Cari

Antonius Sutedjo

Antara Nasi dan Makan

CSO nasi

ANTARA NASI DAN MAKAN

MAKAN adalah bagian terpenting di dalam kehidupan masa kecilku. Alam pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan perkara makan. Aktivitasku sehari-hari pun selalu melibatkan perkara ini.

Pagi hari bangun tidur, fokusku adalah menunggu makan pagi. Siang hari, yang kupikirkan adalah menanti makan siang. Juga pada malam hari, aku baru bisa tidur sempurna kalau sudah makan malam. Bagiku, yang disebut makan itu berarti makan nasi.

Aku pun memiliki banyak istilah yang berhubungan dengan masalah “makan”. Dan istilah-istilah tersebut aku pegang dengan teguh. Istilah “jalan-jalan”, misalnya, aku artikan sama dengan “makan-makan”. Maksudnya, kalau kita pergi jalan-jalan, ya harus makan-makan. kalau tidak ada makan-makannya itu bukan jalan-jalan namanya.

Seringkali yang mengecewakanku, istilah versiku berbeda dengan istilah versi para orang tua. Mereka tidak mengerti bahwa makan adalah persoalan “hidup dan mati” bagiku.

Pernah pada suatu sore orang tua angkatku, Pak Mojo dan Bu Mojo, mengajakku jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto. Kami berkunjung ke rumah teman Pak Mojo. Kunjungan itu cukup lama. Aku bersabar, sebab aku berharap nanti sewaktu pulang pasti akan akan ada acara makan-makan. Aku pun sudah membayangkan menu makanan apa yang nanti akan kupilih. Aku sabar menanti.

Tetapi tenyata yang kemudian terjadi, kami langsung pulang ke rumah. Tidak singgah ke restoran lebih dahulu! Bagiku, hal ini tidak sesuai dengan apa yang “seharusnya” terjadi. Aku lalu protes keras, dengan cara menutup pintu kamar keras-keras sambil menunjukkan kejengkelanku. Tetapi, mereka justru memandang heran ke arahku. Mereka tidak memahaminya. Aku merasa tidak diperhatikan, dicuekin. Hal yang seperti itu sering menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan membekas lama di hati aku.

Aku juga punya istilah lain perihal makan. “Makan-makan” itu artinya “makan nasi”. Kalau bukan nasi yang dimakan, itu namanya “jajan-jajan”. Ada lagi, jika makan-makan yang dilakukan di luar rumah, menurutku itu namanya rekreasi, atau jaman sekarang istilahnya wisata kuliner.

Seringkali setelah makan-makan di luar, setelah pulang, setibanya di rumah, aku minta makan lagi. Maka terjadilah kehebohan kecil, akibat benturan persepsi tentang istilah itu. Para orang tua seringkali tidak mau mengerti, bahwa bagiku perkara ini sudah seperti masalah harga diri. Seharusnya mereka “wajib” menghargainya, termasuk penggunaan istilah-istilah yang telah kubuat sendiri.

Sebenarnya persoalan apa yang membuat “per-makan-an” ini sangat serius dan sensitif bagi diriku pada masa itu? Beginilah riwayatnya.

Peristiwa ini terjadi ketika aku tinggal di rumah Mbah Tanjung. Pada waktu masih balita, ketika mulai bisa berjalan, berdiri sambil merayap-rayap sambil berpegangan pinggir dipan, aku mulai bisa mengamati sayup-sayup segala kejadian di sekitarku. Aku melihat orang-orang yang bejalan mondar mandir. Rupanya mereka sedang membantu Mbah Putri yang sedang memasak di dapur.

Kadang-kadang ada seorang Tante yang sedang berjalan menghampiriku, dan mencubit lenganku kuat-kuat. Aku merasakan cubitannya itu sakit sekali. Kalau nyubit nggak kira-kira! Setelah itu biasanya aku berteriak sekeras-kerasnya. Teriakanku itu kadang-kadang ada hasilnya, Mbah Putri akan menyuruh Tante-tante itu agar tidak menggangguku.

Kadang-kadang ada juga seorang Om yang tiba-tiba mendekatkan mukanya hingga hampir menempel ke mukaku. Ia lalu memperlihatkan muka terjeleknya yang seperti muka setan itu ke depan hidungku. Aku hanya terdiam, tanpa reaksi apapun. Karena toh hal itu tidak menyakitiku. Yang terpenting dari semuanya itu, yang aku tunggu-tunggu, yaitu prosesi pembagian… makan! Maka, segala rasa sakit dicubit akan serta merta menghilang, terhapus oleh nikmatnya makanan. Aku kemudian mencoba mengambil kesimpulan sendiri, bahwa nikmatnya makan akan selalu menghilangkan rasa sakit.

Kembali ke kota Mojokerto. Perkara benturan persepsi antara anak kecil dan orang tua tentang istilah makan ini terus berlanjut. Tetapi, sepertinya selalu saja pihakku yang dikalahkan. Hingga pada suatu pagi menjelang siang terjadilah sebuah peristiwa penting. Rumah kami kedatangan tamu, seorang Tante tetangga kami. Di ruang tengah ia mengobrol lama sekali dengan Bu Mojo. Sewaktu aku berjalan hendak melintasi mereka, Tante itu menyapaku, Hei, kamu sudah sarapan?” Aku spontan menjawab, “Belum Tante…” Aku menjawabnya dengan keras, tegas dan sesuai kenyataan.

Entah mengapa setelah itu sang Tante kelihatan merasa tidak enak kepada Bu Mojo. Ia kemudian cepat-cepat pamit pulang. Tak berapa lama, ketika aku sedang duduk-duduk di teras depan, tiba-tiba terdengar suara keras Bu Mojo memanggilku dari dapur. Ketika aku mendatanginya di dapur, aku kaget melihat wajah Bu Mojo yang merah padam. Mendadak sebuah sotil, sendok besi penggorengan, panas hampir saja menyambar kepalaku. Aku berdiri tegak di depan Bu Mojo sambil menatapnya dengan muka penuh tanda tanya.

Apakah salahku?, pikirku. Aku tidak mengerti mengapa Bu Mojo marah besar. Bu Mojo sampai berteriak-teriak, bahwa aku telah membuat malu keluarga di depan orang lain; bahwa keluarga kita adalah keluarga yang terhormat, sehingga tidak sepantasnya dipermalukan seperti ini, dan seterusnya dan seterusnya, masih panjang lagi.

Tetapi, aku masih tetap saja belum paham apa maksud Bu Mojo. Sampai akhirnya Bu Mojo bertanya, “Kenapa tadi waktu ditanya Tante, apakah kamu sudah sarapan, kamu jawab belum!”

Rupanya soal itu pokok masalah Bu Mojo marah. (Aku hanya menjawab di dalam hati, “Ya, memang belum sarapan”). Lantas, Bu Mojo melanjutkan dengan nada semakin keras, “Lalu yang kamu makan tadi pagi itu apa?”.

“Ketan,” jawabku lirih.

“Lha (ketan) itu kan juga sarapan!” kata Bu Mojo.

Nah, menjadi jelas sudah, sumber masalah besar yang dihadapi aku hadapi. “Sarapan” bagi Bu Mojo adalah makan apa saja pada pagi hari. Sedangkan dalam kamusku, “sarapan” adalah “makan nasi” pada waktu pagi. Masih terasa sambaran angin sotil pada pagi hari menjelang siang itu.

Bagaimanapun peristiwa itu ada hikmahnya bagiku. Sejak saat itu, setiap sarapan pagi selalu tersedia nasi! Mungkin itu berarti Bu Mojo telah mengakui bahwa, kamuskulah yang benar. Atau, mungkin juga Bu Mojo takut kalau tidak diberi nasi di pagi hari, aku akan berkeliling kampung, dan memberitakan kepada seluruh warga bahwa pagi itu aku belum diberi sarapan.

Namun, semua ini baru kemungkinan, dan perlu dikaji lebih lanjut. Setidaknya toh untuk sementara ‘kamus’ istilahku tentang pengertian makan yang dijadikan sebagai acuan resmi di rumah keluarga Pak Mojo. Demikian harap maklum. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kembang dan Kumbang

Duapuluh dua Agustus, seribu sembilan ratus enampuluh enam,
Duapuluh dua Agustus, seribu sembilan ratus enampuluh enam,

KEMBANG DAN KUMBANG

-Edisi Spesial. Edisi Anniversary Ompa & Utie ke 49-

AKU, si Ompa, dan juga isteriku yang biasa dipanggil Utie, merasa sering kerepotan ketika ditanya oleh anak cucuku mengenai kisah percintaan kami. Misalnya, pertanyaan yang sederhana ini. “Ompa sama Utie, siapa yang naksir lebih dulu?” Jawabannya bisa membuat keadaan heboh.

