Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Antonius Sutedjo

Pit-Pitan

PIT-PITAN

Pit adalah istilah yang dipakai masyarakat daerah Solo dan Wonogiri, artinya sepeda. Pit, datang dari kata ”Fiets”, bahasa Belanda. Sedangkan kata pit-pitan, beda lagi artinya, yaitu jalan-jalan dengan naik pit.

Waktu itu aku duduk di kelas tiga di SDN Tiga di kota Wonogiri. Menurutku anak-anak kelas tiga adalah anak-anak yang paling aktif dan dinamis di SD kami itu. Banyak ide dan kegiatan-kegiatan yang seru. Salah satu contohnya adalah saat kami mengadakan sandiwara perang, yang juga pernah aku ceritakan dulu.

Pagi itu kami berdelapan, semuanya merupakan teman sekelas. Kami sudah berkumpul dan siap dengan sepeda masing-masing. Semuanya anak laki-laki yang sudah biasa bersepeda jarak jauh. Kami akan pit-pitan menuju ke tempat wisata yang sangat terkenal di daerah Solo dan sekitarnya, yaitu Waduk Mulur.

Bagi masyarakat sekitar, Waduk Mulur adalah tujuan favorit untuk berwisata, letaknya di daerah Sukoharjo, kota kabupaten di selatan kota Solo. Aku sendiri belum pernah melihat langsung Waduk Mulur ini, itu sebabnya aku sangat bersemangat untuk ikut.

Dengan kompak kami berdelapan sudah berjejer di depan sekolahku, siap untuk berangkat. Tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Dari kejauhan muncul seorang anak perempuan, datang berlari-lari sambil melambaikan tangannya. Ah, itu si Vinny! Vinny, adalah anak perempuan yang merasa paling cantik di kelas kami. Ia berkulit putih dan berambut ikal. Aku bertanya-tanya dalam hati, mau apa Vinny ke sini? Sambil berlari dan berteriak ia menyampaikan bahwa ia mau ikut bersepeda bersama kami.

Kami semua menjadi tegang karena siapakah yang akan membonceng si Vinny? Ini kan pit-pitan jarak jauh, ke Waduk Mulur. Aku lalu berteriak kepada teman-temanku, “Yahno..!.” Sambil melirik ke arah Yahno, salah satu teman kami di situ.             Ternyata semua teman-temanku sepakat. Mereka juga menunjuk Yahno sebagai anak yang bertugas membonceng si Vinny. Maka Vinny pun langsung naik nangkring di boncengan sepeda si Yahno. Yahno memang adalah teman kami yang paling besar dan kuat. Betisnya besar berotot seperti betis para tukang becak yang sering aku lihat di kota Solo. Saat itu aku tersenyum geli melihat wajah si Yahno. Ia terlihat senyum sumringah membawa si Vinny di boncengannya.

Tahap pertama dari perjalanan kami adalah menuju ke batu Plintheng Semar. Sebuah batu raksasa di puncak tanjakan tajam di Utara kota Wonogiri. Aku tiba lebih dulu di batu Plintheng Semar, karena aku ingin mengamati lebih detil tentang batu tersebut. Ternyata di belakang batu sebesar rumah yang nangkring di tebing dan bersandar pada pohon asam itu, terdapat sebuah taman. Di taman itu ada beberapa tempat duduk yang terbuat dari batu.

Yang menarik perhatianku adalah ada beberapa orang yang duduk bersila di bawah batu Plintheng Semar itu. Sedang apa mereka? Menurut teman seperjalananku, mereka sedang bersemedi atau bertapa. Di daerah Wonogiri ini banyak tempat yang sering dipakai orang untuk bersemedi. Misalnya di Alas Kethu (Hutan Kethu), sebuah bukit yang dipenuhi dengan hutan jati.

Kami lalu terus mengayuh sepeda kami, menanjak menyusuri sisi timur pegunungan itu. Kami hendak menuju ke puncak bukit terendah, yang nanti akan kami lompati menuju ke punggung sisi barat. Sewaktu berada di tanjakan terakhir sebelum puncak gunung, tiba-tiba sepedaku terguncang keras sampai hampir terjatuh.

“Aku melu kowe, yoo..— aku ikut kamu yaa”. Rupanya itu si Vinny. Sambil meloncat tanpa permisi ia duduk ke tempat boncengan sepedaku. Entah mengapa, walau dengan adanya Vinny tentu membuat sepedaku menjadi lebih berat, tetapi kehadirannya membuatku seakan memiliki kekuatan tambahan untuk menggenjot sepedaku di jalan menanjak menuju puncak pegunungan itu. Kukayuh sepedaku sambil berdiri di atas pedal. Aku hanya fokus pada puncak tanjakan, dengan keyakinan dan harapan bahwa setelah sampai di atas nanti, jalanan pasti akan menurun.

Akhirnya aku berhasil membonceng si Vinny sampai puncak tanjakan. Sewaktu jalan sudah mulai menurun, Vinny berpindah boncengan ke sepeda temanku yang lain.

Setelah melewati pegunungan itu, jalanan mulai rata mendatar. Si Yahno, yang juga merangkap sebagai penunjuk jalan, membawa kami melalui jalan-jalan kecil menyusuri ladang, persawahan dan pedesaan. Aku sangat menikmati keindahan dan kesegaran pemandangan alam di Jawa Tengah ini.

Hari mulai terasa panas ketika kami melewati sebuah ladang yang sangat luas. Ladang itu ditanami dengan Krai. “Krai” adalah nama buah sejenis mentimun. Kalau mentimun, warnanya hijau muda, tapi krai warna hijaunya lebih lebih tua dan airnya lebih banyak.

“Paak, nyuwun krai ne nggih… — paak minta krainya ya…”. Teriak si Yahno kepada seorang bapak yang sedang berada di tengah ladang. “Nggiih, monggoo.. — yaa, silakan”, jawab si bapak tani itu. Maka kami pun mulai memetik buah krai itu, masing-masing tiga buah. Aku kembali menggenjot sepedaku, kali ini sambil makan buah krai itu. Luar biasa, rasanya dingin seperti habis minum air es. Rasa dingin itu mengalir dari tenggorokan, turun ke dada dan ke perut dan seluruh badanku pun menjadi segar kembali.

Baru kusadari saat itu bahwa ladang tersebut tidak memiliki pagar sama sekali. Sehingga orang yang lewat di jalan tersebut bisa dengan bebas memetik buah krai ini untuk menghilangkan rasa hausnya. Itulah rasa sosial khas orang desa. Hati dan tangannya seakan selalu terbuka untuk memberi dan berbagi kepada orang lain. Contoh lainnya adalah, banyak rumah-rumah yang berada di tepi jalan yang kami lewati menyediakan gentong dan siwur yang berisi air bersih untuk diminum oleh siapa pun yang lewat disitu. Gratis

Kami kemudian memasuki sebuah kota kecil yang bernama Selogiri. Dalam perjalanan kami menuju Waduk Mulur di daerah Sukoharjo ini, memang telah kami rencanakan bahwa Selogiri ini akan kami gunakan sebagai tempat persinggahan. Menurut kakak-kakak kelas kami, kota Selogiri merupakan tempat bersejarah dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.

Benar juga, begitu kami memasuki kota Selogiri, kami menemukan sebuah taman yang di tengahnya berdiri dengan kokoh sebuah tugu setinggi rumah. Tugu tersebut terdiri dari batu yang berwarna hitam legam, bentuknya menyerupai sebuah gapura. Di tengah gapura tersebut ada sebuah lubang berbentuk segi empat yang tinggi, selebar sekitar dua meter, semacam pintu masuk ke tugu itu. Untuk memasukinya kami harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari batu hitam yang sama.

Daerah tersebut merupakan Astana, atau tempat pemakaman keluarga raja Mangkunegaran. Konon, ada seorang pangeran yang bernama Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Samber Nyawa yang mendirikan sebuah kerajaan kecil di daerah Selogiri itu. Daerah tersebut kemudian menjadi cikal bakal dari daerah Wonogiri. Raden Mas Said sangat gigih melawan kolonial Belanda. Raden Mas Said, atau Pengeran Samber Nyawa kemudian menjadi raja pertama dari kerajaan Mangkunegaran, yang keratonnya berada di pusat kota Surakarta, atau Solo.

Banyak tempat petilasan atau peninggalan sejarah di Selogiri, tetapi kami tidak sempat mengunjunginya satu persatu. Tujuan utama kami, delapan anak petualang sepeda, dan ditambah seorang anak perempuan pembonceng adalah tetap, Waduk Mulur.

Setelah sampai di depan pasar kota Sukoharjo, kami berbelok menuju ke arah timur, dan sampailah di tujuan akhir perjalanan kami, Waduk Mulur. Sebuah waduk yang sangat kondang.

