NAIK BECAK
SETELAH ayahku meninggal dunia saat aku masih bayi, aku dititipkan dan dibesarkan oleh sebuah keluarga yang tinggal di Jalan Tanjung Gang 2 di kota Malang, Jawa Timur. Di jalan itu terdapat sebuah rumah milik seseorang yang kita sebut saja sebagai Mbah Tanjung.
Mbah Tanjung merupakan pahlawan bagi keluarga besar kami karena beliau bersedia menampung anak-anak yang dititipkan oleh orang tua mereka. Meski berada di sebuah gang, tetapi rumah Mbah Tanjung cukup besar serta memiliki halaman depan yang luas. Suasana rumah itu selalu meriah dengan suara anak-anak, ramai hilir mudik anak-anak, berlarian, sradak-sruduk, bagaikan panti asuhan yatim piatu. Diantara anak-anak yang tinggal di sana, akulah yang paling kecil. Mungkin karena itu aku sering jadi “pusat perhatian”, entah mereka ganggu atau mereka bully.
Sejauh ingatanku, rutinitasku sebagai anak kecil adalah bermain, berkelahi, menangis, dan makan. Dari siklus tersebut, fokusku yang paling utama adalah pada.., MAKAN.
Aku selalu disiplin saat waktu makan tiba. Siap datang paling awal. Tetapi entah mengapa, selalu saja timbul masalah ketika “proses makan”.
Begini ceritanya…
Mbah Tanjung memiliki dua anak laki-laki yang jauh lebih besar daripada anak-anak yang lain, sebab itulah mereka dipanggil om. Mereka bandel bukan kepalang. Ada-ada saja kelakuan mereka, apalagi dalam mengganggu anak-anak yang lebih kecil. Dan selalu saja aku yang mereka jadikan bulan-bulanan, mungkin karena aku adalah anak yang paling kecil, yang nggemesin, dan tidak mungkin melawan.
Saat pembagian makanan, saat anak-anak lain sudah mendapat jatahnya dan mulai makan, aku belum mendapatkan jatah makan. Entah siapa diantara mereka yang menyembunyikan jatah makanku. Faktanya, makin hari mereka makin kompak menggangguku. Maka lambat tapi pasti, aku merasa tidak nyaman baik secara fisik karena lapar maupun secara mental sebab harga diri. Dan untuk melawan itu semua, aku mengeluarkan sebuah jurus jitu: menangis! Awalnya aku hanya merengek-rengek agar dikasihani. Karena tidak ada respon, akhirnya aku menangis lebih keras lagi. Jika masih tetap tidak ada perhatian, akupun tancap gas, menangis sekeras-kerasnya, dan selama-lamanya. Dan hasilnya? Jatah makanku tetap saja tidak dikeluarkan!
Saat hampir menyerah, aku yang masih tersengal-sengal menangis, melangkah menuju ke pojok ruangan dan duduk di lantai. Sembari berusaha menenangkan diri, aku menggores-gores lantai sekenanya seperti ingin menggambar sesuatu yang belum jelas bentuknya. Dan akupun mulai bernyanyi. Maka terjadilah sebuah keajaiban!
Kedua Om bandel itu mendatangiku, sambil senyum-senyum menyodorkan jatah makanku. Detik itu juga aku mendapat pencerahan, bahwa menangis ternyata sudah tidak lagi menjadi senjata yang memadai. Kini aku menemukan senjata yang lebih modern… menyanyi!
Sejak saat itu, jika tiba waktunya pembagian makan, tanpa dikomando aku langsung menyanyi. Tetapi, setiap kali keinginan mereka berubah, persyaratan menyanyi pun mereka ganti, seperti kurang keras, kurang bagus, ganti lagu atau tambah lagu. Aku menurut saja. Oke, oke, enggak apa, yang penting makan, pikirku. Maka dalam waktu relatif singkat, statusku di rumah itu berganti, menjadi penyanyi.
