Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Antonius Sutedjo

Sangat Memalukan

SANGAT MEMALUKAN

 

SEJAUH pengamatanku, rumah Pak Mojo di Jalan Brantas Mojokerto adalah rumah yang cukup tenang, atau dapat juga dikatakan sepi. Apalagi buatku yang sudah terbiasa dengan keramaian di rumah Mbah Tanjung di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang.

Bisa jadi karena yang tinggal di rumah Pak Mojo ini hanyalah kami bertiga. Pak Mojo, bu Mojo dan aku. Sedangkan si Om yang tinggal di kamar belakang dekat dapur hanya kadang-kadang saja berada di rumah. Sehingga sehari-hari suasana di rumah itu terasa sepi.

Pada suatu hari rumah kami kehadiran seorang Om yang sangat menarik perhatianku. Sebut saja namanya: Om Do. Om Do adalah anggota keluarga besar dari Pak Mojo. Ia dititipkan di rumah ini oleh orang tuanya untuk bersekolah di sebuah SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Mojokerto. Perawakan Om yang baru ini agak kurus tapi ngganteng, keren bagaikan Arjuna dalam dunia pewayangan.

Semakin hari aku semakin tertarik dengan sosok Om Do ini. Perilakunya sangat kalem, tertib, menjaga sopan santun dan disiplin. Saat berbicara dia selalu menggunakan kata-kata yang baik, positif, dan sopan. Bahkan menurutku suaranya demikian pelan, sehingga hanya bisa terdengar dari jarak satu meter darinya. Kalau berbicara lebih dari jarak satu meter dari Om Do, maka harus lebih mendekatkan kepala ke depan dan pasang telinga baik-baik.

Aku sungguh senang dengan kehadiran Om Do di rumah. Bukan hanya karena aku mendapat teman baru, tapi juga karena ia sangat sayang kepadaku. Bila aku sedang mengoceh apa saja, bercerita banyak, bahkan bicara tidak keruan, Om Do selalu bersedia mendengarkan.

Ketika si Om sedang belajar dan aku yang berada di dekatnya terus berbicara, ia tidak pernah mengusirku. Ia hanya diam sambil terus belajar. Tapi tentu saja lama kelamaan aku juga yang harus tahu diri. Pelan-pelan aku pamit dari kamar Om Do, lalu keluar bermain sendiri atau berusaha mencari pendengar lain yang saat itu tidak sedang belajar.

Seringkali saat Om Do merasa jenuh di rumah, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan ke alun-alun, melihat-lihat barang-barang yang digelar di lapak para PKL (Pedagang Kaki Lima). Tetapi, yang aku amati ia jarang sekali membeli sesuatu. Dalam perjalanan pulang, si Om selalu mengajakku untuk mampir minum es dawet di tempat langganan kami.

Pernah pada suatu hari libur aku diajak jalan-jalan oleh Om Do. Ternyata kali ini acaranya istimewa. Nonton bioskop. Setelah Om Do selesai antri membeli karcis, kami masuk ke tempat pertunjukan film itu. Aku girang bukan kepalang, sambil berjingkrak-jingkrak aku menuju ke tempat duduk.

Wow, ternyata kami duduk di bagian yang selalu aku idam-idamkan sebelumnya, yaitu kursi deretan paling depan. Bahkan kursi untukku berada di tengah, tepat di dekat layar yang putih dan sangat besar.

Lampu bioskop masih menyala terang, film belum dimulai. Sambil menunggu, aku terus berbicara sambil tertawa-tawa, aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku senang dan berterimakasih karena bisa duduk di tempat sangat istimewa itu. Tetapi anehnya Om Do hanya duduk diam di kursinya serta menunduk dalam-dalam. Sambil memegang perut, badannya meringkuk bagaikan udang. Hal ini membuatku agak khawatir, jangan-jangan ia sedang sakit perut yang bisa saja mengajakku pulang, dan tidak jadi menonton film. Tetapi kemudian aku kembali larut menikmati suasana itu dengan tertawa-tawa dan bernyanyi.