Aku merasa, Utie yang naksir lebih dulu. Sebaliknya, Utie merasa bahwa aku yang mendekatinya lebih dulu. Apalagi kalau ada permintaan agar menceritakan kisah pertemuan dan percintaan Ompa-Utie. Permintaan yang sulit bagiku dan Utie. Sulit, karena mau dimulainya dari mana, dan bagian mana yang mau diceritakan.

Mengapa? Karena banyak hal yang terlanjur menjadi rahasia, yang tidak boleh diketahui orang lain. Kami berdua, Ompa dan Utie, sering menggunakan istilah, isyarat, atau sejenis sandi, yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua. Kalau orang lain mendengarkan, pembicaraan itu akan terasa aneh dan lucu.

Bagi yang sudah menikah pasti maklum sebab adanya suatu rahasia. Tetapi, baiklah, akan aku coba untuk ceritakan.

Utie, dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, di daerah elit yang bernama Menteng. Tepatnya di Jalan Cilacap No.1. Utie dibesarkan di dalam keluarga yang terhormat, sangat tertib dan memiliki disiplin yang ketat.

Sedangkan aku dilahirkan di daerah pinggiran kota Malang, di Jalan Tanjung Gang Dua. Sejak masa kanak-kanak, aku sudah memiliki kehidupan yang cukup bebas. Aku bisa bebas bermain dan bergaul dengan siapa saja, dan biasa melakukan banyak hal yang bersifat petualangan.

Utie kuliah di universitas negeri yang sangat kondang, Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba Raya. Sedangkan aku saat itu sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, PNS, sambil melanjutkan kuliah di sebuah universitas swasta, yang tempat kuliahnya menumpang di kampus UI. Tepatnya, di ruangan belakang kampus, di ruangan yang biasa dipakai untuk nonton film bagi para mahasiswa UI.

Pada masa itu, di samping kuliah, kami juga ikut menjadi anggota sebuah organisasi mahasiswa yang sangat populer waktu itu. Utie lebih dulu menjadi anggota organisasi itu dari padaku. Aku baru bergabung belakangan. Melalui organisasi mahasiswa itulah, pertama kali aku bertemu dan berkenalan dengan Utie.

Tetapi mungkin waktu itu Utie belum memperhatikanku. Mengapa? Karena Utie orang yang sangat populer di situ. Cantik dan sangat aktif, sehingga dia bagaikan kembang yang dikerubungi oleh banyak kumbang. Ada kumbang yang berani mendekati si kembang. Ada yang hanya terbang berputar-putar dari jarak dekat sambil mencari kesempatan. Ada juga kumbang yang hanya berani terbang memutar dari jarak jauh. Tetapi, itu semua tergantung sang kembang, ia mau berpaling kemana. Atau, bisa juga tergantung pada nyali si kumbang. Aku sendiri termasuk kumbang yang terbangnya di kejauhan saja. Tahu diri. Bukan berarti kurang nyali!

Suatu malam organisasi mahasiswa kami mengadakan acara kumpul-kumpul di luar kota. Pada malam berikutnya dilanjutkan dengan camping, berkemah di sebuah lapangan yang luas. Di sekeliling lapangan itu didirikan tenda-tenda kecil untuk menginap.

Dalam acara tersebut aku ditugaskan sebagai orang yang bertanggung jawab atas keamanan seluruh acara perkemahan. Karena itu, aku rutin mengadakan patroli berkeliling di daerah perkemahan dan sekitarnya dengan menggunakan mobil Jeep milik kantorku. Aku ditemani oleh si Pance (bukan nama sebenarnya). Pance selalu duduk di sampingku selama berpatroli, sambil mengalungkan gitarnya. Maklum, ia memang dari seksi kesenian.

Tepat jam dua belas malam, aku mengadakan patroli rutin. Aku berkeliling lapangan sambil menyorotkan lampu mobil Jeep ke arah tenda-tenda, satu demi satu. Pada waktu Ompa menyorotkan lampu ke salah satu tenda, terlihat si Utie ada di dalam tenda tersebut. Aku lalu mematikan lampu dan mesin mobilku, agak jauh di depan tenda Utie. Entah ada angin apa malam itu, di tengah kesunyian berpatroli, si Pance yang duduk di sampingku tiba-tiba mulai curhat (mencurahkan isi hatinya).

Si Pance mengatakan bahwa sebenarnya ia jatuh cinta kepada Utie, tapi ia tidak berani lebih lanjut mendekati Utie karena sering dicuekin (tidak diacuhkan) Utie. Jadi, selama ini Pance hanya memendam rasa cintanya kepada Utie. Malam itu si Pance memetik gitarnya dan menyanyikan lagu, yang syairnya seperti ini: Why oh why, must I go on like this… dan seterusnya dan seterusnya.

Walaupun tahu Pance adalah kompetitorku, tetapi aku tidak mau patah semangat. Mendengar keluhannya membuatku menjadi kasihan kepada Pance. Kalau terhadap sikap Utie yang sok cuek (acuh tak acuh) itu, aku sih berpikirnya seperti ini: “Aaah, belum tahu dia, siapa Ompa ini!”

Sekitar dua bulan menjelang Natal, ada rapat pimpinan organisasi mahasiswa untuk membentuk Panitia Perayaan Hari Natal. Dalam keputusannya, aku yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia. Aku berhak menyusun sendiri pengurus panitia itu, termasuk sekretaris panitia Natal. Dan siapakah yang aku tunjuk sebagai sekretaris? Tidak salah lagi, Utie!

Maka sejak saat itu aku harus sering bertemu dengan Utie demi mensukseskan acara Perayaan Natal yang akan diselenggarakan di Gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin Jakarta.

Aku sebenarnya ada kendaraan. Tetapi perjalanan dari Jalan Thamrin ke Jalan Cilacap nomor 1, Menteng tersebut tentu lebih enak dengan menggunakan becak. Di atas becak itulah aku dan Utie bisa punya waktu lebih lama untuk membicarakan masalah-masalah organisasi dan masalah kepanitiaan Natal, demi suksesnya Perayaan Natal tentunya.

Begitulah, hubungan aku dan Utie semakin hari semakin mulus saja. Rupanya Utie telah mengambil sebuah keputusan yang tepat untuk memilihku sebagai pasangan hidupnya. Dahulu kala, sebelum aku dilahirkan, ada sebuah lagu yang ujung syairnya berbunyi begini: Jangan percaya mulutnya lelaki, berani sumpah tapi takut mati.

Kumbang-kumbang yang mengerumuni Utie dulu itu, semua ternyata takut mati. Untung datanglah aku, si Ompa ini yang berani tampil beda: takut sumpah, tapi berani mati.

Tetapi ada satu hal yang sering membuat aku kurang percaya diri, yaitu keluarga Utie. Yang aku takuti bukan hanya Papinya Utie, tetapi juga Maminya Utie yang keturunan Belanda. Utie pernah ditegur oleh Maminya: “Awas ya, dia itu orang Jawa”. Lalu, Utie ngeles (berkilah): “Enggak kok Mam, dia cuma teman biasa”.

Perlu diketahui bahwa keluarga Utie itu berasal dari Maluku. Tapi aku yakin bahwa beliau-beliau itu orang baik. Mereka memang harus melindungi anak gadisnya. Cerita Utie tentang peringatan Maminya itu, terus terang membuat kumbang ini agak down dan pesimis, sehingga aku menjadi sangat kaku setiapkali berada di rumah Utie.

Sampai pada suatu sore, saat aku berkunjung ke rumah Utie di Jalan Cilacap untuk suatu urusan. Seperti biasa aku tidak mau terlalu lama di sana. Sungkan! Tetapi, saat aku mau pamit pulang, tiba-tiba keluarlah seorang tante dari dalam rumah, tantenya Utie, namanya Tante Bo, yang berkata dengan manis kepadaku, “Mas, mau minum kopi susu?”. Aku terkejut tetapi lalu dengan spontan dan gugup Ompa menjawab: “Ma.. ma… mau, Tante”.

Sore itu aku pulang dari rumah Jalan Cilacap Nomor Satu dengan perasaan sedikit lega. Aku merasa lebih optimis. Sikap Tante Bo itu membuat aku yakin dan percaya diri bahwa kisah percintaan ini akan berakhir mulus. Kejadian itu membuat aku berani mengalahkan rasa takut dan lebih percaya diri.

