Cari

Antonius Sutedjo

Mainan Anak Perang

wpid-img-20150831-wa0125-01.jpeg

MAINAN ANAK PERANG

TENTARA Belanda telah pergi meninggalkan Wonogiri. Suasana damai, aman, tenteram dan nyaman mulai terasa lagi di kota ini. Gunung Gandul tetap tegak berdiri dan siap untuk didaki. Mbok-mbok bakul pun mulai meramaikan lagi Pasar Wonogiri dan juga memeriahkan suasa jalanan di depan rumahku, di Jalan Jurang Gempal.

Tetapi benarkah itu semua? Ternyata tidak. “perang lain” ternyata baru saja akan dimulai. Semua harus mempersiapkan diri karena Belanda akan kembali datang. Itu lah yang ada di dalam pikiran kami, aku dan anak-anak Wonogiri anggota GAGAS (Geng Anak Gragas).

Maka secara hampir serentak muncullah “tentara-tentara kecil” di seluruh Wonogiri. Mereka mereka memperlengkapi diri dengan “senjata”masing-masing.

Sementara itu senjata kegemaranku adalah senjata otomatis laras panjang. Senjata itu buatanku sendiri, yaitu terbuat dari tulangan daun pisang, yang di kiri-kanannya di beri enam buah ‘coakan’ (belahan) dari atas ke bawah. Masing-masing coakan itu sepanjang sekitar sepuluh sentimeter. Coakan itu bisa dibuka dari atas ke bawah. Maka kalau tulangan daun pisang itu di genggam dengan telapak tangan dan di dorong dari bawah ke atas, maka coakan-coakan itu akan menutup dengan suara cukup keras, suaranya plok..plok…plok. Dan kalau dorongannya cepat, maka suaranya akan mirip sekali seperti rentetan suara tembakan senjata otomatis.

Selain ituaku juga suka menggunakan ikat pinggang. Pada ikat pinggangku itu bergelantungan granat. Granat adalah senjata bulat segenggaman orang dewasa, yang gunanya untuk dilemparkan ke arah musuh dan kemudian akan meledak. Konon ada dua macam granat, dibedakan dari bentuknya. Ada Granat Nanas dan ada Granat Manggis. Tetapi jenis“granat” yang aku sering gunakan adalah jenis ‘Granat Lontong’, karena bentuknya yang bulat dan panjang seperti lontong.

Granat Lontong ini terbuat dari gulungan kertas yang kemudian di dalamnya diisi dengan bubuk kapur berwarna putih, yang namanya gamping. Di kedua ujung gulungan kertas itu lalu ditutup dengan cara dilipat dan di lem rapat. Aku sangat menyukai Granat Lontong ini.

Kalau granat ini dilempar dan jatuh ke tanah maka granat itu akan pecah dan menyebarlah bubuk putih tadi. Kalau granat ini aku lemparkan lebih tinggi lagi jauh ke udara, dengan sebelumnya sedikit dilubangi, maka  granat ini akan melayang di udara sambil meninggalkan taburan bubuk putih, bagaikan asap sebuah roket. Menurtku dan teman-teman senjata ini sangat keren.

Maka, dengan ‘perlengkapan-perlengkapan perang’ itu, kini para anggota geng anak GAGAS merasa bahwa tugas kami bukan lah hanya mencari makan saja, tetapi juga untuk siap berperang melawan penjajah.

Kami anak-anak Wonogiri ini berprinsip bahwa kami semua tidak takut terhadap tentara Belanda, meskipun tentara Belanda diperlengkapi dengan pesawat tempur, meriam dan kendaraan perang yang canggih, bahkan walaupun juga dipersenjatai dengan makanan kalengan yang enak-enak dan melimpah. Kami ini lebih menghargai tentara-tentara Republik yang sederhana tetapi mempunyai semangat kepahlawanan yang membuat kami, kagum dan bangga.

Siang itu, setelah menyelesaikan operasi makan belalang para anggota Geng Anak Gragas, melanjutkan perjalanan napak tilas ke ‘front’, yaitu lokasi yang dulunya merupakan garis depan dari perjuangan tentara kita.

Kami menyeberangi jembatan sungai Bengawan Solo, dan menuju ke Pokoh, lokasi tempat tentara kita mengadakan serangan-serangan ke arah Kota Wonogiri, yang diduduki Belanda.

Pokoh terletak diseberang sungai Bengawan Solo. Disitu, dipinggir sungai terdapat tanah terbuka yang luas dan dipenuhi semak belukar. Kemudian kami pun memulai sebuah operasi “pencarian” di tempat tersebut.

Operasi pencarian yang kami lakukan ternyata mendatangkan hasil. Kami menemukan banyak selongsong bekas peluru yang ditembakkan dari tempat itu. Perlu diketahui, bahwa jika senjata ditembakkan, pelurunya akan melesat, tetapi selongsong peluru akan terlontar ke samping dari senjata itu. Banyak sekali kami temukan selongsong peluru yang bertebaran disitu.

Tetapi operasi pencarian kami terus berlanjut. Kami mulai juga membongkar semak-semak di daerah itu, sambil mencari ular tentunya. Akhirnya kami menemukan apa yang sebenarnya kami cari-cari, yaitu peluru yang masih utuh, yang belum ditembakkan.

Maka dengan hati-hati kami memasukkan peluru utuh tersebut ke dalam sebuah kantong. Setelah itu kami kembali pulang menyeberangi jembatan dan menuju ke base-camp. Di sana kami sembunyikan peluru-peluru tersebut di bawah bebatuan di semak-semak, lalu kami pulang ke rumah.

Keesokan harinya kami kembali ke pos dengan membawa beberapa perlengkapan berupa tang, pisau dan gunting. Acara geng GAGAS hari itu hanya satu, yaitu mencoba membongkar peluru-peluru utuh yang kemarin kami temukan, tentu saja tanpa ada yang boleh meledak.

Dengan sangat hati-hati kami melepaskan kepala peluru yang tajam itu dari selongsongnya. Semua ini harus dilakukan dengan sangat lembut, tidak boleh ada satu hentakan pun . Kalau sampai ada hentakan, atau peluru itu terjatuh apalagi terantuk di benda keras, maka mesiu yang ada di dalam peluru itu akan meledak, dan kepala peluru yang tajam itu bisa melesat dan menerjang apapun dan siapapun yang menghalanginya.

Setelah bersusah payah dan penuh ketegangan akhirnya sebuah peluru berhasil mereka buka. Lalu dengan cermat dan berhati-hati kami keluarkan mesiu yang ada di dalam peluru itu. Ini sungguh berbahaya, “please don’t try this at home” ya….

Mesiu yang sangat berbahaya tersebut berbeda-beda bentuknya, ada yang berbentuk seperti bihun yang berwarna kuning, ada juga yang berbentuk biji-biji batu yang kecil-kecil sebesar beras dan berwarna hitam. Mesiu itulah yang kemudian kami kumpulkan dengan hati-hati dan kemudian kami masukkan ke dalam kotak. Aku mengambil sejumput kecil mesiu itu lalu kubungkus dengan kertas timah. Nah, sekarang jadilah sebuah “bom kecil”.

Bungkusan kertas timah yang di dalamnya berisi mesiu itu kami letakkan di atas batu yang besar dan rata bagian atasnya, lalu ditumbuk dengan batu lainnya maka “DOR!!..”, terjadilah ledakan yang keras. Semakin besar bungkusan itu, semakin besar dan keras pula suara ledakannya. Kadang-kadang kami sering berpura-pura menembak ‘musuh’ dengan ledakan yang sebenarnya, dari mesiu itu.

Pada suatu siang, kami bersiap untuk mengadakan latihan perang-perangan secara besar-besaran antar kampung. Kampungku, yang berada di Selatan Jalan Raya Jurang Gempal, akan melawan Kampung yang berada di sisi Utara jalan raya. Perundingan pun diadakan, kami semua sepakat bahwa perang-perangan itu hanya akan menggunakan Granat Lontong, tidak boleh menggunakan batu, anak panah atau senjata tajam lainnya. Pertempuran akan dilakukan dengan saling melempar ‘granat’ berisi gamping (bubuk kapur).

Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Pasukanku berhasil mendesak musuh masuk ke utara jalan raya. Aku paling semangat berteriak memberikan aba-aba agar pasukan kampung kami maju menyerang lawan. Dan mereka pun dengan keberanian yang luar biasa maju ke depan sambil berteriak-teriak.

Aku memberikan aba-aba itu bukan dari depan, tapi dari belakang pasukan, karena pasukan terdepan adalah anak-anak yang badannya lebih besar daripada badanku. Dan aku pun harus selalu waspada memperhatikan barisan yang terdepan itu. Kalau mereka kelihatan akan mundur, maka aku akan berlari terlebih dulu meninggalkan pertempuran itu.

Beruntunglah anak-anak dari kampung kami berhasil memenangkan perang tersebut, dengan meninggalkan “kerusakan” parah di pihak lawan. Jalanan, halaman dan atap-atap rumah dipenuhi dengan bubuk berwarna putih, bagaikan salju yang menyelimuti rumah-rumah di Iceland, di dekat kutub utara sana. Sejak itu permainan perang-perangan yang biasa anak-anak suka lakukan ini dilarang.

Maka kembalilah anggota GAGAS, Geng Anak Gragas ke posnya, untuk kembali kepada tugas semula, mencari makan. Belalang! (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Selebriti Sekolah

SELEBRITI SEKOLAH

SAAT itu kota Wonogiri sudah mulai aman dan berangsur bebas dari suasana perang akibat pendudukan tentara Belanda. Kota Wonogiri kembali menjadi kota yang indah, aman dan nyaman. Gunung Gandul pun masih berdiri tegak dan gagah di sisi Barat kota Wonogiri.

Musim bersekolah dimulai kembali. Aku mulai masuk ke Sekolah Rakyat Negeri Tiga Wonogiri. Gedung sekolahnya tidak jauh dari rumah keluarga Pak Mojo di Jalan Jurang Gempal. Dari rumah, aku cukup berjalan kaki kurang lebih dua puluh menit untuk tiba sekolah.

Aku hanya tinggal menyusuri jalan raya di depan rumah, lalu belok ke kiri ke arah kota. Setelah mencapai ujung tanjakan, jalanan mulai agak rata. Di sisi kanan setelah tanjakan itu ada sebuah gedung penyimpanan garam, namanya Gudang Garam. Dari sana tinggal sedikit berjalan lurus, maka tibalah aku di sekolahku.

Di seberang gudang garam dan gedung sekolah tersebut terhampar luas sebuah tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon-pohon. Di situlah letaknya tempat pohon kenari yang biaa aku kunjungi.

Bagiku, sekolah bukan hanya sekedar tempat belajar saja, tetapi juga tempat berpetualang yang menggairahkan. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan penuh semangat dan riang gembira, karena aku percaya bahwa setiap hari akan selalu saja terjadi banyak hal-hal yang baru.

Kedatanganku di sekolah selalu disambut dengan ramah oleh teman-teman dan juga para guru. Mengapa? Karena di sekolah itu aku memang agak berbeda dari anak-anak lain. Aku adalah seorang anak yang berasal dari Jawa Timur, setiap hari mereka tidak sabar untuk mendengarkan aku berbicara dengan dialek Jawa Timuran.

Bahasa dan dialeknya memang berbeda. Misalnya: ”Ini bagaimana sih bung”. Kalau bahasa Jawa Tengah: ”Iki piye to cah”. Sedangkan bahasa Jawa Timuran: ”Yok oopo se, rek”. Jauh berbeda kan? Disamping itu di Jawa Tengah orang-orang berbicara dengan nada suara yang halus. Sedangkan aku yang bergaya Jawa Timuran mempunyai suara yang keras dan nyaris meledak-ledak kalau berbicara.

Setiap hari seluruh anak selalu tidak sabar menunggu terdengarnya lonceng tanda waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, anak-anak itu langsung berkerumun di pojok halaman sekolah. Mereka sudah siap menantikan kehadiranku, si Ompa.

Aku kadang-kadang tidak langsung juga mendatangi kerumunan itu. Biarlah mereka penasaran dulu. Saat akhirnya aku menghampiri kerumunan itu, aku selalu berjalan dengan pelan, berlagak seperti sang pengkhotbah yang datang dan mengharapkan sambutan dari para pendengarnya.

Sementara itu anak-anak perempuan hanya bergerombol dan melihat kami dari jauh. Setiap kali aku mencoba mendekati mereka, mereka selalu menghindar, sambil menutup mulut dan tertawa-tawa melihatku.

Tak lama kemudian aku pun sudah berada di tengah anak-anak tersebut dan mulai bercerita tentang pengalaman perangku. Kadang-kadang mereka terlihat kurang mengerti dengan apa yang aku katakan, karena aku memakai bahasa dialek Jawa Timuran, maka untuk memperjelas ceritaku, aku juga melakukan gerakan-gerakan tubuh dan tangan. Bukankah aku telah belajar itu dari si tukang obat, di pinggir alun-alun kota Malang, sewaktu aku masih TK dulu?

Sambil bercerita aku selalu sambil mengamati mata teman-temaku. Mata mereka melotot, terkagum-kagum padaku. Aku merasa senang dan sangat menikmati itu semua.

Pernah suatu hari, di saat jam istirahat sekolah, aku diminta datang ke kantor guru. Aku kaget dan khawatir kalau-kalau aku akan ditegur karena kebiasaanku suka berpidato di depan teman-teman. Di dalam ruangan kantor sudah berkumpul para guru. Aku diminta berdiri di depan mereka. Terus terang aku merasa tegang dan gugup.

Lalu para guru itu satu persatu mulai mewawancaraiku secara bergantian. Mereka memintaku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Persis seperti orang yang sedang diaudisi. Tetapi sesaat kemudan mereka mulai tertawa terbahak-bahak mendengarkan caraku menjawab dan bercerita.

Makin hari aku semakin merasa bagaikan seorang selebriti di sekolah itu. Setiap kali ada ibu atau bapak guru berpapasan jalan denganku, mereka tersenyum dan kemudian menepuk-nepuk bahuku. Aku merasa sangat bahagia.

Aku juga terkenal di sekolah karena aku suka menyanyi. Saat pelajaran menyanyi, anak-anak harus maju satu persatu. Seringkali aku sengaja dilewatkan dan tidak dipanggil. Setelah semua anak sudah mendapat giliran dan bernyanyi di depan kelas, baru kemdian aku diminta maju untuk menyanyi. Aku selalu menyanyi dengan lantang dan keras. Tak heran suaraku terdengar sampai ke seluruh sudut sekolah.

Siang hari, di saat bubaran sekolah, hanya teman-teman laki-laki yang pemberani lah yang mau berjalan bersamaku. Yang lain berjalan menjauh, apalagi anak-anak perempuan, mereka hanya tersenyum ke arahku dengan matanya, tetapi mulutnya ditutupi dengan tangannya. Mengapa? Karena mereka tahu di dalam ranselku seringkali ada seekor ular hidup melingkar. Aku memang sering membawa ular peliharaanku ke sekolah, untuk aksi-aksian saja, biar kelihatan keren.

Maka siang itu semua anak-anak pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tetapi tidak denganku, aku masih akan ada pertemuan penting dengan para anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di kebon kosong di seberang sekolahan, di bawah pohon kenari. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Naik Peringkat Satu Generasi

NAIK PERINGKAT SATU GENERASI

SAAT meninggalkan rumah Mbah Tanjung di kota Malang dan pindah ke kota Mojokerto, aku masih sekolah di Taman Kanak-kanak. Aku secara resmi telah diangkat sebagai anak oleh Mbah Mojo. Karena statusku sudah resmi menjadi anak Mbah Mojo, maka terjadi kekacauan dalam silsilah di keluargaku. Perubahan status ini berdampak besar pada diriku.

Sewaktu di Malang, biasanya aku memanggil anak-anak Mbah Tanjung dengan panggilan Om, seperti Om No dan Om Nu. Tetapi, setelah statusku menjadi anak Pak Mojo, maka mulai saat itu aku tidak boleh lagi memanggil mereka dengan panggilan Om. Aku harus memanggil mereka dengan Mas, Mas No dan Mas Nu. Jika aku sampai salah memanggil mereka, maka Pak Mojo akan marah besar.