Waduk itu memang sangat luas dan indah dipandang mata. Banyak wisatawan duduk-duduk di sekitar waduk. Tempat itu juga dipenuhi oleh para penjual makanan dan penjual cindera mata. Bagi teman-teman SD-ku, siapa pun yang pernah bersepeda sampai ke Waduk Mulur, mereka dianggap telah mencapai prestasi yang patut di banggakan.

Dalam perjalanan kami pulang, ada kejadian yang pertama kali kualami seumur hidupku. Sewaktu kami bersepeda berombongan melewati jalan raya Solo-Wonogiri, tiba-tiba saja terjadi hujan sangat deras. Guna menghemat waktu kami memutuskan untuk tidak berhenti dan jalan terus. Kira-kira setengah jam kemudian hujan mereda. Dan kemudian aku terkejut melihat apa yang ada di depanku. Tanah yang sedang kulewati ini, tanahnya kering kerontang! Bagiku ini merupakan kejadian yang ajaib. Mengapa tadi hujan dan basah, dan sekarang semua kering? Di dalam pikiranku, jika turun hujan maka di seluruh dunia pasti juga mengalami hal yang sama. Begitu juga sebaliknya, jika sedang kering, di semua tempat pasti juga kering. Tetapi anehnya ini tidak begitu. Sungguh mengherankan. Aku harus membuktikan bahwa ini nyata.

Maka kuajak dua anggota rombonganku untuk kembali lagi ke tempat hujan deras tadi. Dan memang benar, ketika kami kembali memasuki daerah tadi, di situ masih sama, hujan deras. Ini luar biasa! Kami bertiga lalu mondar-mandir. Pergi ke daerah yang kering dan dan kembali ke daerah yang hujan. Akhirnya aku menemukan batas antara tempat yang basah dan yang kering. Saat itu aku baru paham dan percaya, bahwa tidak ada yang namanya hujan merata di seluruh dunia. Kemudian aku mengejar rombongan menuju pulang.

Sewaktu akan melewati jalan yang menanjak mendaki pegunungan, aku sengaja menggenjot sepedaku mendahului yang lain. Maksudku agar aku menjauh dari si Vinny, yang suka pindah-pindah boncengan itu. Ketika jalanan mulai menurun menuju kotaku, Wonogiri, aku pun berani losrem (melepas rem), sehingga pitku meluncur kencang.

Aku sangat puas dengan acara “pit-pitan” hari itu. Aku telah menikmati pemandangan sawah dan desa, belajar sejarah, dan membuka tabir “misteri hujan” tadi. Nanti, kalau ada orang yang bertanya, apakah aku pernah pit-pitan ke Waduk Mulur, akan kujawab dengan bangga. Sudah! (*)

.

Penulis: Antonius Sutejo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Akar Garis Darah

AKAR GARIS DARAH

BARU beberapa bulan aku tinggal di Wonogiri, ketika suatu pagi saat aku sedang asik bermain di halaman rumah, tiba-tiba datang seorang tamu. Seorang tamu yang kehadirannya membuat aku sangat terkejut, tamu itu adalah Om No!

Ya, aku masih ingat betul bahwa itu adalah Om No, anaknya Mbah Tanjung, Malang. Bukankah jarak antara kota Malang dan Wonogiri ini sangat jauh? Jadi mengapa Om No bisa tiba-tiba muncul disini?

Kami berdua berbincang dan tertawa-tawa bersama mengenang masa saat masih tinggal bersama di Jalan Tanjung Gang Dua Malang dulu, dirumah Mbah Tanjung. Di rumah itu kami hanya berbeda status saja. Aku di situ sejak masih bayi, karena ayah kandungku meninggal dunia, sedangkan Om No adalah anak kandung dari Mbah Tanjung.

Meskipun dulu terkenal bandel dan sering membuliku, tetapi aku tahu bahwa Om No sebenarnya sayang padaku Kami berdua itu memiliki ikatan batin yang kuat. Mungkin juga karena kami berdua memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama suka berpetualang. Contohnya, Om No sering menyelundupkanku ke dalam gedung bioskop, yang filmnya untuk tujuh belas tahun keatas. Sungguh kenangan yang lucu dan seru.

“Ayo ikut yuk ke desa Kaligunting.” Ujar Om No kepadaku. Mendengar ajakan mendadak itu, aku langsung berlari ke kamar mandi dan cepat-cepat berganti baju. Aku takut kalau ajakan itu akan batal, atau dilarang oleh pak Mojo.

Dalam beberapa menit saja aku sudah siap, aku berdiri tegak di samping Om No. Aku sangat yakin bahwa perjalanan bersama Om No kali ini juga akan seru. Walaupun awalnya Pak Mojo menunjukkan sikap agak kurang senang dengan rencana mereka ini, tetapi akhirnya toh kami berangkat juga menuju desa Kaligunting.

Om No dan Ompa akan mengunjungi rumah Mbah Kaligunting, ayah kandung dari ayah kandungku. Konon, Mbah Kaligunting ini adalah seorang kepala desa yang sangat disegani oleh rakyatnya dan juga oleh masyarakat desa-desa sekitarnya. Aku sungguh sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau, Mbah Kaligunting. Ini adalah pertamakalinya aku akan berjumpa dengan Mbah Kakungku sendiri, Mbah Kakung kandungku.

Dengan naik Sepur Kluthuk kami berangkat dari stasiun kereta api Wonogiri menuju ke arah Selatan. Setelah berhenti dan melewati stasiun Nguntoronadi, kereta api ini tiba di stasiun terakhir, yaitu stasiun Baturetno. Kami pun turun di stasiun ini. Di stasiun ini pula lokomotif Sepur Kluthuk dipindahkan dari depan ke gerbong paling belakang, untuk kemudian kereta api akan kembali menuju Wonogiri dan Solo.

Dari stasiun Baturetno ini Ompa dan Om No harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju desa Kaligunting. Kami ditemani oleh seorang bapak dari Baturetno yang juga merupakan anggota keluarga besar Kaligunting. Bapak ini jugalah yang akan menjadi penunjuk jalan bagi Ompa dan Om No.

Kami berjalan menuju ke arah Barat. Setelah sekitar satu jam perjalanan berjalan kaki, kami kemudian berbelok ke arah Selatan. Bapak pengantar itu mengatakan bahwa ia memilih menggunakan jalan pintas, karena kalau berjalan kaki dengan rute biasa akan sangat jauh.

Perjalanan berjalan kaki ini cukup melelahkan, karena hampir semua area yang kami lewati adalah tanah yang tandus dan gersang. Di kanan kiri kami membentang lahan yang kering dengan tanah yang merekah dengan lubang-lubang menganga yang mengerikan.

Menurut bapak pengantar, kita akan menyeberangi dua sungai. Sungai yang pertama merupakan tanda bahwa kita sudah melalui setengah perjalanan, dan di seberang sungai yang kedua itulah letaknya desa Kaligunting.

Sudah hampir tiga jam perjalanan tapi kami belum juga bertemu sungai yang pertama. Walau lelah tetapi aku tetap berjalan dengan penuh semangat. Om No juga tidak mau kalah, ia berjalan lebih tegap dan kemudian mengeluarkan harmonikanya. Ia kemudian memainkan sebuah lagu, lagu perjuangan tentara Amerika seperti di dalam film perang, yang berjudul Halls of Montezuma.

Di sungai yang pertama kami harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Orang sekitar mengatakan perlu berjalan kaki memutar sekitar 20 kilometer untuk bertemu sebuah jembatan penyebrangan. Wah menyeberang sungai dengan masuk ke dalam air ini merupakan pengalaman baru yang seru. Air sungai pertama ini setinggi dada orang dewasa. Aku di gendong bapak pengantar di atas lehernya, kami harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terbawa arus sungai. Pengalaman yang menegangkan, pengalaman seperti inilah yang aku sukai.

Setelah hampir 5 jam berjalan kaki lagi akhirnya tiba juga kami di sungai yang kedua. Nah sungai inilah yang namanya sungai Kaligunting. Cukup lebar juga, sekitar lima puluh meter lebih. Sungai ini juga tidak memiliki jembatan, sehingga untuk menyeberanginya lagi-lagi kami harus berjalan kaki masuk ke dalam air. Beruntung hari itu sungai tidak sedang banjir, sehingga tinggi air hanya sepinggang orang dewasa. Kali ini aku tak lagi digendong di atas leher, cukup gendong belakang di punggung pak pengantar.

Setelah mereka tiba dengan selamat di seberang sungai, aku bisa merasakan dalam hatiku bahwa aku sudah memasuki wilayah desa Kaligunting desanya Mbah Kaligunting, mbah kandungku, akar dari garis darahku, akar dari garis darah Ompa. Hatiku berdebar-debar keras sepanjang sisa perjalanan dari sungai menuju ke rumahnya. Ini luar biasa, aku akan bertemu dengan Mbah Kakung kandungku

Saat akhirnya tiba di rumah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh isi rumah itu terlihat heboh menyambut kedatangan kami.