Singkat cerita, tentu dengan seijin Tuhan, aku berhasil mempersunting Utie, dan kami melangsungkan pesta pernikahan di Gedung Wanita, Menteng, pada tanggal 22 Agustus 1966. Empat puluh sembilan tahun yang lalu.

Akhirnya, Kembang mendapatkan Kumbang yang tepat. Seperti akhir cerita ala Cinderella, kisah percintaan Ompa dan Utie juga berakhir dengan… (*)

And they live happily everafter.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

Antara Wayang dan Timlo

cso Wayang_Orang_Sriwedari_Solo

ANTARA WAYANG DAN TIMLO

 

INI sudah hari ketiga aku berada di kota Solo. Kota yang nyaman dan aman. Bahkan aku sampai lupa bahwa sebenarnya aku sedang mengungsi. Tentara Belanda kembali ke bumi Indonesia untuk mengganggu bangsa yang sudah merdeka.

Di kota Solo ini, kami, Pak Mojo, bu Mojo dan aku tinggal di rumah adik dari Pak Mojo. Panggil saja dengan nama Om So. Om So dan keluarganya tinggal di bagian selatan kota Solo. Mbak Tut, anaknya om So, kalau hendak naik becak biasanya bilang ke tukang becak, “ke Gading Ngidul (Gading ke Selatan).”

Sore itu Mbak Tut menyuruh aku untuk segera berganti pakaian. Dengan wajah berseri-seri dan cerah, secerah kota Solo saat itu, Mbak Tut mengatakan bahwa kita semua akan pergi jalan-jalan ke Taman Sriwedari. Mbak Tut terlihat sangat bersemangat. Pasti ini perjalanan istimewa, pikirku.

Kami pergi dengan menggunakan dua becak beriringan. Kami menuju ke arah utara melewati Gading, belok ke kiri, lalu ke kanan, lalu lurus, dan sampailah kami di jalan yang sangat lebar. Rupanya itu adalah jalan utama di kota Solo. Jalan yang sangat terkenal, dulu namanya Wilhelmina Straat, kemudian berganti Poerwosarie Weg, dan sekarang bernama Jalan Slamet Riyadi.

Kami terus menuju ke arah Barat menyusuri jalan besar itu. Di atas becak, kepalaku sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku sibuk menikmati pemandangan yang bisa kulihat. Di kiri-kanan jalan raya itu penuh dengan bangunan gedung-gedung dan toko-toko yang besar.

Tiba-tiba dari arah Barat datanglah sebuah benda berwarna hitam yang sangat aneh. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Benda itu datang semakin lama semakin mendekat, semakin dekat dan semakin jelas. Ternyata itu adalah…Sepur Kluthuk. Ini ajaib. Sepur Kluthuk berjalan di atas jalan raya, bukankah seharusnya berjalan di atas rel di sawah-sawah? Di atas becak aku mendadak menjadi gelisah bercampur heran.

Setelah kereta api itu berpapasan dengan becak kami, baru aku percaya 100%, bahwa apa yang aku lihat tadi adalah nyata. Itu Sepur Kluthuk yang di dalamnya berisi sahabat-sahabatku, orang-orang yang sederhana dan baik hatinya.

Belum hilang rasa heran melihat Sepur Kluthuk di jalan raya tadi, kami sudah memasuki area Taman Sriwedari. Sriwedari merupakan tempat rekreasi, taman hiburan yang sangat terkenal bagi warga kota Solo dan sekitarnya. Bahkan, tempat ini ramai pula dikunjungi oleh para wisatawan dari daerah lain.

Kami berjalan berkeliling di area rekreasi itu. Dari pintu masuk kami berjalan ke kiri untuk melihat ada beberapa macam binatang yang berada di dalam kerangkeng (jeruji yang dijadikan kandang). Kami hanya melihat-lihat. Lalu melanjutkan lagi, kami berjalan semakin masuk ke dalam area taman. Ada banyak kios yang menjual pakaian dan barang-barang kebutuhan lainnya. Juga ada tempat permainan untuk anak-anak. Tetapi aku kurang tertarik melihat semua itu.

Semangat dan gairahku baru muncul setelah melihat sesuatu yang ada di ujung depan, sebuah deretan panjang. Dari tempat aku berdiri aku bisa melihat banyak restoran dan warung makan yang menyediakan beraneka macam makanan. Melihat itu semua aku menjadi sangat gembira, gelisah, gugup, sekaligus penuh harap.

Tetapi, tiba-tiba perhatianku beralih ke arah lain, aku tertarik mendengar suara musik gamelan Jawa yang berbunyi nyaring bertalu-talu. Aku tersentak dan ingin berlari mendekati suara gamelan itu. Mbak Tut melihatku dan mengerti, mereka pun mengajakku menuju sumber suara itu.

Di sana aku melihat sebuah bangunan yang besar tapi sederhana. Rupanya itulah gedung pertunjukan yang terbesar di Sriwedari. Di dalamnya terdapat sebuah panggung besar, yang di depannya terdapat ratusan kursi berderet untuk para penonton.

Di gedung itu sedang berlangsung pertunjukan Wayang Orang. Sebelumnya aku memang pernah melihat wayang, tetapi hanya sebuah gambar yang dipajang pada dinding. Gambar wayang yang dibuat di atas kulit binatang.

Tetapi, rasanya ada yang aneh dari gedung pertunjukan ini. Gedung ini tidak berdinding rapat. Orang yang tidak memiliki uang untuk membeli karcis atau tiket untuk duduk di dalam gedung, masih bisa melihat pertunjukan dari luar gedung. Dinding gedung ini hanya berupa ram, yaitu jaringan kawat yang dirangkai jarang-jarang.

Aku mulai mengamati para pemain wayang orang itu. Mereka menggunakan kostum bermacam-macam sesuai peran masing-masing. Ada yang memakai topi tinggi keemasan, atau konde yang melengkung besar. Ada juga yang memakai sayap atau perisai di dadanya yang juga berwarna keemasan.

Mereka bernyanyi, bertengkar lalu berkelahi. Sayangnya mereka berbicara dengan menggunakan bahasa yang aku kurang mengerti. Kata mbak Tut, mereka menggunakan bahasa Jawa Tinggi dan bahasa Kawi yang biasa digunakan dalam dunia pewayangan.

Ada sebuah adegan yang membuatku sangat takjub. Di tengah panggung ada seorang tokoh wayang yang sedang berdiri, tapi tiba-tiba berubah menjadi tokoh lain, tanpa bergerak sedikitpun. Ini sungguh luar biasa!

Aku langsung teringat kecanggihan Mandrake, tokoh superhero yang bisa mengubah orang seketika. Mandrake adalah superhero pujaanku yang ada di serial komik yang dimuat di Koran Malang Post di Malang dulu.

Menonton adegan yang seru itu dari bagian luar gedung membuatku kemudian langsung menarik-narik tangan Mbak Tut untuk masuk ke dalam dan duduk di kursi. Tetapi, sayang sekali orang-orang tua kami ini bependapat lain. Mereka memberi penjelasan (baca: alasan). Supaya pulang tidak kemalaman, katanya, mereka mengajakku meninggalkan gedung pertunjukan Wayang Orang yang keren itu.

Untuk sesaat aku agak kecewa, tetapi untunglah setelah itu kami menuju ke deretan warung makan tadi. Kekecewaanku teralihkan, berganti dengan acara makan bersama.

Setelah pulang ke rumah, di atas tempat tidur, aku mengingat-ingat peristiwa yang luar biasa hari itu. Perjalanan naik becak beriringan, bertemu Sepur Kluthuk di tengah jalan raya, menonton Wayang Orang dari luar gedung, juga adegan sulap seorang tokoh wayang berganti peran dengan ajaib. Sungguh hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi diriku. Apalagi ini semua terjadi di masa pengungsian.

Tetapi, yang lebih tidak terlupakan dari semua itu, lebih dari segalanya, adalah rasa nyaman di perutku ini. Aku merasakan nikmatnya makan masakan asli Solo, Timlo. Rasa nyaman itulah yang membuat malam itu aku tertidur pulas, sangat pulas. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kesederhanaan Dalam Sepur Kluthuk

cso pecel

KESEDERHANAAN DI DALAM SEPUR KLUTHUK

PERJALANAN mengungsi dengan Sepur Kluthuk pun berlanjut. Kereta api yang berjalan sangat lamban ini terus menyusuri stasiun-stasiun kecil menuju ke arah barat.

