Cari

Antonius Sutedjo

Pit-Pitan

PIT-PITAN

Pit adalah istilah yang dipakai masyarakat daerah Solo dan Wonogiri, artinya sepeda. Pit, datang dari kata ”Fiets”, bahasa Belanda. Sedangkan kata pit-pitan, beda lagi artinya, yaitu jalan-jalan dengan naik pit.

Waktu itu aku duduk di kelas tiga di SDN Tiga di kota Wonogiri. Menurutku anak-anak kelas tiga adalah anak-anak yang paling aktif dan dinamis di SD kami itu. Banyak ide dan kegiatan-kegiatan yang seru. Salah satu contohnya adalah saat kami mengadakan sandiwara perang, yang juga pernah aku ceritakan dulu.

Pagi itu kami berdelapan, semuanya merupakan teman sekelas. Kami sudah berkumpul dan siap dengan sepeda masing-masing. Semuanya anak laki-laki yang sudah biasa bersepeda jarak jauh. Kami akan pit-pitan menuju ke tempat wisata yang sangat terkenal di daerah Solo dan sekitarnya, yaitu Waduk Mulur.

Bagi masyarakat sekitar, Waduk Mulur adalah tujuan favorit untuk berwisata, letaknya di daerah Sukoharjo, kota kabupaten di selatan kota Solo. Aku sendiri belum pernah melihat langsung Waduk Mulur ini, itu sebabnya aku sangat bersemangat untuk ikut.

Dengan kompak kami berdelapan sudah berjejer di depan sekolahku, siap untuk berangkat. Tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Dari kejauhan muncul seorang anak perempuan, datang berlari-lari sambil melambaikan tangannya. Ah, itu si Vinny! Vinny, adalah anak perempuan yang merasa paling cantik di kelas kami. Ia berkulit putih dan berambut ikal. Aku bertanya-tanya dalam hati, mau apa Vinny ke sini? Sambil berlari dan berteriak ia menyampaikan bahwa ia mau ikut bersepeda bersama kami.

Kami semua menjadi tegang karena siapakah yang akan membonceng si Vinny? Ini kan pit-pitan jarak jauh, ke Waduk Mulur. Aku lalu berteriak kepada teman-temanku, “Yahno..!.” Sambil melirik ke arah Yahno, salah satu teman kami di situ.             Ternyata semua teman-temanku sepakat. Mereka juga menunjuk Yahno sebagai anak yang bertugas membonceng si Vinny. Maka Vinny pun langsung naik nangkring di boncengan sepeda si Yahno. Yahno memang adalah teman kami yang paling besar dan kuat. Betisnya besar berotot seperti betis para tukang becak yang sering aku lihat di kota Solo. Saat itu aku tersenyum geli melihat wajah si Yahno. Ia terlihat senyum sumringah membawa si Vinny di boncengannya.

Tahap pertama dari perjalanan kami adalah menuju ke batu Plintheng Semar. Sebuah batu raksasa di puncak tanjakan tajam di Utara kota Wonogiri. Aku tiba lebih dulu di batu Plintheng Semar, karena aku ingin mengamati lebih detil tentang batu tersebut. Ternyata di belakang batu sebesar rumah yang nangkring di tebing dan bersandar pada pohon asam itu, terdapat sebuah taman. Di taman itu ada beberapa tempat duduk yang terbuat dari batu.

Yang menarik perhatianku adalah ada beberapa orang yang duduk bersila di bawah batu Plintheng Semar itu. Sedang apa mereka? Menurut teman seperjalananku, mereka sedang bersemedi atau bertapa. Di daerah Wonogiri ini banyak tempat yang sering dipakai orang untuk bersemedi. Misalnya di Alas Kethu (Hutan Kethu), sebuah bukit yang dipenuhi dengan hutan jati.

Kami lalu terus mengayuh sepeda kami, menanjak menyusuri sisi timur pegunungan itu. Kami hendak menuju ke puncak bukit terendah, yang nanti akan kami lompati menuju ke punggung sisi barat. Sewaktu berada di tanjakan terakhir sebelum puncak gunung, tiba-tiba sepedaku terguncang keras sampai hampir terjatuh.

“Aku melu kowe, yoo..— aku ikut kamu yaa”. Rupanya itu si Vinny. Sambil meloncat tanpa permisi ia duduk ke tempat boncengan sepedaku. Entah mengapa, walau dengan adanya Vinny tentu membuat sepedaku menjadi lebih berat, tetapi kehadirannya membuatku seakan memiliki kekuatan tambahan untuk menggenjot sepedaku di jalan menanjak menuju puncak pegunungan itu. Kukayuh sepedaku sambil berdiri di atas pedal. Aku hanya fokus pada puncak tanjakan, dengan keyakinan dan harapan bahwa setelah sampai di atas nanti, jalanan pasti akan menurun.

Akhirnya aku berhasil membonceng si Vinny sampai puncak tanjakan. Sewaktu jalan sudah mulai menurun, Vinny berpindah boncengan ke sepeda temanku yang lain.

Setelah melewati pegunungan itu, jalanan mulai rata mendatar. Si Yahno, yang juga merangkap sebagai penunjuk jalan, membawa kami melalui jalan-jalan kecil menyusuri ladang, persawahan dan pedesaan. Aku sangat menikmati keindahan dan kesegaran pemandangan alam di Jawa Tengah ini.

Hari mulai terasa panas ketika kami melewati sebuah ladang yang sangat luas. Ladang itu ditanami dengan Krai. “Krai” adalah nama buah sejenis mentimun. Kalau mentimun, warnanya hijau muda, tapi krai warna hijaunya lebih lebih tua dan airnya lebih banyak.

“Paak, nyuwun krai ne nggih… — paak minta krainya ya…”. Teriak si Yahno kepada seorang bapak yang sedang berada di tengah ladang. “Nggiih, monggoo.. — yaa, silakan”, jawab si bapak tani itu. Maka kami pun mulai memetik buah krai itu, masing-masing tiga buah. Aku kembali menggenjot sepedaku, kali ini sambil makan buah krai itu. Luar biasa, rasanya dingin seperti habis minum air es. Rasa dingin itu mengalir dari tenggorokan, turun ke dada dan ke perut dan seluruh badanku pun menjadi segar kembali.

Baru kusadari saat itu bahwa ladang tersebut tidak memiliki pagar sama sekali. Sehingga orang yang lewat di jalan tersebut bisa dengan bebas memetik buah krai ini untuk menghilangkan rasa hausnya. Itulah rasa sosial khas orang desa. Hati dan tangannya seakan selalu terbuka untuk memberi dan berbagi kepada orang lain. Contoh lainnya adalah, banyak rumah-rumah yang berada di tepi jalan yang kami lewati menyediakan gentong dan siwur yang berisi air bersih untuk diminum oleh siapa pun yang lewat disitu. Gratis

Kami kemudian memasuki sebuah kota kecil yang bernama Selogiri. Dalam perjalanan kami menuju Waduk Mulur di daerah Sukoharjo ini, memang telah kami rencanakan bahwa Selogiri ini akan kami gunakan sebagai tempat persinggahan. Menurut kakak-kakak kelas kami, kota Selogiri merupakan tempat bersejarah dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.

Benar juga, begitu kami memasuki kota Selogiri, kami menemukan sebuah taman yang di tengahnya berdiri dengan kokoh sebuah tugu setinggi rumah. Tugu tersebut terdiri dari batu yang berwarna hitam legam, bentuknya menyerupai sebuah gapura. Di tengah gapura tersebut ada sebuah lubang berbentuk segi empat yang tinggi, selebar sekitar dua meter, semacam pintu masuk ke tugu itu. Untuk memasukinya kami harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari batu hitam yang sama.

Daerah tersebut merupakan Astana, atau tempat pemakaman keluarga raja Mangkunegaran. Konon, ada seorang pangeran yang bernama Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Samber Nyawa yang mendirikan sebuah kerajaan kecil di daerah Selogiri itu. Daerah tersebut kemudian menjadi cikal bakal dari daerah Wonogiri. Raden Mas Said sangat gigih melawan kolonial Belanda. Raden Mas Said, atau Pengeran Samber Nyawa kemudian menjadi raja pertama dari kerajaan Mangkunegaran, yang keratonnya berada di pusat kota Surakarta, atau Solo.

Banyak tempat petilasan atau peninggalan sejarah di Selogiri, tetapi kami tidak sempat mengunjunginya satu persatu. Tujuan utama kami, delapan anak petualang sepeda, dan ditambah seorang anak perempuan pembonceng adalah tetap, Waduk Mulur.

Setelah sampai di depan pasar kota Sukoharjo, kami berbelok menuju ke arah timur, dan sampailah di tujuan akhir perjalanan kami, Waduk Mulur. Sebuah waduk yang sangat kondang.

Waduk itu memang sangat luas dan indah dipandang mata. Banyak wisatawan duduk-duduk di sekitar waduk. Tempat itu juga dipenuhi oleh para penjual makanan dan penjual cindera mata. Bagi teman-teman SD-ku, siapa pun yang pernah bersepeda sampai ke Waduk Mulur, mereka dianggap telah mencapai prestasi yang patut di banggakan.

Dalam perjalanan kami pulang, ada kejadian yang pertama kali kualami seumur hidupku. Sewaktu kami bersepeda berombongan melewati jalan raya Solo-Wonogiri, tiba-tiba saja terjadi hujan sangat deras. Guna menghemat waktu kami memutuskan untuk tidak berhenti dan jalan terus. Kira-kira setengah jam kemudian hujan mereda. Dan kemudian aku terkejut melihat apa yang ada di depanku. Tanah yang sedang kulewati ini, tanahnya kering kerontang! Bagiku ini merupakan kejadian yang ajaib. Mengapa tadi hujan dan basah, dan sekarang semua kering? Di dalam pikiranku, jika turun hujan maka di seluruh dunia pasti juga mengalami hal yang sama. Begitu juga sebaliknya, jika sedang kering, di semua tempat pasti juga kering. Tetapi anehnya ini tidak begitu. Sungguh mengherankan. Aku harus membuktikan bahwa ini nyata.