Kami kemudian langsung duduk beristirahat, karena kelelahan setelah mengadakan perjalanan panjang tadi. Saat itu tiba-tiba aku mulai merasa agak kikuk dengan suasana yang ada. Aku merasa bahwa seisi rumah itu terus memandangiku, seakan ada yang aneh pada diriku.

Tiba-tiba Mbah Kakung berteriak dengan kerasnya, “Degan, degan, penekno degaan. – panjatkan kelapa muda”. Maka dalam waktu tidak lama, belasan kelapa muda disuguhkan, dan kami semua menikmati segarnya kelapa muda, asli desa Kaligunting.

Setelah melepas rasa haus dengan air kelapa muda, akhirnya aku mulai mengerti mengapa orang seisi rumah Mbah Kaligunting ini memandangiku. Hal ini rupanya karena aku adalah cucu dari anak lelaki pertama, dari sepuluh anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Putri berkata kepada Ompa, “Bapakmu dulu lebih ganteng daripada kamu.” Kata-kata itu langsung membuat aku menjadi penasaran ingin sekali melihat wajah almarhum bapak kandungku, tetapi seluruh keluarga di rumah itu kemudian mengatakan bahwa tak ada satupun foto dari ayah kandungku. Aku mendadak menjadi sedikit sedih dan kecewa

Tetapi hari itu sungguh hari yang luar biasa untukku, aku merasa bagaikan seorang ‘tamu kehormatan’ di rumah Mbah Kaligunting. Semua orang seakan ingin melayani aku, termasuk Pak Lik (om) atau Bu Lik (tante). Aku merasakan ‘rasa’ yang berbeda, aku merasa sepeti mendapatkan guyuran kasih sayang dari saudara-saudaraku sepertalian darah.

Hari itu aku juga melihat bahwa Mbah Kakung tidak saja sangat disegani oleh rakyat di desanya, tetapi juga oleh keluarganya sendiri. Dirumah itu Mbah Kakung terlihat “angker” dan sangat berwibawa. Apapun yang diperintahkannya, semua orang tergopoh-gopoh untuk melaksanakannya. Itulah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungnya Ompa, sosok yang sangat berwibawa. Dia lah akar dari garis darahku. Aku terkagum.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Demam Perang

DEMAM PERANG

Beberapa hari terakhir ini aku merasa galau dan mudah marah. Ini semua karena aku dan teman-temanku telah dilarang bermain perang-perangan lagi.

Para orang tua kami mengeluarkan larangan itu karena mereka menganggap bahwa memang perang telah selesai. Apa lagi permainan perang  antar kampung yang biasa kami lakukan itu selalu meninggalkan bekas ‘kerusakan’ yang menurut mereka cukup parah.

Banyak tanaman di pinggir jalan dan di kebun jatuh terkapar bertumbangan. Di atas jalanan, halaman bahkan atap rumah dipenuhi bubuk warna putih bagaikan salju. Keadaan ini semua terjadi karena kami bermain perang-perangan dengan cara saling melempar ‘granat lontong’ yaitu kantong kertas yang bentuknya seperti lontong dan diisi dengan bubuk kapur, atau gamping.

Para orangtua di seluruh kota dengan tegas menganggap bahwa kota Wonogiri telah aman. Tetapi aku sungguh tidak setuju. Menurutku perang belum sepenuhnya selesai, karena aku masih merasakan adanya ‘demam perang’ yang melanda, baik bagi anggota Geng Anak Gragas dan juga bagi semua anak-anak di Wonogiri. Aku pun jujur mengakui bahwa level ‘demam’-ku lah yang paling tinggi dan parah. Karena itu aku tegas tidak setuju dengan adanya larangan permainan perang-perangan itu.

Kemudian aku kumpulkan semua anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di basecamp kami, di dekat kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Aku sampaikan gagasanku kepada mereka.

“Wahai teman-teman seperjuangan, sadarlah, kita tidak bisa tinggal diam saja menghadapi pelarangan atas kegiatan main perang-perangan ini!” Para anggota GAGAS duduk rapih menyimak pidatoku yang kali ini berapi-api. Aku lihat mereka menyetujui akan pandanganku ini, mereka mendengar sambil mengangguk-anggukan kepala.

“Teman-temanku, inilah saatnya, sudah tiba waktunya kita semua harus bergerak dan melakukan sebuah aksi. Ayo, sesegera mungkin kita akan mengadakan sebuah….. Sandiwara Perang!.

Kemudian kusampaikan garis besar dari rencana tersebut dan menyatakan bahwa Sandiwara Perang ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, pekan depan.

Yang akan menjadi tim inti dari pertunjukan ini adalah seluruh anggota GAGAS. Mendengar ini posisi duduk mereka semakin tegak, mengambil sikap sempurna, sambil mata mereka menatap ke arahku dan seakan berkata, “Siap, komandan!”.

Aku pun bergerak cepat. Tempat pertunjukan pun sudah kutetapkan, yaitu di teras depan rumah Pak Mojo, di Jalan Jurang Gempal. Teras depan rumah itu cukup luas, dan terbuka, hanya dibatasi dengan pagar tembok setinggi pinggang yang berlubang-lubang, sehingga bisa kelihatan juga dari luar. Sebagai panggung kami akan menggunakan kamar tamu depan yang pintunya cukup lebar.

Aku pun langsung menghadap ke pak Mojo, ayah angkatku, dan menyampaikan rencana besar tersebut yang akan menggunakan teras depan dan ruang tamu miliknya. Seperti biasanya, Pak Mojo, jika sudah melihat sikapku yang menggebu-gebu seperti itu, beliau hanya diam, itu tandanya ia tidak setuju dan tidak menolak. Dan aku pun dengan cepat langsung menganggap bahwa pak Mojo telah setuju.

Langkah berikutnya adalah mencari pemain. Aku akan melibatkan teman-teman SD-ku, termasuk kakak-kakak kelasku, yaitu kelas empat sampai kelas enam. Aku kemudian mulai menyebarkan berita, dari mulut ke mulut, bahwa aku akan mengadakan sebuah Sandiwara Perang.

Berita tersebut dengan cepat menyebar. Aku bisa merasakan hal itu, karena kemanapun aku berjalan, anak-anak memandang diriku dengan penuh kekaguman. Beberapa anak bahkan sengaja mendekatiku, bertanya tentang rencana sandiwara ini. Tentu saja aku tahu, bahwa mereka mendekatiku karena berharap akan terpilih menjadi salah satu pemain sandiwara ini.

Kemudian aku menunjuk empat orang anak yang akan memerankan tentara Belanda. Caraku memilih keempat orang anak ini cukup mudah. Asalkan mukanya cukup tampan, kulitnya tidak terlalu gelap, dan hidungnya tidak pesek.  Mereka semua aku kumpulkan di Posko, yaitu di kebon kosong di seberang sekolah, di bawah pohon kenari. Aku katakan kepada para calon ‘tentara belanda’ itu.

“Kalian semua harus bangga karena terpilih, ini bukti bahwa kalian itu cukup tampan.” Mereka kelihatan sangat senang dengan pujian dariku ini. “Kalian harus beritahukan kepada orang tua kalian akan rencana ini, ingat, beri tahu bukan minta ijin.” ujarku.

“Dan jika ada orang tua kalian yang tidak setuju, kalian akan aku ganti dengan anak lainnya. Rupanya caraku ini berhasil. Keesokan harinya mereka semua membawa kabar bahwa orang tua mereka mendukung, bahkan ada seorang ibu yang akan membuatkan seragam tentara Belanda untuk keempat anak itu. Mendengar itu aku hanya senyum-senyum kecil sambil mengangguk-angguk. Padahal di dalam hati aku bersorak keras kegirangan.

Dengan cara yang sama aku pun menunjuk pemeran-pemeran lainnya: tentara kita, juru rawat, rakyat, dan lain-lainnya. Bantuan dari para orang tua pun mulai banyak mengalir. Mungkin para orang tua itu juga sudah tertular penyakit “demam perang”, terkena demam perjuangan para pahlawan kita. Atau mungkin kalau tidak mendukung mereka takut nanti dikira pro Belanda.

Begitulah caraku mempersiapkan sandiwara perang ini. Semua hal aku urus dan aku atur sendiri. Aku hanya mempercayakan kesuksesan proyek besar tersebut kepada anggota gengku, geng GAGAS.

Dengan rutin aku sering mengumpulkan mereka di posko, dibawah pohon kenari. Karena mereka inilah yang nantinya akan mempersiapkan panggung dan latar belakangnya.

Latar belakang panggung kami akan berupa hutan yang rimbun dan ada sedikit atap rumah dan sebuah bangku panjang di tengahnya. Untuk mempersiapkan itu semua, bagi anak GAGAS, bukanlah menjadi masalah.

“Darah!” kataku tiba-tiba. Mendadak aku baru teringat, bahwa darah sangat diperlukan untuk nanti dioleskan pada pemeran tentara kita yang luka-luka. Aku kemudian berpikir bahwa kita harus segera menghubungi rumah sakit.

