriwedari. Di dalamnya terdapat sebuah panggung besar, yang di depannya terdapat ratusan kursi berderet untuk para penonton.

Di gedung itu sedang berlangsung pertunjukan Wayang Orang. Sebelumnya aku memang pernah melihat wayang, tetapi hanya sebuah gambar yang dipajang pada dinding. Gambar wayang yang dibuat di atas kulit binatang.

Tetapi, rasanya ada yang aneh dari gedung pertunjukan ini. Gedung ini tidak berdinding rapat. Orang yang tidak memiliki uang untuk membeli karcis atau tiket untuk duduk di dalam gedung, masih bisa melihat pertunjukan dari luar gedung. Dinding gedung ini hanya berupa ram, yaitu jaringan kawat yang dirangkai jarang-jarang.

Aku mulai mengamati para pemain wayang orang itu. Mereka menggunakan kostum bermacam-macam sesuai peran masing-masing. Ada yang memakai topi tinggi keemasan, atau konde yang melengkung besar. Ada juga yang memakai sayap atau perisai di dadanya yang juga berwarna keemasan.

Mereka bernyanyi, bertengkar lalu berkelahi. Sayangnya mereka berbicara dengan menggunakan bahasa yang aku kurang mengerti. Kata mbak Tut, mereka menggunakan bahasa Jawa Tinggi dan bahasa Kawi yang biasa digunakan dalam dunia pewayangan.

Ada sebuah adegan yang membuatku sangat takjub. Di tengah panggung ada seorang tokoh wayang yang sedang berdiri, tapi tiba-tiba berubah menjadi tokoh lain, tanpa bergerak sedikitpun. Ini sungguh luar biasa!

Aku langsung teringat kecanggihan Mandrake, tokoh superhero yang bisa mengubah orang seketika. Mandrake adalah superhero pujaanku yang ada di serial komik yang dimuat di Koran Malang Post di Malang dulu.

Menonton adegan yang seru itu dari bagian luar gedung membuatku kemudian langsung menarik-narik tangan Mbak Tut untuk masuk ke dalam dan duduk di kursi. Tetapi, sayang sekali orang-orang tua kami ini bependapat lain. Mereka memberi penjelasan (baca: alasan). Supaya pulang tidak kemalaman, katanya, mereka mengajakku meninggalkan gedung pertunjukan Wayang Orang yang keren itu.

Untuk sesaat aku agak kecewa, tetapi untunglah setelah itu kami menuju ke deretan warung makan tadi. Kekecewaanku teralihkan, berganti dengan acara makan bersama.

Setelah pulang ke rumah, di atas tempat tidur, aku mengingat-ingat peristiwa yang luar biasa hari itu. Perjalanan naik becak beriringan, bertemu Sepur Kluthuk di tengah jalan raya, menonton Wayang Orang dari luar gedung, juga adegan sulap seorang tokoh wayang berganti peran dengan ajaib. Sungguh hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi diriku. Apalagi ini semua terjadi di masa pengungsian.

Tetapi, yang lebih tidak terlupakan dari semua itu, lebih dari segalanya, adalah rasa nyaman di perutku ini. Aku merasakan nikmatnya makan masakan asli Solo, Timlo. Rasa nyaman itulah yang membuat malam itu aku tertidur pulas, sangat pulas. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kesederhanaan Dalam Sepur Kluthuk

cso pecel

KESEDERHANAAN DI DALAM SEPUR KLUTHUK

PERJALANAN mengungsi dengan Sepur Kluthuk pun berlanjut. Kereta api yang berjalan sangat lamban ini terus menyusuri stasiun-stasiun kecil menuju ke arah barat.

Bagiku, perjalanan ini sangat melelahkan. Sepanjang perjalanan aku sulit bisa tidur dengan posisi tetap. Posisi dudukku juga berubah-ubah terus, karena memang kereta ini penuh dengan penumpang sehingga harus berdesak-desakan. Dan lagi, seringkali aku dikagetkan oleh suara kereta-kereta lain yang menyusul, melintas ngebut sangat dekat di samping kereta kami. Seakan-akan mengejek aku dan sepur klutukku.