Maka kuajak dua anggota rombonganku untuk kembali lagi ke tempat hujan deras tadi. Dan memang benar, ketika kami kembali memasuki daerah tadi, di situ masih sama, hujan deras. Ini luar biasa! Kami bertiga lalu mondar-mandir. Pergi ke daerah yang kering dan dan kembali ke daerah yang hujan. Akhirnya aku menemukan batas antara tempat yang basah dan yang kering. Saat itu aku baru paham dan percaya, bahwa tidak ada yang namanya hujan merata di seluruh dunia. Kemudian aku mengejar rombongan menuju pulang.

Sewaktu akan melewati jalan yang menanjak mendaki pegunungan, aku sengaja menggenjot sepedaku mendahului yang lain. Maksudku agar aku menjauh dari si Vinny, yang suka pindah-pindah boncengan itu. Ketika jalanan mulai menurun menuju kotaku, Wonogiri, aku pun berani losrem (melepas rem), sehingga pitku meluncur kencang.

Aku sangat puas dengan acara “pit-pitan” hari itu. Aku telah menikmati pemandangan sawah dan desa, belajar sejarah, dan membuka tabir “misteri hujan” tadi. Nanti, kalau ada orang yang bertanya, apakah aku pernah pit-pitan ke Waduk Mulur, akan kujawab dengan bangga. Sudah! (*)

.

Penulis: Antonius Sutejo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Aku Wong Wonogiri

AKU WONG WONOGIRI

Tanpa terasa liburan sekolahku sudah hampir usai. Tiba waktunya untuk kembali ke sekolahku di SDN 3 di Kota Wonogiri. Aku sudah bisa membayangkan bakal ada banyak acara untuk bercerita tentang Jakarta kepada teman-temanku di kelas tiga. Tapi biasanya kakak-kakak kelasku juga ikut mendengarkan jika aku sedang bercerita tentang hal apapun kepada mereka.

Aku merasa bahwa aku sudah cukup banyak bertualang di kota Jakarta ini. Tapi itu hanya cukup sebagai bahan untuk diceritakan saja. Untuk mengamati dan menyelidiki Jakarta yang sangat luas dan beraneka ragam ini, tidak akan cukup dengan waktu hanya dua minggu. Itu perlu waktu bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

Trem listrik sekarang sudah merupakan sahabatku, yang dengan setia mengantarku tanpa bayar ke sudut-sudut Jakarta. Aku sudah mulai hafal dan menyukai wajah para kondekturnya, sedangkan mereka juga rupanya mulai mengenal wajahku yang menyebalkan untuk mereka. Kadang kalau pak kondektur mendekatiku, akumemasang muka manisku dengan senyuman lebar. Dia hanya melengos dan meneruskan jalannya sambil bergumam “Huh, dasar…”. Aku tidak paham apa makna kata itu. Tetapi itu bukan masalah, asalkan aku tidak disuruh turun dari kereta.

Aku sudah mengenal banyak tempat yang menarik di Jakarta ini. Dan aku juga belajar bahwa ternyata jakarta ini dihuni oleh banyak manusia yang berasal dari berbagai suku dan bangsa. Aku pernah bertemu dengan orang Arab dan Tionghoa yang sudah berbaur dengan penduduk asli Jakarta, orang Betawi. Saat aku berjalan-jalan di Pasar Baru, aku juga bertemu dengan banyak orang India. Mereka biasanya mempunyai toko yang menjual cita (kain) yang indah-indah.

Aku juga telah bertemu dengan orang-orang dari daerah-daerah lain di Indonesia. Misalnya dari Sumatera Utara atau Sumatera Barat. Mereka bisa dikenali dari bahasa atau logat yang mereka gunakan saat mereka saling berbicara dengan sesama mereka. Aku sering ikut asik mendengarkan saat mereka sedang mengobrol. Kelihatan bahwa mereka menikmati berbincang dengan menggunakan bahasa daerahnya. Mungkin juga mereka sedang merasa rindu dengan daerahnya, tanah kelahirannya.

Kalau orang-orang dari daerah Maluku, sering kulihat naik atau turun trem di daerah Kramat, atau antara Pasar Senen dan lapangan Banteng. Orang dari Madura kadang aku jumpai tersebar di Jakarta ini.

Di antara orang-orang yang berbicara dengan bahasa daerah masing-masing itu, terkadang terselip suara orang yang sedang berbicara bahasa Jawa dengan logat daerah Wonogiri. Aku tahu benar bahwa itu logat dari Wonogiri. Misalnya kalimat, “Wah, yo enak, no…”—wah ya enak itu. Kata “no” itu logat Wonogiri. “Lha wegah aku nek kon rono”—aku tidak mau kalau disuruh ke situ. Nah itu juga dari daerah Wonogiri. Ada juga orang Wonogiri yang merasa sudah menjadi orang Jakarte dan hanya mau menggunakan bahasa daerah Betawi,tapi itu juga dengan mudahku tebak bahwa mereka itu berasal dari Jawa.

Kata “gue”—saya, pasti “g” nya terdengar medok, atau berat. Namun ada pertanyaan yang selalu terlintas dalam pikiranku. Saat mereka berkumpul dengan sesama orang Wonogiri, mereka terlihat sangat nyaman, tapi mengapa ketika mereka sedang sendirian dan berhadapan dengan orang luar, mereka “berubah”, seperti tidak nyaman pada saat orang lain menanyakan asal daerah mereka? Apakah mereka malu bahwa mereka adalah orang Wonogiri?

Suatu siang, aku sedang duduk di sebuah warung di daerah sekitar Pasar Baru. Ada seorang pemuda yang berpakaian cukup bagus dan rapi keluar dari sebuah kantor di situ. Rupanya ia sedang beristirahat untuk makan siang di warung itu. Kelihatannya ia sudah akrab dengan pemilik warung dan berbicara dengan menggunakan bahasa logat Betawi. Dari caranya berbicaranya, aku langsung tahu bahwa ia adalah orang Jawa.

“Mas, Jawanya di (daerah) mana?”, Aku mencoba untuk membuka percakapan. “Solo, dik..” jawabnya singkat. Aku tahu, bahwa dia berharap aku tidak akan bertanya lagi, sehingga kata “Solo” itu bisa berarti di dalam kota Solo. Lalu aku mengatakan bahwa aku juga dari Solo dan menanyakan kepadanya Solo nya di daerah mana. “Ngidul, dik..”—ke selatan,dik. jawabnya juga singkat. Aku pun mulai menebak, “Oo, Wonogiri dong mas?”         Dan tebakanku ternyata benar. Aku lalu mengatakan kepadanya, bahwa aku juga anak Wonogiri. Lalu aku bertanya, Wonogiri nya di daerah mana. “Ngidul, dik” dia sepertinya mulai malas untuk menjawab pertanyaanku. Kemudian aku sebutkan nama kota-kota kecil di sebelah selatan Kota Wonogiri: Wuryantoro, Eromoko… Jawabnya selalu sama, ngidul. Akhirnya dia mengaku juga bahwa ia berasal dari desa Pracimantoro.

Dalam hati aku berpikir, mengapa ia berusaha untuk “menutupi” nama desanya, Praci, dengan kota yang lebih besar, seperti Solo. Apakah mereka malu untuk mengakui daerah asalnya yaitu Wonogiri, karena saat itu Wonogiri merupakan daerah yang gersang dan kering yang sebagian besar lahannya hanya bisa ditanami dengan palawija?

Ah, aku jadi teringat akan Mbah kandungku, Mbah Kaligunting. Beliau adalah seorang kepala desa di tepi sungai Kaligunting, sekitar tiga puluh kilo meter di selatan kota Wonogiri. Mbah Kaligunting adalah kepala desa yang sangat disegani oleh warganya dan juga oleh masyarakat desa disekitarnya. Sangat berat beban mbah kandungku itu sebagai kepala desa di daerah yang sangat tandus itu. Saat musim kemarau, tanahnya bisa menjadi kering kerontang merekah lebar dan mengerikan.

Mbah Kaligunting memiliki sepuluh orang anak. Anak lelaki tertuanya adalah almarhum ayah kandungku. Sebagian besar anak dan cucu dari Mbah Kaligunting “diusir” dari Kaligunting, daerah gersang itu, untuk merantau. Dan sekarang anak cucu dan cicit dari Mbah Kaligunting sudah menyebar di luar desanya ke kota-kota, ke pulau-pulau dan benua.

Menurutku, karena kesulitan dan tekanan yang ada di daerah Wonogiri-lah yang akan membuat orang daerah Wonogiri menjadi orang yang tangguh. Mereka seharusnya tidaklah merasa rendah diri terhadap orang luar. Buktinya, semakin banyak saja orang Wonogiri yang sukses hidupnya di luar daerahnya.

Aku sangat bangga dengan desaku Kaligunting dan Mbah ku yang mengagumkanku. Kalau aku ditanya aku lahir dimana akan kujawab, Malang. Kalau ditanya lagi aku aslinya dari mana, akan kujawab Kaligunting, Wonogiri. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Dinamo dan Berco

DINAMO DAN BERCO

Di suatu pagi aku membantu membersihkan sepeda ontel milik Om No, di rumahnya di Jalan Kramat Pulo, Jakarta. Sepeda ontel itu masih bagus dan mengkilat catnya. Mereknya Batavus. Merek yang cukup bagus, tetapi sepengetahuanku itu bukan merek yang paling mahal. Aku cukup tahu banyak mengenai sepeda ontel, karena sepeda sering menjadi pusat perhatianku. Sewaktu aku mengelap berco-nya, atau lampu depan sepeda, dan membetulkan kabel di bawah dinamo, aku jadi teringat akan masa kecilku, sewaktu aku masih di Sekolah Taman Kanak-kanak, TK.

***

Waktu itu aku berada di rumah Pak Mojo ayah angkatku, di Jalan Brantas di kota Mojokerto. Karena Pak Mojo memiliki sebuah sepeda, di situlah untuk pertama kalinya aku mengenal, memperhatikan dan mempelajari segala hal tentang sepeda.