Bagiku, perjalanan ini sangat melelahkan. Sepanjang perjalanan aku sulit bisa tidur dengan posisi tetap. Posisi dudukku juga berubah-ubah terus, karena memang kereta ini penuh dengan penumpang sehingga harus berdesak-desakan. Dan lagi, seringkali aku dikagetkan oleh suara kereta-kereta lain yang menyusul, melintas ngebut sangat dekat di samping kereta kami. Seakan-akan mengejek aku dan sepur klutukku.

Hari sudah sore. Sepur kluthuk ini kembali akan memasuki sebuah stasiun kecil. Stasiun itu berada di tengah sawah. Sewaktu kereta berhenti, tiba-tiba Pak Mojo dan Bu Mojo berdiri serta mengambil barang-barang bawaannya. “Ayo turun…,” kata Pak Mojo.

Aku terkejut. Oh please… Aku yang sudah terbiasa dengan suasana stasiun besar di kota Jombang itu harus turun di tengah sawah begini? No way, pikirku sedikit sombong. Tetapi kemudian, aku menyadari situasi dan kondisi saat itu. Kali ini aku bisa tidak mengajukan protes apapun. Apa boleh buat!

Dengan langkah sedikit berat aku mengikuti Pak Mojo dan Bu Mojo berjalan menyusuri jalan berbatu-batu menuju ke sebuah desa. Sore sudah mulai berganti gelap saat kami tiba di rumah yang pemiliknya kupanggil: Pak De, salah satu keluarga dari Bu Mojo.

Malam itu para orang tua masih asyik mengobrol. Saat mataku terfokus pada dipan di dalam kamar tidur yang terbuka pintunya, seperti paranormal Pak De rupanya mengerti apa yang ada di dalam pikiranku. Pak De mempersilahkanku untuk tidur. Tanpa menunggu lama, kini aku sudah tergeletak di atas dipan. Masih terasa pegal-pegal akibat perjalanan tadi. Masih terngiang deru Kereta Ekspress yang menyusul keretaku. Tetapi, beberapa menit kemudian aku tertidur lelap.

Esok paginya, saat bangun tidur, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nafasku terasa sangat segar. Tercium harum aroma pepohonan seperti di perkebunan kopi semasa aku tinggal di Malang dulu. Benar saja, saat keluar rumah, aku sudah berada di bawah pepohonan yang tinggi-tinggi dan rindang bagaikan di dalam hutan. Pak De ternyata memiliki kebun yang sangat luas dan teduh.

Pak De kemudian meminta anak lelakinya yang sudah dewasa mengantarkan aku berkeliling kebun. Kami menyusuri jalan setapak yang ada di dalam kebun yang luas itu. Kepadaku, si Mas dengan bangga menunjukkan berbagai jenis pohon sambil menyebutkan nama pohon atau nama buahnya.

Si Mas mengajarkan padaku bahwa kalau kita berjalan di dalam kebun jangan hanya mengandalkan mata, tapi juga hidung. Lalu, ia berhenti sambil menengadahkan hidungnya. Rupanya si Mas mencium sesuatu. Aku juga mencium bau sesuatu…, buah nangka. Lalu dengan radar penciuman, kami mulai mencari sumber aroma itu. Dari kebun kami pulang dengan membawa buah nangka yang besar dan sudah masak.

Di rumah Pak De ini kami hanya menginap selama tiga hari. Kami akan melanjutkan perjalanan mengungsi ke arah barat, menjauhkan diri dari tentara Belanda. Pada pagi ketiga, kami sudah berada di pinggir rel menuju stasiun kecil. Setelah beberapa lama, datanglah kereta yang ditunggu-tunggu.

“Ya ampun! Sepur Kluthuk lagi…”

Tetapi, meski begitu, kali ini sikapku sudah berubah. Aku tidak lagi marah-marah kepada kereta-kereta besar yang menyusul kereta klutukku. Aku sudah mulai mengerti dan menjadi terbiasa. Aku mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang selama ini satu kereta bersamaku.

Aku melihat bahwa ternyata penumpang Sepur Klutuk adalah orang-orang yang sederhana dan baik hatinya. Aku perhatikan, mereka juga memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang kaya yang menaiki Kereta Ekspres yang dulu pernah aku lihat. Gaya berpakaian mereka pun berbeda. Teman-teman baruku di dalam kereta ini memakai pakaian yang jauh lebih sederhana.

Ibu-ibu atau mbok-mbok kebanyakan memakai kebaya dan kain yang ujung bagian bawahnya lebih tinggi dari mata kaki mereka. Mungkin supaya lebih praktis untuk berjalan. Suasana yang santai dan damai sangat terasa.

Terlebih lagi, kalau aku memperhatikan mbok-mbok yang lebih tua itu, mereka duduk dengan tenang sambil memutar-mutar susur (tembakau) di mulutnya. Sepertinya mereka tidak peduli bahwa tentara Belanda akan datang dan menyerbu kita. Selama susur masih bisa berputar di mulut, mereka merasakan kedamaian yang luar biasa. Hidup itu sederhana!

Sangat berbeda dengan para penumpang Kereta Ekspres yang selalu terburu-buru, harus tepat waktu. Moto penumpang kereta itu adalah Time is Money. Sedangkan bagi para penumpang Sepur Kluthuk adalah Waton Tekan (asal sampai). Mungkin sebab itulah Kereta Ekspres mempunyai jadwal yang ketat, bahkan menit-menitnya pun harus tepat. Jauh berbeda dibanding dengan sepurku. Kalau kereta sudah harus berangkat, para penumpang masih banyak yang belum naik kereta.

Pernah satu kali terjadi, aku masih ingat. Ketika itu Pak Sep sudah meniup peluitnya, tapi kemudian ada yang berteriak bahwa ada calon penumpang yang masih di dalam WC stasiun. Pak Sep pun hanya senyum-senyum sambil sabar menunggu.

Yang juga sering membuat suasana meriah di stasiun kecil yang kulewati adalah para pedagang asongan. Aku kagum dengan keuletan mereka dalam menjajakan dagangannya. Itu karena tujuan mereka hanya satu, dagangan harus habis sebelum pulang ke rumah.

Mereka terus berkeliling dari satu gerbong ke gerbong yang lain, sambil berjalan melompati orang-orang yang tiduran di lantai. Luar biasa, pikirku. Meski kereta bergoyang-goyang, mereka mampu melompati orang demi orang tanpa pernah meleset hingga menginjak tubuh orang-orang itu. Dengan penuh semangat mereka terus berjalan dan sesekali melompat sambil menawarkan dagangannya.

Di stasiun-stasiun kecil, yang paling sering dijual para pedagang adalah kacang rebus, rokok, dan makanan khas dari daerah setempat, semisal telor asin, jagung, tahu dan sebagainya. Cara menawarkannya pun khas. Kalau kacang seperti “Caaaang kaacaangkacang kacangkacang.” Kalau rokok, “Kooorokorokoroko.”

Tetapi ada juga mbok-mbok yang berdagang dengan tenang dan tidak perlu naik ke gerbong kereta. Ia hanya menurunkan sebuah bakul dari gendongannya, lalu diletakkan di atas batu-batu kerikil di samping rel. Kemudian, ia hanya perlu satu kali teriak, “Ceeel… peceeel…” Maka, seketika orang-orang berdatangan dari segala penjuru, mengerumuni Mbok Pecel yang hebat itu.

Walau aku merasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi kenyataannya aku sangat menikmati perjalanan dengan Sepur Kluthuk. Aku gembira dan bersyukur. Begitu banyak hal yang bisa kuamati dan kuperhatikan di dalam kereta api jenis ini. Perjalanan panjang bersama dengan orang-orang sederhana ini telah mengajarkan diriku untuk lebih menghargai mereka.

Perjalanan panjang kami akhirnya berujung di sebuah stasiun yang besar, Stasiun Solo Balapan. Kami pun turun. Sembari turun, lagi-lagi aku berpikir, sekarang mana mungkin tentara Belanda bisa menyusul kami…. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sepur Kluthuk

cso sepur

SEPUR KLUTHUK

SEBELUM kota Jombang juga diduduki oleh tentara Belanda, kami bertiga, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku sudah meninggalkan kota Jombang. Dengan kereta rel nomor empat dari stasiun kota Jombang, kami menuju ke Barat. Semakin jauh dari Jombang, hati kami agak tenang karena merasa semakin jauh dari tentara Belanda.

Hanya saja sepanjang perjalanan, aku sering merasa heran. Mengapa kereta ini selalu berhenti di setiap stasiun? Termasuk berhenti di stasiun-stasiun yang sangat kecil. Bahkan, juga kadang harus menunggu selama berjam-jam di tengah sawah, di sana kereta kami berpapasan atau disusul oleh kereta-kereta lainnya yang tidak berhenti. Sungguh menyebalkan!