Hari sudah sore. Sepur kluthuk ini kembali akan memasuki sebuah stasiun kecil. Stasiun itu berada di tengah sawah. Sewaktu kereta berhenti, tiba-tiba Pak Mojo dan Bu Mojo berdiri serta mengambil barang-barang bawaannya. “Ayo turun…,” kata Pak Mojo.

Aku terkejut. Oh please… Aku yang sudah terbiasa dengan suasana stasiun besar di kota Jombang itu harus turun di tengah sawah begini? No way, pikirku sedikit sombong. Tetapi kemudian, aku menyadari situasi dan kondisi saat itu. Kali ini aku bisa tidak mengajukan protes apapun. Apa boleh buat!

Dengan langkah sedikit berat aku mengikuti Pak Mojo dan Bu Mojo berjalan menyusuri jalan berbatu-batu menuju ke sebuah desa. Sore sudah mulai berganti gelap saat kami tiba di rumah yang pemiliknya kupanggil: Pak De, salah satu keluarga dari Bu Mojo.

Malam itu para orang tua masih asyik mengobrol. Saat mataku terfokus pada dipan di dalam kamar tidur yang terbuka pintunya, seperti paranormal Pak De rupanya mengerti apa yang ada di dalam pikiranku. Pak De mempersilahkanku untuk tidur. Tanpa menunggu lama, kini aku sudah tergeletak di atas dipan. Masih terasa pegal-pegal akibat perjalanan tadi. Masih terngiang deru Kereta Ekspress yang menyusul keretaku. Tetapi, beberapa menit kemudian aku tertidur lelap.

Esok paginya, saat bangun tidur, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nafasku terasa sangat segar. Tercium harum aroma pepohonan seperti di perkebunan kopi semasa aku tinggal di Malang dulu. Benar saja, saat keluar rumah, aku sudah berada di bawah pepohonan yang tinggi-tinggi dan rindang bagaikan di dalam hutan. Pak De ternyata memiliki kebun yang sangat luas dan teduh.

Pak De kemudian meminta anak lelakinya yang sudah dewasa mengantarkan aku berkeliling kebun. Kami menyusuri jalan setapak yang ada di dalam kebun yang luas itu. Kepadaku, si Mas dengan bangga menunjukkan berbagai jenis pohon sambil menyebutkan nama pohon atau nama buahnya.

Si Mas mengajarkan padaku bahwa kalau kita berjalan di dalam kebun jangan hanya mengandalkan mata, tapi juga hidung. Lalu, ia berhenti sambil menengadahkan hidungnya. Rupanya si Mas mencium sesuatu. Aku juga mencium bau sesuatu…, buah nangka. Lalu dengan radar penciuman, kami mulai mencari sumber aroma itu. Dari kebun kami pulang dengan membawa buah nangka yang besar dan sudah masak.

Di rumah Pak De ini kami hanya menginap selama tiga hari. Kami akan melanjutkan perjalanan mengungsi ke arah barat, menjauhkan diri dari tentara Belanda. Pada pagi ketiga, kami sudah berada di pinggir rel menuju stasiun kecil. Setelah beberapa lama, datanglah kereta yang ditunggu-tunggu.

“Ya ampun! Sepur Kluthuk lagi…”

Tetapi, meski begitu, kali ini sikapku sudah berubah. Aku tidak lagi marah-marah kepada kereta-kereta besar yang menyusul kereta klutukku. Aku sudah mulai mengerti dan menjadi terbiasa. Aku mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang selama ini satu kereta bersamaku.

Aku melihat bahwa ternyata penumpang Sepur Klutuk adalah orang-orang yang sederhana dan baik hatinya. Aku perhatikan, mereka juga memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang kaya yang menaiki Kereta Ekspres yang dulu pernah aku lihat. Gaya berpakaian mereka pun berbeda. Teman-teman baruku di dalam kereta ini memakai pakaian yang jauh lebih sederhana.

Ibu-ibu atau mbok-mbok kebanyakan memakai kebaya dan kain yang ujung bagian bawahnya lebih tinggi dari mata kaki mereka. Mungkin supaya lebih praktis untuk berjalan. Suasana yang santai dan damai sangat terasa.