Hampir setiap malam aku “ditanggap” untuk menghibur seluruh isi rumah Jalan Tanjung Gang Dua itu. Bahkan Mbah Putri pun kadang ikut-ikutan request lagu. Sebab konon katanya, suaraku tidak fals.
Makin hari karier dan popularitasku semakin melejit. Sebelum masuk sekolah TK (Taman Kanak-kanak) saja aku sudah mendapat job serius!
Waktu itu ada perayaan besar di instansi tempat Mbah Tanjung bekerja. Ada sekitar 200 karyawan dan keluarganya memenuhi aula gedung megah itu. Di sana sudah siap sebuah panggung besar dan aku harus menyanyi dengan diiringi oleh sebuah orkes yang terdiri dari gitar, biola, drum dan bas betot. Aku diminta menyanyikan lagu “Naik Becak” ciptaan Ibu Soed.
Sebelum aku naik ke panggung untuk menyanyi, aku melihat sebuah kursi di tengah panggung menghadap ke penonton. Kursi itu bakal menjadi “becak”, pikirku. Begitu orkes bas betot memulai intro lagu, aku naik ke atas panggung, menyanyi dan bergaya sesuai kata-kata dalam lagu Naik Becak.
Aku tidak hanya bernyanyi berdiri diam, tapi sambil berjalan-jalan, kadang aku melambaikan tangan yang seolah-olah memanggil becak, atau duduk di kursi sambil mengangkat kaki seperti sedang naik becak, dan seterusnya mengikuti lagu yang dinyanyikannya.
Saya mau tamasya
berkeliling keliling kota
hendak melihat-lihat keramaian yang ada
saya panggilkan becak
kereta tak berkuda
becak, becak, tolong bawa saya
Saya duduk sendiri
sambil mengangkat kaki
melihat dengan aksi
ke kanan dan ke kiri
lihat becakku lari
bagai takkan berhenti
becak, becak, jalan hati-hati
Selesai bernyanyi, sesuai arahan dari panitia, aku membungkukkan badan ke arah penonton. Apa yang terjadi setelah itu?
Aku shock bukan main. Seluruh penonton di aula itu bertepuk-tangan. Bahkan sebagian dari mereka bertepuk tangan sambil berdiri. Mereka bertepuk tangan sangat lama, sangat lama. Aku tahu, mereka bertepuk tangan untukku. Peristiwa itu membuat diriku terpana. Ada suatu perasaan aneh di dalam dadaku, seperti ada kupu-kupu yang menari-nari di dalam perutku. Peristiwa itu sangat membekas dalam diriku.
***
Berpuluh-tahun kemudian, pada awal tahun 90an, aku yang sudah bekerja dan menikah, berkesempatan mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan oleh The Dale Carnegie Course. Pada akhir sesi kursus, diadakan semacam adu keterampilan berbicara di depan orang banyak untuk menentukan siapa yang terbaik di dalam angkatan tersebut. Setiap peserta harus maju satu persatu untuk berbicara mengenai topik tertentu. Topik yang ditentukan adalah topik tentang hal-hal atau kejadian yang paling berkesan sewaktu kanak-kanak.
Satu persatu para peserta maju untuk menceritakan pengalamannya, dan bagus-bagus ceritanya. Ada yang mengharukan, mendebarkan, dan sebagainya. Begitu mendapat giliran, aku maju ke depan, tidak untuk bicara, tetapi kusambar sebuah kursi, kutaruh di depan kelas, lalu kunyanyikan lagu Naik Becak sembari bergaya.
Aku bergaya seperti di atas panggung persis semasa aku kecil dulu yang masih berumur lima tahun. Akhirnya, tentu seperti yang sudah diduga, aku dinobatkan menjadi peserta terbaik, dan memperoleh plakat emas dari The Dale Carnegie Course yang berpusat di Amerika.(*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan