Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Antonius Sutedjo

Sang Pemintal

Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.
Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.

SANG PEMINTAL

AKU dilahirkan di kota Malang, di rumah Mbah Tanjung, di Jalan Tanjung Gang Dua. Setelah aku sekolah TK, aku pindah ke kota Mojokerto. Aku diangkat menjadi anak oleh Pak Mojo, adik Mbah Tanjung. Dari Mojokerto aku terpaksa mengungsi ke arah barat, ke Jombang, lalu ke Solo, dan mengungsi lagi sampai ke Wonogiri.

Jika ditarik benang merahnya, maka perjalanan panjangku ini ternyata menuju ke akar dari garis silsilah keluargaku. Mengapa? Karena ayah kandungku, almarhum, yang telah meninggalkanku saat aku masih bayi adalah anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Kaligunting tinggal di Desa Kaligunting, yang jaraknya sekitar tiga puluh kilometer di sebelah selatan Kota Wonogiri. Mbah Kaligunting adalah seorang Kepala Desa yang disegani, baik oleh warga Desa Kaligunting sendiri maupun warga desa-desa di sekitarnya.

Di depan rumahnya, Mbah Kaligunting memiliki tanah yang sangat luas, yang ditanami dengan palawija seperti jagung, singkong, ubi jalar dan semacamnya, termasuk kapas. Jenis palawija itu tergantung dari musimnya.

Pada masa itu banyak daerah di Indonesia yang sedang mengalami kesulitan, termasuk Wonogiri. Harga bahan-bahan pokok melambung tinggi. Sehingga beras pun hilang dari pasaran, jikapun ada harganya sangat-sangat mahal. Maka makanan pokok kami sehari-hari adalah Tiwul, yang berasal singkong kering (Gaplek) yang ditumbuk halus dan ditanak seperti nasi. Jadilah Sego Tiwul. (Nama yang aneh, sebab Sego Tiwul berarti juga nasi tiwul). Di rumah kami yang boleh makan nasi putih hanya Pak Mojo, karena beliau adalah kepala keluarga.

Pak Mojo punya kebiasaan merokok, tetapi saat itu harga rokok juga sangat mahal sehingga tidak terbeli. Pada suatu hari aku perhatikan bahwa Pak Mojo terlihat menderita karena ingin merokok. Aku pun tiba-tiba punya ide untuk membuat rokok sendiri.

Kemudian aku minta ke Bu Mojo sejumlah uang untuk membeli tembakau dan kertas Sek (kertas tipis untuk membungkus tembakau). Aku pergi ke pasar membeli kertas Sek, tembakau merk Virginia dan sausnya yang berbau wangi. Aku lalu membuat alat pelinting rokok, berupa sebatang pensil yang bulat dan di tengahnya diberi kertas yang sudah dilem pada sebuah pensil, seperti bendera. Maka, proses pembuatan rokok dimulai.

Pada pangkal lembaran kertas itu aku letakkan gulungan tembakau, lalu kuratakan seperti bentuk rokok. Kemudian pensil itu diputar, sehingga menekan cukup padat gulungan tembakau. Pensil itu kuputar terus-menerus. Selanjutnya kuletakkan kertas tipis yang sudah diberi lem di pinggirnya, yang lalu digilas oleh tembakau dan pensil itu. Woallaa, maka keluarlah sebatang rokok dari kertas itu. Pekerjaan terakhir adalah menggunting kedua ujung rokok untuk membuang tembakaunya yang kurag rapi. Maka jadilah batang rokok pertama produksiku sendiri.

Sewaktu Pak Mojo menarik isapan pertama rokok itu, Aku tegang, menanti reaksi Pak Mojo. Setelah menghembuskan asap rokok pertama dari mulutnya, muka Pak Mojo berubah menjadi cerah. Katanya, rokok buatanku itu jauh lebih enak daripada rokok buatan pabrik.

Aku percaya itu, karena tembakaunya masih segar, apalagi kutambah dengan saus tembakau yang sangat wangi. Pak Mojo sangat gembira. Ia kemudian menceritakan ke teman-temannya tentang Rokok Made in Sutedjo itu. Pesanan pun mulai mengalir, dan aku mulai mendapat keuntungan dari pabrik rokok kecil-kecilan milikku.

Suatu hari kami mendapat kunjungan dari Mbah Kaligunting, beserta Mbah Putri dan diiringi oleh seorang pengawal. Mbah Kaligunting membawa oleh-oleh untukku, cucunya ini, sekarung besar kapas, hasil tanaman dari desanya.

Si Mbah rupanya mendengar bahwa aku sedang berbisnis rokok. Maka beliau memberi kapas itu untuk dijual, dan hasil penjualannya bisa untuk membantu keuangan keluarga di Wonogiri.

Setelah rombongan dari desa itu pulang, kuperhatikan kapas di dalam karung itu. Aku berpikir akan sayang sekali kalau kapas itu dijual begitu saja ke pasar. Maka, aku pun berlari ke rumah seorang temanku yang ibunya pembuat benang tenun. Rumah temanku itu berada di dalam kampung, dekat sungai Bengawan Solo.

Rencananya, aku hendak belajar cara membuat benang tenun dari kapas. Dalam waktu dua hari aku sudah menguasai cara pembuatan benang. Ibu temanku itu baik sekali. Aku dibolehkan meminjam alat pemintal miliknya yang sudah tidak dipakai lagi. Dibantu oleh temanku itu, aku pulang dengan penuh semangat membawa semua peralatan tersebut.

Maka sejak saat itu dimulailah produksi ‘Pabrik Benang Tenun’. Proses pembuatan benang dari kapas itu membutuhkan waktu yang cukup panjang dan perlu ketelitian.

Tahap pertama adalah mengurai serabut kapas yang putih menjadi serabut yang sangat jarang dan lembut. Caranya, aku menggunakan semacam busur panah. Tali busur panah itu kutarik-tarik dan dilepaskan di atas gumpalan kapas. Dengan begitu, serabut kapas itu akan menempel di tali busur. Dan yang menempel itu adalah serabut-serabut yang sudah terurai sehingga menjadi sangat jarang dan lembut sekali.

Serabut halus yang sudah menempel di tali busur itu kemudian aku lepas dan kumpulkan. Serabut-serabut itu siap dipintal.

Proses yang paling sulit adalah saat memintal, yaitu membuat serabut yang sudah halus menjadi benang. Itu perlu keterampilan, ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Tangan kananku memutar roda pintal. Roda itu dihubungkan dengan karet ke jarum pintal. Sehingga, jika aku memutar roda itu, jarum pintal akan berputar dengan cepat sekali.

Kemudian aku menempelkan ujung dari serabut halus itu, ke ujung jarum alat pintal yang sudah berputar. Maka, ujung jarum yang berputar itu akan memilin serabut itu dan tergulung menjadi benang.

Jika tangan kiriku yang memegang serabut itu sudah cukup panjang, ke belakang, maka roda harus dihentikan. Lalu, tangan kiriku memasukan benang yang sudah jadi itu ke tengah jarum sehingga benang tergulung. Jika melakukannya dengan emosi atau sambil marah misalnya, benang-benang itu akan kusut atau menggumpal tidak rata. Jika sudah begitu, maka aku harus mengulangi prosesnya dari awal lagi.

Benang yang sudah siap harus digulung dan dililitkan dari telapak tangan sampai ke siku. Setiap sepuluh lilitan diberi tanda, dengan ikatan benang juga. Jumlah ikatan itulah yang dipakai untuk menghitung panjangnya benang. Gulungan benang itu kemudian ‘diukel’, yaitu digulung seperti rambut yang dikepang.

Benang buatanku ini lama kelamaan menjadi terkenal di seluruh pasar di Wonogiri, karena kuat dan halus merata. Aku membawa gulungan benang itu di dalam tas besar yang terbuat dari anyaman daun pandan kering.

Pagi itu aku membawa empat ‘Ukel’ (gulungan) benangnya di dalam tas pandan. Aku menjepit tas itu dengan ketiak, sambil tanganku menjepit lubang tas bagian depan. Sewaktu aku memasuki pasar dan menuju ke tempat penjualan benang tenun, seperti biasa Mbok-Mbok banyak yang memanggilku, agar aku bersedia menjual benang kepada mereka. Tetapi, aku menemui seorang Mbok langgananku. Di depannya aku langsung berjongkok. Sewaktu merogoh tas, aku terkejut setengah mati. Tasku ternyata… kosong!

Empat gulung benang milikku yang kubuat susah payah lebih dari satu minggu itu telah lenyap dari tasku. Aku hampir pingsan. Mbok-mbok di situ mengerumuniku. Mereka mengatakan, bahwa benangku itu pasti telah diambil orang, karena tas pandan yang besar itu pada bagian belakangnya bolong melompong tidak tertutup.