Pak Mojo sangat keras dalam perkara panggilan ini. Demikian juga kepada seluruh anggota keluarga besar yang lain, aku diwajibkan memanggil mereka dengan cara yang baru. Sebenarnya hal ini membuat aku merasa seperti naik peringkat satu generasi, tetapi hal ini malah seringkali membuatku menjadi bingung. Pak Mojo tetap bersikeras meminta supaya panggilan kepada mereka diubah. Sementara keluarga besar lainnya seakan “tidak rela” dengan perubahan sistem panggilan ini. Mbah Tanjung menjadi Pak Tanjung. Om Nu menjadi Mas Nu. Yang semula Tante, berubah menjadi Mbak, dan seterusnya dan seterusnya.

Lucunya adalah keadaan pada saat tidak ada Pak Mojo di sekitar kami, semua panggilan akan kembali ke panggilan yang semula. Karena memang mereka menghendaki bahwa panggilan terhadap keluarga besar itu, tidak perlu diubah, tetap sama seperti saat aku belum diangkat anak oleh Pak Mojo.

Ketika ada keluarga besar datang berkunjung ke Mojokerto, sering terjadi keributan. Kalau aku salah memanggil mereka dengan sebutan yang lama, maka Pak Mojo akan marah besar. Marah baik kepadaku maupun kepada keluarga.

Keributan-keributan seperti ini membuat aku bingung dan merasa apatis jika menyangkut hubungan antar-keluarga. Memang beberapa anggota keluarga yang lain mengganggap kekisruhan ini sebagai hal kecil yang lucu dan biasa saja. Tetapi, bagiku, ini adalah hal yang sangat serius.

Suatu hari di rumah Mbah Mojo, kami saling memanggil dengan cara lama. Om ya Om, tante ya tante. Tetapi, tiba-tiba di antara mereka ada yang mengatakan, “Awas-awas, ada Pak Mojo!” Kami sempat panik, tapi kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.

Seringkali juga aku mendapat wejangan panjang lebar dari Pak Mojo, mengenai statusku di dalam keluarga besarnya. Maksud Pak Mojo, agar aku tidak salah dalam menyebut panggilan baru itu. Pak Mojo menjelaskan dan memberi contoh. Misalnya, kepada si ‘ini’ aku harus panggil ‘Mas’. Kepada si ‘itu’ sekarang harus panggil ‘Nak’, si ‘ini’ sekarang harus dipanggil ‘Pak’, begitu seterusnya. Sungguh membingungkan!

Sebenarnya aku merasa malas dan jengkel perkara perubahan nama panggilan ini. Tetapi, nyatanya perkara yang membingungkanku ini berlangsung terus.

Ya begitulah, mungkin hal ini terlihat kecil dan biasa untuk orang lain, tetapi tidak bagiku.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Perempuan Misterius

Skectch illustration by Tjatri Devi
Skectch illustration by Tjatri Devi

.

PEREMPUAN MISTERIUS

 

SEJAK masih bayi, aku tinggal di rumah Mbah Tanjung di Kota Malang. Aku tinggal bersama anak-anak lain yang lebih besar yang juga dititipkan oleh orang tua mereka. Alasan aku dititipkan adalah karena ayahku telah meninggal dunia ketika aku masih bayi.

Aku ingat secara samar-samar saat aku masih sangat kecil, saat aku belum bisa melakukan banyak hal. Mungkin saat itu aku baru bisa duduk dan merangkak, belum bisa berjalan.

Nah ijinkan aku sekarang mencoba mengingat-ingat jauh ke masa kecilku.

Aku masih ingat saat-saat dimana ada sosok seorang perempuan sedang duduk di depanku, di atas dipan. Perempuan itu memandangku sambil menangis. Saat itu, aku bingung, mengapa ia terus menangis di depanku. Siapakah perempuan itu sebenarnya. Terkadang aku digendongnya berjalan mondar-mandir di sekitar rumah Mbah Tanjung. Sebelum ia pergi, aku dikembalikan lagi ke atas dipan, lalu perempuan itu menangis lagi sambil memandangi aku. Tidak berapa lama kemudian perempuan itu pergi dan tak kelihatan lagi.

Pada lain waktu, kejadian seperti itu terulang lagi. Perempuan itu datang ke rumah Mbah Tanjung, duduk lagi di dipan tepat di depanku, menggendongku, dan menangis lagi sambil memandangiku, lalu ia pergi lagi.

Aku merasa aneh melihat perempuan asing itu. Pernah suatu kali aku digendongnya, berjalan mondar-mandir, diajaknya menuju halaman, melihat-lihat apa yang ada disitu. Ada ayam, kucing, burung, yang sepertinya ia ingin menunjukan semua itu kepadaku. Padahal aku ini sudah terbiasa melihatnya, karena memang binatang-binatang itu setiap hari ada di sekitar rumah Mbah Tanjung. Aku yang masih sangat kecil waktu itu menurut saja.

.Suatu pagi perempuan itu datang lagi. Tetapi, kali ini ia tidak menangis. Aku lalu ‘didandani’-nya dengan pakaian rapih. Tidak lama kemudian, aku telah berada dalam gendongannya, dan yang aku ingat, tiba-tiba kami sudah berada di tengah keramaian pasar. Ya, aku diajaknya ke pasar.

Di pasar, perempuan itu berbisik ke telingaku, “Koe arep opo?…(kamu mau apa?).” Aku lalu menunjuk apa saja yang ada di depanku. Ada kue, aku tunjuk, dan ia membelikan kue itu buatku. Lalu aku menunjuk lagi ke tempat lain. Ada permen, aku tunjuk, dan perempuan itu lalu membelikannya. Begitu seterusnya, apapun yang aku tunjuk selalu dibelikannya, hingga sekeranjang penuh. Aku merasa sangat bahagia saat itu. Pulang dari pasar, kami berdua naik becak. Di atas becak aku tertidur. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat sosok perempuan itu.

Bertahun-tahun kemudian setelah kejadian itu, aku baru mengerti bahwa perempuan misterius itu adalah Ibu kandungku.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Pertempuran Darat

KNIL
KNIL

PERTEMPURAN DARAT

 

SEPERTI yang pernah aku ceritakan sebelumnya, sejak tinggal di kota Mojokerto aku sudah berkenalan dengan suasana perang. Aku pernah menyaksikan serangan udara, penembakan canon Belanda ke wilayah tentara Republik, dan gempuran mortir tentara Indonesia ke kota yang sudah diduduki Belanda. Tetapi satu hal yang belum pernah aku lihat, yakni pertempuran darat langsung, seperti dalam film-film perang.

Perang membuat aku terpaksa mengungsi. Mulai dari Mojokerto, Jombang, Solo, lalu ke Wonogiri. Di kota terakhir ini Pak Mojo memutuskan untuk tidak akan mengungsi lagi. Semula aku juga berpikir begitu, karena mana mungkin tentara Belanda tertarik untuk menduduki kota ini. Toh Wonogiri hanya sebuah kota kecil.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Sejak kemarin malam, aku sudah mendengar suara dentuman-dentuman, semakin lama semakin dekat. Tetapi saat siang hari suara dentuman sudah tidak terdengar lagi. Jadi aku mengira bahwa tentara Belanda hanya ingin menakut-nakuti saja.

Namun, suara dentuman tadi malam terdengar semakin lebih mendekat. Apalagi suara itu terdengar seperti hujan peluru canon yang jatuh di kota Wonogiri. Aku lantas berpikir, sepertinya keadaan akan semakin serius.

Benar saja, tidak lama kemudian aku mendengar ada dua jenis suara tembakan. Yang satu suara rentetan tembakan dengan dentuman besar, sedangkan yang satunya terdengar lebih ringan dan letusannya hanya satu-dua kali, jarang-jarang. Aku langsung berpikir, mengacu pada sebuah film yang pernah aku tonton, bahwa ini seperti pertempuran darat.

