Cari

Antonius Sutedjo

Kategori

Uncategorized

Dikejar Celurit

DIKEJAR CELURIT

 SIANG itu Geng Anak Tanjung sedang berkumpul di bawah sebuah pohon besar di Lambou (berasal dari kata bahasa Belanda, Land Bouw, yang artinya pertanian). Lambou adalah sebuah lahan yang sangat luas. Letaknya berbatasan dengan gang-gang di Jalan Tanjung. Batas Lambou itu tepat berada beberapa puluh meter di belakang rumah kami, rumah Mbah Tanjung.

Cacak duduk di tanggul sambil memegang tongkatnya. Kami, para anak buah, duduk melingkar di depannya. Gayanya masih saja seperti Nabi Musa yang sedang berkhotbah di depan umatnya. Titahnya hari itu adalah agar kami pergi ke kebun tebu. Maksudnya, mencuri tebu! Memang kebun tebu yang sangat luas itu sudah siap panen. Maklum tebu-tebu saat itu sudah cukup besar dan sangat tinggi, yang menggoda untuk di…curi. Dan biasanya, pada musim seperti ini, pengamanan kebun tebu pun ditingkatkan. Pemilik kebun menyebar “centeng”. Centeng adalah orang-orang yang berbadan besar dan menyeramkan, terutama bagi anak-anak kecil. Kami biasa memanggil mereka: Pak Celurit!

Pak Celurit berwajah sangar dengan kumis panjang lebat nan melintang. Lengannya berhias gelang akar bahar. Seluruh jemarinya dilengkapi cincin batu akik yang besar-besar. Dan tentu saja, sesuai julukannya, ke mana pun ia pergi selalu menenteng celurit. Celurit, anda sudah tahu, adalah sebuah senjata tajam khas suku Madura.

Walaupun sejenis senjata tajam, celurit sebenarnya memiliki bentuk yang indah, melengkung, bagaikan bulan tanggal muda yang diberi gagang. Tetapi, aku sangat takut pada pada bagian ujung celurit dan lengkungan bagian dalamnya. Konon, ketajamannya luar biasa, bahkan bisa dipakai untuk mencukur jenggot dalam sekedipan mata.

Singkat cerita, kami para anggota geng sudah siap melaksanakan titah Cacak. Masing-masing dari kami sudah mempersenjatai diri dengan pisau. Kami berkumpul di pinggir batas kebun tebu. Tim pengawas” pun sudah disebar untuk mengkondisikan, kalau-kalau Pak Celurit muncul dari arah kanan atau kiri. Kalau Pak Celurit muncul, maka yang bertugas sebagai pengawas akan memberi kode kepada kami, lalu kami semua berlari ke kampung dan menyebar. Begitu strategi dari Cacak, sang pemimpin yang jenius.

Tetapi, strategi canggih ini pun kemudian menjadi buyar berantakan. Pada saat kami sedang asik-asiknya membabat tebu, tiba-tiba tanpa diduga dan luput dari intaian Tim Pengawas. Pak Celurit muncul dari dalam kebun yang sangat dekat dengan kami.

Kami semua terperanjat, termasuk Cacak, sang pemimpin. Dengan sigap Cacak langsung mengubah strateginya. Bukan lari ke kampung, tapi langsung masuk ke dalam kebun tebu yang lebat dan tinggi. Suatu langkah yang tepat. Spontan kami pun mengikuti jejaknya, berhamburan ke dalam kebun.

Celakanya, tidak kalah pintar, Pak Celurit berbalik masuk ke kebun mengejar kami. Maka, terjadilah sebuah adegan kejar-kejaran yang seru, bagaikan dalam film perang yang pernah aku tonton bersama Om No di bioskop. Terkadang untuk beberapa saat kami harus berhenti lalu harus diam, senyap. Cacak memasang telinganya. Dari suara gemerisiknya daun-daun tebu, akan ketahuan di mana posisi Pak Celurit.

Di tengah kesunyian yang mendebarkan itu tiba-tiba terdengar suara teriakan keras Pak Celurit. Tampaknya ia berhasil mengetahui posisi kami. Meski tidak menatap wajahnya, kami tahu ia marah-marah dan mengancam kami. Bergidik, Cacak yang diikuti anak-anak lain lari terbirit-birit dan sekencang-kencangnya menerobos lebatnya kebun tebu.

Kalian tidak boleh lupa bahwa aku ini adalah anggota geng yang paling kecil, begitu pula dengan ukuran langkah kakiku. Bisa ditebak, dalam pelarian itu aku terpisah dari rombongan. Dan aku pun tertinggal sendirian di dalam kebun tebu yang luas itu.

Aku duduk bersembunyi di balik rerumpunan tebu yang paling lebat. Suasananya sepi mencekam. Mendadak terdengar suara gemerisik, mendekat dan semakin dekat. Pada saat itulah aku merasakan sesuatu yang dinamakan “takut”, rasa takut yang hebat lagi sangat.

Dalam benakku terbayang ketajaman celurit yang mengkilat nan mengerikan. Tetapi, suara gemerisik itu terdengar semakin lama semakin menjauh. Meski masih ketakutan, aku berusaha lebih tenang. Aku memilih tetap berdiam diri.

Hingga akhirnya menjelang maghrib yang menegangkan, setelah beberapa jam bersembunyi, aku baru berhasil keluar dari kebun tebu dan berjalan menuju kampung dengan penuh rasa lega bercampur kemenangan.