Yang menarik perhatianku dari sebuah sepeda adalah lampu depannya. Lampu itu berupa lampu minyak, yang biasa disebut lentera sepeda. Lentera itu berbentuk kotak persegi empat, selebar sekitar sepuluh sentimeter, dan terbuat dari kaleng dan dicat warna hitam.

Di bagian bawah kotak itu ada tempat yang diisi dengan minyak tanah, dan atasnya diberi sumbu. Di bagian depan dan samping lentera itu diberi kaca, sehingga sinar lampu minyak di dalamnya bisa memancar keluar. Lentera itu dipasang di tengah, di bawah setang sepeda. Tentu saja sinar dari lentera itu sangat redup, sehingga hanya mampu menyinari sekitar satu meter di bagian depan sepeda. Mungkin memang lentera itu berfungsi hanya sebagai tanda saja bahwa ada sepeda di kegelapan malam, sehingga tidak di tabrak oleh kendaraan lain.

Setelah kami tinggal di Wonogiri, setelah mengakhiri perjalanan panjang mengungsi dari Mojokerto, aku sudah tidak melihat lagi lentera sepeda seperti itu. Sepeda, di kota Solo dan Wonogiri dinamakan pit. Kata “pit” itu berasal dari bahasa Belanda, fiets, yang artinya sepeda.

Di sana lampu sepeda sudah menggunakan listrik, yang biasa disebut “berco”. Berco ini dinyalakan dengan listrik yang dihasilkan dari sebuah“dinamo”. Dinamo ini berbentuk seperti botol kecil, yang kepalanya bisa berputar. Jika kepalanya ditempel pada roda sepeda saat roda sepeda berputar, maka kepala dinamo itu ikut berputar dan kemudian memutar kumparan kabel di dalamnya dan menghasilkan listrik untuk menyalakan lampu sepeda itu, berco.

Yang kuperhatikan, di kota Wonogiri ada banyak macam sepeda, dari yang bermerek sedang sampai yang sangat mahal. Yang harganya sedang misalnya merek Batavus. Sedangkan orang-orang kaya biasanya menaiki sepeda-sepeda mewah yang harganya lebih mahal. Misalnya Ndoro Dono, orang yang terpandang di kota Wonogiri, selalu “pit-pit-an” atau jalan-jalan menggunakan sepeda bermerek “Fongers”. Sepeda yang sangat bagus dan mengkilat catnya.

Sedangkan Pak Wahyu, seorang pengusaha sukses yang anaknya kukenal, memiliki sepeda mewah bermerek “Simplex”. Lengkap dengan segala asesorinya, berco yang mengkilat, sadel kulit penuh hiasan, pedal yang bisa memantulkan sinar gemerlap dan sebagainya. Ada juga seorang kaya, yaitu Pak Broto. Dari jarak lima puluh meter saja aku sudah tahu, bahwa Pak Broto akan lewat. Itu karena sepedanya, bermerek Reli edisi mewah, yang kalau jalan berbunyi ”tik, tik,tik”. Reli ini dari kata “Raleigh”, pabriknya di Inggris, dan sangat digemari oleh orang-orang kaya di Wonogiri.

Aku dan teman-temanku paling senang mengunjungi rumah Pak Wahyu. Kami berpura-pura hendak bermain bersama anaknya yang juga adalah temanku. Padahal sebenarnya kami hendak melihat-lihat sepeda mewah milik bapaknya.

Saat itu sepeda “Simplex”-nya sedang di parkir di depan rumah. Kami anak-anak, mengerumuni sambil mengagumi sepeda mewah tersebut. Tiba-tiba ada suara keras dari dalam rumah, “Ojo di demok-demok, yoo!”— jangan dipegang-pegang ya!

Kami pun serentak mundur satu meter dari sepeda mewah itu. Kami hanya bisa membahas sang “Simplex” itu sambil menunjuk-nunjuk saja. Kurang puas, tetapi aku tidak menyerah. Saat pak Wahyu sedang berada di dalam kamarnya, mungkin sedang tidur, diam-diam dengan gerak cepat kuperintahkan anggota gengku untuk mengangkat setang sepeda, lalu kepala dinamo kupasangkan ke ban roda depan, kemudian aku putar roda depan itu sekencang-kencangnya.

Dan terjadilah apa yang kami ingin lihat bersama. Berco itu memancarkan sinar ke tembok di depannya, sinar berwarna putih yang sangat terang menyilaukan mata. Penelitianku telah berjalan sukses! Kemudian kami letakkan kembali sepeda itu, dan kami pun cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Anak Pak Wahyu, hanya bengong saja melihat kami semua pergi meninggalkannya.

***

Pagi itu aku telah selesai membersihkan sepeda Om No. Om No telah berangkat ke kantor. Hari itu aku tidak pergi jalan-jalan berpetualang, libur dulu. Melihat aku tidak pergi, Pak Mojo, ayah angkatku, menyuruhku membeli tembakau rokok. Entah mengapa siang itu aku agak malas berjalan kaki, sehingga aku pergi naik sepeda Om No.             Aku menuju ke Pasar Senen, ke sebuah toko tembakau. Setelah aku sandarkan sepeda ke tiang listrik di depan toko tembakau itu, aku masuk untuk membeli tembakau. Saat aku sedang menghitung uang untuk membayar, aku mendengar sebuah suara di belakangku, “kletek”. Anehnya, semua engkoh-engkoh yang menjaga toko itu melihatku dengan pandangan yang aneh. Tetapi aku tetap menghitung uang, lalu ku bayarkan seharga tembakau itu. Aku pun cepat-cepat kembali ke sepedaku, dan aku terkejut setengah mati.

Dinamo sepeda Om No, telah lenyap dicongkel dan dicuri orang! Aku baru sadar, bahwa bunyi “kletek” tadi adalah suara alat pencongkel itu. Aku berputar balik masuk ke toko, ingin protes, mengapa mereka tadi tidak memberi tahu saat sepedaku dicongkel. Mengapa mereka hanya memandangku dan diam saja. Tetapi para penjaga toko itu telah tidak ada lagi. Hanya ada seorang engkong-engkong, ‘kakek-kakek’ yang duduk di belakang etalase.

“Kong, kemana orang-orang yang melayani saya tadi?” kataku dengan nada marah. Si kakek tua itu hanya menatapku dengan mata kosong dan mengatakan “Haaa..?”.

Ah, aku pun sadar bahwa ini tidak ada gunanya untuk diteruskan. Dinamo yang hilang itu adalah karena kesalahanku sendiri. Aku masih marah. Rasanya ingin kulawan semua pencoleng (preman) di seluruh daerah Senen ini. Tapi, nyatanya, aku hanya bisa lemas dan berjalan pulang sambil sempoyongan menuntun sepeda Om No.

Suasana di rumah Om No siang itu pun menjadi terasa tegang atas kejadian tadi. Sewaktu Om No pulang dan kulaporkan kejadian hilangnya dinamo sepedanya tadi, dia hanya diam saja lalu masuk ke kamarnya. Ketegangan ini berlangsung sampai malam. Aku sangat menyesali kebodohanku. Aku hanya bisa duduk termenung sendirian.

Sekitar jam sembilan malam itu, tiba-tiba ada yang menepuk punggungku dari belakang. Rupanya itu Om No, sambil menunjuk ke arah jalan dia berjalan menuju ke kanan ke arah Kramat Raya. Aku sudah hafal, itu kode untukku bahwa aku harus mengikuti dia. Rupanya kami menuju ke penjual martabak India langganan kami, di halaman gedung bioskop Rivoli.

Om No memesan dua porsi martabak yang tebal dan lebar. Bagian martabak yang Om No paling doyan adalah acarnya. Memang rasanya manis pedas dan segar. Baru saja ia makan tiga potong kecil, Om No sudah minta tambahan acar. Urusan minta tambahan acar ini terjadi berulang-ulang.

Pada saat pesanan tambah acar yang keempat, maka orang India penjual martabak yang tinggi besar itu berkata,”Saya tidak jual acar, yaa!” Suaranya keras sampai terdengar oleh seluruh pembelinya. Om No dan aku tenang-tenang saja, karena martabak kami toh sudah hampir habis.

Pulang dari makan martabak India itu kami tertawa terbahak-bahak mentertawakan kejadian barusan. Kejadian ini bukan yang pertama kali, namun sudah sering terjadi. Setiap kami memesan tambahan acar yang keempat, penjual martabak itu selalu mengatakan hal yang sama, “Saya tidak jual acar, yaa!”

Malam itu aku merasa lega. Aku merasa bahwa dosaku menghilangkan dinamo sepeda Om No tadi siang telah diampuni. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ni Hao

NI HAO

Setiap kali aku naik trem listrik ke jurusan Utara Jakarta, aku sering melihat ada beberapa penumpang yang berbicara menggunakan bahasa yang asing bagiku. Kadang bernada tinggi, kadang bernada rendah. Turun naik. Aha.., ini rupanya bahasa Mandarin yang terkenal itu. Yang menarik perhatianku adalah mereka selalu turun atau naik dari halte yang sama, halte di daerah Glodok.

Suatu pagi aku naik trem listrik menuju ke Utara. Rencananya aku hendak melihat laut lagi. Namun, belum lagi aku sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, trem baru sampai di halte ujung kali Ciliwung, tiba-tiba aku ingin segera turun dari trem dan menyelidiki daerah itu. Aku pun turun.

Aku mulai berjalan menyusuri Jalan Pancoran, Kota. Dan sampailah aku di Pasar Glodok. Aku berjalan melewati jalan-jalan kecil dan memasuki gang-gang yang sangat banyak di daerah itu. Rupanya aku telah memasuki wilayah Pecinan yang sangat luas. Di wilayah ini sebagian besar penduduknya adalah orang warga keturunan Tionghoa.