Tetapi tiba-tiba Yahmin berkata, “Kalau perkara darah, biar aku yang urus.” Aku terbengong dan membatin, bagaimana caranya Yahmin akan mendapatkan darah?. Tetapi, seperti biasa, Yahmin berdiri sambil tersenyum dan lalu pergi memetik daun jati yang lebar dan kasar seperti amplas itu. Kemudian daun jati tersebut di remas-remasnya, dan ajaib, daun jati itu berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Hebat kau Yahmin!

Maka, hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sandiwara Perang sore ini akan dipentaskan. Aku mengambil keputusan bahwa tidak perlu gladi resik, aku berkata, “Ini adalah sandiwara perang, sandiwara ini minim dialog.”

Untuk setiap adegan, aku hanya memberikan garis besarnya saja kepada para pemain. Kuberikan arahan bahwa yang utama adalah adegan perang, saling menyerang. Tentara Belanda menyerang tentara kita, lalu kita balas dengan serangan gerilya. Lalu ada adegan seorang tentara kita yang luka dan ditolong oleh seorang suster cantik, berlanjut dengan adegan perpisahan antara suster cantik itu dengan tentara yang akan maju berperang.

Adegan terakhir adalah tentara Belanda diusir pergi oleh tentara kita. Jadi kebanyakan adalah suara tembakan dan bom, suara-suara ini akan dibuat menggunakan mesiu dari peluru sungguhan yang kami temukan dari sisa bekas perang yang lalu.

***

Sore itu para penonton mulai memenuhi teras depan rumah Pak Mojo. Pementasan Sandiwara Perang pun dimulai. Suara-suara ledakan mulai berdentuman. Bau mesiu menyengat tajam tercium hingga ke jalan raya. Orang-orang yang sedang lewat berbondong-bondong masuk ke halaman rumah Pak Mojo, mereka ingin menonton apa yang sedang terjadi.

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi sewaktu adegan perpisahan antara suster cantik yang akan ditinggal kekasihnya ke medan perang. Terjadi dialog yang memilukan antara keduanya.            Aku pun sempat bingung, entah dari mana mereka dapatkan dialog yang panjang dan mengharukan itu. Mungkin mereka dilatih oleh orang tuanya. Aku sendiri sempat terkesima sampai-sampai aku tak sadar bahwa adegan itu sudah melewati batas waktunya.

Aku baru saja hendak berdiri untuk memotong adegan itu, ketika aku mengintip ke arah penonton. Aku melihat banyak penonton yang terharu, bahkan banyak ibu-ibu yang mengusap air matanya. Apalagi sewaktu suster cantik itu menyerahkan sapu tangannya kepada kekasihnya sebagai kenang-kenangan dan disimpan sewaktu dirinya berada medan perang.

Adegan terakhir sebagai klimaks adalah adegan sewaktu tentara Republik berhasil mengusir tentara Belanda penjajah dari kota Wonogiri. Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan.

Sebagai penutup, semua pemain berdiri di depan panggung, untuk menyambut tepuk tangan penonton yang panjang itu. Aku pun kemudian maju ke depan, untuk memberikan pidato penutup.

Dengan lantang aku berkata kepada para penonton. “Bapak Ibu dan saudar-saudara sekalian, ayo kita semua menghormati para pejuang yang sudah membebaskan kita dari penjajahan. Para orang tua juga diharapkan menghargai anak-anak, merekalah kelak yang akan menggantikan para pejuang kemerdekaan kita itu.”

Sebagai akhir kata, Aku mengajak para penonton untuk mengucapkan tekad kita.

“Sekali merdeka……..”

Semua penonton menjawab serempak

“Tetap merdekaaa!!!…….”.

Demikianlah Sandiwara Perang pun berakhir dengan sukses. Aku sangat puas dan tidak galau lagi. ‘Demam’-ku sudah hilang. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pak Bende

Sketsa ilustrasi oleh Tjatri Devi

PAK BENDE

Setelah perjalanan yang panjang, mulai dari Mojokerto, Jombang dan Solo, akhirnya pengungsian Ompa dan keluarga berakhir di Wonogiri. Di sanalah mereka akhirnya menetap, dan perlahan-lahan Ompa pun mulai berkenalan dengan kota yang indah ini, juga belajar bergaul dengan orang-orangnya.

Belum lama tinggal di Wonogiri, suatu hari Ompa melihat seorang lelaki yang sangat menarik. Setiap kali melihat laki-laki itu, Ompa selalu dibuat penasaran. Betapa tidak! Laki-laki itu sangat terkenal dan selalu hadir di tengah masyarakat kota Wonogiri. Ia bertubuh kurus, usianya sekitar lima puluh tahunan. Ia selalu mengenakan blangkon dan baju lurik lengan panjang. Tangan kirinya selalu memegang sebuah bende, gong kecil, yang tergantung pada seutas tali. Sedangkan tangan kanannya memegang tongkat pendek yang digunakan memukul bende.

Tak seorang pun tahu nama laki-laki itu. Ia hanya dikenal dengan nama Pak Bende, karena ke mana-mana selalu membawa bende.

Siapa sih Pak Bende ini sebenarnya? Mengapa ia selalu blusukan ke sudut-sudut kampung di seluruh Wonogiri? batin Ompa setiap kali melihat laki-laki kurus itu. Makin hari Ompa makin penasaran, tak lelah-lelah ia mencari tahu tentang jati diri Pak Bende. Semua orang ditanyainya. Tapi semua orang hanya dapat menggeleng. Mereka tahu siapa Pak Bende, tapi… siapa persisnya nama sesungguhnya, juga apa persisnya pekerjaan laki-laki itu, tidak seorang pun yang tahu.

Lalu pada suatu hari seseorang berkata pada Ompa, “Pak Bende? Oh… dia itu Juru Penerang.” Ompa kagum bukan buatan mendengar istilah itu. Juru Penerang? Apa itu?
“Juru Penerang tugasnya memberi penerangan dan informasi kepada seluruh rakyat kota Wonogiri, agar warga tahu apa yang akan terjadi pada hari itu.” Mendengar itu Ompa hanya bisa mengangguk-angguk. “Nah, sekarang, apakah kamu tahu apa itu Bende?” orang itu ganti bertanya. Ompa berpikir sebentar. Ia tahu, bende itu gong. Tapi apa persisnya, ia tidak tahu. Maka dengan enggan ia pun menggeleng. “Yah, aku sendiri juga tidak tahu jawabnya. Itu sebabnya aku tanya,” orang itu berkata lalu tertawa.

Tapi bukan Ompa jika ia tidak mencari jawabannya hingga jelas sejelas-jelasnya. Maka ia pun segera bertanya sana-sini dan mengumpulkan berbagai informasi. Dan sebelum hari itu berakhir, Ompa sudah tahu bende adalah gong kecil dalam perangkat gamelan Jawa, dan termasuk dalam kelompok gong.

Kelompok gong ini semua tergantung pada tali dan dikaitkan pada kayu panjang yang diukir dengan indah. Gong paling besar biasanya hanya dipukul sekali saja sebagai tanda penutup pada akhir lagu. Gong itu suaranya rendah, berat, dan gemanya berdengung sangat panjang. Namun jangkauan suara gong tidak terlalu jauh.“Guunngggg…,,” demikian bunyinya, mantap dan agung.

Tapi bende si gong kecil, suaranya lebih kecil dan nyaring: “ Dung, dung, dung…” Dan walaupun kecil, jangkauan suaranya bisa mencapai satu kilometer bahkan lebih, tergantung medannya, apakah tertutup atau terbuka. Itulah sebabnya Pak Bende selalu menggunakan bende.

Setiap hari Pak Bende menyusuri jalanan di seluruh kota. Pada setiap perempatan, Pak Bende berhenti dan memukul bende-nya beberapa kali: “Dung, dung, dung…” Kemudian ia akan berbicara dengan suara sangat nyaring, bagaikan menggunakan pengeras suara. Ucapannya pun sangat jelas. Mungkin karena itulah ia diangkat sebagai juru penerang. Pak Bende berbicara cukup panjang dan menggunakan bahasa Jawa Tinggi.

Ia berkata, “Woro woro, poro piyantun kakung miwah putri—pengumuman bagi para priyayi pria maupun wanita. Lanjutnya, “Ing dalu meniko bade wonten pagelaran ringgit wacucal—pada malam ini akan diadakan pertunjukan wayang kulit…”

Demikian seterusnya dan seterusnya. Semua orang di sekitarnya akan mendengarkan apa yang disampaikan Pak Bende dengan saksama. Mereka yang merasa kurang pendengarannya mulai mendekat supaya bisa menyimak lebih jelas apa yang dikatakan Pak Bende.

“Wah, informasi yang disampaikan Pak Bende selalu cukup banyak,” Ompa memperhatikan dengan penuh kekaguman. Misalnya tentang wayang kulit, tempat pertunjukan, mulainya jam berapa, siapa dalangnya, dan apa lakon yang akan dimainkan. Tetapi bukan itu yang membuat Ompa paling terkesan, melainkan karena Pak Bende selalu dapat menyampaikan semua itu tanpa menggunakan catatan.