Di pinggir kampung, Cacak dan seluruh anggota Geng Anak Tanjung telah menunggu kedatanganku. Mungkin saja mereka juga ketakutan dan khawatir akan nasibku anggota mereka yang paling kecil.

Sambil memegang tongkat, aku berjalan dengan tenang, gagah dan bangga mendekati mereka. Kemudian aku pun bercerita tentang keberanianku berkejar-kejaran dengan Pak Celurit. Tentu saja itu cerita yang aku buat-buat, kuberi banyak bumbu lalu kuaduk, supaya mereka lebih kagum mendengar kisah keberanianku.

Pada saat itulah aku merasa bahwa aku ini sudah selayaknya diangkat menjadi wakilnya Cacak. Wakil Pemimpin Geng Anak Tanjung, Gatan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Gerobak Si Ja’im

cso gerobak

GEROBAK SI JA’IM

SEWAKTU kecil, aku sudah sering berdoa. Itu karena aku tinggal di dalam keluarga yang rajin berdoa, keluarga Mbah Tanjung. Di rumah besar di Jalan Tanjung Gang Dua, setiap hari ada acara doa bersama. Biasanya doa malam hari sebelum tidur. Doa sebelum makan dilakukan sendiri-sendiri, tetapi anak-anak selalu diingatkan oleh yang lebih dewasa. “Hayoo… Sudah berdoa belum?”. Aku paling sering mendapat teguran itu.

Bagiku, ada sebuah doa yang paling menyenangkan, yaitu doa yang dikabulkan. Meski bagaimana sebuah doa yang bisa sampai terkabul, itu masih menjadi misteri buat diriku.

Pada suatu siang setelah sekolah, badan aku sudah terasa lelah. Padahal hari itu aku masih harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Sekolahku di Taman Kanak Kanak di Jalan Semeru (Semeru Straat) Malang. Jarak dari sekolahku ke rumah Mbah Tanjung yang baru di Jalan Lowok Waru sekitar 4 kilometer. Parahnya lagi, siang itu matahari kota Malang tersenyum sumringah dengan teriknya. Detik itu juga aku berdoa, “Tuhan, aku capek. Tolong aku Tuhan.” Hanya itu saja yang kukatakan dalam hati sembari berjalan pulang agak sempoyongan.

Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar sayup-sayup suara kloneng-kloneng. Terimakasih Tuhan, bisikku dalam hati. Aku hafal luar kepala suara itu. Bunyi “kloneng-kloneng” itu adalah suara kalung pada leher sapi yang menarik gerobak beroda ban karet milik si Ja’im. Suaranya semakin dekat, dan benar munculah gerobak sapi. Ja’im. Kusir gerobak itu adalah sahabatku.

Ja’im memandangku sambil tersenyum lebar, senyuman seorang sahabat. “Melok? (Ikut?),” tanyanya. Secepat kilat aku melompat ke atas gerobak dan duduk di samping Ja’im. Sahabatku itu kemudian mengayun-ayunkan cambuknya untuk melarang anak-anak lain yang ingin ikut naik ke gerobaknya.

Ja’im adalah seorang laki-laki kurus berumur sekitar tiga puluhan tahun. Ia termasuk tipe orang yang tenang, sabar dan pendiam. Ja’im hanya kelihatan marah kalau ada anak-anak yang mau menumpang gerobaknya. Tetapi, mengapa aku dibolehkan naik bahkan diajaknya?

Begini riwayatnya. Beberapa minggu sebelumnya, saat aku dan teman-teman sekolahku beramai-ramai hendak menaiki gerobak itu, Ja’im berusaha menghalau kami semua agar tidak naik gerobaknya. Tetapi terlambat, aku sudah terlanjur berhasil naik dan nangkring di atas gerobak itu.

Saat mata sang kusir menatapku tajam, apa yang aku lakukan? Aku hanya tersenyum lebar yang cenderung nyengir kepada kusir kurus itu. Ajaib, aku tidak diusirnya. Ia hanya melengos sebal, lalu kembali memandang ke depan sambil mencambuk sapinya agar berjalan lebih cepat. Itulah cerita perkenalan pertamaku dengan Ja’im.

Sejak saat itu, setiap kali menumpang gerobak itu, aku selalu terus mengoceh, dan rupanya Ja’im senang dengan cerita-cerita yang aku ceritakan. Aku bercerita tentang berbagai hal. Tentang kejadian di sekolah, di rumah, atau kejadian-kejadian lucu lainnya. Mendengar aku bercerita, terkadang ia tertawa atau tersenyum senang, tapi tanpa komentar apapun. Mungkin, itulah persahabatan yang ideal. Yang satu menjadi pembicara yang baik, yang lain menjadi pendengar yang baik.

Pada saat duduk atas gerobak sapi di siang terik itu, aku sempat merenung dan berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi. Doa yang terkabul. Bagaimana prosesnya? Kok, Tuhan bisa secepat itu menolongku dengan menyediakan gerobak si Ja’im. Tetapi, pikiran itu terpotong oleh kerasnya suara cambuk ke pantat sapi, jalanan agak menanjak setelah melewati jembatan kali Brantas.

Aku selalu menikmati perjalanan menumpang gerobak Ja’im. Apalagi sambil ditemani suasana teduh dan sejuk oleh semilirnya angin Malang yang dingin. Goyangan gerobak beroda ban karet yang lembut itu, berpadu dengan bunyi “klonengan” kalung di leher sapi yang ritmis. Ah, itu semua membuat mataku semakin berat, makin redup. Tetapi sebelum aku tertidur, aku masih sempat melirik si Ja’im. Ia masih tetap duduk tenang, memandang ke depan sambil mengendalikan sapinya.

Wis rek, muduno! (sudah rek, turunlah!)”.

Hampir saja aku terpental kaget dibangunkan si Ja’im. Rupanya kami sudah tiba di mulut gang rumah Mbah Tanjung. Aku pun meloncat turun sambil melambaikan tangan ke arah Ja’im. Ia membalas lambaian tanganku dengan nyengir sambil mengangkat tinggi-tinggi cambuknya lalu dialamatkan ke sapinya.

Sambil berjalan memasuki gang menuju ke rumah, aku memikirkan lagi bagaimana cara Tuhan mengirimkan gerobak si Ja’im. Tetapi, lagi-lagi pikiran itu terhapus karena aku sudah tiba di rumah. Seperti biasanya, aku harus segera berganti pakaian, mencuci kaki dan tangan, sambil semangat menunggu panggilan untuk… makan! (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pemimpin Hebat dan Kotoran Luwak

PEMIMPIN HEBAT DAN KOTORAN LUWAK

 

AKHIRNYA, setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, aku diterima sebagai anggota geng, Geng Anak Tanjung, Gatan. Status menjadi anggota Geng pimpinan CACAK yang sangat disegani oleh anak-anak sekitar Jalan Tanjung, Malang, tentu membuat diriku sangat bangga. Apalagi kalau kami sedang berjalan berombongan, bagaikan tentara sedang berpatroli atau pawai. Aku merasa sangat keren, meskipun aku selalu berada di posisi paling belakang.

Saat pawai, aku selalu berjalan dengan tegap, sedikit digagah-gagahin, apalagi kalau kami berjalan melewati anak-anak lain yang menonton di pinggir jalan atau dari dalam pagar rumah mereka. Aku ingin memperlihatkan kepada anak-anak rumahan itu, bahwa aku adalah anak yang tidak bisa dianggap cengeng. Meski toh kenyataannya, aku selalu berjalan di barisan paling belakang.

Karena aku masih sekolah TK sedang anak yang lain semua sudah SD, aku berjalan selalu berjarak dengan barisan utama. Kadang kala anak buah Cacak yang lain merasa kurang nyaman dekat-dekat denganku, dari kasta yang lebih rendah. Bahkan bila Cacak tidak melihat, mereka mencoba mengusirku. Tetapi, hal itu tidak aku hiraukan. Bukankah aku sudah menjadi anggota resmi yang diangkat sendiri oleh Cacak, sang pemimpin Gatan?

Kegiatan rutin Geng Anak Tanjung adalah berjalan menyusuri kampung-kampung di daerah Tanjung. Tetapi terkadang kami juga berani keluar dari daerah Tanjung, misalnya ke daerah Bareng. Bareng merupakan daerah yang ideal untuk berpatroli, karena jalanannya yang sempit dan berbatu-batu, apalagi ada sungai kecil yang melintas di situ. Tempat ideal untuk lokasi semacam outbound di masa sekarang.

Pernah suatu kali, di daerah Bareng itu kami berpapasan dengan geng lain. Selayaknya geng, mereka juga memiliki pemimpin dan anak buah. Geng mereka lebih besar daripada geng Gatan. Hal ini membuat jantungku berdebar-debar. Aku sudah bersiap-siap, kalau sampai nanti terjadi tawuran, aku akan menjadi orang pertama yang lari, pulang ke rumah. Aku bukannya takut, (baca: memang takut), tetapi aku akan melapor ke Om-Om dan kakak-kakak yang lebih besar di Tanjung, bahwa sedang terjadi tawuran. Tetapi kata orang bijak, apa yang kita takutkan, biasanya tidak terjadi.

Ketika kedua geng ini berpapasan lebih dekat, Cacak sang pemimpin yang kukagumi itu melakukan tindakan yang tidak diduga-duga. Kepada pemimpin geng lawan, Cacak mengangkat tongkat saktinya tinggi-tinggi sambil berteriak keras, “Hooo…!” Seketika itu juga, pemimpin geng lawan juga melakukan hal yang sama. “Hooo…!” Setelah itu, kedua geng itu pun melanjutkan perjalanannya masing-masing. Beruntung aku belum sempat lari. Sejak saat itu, aku mengerti bahwa hal itu adalah semacam “salam damai antar geng”.

Selain pemberani, Cacak juga seorang pemimpin hebat yang brilian, cerdas dan punya wawasan jauh ke depan, bahkan sampai lima puluh tahun ke depan. Ia juga menjalankan prinsip-prinsip dan fungsi-fungsi “Manajemen Modern”. Dia tahu bahwa seorang manajer adalah orang yang mendapatkan hasil dari pekerjaan orang lain. Hal itu terlihat sewaktu Cacak membawa gengnya ke kebun kopi yang luas, di belakang Jalan Tanjung Gang Dua. Seperti seorang manajer, Cacak duduk santai di bawah pohon kopi sambil memain-mainkan tongkat kebesarannya itu. Sedangkan aku dan anak buahnya yang lain disuruh menyebar ke seluruh penjuru kebun. Kami diberi tugas mengumpulkan biji-biji kopi yang jatuh di tanah, terutama biji kopi yang terbungkus oleh… kotoran luwak!

Semua anggota geng termasuk aku diharuskan melakukan tindakan yang paling menjijikan dan tidak senonoh! Kami harus mengkorek-korek kotoran binatang luwak itu, baik kotoran yang sudah kering, setengah basah, seperempat basah bahkan yang masih 100% basah dan bau. Semua hasil pekerjaan itu harus disetorkan ke Cacak.