Terlebih lagi, kalau aku memperhatikan mbok-mbok yang lebih tua itu, mereka duduk dengan tenang sambil memutar-mutar susur (tembakau) di mulutnya. Sepertinya mereka tidak peduli bahwa tentara Belanda akan datang dan menyerbu kita. Selama susur masih bisa berputar di mulut, mereka merasakan kedamaian yang luar biasa. Hidup itu sederhana!

Sangat berbeda dengan para penumpang Kereta Ekspres yang selalu terburu-buru, harus tepat waktu. Moto penumpang kereta itu adalah Time is Money. Sedangkan bagi para penumpang Sepur Kluthuk adalah Waton Tekan (asal sampai). Mungkin sebab itulah Kereta Ekspres mempunyai jadwal yang ketat, bahkan menit-menitnya pun harus tepat. Jauh berbeda dibanding dengan sepurku. Kalau kereta sudah harus berangkat, para penumpang masih banyak yang belum naik kereta.

Pernah satu kali terjadi, aku masih ingat. Ketika itu Pak Sep sudah meniup peluitnya, tapi kemudian ada yang berteriak bahwa ada calon penumpang yang masih di dalam WC stasiun. Pak Sep pun hanya senyum-senyum sambil sabar menunggu.

Yang juga sering membuat suasana meriah di stasiun kecil yang kulewati adalah para pedagang asongan. Aku kagum dengan keuletan mereka dalam menjajakan dagangannya. Itu karena tujuan mereka hanya satu, dagangan harus habis sebelum pulang ke rumah.

Mereka terus berkeliling dari satu gerbong ke gerbong yang lain, sambil berjalan melompati orang-orang yang tiduran di lantai. Luar biasa, pikirku. Meski kereta bergoyang-goyang, mereka mampu melompati orang demi orang tanpa pernah meleset hingga menginjak tubuh orang-orang itu. Dengan penuh semangat mereka terus berjalan dan sesekali melompat sambil menawarkan dagangannya.

Di stasiun-stasiun kecil, yang paling sering dijual para pedagang adalah kacang rebus, rokok, dan makanan khas dari daerah setempat, semisal telor asin, jagung, tahu dan sebagainya. Cara menawarkannya pun khas. Kalau kacang seperti “Caaaang kaacaangkacang kacangkacang.” Kalau rokok, “Kooorokorokoroko.”

Tetapi ada juga mbok-mbok yang berdagang dengan tenang dan tidak perlu naik ke gerbong kereta. Ia hanya menurunkan sebuah bakul dari gendongannya, lalu diletakkan di atas batu-batu kerikil di samping rel. Kemudian, ia hanya perlu satu kali teriak, “Ceeel… peceeel…” Maka, seketika orang-orang berdatangan dari segala penjuru, mengerumuni Mbok Pecel yang hebat itu.

Walau aku merasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi kenyataannya aku sangat menikmati perjalanan dengan Sepur Kluthuk. Aku gembira dan bersyukur. Begitu banyak hal yang bisa kuamati dan kuperhatikan di dalam kereta api jenis ini. Perjalanan panjang bersama dengan orang-orang sederhana ini telah mengajarkan diriku untuk lebih menghargai mereka.

Perjalanan panjang kami akhirnya berujung di sebuah stasiun yang besar, Stasiun Solo Balapan. Kami pun turun. Sembari turun, lagi-lagi aku berpikir, sekarang mana mungkin tentara Belanda bisa menyusul kami…. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sepur Kluthuk

cso sepur

SEPUR KLUTHUK

SEBELUM kota Jombang juga diduduki oleh tentara Belanda, kami bertiga, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku sudah meninggalkan kota Jombang. Dengan kereta rel nomor empat dari stasiun kota Jombang, kami menuju ke Barat. Semakin jauh dari Jombang, hati kami agak tenang karena merasa semakin jauh dari tentara Belanda.

Hanya saja sepanjang perjalanan, aku sering merasa heran. Mengapa kereta ini selalu berhenti di setiap stasiun? Termasuk berhenti di stasiun-stasiun yang sangat kecil. Bahkan, juga kadang harus menunggu selama berjam-jam di tengah sawah, di sana kereta kami berpapasan atau disusul oleh kereta-kereta lainnya yang tidak berhenti. Sungguh menyebalkan!