Tanganku waktu itu ternyata terlalu kecil dan hanya sampai pada bagian tengah dan depan tas saja. Aku menangis tersedu-sedu dan duduk di tanah, di belakang Mbok-mbok itu berdiri. Aku sangat kecewa dan sedih sekali. Hingga sore hari aku hanya duduk termenung di situ.

Saat pasar mulai sepi, ada beberapa orang yang merasa kasihan kepadaku, mereka memberi minum dan makanan kepadaku. Menjelang maghrib, aku berjalan gontai menuju pulang. Perjalanan pulang itu terasa sangat panjang dan lama sekali, tidak kunjung sampai ke rumah.

Berhari-hari aku merenungi kejadian itu. Aku tidak habis mengerti, mengapa ada orang sejahat itu kepadaku. Aku terbayang kerja keras proses pembuatan empat ukel benang itu yang memakan waktu berhari-hari.

Pada saat kesedihanku mulai pudar dan aku siap hendak memintal benang lagi, di saat itu aku baru sadar bahwa stok kapas dari Mbah Kaligunting sudah habis. Ternyata, empat ukel yang hilang itu adalah empat ukel terakhirku!

Berakhir sudah nasib ‘Pabrik Benang Tenun’. Maka semua peralatan pemintalan pinjaman itu kukembalikan ke rumah ibu temanku. Setelah menyerahkan dan mengucapkan banyak terimakasih, aku pulang dengan berjalan setengah berlari. Aku pulang dengan semangat baru karena ini lah saatnya aku akan berganti bisnis! (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Gentong dan Siwur

.

Ilustrasi sketsa by Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

GENTONG DAN SIWUR

KOTA Wonogiri, bagiku, adalah kota yang indah. Selama tinggal di kota yang berbukit-bukit ini aku merasa nyaman., meskipun kota Wonogiri bukan termasuk kota besar.

Dari pusat kota, sepanjang jalan ke arah timur, jalan raya tampak menurun, landai hingga ke sungai Bengawan Solo. Di sungai itu terdapat sebuah jembatan. Satu-satunya jembatan yang menjadi penghubung antara desa dan kota. Daerah yang menurun di sekitar jembatan itu bernama Jurang Gempal.

Di tepi jalan raya yang melandai itulah, letak rumah yang kami tempati. Rumah kami sangat istimewa. Bentuknya bagaikan tribun stadion sepakbola, karena berada lebih tinggi dari jalan raya. Dari tepi jalan raya itu, kami harus menaiki empat tangga yang terbuat dari batu kali untuk sampai ke halaman rumah. Dan masih dua tangga lagi untuk tiba ke lantai teras rumah kami.

Dari teras depan rumah ini aku bisa memandang dan mengamati dengan jelas kondisi jalan raya, yang sangat lengang. Hanya sesekali aku mendengar deru mobil truk yang menanjak ke barat menuju pusat kota. Suara mesin truk yang bermuatan berat dan penuh berbunyi meraung-raung keras karena harus berjuang mendaki jalanan yang menanjak. Biasanya truk-truk itu membawa hasil bumi dari desa-desa menuju ke Pasar Kota Wonogiri.

Pasar Kota Wonogiri terletak di pusat kota. Meski cukup luas areanya, pada hari-hari biasa pasar itu tidak terlalu ramai. Kecuali pada hari-hari khusus, atau yang disebut dengan Hari Pasaran, yaitu satu hari sekali dalam sepekan.

Pada Hari Pasaran, pasar ini dipenuhi sesak oleh para penjual dan pembeli. Saking ramainya bahkan sampai tumpah ke tepi jalan raya, hingga di depan pertokoan. Mereka bukan hanya berasal dari kota Wonogiri, tetapi juga dari desa dan kota-kota sekitarnya. Mereka datang dari segala penjuru arah. Jika orang-orang itu yang datang dari arah Timur, dari desa-desa di seberang sungai Bengawan Solo, mereka pasti melewati jalan di depan rumah kami.

Aku tentu saja juga ingin terlibat dalam kemeriahan Hari Pasaran itu. Hari itu aku sudah bangun sejak masih gelap. Aku mempersiapkan gentong (semacam guci gemuk bermulut kecil yang terbuat dari tanah liat). Gentong itu kubersihkan, lalu kuletakkan di tepi jalan tepat di depan halaman rumah.

Kuisi gentong itu dengan air sumur hingga penuh, lalu kututup dengan sebuah papan kayu. Untuk mengambil air dari dalam gentong, kusiapkan sebuah siwur. Siwur adalah sebuah tempurung kelapa yang sudah dibersihkan, dihaluskan dan diberi gagang kayu.

Gentong berisi air dan siwur ini kusediakan untuk orang-orang menuju ke pasar yang nanti akan melewati rumah kami. Jika mereka kehausan dalam perjalanan, mereka boleh minum dari gentong-ku itu. Gratis, bahkan dengan senang hati. Gentong-gentong seperti ini juga disediakan oleh penghuni rumah lain, jika rumahnya dilewati rute orang menuju pasar pada Hari Pasaran.

Walau hari masih gelap, tetapi dari jalan Jurang Gempal sudah mulai terdengar suara bersahut-sahutan, “kiit, kiit…, kiit, kiit…” Bunyi itu berasal dari serombongan lelaki yang membawa barang dengan pikulan dari bambu. Karena terbebani berat, bambu pikulan itu melengkung naik-turun, dan menimbulkan bunyi yang berirama ritmis. Jika berbunyi cepat dan nyaris tanpa jeda, pertanda bahwa orang yang memikul sedang berlari atau berjalan cepat setengah berlari.

Sewaktu aku berjalan ke depan rumah untuk mulai mengisi air ke dalam gentong, Aku melihat mereka bergerak berombongan. Tubuh mereka tampak kuyup dibasahi keringat. Mereka berlari dengan senyap, tanpa ada yang berbicara. Beberapa terlihat sudah kelelahan, tapi mereka terus berlari. Mungkin mereka itu ingin segera sampai tujuan. Entah berapa puluh kilometer jarak yang sudah mereka tempuh dari desa mereka.

Saat sinar remang-remang mulai muncul di ufuk timur dan suasana di jalanan depan rumah semakin ramai, maka itu tandanya kemeriahan Hari Pasaran sudah dimulai. Dari arah timur datang serombongan besar mbok-mbok (ibu-ibu) Setelah tampak dekat, aku mengamati mereka berjalan berkelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kecil itu terdiri sekitar lima orang.

Mbok-mbok itu berjalan berurutan bagaikan kawanan semut, yang bersuara ribut, berbicara keras-keras satu sama lain. Memang begitu. Jika seorang Mbok yang paling depan bicara, maka suaranya harus bisa didengarkan Mbok yang paling belakang. Kalau sampai tidak terdengar, maka Mbok yang paling belakang akan protes, berteriak-teriak, dan akan membuat suasana semakin gaduh. Topik perbincangan mbok-mbok di setiap kelompok-kelompok kecil itu pun berbeda-beda.

Mbok-mbok itu, kebanyakan memakai pakaian kebaya yang longgar agar dapat bergerak leluasa dan cepat. Pada bagian lengannya digulung sampai ke siku. Sedangkan yang bagian bawah sedikit di atas lutut.

Tiba-tiba ada satu Mbok, anggota kelompok kecil keluar dari rombongan barisan, menuju ke arah gentongku. Dari jarak dekat, aku mengamatinya. Mbok itu membuka tutup gentong, lalu mengambil air dengan siwur dan meminum airnya. Setelah itu, ia membasahi muka, tangan dan menyiram kedua kakinya dengan air dari gentong milikku.

Tidak berlama-lama, Mbok itu lalu menutup gentong dan pergi begitu saja. Ia tidak menyapaku sama sekali. Padahal aku sedang duduk di tangga batu, di depannya. Ia lekas berlari menyusul dan kembali ke dalam kelompoknya. Seperti takut ketinggalan informasi di tengah pergunjingan sedang berlangsung seru.

Ada lagi yang unik, aku pernah melihat seorang Mbok di kejauhan yang tiba-tiba keluar dari rombongannya. Ia berlari menuju rerumputan di pinggir jalan, lalu mengangkat kainnya ujung bawah dan kemudian kakinya mengangkang. Apa yang dilakukannya? Mbok itu kemudian, maaf, pipis sambil berdiri! Di Hari Pasaran kejadian ini merupakan pemandangan yang sudah sering dan biasa terjadi.

Kembali ke gentong. Tugasku adalah menjaga agar gentongku selalu terisi penuh. Hari itu gentongku sangat sering disinggahi Mbok-mbok. Maklum matahari mulai meninggi dan hari sudah terasa panas. Semakin siang orang-orang yang lewat di depan rumah kami semakin berkurang. Aku membayangkan, siang itu Pasar Kota Wonogiri pasti sudah melimpah ruah dengan para pedagang, penjual hasil bumi, dan hasil kerajinan dari desa masing-masing.