Belakangan aku baru tahu, bahwa oleh Cacak biji-biji kopi itu dijual ke seorang penadah di kampung sebelah. Sungguh luar biasa cerdas! Ia seakan tahu bahwa kelak berpuluh-puluh tahun kemudian, kopi kotoran luwak itu akan menjadi kopi terkenal dan termahal di dunia. Aku semakin kagum kepada si Cacak.

Mengingat peristiwa itu, duh mendadak aku kepingin minum Kopi Luwak. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Cacak

CACAK

CACAK adalah kata lain dari kakak. Cacak adalah nama panggilan seorang pemimpin yang sangat kukagumi saat diriku mulai sekolah di Taman Kanak-kanak. Waktu itu, Cacak dan gengnya sangat disegani oleh anak-anak di daerah Jalan Tanjung, Malang, Jawa Timur.

Walaupun Cacak masih kelas tiga Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), tetapi badannya lebih besar untuk ukuran seorang anak laki-laki kelas tiga. Mungkin ia pernah tidak naik kelas karena kenakalannya. Bisa jadi.

Anak buah Cacak jumlahnya tidak pernah tetap, berubah-ubah terus, tetapi yang jelas tidak pernah lebih dari sepuluh anak. Tentu saja mereka semua berbadan lebih kecil daripada sang pemimpin. Baiklah, biar lebih keren, geng ini kuberi nama GATAN, singkatan dari Geng Anak Tanjung.

Pada suatu siang melintaslah gerombolan Gatan di depan rumah kami. Dari kejauhan sudah terdengar suara gaduh mereka. Mendengar itu, aku pun bersiap, menanti mereka di pagar depan rumah, sekedar untuk melihat mereka. Kali ini gerombolan Gatan yang melintas hanya sang pemimpin Cacak yang diikuti oleh lima anak, mereka ini adalah anggota inti geng. Sebagai anggota inti, mereka adalah yang paling setia dan tidak boleh absen dari semua kegiatan geng. Lalu, ke mana anggota yang lain? Mungkin sedang cuti, ada tugas lain, atau keluar dari keanggotaan geng karena dilarang oleh orang tuanya.

Gerombolan ini berjalan dan bergerak cepat sambil bercanda dengan suara yang lantang, bernyanyi-nyanyi, dan berteriak-teriak dengan kata-kata yang tidak jelas. Anak-anak Gang Dua yang sedang bermain di jalan gang bergegas menyingkir, menghindari pasukan anak bandel itu. Ada juga yang hanya menonton dari dalam pagar rumah mereka. Maklum, mereka adalah anak baik-baik, anak rumahan atau biasa disebut dengan “anak mama”.

Lain lagi dengan ibu-ibu, mereka melihat gerombolan itu dengan sebal dan marah. Mungkin mereka khawatir kalau-kalau anaknya nanti ikut bergaul dengan berandal-berandal kecil itu. Beruntung kali ini mereka hanya melintas saja, dan memang selalu begitu. Setelah itu, situasi menjadi normal kembali. Tenang dan sepi.

Tetapi, sejak itu, tiba-tiba aku punya perasaan yang aneh. Ada yang bergelora di dadaku. aku menemukan impian baru. Aku ingin bergabung dengan gengnya Cacak! Aku mulai membayangkan, bahwa kalau saja aku bisa bergabung Gatan, bakal bisa banyak melakukan petualangan-petualangan seru, hebat, dan mendebarkan atau nyerempet-nyerempet bahaya. Yang pastinya wow…

Perlu kalian ketahui, aku ini bukan jenis anak mama atau anak rumahan. Di rumah Mbah Tanjung, aku diberi kebebasan. Yang penting, pulang pada jam-jam absensi, yaitu sebelum maghrib dan waktu… makan!

Tidak perlu berpikir lama aku sudah berada di luar pagar, dan langsung berlari menyusul Cacak dan gengnya. Meski aku berhasil menyusul mereka, tetapi aku hanya berani menguntit dari jarak sekitar lima belas meter. Lumayan, pikirku, aku bisa mengamati Cacak, sang pemimpin, dan tanpa mengganggu mereka.

Acara penguntitan dan pengamatan ini kulakukan selama berhari-hari, dengan jarak pengamatan yang semakin lama semakin dekat. Yang membuat aku heran adalah mereka tidak tidak pernah mengusirku. Mungkin, karena aku masih terlalu kecil dan dianggap tidak mengganggu. Dan aku juga tahu diri, mereka anak-anak SD, sedangkan aku cuma anak TK, seakan beda kasta.

Hasil dari pengamatanku adalah: bahwa Cacak memang seorang pemimpin sejati. Dia selalu berjalan paling depan, gagah dan selalu membawa tongkat yang diambil sekenanya, entah dari mana asalnya. Yang membuat aku bingung ialah kenapa para pemimpin atau komandan suka bawa tongkat. Apa mungkin mereka meniru kewibawaan Nabi Musa. Sambil berjalan Cacak mengayun-ayunkan tongkatnya. Kadang dengan tongkat itu, ia menunjuk ke satu arah kepada anak buahnya.

Pernah suatu kali ia marah-marah kepada salah satu pengikutnya, entah sebab apa, mungkin saja waktu itu ada pengikutnya yang kurang loyal. ia memukulkan tongkatnya ke sebuah pematang sawah di belakang Jalan Tanjung Gang Dua. Begitu kerasnya hingga tongkatnya patah. Para pengikutnya terdiam, takut seakan-akan pukulan tongkat itu menghantam punggung mereka.