Dua jenis suara tembakan itu semakin lama semakin mendekat. Sepertinya dari arah kota melalui Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami. Aku pun semakin bersemangat menempelkan mataku ke dekat kaca jendela, mengintip. Sedangkan Pak Mojo dan Bu Mojo duduk di lantai pojok ruangan. Pak Mojo menyuruhku untuk segera turun dari jendela, agar tidak kelihatan dari luar. Tetapi aku tetap bandel, mengintip ke luar sambil berdiri di atas kursi dekat kaca jendela.

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa tentara yang lewat sambil melepaskan tembakan, bergerak mundur ke arah Timur, ke arah jembatan sungai Bengawan Solo. Sedangkan dari arah kota, terdengar rentetan suara letusan senjata berat.

Lama kelamaan suara-suara itu seperti semakin mendekati jalan depan rumah. Dari dalam rumah terdengar derap sepatu tentara yang semakin lama semakin mendekat. Aku mendadak menjadi tegang dan takut, tetapi aku sungguh ingin melihatnya langsung. Benarkah itu suara derap sepatu tentara Belanda. Belum lama aku berpikir, muncul barisan tentara berbaju loreng yang masing-masing memegang senjata laras panjang. Aku sungguh terkejut dengan apa yang kulihat. Ternyata mereka bukan tentara yang berkulit putih, tapi berkulit gelap!

Aku jadi ingat, rupanya merekalah yang disebut tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). KNIL adalah pasukan yang biasa dipakai oleh Belanda untuk lebih dulu menyerbu ke daerah yang akan didudukinya. Anggota tentara KNIL kebanyakan adalah orang pribumi

Di jalanan depan rumahku, para tentara yang berbaju loreng itu berteriak-teriak sambil sesekali melepaskan tembakan. Mereka memerintahkan semua laki-laki dewasa agar segera keluar dari dalam rumah sambil mengangkat tangan.

Aku kemudian menyaksikan rumah tetangga di seberang jalan didobrak. Dengan sepatunya yang kuat, tentara itu menendang pintu rumahnya, karena terlalu lama tidak dibuka dari dalam. Aku menjadi semakin ketakutan.

Dan tiba-tiba saja aku melihat sudah ada seorang tentara di halaman rumah kami. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu depan dan keluar. Aku tidak mau pintu rumahku dirusak. Baik digedor atau didobrak seperti rumah tetangga itu.

Tentara itu bertanya sambil berteriak, apakah ada laki-laki dewasa di rumah kami. Sambil gemetar hebat tidak mampu bicara, aku hanya mengacungkan jari telunjukku. Yang ingin aku katakan adalah bahwa di rumah kami hanya ada satu lelaki dewasa.

Kemudian aku menjerit memanggil Pak Mojo agar segera keluar. Dengan ketakutan Pak Mojo keluar sambil mengangkat kedua tangannya. Tentara itu masih tidak percaya, bahwa memang hanya ada satu orang laki-laki di dalam rumah kami. Ia lalu memeriksa masuk ke dalam rumah. Setelah yakin tidak ada orang yang dicarinya, tentara itu menggelandang Pak Mojo keluar, ke tepi jalan.

Semua laki-laki itu diperintahkan untuk duduk berjejer di tepi jalan, sambil meletakkan kedua tangan mereka di belakang kepala masing-masing. Aku melihat, beberapa pemuda mendapat tendangan sepatu lars tentara. Aku melihat Pak Mojo tidak dipukul, hanya kepalanya saja yang digoyang-goyang.

Akhirnya, semua laki-laki itu digiring menuju ke arah kota dengan todongan senjata laras panjang. Saat hari telah menjelang sore, akhirnya Pak Mojo pulang kembali ke rumah dengan tidak kurang suatu apapun. Syukurlah…

Setelah kota Wonogiri mereka anggap aman, saat hari menjelang gelap baru tampak iring-iringan kendaraan militer berwarna loreng yang membawa tentara Belanda, berkulit putih, memasuki kota Wonogiri. Suasana malam itu sungguh mencekam. Kami tidak bisa tidur karena harus selalu waspada. Suara dentuman dan letusan senjata sesekali terdengar di kejauhan, di seberang Sungai Bengawan solo. Akhirnya kota Wonogiri juga diduduki oleh tentara Belanda, batinku.

Sepanjang malam kami berdoa agar tidak terjadi apa-apa malam itu, juga esok harinya dan hari-hari setelahnya. Aku juga berdoa agar kami tidak harus pergi mengungsi lagi. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Pemakan Serangga

 cso Belalang kayu

PEMAKAN SERANGGA

KETIKA suasana perang masih berkecamuk, semua daerah termasuk Wonogiri mengalami masa-masa yang sulit. Harga bahan-bahan pokok melambung, sangat tinggi, bahkan juga sangat sulit untuk mendapatkannya. Beras menghilang dari peredaran. Entah ke mana perginya. Maka, makanan kami sehari-hari adalah Tiwul, yaitu singkong yang dijemur di bawah matahari agar menjadi Gaplek, lalu ditumbuk halus dan ditanak seperti nasi. Jadilah… Sego Tiwul.

Pada mulanya makan Sego Tiwul setiap hari rasanya enak. Tetapi, kalau harus makan Sego Tiwul selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, ya repot juga… rasanya!

Ketika masa seperti itu, aku sering merindukan nasi putih. Saking rindunya, aku sering bermimpi sedang makan nasi putih dengan lauk ayam goreng. Jika tiba-tiba aku terbangun, aku menyesal. Kenapa harus terbangun tepat ketika enak-enaknya menikmati makan. Pernah juga aku bernazar, bahwa kelak kalau masa sulit ini telah lewat, aku akan makan sepiring nasi putih saja, tanpa lauk, tanpa sayur.

Sering sekali di meja makan hanya tersedia satu porsi. Satu piring nasi putih dan sepotong daging ayam goreng yang baru matang. Baunya harum sekali. Namun, nasi putih dan ayam goreng itu hanya untuk satu orang, yaitu Pak Mojo, ayah angkatku. Aku hanya berani berkeliling-keliling meja makan itu dan memandangi ayam goreng dan nasi putih itu sambil mengarahkankan hidungku ke arah sumber aromanya di atas meja itu. Aromanya, hemmm… seketika itu juga aku menelan ludah. Peristiwa seperti itu yang awalnya mendorong aku untuk bernazar.

Aku adalah makhluk “pemakan daging”, bukan manusia pemakan sayur atau buah-buahan. Rasa keinginan yang kuat untuk makan daging itu yang membuat aku mendirikan Geng Anak Gragas. Gragas berarti “suka memakan segala macam makanan, apa saja dimakan”. Maka, terbentuklah geng itu yang terdiri dari aku dan tiga orang temanku. Kami selalu berkumpul, merundingkan rencana dan operasi yang akan dilakukan.

Tujuan terbentuknya geng sudah jelas, adalah untuk berkelana sambil mencari makan, makanan apa saja yang dijumpai dan dimakan. Masing-masing dari setiap kami memperlengkapi persenjataan dengan sebuah pisau, tongkat panjang yang bercabang ujungnya, ketapel, jaring, dan korek api. Sedangkan di sakuku selalu siap sekantong garam, sekantong cabe rawit tumbuk, dan tembakau.

Operasi yang sering geng ini lakukan adalah, menuju lapangan di sekitar rumah kami. Di lapangan itu terdapat empat pohon kenari dan pohon mangga. Pohon kenari yang tinggi itu sedang berbuah rimbun. Kami menggunakan ketapel untuk meruntuhkan buah-buah kenari itu. Setelah buahnya berjatuhan di tanah, buah kenari itu kami tumbuk dengan batu besar agar kulit kerasnya pecah, dan terbelah.

Di dalam kulit keras itu terdapat biji kenari berwarna putih. Itulah sebenarnya yang kucari. Rasanya gurih. Tapi kadang-kadang biji kenari putih itu terburai akibat tumbukan kami dan tidak bisa diambil. Jika sudah begitu, maka aku korek memakai ujung peniti, hasilnya dimakan sedikit demi sedikit. Nikmat sekali!