Aku tertegun karena begitu banyaknya pemandangan baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku seperti berada di dunia lain, seperti sedang bermimpi. Tetapi aku sadar bahwa ini nyata dan sangat menarik untuk diamati dan diselidiki. Aku membatin, aku pasti bakal mempunyai bahan cerita yang hebat untuk kuceritakan ke teman-teman SD ku di Wonogiri nanti.

Aku berdiri di ujung sebuah jalan kecil yang penuh orang lalu-lalang. Mereka adalah orang-orang keturunan Tionghoa. Itu terlihat dari kulitnya yang berwarna kuning dan bermata sipit. Mereka berbicara dengan suara keras tapi dengan nada suara meliuk-liuk seakan sedang bernyanyi.

Setiap kali berpapasan, mereka saling menyapa dengan kata “Ni hao” atau terkadang “Ni hao ma”. Karena seringnya mendengar kata itu diucapkan, maka aku menyimpulkan sendiri, bahwa itu adalah kata sapaan, seperti kata “halo” atau “apa khabar?”. Setelah suku kata “ni” yang bernada tinggi, kemudian menukik dengan halusnya ”hao” yang bernada lebih rendah, sehingga kata itu menjadi merdu suaranya serta menunjukkan keramahan dari orang yang mengatakannya.

Orang-orang ini berjalan kaki dengan sangat cepat, semua tampak sibuk. Di kiri kanan jalan itu terdapat rumah-rumah tua bertembok kokoh. Ada beberapa rumah yang memiliki dua lantai, biasanya lantai dasar digunakan untuk toko atau restoran.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesuatu, ada seseorang bapak setengah tua, kurus, yang terseok-seok menarik sebuah gerobak. Gerobak itu berisi penuh dengan kaleng-kaleng besar berisi air bersih. Apa yang kulihat itu merubah pandanganku selama ini tentang orang Tionghoa. Dulu temanku pernah mengatakan bahwa semua orang Tionghoa adalah orang kaya dan berkecukupan. Kalau bukan seorang pengusaha, ya setidaknya memiliki toko. Namun dari apa yang kulihat sekarang, orang Tionghoa ini adalah seorang penarik gerobak air. Berarti selama ini pandanganku salah, ternyata tidak semua orang Tionghoa itu kaya raya, tapi ada juga yang bukan orang berada.

Di sepanjang jalan itu pula aku melihat banyak papan nama yang menggunakan tulisan berhuruf cina yang bagaikan lukisan, cukup rumit.

Sambil beristirahat aku duduk di pinggir jalan di dekat sebuah sebuah toko. Rupanya itu adalah sebuah toko obat. Aku mulai mengamati toko ini. Tadinya kukira itu adalah sebuah apotek biasa. Namun ternyata apotek ini bukan menjual obat biasa, tapi “obat ramuan Cina”.

Di dalamnya terdapat berderet toples-toples yang berisi bermacam-macam akar, biji-bijian, daun dan kayu yang sudah di keringkan. Menempel di dinding ada sebuah lemari kayu yang panjang. Bagian depannya terdiri dari puluhan laci-laci kecil. Setiap kotak laci itu berisi bahan-bahan untuk ramuan obat.

Si engkoh, penjaga toko obat itu menerima kertas resep, resepnya ditulis dengan huruf Cina. Si engkoh lalu membaca resep tersebut dan mulai membuka laci-laci obat dan mengambil bahan-bahan ramuan sesuai yang ditulis di resep. Bahan ramuan itu lalu ditimbang menggunakan timbangan yang unik, yaitu berupa tongkat kecil yang ditengahnya diberi tali yang ujungnya dipegang oleh si engkoh. Di kedua ujung tongkat itulah diletakkan alat penimbang dan bahan ramuan obat. Sebetulnya mungkin obat itu juga disebut jamu, karena bahan-bahannya terdiri dari tumbuh-tumbuhan, yang biasanya harus diseduh dengan air mendidih. Dari sisa air yang berisi ramuan itulah yang diminum.

Kemudian perhatianku berpindah ke warung makan yang banyak terdapat di jalan kecil tersebut. Kebanyakan dari mereka berjualan mie. Aku melihat ada dua orang lelaki yang duduk ngobrol di warung mie di seberang jalan.  Kemudian mie pesanannya pun keluar. Mereka lalu mengambil sumpit, yaitu dua batang bambu atau kayu kecil untuk makan. Kemudian mereka mulai makan. Diangkatlah satu kaki mereka ke atas bangku. Sambil mengaduk-aduk mie yang masih sangat panas itu, mereka juga menuangkan sambal ke dalam mangkok.

Dengan menggunakan sumpit, mie yang masih mengepulkan uap panas itu diambilnya dan dimasukkan ke mulutnya. Kemudian, inilah bagian yang seru. Mie yang panas itu seakan dihisapnya tanpa putus, sambil dibantu dengan sumpit yang mendorong mie dari mangkok ke mulutnya dengan cepat. Luar biasa. Dalam waktu singkat mangkok itu pun kosong.

Aku melihat, mereka itu bukan hanya makan enak, tetapi juga makan nikmat. Itu terlihat dari cara mereka menikmati makanan itu dengan satu kakinya diangkat di atas bangku. Setelah makan, wajah mereka kelihatan puas, keringatnya bercucuran.

Menurutku makan enak dan makan nikmat itu berbeda. Aku jadi teringat di desa-desa di Wonogiri, di desa Mbah ku di Kaligunting, atau di rumah keluarga para anggota geng ku, Geng Anak Gragas, yang putra daerah Wonogiri. Bagi mereka, yang dinamakan makan nikmat itu bukan duduk di kursi, atau di bangku, tetapi mereka berjongkok di atas lantai, dan cara makannya menggunakan tangan. Aku pernah mencoba makan sambil jongkok, memang cepat kenyang. Tapi ketika selesai makan, begitu berdiri sudah lapar lagi. Makanya di daerah Wonogiri terdapat istilah, “mindo”. Yang artinya makan yang kedua setelah makan siang. Biasanya sekitar jam tiga siang.

Aku melanjutkan perjalananku keluar masuk gang di daerah Pecinan itu. Jalan tersebut banyak dihiasi dengan lampion berwarna merah yang digantung di atas jalanan atau di depan rumah. Tiba-tiba aku mendengar suara alat musik, biola. Suaranya sangat merdu dan mendayu-dayu.

Kulihat ada seseorang kakek yang sedang menggesek biolanya dengan penuh perasaan sambil berjalan mondar-mandir di teras rumahnya. Aku berhenti untuk memperhatikan si kakek sambil kunikmati permaiannya. Kakek itu tidak peduli dengan suara hiruk-pikuk di sekitarnya. Semua orang memang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Tetapi aku yakin, telinga mereka pasti menikmati juga gesekan biola si kakek yang mungkin sedang melantunkan sebuah lagu klasik dari Tiongkok sana. Aku pun melanjutkan perjalananku

Aku mendengar suara di kejauhan. ”Jreng,jreng,jreng..”. Suara itu bertalu-talu. Aku segera berlari menuju suara itu. Aku menyangka ada pertunjukan “leang leong” seperti yang dulu aku pernah lihat di kota Malang. Leong adalah tiruan ular naga yang kepalanya sangat menyeramkan, sedangkan badannya sangat panjang, yang terbuat dari kain yang bergambar, sisik kulit naga. Leong itu di angkat dengan menggunakan tongkat oleh beberapa orang.

Aku terus berlari ke arah sumber suara itu. Ternyata suara ribut itu datangnya dari dalam sebuah gedung. Ketika aku masuk ke dalam, aku sedikit kecewa, karena ternyata tidak ada apa-apa, mereka hanya sedang latihan musik saja.

Di gang berikutnya, aku mencium bau seperti kemenyan di desa-desa di Jawa. Tetapi rupanya itu bau wangi dari sejenis dupa, yang mereka sebut hio. Hio adalah sebuah tongkat kecil sebesar lidi yang dilapisi dengan sejenis bahan wewangian yang dikeringkan. Kalau hio itu dibakar di ujungnya, lidi tersebut akan mengeluarkan asap yang berbau wangi.

Bau wangi ini datang dari sebuah bangunan yang bercat merah, namanya Klenteng. Klenteng, yang atapnya melengkung-lengkung indah itu adalah tempat orang cina bersembahyang. Yang menarik perhatianku, di dalam klenteng itu banyak sekali lilin berwarna merah, dengan tulisan berhuruf cina. Lilin itu bermacam-macam besarnya. Bahkan ada lilin yang sebesar pohon kenari seperti yang ada di kebon kosong diseberang sekolahku, di Wonogiri.

Daerah pecinan ini begitu sangat luas. Kalau ingin melihat seluruhnya mungkin tidak akan cukup dua hari, pikirku. Aku merasa lelah, tetapi aku puas dengan petualanganku hari ini. Aku kemudian duduk sendirian di atas tempat duduk dari batu yang berada di luar klenteng.

Ketika aku sedang asik mengamati orang-orang yang keluar masuk klenteng untuk bersembahyang, segerombolan anak-anak Tionghoa yang mengerumuniku. Aku kaget, mereka adalah sebuah geng, geng anak-anak Tionghoa. Itu kelihatan dari pakaiannya dan badannya yang kumuh. Aku tertawa dalam hati setelah aku melihat bahwa geng ini juga ada pemimpinnya. Ia memakai tongkat. Persis seperti Cacak, pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang .

Dulu aku adalah juga anggota semacam itu, anak buahnya Cacak. Aku baru sadar, mereka mengira aku adalah anggota geng lain di daerah pecinan itu. Mungkin karena mataku yang memang juga agak sipit dan pakaianku yang juga lusuh. Mereka menunjuk-nunjuk padaku sambil berbicara bahasa Mandarin. Sambil tersenyum, aku berkata kepada mereka, ”Mbuh, ora weruh!”—entah, aku tidak tahu! Mereka terlihat kaget dan saling memandang satu dengan yang lain. Akhirnya mereka pergi meninggalkanku lalu melanjutkan perjalanan mereka sambil berkata ”buh,buh,buh..”.