Cacak sangat sensitif untuk perkara loyalitas anggota gengnya. Ia sangat takut kalau ditinggalkan pengikutnya. Bisa jadi Cacak bersedia mati demi menjaga kepemimpinannya. Ini karena ia paham benar soal PDK (Prinsip Dasar Kepemimpinan). Seseorang baru bisa dinamakan pemimpin kalau ia punya pengikut. Tanpa adanya pengikut, maka ya seperti orang yang JJSSS (Jalan Jalan Sore Sore Sendirian). Dan makin hari aku semakin kagum saja kepada sosok Cacak.

Siang itu panas sangat terik, sang pemimpin dikelilingi anggota gengnya sedang duduk-duduk di pematang sawah. Sedangkan aku sudah berani mendekati mereka dalam jarak hanya tiga meter saja. Tiba-tiba Cacak mengarahkan tongkat saktinya kepadaku, sambil berkata, “Hei, kamu, bisa ndak cari pisau yang gede?” Aku sangat terkejut, dan langsung menengok ke belakang, mengira ada anak lain di belakangku, ternyata tidak ada. Maka, yakinlah aku bahwa perintah itu ditujukan kepada diriku. Saking kagetnya, aku hanya bisa mengangguk, lalu lari secepat kilat.

Sampai di rumah, aku langsung ke dapur mengambil sebuah pisau, yang tanpa ijin tentunya. Aku lalu lari terbirit-birit, kembali ke pematang sawah, dan menyerahkannya kepada sang baginda pemimpin Gatan. Cacak menerima pisau itu sambil tersenyum sumringah, sembari berkata kepadaku, “Kon ate melok tah? Ayo! (Kamu ingin ikut-kah? Ayo!).”

Tidak lama kemudian, iring-iringan pasukan pimpinan Cacak mulai bergerak. Cacak berjalan paling depan, dan aku paling belakang. Hari itu aku resmi menjadi anggota geng, Gatan. Sungguh aku bangga bukan kepalang.(*)

***

Intermezzo: Dua puluh tahun kemudian, aku yang kini dipanggil Ompa, anggota “Geng Anak Tanjung (Malang)” bertemu dengan Utie, anggota “Geng Anak Menteng (Jakarta)”. Akhirnya kami berdua menikah, sama persis seperti cerita dalam dongeng Cinderella…and they live together happily everafter

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Kera Ngalam

KERA NGALAM

 

JIKA suatu hari tiba-tiba ada orang yang menghampiri, menunjukmu dan berkata: “Hei, kamu KERA NGALAM, ya..?” Hendaknya engkau jangan tersinggung atau gusar karena dianggap sejenis kera, monyet, gorila atau sejenis orang utan. Tenang saja, jangan salah paham. Ia sebenarnya hanya menyapa, sebab dikira kamu teman sekampungnya. KERA NGALAM berarti AREK MALANG, dibaca terbalik. Justru orang yang menyapamu itu bisa jadi adalah KERA NGALAM.

Salah satu yang khas dari kota Malang adalah Bahasa Walikan, atau Boso Walikan. Artinya berbicara atau mengatakan sesuatu dengan kata-kata yang dibaca terbalik. Setiap kata dibaca dari huruf belakang ke depan. Kalau yang dibalik hanya satu atau dua kata mungkin kelihatannya mudah, tapi kalau sudah banyak kata…?

Aku sendiri tidak menguasai Boso Walikan ini, maklum saat itu aku belum bisa baca tulis. Apalagi, aku sudah harus meninggalkan kota NGALAM sebelum tamat dari Sekolah TK (Taman Kanak Kanak).

Yang jago Boso Walikan di rumah Jalan Tanjung Gang Dua hanya Om No dan Om Nu. Biasanya jika mengobrol berdua, mereka menggunakan bahasa biasa. Tetapi kalau aku mendekat, mereka langsung berganti menggunakan bahasa rahasia, Boso Walikan. Tentu saja agar aku tidak mengerti yang mereka bicarakan. Apalagi mereka melakukannya sambil melirik-lirik ke arahku. Sangat menyebalkan!

Bagiku, itu termasuk bagian dari per-buli-an. Kalau mereka sudah menggunakan Boso Walikan, biasanya aku bertahan di dekat mereka sambil menguping dan berpura-pura melakukan sesuatu. Seringkali aku bisa menangkap beberapa kata, dan yang paling aku tangkap dengan cepat adalah kata… NAKAM!

Konon, Boso Walikan dahulu dipakai untuk mengelabui tentara atau mata-mata Belanda. Kalau mendengar orang yang sudah sangat ahli dan lancar bicaranya, akan sulit sekali untuk diikuti apalagi dimengerti. Rupanya, ada semacam tingkatan-tingkatan dalam keahlian menggunakan boso walikan ini, terutama dalam kecepatan bicara.

Begitulah tentang Boso Walikan gaya Ngalam. Bagi yang mau belajar Boso Walikan, perlu kuingatkan agar belajar nya dengan sabar. Sebab, jika belajarnya sambil emosi, nanti justru akan stres dan mandek. Jadi, santai saja…

Ada cerita yang lebih seru tentang Boso Walikan ini, sebab rupanya bukan hanya kata-kata saja yang dibolak-balik model Malang ini. Begini ceritanya:

Suatu pagi, Mbah Tanjung yang berwibawa dan disegani itu sedang duduk di ruang tamu sebelah depan sambil membaca koran pagi, NGALAM SOP. Kemudian datanglah serombongan anak muda. Mereka bergerombol, berdiri di luar pagar, di depan rumah, sambil berteriak memanggil-manggil: “Juung Tanjuuung, Juung Tanjuung”. Yang mengherankan, yang punya nama itu, Mbah Tanjung, tenang-tenang saja, tetap baca koran. Tetapi, anak-anak itu terus memanggil-manggil.