Operasi geng Gragas berlanjut. Kami berjalan menyusuri kampung-kampung. Kalau ada pohon mangga yang sudah berbuah, maka salah satu anggota geng memanjat pohon itu tanpa suara. Kemudian memetik beberapa buah mangga, kemudian kami semua berlari menuju ke tanah kuburan di pinggir Sungai Bengawan Solo. Itulah letak basecamp atau kantor pusat geng kami.

Di sana kami duduk di rerumputan sambil memakan mangga muda disertai garam dan cabe rawit tumbuk yang sudah kami siapkan. Rasanya enak luar biasa!

Yang aku paling suka adalah jika menemukan mangga yang sudah menguning, alias matang di pohon. Aku lalu pelan-pelan memukul-mukulkan mangga itu ke tembok, ke pohon atau ke bebatuan. Perlahan dan terus-menerus hingga jika ditekan dengan tangan isi di dalam buah itu akan keluar kadang meleleh atau meleset kesana-kemari. Seperti jus mangga. Lalu aku mengigit dan menghisapnya sampai sesap habis. Jus manggaku ini adalah jus buah yang fresh, organik dan tanpa pengawet.

Operasi kami beralih ke semak-semak di sekitar tanah kuburan, lokasi basecamp geng kami. Di sana aku menemukan ular melata yang keluar dari semak-semak. Kami menangkap ular itu dengan menggunakan tongkat bercabang kami. Dari belakang, kupegang bagian kepala ular, lalu kuarahkan mulut ular itu ke belahan bambu sehingga ular itu menggigit bambu. Maka keluarlah cairan dari taring ular itu. Itulah racun ular.

Kemudian, giliran seorang temanku yang ahli menyembelih, menguliti dan memotong-motong ular itu. Setelah dipotong kecil-kecil, dagingnya ditusuk seperti sate. Tugasku selanjutnya adalah membuat api.

Setelah api membara, bersama-sama kami bakar sate daging ular itu hingga tercium aroma yang sangat sedap. Maka, pesta sate ular pun dimulai.

Geng Gragas juga sering beroperasi di dalam kampung-kampung. Jika kami menemukan ada gundukan-gundukan kecil di atas tanah. Itu pertanda di dalamnya ada makanan. Setelah gundukan itu aku singkirkan, maka akan tampak sebuah lubang kecil. Kemudian kumasukan sedikit tembakau ke dalam lubang itu dan mengisinya dengan air.

Dalam beberapa detik, maka akan keluar jangkrik berwarna putih yang penuh lemak. Jenis jangkrik putih itu namanya Gangsir. Gangsir-gangsir yang kami tangkap itu kami simpan di dalam kantong kain yang kami kalungkan di leher. Sambil berjalan sedikit tegap, kami melanjutkan operasi berikutnya.

Seperti operasi yang sudah-sudah, kami menuju ke semak-semak. Makanan yang paling banyak kami temukan di situ adalah belalang. Jika melihatnya, kami segera mengeluarkan jaring. Kami ikat jaring itu pada ujung tongkat yang kami bawa. Lalu dimulailah perburuan belalang. Biasanya kami mendapatkan belalang yang banyak sekali. Belalang-belalang hasil tangkapan, kami simpan di dalam kantung kami.

Selesai perburuan, kami kembali berkumpul di basecamp. Seperti biasa, tugasku adalah membuat api bebakaran. Geng Gragas siap berpesta serangga. Ada belalang, jangkrik, dan juga serangga lainnya termasuk entung (semacam kepompong) yang juga kami temukan di dalam semak-semak. Serangga-serangga bakar itu rasanya gurih dan lezat sekali.

Selain itu, menu favorit kami adalah burung bakar. Jika operasi perburuan burung dimulai, kami semua anggota geng menyebar. Senjata utamanya adalah katapel. Di daerah tempat tinggal kami banyak sekali burung yang hinggap di atas pohon dan juga di semak-semak. Burung yang terbanyak adalah Burung Tekukur. Dalam setiap perburuan, kami bisa mendapatkan tiga sampai lima ekor burung.

Petualangan Geng Gragas dilakukan hampir setiap hari. Kami selalu mendapatkan pengalaman-pengalaman yang seru, seperti ketika geng kami dikejar-kejar oleh pemilik pohon mangga. Dengan setiap hari berpetualangan, hidup kami selalu bergairah dan penuh tantangan. Hanya saja, Geng Anak Gragas itu dibenci oleh para orang tua yang menginginkan anak mereka bermain di dalam rumah. Anak-anak semacam itu kami namakan sebagai “anak rumahan”.

Dibandingkan dengan kami, anak-anak rumahan kulitnya lebih bersih dan halus. Maklumlah, memang mereka lebih banyak di dalam rumah, atau rajin cuci kaki dan cuci tangan, apalagi sebelum makan. Sedangkan kami, Geng Anak Gragas adalah brandalan yang hangus kulitnya karena sering terbakar matahari, terlebih lagi tangan kami yang baret-baret tidak karuan akibat perburuan di semak belukar.

Tetapi, kami merasa senang dan bahagia. Kami bebas berpetualang sambil mencari makanan kesukaan kami. Daging ular, daging burung, dan segala jenis serangga bisa menjadi santapan kami sehari-hari.

Kami juga sangat bersyukur bisa terbebas dari penyakit yang sering terjadi kepada anak-anak pada masa itu. Banyak anak yang terkena penyakit “kurang gizi”. Kami Geng Anak Gragas, justru mengalami “kelebihan gizi”. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sang Pemintal

Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.
Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.

SANG PEMINTAL

AKU dilahirkan di kota Malang, di rumah Mbah Tanjung, di Jalan Tanjung Gang Dua. Setelah aku sekolah TK, aku pindah ke kota Mojokerto. Aku diangkat menjadi anak oleh Pak Mojo, adik Mbah Tanjung. Dari Mojokerto aku terpaksa mengungsi ke arah barat, ke Jombang, lalu ke Solo, dan mengungsi lagi sampai ke Wonogiri.

Jika ditarik benang merahnya, maka perjalanan panjangku ini ternyata menuju ke akar dari garis silsilah keluargaku. Mengapa? Karena ayah kandungku, almarhum, yang telah meninggalkanku saat aku masih bayi adalah anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Kaligunting tinggal di Desa Kaligunting, yang jaraknya sekitar tiga puluh kilometer di sebelah selatan Kota Wonogiri. Mbah Kaligunting adalah seorang Kepala Desa yang disegani, baik oleh warga Desa Kaligunting sendiri maupun warga desa-desa di sekitarnya.

Di depan rumahnya, Mbah Kaligunting memiliki tanah yang sangat luas, yang ditanami dengan palawija seperti jagung, singkong, ubi jalar dan semacamnya, termasuk kapas. Jenis palawija itu tergantung dari musimnya.

Pada masa itu banyak daerah di Indonesia yang sedang mengalami kesulitan, termasuk Wonogiri. Harga bahan-bahan pokok melambung tinggi. Sehingga beras pun hilang dari pasaran, jikapun ada harganya sangat-sangat mahal. Maka makanan pokok kami sehari-hari adalah Tiwul, yang berasal singkong kering (Gaplek) yang ditumbuk halus dan ditanak seperti nasi. Jadilah Sego Tiwul. (Nama yang aneh, sebab Sego Tiwul berarti juga nasi tiwul). Di rumah kami yang boleh makan nasi putih hanya Pak Mojo, karena beliau adalah kepala keluarga.

Pak Mojo punya kebiasaan merokok, tetapi saat itu harga rokok juga sangat mahal sehingga tidak terbeli. Pada suatu hari aku perhatikan bahwa Pak Mojo terlihat menderita karena ingin merokok. Aku pun tiba-tiba punya ide untuk membuat rokok sendiri.

Kemudian aku minta ke Bu Mojo sejumlah uang untuk membeli tembakau dan kertas Sek (kertas tipis untuk membungkus tembakau). Aku pergi ke pasar membeli kertas Sek, tembakau merk Virginia dan sausnya yang berbau wangi. Aku lalu membuat alat pelinting rokok, berupa sebatang pensil yang bulat dan di tengahnya diberi kertas yang sudah dilem pada sebuah pensil, seperti bendera. Maka, proses pembuatan rokok dimulai.

Pada pangkal lembaran kertas itu aku letakkan gulungan tembakau, lalu kuratakan seperti bentuk rokok. Kemudian pensil itu diputar, sehingga menekan cukup padat gulungan tembakau. Pensil itu kuputar terus-menerus. Selanjutnya kuletakkan kertas tipis yang sudah diberi lem di pinggirnya, yang lalu digilas oleh tembakau dan pensil itu. Woallaa, maka keluarlah sebatang rokok dari kertas itu. Pekerjaan terakhir adalah menggunting kedua ujung rokok untuk membuang tembakaunya yang kurag rapi. Maka jadilah batang rokok pertama produksiku sendiri.

Sewaktu Pak Mojo menarik isapan pertama rokok itu, Aku tegang, menanti reaksi Pak Mojo. Setelah menghembuskan asap rokok pertama dari mulutnya, muka Pak Mojo berubah menjadi cerah. Katanya, rokok buatanku itu jauh lebih enak daripada rokok buatan pabrik.

Aku percaya itu, karena tembakaunya masih segar, apalagi kutambah dengan saus tembakau yang sangat wangi. Pak Mojo sangat gembira. Ia kemudian menceritakan ke teman-temannya tentang Rokok Made in Sutedjo itu. Pesanan pun mulai mengalir, dan aku mulai mendapat keuntungan dari pabrik rokok kecil-kecilan milikku.

Suatu hari kami mendapat kunjungan dari Mbah Kaligunting, beserta Mbah Putri dan diiringi oleh seorang pengawal. Mbah Kaligunting membawa oleh-oleh untukku, cucunya ini, sekarung besar kapas, hasil tanaman dari desanya.

Si Mbah rupanya mendengar bahwa aku sedang berbisnis rokok. Maka beliau memberi kapas itu untuk dijual, dan hasil penjualannya bisa untuk membantu keuangan keluarga di Wonogiri.

Setelah rombongan dari desa itu pulang, kuperhatikan kapas di dalam karung itu. Aku berpikir akan sayang sekali kalau kapas itu dijual begitu saja ke pasar. Maka, aku pun berlari ke rumah seorang temanku yang ibunya pembuat benang tenun. Rumah temanku itu berada di dalam kampung, dekat sungai Bengawan Solo.

Rencananya, aku hendak belajar cara membuat benang tenun dari kapas. Dalam waktu dua hari aku sudah menguasai cara pembuatan benang. Ibu temanku itu baik sekali. Aku dibolehkan meminjam alat pemintal miliknya yang sudah tidak dipakai lagi. Dibantu oleh temanku itu, aku pulang dengan penuh semangat membawa semua peralatan tersebut.

Maka sejak saat itu dimulailah produksi ‘Pabrik Benang Tenun’. Proses pembuatan benang dari kapas itu membutuhkan waktu yang cukup panjang dan perlu ketelitian.

Tahap pertama adalah mengurai serabut kapas yang putih menjadi serabut yang sangat jarang dan lembut. Caranya, aku menggunakan semacam busur panah. Tali busur panah itu kutarik-tarik dan dilepaskan di atas gumpalan kapas. Dengan begitu, serabut kapas itu akan menempel di tali busur. Dan yang menempel itu adalah serabut-serabut yang sudah terurai sehingga menjadi sangat jarang dan lembut sekali.

Serabut halus yang sudah menempel di tali busur itu kemudian aku lepas dan kumpulkan. Serabut-serabut itu siap dipintal.

Proses yang paling sulit adalah saat memintal, yaitu membuat serabut yang sudah halus menjadi benang. Itu perlu keterampilan, ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Tangan kananku memutar roda pintal. Roda itu dihubungkan dengan karet ke jarum pintal. Sehingga, jika aku memutar roda itu, jarum pintal akan berputar dengan cepat sekali.

Kemudian aku menempelkan ujung dari serabut halus itu, ke ujung jarum alat pintal yang sudah berputar. Maka, ujung jarum yang berputar itu akan memilin serabut itu dan tergulung menjadi benang.

Jika tangan kiriku yang memegang serabut itu sudah cukup panjang, ke belakang, maka roda harus dihentikan. Lalu, tangan kiriku memasukan benang yang sudah jadi itu ke tengah jarum sehingga benang tergulung. Jika melakukannya dengan emosi atau sambil marah misalnya, benang-benang itu akan kusut atau menggumpal tidak rata. Jika sudah begitu, maka aku harus mengulangi prosesnya dari awal lagi.

Benang yang sudah siap harus digulung dan dililitkan dari telapak tangan sampai ke siku. Setiap sepuluh lilitan diberi tanda, dengan ikatan benang juga. Jumlah ikatan itulah yang dipakai untuk menghitung panjangnya benang. Gulungan benang itu kemudian ‘diukel’, yaitu digulung seperti rambut yang dikepang.

Benang buatanku ini lama kelamaan menjadi terkenal di seluruh pasar di Wonogiri, karena kuat dan halus merata. Aku membawa gulungan benang itu di dalam tas besar yang terbuat dari anyaman daun pandan kering.

Pagi itu aku membawa empat ‘Ukel’ (gulungan) benangnya di dalam tas pandan. Aku menjepit tas itu dengan ketiak, sambil tanganku menjepit lubang tas bagian depan. Sewaktu aku memasuki pasar dan menuju ke tempat penjualan benang tenun, seperti biasa Mbok-Mbok banyak yang memanggilku, agar aku bersedia menjual benang kepada mereka. Tetapi, aku menemui seorang Mbok langgananku. Di depannya aku langsung berjongkok. Sewaktu merogoh tas, aku terkejut setengah mati. Tasku ternyata… kosong!

Empat gulung benang milikku yang kubuat susah payah lebih dari satu minggu itu telah lenyap dari tasku. Aku hampir pingsan. Mbok-mbok di situ mengerumuniku. Mereka mengatakan, bahwa benangku itu pasti telah diambil orang, karena tas pandan yang besar itu pada bagian belakangnya bolong melompong tidak tertutup.

Tanganku waktu itu ternyata terlalu kecil dan hanya sampai pada bagian tengah dan depan tas saja. Aku menangis tersedu-sedu dan duduk di tanah, di belakang Mbok-mbok itu berdiri. Aku sangat kecewa dan sedih sekali. Hingga sore hari aku hanya duduk termenung di situ.

Saat pasar mulai sepi, ada beberapa orang yang merasa kasihan kepadaku, mereka memberi minum dan makanan kepadaku. Menjelang maghrib, aku berjalan gontai menuju pulang. Perjalanan pulang itu terasa sangat panjang dan lama sekali, tidak kunjung sampai ke rumah.

Berhari-hari aku merenungi kejadian itu. Aku tidak habis mengerti, mengapa ada orang sejahat itu kepadaku. Aku terbayang kerja keras proses pembuatan empat ukel benang itu yang memakan waktu berhari-hari.

Pada saat kesedihanku mulai pudar dan aku siap hendak memintal benang lagi, di saat itu aku baru sadar bahwa stok kapas dari Mbah Kaligunting sudah habis. Ternyata, empat ukel yang hilang itu adalah empat ukel terakhirku!

Berakhir sudah nasib ‘Pabrik Benang Tenun’. Maka semua peralatan pemintalan pinjaman itu kukembalikan ke rumah ibu temanku. Setelah menyerahkan dan mengucapkan banyak terimakasih, aku pulang dengan berjalan setengah berlari. Aku pulang dengan semangat baru karena ini lah saatnya aku akan berganti bisnis! (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Gentong dan Siwur

.

Ilustrasi sketsa by Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

GENTONG DAN SIWUR

KOTA Wonogiri, bagiku, adalah kota yang indah. Selama tinggal di kota yang berbukit-bukit ini aku merasa nyaman., meskipun kota Wonogiri bukan termasuk kota besar.

Dari pusat kota, sepanjang jalan ke arah timur, jalan raya tampak menurun, landai hingga ke sungai Bengawan Solo. Di sungai itu terdapat sebuah jembatan. Satu-satunya jembatan yang menjadi penghubung antara desa dan kota. Daerah yang menurun di sekitar jembatan itu bernama Jurang Gempal.

Di tepi jalan raya yang melandai itulah, letak rumah yang kami tempati. Rumah kami sangat istimewa. Bentuknya bagaikan tribun stadion sepakbola, karena berada lebih tinggi dari jalan raya. Dari tepi jalan raya itu, kami harus menaiki empat tangga yang terbuat dari batu kali untuk sampai ke halaman rumah. Dan masih dua tangga lagi untuk tiba ke lantai teras rumah kami.

Dari teras depan rumah ini aku bisa memandang dan mengamati dengan jelas kondisi jalan raya, yang sangat lengang. Hanya sesekali aku mendengar deru mobil truk yang menanjak ke barat menuju pusat kota. Suara mesin truk yang bermuatan berat dan penuh berbunyi meraung-raung keras karena harus berjuang mendaki jalanan yang menanjak. Biasanya truk-truk itu membawa hasil bumi dari desa-desa menuju ke Pasar Kota Wonogiri.

Pasar Kota Wonogiri terletak di pusat kota. Meski cukup luas areanya, pada hari-hari biasa pasar itu tidak terlalu ramai. Kecuali pada hari-hari khusus, atau yang disebut dengan Hari Pasaran, yaitu satu hari sekali dalam sepekan.

Pada Hari Pasaran, pasar ini dipenuhi sesak oleh para penjual dan pembeli. Saking ramainya bahkan sampai tumpah ke tepi jalan raya, hingga di depan pertokoan. Mereka bukan hanya berasal dari kota Wonogiri, tetapi juga dari desa dan kota-kota sekitarnya. Mereka datang dari segala penjuru arah. Jika orang-orang itu yang datang dari arah Timur, dari desa-desa di seberang sungai Bengawan Solo, mereka pasti melewati jalan di depan rumah kami.

Aku tentu saja juga ingin terlibat dalam kemeriahan Hari Pasaran itu. Hari itu aku sudah bangun sejak masih gelap. Aku mempersiapkan gentong (semacam guci gemuk bermulut kecil yang terbuat dari tanah liat). Gentong itu kubersihkan, lalu kuletakkan di tepi jalan tepat di depan halaman rumah.

Kuisi gentong itu dengan air sumur hingga penuh, lalu kututup dengan sebuah papan kayu. Untuk mengambil air dari dalam gentong, kusiapkan sebuah siwur. Siwur adalah sebuah tempurung kelapa yang sudah dibersihkan, dihaluskan dan diberi gagang kayu.

Gentong berisi air dan siwur ini kusediakan untuk orang-orang menuju ke pasar yang nanti akan melewati rumah kami. Jika mereka kehausan dalam perjalanan, mereka boleh minum dari gentong-ku itu. Gratis, bahkan dengan senang hati. Gentong-gentong seperti ini juga disediakan oleh penghuni rumah lain, jika rumahnya dilewati rute orang menuju pasar pada Hari Pasaran.

Walau hari masih gelap, tetapi dari jalan Jurang Gempal sudah mulai terdengar suara bersahut-sahutan, “kiit, kiit…, kiit, kiit…” Bunyi itu berasal dari serombongan lelaki yang membawa barang dengan pikulan dari bambu. Karena terbebani berat, bambu pikulan itu melengkung naik-turun, dan menimbulkan bunyi yang berirama ritmis. Jika berbunyi cepat dan nyaris tanpa jeda, pertanda bahwa orang yang memikul sedang berlari atau berjalan cepat setengah berlari.

Sewaktu aku berjalan ke depan rumah untuk mulai mengisi air ke dalam gentong, Aku melihat mereka bergerak berombongan. Tubuh mereka tampak kuyup dibasahi keringat. Mereka berlari dengan senyap, tanpa ada yang berbicara. Beberapa terlihat sudah kelelahan, tapi mereka terus berlari. Mungkin mereka itu ingin segera sampai tujuan. Entah berapa puluh kilometer jarak yang sudah mereka tempuh dari desa mereka.

Saat sinar remang-remang mulai muncul di ufuk timur dan suasana di jalanan depan rumah semakin ramai, maka itu tandanya kemeriahan Hari Pasaran sudah dimulai. Dari arah timur datang serombongan besar mbok-mbok (ibu-ibu) Setelah tampak dekat, aku mengamati mereka berjalan berkelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kecil itu terdiri sekitar lima orang.

Mbok-mbok itu berjalan berurutan bagaikan kawanan semut, yang bersuara ribut, berbicara keras-keras satu sama lain. Memang begitu. Jika seorang Mbok yang paling depan bicara, maka suaranya harus bisa didengarkan Mbok yang paling belakang. Kalau sampai tidak terdengar, maka Mbok yang paling belakang akan protes, berteriak-teriak, dan akan membuat suasana semakin gaduh. Topik perbincangan mbok-mbok di setiap kelompok-kelompok kecil itu pun berbeda-beda.

Mbok-mbok itu, kebanyakan memakai pakaian kebaya yang longgar agar dapat bergerak leluasa dan cepat. Pada bagian lengannya digulung sampai ke siku. Sedangkan yang bagian bawah sedikit di atas lutut.

Tiba-tiba ada satu Mbok, anggota kelompok kecil keluar dari rombongan barisan, menuju ke arah gentongku. Dari jarak dekat, aku mengamatinya. Mbok itu membuka tutup gentong, lalu mengambil air dengan siwur dan meminum airnya. Setelah itu, ia membasahi muka, tangan dan menyiram kedua kakinya dengan air dari gentong milikku.

Tidak berlama-lama, Mbok itu lalu menutup gentong dan pergi begitu saja. Ia tidak menyapaku sama sekali. Padahal aku sedang duduk di tangga batu, di depannya. Ia lekas berlari menyusul dan kembali ke dalam kelompoknya. Seperti takut ketinggalan informasi di tengah pergunjingan sedang berlangsung seru.

Ada lagi yang unik, aku pernah melihat seorang Mbok di kejauhan yang tiba-tiba keluar dari rombongannya. Ia berlari menuju rerumputan di pinggir jalan, lalu mengangkat kainnya ujung bawah dan kemudian kakinya mengangkang. Apa yang dilakukannya? Mbok itu kemudian, maaf, pipis sambil berdiri! Di Hari Pasaran kejadian ini merupakan pemandangan yang sudah sering dan biasa terjadi.

Kembali ke gentong. Tugasku adalah menjaga agar gentongku selalu terisi penuh. Hari itu gentongku sangat sering disinggahi Mbok-mbok. Maklum matahari mulai meninggi dan hari sudah terasa panas. Semakin siang orang-orang yang lewat di depan rumah kami semakin berkurang. Aku membayangkan, siang itu Pasar Kota Wonogiri pasti sudah melimpah ruah dengan para pedagang, penjual hasil bumi, dan hasil kerajinan dari desa masing-masing.

Sore harinya, sekitar jam tiga, matahari sudah mulai condong ke barat. Kemeriahan Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami pun dimulai lagi. Jika pada paginya, barisan manusia itu datang dari desa menuju kota, sebaliknya pada sore hari orang-orang dari pasar itu seakan berbaris tiada terputus, pulang menuju desa mereka masing-masing.

Sebelum barisan itu datang, aku sudah mengisi gentongku penuh-penuh. Sore ini yang terjadi jauh lebih meriah dan lebih heboh dibandingkan tadi pagi. Kalau tadi pagi yang bersuara ribut hanya mbok-mbok saja, kali ini justru yang para lelaki yang paling heboh.

Mereka tertawa keras-keras, berbicara dan berteriak-teriak. Mengapa? Sebab ketika berangkat di pagi hari, mereka memikul beban bawaan yang sangat berat, sedang dalam perjalanan pulang mereka hanya membawa pikulan kosong. Mereka bisa berjalan seenaknya, tidak lagi harus diatur oleh ritme pikulan yang membebani pundak mereka.

Para lelaki itu membawa kain polos berwarna mencolok. Merah, kuning, dan sebagainya. Anehnya kain warna-warni itu tidak dilipat dan disimpan di keranjang yang dipikulnya, tapi dikibar-kibarkan, ada yang dikalungkan di leher atau diikatkan di kepala.