Sore harinya, sekitar jam tiga, matahari sudah mulai condong ke barat. Kemeriahan Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami pun dimulai lagi. Jika pada paginya, barisan manusia itu datang dari desa menuju kota, sebaliknya pada sore hari orang-orang dari pasar itu seakan berbaris tiada terputus, pulang menuju desa mereka masing-masing.

Sebelum barisan itu datang, aku sudah mengisi gentongku penuh-penuh. Sore ini yang terjadi jauh lebih meriah dan lebih heboh dibandingkan tadi pagi. Kalau tadi pagi yang bersuara ribut hanya mbok-mbok saja, kali ini justru yang para lelaki yang paling heboh.

Mereka tertawa keras-keras, berbicara dan berteriak-teriak. Mengapa? Sebab ketika berangkat di pagi hari, mereka memikul beban bawaan yang sangat berat, sedang dalam perjalanan pulang mereka hanya membawa pikulan kosong. Mereka bisa berjalan seenaknya, tidak lagi harus diatur oleh ritme pikulan yang membebani pundak mereka.

Para lelaki itu membawa kain polos berwarna mencolok. Merah, kuning, dan sebagainya. Anehnya kain warna-warni itu tidak dilipat dan disimpan di keranjang yang dipikulnya, tapi dikibar-kibarkan, ada yang dikalungkan di leher atau diikatkan di kepala.

Mereka ingin menunjukkan kebanggaan dan kebahagiaannya satu sama lain. Bahwa barang dagangan mereka terjual habis, ada yang mungkin bisa membelikan oleh-oleh untuk kekasih atau isterinya di rumah. Walaupun mungkin kelihatan agak berlebihan, tetapi kain-kain warna mencolok itu adalah simbol hasil dari jerih payah mereka bekerja keras selama sepekan ini. Dan juga tentunya, adalah imbalan dari beratnya memikul hasil bumi mereka, dari desa menuju pasar di pusat kota.

Melihat semua itu aku ikut senang. Terlebih karena air gentongku sore itu tetap laris-manis, menghilangkan dahaga mereka.

Matahari sudah bersembunyi dibalik Gunung Gandul, meninggalkan semburat cahaya berwarna jingga, yang semakin lama semakin redup. Hari mulai gelap. Aku bergegas membereskan gentong dan siwur. Kubuang air yang tersisa, kubersihkan dan kusimpannya kembali di dapur. Tugasku pada Hari Pasaran ini selesai sudah.

Gentong dan siwur telah beristirahat kembali agar siap untuk menjalankan tugas mulianya pada Hari Pasaran pekan depan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Terbang di atas Bengawan Solo

Jembatan kereta api yang melintasi Bengawan Solo.

.

TERBANG DI ATAS BENGAWAN SOLO

SOLO merupakan kota yang paling nyaman dan tentram menurutku. Setiap hari, dimanapun itu, selama masih berada di kota Solo, sayup-sayup akan terdengar alunan musik keroncong, atau musik gamelan Jawa yang mengalun lembut. Benar-benar membuat hati damai.

Namun, yang selama ini aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ketenangan kota Solo terkoyak oleh kerasnya suara bom. Anak-anak di sekitar rumah kami menjadi panik mendengar dentuman-dentuman keras itu. Tetapi, aku tampak tenang-tenang saja. Kepada mereka aku bilang bahwa itu suara perang. Lalu aku pun bercerita, pengalaman-pengalamanku melihat perang. Terutama pengalaman sewaktu di Mojokerto, ketika aku tiarap di depan meriam Belanda yang sedang ditembakkan.

Mendengarkan aku bercerita, mereka terkagum-kagum. Termasuk anak-anak yang lebih besar dariku. Mungkin mereka melihat caraku bercerita, sehingga mereka percaya bahwa aku tidak bohong dan mengada-ada. Seperti biasa, aku menikmati perhatian dan reaksi mereka.

Pada suatu siang, seingatku, aku sudah berada di atas sebuah truk. Truk yang akan membawaku kembali mengungsi. Truk pengangkut pengungsi ini langsung menuju ke arah selatan, keluar dari kota Solo. Belum jauh menempuh perjalanan dari kota Solo, jalan besar yang akan dilewati di depan kami ditutup. Beritanya, di depan ada jembatan yang terputus karena terkena ledakan bom.

Aku tidak tahu siapa yang menghancurkan jembatan itu, apakah tentara Belanda, atau tentara kita sendiri. Sebab, pada waktu itu ada istilah yang disebut dengan “Bumi Hangus”. Artinya, pihak Republik sendiri yang menghancurkan tempat-tempat penting, seperti jembatan atau bangunan tertentu, tujuannya agar nanti tidak bisa dipergunakan oleh tentara Belanda.

Akhirnya, truk kami berbelok memasuki jalan bertanah, melintasi kampung dan sawah-sawah. Kemudian, tahu-tahu, truk kami sudah berjalan di atas rel kereta api. Sebuah petualangan yang sangat menarik buatku tentunya.

Jadi, di atas landasan rel kereta api itu diletakkan papan-papan berjejer selebar dua papan dengan ukuran lebih lebar sedikit dari roda truk. Itu semua dijejer sepanjang rel kereta api dan roda-roda truk kami harus melewati papan-papan tersebut. Sungguh menegangkan, tapi seru!

Aku memperhatikan, membayangkan pengemudi truk kami pasti sudah sangat berpengalaman. Ini terlihat dari caranya mengemudikan truk, jalannya pelan tapi pasti. Pak sopir dibantu oleh dua orang kenek yang berdiri di luar pintu truk kiri dan kanan. Mereka bertugas mengawasi jalannya roda-roda depan, memastikan roda berjalan tepat di tengah papan-papan kayu.

Semua penumpang truk pun tegang, tidak hanya aku. Tetapi, melihat kelihaian pak sopir mengemudikan truk itu, aku yakin akan selamat. Truk berjalan dengan lancar, tidak tersendat-sendat. Itu yang membuatku hampir lupa, bahwa truk kami sedang berjalan di atas papan kayu dan di atas rel.

Sewaktu aku melihat jauh ke depan, aku sangat terkejut. Truk kami akan melewati jembatan besi yang sangat panjang. Jembatan itu melintasi sungai Bengawan Solo yang sangat lebar. Tapi kemudian, truk kami sudah berada di atas jembatan. Ini lebih seru, petualangan yang takkan terlupakan.

Aku segera bergegas, berdiri di pinggir bak truk yang paling depan. Luar biasa, seperti terbang rasanya. Aku merasa sedang terbang di atas sungai Bengawan Solo. Sungai yang lebar dan dalam itu berada di kiri-kanan kami.

Tiba-tiba aku teringat akan si Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung dulu di Malang. Seharusnya Cacak melihat ini. Aku sedang berada di depan, memimpin rombongan pengungsi. Bukan dengan berjalan kaki, tapi di atas truk, di atas jembatan, di atas sungai yang sangat lebar dan dalam. Pasti Cacak akan bangga melihatnya, menyaksikan aku bekas anak buahnya yang dulu pernah diangkat sebagai anggota Geng ketika aku masih TK.

Akhirnya, truk kami sampai ke jalan besar, dan berjalan terus menuju ke arah selatan, menuju kota Kabupaten Wonogiri. Di kejauhan, aku melihat deretan gunung yang memanjang, bagaikan sedang berbaris dari utara ke selatan. Pada salah satu puncaknya terlihat sebuah batu yang sangat-sangat besar. Orang yang berdiri di belakangku mengatakan bahwa batu besar yang di atas itu berada di puncak Gunung Gandul.

Gunung Gandul adalah gunung yang sangat terkenal untuk wisata. Bahkan, ada lagu yang berjudul Gunung Gandul. Kata orang-orang, Kota Wonogiri terletak di balik gunung tersebut. Untuk sampai ke kota tujuan, truk kami, truk para pengungsi perang, mulai menanjak, mendaki untuk melompati gunung, untuk menuju ke kota yang berada di balik gunung batu itu. Kota Wonogiri.

Setelah berhasil mendaki, lalu menuruni bukit, truk kami masuk ke kota Wonogiri. Sejak pada pandangan pertama, aku sudah jatuh cinta kepada Wonogiri. Jalanan di kota ini berbukit-bukit, naik dan turun, tidak ada jalan yang rata seperti kota-kota lain yang pernah aku datangi. Mungkin, karena Kota Wonogiri ini berada di kaki gunung batu itu.

Di sebelah barat, terlihat Gunung Gandul yang di atasnya terdapat sebuah batu yang maha besar itu. Dari pusat kota Wonogiri ke timur, terlihat jalanan menurun sampai ke tepi Sungai Bengawan Solo yang sangat lebar nan dalam. Di sisi utara Wonogiri, ada lagi sebuah gunung di mana sisi kaki gunung itu ditumbuhi pohon-pohon jati. Sungguh indah!

Namun, jika kita memandang ke arah Selatan pandangan mata akan sampai ke Pantai Selatan. Aku merasa bahwa sepertinya kota ini akan menjadi tempat yang cocok bagiku untuk berpetualang.

Di dalam hati, aku sempat bertanya lagi, apakah suatu saat nanti tentara Belanda juga akan menyusul ke kota ini? Dan kami harus pergi mengungsi lagi? Sementara sebelah selatan Kota Wonogiri adalah Laut Selatan. Apa kami harus nyebur ke Laut Selatan?

Semoga kota ini menjadi tempat pengungsian kami yang terakhir. Semoga… (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Antara Nasi dan Makan

CSO nasi

ANTARA NASI DAN MAKAN

MAKAN adalah bagian terpenting di dalam kehidupan masa kecilku. Alam pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan perkara makan. Aktivitasku sehari-hari pun selalu melibatkan perkara ini.

Pagi hari bangun tidur, fokusku adalah menunggu makan pagi. Siang hari, yang kupikirkan adalah menanti makan siang. Juga pada malam hari, aku baru bisa tidur sempurna kalau sudah makan malam. Bagiku, yang disebut makan itu berarti makan nasi.

Aku pun memiliki banyak istilah yang berhubungan dengan masalah “makan”. Dan istilah-istilah tersebut aku pegang dengan teguh. Istilah “jalan-jalan”, misalnya, aku artikan sama dengan “makan-makan”. Maksudnya, kalau kita pergi jalan-jalan, ya harus makan-makan. kalau tidak ada makan-makannya itu bukan jalan-jalan namanya.

Seringkali yang mengecewakanku, istilah versiku berbeda dengan istilah versi para orang tua. Mereka tidak mengerti bahwa makan adalah persoalan “hidup dan mati” bagiku.

Pernah pada suatu sore orang tua angkatku, Pak Mojo dan Bu Mojo, mengajakku jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto. Kami berkunjung ke rumah teman Pak Mojo. Kunjungan itu cukup lama. Aku bersabar, sebab aku berharap nanti sewaktu pulang pasti akan akan ada acara makan-makan. Aku pun sudah membayangkan menu makanan apa yang nanti akan kupilih. Aku sabar menanti.

Tetapi tenyata yang kemudian terjadi, kami langsung pulang ke rumah. Tidak singgah ke restoran lebih dahulu! Bagiku, hal ini tidak sesuai dengan apa yang “seharusnya” terjadi. Aku lalu protes keras, dengan cara menutup pintu kamar keras-keras sambil menunjukkan kejengkelanku. Tetapi, mereka justru memandang heran ke arahku. Mereka tidak memahaminya. Aku merasa tidak diperhatikan, dicuekin. Hal yang seperti itu sering menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan membekas lama di hati aku.

Aku juga punya istilah lain perihal makan. “Makan-makan” itu artinya “makan nasi”. Kalau bukan nasi yang dimakan, itu namanya “jajan-jajan”. Ada lagi, jika makan-makan yang dilakukan di luar rumah, menurutku itu namanya rekreasi, atau jaman sekarang istilahnya wisata kuliner.

Seringkali setelah makan-makan di luar, setelah pulang, setibanya di rumah, aku minta makan lagi. Maka terjadilah kehebohan kecil, akibat benturan persepsi tentang istilah itu. Para orang tua seringkali tidak mau mengerti, bahwa bagiku perkara ini sudah seperti masalah harga diri. Seharusnya mereka “wajib” menghargainya, termasuk penggunaan istilah-istilah yang telah kubuat sendiri.

Sebenarnya persoalan apa yang membuat “per-makan-an” ini sangat serius dan sensitif bagi diriku pada masa itu? Beginilah riwayatnya.

Peristiwa ini terjadi ketika aku tinggal di rumah Mbah Tanjung. Pada waktu masih balita, ketika mulai bisa berjalan, berdiri sambil merayap-rayap sambil berpegangan pinggir dipan, aku mulai bisa mengamati sayup-sayup segala kejadian di sekitarku. Aku melihat orang-orang yang bejalan mondar mandir. Rupanya mereka sedang membantu Mbah Putri yang sedang memasak di dapur.

Kadang-kadang ada seorang Tante yang sedang berjalan menghampiriku, dan mencubit lenganku kuat-kuat. Aku merasakan cubitannya itu sakit sekali. Kalau nyubit nggak kira-kira! Setelah itu biasanya aku berteriak sekeras-kerasnya. Teriakanku itu kadang-kadang ada hasilnya, Mbah Putri akan menyuruh Tante-tante itu agar tidak menggangguku.

Kadang-kadang ada juga seorang Om yang tiba-tiba mendekatkan mukanya hingga hampir menempel ke mukaku. Ia lalu memperlihatkan muka terjeleknya yang seperti muka setan itu ke depan hidungku. Aku hanya terdiam, tanpa reaksi apapun. Karena toh hal itu tidak menyakitiku. Yang terpenting dari semuanya itu, yang aku tunggu-tunggu, yaitu prosesi pembagian… makan! Maka, segala rasa sakit dicubit akan serta merta menghilang, terhapus oleh nikmatnya makanan. Aku kemudian mencoba mengambil kesimpulan sendiri, bahwa nikmatnya makan akan selalu menghilangkan rasa sakit.

Kembali ke kota Mojokerto. Perkara benturan persepsi antara anak kecil dan orang tua tentang istilah makan ini terus berlanjut. Tetapi, sepertinya selalu saja pihakku yang dikalahkan. Hingga pada suatu pagi menjelang siang terjadilah sebuah peristiwa penting. Rumah kami kedatangan tamu, seorang Tante tetangga kami. Di ruang tengah ia mengobrol lama sekali dengan Bu Mojo. Sewaktu aku berjalan hendak melintasi mereka, Tante itu menyapaku, Hei, kamu sudah sarapan?” Aku spontan menjawab, “Belum Tante…” Aku menjawabnya dengan keras, tegas dan sesuai kenyataan.

Entah mengapa setelah itu sang Tante kelihatan merasa tidak enak kepada Bu Mojo. Ia kemudian cepat-cepat pamit pulang. Tak berapa lama, ketika aku sedang duduk-duduk di teras depan, tiba-tiba terdengar suara keras Bu Mojo memanggilku dari dapur. Ketika aku mendatanginya di dapur, aku kaget melihat wajah Bu Mojo yang merah padam. Mendadak sebuah sotil, sendok besi penggorengan, panas hampir saja menyambar kepalaku. Aku berdiri tegak di depan Bu Mojo sambil menatapnya dengan muka penuh tanda tanya.

Apakah salahku?, pikirku. Aku tidak mengerti mengapa Bu Mojo marah besar. Bu Mojo sampai berteriak-teriak, bahwa aku telah membuat malu keluarga di depan orang lain; bahwa keluarga kita adalah keluarga yang terhormat, sehingga tidak sepantasnya dipermalukan seperti ini, dan seterusnya dan seterusnya, masih panjang lagi.

Tetapi, aku masih tetap saja belum paham apa maksud Bu Mojo. Sampai akhirnya Bu Mojo bertanya, “Kenapa tadi waktu ditanya Tante, apakah kamu sudah sarapan, kamu jawab belum!”

Rupanya soal itu pokok masalah Bu Mojo marah. (Aku hanya menjawab di dalam hati, “Ya, memang belum sarapan”). Lantas, Bu Mojo melanjutkan dengan nada semakin keras, “Lalu yang kamu makan tadi pagi itu apa?”.

“Ketan,” jawabku lirih.

“Lha (ketan) itu kan juga sarapan!” kata Bu Mojo.

Nah, menjadi jelas sudah, sumber masalah besar yang dihadapi aku hadapi. “Sarapan” bagi Bu Mojo adalah makan apa saja pada pagi hari. Sedangkan dalam kamusku, “sarapan” adalah “makan nasi” pada waktu pagi. Masih terasa sambaran angin sotil pada pagi hari menjelang siang itu.

Bagaimanapun peristiwa itu ada hikmahnya bagiku. Sejak saat itu, setiap sarapan pagi selalu tersedia nasi! Mungkin itu berarti Bu Mojo telah mengakui bahwa, kamuskulah yang benar. Atau, mungkin juga Bu Mojo takut kalau tidak diberi nasi di pagi hari, aku akan berkeliling kampung, dan memberitakan kepada seluruh warga bahwa pagi itu aku belum diberi sarapan.

Namun, semua ini baru kemungkinan, dan perlu dikaji lebih lanjut. Setidaknya toh untuk sementara ‘kamus’ istilahku tentang pengertian makan yang dijadikan sebagai acuan resmi di rumah keluarga Pak Mojo. Demikian harap maklum. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kesederhanaan Dalam Sepur Kluthuk

cso pecel

KESEDERHANAAN DI DALAM SEPUR KLUTHUK

PERJALANAN mengungsi dengan Sepur Kluthuk pun berlanjut. Kereta api yang berjalan sangat lamban ini terus menyusuri stasiun-stasiun kecil menuju ke arah barat.

Bagiku, perjalanan ini sangat melelahkan. Sepanjang perjalanan aku sulit bisa tidur dengan posisi tetap. Posisi dudukku juga berubah-ubah terus, karena memang kereta ini penuh dengan penumpang sehingga harus berdesak-desakan. Dan lagi, seringkali aku dikagetkan oleh suara kereta-kereta lain yang menyusul, melintas ngebut sangat dekat di samping kereta kami. Seakan-akan mengejek aku dan sepur klutukku.

Hari sudah sore. Sepur kluthuk ini kembali akan memasuki sebuah stasiun kecil. Stasiun itu berada di tengah sawah. Sewaktu kereta berhenti, tiba-tiba Pak Mojo dan Bu Mojo berdiri serta mengambil barang-barang bawaannya. “Ayo turun…,” kata Pak Mojo.

Aku terkejut. Oh please… Aku yang sudah terbiasa dengan suasana stasiun besar di kota Jombang itu harus turun di tengah sawah begini? No way, pikirku sedikit sombong. Tetapi kemudian, aku menyadari situasi dan kondisi saat itu. Kali ini aku bisa tidak mengajukan protes apapun. Apa boleh buat!

Dengan langkah sedikit berat aku mengikuti Pak Mojo dan Bu Mojo berjalan menyusuri jalan berbatu-batu menuju ke sebuah desa. Sore sudah mulai berganti gelap saat kami tiba di rumah yang pemiliknya kupanggil: Pak De, salah satu keluarga dari Bu Mojo.

Malam itu para orang tua masih asyik mengobrol. Saat mataku terfokus pada dipan di dalam kamar tidur yang terbuka pintunya, seperti paranormal Pak De rupanya mengerti apa yang ada di dalam pikiranku. Pak De mempersilahkanku untuk tidur. Tanpa menunggu lama, kini aku sudah tergeletak di atas dipan. Masih terasa pegal-pegal akibat perjalanan tadi. Masih terngiang deru Kereta Ekspress yang menyusul keretaku. Tetapi, beberapa menit kemudian aku tertidur lelap.

Esok paginya, saat bangun tidur, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nafasku terasa sangat segar. Tercium harum aroma pepohonan seperti di perkebunan kopi semasa aku tinggal di Malang dulu. Benar saja, saat keluar rumah, aku sudah berada di bawah pepohonan yang tinggi-tinggi dan rindang bagaikan di dalam hutan. Pak De ternyata memiliki kebun yang sangat luas dan teduh.

Pak De kemudian meminta anak lelakinya yang sudah dewasa mengantarkan aku berkeliling kebun. Kami menyusuri jalan setapak yang ada di dalam kebun yang luas itu. Kepadaku, si Mas dengan bangga menunjukkan berbagai jenis pohon sambil menyebutkan nama pohon atau nama buahnya.

Si Mas mengajarkan padaku bahwa kalau kita berjalan di dalam kebun jangan hanya mengandalkan mata, tapi juga hidung. Lalu, ia berhenti sambil menengadahkan hidungnya. Rupanya si Mas mencium sesuatu. Aku juga mencium bau sesuatu…, buah nangka. Lalu dengan radar penciuman, kami mulai mencari sumber aroma itu. Dari kebun kami pulang dengan membawa buah nangka yang besar dan sudah masak.

Di rumah Pak De ini kami hanya menginap selama tiga hari. Kami akan melanjutkan perjalanan mengungsi ke arah barat, menjauhkan diri dari tentara Belanda. Pada pagi ketiga, kami sudah berada di pinggir rel menuju stasiun kecil. Setelah beberapa lama, datanglah kereta yang ditunggu-tunggu.

“Ya ampun! Sepur Kluthuk lagi…”

Tetapi, meski begitu, kali ini sikapku sudah berubah. Aku tidak lagi marah-marah kepada kereta-kereta besar yang menyusul kereta klutukku. Aku sudah mulai mengerti dan menjadi terbiasa. Aku mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang selama ini satu kereta bersamaku.

Aku melihat bahwa ternyata penumpang Sepur Klutuk adalah orang-orang yang sederhana dan baik hatinya. Aku perhatikan, mereka juga memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang kaya yang menaiki Kereta Ekspres yang dulu pernah aku lihat. Gaya berpakaian mereka pun berbeda. Teman-teman baruku di dalam kereta ini memakai pakaian yang jauh lebih sederhana.

Ibu-ibu atau mbok-mbok kebanyakan memakai kebaya dan kain yang ujung bagian bawahnya lebih tinggi dari mata kaki mereka. Mungkin supaya lebih praktis untuk berjalan. Suasana yang santai dan damai sangat terasa.

Terlebih lagi, kalau aku memperhatikan mbok-mbok yang lebih tua itu, mereka duduk dengan tenang sambil memutar-mutar susur (tembakau) di mulutnya. Sepertinya mereka tidak peduli bahwa tentara Belanda akan datang dan menyerbu kita. Selama susur masih bisa berputar di mulut, mereka merasakan kedamaian yang luar biasa. Hidup itu sederhana!

Sangat berbeda dengan para penumpang Kereta Ekspres yang selalu terburu-buru, harus tepat waktu. Moto penumpang kereta itu adalah Time is Money. Sedangkan bagi para penumpang Sepur Kluthuk adalah Waton Tekan (asal sampai). Mungkin sebab itulah Kereta Ekspres mempunyai jadwal yang ketat, bahkan menit-menitnya pun harus tepat. Jauh berbeda dibanding dengan sepurku. Kalau kereta sudah harus berangkat, para penumpang masih banyak yang belum naik kereta.

Pernah satu kali terjadi, aku masih ingat. Ketika itu Pak Sep sudah meniup peluitnya, tapi kemudian ada yang berteriak bahwa ada calon penumpang yang masih di dalam WC stasiun. Pak Sep pun hanya senyum-senyum sambil sabar menunggu.

Yang juga sering membuat suasana meriah di stasiun kecil yang kulewati adalah para pedagang asongan. Aku kagum dengan keuletan mereka dalam menjajakan dagangannya. Itu karena tujuan mereka hanya satu, dagangan harus habis sebelum pulang ke rumah.

Mereka terus berkeliling dari satu gerbong ke gerbong yang lain, sambil berjalan melompati orang-orang yang tiduran di lantai. Luar biasa, pikirku. Meski kereta bergoyang-goyang, mereka mampu melompati orang demi orang tanpa pernah meleset hingga menginjak tubuh orang-orang itu. Dengan penuh semangat mereka terus berjalan dan sesekali melompat sambil menawarkan dagangannya.

Di stasiun-stasiun kecil, yang paling sering dijual para pedagang adalah kacang rebus, rokok, dan makanan khas dari daerah setempat, semisal telor asin, jagung, tahu dan sebagainya. Cara menawarkannya pun khas. Kalau kacang seperti “Caaaang kaacaangkacang kacangkacang.” Kalau rokok, “Kooorokorokoroko.”

Tetapi ada juga mbok-mbok yang berdagang dengan tenang dan tidak perlu naik ke gerbong kereta. Ia hanya menurunkan sebuah bakul dari gendongannya, lalu diletakkan di atas batu-batu kerikil di samping rel. Kemudian, ia hanya perlu satu kali teriak, “Ceeel… peceeel…” Maka, seketika orang-orang berdatangan dari segala penjuru, mengerumuni Mbok Pecel yang hebat itu.

Walau aku merasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi kenyataannya aku sangat menikmati perjalanan dengan Sepur Kluthuk. Aku gembira dan bersyukur. Begitu banyak hal yang bisa kuamati dan kuperhatikan di dalam kereta api jenis ini. Perjalanan panjang bersama dengan orang-orang sederhana ini telah mengajarkan diriku untuk lebih menghargai mereka.

Perjalanan panjang kami akhirnya berujung di sebuah stasiun yang besar, Stasiun Solo Balapan. Kami pun turun. Sembari turun, lagi-lagi aku berpikir, sekarang mana mungkin tentara Belanda bisa menyusul kami…. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sepur Kluthuk

cso sepur

SEPUR KLUTHUK

SEBELUM kota Jombang juga diduduki oleh tentara Belanda, kami bertiga, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku sudah meninggalkan kota Jombang. Dengan kereta rel nomor empat dari stasiun kota Jombang, kami menuju ke Barat. Semakin jauh dari Jombang, hati kami agak tenang karena merasa semakin jauh dari tentara Belanda.

Hanya saja sepanjang perjalanan, aku sering merasa heran. Mengapa kereta ini selalu berhenti di setiap stasiun? Termasuk berhenti di stasiun-stasiun yang sangat kecil. Bahkan, juga kadang harus menunggu selama berjam-jam di tengah sawah, di sana kereta kami berpapasan atau disusul oleh kereta-kereta lainnya yang tidak berhenti. Sungguh menyebalkan!

Beberapa lama kemudian, aku mengerti, bahwa kereta yang kunaiki ini adalah kereta yang paling lamban. Tugas kereta ini hanya menghubungkan satu desa dengan desa lainnya yang dilewati jalur rel kereta. Kereta api seperti ini biasanya dijuluki dengan istilah Sepur Kluthuk.

Entah dari mana asal istilah itu. Bisa jadi karena terlalu lambat jalannya sehingga berbunyi kluthuk… kluthuk… kluthuk.

Aku masih memikirkan kota Jombang yang baru saja kutinggalkan, terutama deretan rel kereta api dan stasiun kota Jombang. Tempat itu seperti Disneyland bagiku. Sebuah arena bermain yang luar biasa.

Tatkala mulai bosan dengan permainan “paku-pisau”, biasanya aku pergi ke dalam stasiun. Aku mengamati semua yang terjadi di dalam stasiun kota Jombang itu. Biasanya aku duduk-duduk di bangku yang biasanya digunakan calon penumpang menunggu kedatangan kereta. Aku senang duduk di bangku panjang itu. Alasanku sederhana, karena bangku panjang itu letaknya di sebelah kantin, sehingga aku bisa setiap saat mencium sedapnya aroma masakan.

Aku bersyukur, pada usia sekecil itu aku pernah menyaksikan Kereta Api dalam arti kata sebenarnya, yakni kereta yang dijalankan menggunakan api. Tungku yang terletak di depan kamar masinis itu dinyalakan menggunakan kayu gelondongan, yang kira-kira sepanjang satu meter. Sedang, lokomotifnya berwarna hitam legam, berukuran lebih besar, bahan bakarnya menggunakan batubara. Api tungku yang membara itu digunakan untuk memanaskan air yang berada di perut lokomotif itu. Tekanan air yang mendidih di dalam tabung raksasa di atas lokomotif itu yang dipakai untuk menggerakkan roda-roda lokomotif dan menarik gerbong-gerbong di belakangnya.

Suatu sore, di dalam stasiun itu aku memperhatikan bahwa jalur rel nomor dua sampai dengan nomor empat, semuanya sudah terisi oleh rangkaian kereta yang sudah siap berangkat tapi belum juga diberangkatkan. Semua kereta, dan tentu saja termasuk seisi penumpangnya, diwajibkan menunggu sebuah kereta yang datang dari arah barat. Ketika menunggu itu, terlihat sebuah titik kecil dari arah barat. Semakin lama titik itu semakin besar. Para penumpang melihatnya dengan tegang, termasuk aku.

Sebuah kereta melaju kencang dari arah barat. Itulah sang Kereta Ekspres, rajanya kereta, mendekat dan akan memasuki stasiun Jombang. Para calon penumpang pun sudah berjajar di samping rel nomor satu. Kemudian dari ruang kepala stasiun keluar seorang pria yang gagah, memakai jas berwarna cerah, di kepalanya memakai topi tinggi berwarna merah seperti topi yang dipakai oleh tentara Perancis. Kami biasanya memanggilnya, Pak Sep.

Pak Sep memegang sebuah tongkat yang diujungnya ada bulatan berwana merah. Penampilan Pak Sep memang mencolok, sehingga semua orang tahu bahwa dialah penguasa stasiun. Kemudian Pak Sep berjalan menuju pinggir rel, menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah kereta berada di jarak yang cukup, hampir memasuki stasiun, Pak Sep meniup peluit besar warna keemasan. Suara peluit Pak Sep itu sangat nyaring sehingga terdengar diseluruh stasiun, yang bahkan terdengar sampai ke rumah Tante Jom.

Kereta Ekspres pun menderu memasuki stasiun. Terdengar derit suara rem dan kereta berhenti tepat di tempat yang telah ditentukan. Para porter pengangkut barang naik-turun memanggul koper-koper para penumpang. Masing-masing bekas penumpang dan calon penumpang saling turun dan naik. Semua itu berlangsung sangat cepat.

Pak masinis sibuk bergerak mengatur nyala api tungku. Secara sigap dan cepat para petugas mengisi air ke perut lokomotif raksasa itu dengan menggunakan selang besar dan corong. Tidak sampai lima menit, semua selesai dan Kereta Ekspres telah siap diberangkatkan.

Pak masinis berdiri melongok keluar dari kamarnya di lokomotif dan tegak menghadap ke belakang. Matanya menatap kepada Pak Sep yang berada di tengah peron stasiun. Kemudian Pak Sep meniup panjang peluitnya sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya. Pertanda sebuah perintah, “Lekas berangkatkan!” Pak masinis yang tampak gagah dan profesional itu lalu menarik tuas tali di atasnya dua kali, maka terdengarlah suara “Tut…Tut…” menjawab perintah keberangkatan, yang artinya “Siap, laksanakan!”

Kereta Ekspres yang besar dan gagah itupun bergerak perlahan, makin lama makin cepat, dan kemudian bagaikan anak panah melesat arah timur, meninggalkan stasiun Jombang menuju ke Surabaya.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku bukan berada di dalam Kereta Ekspres, tapi di dalam Sepur Kluthuk, kereta yang tadi berangkat dari jalur rel nomor empat. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa Sepur Kluthuk-ku ini sedang memasuki stasiun kecil untuk lagi-lagi menikmati takdirnya, menunggu dan dibalap oleh kereta-kereta yang lebih besar dan lebih penting. Demikianlah nasibmu, Sepur Kluthuk.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kereta Barang Jam Satu

Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

.

KERETA  BARANG  JAM  SATU

PAGI sudah menjelang siang ketika aku terbangun dari tidur. Masih setengah sadar dan agak bingung, sejenak aku merenung, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Aku teringat perjalanan mengungsi dari kota Mojokerto ke kota Jombang. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.

Setelah lebih sadar, aku mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Aku berada di rumah Tante Jom, adik dari bu Mojo. Rumah Tante Jom adalah rumah yang sangat sederhana yang hanya terdiri dari satu ruangan memanjang, selebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter.

Ruangan panjang itu disekat menjadi tiga ruangan kecil. Terdiri dari ruangan yang kecil untuk tamu di depan, kamar tidur di bagian tengah, dan yang paling belakang adalah sebuah dapur kecil. Di dapur itu terdapat tungku yang terletak di atas lantai.

Di dalam rumah papan sederhana itu terasa agak pengap dan gelap. Hanya ada sebuah jendela kecil, yang hanya di bagian depan rumah. Rumah itu memang sangat sederhana, tapi kelak aku merasa itu adalah rumah terindah yang pernah aku tinggali.

Aku turun dari tempat tidur dan menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu, angin disertai debu jalanan masuk ke dalam rumah. Aku baru sadar bahwa rumah tante Jom terletak tepat di pinggir jalan raya, menghadap lalu-lintas yang ramai, sangat bising. Dengan cepat aku menutup lagi pintu pintu depan itu. Aku lalu berjalan menuju ke pintu belakang yang berada di dekat dapur. Begitu pintu terbuka, aku sangat terpukau dan takjub dengan pemandangan yang kulihat.

Di belakang rumah Tante Jom itu, aku melihat pemandangan yang menariknya melebihi Dunia Fantasi Ancol, atau Disneyland yang mengagumkan sekalipun. Bagiku pemandangan di belakang rumah itu sangat menantang dan merangsang jiwa anak-anak seperti diriku.

Yang pertama kulihat adalah rel kereta api. Bukan hanya satu rel, tetapi ada empat rel yang berjajar. Dari pintu belakang itu, aku langsung meloncat keluar. Rel-rel itu aku perhatikan dengan seksama, dari empat menjadi tiga, menjadi dua, lalu menyatu dengan rel utama yang menuju ke kanan, ke arah barat, arah Jakarta.

Aku menengok ke kiri, arah timur. Terlihat gedung stasiun yang sangat besar. Pada dinding sebelah atas bangunan yang terbuat dari baja itu tertulis huruf yang besar-besar: JOMBANG.

Tulisan raksasa itu bagaikan ucapan selamat datang bagi para penumpang kereta api yang memasuki stasiun kota Jombang. Rupanya rumah tante Jom terletak tepat di sebelah stasiun kereta api kota Jombang. Kali ini aku baru benar-benar paham.

Melalui pintu belakang itu aku juga menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sederet kabel dari kawat baja menyusuri pinggiran rel, tersusun sejajar seperti kabel-kabel listrik bertegangan tinggi yang sering disebut Sutet. Tetapi, deretan kawat itu dipasang sangat rendah, setinggi pinggang orang dewasa. Rupanya kawat-kawat baja itu bisa ditarik atau diulur yang dikendalikan dari dalam stasiun untuk menggabungkan atau memisahkan rel satu dengan rel lainnya.