Hari sudah sore, aku kembali pulang ke rumah di Kramat Pulo, tempat aku dan kedua orangtua angkatku menginap di Jakarta ini. Di atas tangga trem listrik yang melaju pelan itu, aku berlatih mengucapkan kalimat sapaan yang baru aku dengar hari itu. Aku tersenyum puas, sepertinya aku sudah bisa mengucapkannya dengan baik dan benar. Sebuah kalimat terpenting di dalam bahasa Mandarin. Ni hao. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan 

Sunda Kelapa

cso sunda-kelapa-dulu

SUNDA KELAPA

Untuk memenuhi janjiku pada teman-teman sekolahku di SDN 3 Wonogiri, aku sudah siap untuk membuat cerita petualanganku hari ini.

Pagi-pagi aku sudah nangkring di tangga trem listrik menuju Utara. Ya, ke Utara. Karena kemarin sewaktu tremku memutar balik di ujung rel di Utara sana, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Aku mencium bau sesuatu, yang membuatku ingin kembali lagi ke sana dan menyelidiki, bau apakah itu.

Trem listrikku meluncur melewati Kramat Raya, Senen dan Lapangan Banteng. Aku sudah mengenal semua jalan itu sebelumnya. Begitu pula dengan Pasar Baru. Setelah belok ke kiri menyusuri Kali Ciliwung dan mentok di Harmoni, tremku kemudian belok kanan jalan terus ke Utara. Aku sudah tidak sabar untuk segera sampai di ujung rel kereta ini.

Akhirnya setelah melewati Beos, atau stasiun Jakarta Kota yang megah itu, sampailah trem listrikku di ujung utara rel. Aku turun di situ. Benar saja dugaanku. Lagi-lagi aku mencium bau yang aneh yang belum pernah kukenal sebelumnya. Kemudian aku berjalan kaki ke arah utara mencari sumber bau itu. Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Aku tercengang dengan apa yang tampak jauh di depanku. Laut. Aku berlari tanpa memperhatikan lagi apa yang ada di kiri-kananku. Aku terus berlari melalui dermaga beton. Dan sampailah aku di ujung. Aku sekarang berada di tepi laut. Sebuah pelabuhan, inilah dia rupanya Pelabuhan Sunda Kelapa. Bau yang kucium itu ternyata harum sebuah pelabuhan.

Sambil masih tercengang, aku duduk di tepi dermaga itu. Aku memandang ke depan, ke laut lepas. Ini adalah pemandangan yang luar biasa bagiku. Di sekolah memang aku pernah berlajar bahwa ada suatu tempat yang dinamakan laut. Laut itu luas. Tetapi hari ini adalah hari pertama kali aku melihat laut dalam hidupku.

Aku pun mulai berpikir, sepanjang pengamatanku, yang namanya air, seluas apa pun pasti ada batasnya. Seperti air pada kolam renang, sungai atau danau yang luas pun pasti ada batasnya. Tapi bagaimana dengan laut? Kenapa seperti tidak ada batasnya? Kalau tidak ada batasnya, lalu air laut itu tumpah ke mana? Itulah yang membuatku bertanya-tanya. Kalau sekiranya aku bisa, aku ingin menyelidiki apa yang ada di balik ujung laut sana.

Saat sedang asik berpikir dan mengamati laut itu, tiba-tiba mataku tertuju pada satu titik hitam di garis ujung laut itu. Tadinya aku tidak begitu memperhatikannya. Tetapi titik hitam itu semakin lama semakin membesar, bagaikan sebuah benda yang muncul dari dalam air. Setelah beberapa menit kemudian barulah aku mengerti, titik hitam itu adalah sebuah kapal.

Kapal itu sangat besar, mungkin sebesar lapangan tempat aku bermain sepak bola di Wonogiri. Lalu aku bertanya dalam hati, apakah kapal ini juga akan berlabuh di pelabuhan ini? Bukankah pelabuhan ini terlalu kecil untuk kapal sebesar itu? Tidak berapa lama, pertanyaanku sudah terjawab. Ternyata kapal itu tidak menuju ke sini, namun ia berjalan ke arah timur. Belakangan aku baru tahu bahwa di sebelah timur sana ada sebuah pelabuhan besar, bernama Tanjung Priok. Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan yang menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa ini.

Cukup lama aku duduk disitu. Matahari semakin bersinar terik. Aku mulai merasa haus dan lapar, aku pergi meninggalkan dermaga itu dengan masih membawa beribu pertanyaan tentang laut.

Sambil berjalan mencari warung makanan, aku mengamati banyak sekali kapal-kapal layar yang sangat besar. Mereka berjajar rapi dan seakan berhimpitan dengan bagian depannya yang tajam dan mendongak ke atas. Bagaikan leher burung cangak sawah yang panjang yang sedang berbaris. Di depan kapal-kapal kayu itu berderet truk-truk penuh muatan. Truk itu berada di atas dermaga beton. Suasana di situ sangat hiruk-pikuk dan banyak sekali debu yang beterbangan. Kapal-kapal tersebut sedang melakukan “bongkar muat”. Banyak kuli angkut yang sedang mengangkut semen dan menaikannya ke atas kapal. Begitu juga dengan kapal di sebelahnya, kuli angkut sedang bekerja menggotong rotan dan menurunkannya dari atas kapal.

Akhirnya aku menemukan penjual makanan. Seorang penjual lontong, tahu goreng dan telor asin. Ia berjualan di bawah pohon di tepi dermaga. Aku pun duduk di atas bangku pendek sambil mengambil satu buah lontong, sepotong tahu goreng dan memesan segelas teh tawar kepada penjual itu. Cukuplah menu itu bagiku untuk berkelana seharian. Aku harus berhemat, agar tidak membebani Om No. Toh ini acaraku hari ini bukannya wisata kuliner, tapi pengamatan sejarah.

“Pak, kapal-kapal kayu ini kok bentuknya aneh dan unik, itu kapal apa?”, tanyaku kepada bapak penjual lontong. “Oh, itu kapal Pinisi. Kapal layar itu dibuat dari kayu semua, pembuatnya orang Bugis. Kapal Pinisi ini sangat terkenal di dunia, kapal kebanggaan bangsa kita. Lihat tuh, banyak orang-orang asing datang ke sini buat ngeliat kapal Pinisi ini.”

Bapak ini rupanya banyak tahu tentang kapal Pinisi. Ia menjelaskan, bahwa kapal Pinisi yang ada dalam pelabuhan ini, namanya kapal Pinisi Lambo. Yaitu jenis kapal Pinisi yang bagian belakangnya sudah dipotong, mungkin untuk tempat mesin kapal, jika diperlukan. Pinisi Lambo hanya memiliki satu tiang utama.

Sedangkan kapal Pinisi yang sesungguhnya, bagian depan dan belakangnya sama-sama runcing, dan memiliki dua tiang layar utama. Kapal Pinisi yang panjang itu benar-benar merupakan kebanggaan orang Bugis dan bangsa kita. Kapal itu sering berlayar keliling dunia dan sangat dikagumi oleh bangsa-bangsa lain.

Setelah aku mendengar penjelasan bapak penjual lontong tadi, aku kembali memperhatikan kuli-kuli angkut yang sedang bekerja itu. Aku jadi mengagumi mereka. Mereka sangat kuat, mampu mengangkat beban yang sangat berat. Misalnya saja mengangkat satu sak semen atau sekarung beras dipundaknya. Sungguh luar biasa.

Namun ada lagi yang lebih membuat aku kagum. Yaitu saat mereka memanggul beban sambil berjalan meniti selembar papan yang memantul-mantul bagaikan pemain sirkus. Hebat sekali mereka.

Setelah menghilangkan rasa lapar dan hausku, aku pun berjalan kembali menuju ke benteng yang sempat aku lewati tadi, saat terburu-buru berlari ketika melihat laut. Benteng itu terlihat tebal dan kuat, tapi terlihat kurang terawat karena dindingnya sudah berlumut. Tiba-tiba aku melihat ada sekelompok orang berkerumun. Mereka sedang mendengarkan seorang bapak-bapak yang sedang memberikan penjelasan tentang benteng itu.

Melihat itu, aku menjadi penasaran dan mendekati mereka. Namun, ada kejadian yang kurang menyenangkanku. Ketika mereka melihat aku mendekat, rupanya mereka menjadi curiga padaku. Karena tas yang tadinya mereka tenteng, langsung dikepit erat-erat di bawah ketiak mereka. Aku sadar diri, aku sedikit menjauh dari para wisatawan tersebut, dan duduk di atas batu, sendirian. Tetapi aku masih bisa mendengarkan apa yang diuraikan oleh pemandu wisata itu. Aku ingin mencuri dengar.

“Pelabuhan Sunda Kelapa ini, pada abad ke lima saja sudah merupakan pelabuhan yang besar dan terkenal di dunia. Banyak kapal-kapal besar berdatangan dari Timur Tengah, India Selatan, Tiongkok dan Jepang berlabuh di pelabuhan ini.” Mendengar uraian pemandu wisata tersebut aku menjadi terperangah. Ternyata, aku sekarang ini sedang berada di tempat bersejarah. Aku pun tetap duduk diam, seakan sedang memandang ke laut, tetapi telingaku ku arahkan ke pemandu wisata itu.

***

            Baru-baru ini aku mengenang dan berusaha mempelajari lagi tentang Sunda Kelapa ini. Di abad ke dua belas, Sunda Kelapa ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda atau Pajajaran. Dan pada tahun 1522 Portugis bekerja sama dengan kerajaan Sunda, sehingga Portugis bisa mendirikan loji (gedung) dan benteng ini, guna menangkal serangan dari kerajaan Demak dan Cirebon.

Tanggal 22 Juni 1527, pasukan Demak mengusir Portugis dan menduduki Sunda Kelapa di bawah pimpinan Fatahilah. Maka nama Sunda Kelapa diganti menjadi “Jayakarta”. Tanggal 22 Juni itulah yang kelak dijadikan tanggal ulang tahun kota Jakarta. Kemudian pada tahun 1619, Jayakarta direbut oleh Belanda dan Jayakarta berganti nama menjadi “Batavia”. Dan ketika pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, barulah kemudian Batavia dirubah kembali namanya menjadi “Jakarta”. Sampai sekarang. Dan saat ini nama Pelabuhan Sunda Kelapa dihidupkan kembali. Karena nama ini menjadi awal sejarah berdirinya Jakarta.