“Hmmm… mungkinkah karena Pak Bende tidak bisa baca-tulis, maka ia hanya menggunakan ingatannya?” Dan bersama dengan setiap pertanyaannya yang tak terjawab itu, Ompa kecil pun semakin penasaran tentang kemampuan ingatan Pak Bende ini.

Maka suatu hari Ompa diam-diam sengaja mengikuti Pak Bende. Nah, benar juga, pada setiap pemberhentian selalu ada saja informasi yang terlewat untuk disampaikan. Kadang-kadang Pak Bende lupa menyebut nama dalangnya, tempat pertunjukan, atau yang lainnya. Pantas saja setiap selesai satu pengumuman, selalu ada saja orang yang mendekatinya untuk menanyakan tentang apa yang lupa diinformasikannya tadi. Dan Pak Bende dengan sabar dan bangga selalu melayani pertanyaan orang-orang itu.

Pernah suatu kali Ompa mengingatkan Pak Bende bahwa ada lagi yang kelupaan untuk disampaikan. Pak Bende kaget, memandang ke arah Ompa, dan menarik napas panjang. Lalu ia berjalan meninggalkan Ompa sambil berkata, ”Yo, wis ben wae—Ya, sudahlah, biarkan saja.” Setelah itu tanpa merasa bersalah ia pun melanjutkan perjalanannya sebagai juru penerang.

Kedatangan Pak Bende selalu dirindukan segenap warga kota Wonogiri. Satu minggu saja Pak Bende absen, seluruh lapisan warga pun langsung gelisah bertanya-tanya. Tak peduli tua, muda, anak-anak, apalagi ibu-ibu. Mungkin itu karena Pak Bende orangnya ramah dan terkadang senang menggoda ibu-ibu.

Setiap kali terdengar suara bende sayup-sayup di kejauhan, semua warga kota langsung penasaran dan bersiap mendengarkan berita yang ia sampaikan. Tapi kadang-kadang tiba-tiba suara bende menghilang, padahal orangnya belum lewat di tempat kami. Jika itu terjadi, orang-orang pun ribut, bertanya-tanya ke manakah laki-laki kurus itu. Ternyata Pak Bende sedang beristirahat sambil makan di warung.

Pak Bende selalu menjalankan tugasnya dengan setia dan tak kenal lelah. Ia menyusuri jalanan kota Wonogiri dari pagi hingga petang. Dengan hanya menggunakan bende dan suara nyaringnya, ia mampu mewartakan berbagai berita yang ditunggu-tunggu seluruh masyarakat kota Wonogiri.

Setiap kali matahari telah bersembunyi di balik Gunung Gandul, Pak Bende pun pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya. Ia merasa senang dan puas, tahu seluruh rakyat Wonogiri saat itu merasa senang setelah mendengar kabar malam itu akan ada pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Pendopo Kabupaten, Wonogiri. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Rosi L Simamora

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Renang Gaya Batu

Sketsa Ilustrasi karya: Tjatri Devi

RENANG GAYA BATU

SEMAKIN hari aku merasa semakin bangga menjadi anggota GAGAS, Geng Anak Gragas. Mengapa? Salah satunya adalah karena aku merasa beruntung bahwa tiga temanku anggota lainnya adalah putra daerah, Wonogiri. Mereka telah mengenal wilayah ini sejak lahir. Mereka mengetahui semua, sampai hal yang sekecil-kecilnya.

Apalagi yang namanya Yahmin, dia adalah anak yang paling tahu segala hal. Disamping itu Yahmin juga rajin mengajari aku, anak Malang ini. Sering kuceritakan pada Yahmin bahwa sewaktu aku masih tinggal di Malang, aku pernah menjadi anggota GATAN, Geng Anak Tanjung, Malang.

Kepada Yahmin aku ceritakan pula tentang kehebatan si Cacak, pemimpin GATAN di Malang, tentang penjelajahan kami dari kampung ke kampung, tentang Cacak yang selalu memimpin barisannya dengan tongkatnya, dan sebagainya. Yahmin mendengarkan semua itu hanya dengan senyum-senyum sambil diam saja.

Siang itu, setelah kami selesai menikmati pesta belalang dan burung bakar, Geng Anak Gragas melanjutkan perjalanan. Kali ini kami bergerak menuju ke sungai. Tiba-tiba Yahmin berteriak, “Le, ayo nglangi, leee.. – Ayo kita berenang”. Kemudian kami berlari kencang menuju ke tepi sungai Bengawan Solo yang besar itu. Dari atas tebing yang cukup tinggi di tepi sungai itu, anak-anak melepaskan baju dan celana, lalu mereka menceburkan diri ke sungai.

Demi solidaritas, aku pun melakukan hal yang sama. Tanpa pikir panjang aku cepat-cepat melepaskan baju, celana dan kemudian byuurr….., aku sudah terjun ke dalam sungai. Dan apa yang tidak aku duga-duga pun terjadi. Aku lupa bahwa sebenarnya aku tidak bisa berenang!

Yang terjadi berikutnya adalah peristiwa yang pasti sulit untuk kulupakan seumur hidupku. Tubuhku sudah berada di dalam air. Tadinya aku bermaksud ingin mencabut keputusanku untuk terjun ke air, tetapi itu tidak mungkin lagi karena aku merasa bahwa tubuhku sedang merosot terus ke bawah, di dalam air itu, semakin lama dalam. Kemudian aku sempat beharap agar kakiku akan segera sampai ke dasar sungai untuk kemudian aku akan mencoba melompat kembali ke atas, ke permukaan.

Tetapi yang terjadi adalah kakiku tidak juga menginjak sesuatu. Aku mendadak menjadi panik. Ini tidak boleh terjadi. Aku merasa badanku terus merosot ke bawah. Aku juga merasa sudah tidak tahan lagi menahan napas, air pun mulai masuk ke dalam mulutku. Tetapi kakiku belum mencapai ke tanah juga. Aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya pasrah membiarkan tubuhku tenggelam. Yang terakhir terlintas di pikiranku, sewaktu aku berada di dalam air sungai yang tanpa dasar itu, adalah muka si … Cacak.

Tiba-tiba aku sudah tergeletak di atas rerumputan di pinggir sungai. Aku merasa kepalaku sudah berada di atas tanah, sedangkan kakiku ada yang mengangkat ke atas. Lalu keluarlah banyak air dari dalam mulutku. Kemudian aku terduduk sendirian sambil masih terbatuk-batuk. Sedangkan teman-temanku anak-anak geng sudah kembali berenang.

Dalam kesendirianku itu, aku berpikir lagi mengenai Cacak. Mengapa dulu dia tidak mengajariku berenang? Apakah dia, sang pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, yang legendaris itu juga tidak bisa berenang? Padahal aku telah menyanjung-nyanjung dirinnya di depan si Yahmin. Aku jadi merasa malu pada Yahmin, yang telah mendengarkan tentang kehebatan Cacak sebagai pemimpin. Pantas saja Yahmin saat itu hanya diam sambil senyum-senyum saja. Mungkin begitulah gaya kearifan orang Wonogiri.

Tiba-tiba Yahmin keluar dari sungai lalu mendekatiku. Melihat bahwa aku telah sadarkan diri, ia pun duduk di sampingku.

Ia menasihatiku, “Kalau kamu belum bisa menyelam jangan berenang, itu berbahaya” katanya.

Yahmin lanjut menjelaskan mengenai sungai Bengawan Solo, bahwa kalau permukaan air sungai beriak, itu tandanya tidak dalam. Kalau permukaan air tenang, tidak bergelombang, itu tandanya sangat dalam.   Bagian sungai yang dalam itu namanya, ‘kedung’. Kalau permukaan airnya berputar, itu harus dihindari. Karena bisa-bisa kita terhisap ke dalam. Pantas, rupanya tadi aku bersama anak-anak itu terjun di ‘kedung’.

Yahmin ini rupanya tidak suka banyak berteori. Aku langsung diajaknya ke sungai yang dangkal, yang airnya hanya setinggi lutut. Kemudian aku disuruhnya membenamkan kepala ke dalam air sambil menghitung sendiri, dalam berapa hitungan kepalaku dapat bertahan di dalam air. Lalu Yahmin meninggalkanku dan kembali berenang bersama teman-temannya.

Aku kemudian berlatih sendiri dengan serius. Semula diriku hanya bertahan di dalam air dalam lima hitungan saja, lama kelamaan meningkat terus.

Sewaktu Yahmin datang kembali, aku sudah mampu menyelam selama lima belas hitungan. Yahmin lalu membawaku ke atas tebing, dan tanpa ijinku aku kemudian didorongnya terjun ke kedung yang dalam itu.

Akupun terjun ke dalam air seperti tadi, tetapi kali ini aku tetap tenang sambil menahan napas. Aku lalu mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakiku seperti katak. Gerakan itu teratur dan tidak terburu-buru. Aku melihat warna air diatasku kelihatan semakin lama semakin terang, kemudian kepalaku pun muncul di atas permukaan air. Sambil menghisap udara cepat-cepat dan kemudian masuk kembali ke dalam air, aku mendengar jelas teman-temanku bertepuk tangan keras-keras dari atas tebing.

Aku kemudian berenang ke tepi sungai dan merasa sedikit haru. Hari ini aku sudah bisa berenang. Aku tersenyum kepada Yahmin dan kedua temannya. Mereka membalas dengan tertawa terbahak-bahak sambil terjun lagi ke kedung, bagian terdalam dari sungai Bengawan Solo.

Tak mau kalah aku pun ikut terjun lagi, kali ini dengan gaya “gado-gado”. Mungkin jika di dalam dunia olah raga renang, gaya ini disebut dengan “Gaya Punggung Katak Kupu Kupu Bebas”.

***

Seperempat abad setelah kejadian tesebut, 25 tahun kemudian, aku, si Ompa ini sudah menikah. Pernah suatu kali di kantor Utie, istriku, ada acara pekan olahraga. Salah satu perlombaan yang di lombakan adalah lomba renang. Aku baru semangat ingin mendaftar setelah mengetahui dalam lomba renang itu ada cabang: “Renang Gaya Batu” yaitu menyelam.

Pada akhir perlombaan, semua peserta sudah keluar dan sudah lama berada di atas air, mereka menungguku di tepi kolam. Tetapi aku masih tenang-tenang saja berada di dasar kolam, sambil merayap-rayap menghitung ubin lantai kolam renang itu. Beberapa peserta mulai terlihat panik saat menyadari aku belum juga keluar dari dalam air.

Hari itu aku mendapat piala, juara “Renang Gaya Batu”. Piala itu kuangkat tinggi-tinggi dan dalam imajinasiku aku membayangkan, aku, si Ompa, sedang menyerahkan piala itu kepada Yahmin. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Mainan Anak Perang

wpid-img-20150831-wa0125-01.jpeg

MAINAN ANAK PERANG

TENTARA Belanda telah pergi meninggalkan Wonogiri. Suasana damai, aman, tenteram dan nyaman mulai terasa lagi di kota ini. Gunung Gandul tetap tegak berdiri dan siap untuk didaki. Mbok-mbok bakul pun mulai meramaikan lagi Pasar Wonogiri dan juga memeriahkan suasa jalanan di depan rumahku, di Jalan Jurang Gempal.

Tetapi benarkah itu semua? Ternyata tidak. “perang lain” ternyata baru saja akan dimulai. Semua harus mempersiapkan diri karena Belanda akan kembali datang. Itu lah yang ada di dalam pikiran kami, aku dan anak-anak Wonogiri anggota GAGAS (Geng Anak Gragas).

Maka secara hampir serentak muncullah “tentara-tentara kecil” di seluruh Wonogiri. Mereka mereka memperlengkapi diri dengan “senjata”masing-masing.

Sementara itu senjata kegemaranku adalah senjata otomatis laras panjang. Senjata itu buatanku sendiri, yaitu terbuat dari tulangan daun pisang, yang di kiri-kanannya di beri enam buah ‘coakan’ (belahan) dari atas ke bawah. Masing-masing coakan itu sepanjang sekitar sepuluh sentimeter. Coakan itu bisa dibuka dari atas ke bawah. Maka kalau tulangan daun pisang itu di genggam dengan telapak tangan dan di dorong dari bawah ke atas, maka coakan-coakan itu akan menutup dengan suara cukup keras, suaranya plok..plok…plok. Dan kalau dorongannya cepat, maka suaranya akan mirip sekali seperti rentetan suara tembakan senjata otomatis.

Selain ituaku juga suka menggunakan ikat pinggang. Pada ikat pinggangku itu bergelantungan granat. Granat adalah senjata bulat segenggaman orang dewasa, yang gunanya untuk dilemparkan ke arah musuh dan kemudian akan meledak. Konon ada dua macam granat, dibedakan dari bentuknya. Ada Granat Nanas dan ada Granat Manggis. Tetapi jenis“granat” yang aku sering gunakan adalah jenis ‘Granat Lontong’, karena bentuknya yang bulat dan panjang seperti lontong.

Granat Lontong ini terbuat dari gulungan kertas yang kemudian di dalamnya diisi dengan bubuk kapur berwarna putih, yang namanya gamping. Di kedua ujung gulungan kertas itu lalu ditutup dengan cara dilipat dan di lem rapat. Aku sangat menyukai Granat Lontong ini.

Kalau granat ini dilempar dan jatuh ke tanah maka granat itu akan pecah dan menyebarlah bubuk putih tadi. Kalau granat ini aku lemparkan lebih tinggi lagi jauh ke udara, dengan sebelumnya sedikit dilubangi, maka  granat ini akan melayang di udara sambil meninggalkan taburan bubuk putih, bagaikan asap sebuah roket. Menurtku dan teman-teman senjata ini sangat keren.

Maka, dengan ‘perlengkapan-perlengkapan perang’ itu, kini para anggota geng anak GAGAS merasa bahwa tugas kami bukan lah hanya mencari makan saja, tetapi juga untuk siap berperang melawan penjajah.

Kami anak-anak Wonogiri ini berprinsip bahwa kami semua tidak takut terhadap tentara Belanda, meskipun tentara Belanda diperlengkapi dengan pesawat tempur, meriam dan kendaraan perang yang canggih, bahkan walaupun juga dipersenjatai dengan makanan kalengan yang enak-enak dan melimpah. Kami ini lebih menghargai tentara-tentara Republik yang sederhana tetapi mempunyai semangat kepahlawanan yang membuat kami, kagum dan bangga.

Siang itu, setelah menyelesaikan operasi makan belalang para anggota Geng Anak Gragas, melanjutkan perjalanan napak tilas ke ‘front’, yaitu lokasi yang dulunya merupakan garis depan dari perjuangan tentara kita.

Kami menyeberangi jembatan sungai Bengawan Solo, dan menuju ke Pokoh, lokasi tempat tentara kita mengadakan serangan-serangan ke arah Kota Wonogiri, yang diduduki Belanda.

Pokoh terletak diseberang sungai Bengawan Solo. Disitu, dipinggir sungai terdapat tanah terbuka yang luas dan dipenuhi semak belukar. Kemudian kami pun memulai sebuah operasi “pencarian” di tempat tersebut.

Operasi pencarian yang kami lakukan ternyata mendatangkan hasil. Kami menemukan banyak selongsong bekas peluru yang ditembakkan dari tempat itu. Perlu diketahui, bahwa jika senjata ditembakkan, pelurunya akan melesat, tetapi selongsong peluru akan terlontar ke samping dari senjata itu. Banyak sekali kami temukan selongsong peluru yang bertebaran disitu.

Tetapi operasi pencarian kami terus berlanjut. Kami mulai juga membongkar semak-semak di daerah itu, sambil mencari ular tentunya. Akhirnya kami menemukan apa yang sebenarnya kami cari-cari, yaitu peluru yang masih utuh, yang belum ditembakkan.

Maka dengan hati-hati kami memasukkan peluru utuh tersebut ke dalam sebuah kantong. Setelah itu kami kembali pulang menyeberangi jembatan dan menuju ke base-camp. Di sana kami sembunyikan peluru-peluru tersebut di bawah bebatuan di semak-semak, lalu kami pulang ke rumah.

Keesokan harinya kami kembali ke pos dengan membawa beberapa perlengkapan berupa tang, pisau dan gunting. Acara geng GAGAS hari itu hanya satu, yaitu mencoba membongkar peluru-peluru utuh yang kemarin kami temukan, tentu saja tanpa ada yang boleh meledak.

Dengan sangat hati-hati kami melepaskan kepala peluru yang tajam itu dari selongsongnya. Semua ini harus dilakukan dengan sangat lembut, tidak boleh ada satu hentakan pun . Kalau sampai ada hentakan, atau peluru itu terjatuh apalagi terantuk di benda keras, maka mesiu yang ada di dalam peluru itu akan meledak, dan kepala peluru yang tajam itu bisa melesat dan menerjang apapun dan siapapun yang menghalanginya.

Setelah bersusah payah dan penuh ketegangan akhirnya sebuah peluru berhasil mereka buka. Lalu dengan cermat dan berhati-hati kami keluarkan mesiu yang ada di dalam peluru itu. Ini sungguh berbahaya, “please don’t try this at home” ya….

Mesiu yang sangat berbahaya tersebut berbeda-beda bentuknya, ada yang berbentuk seperti bihun yang berwarna kuning, ada juga yang berbentuk biji-biji batu yang kecil-kecil sebesar beras dan berwarna hitam. Mesiu itulah yang kemudian kami kumpulkan dengan hati-hati dan kemudian kami masukkan ke dalam kotak. Aku mengambil sejumput kecil mesiu itu lalu kubungkus dengan kertas timah. Nah, sekarang jadilah sebuah “bom kecil”.

Bungkusan kertas timah yang di dalamnya berisi mesiu itu kami letakkan di atas batu yang besar dan rata bagian atasnya, lalu ditumbuk dengan batu lainnya maka “DOR!!..”, terjadilah ledakan yang keras. Semakin besar bungkusan itu, semakin besar dan keras pula suara ledakannya. Kadang-kadang kami sering berpura-pura menembak ‘musuh’ dengan ledakan yang sebenarnya, dari mesiu itu.

Pada suatu siang, kami bersiap untuk mengadakan latihan perang-perangan secara besar-besaran antar kampung. Kampungku, yang berada di Selatan Jalan Raya Jurang Gempal, akan melawan Kampung yang berada di sisi Utara jalan raya. Perundingan pun diadakan, kami semua sepakat bahwa perang-perangan itu hanya akan menggunakan Granat Lontong, tidak boleh menggunakan batu, anak panah atau senjata tajam lainnya. Pertempuran akan dilakukan dengan saling melempar ‘granat’ berisi gamping (bubuk kapur).

Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Pasukanku berhasil mendesak musuh masuk ke utara jalan raya. Aku paling semangat berteriak memberikan aba-aba agar pasukan kampung kami maju menyerang lawan. Dan mereka pun dengan keberanian yang luar biasa maju ke depan sambil berteriak-teriak.

Aku memberikan aba-aba itu bukan dari depan, tapi dari belakang pasukan, karena pasukan terdepan adalah anak-anak yang badannya lebih besar daripada badanku. Dan aku pun harus selalu waspada memperhatikan barisan yang terdepan itu. Kalau mereka kelihatan akan mundur, maka aku akan berlari terlebih dulu meninggalkan pertempuran itu.

Beruntunglah anak-anak dari kampung kami berhasil memenangkan perang tersebut, dengan meninggalkan “kerusakan” parah di pihak lawan. Jalanan, halaman dan atap-atap rumah dipenuhi dengan bubuk berwarna putih, bagaikan salju yang menyelimuti rumah-rumah di Iceland, di dekat kutub utara sana. Sejak itu permainan perang-perangan yang biasa anak-anak suka lakukan ini dilarang.

Maka kembalilah anggota GAGAS, Geng Anak Gragas ke posnya, untuk kembali kepada tugas semula, mencari makan. Belalang! (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Selebriti Sekolah

SELEBRITI SEKOLAH

SAAT itu kota Wonogiri sudah mulai aman dan berangsur bebas dari suasana perang akibat pendudukan tentara Belanda. Kota Wonogiri kembali menjadi kota yang indah, aman dan nyaman. Gunung Gandul pun masih berdiri tegak dan gagah di sisi Barat kota Wonogiri.

Musim bersekolah dimulai kembali. Aku mulai masuk ke Sekolah Rakyat Negeri Tiga Wonogiri. Gedung sekolahnya tidak jauh dari rumah keluarga Pak Mojo di Jalan Jurang Gempal. Dari rumah, aku cukup berjalan kaki kurang lebih dua puluh menit untuk tiba sekolah.

Aku hanya tinggal menyusuri jalan raya di depan rumah, lalu belok ke kiri ke arah kota. Setelah mencapai ujung tanjakan, jalanan mulai agak rata. Di sisi kanan setelah tanjakan itu ada sebuah gedung penyimpanan garam, namanya Gudang Garam. Dari sana tinggal sedikit berjalan lurus, maka tibalah aku di sekolahku.

Di seberang gudang garam dan gedung sekolah tersebut terhampar luas sebuah tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon-pohon. Di situlah letaknya tempat pohon kenari yang biaa aku kunjungi.

Bagiku, sekolah bukan hanya sekedar tempat belajar saja, tetapi juga tempat berpetualang yang menggairahkan. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan penuh semangat dan riang gembira, karena aku percaya bahwa setiap hari akan selalu saja terjadi banyak hal-hal yang baru.

Kedatanganku di sekolah selalu disambut dengan ramah oleh teman-teman dan juga para guru. Mengapa? Karena di sekolah itu aku memang agak berbeda dari anak-anak lain. Aku adalah seorang anak yang berasal dari Jawa Timur, setiap hari mereka tidak sabar untuk mendengarkan aku berbicara dengan dialek Jawa Timuran.

Bahasa dan dialeknya memang berbeda. Misalnya: ”Ini bagaimana sih bung”. Kalau bahasa Jawa Tengah: ”Iki piye to cah”. Sedangkan bahasa Jawa Timuran: ”Yok oopo se, rek”. Jauh berbeda kan? Disamping itu di Jawa Tengah orang-orang berbicara dengan nada suara yang halus. Sedangkan aku yang bergaya Jawa Timuran mempunyai suara yang keras dan nyaris meledak-ledak kalau berbicara.

Setiap hari seluruh anak selalu tidak sabar menunggu terdengarnya lonceng tanda waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, anak-anak itu langsung berkerumun di pojok halaman sekolah. Mereka sudah siap menantikan kehadiranku, si Ompa.

Aku kadang-kadang tidak langsung juga mendatangi kerumunan itu. Biarlah mereka penasaran dulu. Saat akhirnya aku menghampiri kerumunan itu, aku selalu berjalan dengan pelan, berlagak seperti sang pengkhotbah yang datang dan mengharapkan sambutan dari para pendengarnya.

Sementara itu anak-anak perempuan hanya bergerombol dan melihat kami dari jauh. Setiap kali aku mencoba mendekati mereka, mereka selalu menghindar, sambil menutup mulut dan tertawa-tawa melihatku.

Tak lama kemudian aku pun sudah berada di tengah anak-anak tersebut dan mulai bercerita tentang pengalaman perangku. Kadang-kadang mereka terlihat kurang mengerti dengan apa yang aku katakan, karena aku memakai bahasa dialek Jawa Timuran, maka untuk memperjelas ceritaku, aku juga melakukan gerakan-gerakan tubuh dan tangan. Bukankah aku telah belajar itu dari si tukang obat, di pinggir alun-alun kota Malang, sewaktu aku masih TK dulu?

Sambil bercerita aku selalu sambil mengamati mata teman-temaku. Mata mereka melotot, terkagum-kagum padaku. Aku merasa senang dan sangat menikmati itu semua.

Pernah suatu hari, di saat jam istirahat sekolah, aku diminta datang ke kantor guru. Aku kaget dan khawatir kalau-kalau aku akan ditegur karena kebiasaanku suka berpidato di depan teman-teman. Di dalam ruangan kantor sudah berkumpul para guru. Aku diminta berdiri di depan mereka. Terus terang aku merasa tegang dan gugup.

Lalu para guru itu satu persatu mulai mewawancaraiku secara bergantian. Mereka memintaku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Persis seperti orang yang sedang diaudisi. Tetapi sesaat kemudan mereka mulai tertawa terbahak-bahak mendengarkan caraku menjawab dan bercerita.

Makin hari aku semakin merasa bagaikan seorang selebriti di sekolah itu. Setiap kali ada ibu atau bapak guru berpapasan jalan denganku, mereka tersenyum dan kemudian menepuk-nepuk bahuku. Aku merasa sangat bahagia.

Aku juga terkenal di sekolah karena aku suka menyanyi. Saat pelajaran menyanyi, anak-anak harus maju satu persatu. Seringkali aku sengaja dilewatkan dan tidak dipanggil. Setelah semua anak sudah mendapat giliran dan bernyanyi di depan kelas, baru kemdian aku diminta maju untuk menyanyi. Aku selalu menyanyi dengan lantang dan keras. Tak heran suaraku terdengar sampai ke seluruh sudut sekolah.

Siang hari, di saat bubaran sekolah, hanya teman-teman laki-laki yang pemberani lah yang mau berjalan bersamaku. Yang lain berjalan menjauh, apalagi anak-anak perempuan, mereka hanya tersenyum ke arahku dengan matanya, tetapi mulutnya ditutupi dengan tangannya. Mengapa? Karena mereka tahu di dalam ranselku seringkali ada seekor ular hidup melingkar. Aku memang sering membawa ular peliharaanku ke sekolah, untuk aksi-aksian saja, biar kelihatan keren.

Maka siang itu semua anak-anak pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tetapi tidak denganku, aku masih akan ada pertemuan penting dengan para anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di kebon kosong di seberang sekolahan, di bawah pohon kenari. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Perempuan Misterius

Skectch illustration by Tjatri Devi
Skectch illustration by Tjatri Devi

.

PEREMPUAN MISTERIUS

 

SEJAK masih bayi, aku tinggal di rumah Mbah Tanjung di Kota Malang. Aku tinggal bersama anak-anak lain yang lebih besar yang juga dititipkan oleh orang tua mereka. Alasan aku dititipkan adalah karena ayahku telah meninggal dunia ketika aku masih bayi.

Aku ingat secara samar-samar saat aku masih sangat kecil, saat aku belum bisa melakukan banyak hal. Mungkin saat itu aku baru bisa duduk dan merangkak, belum bisa berjalan.