Beberapa lama kemudian, aku mengerti, bahwa kereta yang kunaiki ini adalah kereta yang paling lamban. Tugas kereta ini hanya menghubungkan satu desa dengan desa lainnya yang dilewati jalur rel kereta. Kereta api seperti ini biasanya dijuluki dengan istilah Sepur Kluthuk.

Entah dari mana asal istilah itu. Bisa jadi karena terlalu lambat jalannya sehingga berbunyi kluthuk… kluthuk… kluthuk.

Aku masih memikirkan kota Jombang yang baru saja kutinggalkan, terutama deretan rel kereta api dan stasiun kota Jombang. Tempat itu seperti Disneyland bagiku. Sebuah arena bermain yang luar biasa.

Tatkala mulai bosan dengan permainan “paku-pisau”, biasanya aku pergi ke dalam stasiun. Aku mengamati semua yang terjadi di dalam stasiun kota Jombang itu. Biasanya aku duduk-duduk di bangku yang biasanya digunakan calon penumpang menunggu kedatangan kereta. Aku senang duduk di bangku panjang itu. Alasanku sederhana, karena bangku panjang itu letaknya di sebelah kantin, sehingga aku bisa setiap saat mencium sedapnya aroma masakan.

Aku bersyukur, pada usia sekecil itu aku pernah menyaksikan Kereta Api dalam arti kata sebenarnya, yakni kereta yang dijalankan menggunakan api. Tungku yang terletak di depan kamar masinis itu dinyalakan menggunakan kayu gelondongan, yang kira-kira sepanjang satu meter. Sedang, lokomotifnya berwarna hitam legam, berukuran lebih besar, bahan bakarnya menggunakan batubara. Api tungku yang membara itu digunakan untuk memanaskan air yang berada di perut lokomotif itu. Tekanan air yang mendidih di dalam tabung raksasa di atas lokomotif itu yang dipakai untuk menggerakkan roda-roda lokomotif dan menarik gerbong-gerbong di belakangnya.

Suatu sore, di dalam stasiun itu aku memperhatikan bahwa jalur rel nomor dua sampai dengan nomor empat, semuanya sudah terisi oleh rangkaian kereta yang sudah siap berangkat tapi belum juga diberangkatkan. Semua kereta, dan tentu saja termasuk seisi penumpangnya, diwajibkan menunggu sebuah kereta yang datang dari arah barat. Ketika menunggu itu, terlihat sebuah titik kecil dari arah barat. Semakin lama titik itu semakin besar. Para penumpang melihatnya dengan tegang, termasuk aku.

Sebuah kereta melaju kencang dari arah barat. Itulah sang Kereta Ekspres, rajanya kereta, mendekat dan akan memasuki stasiun Jombang. Para calon penumpang pun sudah berjajar di samping rel nomor satu. Kemudian dari ruang kepala stasiun keluar seorang pria yang gagah, memakai jas berwarna cerah, di kepalanya memakai topi tinggi berwarna merah seperti topi yang dipakai oleh tentara Perancis. Kami biasanya memanggilnya, Pak Sep.

Pak Sep memegang sebuah tongkat yang diujungnya ada bulatan berwana merah. Penampilan Pak Sep memang mencolok, sehingga semua orang tahu bahwa dialah penguasa stasiun. Kemudian Pak Sep berjalan menuju pinggir rel, menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah kereta berada di jarak yang cukup, hampir memasuki stasiun, Pak Sep meniup peluit besar warna keemasan. Suara peluit Pak Sep itu sangat nyaring sehingga terdengar diseluruh stasiun, yang bahkan terdengar sampai ke rumah Tante Jom.

Kereta Ekspres pun menderu memasuki stasiun. Terdengar derit suara rem dan kereta berhenti tepat di tempat yang telah ditentukan. Para porter pengangkut barang naik-turun memanggul koper-koper para penumpang. Masing-masing bekas penumpang dan calon penumpang saling turun dan naik. Semua itu berlangsung sangat cepat.