***

Pemandu wisata itu memberikan penjelasan sambil berpindah-pindah tempat dan para wisatawan yang bergerombol itu mengikutinya dengan setia. Aku termasuk yang mengikuti mereka. Tetapi mungkin karena aku sangat serius mendengarkan kisah sejarah tersebut maka aku sudah tidak dikira tukang copet lagi.

Hari sudah mulai sore. Aku pun kembali menuju stasiun trem tadi. Sambil nangkring di tangga trem listrik menuju pulang itu, aku masih teringat kata pemandu wisata tadi. Ia sempat bercerita bahwa jaman dulu sebelum ada trem listrik ini, masih menggunakan alat transportasi berupa trem beroda ban mobil yang ditarik oleh empat ekor kuda yang mulutnya diberi besi. Mungkin karena itu, kita jadi sering mendengar istilah”jaman kuda gigit besi”.

Tak terasa tremku sudah sampai di Jalan Kramat Pulo. Aku melompat turun dengan membawa perasaan puas dengan petualanganku hari ini. Nanti saat aku pulang ke kotaku Wonogiri, aku pasti akan bercerita panjang tentang sejarah Sunda Kelapa dan Jakarta ini kepada teman-teman ku. Di SDN Tiga Wonogiri. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan.

Tata Krama

TATA KRAMA

Aku bersyukur bisa tumbuh sebagai anak yang cukup diberi kebebasan. Bebas bermain di luar rumah dan bebas berpetualang. Orangtua hanya mengharuskanku untuk sudah berada di rumah lagi saat hari menjelang petang dan pada waktu-waktu tertentu, misalnya waktu makan.

Dengan kebebasan seperti itu hidupku menjadi bersemangat dan bergairah. Aku selalu ingin mengamati dan menyelidiki apapun yang terjadi di sekelilingku, terutama yang menarik perhatianku. Tetapi ada satu hal yang menjadi kerisauanku, yaitu yang menyangkut masalah ‘tata krama’. Soal tata krama ini seakan menjadi momok yang menegangkan buatku.

Liburan panjang sekolahku, SDN Tiga Wonogiri telah dimulai. Sesuai rencana, aku bersama kedua orangtua angkat ku berangkat ke Jakarta, naik Kereta Api Ekspres yang telah lama aku impi-impikan. Kereta api ini memang jauh lebih mewah dan nyaman dibanding dengan sepur kluthuk yang kumuh itu.

Baru saja lima menit aku duduk di kursi empuk itu saat aku tersadar bahwa ternyata di dalam kereta ini aku tidak bisa bergerak bebas sesuka hatiku seperti di dalam sepur kluthuk. Aku mulai merasa tidak betah. Aku heran, mengapa anak-anak lain di dalam gerbong itu bisa duduk dengan tenang, mematung. Sebaliknya mungkin mereka juga merasa heran melihat aku, anak yang tidak bisa diam dan selalu bergerak. Aku merasa aku harus duduk tenang dan sopan sebagaimana layaknya anak orang kaya penumpang Kereta Api Ekspres lainnya. Mungkin begitulah tata krama dalam jenis kereta ini.

Sebenarnya aku hanya penasaran pada satu hal yang sangat menarik perhatianku di kereta ini. Yaitu kepada pelayan yang mondar mandir membawa baki makanan. Setiap kali dia lewat selalu saja menebarkan bau sedap makanan yang berbeda. Aku bertanya-tanya dari mana makanan itu berasal. Aku harus segera menemukan akal agar bisa meninggalkan tempat dudukku. Aku harus segera mencari tahu tentang hal ini. Rasa ingin tahuku sudah menggelora.

“Bu, aku mau pipis”, kataku kepada Bu Mojo di sampingku. Dengan gaya badanku yang bergerak-gerak seakan untuk pergi ke kamar kecil sekarang ini adalah hal yang mendesak dan mutlak, aku berdiri dan berlari meninggalkan kursi empukku. Setelah keluar dari kamar kecil, aku tidak kembali ke kursiku. Diam-diam aku mengikuti pak pelayan yang membawa nampan kosong itu.

Setelah menyusuri gerbong-gerbong yang bersih berbau wangi itu, sampailah aku di sebuah gerbong yang menurutku aneh. Setengah dari gerbong itu tertutup rapat dan dipakai sebagai dapur. Rupanya dari gerbong inilah asalnya semua makanan-makanan itu. Ketika aku melihat sisi lainnya, terdapat beberapa kursi dan meja seperti di restoran. Aku takjub dan terpana, ada sebuah restoran di dalam sebuah kereta api! Cukup lama aku duduk di situ sambil mengamati orang-orang yang sedang makan di restoran itu. Gerbong khusus itu bernama gerbong restorasi.

Tetapi tak lama kemudian aku tersadar dan segera bergegas kembali ke kursiku. Dalam hati aku merasa bersalah, aku telah “mencuri lihat gerbong” restorasi tanpa ijin. Apakah aku telah melanggar tata krama sebagai penumpang Kereta Api Ekspres? Aku merasa takut dan tak enak hati.

****

Pagi itu Om No mengajakku berkunjung ke rumah seorang tanteku yang tinggal di bagian Selatan Jakarta. Cukup jauh dari rumah Om No di Kramat Pulo di mana aku tinggal selama liburan panjang sekolahku. Om No meninggalkanku di rumah tanteku itu, karena rencananya aku akan menginap di situ.

Tanteku itu menikah dengan seorang pejabat tinggi pemerintah. Rumahnya besar, bersih dan rapih. Aku berkesimpulan bahwa keluarga tante merupakan keluarga yang memiliki gaya hidup orang berada dan berpendidikan tinggi. Hidupnya tertib, berdisiplin dan menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama. Mereka semua bersikap baik terhadapku.

Saat tiba waktunya makan siang, kami semua duduk di sekeliling meja makan yang telah tertata rapi. Di sisi piring porselen yang indah itu tersedia sendok dan garpu berlapis perak yang mengkilat. Nasi putih serta lauk pauknya pun membangkitkan selera. Tanpa sengaja mataku tertuju dan terpana pada ayam goreng di atas baki lebar yang berada tepat di depanku. Dalam hati aku langsung menimbang-nimbang akan memilih paha atau dada sambil memandangi ayam goreng itu. Tiba-tiba aku terkejut dan sadar bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang melihat ke arah makanan di meja. Tante dan anak-anak sedang menghadap lurus ke arah ayahnya yang sedang berbicara.

Akhirnya acara makan bersama pun dimulai. Aku mendapatkan paha ayam goreng, memang itulah yang aku harapkan. Aku pun makan menggunakan sendok dan garpu dengan sangat hati-hati. Mengapa? Karena selama kami makan itu, aku tidak pernah sekalipun mendengar suara dentingan sendok atau garpu mereka yang terantuk ke piring. Bagiku hal itu sangat tidak biasa dan tak mudah untuk dilakukan.

Keringat dinginku terasa hampir mengucur. Meskipun dengan susah payah, akhirnya aku berhasil makan tanpa bunyi. Di ujung acara makan bersama yang bagiku sangat menegangkan itu, aku dengan sengaja menyisakan tulang paha ayamku. Ini memang kebiasaanku, tulang ayam ini akan kujadikan sebagai “gong”. Potongan ini akan kumakan setelah nasiku habis. Lalu kemudian aku gigit tulang rawan yang berwarna putih merangsang itu, krek!.., suaranya keras memecah keheningan.

“Haaahh!?….,” tiba-tiba terdengar suara mereka bagaikan koor. Semua mata di sekeliling meja makan itu melotot, memandangku seakan aku ini makhluk yang menjijikkan. Aku menunduk dengan sangat sangat malu. Rupanya aku telah melakukan pelanggaran berat atas tata krama di meja makan tersebut.

Detik itu juga, aku memutuskan untuk batal menginap di rumah tanteku itu. Begitu berat aku menanggung malu. Aku minta ijin untuk pulang. Tanteku berusaha menahan aku untuk tetap menginap, tetapi aku bersikukuh untuk pulang ke rumah Om No. Aku katakan kepada mereka, bahwa aku bisa pulang sendiri tanpa diantar, aku sudah biasa bepergian sendiri ke mana-mana. Akhirnya mereka mengalah, namun karena mereka merasa bertanggung jawab atas diriku, akhirnya si Om mengantar aku pulang ke rumah Om No di Kramat Pulo.

Saat aku berjalan masuk ke dalam rumah, Om No terkejut tetapi langsung berkata, “Udeh??.” Aku menjawab dengan suara lebih keras,”Udeh!!!” lalu kami pun tertawa keras-keras. Tanpa bertanya, Om No sudah tahu mengapa aku pulang. Aku kembali ke habitatku, sebagai anak petualang yang bebas lepas. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

Suara

SUARA

Ya, suara. Buat anak-anak sepertiku yang berasal dari kota kecil, suara hiruk pikuk kota Jakarta ini sungguh menakjubkan.

Sudah beberapa hari ini aku, Pak Mojo dan bu Mojo tinggal menginap di Jalan Kramat Pulo ini. Suara-suara dari suasana sekitar rumah Om No ini sangat menarik perhatianku. Berbagai macam jenis suara baru berhasil aku tangkap di kota ini. Suara-suara yang hampir tak pernah kudengar di kota asalku, Wonogiri. Saat malam hari pun suasana sekitar Kramat Pulo ini yang sungguh meriah, padat dengan bermacam suara.

Gubraakk..” Lagi-lagi aku dikejutkan oleh suara itu . Aku segera berlari menuju sumber suara tadi. Benar, tabrakan becak lagi. Tabrakan becak ini adalah yang kedua kalinya yang terjadi malam ini. Kembali aku menyaksikan berlangsungnya “adu mulut” antara kedua tukang becak, termasuk para penumpangnya. Ramai dan seru. Konon memang kejadian ini sering terjadi di Kramat Pulo.