Akhirnya Mbah Tanjung terganggu juga. Ia berdiri, tapi tidak keluar untuk menghampiri anak-anak itu. Ia justru melongok ke dalam rumah. Dan dari dalam rumah keluarlah seorang anak muda, yang dengan tergopoh-gopoh berlari, menghampiri anak-anak itu sambil berkata, “Eeh, jok banter baanter, rek!” (Eh, jangan keras-keras, rek). Siapakah anak muda itu? Ia adalah Om No, anak Mbah Tanjung.

Mungkin itu juga termasuk “walikan”. Terbolak-balik. Memanggil seorang anak bukan dengan nama anak itu sendiri, melainkan menggunakan nama ayahnya!

Aku rasa, “walikan” jenis ini susah ditiru di daerah lain, bisa berbahaya mungkin. Atau, mungkin saja ini semua hanya terjadi di… NGALAM. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Setiwel

SETIWEL

 

AKHIR-akhir ini kita sering melupakan kata “anugerah”. Menurutku, arti anugerah adalah pemberian Tuhan kepada kita. Anugerah diberikan kepada manusia baik diminta atau tanpa diminta. Anugerah bisa berupa harta, pangkat, kesehatan, penyakit, otak yang encer, bakat, dan sebagainya. Selanjutnya, terserah kita yang mendapatkan anugerah itu. Apakah dengan anugerah itu kita menjadi gembira, bahagia, marah, menyesal atau bersyukur. Terserah, kita pilih yang mana?

Kembali ke Jalan Tanjung Gang Dua Malang, rumah yang legendaris itu. Aku tinggal di rumah itu sejak bayi tergeletak, duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan seterusnya. Anak sekecilku, waktu itu, sudah diberi anugerah oleh Tuhan berupa… penyakit korengan!

Koreng yang bahasa kerennya “eksim” itu, menghiasi kedua kakiku. Pada kaki sebelah kiri, mulai dari betis ke bawah. Sedangkan pada kaki sebelah kanan lebih parah, dari lutut sampai mata kaki.

Jadi, sejak mulai merangkak, aku sudah harus menggunakan perban di kedua belah kaki. Orang-orang sering meledek diriku: Hei, kok kamu setiwelan. “Setiwel” itu kain yang dipakai sebagai bagian dari seragam tentara Jepang, yang berupa kain berwarna hijau selebar kurang lebih 5-7 sentimeter yang dililitkan mulai dari lutut sampai sepatu. Yang suka menonton film perang pasti tahu. Hanya saja, setiwel ku berwarna putih, namanya perban. Perban itu setiap pagi harus dibuka, karena kakiku harus dijemur.

Aku sebagai penerima anugerah itu tampak sih tenang-tenang saja (baca: tidak berdaya), tetapi orang lain banyak yang ribut dan sibuk membahas kedua kakiku ini. Pembahasan soal itu seakan tidak ada habisnya. Satu luka sudah hampir sembuh, tapi ‘kawah-kawah’ kecil seperti kawah gunung Bromo itu menyembul lagi di tempat lain.

Segala macam ramuan obat sudah dicoba. Ada yang diminum, dioleskan atau ditaburkan ke atas kawah- kawah kecil itu. Tergantung jenis obatnya. Jika ada informasi terbaru yang diterima, pasti langsung ditindak lanjuti oleh Mbah Putri beserta timnya, Tim Penanggulangan Kaki Korengan (TPKK). Di antara informasi jenis obat itu, termasuk obat tradisional yang unik, seperti belerang, minyak bekas gorengan, cicak, tokek dan binatang melata lainnya.

Cukuplah kita bicara tentang kedua kaki legendarisku. Singkat cerita, entah sejak sekolah TK atau SD, eksim itu berangsur-angsur sembuh dan lenyap! Aku sudah lupa, kapan tepatnya aku mengucapkan selamat tinggal kepada setiwel.

Yang jelas saat dewasa, kakiku sudah mulus, dan bebas dari setiwel. Bahkan dulu isteriku, yang sering dipanggil dengan “Utie”, naksir aku karena kakiku yang mulus dan indah. Serius! Pun, sampai sekarang, Utie masih sering mengelus-elus kaki-kakiku. Sekali lagi, ini serius!

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Penyelundupan

PENYELUNDUPAN

SEJAK bayi aku tinggal di sebuah rumah di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang, Jawa Timur. Bagiku, rumah itu adalah rumah yang luar biasa dan besar, meski letaknya hanya di dalam gang. Rumah itu bukan seperti rumah biasa yang dihuni oleh suami, istri, beserta anak-anaknya. Tetapi, rumah itu dihuni oleh belasan kepala, bahkan terkadang lebih. Penghuninya terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai manula. Mereka semua ditampung oleh Mbah Tanjung. Mereka semua menjadi keluarga besar Mbah Tanjung.

Aku adalah anggota keluarga yang paling kecil. Sebab itulah aku memiliki kesan khusus kepada dua sosok penghuni rumah itu. Kedua sosok itu adalah Om No dan Om Nu.