Pak masinis sibuk bergerak mengatur nyala api tungku. Secara sigap dan cepat para petugas mengisi air ke perut lokomotif raksasa itu dengan menggunakan selang besar dan corong. Tidak sampai lima menit, semua selesai dan Kereta Ekspres telah siap diberangkatkan.

Pak masinis berdiri melongok keluar dari kamarnya di lokomotif dan tegak menghadap ke belakang. Matanya menatap kepada Pak Sep yang berada di tengah peron stasiun. Kemudian Pak Sep meniup panjang peluitnya sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya. Pertanda sebuah perintah, “Lekas berangkatkan!” Pak masinis yang tampak gagah dan profesional itu lalu menarik tuas tali di atasnya dua kali, maka terdengarlah suara “Tut…Tut…” menjawab perintah keberangkatan, yang artinya “Siap, laksanakan!”

Kereta Ekspres yang besar dan gagah itupun bergerak perlahan, makin lama makin cepat, dan kemudian bagaikan anak panah melesat arah timur, meninggalkan stasiun Jombang menuju ke Surabaya.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku bukan berada di dalam Kereta Ekspres, tapi di dalam Sepur Kluthuk, kereta yang tadi berangkat dari jalur rel nomor empat. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa Sepur Kluthuk-ku ini sedang memasuki stasiun kecil untuk lagi-lagi menikmati takdirnya, menunggu dan dibalap oleh kereta-kereta yang lebih besar dan lebih penting. Demikianlah nasibmu, Sepur Kluthuk.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kereta Barang Jam Satu

Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

.

KERETA  BARANG  JAM  SATU

PAGI sudah menjelang siang ketika aku terbangun dari tidur. Masih setengah sadar dan agak bingung, sejenak aku merenung, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Aku teringat perjalanan mengungsi dari kota Mojokerto ke kota Jombang. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.

Setelah lebih sadar, aku mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Aku berada di rumah Tante Jom, adik dari bu Mojo. Rumah Tante Jom adalah rumah yang sangat sederhana yang hanya terdiri dari satu ruangan memanjang, selebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter.

Ruangan panjang itu disekat menjadi tiga ruangan kecil. Terdiri dari ruangan yang kecil untuk tamu di depan, kamar tidur di bagian tengah, dan yang paling belakang adalah sebuah dapur kecil. Di dapur itu terdapat tungku yang terletak di atas lantai.

Di dalam rumah papan sederhana itu terasa agak pengap dan gelap. Hanya ada sebuah jendela kecil, yang hanya di bagian depan rumah. Rumah itu memang sangat sederhana, tapi kelak aku merasa itu adalah rumah terindah yang pernah aku tinggali.

Aku turun dari tempat tidur dan menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu, angin disertai debu jalanan masuk ke dalam rumah. Aku baru sadar bahwa rumah tante Jom terletak tepat di pinggir jalan raya, menghadap lalu-lintas yang ramai, sangat bising. Dengan cepat aku menutup lagi pintu pintu depan itu. Aku lalu berjalan menuju ke pintu belakang yang berada di dekat dapur. Begitu pintu terbuka, aku sangat terpukau dan takjub dengan pemandangan yang kulihat.

Di belakang rumah Tante Jom itu, aku melihat pemandangan yang menariknya melebihi Dunia Fantasi Ancol, atau Disneyland yang mengagumkan sekalipun. Bagiku pemandangan di belakang rumah itu sangat menantang dan merangsang jiwa anak-anak seperti diriku.

Yang pertama kulihat adalah rel kereta api. Bukan hanya satu rel, tetapi ada empat rel yang berjajar. Dari pintu belakang itu, aku langsung meloncat keluar. Rel-rel itu aku perhatikan dengan seksama, dari empat menjadi tiga, menjadi dua, lalu menyatu dengan rel utama yang menuju ke kanan, ke arah barat, arah Jakarta.

Aku menengok ke kiri, arah timur. Terlihat gedung stasiun yang sangat besar. Pada dinding sebelah atas bangunan yang terbuat dari baja itu tertulis huruf yang besar-besar: JOMBANG.