Menurut pengamatanku, Jalan Kramat Pulo ini selalu ramai dari pagi hingga tengah malam. Jalan ini memang merupakan jalan pintas bagi kendaraan yang datang dari arah timur Senen yang akan menuju ke Kramat. Suara ribut ramai riuh rendah yang setiap hari terdengar itu umumnya berasal dari suara bel becak yang bermacam-macam bunyinya.

Ada yang berbunyi klining klining, jreng jreng atau jrek jrek, ada yang dok dok (asal pukul belakang bak becak), ada pula yang reketek, reketek, reketek.. Suara yang terakhir ini berasal dari alat pukul bel becak yang dimasukkan ke dalam jeruji roda. Dan uniknya, suara ribut itu kadang diselingi dengan suara, gubraak! Tabrakan becak.

Ada lagi suara lain yang juga menarik perhatianku. Yaitu suara nyaring, melengking bernada sangat tinggi dan “meliuk-liuk” dari penyanyi perempuan India. Suara itu makin jelas jika aku duduk sendirian di samping gedung bioskop Rivoli yang menghadap ke Jalan Kramat Raya. Dari dalam gedung bioskop itulah sering terdengar suara yang penyanyi India itu. Suara film India yang bocor keluar bioskop.

Bioskop Rivoli terkenal karena sering memutar film India. Bahkan gara-gara sering mendengar lengkingan suara penyanyi India itu, yang tajam bagaikan sembilu dan menyayat hati, sekarang aku memiliki dua jenis film favorit. Yaitu film perang dan film India.

Film India bagiku sangat menarik. Selalu menghibur. Dalam satu judul film saja, isinya lengkap. Ada tarian, nyanyian, kisah percintaan, sampai pertentangan budaya antara budaya modern dan asli India.

Saat itu sudah hampir pukul dua belas tengah malam. Aku belum bisa tertidur. Aku masih duduk di depan rumah Om No. Suara-suara di Jalan Kramat Pulo masih ramai. Ada suara becak, suara orang berjualan makanan, dan ada lagi suara sekelompok laki-laki yang duduk mengobrol dan berbicara keras-keras. Menarik dan aneh, karena sebenarnya mereka duduk saling berdekatan di sebuah warung.

Aku berjalan menuju ke warung, sumber suara itu, aku duduk di sebelah Pak Jali, penjaga keamanan di daerah ini.Usia Pak Jali sudah agak tua. Pendiam namun berwibawa. Ia orang Betawi asli. Oleh karena itu banyak orang memanggilnya babe (ayah).

“Be, kenapa mereka ribut sih, babe ngga tegur?”, tanyaku. Pak Jali menjawab dengan tenang, “Biarin aje die-die ribut, asal kagak ganggu keamanan. Die-die itu pendatang, bukan Betawi asli.” Melihat aku asik mendengar dan tertarik dengan penjelasannya, Pak Jali lalu melanjutkan penjelasanya. Ia mengatakan bahwa di Jakarta ini semakin banyak pendatang. Mereka datang dari berbagai daerah, ada yang dari Jawa, ada yang dari seberang pulau.   Pak Jali juga menjelaskan bahwa ia bisa membedakan mana yang dari Jawa dan mana yang dari “seberang”. Caranya? Yaitu dengan mendengarkan suara gaya mereka berbicara. Ada yang halus, ada yang keras meledak-ledak. “Jadi ya biar saja. Inilah Jakarta.”, kata Pak Jali yang orang Betawi asli.

Hampir sudah jam dua dini hari. Kantuk mulai datang, aku berjalan pulang. Suara-suara di Jalan Kramat Pulo pun sudah mulai sepi. Di kesunyian itu aku jadi teringat akan pesan teman-teman sekolahku di SD Negeri Tiga di Wonogiri, ”Nanti, setelah pulang dari Jakarta, kamu harus cerita banyak, ya.” Hal ini yang mendorongku juga untuk mengisi liburan panjang ini dengan lebih banyak lagi berpetualang di Jakarta. Malam ini aku punya tambahan cerita untuk mereka semua, tentang suara.

Hampir pagi, aku harus tidur. Besok siap berkelana lagi, dengan Trem Listrikku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

“Udeh?..”

cso Trem CSO Trem-Jakarta.jpg-386x290

.

“UDEH?..

“Udeh?!” ujar Om No menyambut kedatanganku di rumahnya, di Jalan Kramat Pulo, Jakarta. Dia menyambut aku khusus menggunakan bahasa Betawi, sebagai ucapan selamat datang di Jakarta. Dan aku pun menyambut salamnya itu dengan kata, ”Udeh!”. Kami pun sama-sama tertawa, sebagai ungkapan rasa rindu kami. Maka sejak saat itu, sampai aku dewasa dan berkeluarga, setiap bertemu kami selalu mengucapkan salam “udeh”. (Maksudnya “Sudah?…)

Om No, sudah beberapa tahun tinggal dan bekerja di Jakarta. Om No dan aku memiliki kesamaan yaitu sama-sama suka berpetualang, dia tahu pasti itu. Esok paginya, sebelum Om No berangkat ke kantor, dia menyelipkan uang ke kantongku sambil mengedipkan sebelah matanya. Maka mengertilah aku bahwa uang itu adalah uang sakuku, guna “menjelajahi” kota Jakarta. Ini pasti akan seru, sebab inilah kali pertama aku mengunjungi Ibu Kota ini.

Tak berapa lama kemudian aku sudah di depan rumah di tepi Jalan Kramat Pulo. Aku berjalan menuju ke kanan, karena aku melihat dari kejauhan bahwa di sana ada sebuah jalan raya. Rupanya itu adalah Jalan Kramat Raya. Jalan itu lebar sekali. Aku duduk di pinggir jalan di depan gedung bioskop Rivoli, cukup lama aku di sana. Aku mengamati, banyak kendaraan umum kecil yang berlalu-lalang, bernama Opelet. Tapi orang suka memnyebutnya dengan Ostin. Ostin sebetulnya diambil dari nama merek mobil yang dibuat menjadi Opelet tersebut. Mereknya Austin. Sebuah mobil sedan kecil yang memiliki suara mesin yang sangat halus itu belakangnya dimodifikasi, sehingga dalam mobil itu cukup untuk memuat enam orang penumpang dan satu orang duduk di samping pak supir.

“Mester, mester..”, teriak supir Ostin itu memanggil calon penumpangnya. Sedangkan di seberang jalan sana para supir berteriak, “Beos, beos..” Belakangan aku baru tahu, bahwa Mester, berasal dari kata “Meester Cornelis”, yang kemudian berubah namanya menjadi Jatinegara. Sedangkan Beos adalah nama lama dari Stasiun Jakarta Kota, yang lokasinya berada di ujung utara Jakarta. Beos adalah singkatan dari nama sebuah perusahaan Belanda yang mendirikan stasiun kereta api terbesar di Indonesia itu.

Aku mulai mengamati dan memperhatikan adanya sebuah rel kereta api di tengah jalan. Semula aku mengira rel itu seperti di kota Solo. Rel untuk “sepur kluthuk”. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, mengapa “sepur kluthuk” sahabatku bisa menyusulku sampai ke Jakarta ini? Bukankah jaraknya sangat jauh dari Jawa Tengah

Tetapi kemudian ada hal yang membuatku menjadi terkejut dan melongo lebar. Ada gerbong kereta yang berjalan sendiri tanpa lokomotif di atas rel itu. Ini sungguh merupakan suatu keajaiban, batinku. Tetapi setelah kuamati dan kuselidiki dengan seksama, ternyata di atas rel itu ada sebuah kabel yang tergantung di sepanjang jalur rel tersebut. Sedangkan di atas gerbong-gerbong tadi ada semacam tanduk yang bisa menempelkan kabel ke kabel yang tergantung itu. Itu adalah kabel listrik! Rupanya kereta ini yang dinamakan “trem listrik”. Sungguh canggih, pikirku.

Sekarang seluruh perhatianku tertuju kepada trem listrik yang berjalan mondar-mandir di depanku. Aku duduk di tepi jalan dan mulai mengamati. Kereta-kereta tanpa kepala itu ternyata banyak berjalan di sepanjang Jalan Kramat Raya. Di seberang Jalan Kramat Pulo, ada rel yang bercabang dan masuk ke dalam gang kecil. Wah ini bakal seru sekali, batinku mulai bergairah.

Kemudian aku melihat di beberapa kereta itu ada anak-anak kecil yang membonceng di tangga tempat naik turunnya penumpang. Anak-anak itu terlihat memakai celana pendek yang kumuh dan rambutnya terlihat awut-awutan, dan mereka tidak membayar karcis!

Aku pun segera berlari pulang ke rumah Om No di Jalan Kramat Pulo, mengganti celana pendekku dengan yang agak dekil. Tak lupa rambutku ku-acak-acak dengan jari tanganku. Dan kemudian aku pun sudah nangkring di atas tangga trem listrik itu seperti mereka. Ini luar biasa! Aku girang bukan buatan.

Sebelumnya sudah kupelajari caranya dari anak-anak itu, yaitu saat kereta sedang berjalan pelan, baru kita meloncat naik. Itu pun kita harus tahu pasti dulu, di mana posisi pak kondektur saat itu. Kalau pak kondektur sedang di depan, maka aku naik dari belakang, demikian juga sebaliknya. Begitu aturannya. Kalau pak kondektur berjalan mendekati tempatku, maka aku harus pura-pura mau turun di halte depan.

“Hei,… nanti kamu turun di halte depan, ya!” bentak pak kondektur mengejutkanku. Lalu aku jawab dengan bahasa Betawi, ”Iye, Pak — Iya, Pak”. Maka aku pun patuh, turun di halte berikutnya.

Tetapi kemudian aku meloncat lagi ke kereta yang berikutnya. Dengan main kucing-kucingan itulah aku mencoba menyusuri jalan-jalan di kota Jakarta ini.