Mereka ingin menunjukkan kebanggaan dan kebahagiaannya satu sama lain. Bahwa barang dagangan mereka terjual habis, ada yang mungkin bisa membelikan oleh-oleh untuk kekasih atau isterinya di rumah. Walaupun mungkin kelihatan agak berlebihan, tetapi kain-kain warna mencolok itu adalah simbol hasil dari jerih payah mereka bekerja keras selama sepekan ini. Dan juga tentunya, adalah imbalan dari beratnya memikul hasil bumi mereka, dari desa menuju pasar di pusat kota.

Melihat semua itu aku ikut senang. Terlebih karena air gentongku sore itu tetap laris-manis, menghilangkan dahaga mereka.

Matahari sudah bersembunyi dibalik Gunung Gandul, meninggalkan semburat cahaya berwarna jingga, yang semakin lama semakin redup. Hari mulai gelap. Aku bergegas membereskan gentong dan siwur. Kubuang air yang tersisa, kubersihkan dan kusimpannya kembali di dapur. Tugasku pada Hari Pasaran ini selesai sudah.

Gentong dan siwur telah beristirahat kembali agar siap untuk menjalankan tugas mulianya pada Hari Pasaran pekan depan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Terbang di atas Bengawan Solo

Jembatan kereta api yang melintasi Bengawan Solo.

.

TERBANG DI ATAS BENGAWAN SOLO

SOLO merupakan kota yang paling nyaman dan tentram menurutku. Setiap hari, dimanapun itu, selama masih berada di kota Solo, sayup-sayup akan terdengar alunan musik keroncong, atau musik gamelan Jawa yang mengalun lembut. Benar-benar membuat hati damai.

Namun, yang selama ini aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ketenangan kota Solo terkoyak oleh kerasnya suara bom. Anak-anak di sekitar rumah kami menjadi panik mendengar dentuman-dentuman keras itu. Tetapi, aku tampak tenang-tenang saja. Kepada mereka aku bilang bahwa itu suara perang. Lalu aku pun bercerita, pengalaman-pengalamanku melihat perang. Terutama pengalaman sewaktu di Mojokerto, ketika aku tiarap di depan meriam Belanda yang sedang ditembakkan.

Mendengarkan aku bercerita, mereka terkagum-kagum. Termasuk anak-anak yang lebih besar dariku. Mungkin mereka melihat caraku bercerita, sehingga mereka percaya bahwa aku tidak bohong dan mengada-ada. Seperti biasa, aku menikmati perhatian dan reaksi mereka.

Pada suatu siang, seingatku, aku sudah berada di atas sebuah truk. Truk yang akan membawaku kembali mengungsi. Truk pengangkut pengungsi ini langsung menuju ke arah selatan, keluar dari kota Solo. Belum jauh menempuh perjalanan dari kota Solo, jalan besar yang akan dilewati di depan kami ditutup. Beritanya, di depan ada jembatan yang terputus karena terkena ledakan bom.

Aku tidak tahu siapa yang menghancurkan jembatan itu, apakah tentara Belanda, atau tentara kita sendiri. Sebab, pada waktu itu ada istilah yang disebut dengan “Bumi Hangus”. Artinya, pihak Republik sendiri yang menghancurkan tempat-tempat penting, seperti jembatan atau bangunan tertentu, tujuannya agar nanti tidak bisa dipergunakan oleh tentara Belanda.

Akhirnya, truk kami berbelok memasuki jalan bertanah, melintasi kampung dan sawah-sawah. Kemudian, tahu-tahu, truk kami sudah berjalan di atas rel kereta api. Sebuah petualangan yang sangat menarik buatku tentunya.

Jadi, di atas landasan rel kereta api itu diletakkan papan-papan berjejer selebar dua papan dengan ukuran lebih lebar sedikit dari roda truk. Itu semua dijejer sepanjang rel kereta api dan roda-roda truk kami harus melewati papan-papan tersebut. Sungguh menegangkan, tapi seru!

Aku memperhatikan, membayangkan pengemudi truk kami pasti sudah sangat berpengalaman. Ini terlihat dari caranya mengemudikan truk, jalannya pelan tapi pasti. Pak sopir dibantu oleh dua orang kenek yang berdiri di luar pintu truk kiri dan kanan. Mereka bertugas mengawasi jalannya roda-roda depan, memastikan roda berjalan tepat di tengah papan-papan kayu.

Semua penumpang truk pun tegang, tidak hanya aku. Tetapi, melihat kelihaian pak sopir mengemudikan truk itu, aku yakin akan selamat. Truk berjalan dengan lancar, tidak tersendat-sendat. Itu yang membuatku hampir lupa, bahwa truk kami sedang berjalan di atas papan kayu dan di atas rel.

Sewaktu aku melihat jauh ke depan, aku sangat terkejut. Truk kami akan melewati jembatan besi yang sangat panjang. Jembatan itu melintasi sungai Bengawan Solo yang sangat lebar. Tapi kemudian, truk kami sudah berada di atas jembatan. Ini lebih seru, petualangan yang takkan terlupakan.

Aku segera bergegas, berdiri di pinggir bak truk yang paling depan. Luar biasa, seperti terbang rasanya. Aku merasa sedang terbang di atas sungai Bengawan Solo. Sungai yang lebar dan dalam itu berada di kiri-kanan kami.

Tiba-tiba aku teringat akan si Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung dulu di Malang. Seharusnya Cacak melihat ini. Aku sedang berada di depan, memimpin rombongan pengungsi. Bukan dengan berjalan kaki, tapi di atas truk, di atas jembatan, di atas sungai yang sangat lebar dan dalam. Pasti Cacak akan bangga melihatnya, menyaksikan aku bekas anak buahnya yang dulu pernah diangkat sebagai anggota Geng ketika aku masih TK.

Akhirnya, truk kami sampai ke jalan besar, dan berjalan terus menuju ke arah selatan, menuju kota Kabupaten Wonogiri. Di kejauhan, aku melihat deretan gunung yang memanjang, bagaikan sedang berbaris dari utara ke selatan. Pada salah satu puncaknya terlihat sebuah batu yang sangat-sangat besar. Orang yang berdiri di belakangku mengatakan bahwa batu besar yang di atas itu berada di puncak Gunung Gandul.

Gunung Gandul adalah gunung yang sangat terkenal untuk wisata. Bahkan, ada lagu yang berjudul Gunung Gandul. Kata orang-orang, Kota Wonogiri terletak di balik gunung tersebut. Untuk sampai ke kota tujuan, truk kami, truk para pengungsi perang, mulai menanjak, mendaki untuk melompati gunung, untuk menuju ke kota yang berada di balik gunung batu itu. Kota Wonogiri.

Setelah berhasil mendaki, lalu menuruni bukit, truk kami masuk ke kota Wonogiri. Sejak pada pandangan pertama, aku sudah jatuh cinta kepada Wonogiri. Jalanan di kota ini berbukit-bukit, naik dan turun, tidak ada jalan yang rata seperti kota-kota lain yang pernah aku datangi. Mungkin, karena Kota Wonogiri ini berada di kaki gunung batu itu.

Di sebelah barat, terlihat Gunung Gandul yang di atasnya terdapat sebuah batu yang maha besar itu. Dari pusat kota Wonogiri ke timur, terlihat jalanan menurun sampai ke tepi Sungai Bengawan Solo yang sangat lebar nan dalam. Di sisi utara Wonogiri, ada lagi sebuah gunung di mana sisi kaki gunung itu ditumbuhi pohon-pohon jati. Sungguh indah!

Namun, jika kita memandang ke arah Selatan pandangan mata akan sampai ke Pantai Selatan. Aku merasa bahwa sepertinya kota ini akan menjadi tempat yang cocok bagiku untuk berpetualang.

Di dalam hati, aku sempat bertanya lagi, apakah suatu saat nanti tentara Belanda juga akan menyusul ke kota ini? Dan kami harus pergi mengungsi lagi? Sementara sebelah selatan Kota Wonogiri adalah Laut Selatan. Apa kami harus nyebur ke Laut Selatan?

Semoga kota ini menjadi tempat pengungsian kami yang terakhir. Semoga… (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Blog di WordPress.com.

Atas ↑