Tulisan raksasa itu bagaikan ucapan selamat datang bagi para penumpang kereta api yang memasuki stasiun kota Jombang. Rupanya rumah tante Jom terletak tepat di sebelah stasiun kereta api kota Jombang. Kali ini aku baru benar-benar paham.

Melalui pintu belakang itu aku juga menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sederet kabel dari kawat baja menyusuri pinggiran rel, tersusun sejajar seperti kabel-kabel listrik bertegangan tinggi yang sering disebut Sutet. Tetapi, deretan kawat itu dipasang sangat rendah, setinggi pinggang orang dewasa. Rupanya kawat-kawat baja itu bisa ditarik atau diulur yang dikendalikan dari dalam stasiun untuk menggabungkan atau memisahkan rel satu dengan rel lainnya.

Pada hari kedua tinggal di rumah Tante Jom, aku sudah bisa menjadi tukang ramal jalur kereta api. Kalau ada kereta datang dari sebelah Barat, aku bisa tahu kereta yang baru datang itu akan masuk lewat rel nomor berapa. Kalau terlihat ada kereta yang hendak masuk ke stasiun, seringkali aku mengumpulkan anak-anak tetangga. Kepada mereka aku berlagak meramal, bahwa kereta itu akan melewati rel nomor dua. Dan benar, kereta yang baru datang itu memasuki jalur rel nomor dua. Mereka takjub. Anak-anak tetangga itu terbengong melihat ramalanku yang selalu tepat. Dan aku sangat menikmati melihat muka-muka bengong itu.

Beberapa hari kemudian, aku berganti permainan. Setiap kali ada kereta yang melintas di depanku, aku pusatkan perhatianku kepada rel besi yang dilindas oleh roda besi kereta api. Wow, besi dilindas oleh besi. Kemudian aku mengadakan percobaan.

Sebelum kereta datang, aku letakkan sebuah batu kecil di atas rel. Sewaktu kereta lewat dengan cepat, batu itu lenyap tidak berbekas. Aku mendapat sebuah ide. Aku letakkan sebuah paku di atas rel di depanku. Apa yang terjadi? Paku itu terlindas oleh roda kereta, tetapi kemudian paku itu terpental. Aku mencari paku tadi. Setelah ditemukan, aku kaget minta ampun. Paku itu sudah berubah bentuk, menjadi pisau yang tajam. Luar biasa! Aku pun mulai mengumpulkan banyak paku, dengan segala ukuran.

Dalam waktu singkat, paku-paku itu sudah berubah menjadi pisau atau mata tombak kecil. Aku sudah seperti memiliki sebuah pabrik. Pisau-pisau dan tombak “hasil produksi”-ku itu kukumpulkan dan kuletakkan di samping pintu belakang rumah. Semakin lama semakin banyak dan semakin menumpuk.

Selain itu, ketika mengungsi di rumah Tante Jom ini aku juga menemukan hal yang baru dan menarik. Setiap ada kereta api yang melintas, seluruh rumah terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa. Pada mulanya hal itu sangat menggangguku, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Kalau terjadi “gempa” ketika aku sedang tidur di malam hari, bagiku, justru serasa tidur di dalam ayunan. Goncangan kereta api itu seperti menina-bobokan aku.

Ada sebuah rangkaian kereta yang melintas setiap jam satu lewat tengah malam. Goncangan serangkaian kereta barang yang panjang itu terjadi lebih lama dibandingkan dengan kereta lain. Aku sangat menikmati goyangan kereta barang itu.

Suatu malam, menjelang dini hari, terjadi sebuah keributan. Penghuni seisi rumah Tante Jom terbangun. Para tetangga juga terbangun dan keluar rumah. Ada yang berteriak-teriak lantang dengan sedikit panik, “Kereta barang belum lewat!”Setelah keributan mereda, orang-orang mencoba tidur lagi. Satu jam kemudian kereta barang melintas. Rumah bergoyang-goyang. Meski sejenak kaget, tapi kemudian goyangan itu justru membuai tidur kami. Itulah Kereta Barang Jam Satu, kereta yang setiap malam kami dirindukan.