Beberapa lama kemudian, aku mengerti, bahwa kereta yang kunaiki ini adalah kereta yang paling lamban. Tugas kereta ini hanya menghubungkan satu desa dengan desa lainnya yang dilewati jalur rel kereta. Kereta api seperti ini biasanya dijuluki dengan istilah Sepur Kluthuk.

Entah dari mana asal istilah itu. Bisa jadi karena terlalu lambat jalannya sehingga berbunyi kluthuk… kluthuk… kluthuk.

Aku masih memikirkan kota Jombang yang baru saja kutinggalkan, terutama deretan rel kereta api dan stasiun kota Jombang. Tempat itu seperti Disneyland bagiku. Sebuah arena bermain yang luar biasa.

Tatkala mulai bosan dengan permainan “paku-pisau”, biasanya aku pergi ke dalam stasiun. Aku mengamati semua yang terjadi di dalam stasiun kota Jombang itu. Biasanya aku duduk-duduk di bangku yang biasanya digunakan calon penumpang menunggu kedatangan kereta. Aku senang duduk di bangku panjang itu. Alasanku sederhana, karena bangku panjang itu letaknya di sebelah kantin, sehingga aku bisa setiap saat mencium sedapnya aroma masakan.

Aku bersyukur, pada usia sekecil itu aku pernah menyaksikan Kereta Api dalam arti kata sebenarnya, yakni kereta yang dijalankan menggunakan api. Tungku yang terletak di depan kamar masinis itu dinyalakan menggunakan kayu gelondongan, yang kira-kira sepanjang satu meter. Sedang, lokomotifnya berwarna hitam legam, berukuran lebih besar, bahan bakarnya menggunakan batubara. Api tungku yang membara itu digunakan untuk memanaskan air yang berada di perut lokomotif itu. Tekanan air yang mendidih di dalam tabung raksasa di atas lokomotif itu yang dipakai untuk menggerakkan roda-roda lokomotif dan menarik gerbong-gerbong di belakangnya.

Suatu sore, di dalam stasiun itu aku memperhatikan bahwa jalur rel nomor dua sampai dengan nomor empat, semuanya sudah terisi oleh rangkaian kereta yang sudah siap berangkat tapi belum juga diberangkatkan. Semua kereta, dan tentu saja termasuk seisi penumpangnya, diwajibkan menunggu sebuah kereta yang datang dari arah barat. Ketika menunggu itu, terlihat sebuah titik kecil dari arah barat. Semakin lama titik itu semakin besar. Para penumpang melihatnya dengan tegang, termasuk aku.

Sebuah kereta melaju kencang dari arah barat. Itulah sang Kereta Ekspres, rajanya kereta, mendekat dan akan memasuki stasiun Jombang. Para calon penumpang pun sudah berjajar di samping rel nomor satu. Kemudian dari ruang kepala stasiun keluar seorang pria yang gagah, memakai jas berwarna cerah, di kepalanya memakai topi tinggi berwarna merah seperti topi yang dipakai oleh tentara Perancis. Kami biasanya memanggilnya, Pak Sep.

Pak Sep memegang sebuah tongkat yang diujungnya ada bulatan berwana merah. Penampilan Pak Sep memang mencolok, sehingga semua orang tahu bahwa dialah penguasa stasiun. Kemudian Pak Sep berjalan menuju pinggir rel, menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah kereta berada di jarak yang cukup, hampir memasuki stasiun, Pak Sep meniup peluit besar warna keemasan. Suara peluit Pak Sep itu sangat nyaring sehingga terdengar diseluruh stasiun, yang bahkan terdengar sampai ke rumah Tante Jom.

Kereta Ekspres pun menderu memasuki stasiun. Terdengar derit suara rem dan kereta berhenti tepat di tempat yang telah ditentukan. Para porter pengangkut barang naik-turun memanggul koper-koper para penumpang. Masing-masing bekas penumpang dan calon penumpang saling turun dan naik. Semua itu berlangsung sangat cepat.

Pak masinis sibuk bergerak mengatur nyala api tungku. Secara sigap dan cepat para petugas mengisi air ke perut lokomotif raksasa itu dengan menggunakan selang besar dan corong. Tidak sampai lima menit, semua selesai dan Kereta Ekspres telah siap diberangkatkan.

Pak masinis berdiri melongok keluar dari kamarnya di lokomotif dan tegak menghadap ke belakang. Matanya menatap kepada Pak Sep yang berada di tengah peron stasiun. Kemudian Pak Sep meniup panjang peluitnya sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya. Pertanda sebuah perintah, “Lekas berangkatkan!” Pak masinis yang tampak gagah dan profesional itu lalu menarik tuas tali di atasnya dua kali, maka terdengarlah suara “Tut…Tut…” menjawab perintah keberangkatan, yang artinya “Siap, laksanakan!”

Kereta Ekspres yang besar dan gagah itupun bergerak perlahan, makin lama makin cepat, dan kemudian bagaikan anak panah melesat arah timur, meninggalkan stasiun Jombang menuju ke Surabaya.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku bukan berada di dalam Kereta Ekspres, tapi di dalam Sepur Kluthuk, kereta yang tadi berangkat dari jalur rel nomor empat. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa Sepur Kluthuk-ku ini sedang memasuki stasiun kecil untuk lagi-lagi menikmati takdirnya, menunggu dan dibalap oleh kereta-kereta yang lebih besar dan lebih penting. Demikianlah nasibmu, Sepur Kluthuk.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kereta Barang Jam Satu

Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

.

KERETA  BARANG  JAM  SATU

PAGI sudah menjelang siang ketika aku terbangun dari tidur. Masih setengah sadar dan agak bingung, sejenak aku merenung, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Aku teringat perjalanan mengungsi dari kota Mojokerto ke kota Jombang. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.

Setelah lebih sadar, aku mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Aku berada di rumah Tante Jom, adik dari bu Mojo. Rumah Tante Jom adalah rumah yang sangat sederhana yang hanya terdiri dari satu ruangan memanjang, selebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter.

Ruangan panjang itu disekat menjadi tiga ruangan kecil. Terdiri dari ruangan yang kecil untuk tamu di depan, kamar tidur di bagian tengah, dan yang paling belakang adalah sebuah dapur kecil. Di dapur itu terdapat tungku yang terletak di atas lantai.

Di dalam rumah papan sederhana itu terasa agak pengap dan gelap. Hanya ada sebuah jendela kecil, yang hanya di bagian depan rumah. Rumah itu memang sangat sederhana, tapi kelak aku merasa itu adalah rumah terindah yang pernah aku tinggali.

Aku turun dari tempat tidur dan menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu, angin disertai debu jalanan masuk ke dalam rumah. Aku baru sadar bahwa rumah tante Jom terletak tepat di pinggir jalan raya, menghadap lalu-lintas yang ramai, sangat bising. Dengan cepat aku menutup lagi pintu pintu depan itu. Aku lalu berjalan menuju ke pintu belakang yang berada di dekat dapur. Begitu pintu terbuka, aku sangat terpukau dan takjub dengan pemandangan yang kulihat.

Di belakang rumah Tante Jom itu, aku melihat pemandangan yang menariknya melebihi Dunia Fantasi Ancol, atau Disneyland yang mengagumkan sekalipun. Bagiku pemandangan di belakang rumah itu sangat menantang dan merangsang jiwa anak-anak seperti diriku.

Yang pertama kulihat adalah rel kereta api. Bukan hanya satu rel, tetapi ada empat rel yang berjajar. Dari pintu belakang itu, aku langsung meloncat keluar. Rel-rel itu aku perhatikan dengan seksama, dari empat menjadi tiga, menjadi dua, lalu menyatu dengan rel utama yang menuju ke kanan, ke arah barat, arah Jakarta.

Aku menengok ke kiri, arah timur. Terlihat gedung stasiun yang sangat besar. Pada dinding sebelah atas bangunan yang terbuat dari baja itu tertulis huruf yang besar-besar: JOMBANG.

Tulisan raksasa itu bagaikan ucapan selamat datang bagi para penumpang kereta api yang memasuki stasiun kota Jombang. Rupanya rumah tante Jom terletak tepat di sebelah stasiun kereta api kota Jombang. Kali ini aku baru benar-benar paham.

Melalui pintu belakang itu aku juga menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sederet kabel dari kawat baja menyusuri pinggiran rel, tersusun sejajar seperti kabel-kabel listrik bertegangan tinggi yang sering disebut Sutet. Tetapi, deretan kawat itu dipasang sangat rendah, setinggi pinggang orang dewasa. Rupanya kawat-kawat baja itu bisa ditarik atau diulur yang dikendalikan dari dalam stasiun untuk menggabungkan atau memisahkan rel satu dengan rel lainnya.