Mereka berdua adalah anak kandung dari Mbah Tanjung. Yang besar Om No, sedangkan Om Nu adalah adiknya. Ada perbedaan antara keduanya. Om No badannya cukup gempal tukang makan. Sedangkan adiknya, Om Nu, tampak lebih tinggi dan kurus karena paling susah makan. Tetapi, ada persamaan dari keduanya. Sama-sama suka mem-bully atau mengganggu alias menindas diriku. Meskipun begitu, aku tahu bahwa mereka sebenarnya menyayangiku. Dan rasa kasih sayang mereka kepadaku itu mereka ekspresikan dengan cara seperti itu, cara seumuran kanak-kanak.

Suatu pagi menjelang siang, aku dimandikan oleh seorang tante, keponakan om-om itu, lalu didandani dengan pakaian terbaik yang kumiliki. Aku bingung. Sambil menyisiri rambutku, tante itu berbisik, “Kamu mau diajak jalan-jalan sama Om No.” Kedua hal yang sepertinya di luar dugaanku. What?OMG! Jalan-jalan? Sama Om No? Mana mungkin, mustahil, pikirku.

Pertama, jalan-jalan, yang artinya ke kota naik delman atau becak. Kedua, bersama Om No yang hobinya kuliner, berarti nanti akan makan di restoran, atau setidaknya di warung. Maka sambil didandani, aku bernyanyi keras-keras, agar terdengar oleh Om No yang rupanya juga sedang bersiap-siap di ruang dalam.

Setelah itu, aku dan Om No mulai berjalan menyusuri Jalan Raya Tanjung. Kami sudah berjalan sejauh seratus meter dari gang, delman dan becak sudah banyak yang melintas, tapi tidak ada satupun yang dipanggil. Hmm… Jadi, benarlah apa kata Tante, bahwa secara arti harafiah jalan-jalan, bukan becak-becakan. Ya, kami jalan (-jalan) kaki sampai ke pusat kota.

Sepanjang perjalanan aku tidak pernah diam. Ada saja yang kuceritakan atau kutanyakan pada Om No. Begitu terus-menerus sembari aku berjalan atau meloncat-loncat di samping Om No. Sebab aku sudah tahu, tidak bakal ada jawaban atau reaksi apapun dari Om No, karena ia termasuk tipe orang yang “minim-kata”. Aku tidak peduli, bahkan tetap saja dan terus mengoceh, sebagai tanda bahwa aku senang dan berterima kasih. Begitu juga dengan Om No, tidak peduli, dan tetap berjalan lurus, tanpa ekspresi. Tetapi, bagiku diamnya Om No itu menjadi isyarat yang seakan-akan mengatakan:

“Terima kasih kembali.”

Ketika tiba di pusat kota, kami melintasi alun-alun kota Malang. Di seberang alun-alun kota ada sebuah gedung bioskop. Rupanya ke situlah tujuan Om No. Dadaku berdebar keras, karena aku belum pernah sekalipun menonton bioskop. Hatiku lebih ciut lagi ketika melihat sebuah tulisan besar-besar terpampang: 17 TAHUN KE ATAS.

Di depan gedung itu berkerumun orang-orang dewasa dan beberapa ABG yang berdandan sedemikian rupa agar dikira sudah berumur 17 tahun. Kerumunan orang semakin banyak, dan aku semakin tegang.

Aku melirik ke muka Om No. Ia tetap tenang, dingin memandang ke depan, fokus pada rencananya, yaitu menyelundupkan aku yang masih anak kecil ini ke dalam gedung bioskop itu. Bisa jadi, ini adalah pertaruhan hidup mati kejayaan Om No di hadapanku, bahwa ia memang seorang jagoan, yang bukan hanya mampu menindas anak kecil, tapi lebih dari itu.

Pintu gedung dibuka. Kejadian yang menegangkan pun dimulai. Orang-orang berhamburan masuk ke dalam gedung untuk mengantre di depan pintu teater. Sang jagoan Om No pun bergerak cepat, disambarnya tanganku, dipegangnya erat-erat dan diseret ke dalam antrian yang berjubel itu. Kami masuk ke tengah antrian.

Kepalaku dicengkeramnya erat-erat, lalu digeser ke kanan dan ke kiri. Tubuhku pun harus mengikuti kepalaku yang digeser-geser. Kalau aku digeser ke sebelah kiri Om No, itu artinya si penjaga gedung berada di sebelah kanan. Kepalaku bagaikan kepala tongkat persneling mobil manual yang dipindah-pindah di jalanan macet.

Akhirnya pintu teater dibuka. Bagaikan pintu air Katulampa, para penonton berhamburan ke dalamnya. Bersamaan dengan itu juga pindahlah cengkeraman tangan, dari kepala ke tanganku. Karena harus berebut tempat duduk, kami berlari cepat menuju tempat duduk di bagian tengah agar kehadiran diriku ini tidak mudah terlihat penjaga. Alhasil, proyek penyelundupan ini menuai sukses besar.

Kami mendapat kursi di tengah teater. Aku duduk di satu kursi sendiri, bukan dipangku. Aku merasa setara dengan orang orang dewasa lainnya. Sebagai ungakapan senang dan terimakasih, aku memberikan senyuman lebar kepada Om No. Sang Jagoan itu membalasnya dengan mengarahkan telunjuknya ke depan, ke arah layar lebar.

Lampu teater dipadamkan, maka mulailah film perdana yang aku tonton, film perang! Sebuah film yang kelak akan menjadi jenis film favoritku.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Bioskop Ria/Merdeka yang didirikan tahun 1928, telah rata tanah pada tahun 2015.
Bioskop Ria/Merdeka yang didirikan tahun 1928, telah rata tanah pada tahun 2015.