Pada hari kedua tinggal di rumah Tante Jom, aku sudah bisa menjadi tukang ramal jalur kereta api. Kalau ada kereta datang dari sebelah Barat, aku bisa tahu kereta yang baru datang itu akan masuk lewat rel nomor berapa. Kalau terlihat ada kereta yang hendak masuk ke stasiun, seringkali aku mengumpulkan anak-anak tetangga. Kepada mereka aku berlagak meramal, bahwa kereta itu akan melewati rel nomor dua. Dan benar, kereta yang baru datang itu memasuki jalur rel nomor dua. Mereka takjub. Anak-anak tetangga itu terbengong melihat ramalanku yang selalu tepat. Dan aku sangat menikmati melihat muka-muka bengong itu.

Beberapa hari kemudian, aku berganti permainan. Setiap kali ada kereta yang melintas di depanku, aku pusatkan perhatianku kepada rel besi yang dilindas oleh roda besi kereta api. Wow, besi dilindas oleh besi. Kemudian aku mengadakan percobaan.

Sebelum kereta datang, aku letakkan sebuah batu kecil di atas rel. Sewaktu kereta lewat dengan cepat, batu itu lenyap tidak berbekas. Aku mendapat sebuah ide. Aku letakkan sebuah paku di atas rel di depanku. Apa yang terjadi? Paku itu terlindas oleh roda kereta, tetapi kemudian paku itu terpental. Aku mencari paku tadi. Setelah ditemukan, aku kaget minta ampun. Paku itu sudah berubah bentuk, menjadi pisau yang tajam. Luar biasa! Aku pun mulai mengumpulkan banyak paku, dengan segala ukuran.

Dalam waktu singkat, paku-paku itu sudah berubah menjadi pisau atau mata tombak kecil. Aku sudah seperti memiliki sebuah pabrik. Pisau-pisau dan tombak “hasil produksi”-ku itu kukumpulkan dan kuletakkan di samping pintu belakang rumah. Semakin lama semakin banyak dan semakin menumpuk.

Selain itu, ketika mengungsi di rumah Tante Jom ini aku juga menemukan hal yang baru dan menarik. Setiap ada kereta api yang melintas, seluruh rumah terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa. Pada mulanya hal itu sangat menggangguku, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Kalau terjadi “gempa” ketika aku sedang tidur di malam hari, bagiku, justru serasa tidur di dalam ayunan. Goncangan kereta api itu seperti menina-bobokan aku.

Ada sebuah rangkaian kereta yang melintas setiap jam satu lewat tengah malam. Goncangan serangkaian kereta barang yang panjang itu terjadi lebih lama dibandingkan dengan kereta lain. Aku sangat menikmati goyangan kereta barang itu.

Suatu malam, menjelang dini hari, terjadi sebuah keributan. Penghuni seisi rumah Tante Jom terbangun. Para tetangga juga terbangun dan keluar rumah. Ada yang berteriak-teriak lantang dengan sedikit panik, “Kereta barang belum lewat!”Setelah keributan mereda, orang-orang mencoba tidur lagi. Satu jam kemudian kereta barang melintas. Rumah bergoyang-goyang. Meski sejenak kaget, tapi kemudian goyangan itu justru membuai tidur kami. Itulah Kereta Barang Jam Satu, kereta yang setiap malam kami dirindukan.

Belum genap dua minggu mengungsi, tinggal di rumah Tante Jom, belum juga bosan aku tidur digoyang-goyang Kereta Barang Jam Satu, pada suatu malam sayup-sayup kembali terdengar suara dentuman-dentuman.

Sepertinya tentara Belanda akan ke Jombang, menyusul kami ke pengungsian. Maka esok harinya, kami berangkat meninggalkan kota Jombang. Kota yang mulai aku sukai. Kami kembali harus mengungsi menuju ke arah Barat. Kali ini tidak lagi berjalan kaki, tapi naik kereta api. Kami berangkat dengan kereta rel nomer empat, dari stasiun kereta api kota Jombang.

Ketika kereta api mulai begerak perlahan, melintasi rumah Tante Jom, aku melongok keluar jendela. Aku memandang rumah itu dengan sedih. Tanganku melambai ke arah rumah itu. Rumah terindah yang harus kutinggalkan. Terlebih, aku juga harus meninggalkan pisau buatanku yang masih menumpuk, teronggok di dekat pintu belakang rumah Tante Jom. Selamat tinggal Jombang, selamat tinggal Kereta Barang Jam Satu. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Guling, Sahabat Dalam Pengungsian

GULING, SAHABAT DALAM PENGUNGSIAN

 

SIANG itu terlihat banyak orang bergerombol sambil berbisik-bisik. Yang mereka pergunjingkan adalah bahwa pasukan kita, Pasukan Republik, akan mengadakan penyerbuan besar-besaran ke kota Mojokerto. Agar tidak terjadi banyak korban, maka warga diminta mengungsi ke arah barat kota, wilayah yang sudah dikuasi tentara republik.

Pada tengah malam itu juga dengan berbisik-bisik aku dibangunkan Pak Mojo. Kami harus mengungsi. Kami harus bersiap dan segera berangkat saat itu juga. Semua dilakukan dengan terburu-buru dan diam-diam agar tidak tercium oleh mata-mata tentara Belanda.

Di tepi jalan depan rumah telah berbaris banyak orang dalam jumlah besar. Sekitar seratus orang sudah siap untuk mulai berjalan. Mereka membawa barang seadanya. Aku pun begitu, aku menyambar sebuah barang untuk dibawa. Guling!

Akhirnya, barisan pengungsi itu mulai bergerak. Berangkat berjalan kaki menuju ke Barat, ke wilayah yang tidak (belum) diduduki tentara Belanda. Kami semua harus berjalan dengan tenang. Tidak ada yang boleh mengeluarkan suara. Setiap orang berjalan sambil memikul atau menggedong barang bawaan masing-masing. Tidak mau kalah, aku pun memeluk erat guling kesayangan.

Awalnya aku berjalan dengan sangat semangat, tetapi baru beberapa langkah aku minta digendong. Maka sejak itu, di sepanjang perjalanan aku digendong di punggung beberapa orang secara bergantian. Mereka takut jika tidak digendong, aku akan menangis atau berteriak yang bisa mengusik tentara Belanda yang sedang lelap tidur.

Pernah suatu malam kami melewati sebuah desa. Suasananya sangat sepi. Mungkin karena penduduk di desa itu sudah pasti sudah pulas tidur. Tiba-tiba aku terbangun, kaget karena gulingku tidak ada. Aku panik dan berteriak-teriak, “Bantaal, bantaaalkuu!…” Tidak lama kemudian seseorang terburu-buru menyerahkan barang yang aku minta: guling.

Entah ada berapa kali siang dan berapa kali malam kami berjalan. Entah berapa puluh kali aku berpindah dari satu punggung orang ke punggung orang yang lain. Aku tidak ingat, karena toh tugas utamaku selama perjalanan mengungsi itu hanya tidur saja.

Setelah dewasa aku baru tahu, bahwa kami mengungsi ke Jombang. Jarak dari Mojokerto ke kota itu sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi, bagiku yang masih kecil, perjalanan itu terasa panjang dan lama. Rasanya tidak sampai-sampai ke tempat tujuan, pikirku waktu itu. Demi keamanan, kami hanya berjalan pada malam hari dan seringkali kami mampir di sebuah desa untuk waktu yang cukup lama. Seingatku, hampir di setiap desa ada dapur umum yang dibuat ibu-ibu desa tersebut untuk membantu para pengungsi yang melewati desa mereka.

Suatu kali kami memaksa berjalan di siang hari. Supaya tidak memantulkan sinar matahari, semua sepeda yang dibawa ditutupi, termasuk sepeda Pak Mojo. Terutama pada bagian sepeda yang mengkilat, seperti setang sepeda, dibungkus kain, dan bagian atasnya ditutupi ranting-ranting pohon. Persis seperti semak-semak berjalan. Siasat ini dilakukan agar kami tidak terlihat oleh pilot pesawat tempur Belanda.

Pada perjalanan siang hari itu, tiba-tiba terdengar bunyi pesawat tempur Belanda. Gawat! Kepala rombongan segera memberi tanda, bahwa kami saat itu juga semua harus tiarap di rerumputan, di tepi jalan pinggiran sawah. Suasana sangat mencekam!