Pada hari kedua tinggal di rumah Tante Jom, aku sudah bisa menjadi tukang ramal jalur kereta api. Kalau ada kereta datang dari sebelah Barat, aku bisa tahu kereta yang baru datang itu akan masuk lewat rel nomor berapa. Kalau terlihat ada kereta yang hendak masuk ke stasiun, seringkali aku mengumpulkan anak-anak tetangga. Kepada mereka aku berlagak meramal, bahwa kereta itu akan melewati rel nomor dua. Dan benar, kereta yang baru datang itu memasuki jalur rel nomor dua. Mereka takjub. Anak-anak tetangga itu terbengong melihat ramalanku yang selalu tepat. Dan aku sangat menikmati melihat muka-muka bengong itu.

Beberapa hari kemudian, aku berganti permainan. Setiap kali ada kereta yang melintas di depanku, aku pusatkan perhatianku kepada rel besi yang dilindas oleh roda besi kereta api. Wow, besi dilindas oleh besi. Kemudian aku mengadakan percobaan.

Sebelum kereta datang, aku letakkan sebuah batu kecil di atas rel. Sewaktu kereta lewat dengan cepat, batu itu lenyap tidak berbekas. Aku mendapat sebuah ide. Aku letakkan sebuah paku di atas rel di depanku. Apa yang terjadi? Paku itu terlindas oleh roda kereta, tetapi kemudian paku itu terpental. Aku mencari paku tadi. Setelah ditemukan, aku kaget minta ampun. Paku itu sudah berubah bentuk, menjadi pisau yang tajam. Luar biasa! Aku pun mulai mengumpulkan banyak paku, dengan segala ukuran.

Dalam waktu singkat, paku-paku itu sudah berubah menjadi pisau atau mata tombak kecil. Aku sudah seperti memiliki sebuah pabrik. Pisau-pisau dan tombak “hasil produksi”-ku itu kukumpulkan dan kuletakkan di samping pintu belakang rumah. Semakin lama semakin banyak dan semakin menumpuk.

Selain itu, ketika mengungsi di rumah Tante Jom ini aku juga menemukan hal yang baru dan menarik. Setiap ada kereta api yang melintas, seluruh rumah terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa. Pada mulanya hal itu sangat menggangguku, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Kalau terjadi “gempa” ketika aku sedang tidur di malam hari, bagiku, justru serasa tidur di dalam ayunan. Goncangan kereta api itu seperti menina-bobokan aku.

Ada sebuah rangkaian kereta yang melintas setiap jam satu lewat tengah malam. Goncangan serangkaian kereta barang yang panjang itu terjadi lebih lama dibandingkan dengan kereta lain. Aku sangat menikmati goyangan kereta barang itu.

Suatu malam, menjelang dini hari, terjadi sebuah keributan. Penghuni seisi rumah Tante Jom terbangun. Para tetangga juga terbangun dan keluar rumah. Ada yang berteriak-teriak lantang dengan sedikit panik, “Kereta barang belum lewat!”Setelah keributan mereda, orang-orang mencoba tidur lagi. Satu jam kemudian kereta barang melintas. Rumah bergoyang-goyang. Meski sejenak kaget, tapi kemudian goyangan itu justru membuai tidur kami. Itulah Kereta Barang Jam Satu, kereta yang setiap malam kami dirindukan.

Belum genap dua minggu mengungsi, tinggal di rumah Tante Jom, belum juga bosan aku tidur digoyang-goyang Kereta Barang Jam Satu, pada suatu malam sayup-sayup kembali terdengar suara dentuman-dentuman.

Sepertinya tentara Belanda akan ke Jombang, menyusul kami ke pengungsian. Maka esok harinya, kami berangkat meninggalkan kota Jombang. Kota yang mulai aku sukai. Kami kembali harus mengungsi menuju ke arah Barat. Kali ini tidak lagi berjalan kaki, tapi naik kereta api. Kami berangkat dengan kereta rel nomer empat, dari stasiun kereta api kota Jombang.

Ketika kereta api mulai begerak perlahan, melintasi rumah Tante Jom, aku melongok keluar jendela. Aku memandang rumah itu dengan sedih. Tanganku melambai ke arah rumah itu. Rumah terindah yang harus kutinggalkan. Terlebih, aku juga harus meninggalkan pisau buatanku yang masih menumpuk, teronggok di dekat pintu belakang rumah Tante Jom. Selamat tinggal Jombang, selamat tinggal Kereta Barang Jam Satu. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Guling, Sahabat Dalam Pengungsian

GULING, SAHABAT DALAM PENGUNGSIAN

 

SIANG itu terlihat banyak orang bergerombol sambil berbisik-bisik. Yang mereka pergunjingkan adalah bahwa pasukan kita, Pasukan Republik, akan mengadakan penyerbuan besar-besaran ke kota Mojokerto. Agar tidak terjadi banyak korban, maka warga diminta mengungsi ke arah barat kota, wilayah yang sudah dikuasi tentara republik.

Pada tengah malam itu juga dengan berbisik-bisik aku dibangunkan Pak Mojo. Kami harus mengungsi. Kami harus bersiap dan segera berangkat saat itu juga. Semua dilakukan dengan terburu-buru dan diam-diam agar tidak tercium oleh mata-mata tentara Belanda.

Di tepi jalan depan rumah telah berbaris banyak orang dalam jumlah besar. Sekitar seratus orang sudah siap untuk mulai berjalan. Mereka membawa barang seadanya. Aku pun begitu, aku menyambar sebuah barang untuk dibawa. Guling!

Akhirnya, barisan pengungsi itu mulai bergerak. Berangkat berjalan kaki menuju ke Barat, ke wilayah yang tidak (belum) diduduki tentara Belanda. Kami semua harus berjalan dengan tenang. Tidak ada yang boleh mengeluarkan suara. Setiap orang berjalan sambil memikul atau menggedong barang bawaan masing-masing. Tidak mau kalah, aku pun memeluk erat guling kesayangan.

Awalnya aku berjalan dengan sangat semangat, tetapi baru beberapa langkah aku minta digendong. Maka sejak itu, di sepanjang perjalanan aku digendong di punggung beberapa orang secara bergantian. Mereka takut jika tidak digendong, aku akan menangis atau berteriak yang bisa mengusik tentara Belanda yang sedang lelap tidur.

Pernah suatu malam kami melewati sebuah desa. Suasananya sangat sepi. Mungkin karena penduduk di desa itu sudah pasti sudah pulas tidur. Tiba-tiba aku terbangun, kaget karena gulingku tidak ada. Aku panik dan berteriak-teriak, “Bantaal, bantaaalkuu!…” Tidak lama kemudian seseorang terburu-buru menyerahkan barang yang aku minta: guling.

Entah ada berapa kali siang dan berapa kali malam kami berjalan. Entah berapa puluh kali aku berpindah dari satu punggung orang ke punggung orang yang lain. Aku tidak ingat, karena toh tugas utamaku selama perjalanan mengungsi itu hanya tidur saja.

Setelah dewasa aku baru tahu, bahwa kami mengungsi ke Jombang. Jarak dari Mojokerto ke kota itu sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi, bagiku yang masih kecil, perjalanan itu terasa panjang dan lama. Rasanya tidak sampai-sampai ke tempat tujuan, pikirku waktu itu. Demi keamanan, kami hanya berjalan pada malam hari dan seringkali kami mampir di sebuah desa untuk waktu yang cukup lama. Seingatku, hampir di setiap desa ada dapur umum yang dibuat ibu-ibu desa tersebut untuk membantu para pengungsi yang melewati desa mereka.

Suatu kali kami memaksa berjalan di siang hari. Supaya tidak memantulkan sinar matahari, semua sepeda yang dibawa ditutupi, termasuk sepeda Pak Mojo. Terutama pada bagian sepeda yang mengkilat, seperti setang sepeda, dibungkus kain, dan bagian atasnya ditutupi ranting-ranting pohon. Persis seperti semak-semak berjalan. Siasat ini dilakukan agar kami tidak terlihat oleh pilot pesawat tempur Belanda.

Pada perjalanan siang hari itu, tiba-tiba terdengar bunyi pesawat tempur Belanda. Gawat! Kepala rombongan segera memberi tanda, bahwa kami saat itu juga semua harus tiarap di rerumputan, di tepi jalan pinggiran sawah. Suasana sangat mencekam!