Pertama-tama aku menuju ke arah Selatan menuju ke Mester, atau Jatinegara, melalui Salemba, di situ kelihatan ada sebuah rumah sakit besar, Sint Carolus, namanya. Kemudian melewati Matraman lalu sampailah di Mester yang ditandai dengan sebuah gereja kecil yang terletak di pojok jalan Jatinegara yang bercabang dua. Trem berbelok ke kiri, lalu melewati banyak pertokoan dan pasar Jatinegara kemudian belok ke kanan dan trem berakhir di daerah Kampung Melayu dan berputar balik ke arah Kota.

Aku sebenarnya ingin turun untuk melihat rumah kuno milik orang Belanda yang dulu adalah pemilik  daerah itu, Meester Cornelis. Tetapi rencana itu aku urungkan. Hari itu aku hanya ingin menghafalkan rute jalur trem listrik itu dulu.

Kereta pun berbalik kembali menuju ke pusat Kota Jakarta. Saat melewati Kramat Pulo, rumah Om No, aku tidak turun, kuteruskan perjalanan ke Utara melewati Senen dan Lapangan Banteng. Aku tertarik dengan lapangan yang sangat luas dan dikelilingi oleh jalan raya itu.

Konon, lapangan itu bernama Waterlooplein, artinya lapangan Waterloo. Nama tersebut diberikan oleh Belanda sebagai kenangan bahwa dulu di daerah Waterloo itulah Belanda pernah mengalahkan tentara Perancis. Nama Waterlooplein kemudian pada tahun 1942 diubah oleh Bung Karno menjadi Lapangan Banteng. Di pojok di seberang lapangan terlihat gereja Kathedral yang menaranya menjulang tinggi, jauh lebih besar dibanding gereja Kayutangan, gerejaku di kota Malang.

Tremku berjalan terus ke arah utara, sampai di Pasar Baru, kemudian belok ke kiri lalu menyusuri sungai Ciliwung yang membelah Kota Jakarta. Setelah sampai di Harmoni, trem berbelok ke kanan tetap menyusuri sungai Ciliwung. Akhirnya sampailah di Beos, stasiun kereta api Jakarta Kota yang megah dan indah itu. Setelah mencapai ujung dari rel trem listrik itu berputar kembali ke selatan menuju Mester, Jatinegara.

Sore harinya, hari sudah mulai gelap, aku pun turun di Jalan Kramat Pulo. Sesampai di rumah, Om No pun memberi salam, ”Udeh?” dan aku jawab, “Udeh!” Lalu aku tersenyum lebar kepadanya, dan dia mengerti itu pertanda bahwa petualanganku, perjalananku hari itu sukses besar. Hari itu aku baru sadar, bahwa ternyata, Jakarta adalah kota yang luar biasa besar untuk tempat berpetualang. Rasanya aku mulai tertarik untuk melanjutkan petualanganku di kota Jakarta ini. Untuk seumur hidupku. Semoga. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Seminggu Serasa Setahun

SEMINGGU SERASA SETAHUN

“No mengundang kita ke Jakarta. Kita berangkat hari Sabtu, minggu depan.” Kata pak Mojo kepada bu Mojo di depanku.

Ayahg angkatku itu mengatakan dengan nada datar saja. Tetapi bagiku, berita tersebut bagaikan suara gelegar letusan gunung berapi.

Dalam pikiranku aku membagi kalimat itu menjadi beberapa bagian. Kata ‘Jakarta’ merupakan kejutan bagiku, karena artinya kami pasti naik Kereta Api Ekspres. Kata ‘berangkat’ adalah sebuah kepastian yang seakan mampu meledakkan dadaku. Sedangkan ‘Sabtu minggu depan’ merupakan rentang waktu menunggu yang akan selalu membangkitkan rasa khawatirku, jadi berangkat atau tidak.

Sejak detik itu, di depan mataku sering terlihat sebuah Kereta Api Ekspres. Jenis kereta inilah yang dulu sering aku lihat di stasiun kota Jombang. Gerbong-gerbongnya yang besar dengan cat yang mengkilat indah. Lokomotifnya yang sebesar rumah, bulat memanjang dengan telinga di samping kiri-kanan kepalanya. Sungguh gagah dan jantan. Kalau terlambat diberangkatkan, dia akan mendengus bagaikan seekor naga hitam. “Josssh..” sambil mengeluarkan asap panas warna putih dari hidungnya.

Pada malam pertama setelah berita mengagetkan itu, tidurku tidak pernah tenang. Aku sering bermimpi dan terbangun karena dikejutkan oleh suara Kereta Api Ekspres yang melintas di depan kamar tidurku. Aku sering terbangun dan menangis, karena dalam mimpiku aku kecewa kehabisan karcis kereta.

Pagi harinya aku bangun dengan kepala terasa berat dan sakit. Nafsu makanku sirna. Sepanjang hari aku kebingungan, tidak tahu apa yang akan kukerjakan. Di hari-hari berikutnya terjadi lagi hal yang sama. Dalam pikiranku berkecamuk kejadian-kejadian yang sangat membingungkan dan penuh kekhawatiran. Aku demikian takut kalau perjalanan ke Jakarta nanti dibatalkan. Semenjak itu aku jarang keluar rumah.

“Kenapa sudah tiga hari ini kamu tidak kelihatan?” Kata Yahmin kepadaku di depan para anggota Gagas, Geng Anak Gragas, di basecamp samping kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Rupanya aku sedang disidang oleh mereka.

Yahmin melanjutkan, ”Lihat mukamu pucat, badanmu kurus seperti orang kurang gizi!” Aku pun berusaha menjelaskan duduk persoalan mengapa aku sering absen. Bahwa aku sedang ‘sibuk’ memikirkan rencana keberangkatanku menuju Jakarta hari Sabtu minggu depan.

Yahmin mencoba menasihatiku ”Kalau mau ke Jakarta, seharusnya kamu menjadi gembira. Tapi kok makin kacau dan kurus begini, itu sakit pikiran namanya.” Sebagai pendiri Gagas, aku tidak boleh kalah berdebat dari Yahmin.

Maka aku mencoba berdalih,

”Min, yang mengganggu pikiranku ini bukan masalah aku akan pergi ke Jakarta, tetapi yang aku takutkan adalah, kalau nanti aku tidak boleh pulang ke Wonogiri karena tenagaku dibutuhkan di Jakarta. Kalau itu terjadi, kalian yang harus terus menjalankan geng kita ini.” Sunyi. Mereka terdiam, tidak melanjutkan perdebatan. Biarlah mereka berpikir sendiri.

Setiap hari aku berharap hari itu adalah hari Jumat, hari dimulainya libur panjang. Di sekolah aku sudah kehilangan konsentrasi belajar. Misalnya kemarin, aku dipanggil oleh ibu guru dan aku mendapat marah besar. Pasalnya aku kepergok sedang menggambar Kereta Api Ekspres pada waktu pelajaran berhitung.   Apalagi sewaktu laci mejaku dibongkarnya, terdapat banyak sekali kertas-kertas dengan gambar kereta api. Sementara setiap malam aku masih rutin bermimpi buruk. Sungguh melelahkan. Aku menyesali para orang tua, mengapa mereka sering menjanjikan sesuatu kepada anak kecil terlalu jauh dari harinya. Hal ini membuatku sangat tersiksa. Aku sudah tidak sabar lagi untuk naik Kereta Api Ekspress ke Jakarta!.

Akhirnya, setelah serasa setahun menunggu dan sakit pikiran. Siang itu kami telah berdiri manis menunggu di stasiun kereta api Solo Balapan di kota Solo. Kami menunggu di Spoor Satu (rel nomer satu). Jantungku semakin berdebar-debar menunggu kereta kami yang belum juga datang.

Yang lebih dulu tiba adalah kereta yang masuk di rel nomor dua dan nomor tiga. Aku semakin khawatir dan gelisah. Jantungku berdegup kencang, badanku rasanya panas dingin. Medadak aku melihat Pak Sep Sepur bertopi merah mendekati rel nomer satu. Sambil memandang ke arah Timur, dia meniup peluitnya keras-keras. Dan kemudian masuklah Kereta Api Ekspres itu, berhenti di depan kami, di rel nomer satu. Hatiku lega girang bukan kepalang.

Kami memasuki gerbong mewah tersebut dan duduk diatas kursi yang sangat empuk. Aku masih merasa tak percaya ini semua nyata. Dengan tertib para penumpang masuk ke dalam gerbong. Masing-masing penumpang punya tempat duduk sendiri, tidak ada yang berdiri maupun duduk di lantai.

Tak lama kemudian keretaku mulai bergerak pelan dengan sangat lembut, hampir tak ada hentakan sama sekali. Dalam waktu singkat kereta api ekspress sudah melesat cepat, tanpa terasa adanya goncangan yang kasar.

Seperti biasa mataku mulai melihat berkeliling dan mulai mengamati. Gerbong kami ini terlihat sangat indah, bersih dan berbau wangi. Begitu juga para penumpangnya, berpakaian bagus rapih serta beraroma parfum harum. Aku berusaha keras untuk bisa menoleh ke kiri dan ke kanan sambil tetap duduk diam dan bersikap sopan.

Tiba-tiba di sampingku melintas seorang pelayan membawa baki makanan. Maka terciumlah bau harum masakan yang sepertinya sangat lezat. Hampir saja aku melompat dan mengintip isi baki tersebut. Tetapi kemudian sadar dan aku duduk sopan dan tenang. Aku harus bersikap seperti anak orang kaya sekarang. Karena aku adalah penumpang Kereta Api Ekspress!

Tiba-tiba aku merasakan sebuah perasaan yang sangat lega. Walau serasa seperti setahun, penantianku seminggu ini telah usai. Impianku sudah menjadi nyata. Goyangan lembut Kereta Api Ekspres ini, membuat mataku mulai meredup. Sebelum tertidur, didalam hati, aku mengirimkan salam untuk sahabatku, si Sepur Kluthuk. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