Nah ijinkan aku sekarang mencoba mengingat-ingat jauh ke masa kecilku.

Aku masih ingat saat-saat dimana ada sosok seorang perempuan sedang duduk di depanku, di atas dipan. Perempuan itu memandangku sambil menangis. Saat itu, aku bingung, mengapa ia terus menangis di depanku. Siapakah perempuan itu sebenarnya. Terkadang aku digendongnya berjalan mondar-mandir di sekitar rumah Mbah Tanjung. Sebelum ia pergi, aku dikembalikan lagi ke atas dipan, lalu perempuan itu menangis lagi sambil memandangi aku. Tidak berapa lama kemudian perempuan itu pergi dan tak kelihatan lagi.

Pada lain waktu, kejadian seperti itu terulang lagi. Perempuan itu datang ke rumah Mbah Tanjung, duduk lagi di dipan tepat di depanku, menggendongku, dan menangis lagi sambil memandangiku, lalu ia pergi lagi.

Aku merasa aneh melihat perempuan asing itu. Pernah suatu kali aku digendongnya, berjalan mondar-mandir, diajaknya menuju halaman, melihat-lihat apa yang ada disitu. Ada ayam, kucing, burung, yang sepertinya ia ingin menunjukan semua itu kepadaku. Padahal aku ini sudah terbiasa melihatnya, karena memang binatang-binatang itu setiap hari ada di sekitar rumah Mbah Tanjung. Aku yang masih sangat kecil waktu itu menurut saja.

.Suatu pagi perempuan itu datang lagi. Tetapi, kali ini ia tidak menangis. Aku lalu ‘didandani’-nya dengan pakaian rapih. Tidak lama kemudian, aku telah berada dalam gendongannya, dan yang aku ingat, tiba-tiba kami sudah berada di tengah keramaian pasar. Ya, aku diajaknya ke pasar.

Di pasar, perempuan itu berbisik ke telingaku, “Koe arep opo?…(kamu mau apa?).” Aku lalu menunjuk apa saja yang ada di depanku. Ada kue, aku tunjuk, dan ia membelikan kue itu buatku. Lalu aku menunjuk lagi ke tempat lain. Ada permen, aku tunjuk, dan perempuan itu lalu membelikannya. Begitu seterusnya, apapun yang aku tunjuk selalu dibelikannya, hingga sekeranjang penuh. Aku merasa sangat bahagia saat itu. Pulang dari pasar, kami berdua naik becak. Di atas becak aku tertidur. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat sosok perempuan itu.

Bertahun-tahun kemudian setelah kejadian itu, aku baru mengerti bahwa perempuan misterius itu adalah Ibu kandungku.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Pertempuran Darat

KNIL
KNIL

PERTEMPURAN DARAT

 

SEPERTI yang pernah aku ceritakan sebelumnya, sejak tinggal di kota Mojokerto aku sudah berkenalan dengan suasana perang. Aku pernah menyaksikan serangan udara, penembakan canon Belanda ke wilayah tentara Republik, dan gempuran mortir tentara Indonesia ke kota yang sudah diduduki Belanda. Tetapi satu hal yang belum pernah aku lihat, yakni pertempuran darat langsung, seperti dalam film-film perang.

Perang membuat aku terpaksa mengungsi. Mulai dari Mojokerto, Jombang, Solo, lalu ke Wonogiri. Di kota terakhir ini Pak Mojo memutuskan untuk tidak akan mengungsi lagi. Semula aku juga berpikir begitu, karena mana mungkin tentara Belanda tertarik untuk menduduki kota ini. Toh Wonogiri hanya sebuah kota kecil.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Sejak kemarin malam, aku sudah mendengar suara dentuman-dentuman, semakin lama semakin dekat. Tetapi saat siang hari suara dentuman sudah tidak terdengar lagi. Jadi aku mengira bahwa tentara Belanda hanya ingin menakut-nakuti saja.

Namun, suara dentuman tadi malam terdengar semakin lebih mendekat. Apalagi suara itu terdengar seperti hujan peluru canon yang jatuh di kota Wonogiri. Aku lantas berpikir, sepertinya keadaan akan semakin serius.

Benar saja, tidak lama kemudian aku mendengar ada dua jenis suara tembakan. Yang satu suara rentetan tembakan dengan dentuman besar, sedangkan yang satunya terdengar lebih ringan dan letusannya hanya satu-dua kali, jarang-jarang. Aku langsung berpikir, mengacu pada sebuah film yang pernah aku tonton, bahwa ini seperti pertempuran darat.

Dua jenis suara tembakan itu semakin lama semakin mendekat. Sepertinya dari arah kota melalui Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami. Aku pun semakin bersemangat menempelkan mataku ke dekat kaca jendela, mengintip. Sedangkan Pak Mojo dan Bu Mojo duduk di lantai pojok ruangan. Pak Mojo menyuruhku untuk segera turun dari jendela, agar tidak kelihatan dari luar. Tetapi aku tetap bandel, mengintip ke luar sambil berdiri di atas kursi dekat kaca jendela.

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa tentara yang lewat sambil melepaskan tembakan, bergerak mundur ke arah Timur, ke arah jembatan sungai Bengawan Solo. Sedangkan dari arah kota, terdengar rentetan suara letusan senjata berat.

Lama kelamaan suara-suara itu seperti semakin mendekati jalan depan rumah. Dari dalam rumah terdengar derap sepatu tentara yang semakin lama semakin mendekat. Aku mendadak menjadi tegang dan takut, tetapi aku sungguh ingin melihatnya langsung. Benarkah itu suara derap sepatu tentara Belanda. Belum lama aku berpikir, muncul barisan tentara berbaju loreng yang masing-masing memegang senjata laras panjang. Aku sungguh terkejut dengan apa yang kulihat. Ternyata mereka bukan tentara yang berkulit putih, tapi berkulit gelap!

Aku jadi ingat, rupanya merekalah yang disebut tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). KNIL adalah pasukan yang biasa dipakai oleh Belanda untuk lebih dulu menyerbu ke daerah yang akan didudukinya. Anggota tentara KNIL kebanyakan adalah orang pribumi

Di jalanan depan rumahku, para tentara yang berbaju loreng itu berteriak-teriak sambil sesekali melepaskan tembakan. Mereka memerintahkan semua laki-laki dewasa agar segera keluar dari dalam rumah sambil mengangkat tangan.

Aku kemudian menyaksikan rumah tetangga di seberang jalan didobrak. Dengan sepatunya yang kuat, tentara itu menendang pintu rumahnya, karena terlalu lama tidak dibuka dari dalam. Aku menjadi semakin ketakutan.

Dan tiba-tiba saja aku melihat sudah ada seorang tentara di halaman rumah kami. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu depan dan keluar. Aku tidak mau pintu rumahku dirusak. Baik digedor atau didobrak seperti rumah tetangga itu.

Tentara itu bertanya sambil berteriak, apakah ada laki-laki dewasa di rumah kami. Sambil gemetar hebat tidak mampu bicara, aku hanya mengacungkan jari telunjukku. Yang ingin aku katakan adalah bahwa di rumah kami hanya ada satu lelaki dewasa.

Kemudian aku menjerit memanggil Pak Mojo agar segera keluar. Dengan ketakutan Pak Mojo keluar sambil mengangkat kedua tangannya. Tentara itu masih tidak percaya, bahwa memang hanya ada satu orang laki-laki di dalam rumah kami. Ia lalu memeriksa masuk ke dalam rumah. Setelah yakin tidak ada orang yang dicarinya, tentara itu menggelandang Pak Mojo keluar, ke tepi jalan.

Semua laki-laki itu diperintahkan untuk duduk berjejer di tepi jalan, sambil meletakkan kedua tangan mereka di belakang kepala masing-masing. Aku melihat, beberapa pemuda mendapat tendangan sepatu lars tentara. Aku melihat Pak Mojo tidak dipukul, hanya kepalanya saja yang digoyang-goyang.

Akhirnya, semua laki-laki itu digiring menuju ke arah kota dengan todongan senjata laras panjang. Saat hari telah menjelang sore, akhirnya Pak Mojo pulang kembali ke rumah dengan tidak kurang suatu apapun. Syukurlah…

Setelah kota Wonogiri mereka anggap aman, saat hari menjelang gelap baru tampak iring-iringan kendaraan militer berwarna loreng yang membawa tentara Belanda, berkulit putih, memasuki kota Wonogiri. Suasana malam itu sungguh mencekam. Kami tidak bisa tidur karena harus selalu waspada. Suara dentuman dan letusan senjata sesekali terdengar di kejauhan, di seberang Sungai Bengawan solo. Akhirnya kota Wonogiri juga diduduki oleh tentara Belanda, batinku.

Sepanjang malam kami berdoa agar tidak terjadi apa-apa malam itu, juga esok harinya dan hari-hari setelahnya. Aku juga berdoa agar kami tidak harus pergi mengungsi lagi. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