Mendengar deru pesawat tempur itu mendekat, aku langsung berusaha berdiri ingin melihat. Tetapi, tiba-tiba sebuah tangan yang besar melintas di atas kepalaku. Menarikku ke bawah, masuk ke dalam pelukan rerumputan. Aku tidak menyerah. Sambil tiduran, aku membuka sebelah mata mengintip dan menyaksikan pesawat Belanda sedang berputar-putar. Tiba-tiba pesawat itu menukik sangat rendah hingga di atas barisan rombongan kami. Suasana semakin mencekam!

Terdengar rentetan tembakan. Aku melihat peluru-peluru berjatuhan ke kanan-kiri rombongan. Untungnya, tidak lama kemudian pesawat Belanda itu kembali menanjak naik, terbang menuju ke arah timur dan tidak kembali lagi. Segera setelah itu kami serombongan pengungsi melanjutkan perjalanan. Sebuah peristiwa yang sungguh menegangkan.

Akhirnya, kami sampai di kota Jombang. Setelah memasuki kota tujuan tersebut, rombongan pengungsi mulai membubarkan diri. Mereka berjalan sendiri-sendiri, mencari tempat mengungsi. Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, menumpang di rumah kerabat dari bu Mojo, tepatnya di samping barat stasiun kota Jombang.

Dan malam itu aku adalah anak yang paling berbahagia. Karena pada akhirnya aku bisa tidur nyenyak di atas dipan, tanpa harus terguncang-guncang seperti saat digendong. Malam itu, aku merasa ingin tidur selama seribu tahun.

Sebelum tidur aku sempat berpikir, kami semua telah berhasil meninggalkan kota Mojokerto dengan berhari-hari berjalan, manalah mungkin tentara Belanda itu bisa menyusul kami?. Dan lalu aku pun tertidur pulas, sambil peluk guling. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Tiarap di Depan Tembakan Meriam

TIARAP DI DEPAN TEMBAKAN MERIAM

 

SEPI. Demikianlah suasana di sekitar rumah di Jalan Brantas Mojokerto, rumah pak Mojo, tempatku tinggal. Sungai Brantas yang luas itu tetap setia mengalir tenang tapi indah dipandang mata. Hanya saja entah mengapa, ada perasaan aneh yang kurasakan hari itu. Tidak seperti biasanya.

Masyarakat penghuni kampung bawah, di belakang rumah kami, akhir-akhir ini memang terasa tidak seramah dan gembira seperti biasanya. Mereka terlihat berubah menjadi serius dan tegang. Mereka sering bergerombol, mengerumuni radio dan mendengarkan orang yang sedang berpidato dengan suara keras dan berapi-api. “Itu kan Bung Tomo!” kata seorang temanku yang selalu berlagak serba tahu, mungkin karena ia sudah duduk di kelas empat SD. Ia mengatakan itu kepadaku dengan sikap sedikit mengejek, seolah ia teman dekatnya Bung Tomo.

Dan benar saja, kesunyian pagi itu terkoyak oleh suara sirine yang meraung-raung dengan sangat keras. Sirine yang terletak di atas sebuah menara di seberang sungai Brantas itu bagaikan seekor Dinosaurus yang meraung marah, menyeramkan. Sirine itu dibunyikan sebagai tanda bahwa akan adanya serangan udara oleh tentara Belanda.

Bunyi sirine yang pertama berarti seluruh warga harus berlindung di bawah kolong tempat tidur. Sedangkan bagi yang sedang berada di luar rumah, diharuskan berlindung di bawah pepohonan agar tidak terlihat oleh pesawat Belanda.

Bunyi sirene yang kedua berarti pertanda bahwa situasi sudah aman. Kami sudah boleh keluar dari tempat berlindung. Masyarakat sekitar sudah sering dilatih agar cepat tanggap terhadap peringatan atau tanda bahaya ini. Karena terlalu sering, justru banyak orang menjadi tidak sigap lagi.

Tetapi, bunyi sirine siang hari itu meraung lebih lama dari biasanya. Di sela-sela bunyi sirene itu terdengar sayup-sayup suara mendengung di langit. Sebagai salah satu penggemar film perang, aku dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah suara pesawat tempur Belanda. Maka, di saat orang-orang dewasa berhambur berlindung takut di bawah tempat tidur, aku yang nakal ini malah sudah nangkring di atas cabang pohon mangga yang berada di halaman depan rumah Pak Mojo.

Pohon mangga itu tinggi dan rimbun daunnya. Menurutku, pilot pesawat tempur itu tidak akan bisa melihatku. Dari sela-sela dedaunan pohon mangga, dengan jelas aku bisa melihat dua pesawat Belanda itu terbang berputar-putar di atas kota Mojokerto, juga di atas kali Brantas di depan aku berada.

Salah satu dari pesawat tersebut terbang berputar-putar di seberang sungai di sekitar menara sirine. Tiba-tiba aku melihat pesawat tempur itu terbang menukik tajam, dan pada saat pesawat mulai menanjak lagi terdengarlah bunyi ledakan yang dahsyat. Api berkobar sangat besar. Kemudian asap berwana hitam mengepul menjulang tinggi. Tubuhku gemetar.

Setelah menjatuhkan beberapa bom, pesawat itu terbang kembali ke arah Timur. Keadaan kembali sunyi, yang terlihat hanya kepulan asap hitam. Rupanya hari itu Mojokerto di bombardir, dihujani bom oleh tentara Belanda. Sirine sudah tidak berbunyi lagi. Keesokan harinya orang-orang di kampung bawah ramai bergerombol sambil membicarakan berita terbaru. Kota Mojokerto telah berhasil diduduki oleh pasukan tentara Belanda!

Aku tidak melihat apapun tentang pendudukan pasukan Belanda tersebut, karena lokasi rumah berada di sebelah Barat kota Mojokerto. Aku tidak melihat pertempuran darat seperti yang biasa dilihat di film perang. Mungkin pertempuran itu terjadi di sisi timur Mojokerto, karena pesawat Belanda datang dari arah timur. Mungkin kota Surabaya yang lebih dulu dikuasai Belanda.

Sore harinya, terdengar suara dentuman yang menggelegar lagi. Suara itu datang dari tengah kota Mojokerto. Anehnya, dentuman keras itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi terdengar setiap lima sampai sepuluh detik. Semua itu sungguh menarik perhatianku, dan membuat rasa ingin tahu didalam diriku membara menyala-nyala.

Dengan cepat aku lalu berlari menuju ke alun-alun, ke arah Selatan kampung bawah, sambil berteriak, “Reeek, ayo ndelok, reek” (Rek, ayo nonton, rek).”

Aku terus berlari sambil berteriak-teriak. Saat aku menengok ke belakang, aku melihat ada serombongan anak-anak kecil yang mengikutiku. Aku seakan merasa seperti Cacak, sang Pemimpin Geng Anak Tanjung di kota Malang dulu.

Akhirnya, aku sampai di sisi barat alun-alun. Di sana Aku menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Bukan main, benar-benar seperti yang ada di film-film perang. Di tengah alun-alun di sisi Timur, ada sederet meriam kecil milik tentara Belanda. Meriam itu namanya canon (baca: Kanon). Canon, adalah sebuah meriam kecil yang memiliki roda.

Di bagian depan canon ada semacam perisai dari baja bersegi empat. Dari tengah perisai baja itu menyembul moncong meriam. Aku bisa melihat ada empat buah canon yang berderet menghadap ke atas, ke arah Barat. Jadi, moncong canon-canon itu menghadap ke arahku dan teman-teman yang sedang tiarap di atas rumput.

Bagian inilah yang paling seru. Saat meriam itu ditembakkan, muncul kilatan api dari mulut canon. Terdengar suara ledakan yang dahsyat, memekakkan telinga. Peluru meriam itu berdesing di langit di atas kepalaku dan teman-temaku, lalu jatuh jauh di sebelah Barat kota Mojokerto. Untuk mengurangi suara dentuman, kami harus menutup telinga. Meskipun telinga sudah ditutup, tetapi setiap kali meriam berdentum dada serasa seperti ditimpa sansak, yakni sekarung pasir yang biasa digunakan untuk latihan tinju.

Menjelang Maghrib, serangan tentara Belanda baru berhenti. Aku berdoa agar peluru-peluru canon tadi berjatuhan di tengah sawah saja, sehingga tidak jatuh korban di pihak tentara Indonesia. Aku dan teman-temanku pun pulang sambil membawa dada yang masih terasa sesak.

Pada tengah malamnya terdengar kabar yang membuat hatiku bangga. Ada serangan balasan dari tentara kita menjawab serangan canon Belanda siang tadi. Dari arah Barat, tentara Republik Indonesia menggempur tentara Belanda di kota Mojokerto. Hujan peluru mortir itu juga berjatuhan di daerah kampung bawah dan di sekitar rumah kami. Suasana tegang dan mencekam.

Malam itu kami, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, berlindung di bawah kolong tempat tidur, sambil berdoa.

(Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke 70)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

wpid-fb_img_1439780262731.jpg

Blog di WordPress.com.

Atas ↑