Belum genap dua minggu mengungsi, tinggal di rumah Tante Jom, belum juga bosan aku tidur digoyang-goyang Kereta Barang Jam Satu, pada suatu malam sayup-sayup kembali terdengar suara dentuman-dentuman.

Sepertinya tentara Belanda akan ke Jombang, menyusul kami ke pengungsian. Maka esok harinya, kami berangkat meninggalkan kota Jombang. Kota yang mulai aku sukai. Kami kembali harus mengungsi menuju ke arah Barat. Kali ini tidak lagi berjalan kaki, tapi naik kereta api. Kami berangkat dengan kereta rel nomer empat, dari stasiun kereta api kota Jombang.

Ketika kereta api mulai begerak perlahan, melintasi rumah Tante Jom, aku melongok keluar jendela. Aku memandang rumah itu dengan sedih. Tanganku melambai ke arah rumah itu. Rumah terindah yang harus kutinggalkan. Terlebih, aku juga harus meninggalkan pisau buatanku yang masih menumpuk, teronggok di dekat pintu belakang rumah Tante Jom. Selamat tinggal Jombang, selamat tinggal Kereta Barang Jam Satu. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Sebuah Rahasia

SEBUAH RAHASIA

 PADA awal bulan Desember terjadi kesibukan yang luar biasa di rumah Mbah Tanjung. Rumah yang semula sudah dipenuhi anak-anak itu semakin ramai dan heboh. Ada yang kami tunggu-tunggu saat itu, yakni SINTERKLAS.

Sinterklas adalah sosok seorang laki-laki tua berkulit putih, berkacamata, bertubuh tinggi dan selalu membawa tongkat. Sinterklas memiliki kumis dan jenggot berwarna putih yang lebat, berbaju jubah merah serta menggunakan topi tinggi yang juga berwarna merah. Cerita tentang Sinterklas ini diceritakan oleh Tante Jah. Ia adalah wanita yang berperan menjadi ibu asuh bagi kami, anak-anak di rumah itu.

Menurut Tante Jah, Sinterklas tinggal di Negeri Belanda, yang konon pada bulan Desember tahun itu, akan mengunjungi Indonesia. Jadi, ada kemungkinan Sinterklas juga akan mengunjungi kota Malang.

Sinterklas biasanya dengan kudanya melakukan perjalanan bersama seorang asisten yang bernama Pit Hitam (Zwarte Piet), seorang lelaki kurus berkulit hitam legam. Sinterklas akan berkeliling dari rumah ke rumah membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak yang berkelakuan baik. Sedangkan si Pit Hitam tugasnya menghukum anak-anak yang nakal.

Tante Jah menceritakan itu semua dengan muka serius, disertai gerakan-gerakan untuk memberi tekanan tertentu pada apa yang ia ceritakan. Anak-anak mendengarkan cerita Tante Jah dengan muka yang tegang, mata yang melotot, dan mulut yang agak melongo. Begitu pula diriku, sama ekspresinya seperti mereka. Kami semua terkagum-kagum akan kebaikan hati dan kehebatan Sinterklas.

Tante Jah meminta agar anak-anak mempersiapkan diri, karena mungkin sewaktu-waktu Sinterklas datang kemari, ke rumah Mbah Tanjung.

Sejak hari itu tingkah laku anak-anak menjadi berubah drastis. Ada yang tiba-tiba menjadi rajin menyapu rumah, membersihkan tempat tidur, dan membuka-buka buku pelajaran sekolah. Aku juga tidak ketinggalan. Aku mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja, kursi dan lemari yang ada di ruang tengah. Tetapi dalam melakukannya aku lebih banyak beristirahat dari pada bekerjanya. Hanya kalau Tante Jah melewati ruang tamu saja, maka dengan sigap aku mulai membersihkan kursi-kursi, meja atau lemari. Tujuanku, agar nanti kalau ditanya oleh Sinterklas, Tante Jah akan melaporkan bahwa akulah yang terbaik diantara anak-anak lain.