Tukang Obat Idola

TUKANG OBAT IDOLA

MINGGU pagi sepulang dari gereja, aku tidak langsung pulang. aku mampir dan nongkrong dulu di alun-alun kota Malang. Menunggu sang idola, seorang penjual obat.

Setelah agak siang, datang seorang lelaki kekar dengan banyak bawaan. Koper besar, ransel besar, juga kardus besar. Mengapa ia tidak naik sepeda atau pakai gerobak? Entahlah. Mungkin karena tidak praktis.

Ia hidup seperti bangsa nomaden. Hidupnya berpindah-pindah dari satu lapangan ke lapangan yang lain, dari kota yang satu ke kota lainnya. Pun di alun-alun Malang ini, ia hanya beberapa jam, atau sampai obat dagangannya habis. Itu pun stok obat yang dibawanya tidak banyak, secukupnya saja.

Setelah menemukan tempat yang teduh, di dekat jalan kecil tempat lalu lalang pejalan kaki, ia meletakkan dan menata barang-barang bawaanya. Lalu dibuatnya garis di atas tanah dengan bubuk kapur putih sebagai batas untuk para penonton. Kemudian dengan tenang ia duduk lagi di atas singgasananya, sebuah kursi lipat.

Setelah orang-orang dan lalu lintas cukup ramai, idolaku pun memulai aksinya. Ia mengeluarkan keranjang yang dikerudungi dengan kain warna hitam. Keranjang itu diletakkan di tengah, tapi agak ke kanan. Yang mengherankan, setelah itu orang-orang yang berlalu-lalang mulai berhenti. Satu persatu, makin lama makin banyak.

Melihat penontonnya semakin bertambah, ia pun mengambil sebuah kotak kayu lalu dipukulnya keras-keras sambil berteriak, “Hayo, hayo, hayoo… yang mau melihat ular menari, tidak usah jauh-jauh ke India, di sini juga ada ular menari. Hayo, hayoo…” Ia terus berteriak sambil tongkatnya diketuk-ketukkan ke atas kain penutup kotak misterius itu.

Dalam waktu singkat orang-orang pun semakin ramai, berkumpul, berdesakan di atas batas garis kapur putih itu. Di deretan paling depan adalah anak-anak kecil. Mereka menjadi penggembira yang aktif dan menguntungkan bagi sang tukang obat. Sorakannya, tepuk tangan dan celetukannya meramaikan kerumunan ini. Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu si ular menari.

Sambil terus berbicara, sang tukang obat membuat gerakan-gerakan yang seakan-akan hendak memulai atraksinya. Apalagi kalau sudah ngomong, ia pandai memilih kata-kata lucu atau setengah jorok tapi dengan bahasa yang halus. Ia sangat lihai menarik perhatian penonton dengan berkata, “Hei, tahu nggak sekarang banyak orang cantik, orang ganteng, yang kulitnya gimana?… kadasen!”

Semua penonton tertawa, termasuk yang kulitnya kadasen. Ia pun meneruskan, “Kadas, kudis, gatal, luka, akan lenyap dengan olesan obat ajaib saya…”

Tidak lama kemudian, ia berdiri, lalu berkeliling sambil mengoleskan obat kulit ajaibnya ke tangan-tangan penonton yang telah diulurkan ke depan, termasuk anak-anak, tentu saja. Itu semua hanya perlu waktu sekitar sepuluh detik saja. Setelah itu, ia kembali ke kursi lipatnya.

Mantra “kadas-kudis-gatal-luka” itulah yang diucapkannya berulang-ulang. Setiap kali hendak memulai atraksi ular menari, selalu dibelokkannya ke produk obat jualannya. Akhirnya, stok obat pun habis dalam waktu yang tidak sampai 2 jam, dan para penonton lalu berangsur-angsur membubarkan diri. Sepertinya, mereka semua sudah lupa pada si ular menari.

Demikianlah kisah tentang si tukang obat di alun-alun kota Malang yang banyak menginspirasi diriku. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting : Veronica K & SR Kristiawan

Alun-alun kota Malang tahun 1930
Alun-alun kota Malang tahun 1930
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015

Mandrake

MANDRAKE

MANDRAKE adalah sebuah judul komik tentang super hero. Tokoh Mandrake sendiri adalah seorang tukang sihir yang sekaligus ahli hipnotis. Pada masa aku kecil, setiap hari koran Malang Post memuat serial komik Mandrake.

Aku yang saat itu berusia 5-6 tahun beserta anak-anak lain yang serumah di Jalan Tanjung Gang 2 Malang selalu menunggu tukang koran datang. Setiap pagi kami berebutan hendak membaca serial Mandrake. Ceritanya selalu seru, tokohnya bisa menjungkir-balikkan apa saja.

Suatu pagi Mbah Kakung marah besar, karena melihat koran miliknya dibaca oleh anak-anak sebelum ia membacanya. Sejak saat itu setiap pagi koran langsung dibawanya masuk kamar dan tidak pernah keluar lagi selamanya. Semua anak-anak kelimpungan karena kehilangan Mandrake, kecuali aku.

Aku tenang-tenang saja. Karena aku bisa membaca Mandrake ke rumah tetangga yang berlangganan koran Malang Post. Tetapi, tentu saja kepada anak-anak serumah aku tidak menceritakannya. Aku takut nanti mereka ikut-ikutan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

.

CSO Mandrake1 CSO Mandrake2

* Semua cerita ini ditulis sendiri oleh Ompa menggunakan smartphone dan notebooknya, saya hanya melakukan minor edit seperlunya*

Blog di WordPress.com.

Atas ↑