Mendengar deru pesawat tempur itu mendekat, aku langsung berusaha berdiri ingin melihat. Tetapi, tiba-tiba sebuah tangan yang besar melintas di atas kepalaku. Menarikku ke bawah, masuk ke dalam pelukan rerumputan. Aku tidak menyerah. Sambil tiduran, aku membuka sebelah mata mengintip dan menyaksikan pesawat Belanda sedang berputar-putar. Tiba-tiba pesawat itu menukik sangat rendah hingga di atas barisan rombongan kami. Suasana semakin mencekam!

Terdengar rentetan tembakan. Aku melihat peluru-peluru berjatuhan ke kanan-kiri rombongan. Untungnya, tidak lama kemudian pesawat Belanda itu kembali menanjak naik, terbang menuju ke arah timur dan tidak kembali lagi. Segera setelah itu kami serombongan pengungsi melanjutkan perjalanan. Sebuah peristiwa yang sungguh menegangkan.

Akhirnya, kami sampai di kota Jombang. Setelah memasuki kota tujuan tersebut, rombongan pengungsi mulai membubarkan diri. Mereka berjalan sendiri-sendiri, mencari tempat mengungsi. Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, menumpang di rumah kerabat dari bu Mojo, tepatnya di samping barat stasiun kota Jombang.

Dan malam itu aku adalah anak yang paling berbahagia. Karena pada akhirnya aku bisa tidur nyenyak di atas dipan, tanpa harus terguncang-guncang seperti saat digendong. Malam itu, aku merasa ingin tidur selama seribu tahun.

Sebelum tidur aku sempat berpikir, kami semua telah berhasil meninggalkan kota Mojokerto dengan berhari-hari berjalan, manalah mungkin tentara Belanda itu bisa menyusul kami?. Dan lalu aku pun tertidur pulas, sambil peluk guling. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Tiarap di Depan Tembakan Meriam

TIARAP DI DEPAN TEMBAKAN MERIAM

 

SEPI. Demikianlah suasana di sekitar rumah di Jalan Brantas Mojokerto, rumah pak Mojo, tempatku tinggal. Sungai Brantas yang luas itu tetap setia mengalir tenang tapi indah dipandang mata. Hanya saja entah mengapa, ada perasaan aneh yang kurasakan hari itu. Tidak seperti biasanya.

Masyarakat penghuni kampung bawah, di belakang rumah kami, akhir-akhir ini memang terasa tidak seramah dan gembira seperti biasanya. Mereka terlihat berubah menjadi serius dan tegang. Mereka sering bergerombol, mengerumuni radio dan mendengarkan orang yang sedang berpidato dengan suara keras dan berapi-api. “Itu kan Bung Tomo!” kata seorang temanku yang selalu berlagak serba tahu, mungkin karena ia sudah duduk di kelas empat SD. Ia mengatakan itu kepadaku dengan sikap sedikit mengejek, seolah ia teman dekatnya Bung Tomo.

Dan benar saja, kesunyian pagi itu terkoyak oleh suara sirine yang meraung-raung dengan sangat keras. Sirine yang terletak di atas sebuah menara di seberang sungai Brantas itu bagaikan seekor Dinosaurus yang meraung marah, menyeramkan. Sirine itu dibunyikan sebagai tanda bahwa akan adanya serangan udara oleh tentara Belanda.

Bunyi sirine yang pertama berarti seluruh warga harus berlindung di bawah kolong tempat tidur. Sedangkan bagi yang sedang berada di luar rumah, diharuskan berlindung di bawah pepohonan agar tidak terlihat oleh pesawat Belanda.

Bunyi sirene yang kedua berarti pertanda bahwa situasi sudah aman. Kami sudah boleh keluar dari tempat berlindung. Masyarakat sekitar sudah sering dilatih agar cepat tanggap terhadap peringatan atau tanda bahaya ini. Karena terlalu sering, justru banyak orang menjadi tidak sigap lagi.

Tetapi, bunyi sirine siang hari itu meraung lebih lama dari biasanya. Di sela-sela bunyi sirene itu terdengar sayup-sayup suara mendengung di langit. Sebagai salah satu penggemar film perang, aku dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah suara pesawat tempur Belanda. Maka, di saat orang-orang dewasa berhambur berlindung takut di bawah tempat tidur, aku yang nakal ini malah sudah nangkring di atas cabang pohon mangga yang berada di halaman depan rumah Pak Mojo.

Pohon mangga itu tinggi dan rimbun daunnya. Menurutku, pilot pesawat tempur itu tidak akan bisa melihatku. Dari sela-sela dedaunan pohon mangga, dengan jelas aku bisa melihat dua pesawat Belanda itu terbang berputar-putar di atas kota Mojokerto, juga di atas kali Brantas di depan aku berada.

Salah satu dari pesawat tersebut terbang berputar-putar di seberang sungai di sekitar menara sirine. Tiba-tiba aku melihat pesawat tempur itu terbang menukik tajam, dan pada saat pesawat mulai menanjak lagi terdengarlah bunyi ledakan yang dahsyat. Api berkobar sangat besar. Kemudian asap berwana hitam mengepul menjulang tinggi. Tubuhku gemetar.

Setelah menjatuhkan beberapa bom, pesawat itu terbang kembali ke arah Timur. Keadaan kembali sunyi, yang terlihat hanya kepulan asap hitam. Rupanya hari itu Mojokerto di bombardir, dihujani bom oleh tentara Belanda. Sirine sudah tidak berbunyi lagi. Keesokan harinya orang-orang di kampung bawah ramai bergerombol sambil membicarakan berita terbaru. Kota Mojokerto telah berhasil diduduki oleh pasukan tentara Belanda!

Aku tidak melihat apapun tentang pendudukan pasukan Belanda tersebut, karena lokasi rumah berada di sebelah Barat kota Mojokerto. Aku tidak melihat pertempuran darat seperti yang biasa dilihat di film perang. Mungkin pertempuran itu terjadi di sisi timur Mojokerto, karena pesawat Belanda datang dari arah timur. Mungkin kota Surabaya yang lebih dulu dikuasai Belanda.

Sore harinya, terdengar suara dentuman yang menggelegar lagi. Suara itu datang dari tengah kota Mojokerto. Anehnya, dentuman keras itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi terdengar setiap lima sampai sepuluh detik. Semua itu sungguh menarik perhatianku, dan membuat rasa ingin tahu didalam diriku membara menyala-nyala.

Dengan cepat aku lalu berlari menuju ke alun-alun, ke arah Selatan kampung bawah, sambil berteriak, “Reeek, ayo ndelok, reek” (Rek, ayo nonton, rek).”

Aku terus berlari sambil berteriak-teriak. Saat aku menengok ke belakang, aku melihat ada serombongan anak-anak kecil yang mengikutiku. Aku seakan merasa seperti Cacak, sang Pemimpin Geng Anak Tanjung di kota Malang dulu.

Akhirnya, aku sampai di sisi barat alun-alun. Di sana Aku menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Bukan main, benar-benar seperti yang ada di film-film perang. Di tengah alun-alun di sisi Timur, ada sederet meriam kecil milik tentara Belanda. Meriam itu namanya canon (baca: Kanon). Canon, adalah sebuah meriam kecil yang memiliki roda.

Di bagian depan canon ada semacam perisai dari baja bersegi empat. Dari tengah perisai baja itu menyembul moncong meriam. Aku bisa melihat ada empat buah canon yang berderet menghadap ke atas, ke arah Barat. Jadi, moncong canon-canon itu menghadap ke arahku dan teman-teman yang sedang tiarap di atas rumput.

Bagian inilah yang paling seru. Saat meriam itu ditembakkan, muncul kilatan api dari mulut canon. Terdengar suara ledakan yang dahsyat, memekakkan telinga. Peluru meriam itu berdesing di langit di atas kepalaku dan teman-temaku, lalu jatuh jauh di sebelah Barat kota Mojokerto. Untuk mengurangi suara dentuman, kami harus menutup telinga. Meskipun telinga sudah ditutup, tetapi setiap kali meriam berdentum dada serasa seperti ditimpa sansak, yakni sekarung pasir yang biasa digunakan untuk latihan tinju.

Menjelang Maghrib, serangan tentara Belanda baru berhenti. Aku berdoa agar peluru-peluru canon tadi berjatuhan di tengah sawah saja, sehingga tidak jatuh korban di pihak tentara Indonesia. Aku dan teman-temanku pun pulang sambil membawa dada yang masih terasa sesak.