Beberapa hari kemudian, anak-anak dikumpulkan lagi oleh Tante Jah. Katanya akan ada pengumuman penting. Dengan penuh harap, kami mengelilingi sang Tante yang berwibawa itu. “Ini serius. Sinterklas malam ini akan singgah di kota Malang,” kata Tante Jah. Anak-anakpun menjadi semakin tegang, terlebih lagi aku.

“Jadi, agar Sinterklas mau mampir ke rumah ini, kita harus memancing kudanya Sinterklas itu dengan menyediakan makanan yang disukai kuda. Kalian harus mengumpulkan rumput dan dimasukan ke dalam sepatu kalian masing-masing. Kemudian sepatu yang berisi rumput itu harus diletakkan di ruang tengah ini,” kata Tante Jah melanjutkan.

Maka berhamburanlah kami mencari rumput, dengan membawa sepatu masing-masing. Tetapi aku tidak mau mengambil rumput dari halaman rumah itu. Aku menyeberang ke halaman tetangga yang memiliki rumput lebih hijau dan lebat. Dengan rumput terbaik, maka pastilah kuda Sinterklas akan tertarik karena rumput di sepatuku lebih hijau dan panjang dari pada sepatu anak-anak lain. Dan dengan begitu, ia akan mendapatkan hadiah yang terbaik dan lebih besar.

Pada malam hari itu kami diharuskan untuk tidur lebih awal. Sehingga jika tengah malam Sinterklas singgah ke rumah kami, anak-anak sedang tidur lelap. Itulah perintah Tante Jah. Sebelum jam 9 malam, kami sudah bersiap tidur. Lampu kamar pun dimatikan.

Semua anak-anak sudah mulai “ngorok“. Hanya aku saja yang belum bisa tidur. Aku masih saja memikirkan bagaimana caranya nanti Sinterklas dan Pit Hitam masuk ke dalam rumah. Jika masuk melalui atap rumah, apakah Sinterklas tidak akan memecahkan genteng-genteng sehingga membuat bocor ketika hujan turun? Perkara ini agak mengganggu pikiranku.

Ketika Tante Jah membuka pintu kamar kami untuk memeriksa apakah kami sudah pada tidur, aku dengan cepat pura-pura sudah tidur nyenyak. Aku mengatur nafas panjang-panjang seperti orang yang sudah lelap tidur.

Dan benar saja, di tengah malam itu mulai terdengar suara-suara, “geletak-geletuk”. Aku menjadi semakin tegang. Suara itu tidak datang dari atas atap rumah, tetapi dari ruang tengah. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku dan mengintip apa yang terjadi di ruang tengah. Aku tidak berani mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Aku berdiri jauh dari pintu, menempel ke tembok sehingga tidak akan terlihat dari ruang tengah yang terang.

Hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kulihat dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu. Ada tangan-tangan yang bergerak-gerak dan menaruh kotak-kotak hadiah yang sudah dihias ke dalam sepatu-sepatu yang sebelumnya berisi rumput. Aku terkejut, tapi pada akhirnya aku mengerti, siapakah sebenarnya “Sinterklas” itu. Kemudian aku pun mengendap-endap kembali naik ke tempat tidur, lalu tidur pulas.

Pagi hari tiba, suasana menjadi meriah. Anak-anak termasuk aku mulai membuka bungkusan-bungkusan hadiah. Kami bersorak-sorak girang sambil memegang hadiah masing-masing. Tidak ketinggalan aku juga ikut berteriak-teriak senang. Kemudian kami diminta bernyanyi sebagai tanda terima kasih kepada Sinterklas. Seperti biasanya, aku bernyanyi paling keras dan paling merdu.

Tentu saja aku masih ingat apa yang kusaksikan semalam. Tetapi, di depan anak-anak-anak lain aku bersikap seakan-akan aku tidak tahu apa-apa. Aku melakukan semacam gerakan “tutup mulut”. Aku tidak mau membuat tante Jah kecewa. Ia yang sudah bekerja keras mempersiapkan kedatangan Sinterklas ke kota Malang setiap tahun. Aku berjanji tidak pernah membuka “rahasia” malam itu kepada anak-anak yang lain.

Biarlah suatu saat nanti, mereka akan tahu sendiri rahasia Sinterklas, mungkin kalau sudah dewasa, tetapi bukan dari aku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