Pada tengah malamnya terdengar kabar yang membuat hatiku bangga. Ada serangan balasan dari tentara kita menjawab serangan canon Belanda siang tadi. Dari arah Barat, tentara Republik Indonesia menggempur tentara Belanda di kota Mojokerto. Hujan peluru mortir itu juga berjatuhan di daerah kampung bawah dan di sekitar rumah kami. Suasana tegang dan mencekam.

Malam itu kami, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, berlindung di bawah kolong tempat tidur, sambil berdoa.

(Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke 70)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

wpid-fb_img_1439780262731.jpg

Sangat Memalukan

SANGAT MEMALUKAN

 

SEJAUH pengamatanku, rumah Pak Mojo di Jalan Brantas Mojokerto adalah rumah yang cukup tenang, atau dapat juga dikatakan sepi. Apalagi buatku yang sudah terbiasa dengan keramaian di rumah Mbah Tanjung di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang.

Bisa jadi karena yang tinggal di rumah Pak Mojo ini hanyalah kami bertiga. Pak Mojo, bu Mojo dan aku. Sedangkan si Om yang tinggal di kamar belakang dekat dapur hanya kadang-kadang saja berada di rumah. Sehingga sehari-hari suasana di rumah itu terasa sepi.

Pada suatu hari rumah kami kehadiran seorang Om yang sangat menarik perhatianku. Sebut saja namanya: Om Do. Om Do adalah anggota keluarga besar dari Pak Mojo. Ia dititipkan di rumah ini oleh orang tuanya untuk bersekolah di sebuah SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Mojokerto. Perawakan Om yang baru ini agak kurus tapi ngganteng, keren bagaikan Arjuna dalam dunia pewayangan.

Semakin hari aku semakin tertarik dengan sosok Om Do ini. Perilakunya sangat kalem, tertib, menjaga sopan santun dan disiplin. Saat berbicara dia selalu menggunakan kata-kata yang baik, positif, dan sopan. Bahkan menurutku suaranya demikian pelan, sehingga hanya bisa terdengar dari jarak satu meter darinya. Kalau berbicara lebih dari jarak satu meter dari Om Do, maka harus lebih mendekatkan kepala ke depan dan pasang telinga baik-baik.

Aku sungguh senang dengan kehadiran Om Do di rumah. Bukan hanya karena aku mendapat teman baru, tapi juga karena ia sangat sayang kepadaku. Bila aku sedang mengoceh apa saja, bercerita banyak, bahkan bicara tidak keruan, Om Do selalu bersedia mendengarkan.

Ketika si Om sedang belajar dan aku yang berada di dekatnya terus berbicara, ia tidak pernah mengusirku. Ia hanya diam sambil terus belajar. Tapi tentu saja lama kelamaan aku juga yang harus tahu diri. Pelan-pelan aku pamit dari kamar Om Do, lalu keluar bermain sendiri atau berusaha mencari pendengar lain yang saat itu tidak sedang belajar.

Seringkali saat Om Do merasa jenuh di rumah, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan ke alun-alun, melihat-lihat barang-barang yang digelar di lapak para PKL (Pedagang Kaki Lima). Tetapi, yang aku amati ia jarang sekali membeli sesuatu. Dalam perjalanan pulang, si Om selalu mengajakku untuk mampir minum es dawet di tempat langganan kami.

Pernah pada suatu hari libur aku diajak jalan-jalan oleh Om Do. Ternyata kali ini acaranya istimewa. Nonton bioskop. Setelah Om Do selesai antri membeli karcis, kami masuk ke tempat pertunjukan film itu. Aku girang bukan kepalang, sambil berjingkrak-jingkrak aku menuju ke tempat duduk.

Wow, ternyata kami duduk di bagian yang selalu aku idam-idamkan sebelumnya, yaitu kursi deretan paling depan. Bahkan kursi untukku berada di tengah, tepat di dekat layar yang putih dan sangat besar.

Lampu bioskop masih menyala terang, film belum dimulai. Sambil menunggu, aku terus berbicara sambil tertawa-tawa, aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku senang dan berterimakasih karena bisa duduk di tempat sangat istimewa itu. Tetapi anehnya Om Do hanya duduk diam di kursinya serta menunduk dalam-dalam. Sambil memegang perut, badannya meringkuk bagaikan udang. Hal ini membuatku agak khawatir, jangan-jangan ia sedang sakit perut yang bisa saja mengajakku pulang, dan tidak jadi menonton film. Tetapi kemudian aku kembali larut menikmati suasana itu dengan tertawa-tawa dan bernyanyi.

Karena terlalu senang, spontan aku berdiri di atas kursi di barisan paling depan itu. Aku lalu berputar, menghadap ke belakang, ke arah penonton di belakang kami. Aku tertegun melihat pemandangan yang mengagumkan. Aku melihat ada beratus-ratus orang yang duduk dan mereka semua menghadap ke arahku. Tentu saja sebenarnya mereka menghadap ke layar lebar di belakangku. Tetapi, di dalam perasaanku waktu itu, mereka menghadap ke arahku dan mau menonton aku!

Beberapa diantara mereka ada yang mengobrol dengan kiri-kanan mereka, tetapi ada juga beberapa yang melihat ke arahku. Sebagian ada yang tertawa-tawa sambil menunjuk aku. Beberapa orang yang duduk di deretan paling di depan mulai melotot dan dengan telunjuknya menyuruh agar aku segera duduk. Tetapi di bagian sebelah kiriku banyak juga yang melambaikan tangan kepadaku. Heran, sungguh aku sangat menikmati pemandangan ini.

Lampu teater dimatikan dan pertunjukan film dimulai. Aku kembali duduk bersandar, bersiap menonton. Begitu pula dengan Om Do, yang rupanya sakit perutnya mendadak sembuh. Pertunjukkan film dimulai. Film perang!

Dalam perjalanan pulang dari bioskop ada kejadian yang membuat hatiku sedikit tegang. Entah mengapa Om Do sikapnya berubah. Ia berjalan dengan sikap yang sangat tidak biasa. Berjalan lebih cepat, diam seribu-bahasa dan mukanya terlihat keras, seperti marah. Aku sungguh bingung dan tidak mengerti apa yang membuatnya marah. Es dawet langganan kami-pun dia lewati saja.

“Sangat memalukan,” katanya sambil terus bergegas. Hanya dua kata itu yang ia katakan hingga kami tiba di rumah. Waktu itu aku masih kecil dan tidak paham apa arti kata-kata itu. Yang lebih membuat aku heran lagi adalah sejak saat itu Om Do tidak lagi bersikap ramah terhadapku. Sedangkan aku masih tetap tidak mengerti arti dan makna kedua kata itu: sangat memalukan. Yang aku ingat, beberapa bulan setelah kejadian itu Om Do tidak tinggal di rumah kami lagi. Entah ke mana.

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, setelah beranjak dewasa, aku baru mengerti maksud dua kata yang Om Do ucapkan: sangat memalukan.

Rupanya begini, masa itu, tempat duduk di bioskop terbagi dalam beberapa kelas. Kelas yang paling mahal dan bergengsi bernama Kelas Balkon dan Kelas Loge (baca: lose), letaknya di paling belakang. Kelas yang lebih murah, kelas menengah dinamakan: Kelas Stales. Sedangkan kelas yang ekonomis alias paling murah namanya Kelas Satu, yang berada di barisan paling depan, yang paling dekat dengan layar. Waktu itu kantong Om Do sangat cekak, apalagi untuk dua tiket, dirinya dan diriku. Ia hanya mampu beli karcis Kelas Satu yang di dekat layar.

Sewaktu lampu gedung masih menyala Om Do menundukkan kepala dan badannya meringkuk seperti sedang sakit perut, itu karena ia takut kepergok teman-temannya. Ia malu jika ketahuan membeli tiket Kelas Satu yang juga sering dijuluki Kelas Kambing. Rupanya saat itu Om Do merasa sangat malu. Dan celakanya, aku, keponakannya yang belum mengerti apa-apa ini justru berdiri berlama-lama di depan menghadap ke seluruh penonton. Itulah yang membuat beberapa temannya tahu bahwa Om Do duduk di Kelas Kambing.

Ternyata, deretan kursi bioskop yang selama ini sangat kuidam-idamkan itu adalah Kelas Kambing, kelas yang paling murah! Maka, terungkaplah makna dua kata yang diucapkan Om Do waktu itu: sangat memalukan!

Buat Om Do yang baik, dimanapun kini berada, aku mohon maaf. Aku dulu belum mengerti, saat itu aku masih anak TK. Tetapi kuucapkan banyak terimakasih karena sudah ditraktir nonton film di Kelas Kambing. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