Karena terlalu senang, spontan aku berdiri di atas kursi di barisan paling depan itu. Aku lalu berputar, menghadap ke belakang, ke arah penonton di belakang kami. Aku tertegun melihat pemandangan yang mengagumkan. Aku melihat ada beratus-ratus orang yang duduk dan mereka semua menghadap ke arahku. Tentu saja sebenarnya mereka menghadap ke layar lebar di belakangku. Tetapi, di dalam perasaanku waktu itu, mereka menghadap ke arahku dan mau menonton aku!

Beberapa diantara mereka ada yang mengobrol dengan kiri-kanan mereka, tetapi ada juga beberapa yang melihat ke arahku. Sebagian ada yang tertawa-tawa sambil menunjuk aku. Beberapa orang yang duduk di deretan paling di depan mulai melotot dan dengan telunjuknya menyuruh agar aku segera duduk. Tetapi di bagian sebelah kiriku banyak juga yang melambaikan tangan kepadaku. Heran, sungguh aku sangat menikmati pemandangan ini.

Lampu teater dimatikan dan pertunjukan film dimulai. Aku kembali duduk bersandar, bersiap menonton. Begitu pula dengan Om Do, yang rupanya sakit perutnya mendadak sembuh. Pertunjukkan film dimulai. Film perang!

Dalam perjalanan pulang dari bioskop ada kejadian yang membuat hatiku sedikit tegang. Entah mengapa Om Do sikapnya berubah. Ia berjalan dengan sikap yang sangat tidak biasa. Berjalan lebih cepat, diam seribu-bahasa dan mukanya terlihat keras, seperti marah. Aku sungguh bingung dan tidak mengerti apa yang membuatnya marah. Es dawet langganan kami-pun dia lewati saja.

“Sangat memalukan,” katanya sambil terus bergegas. Hanya dua kata itu yang ia katakan hingga kami tiba di rumah. Waktu itu aku masih kecil dan tidak paham apa arti kata-kata itu. Yang lebih membuat aku heran lagi adalah sejak saat itu Om Do tidak lagi bersikap ramah terhadapku. Sedangkan aku masih tetap tidak mengerti arti dan makna kedua kata itu: sangat memalukan. Yang aku ingat, beberapa bulan setelah kejadian itu Om Do tidak tinggal di rumah kami lagi. Entah ke mana.

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, setelah beranjak dewasa, aku baru mengerti maksud dua kata yang Om Do ucapkan: sangat memalukan.

Rupanya begini, masa itu, tempat duduk di bioskop terbagi dalam beberapa kelas. Kelas yang paling mahal dan bergengsi bernama Kelas Balkon dan Kelas Loge (baca: lose), letaknya di paling belakang. Kelas yang lebih murah, kelas menengah dinamakan: Kelas Stales. Sedangkan kelas yang ekonomis alias paling murah namanya Kelas Satu, yang berada di barisan paling depan, yang paling dekat dengan layar. Waktu itu kantong Om Do sangat cekak, apalagi untuk dua tiket, dirinya dan diriku. Ia hanya mampu beli karcis Kelas Satu yang di dekat layar.

Sewaktu lampu gedung masih menyala Om Do menundukkan kepala dan badannya meringkuk seperti sedang sakit perut, itu karena ia takut kepergok teman-temannya. Ia malu jika ketahuan membeli tiket Kelas Satu yang juga sering dijuluki Kelas Kambing. Rupanya saat itu Om Do merasa sangat malu. Dan celakanya, aku, keponakannya yang belum mengerti apa-apa ini justru berdiri berlama-lama di depan menghadap ke seluruh penonton. Itulah yang membuat beberapa temannya tahu bahwa Om Do duduk di Kelas Kambing.

Ternyata, deretan kursi bioskop yang selama ini sangat kuidam-idamkan itu adalah Kelas Kambing, kelas yang paling murah! Maka, terungkaplah makna dua kata yang diucapkan Om Do waktu itu: sangat memalukan!

Buat Om Do yang baik, dimanapun kini berada, aku mohon maaf. Aku dulu belum mengerti, saat itu aku masih anak TK. Tetapi kuucapkan banyak terimakasih karena sudah ditraktir nonton film di Kelas Kambing. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sebuah Rahasia

SEBUAH RAHASIA

 PADA awal bulan Desember terjadi kesibukan yang luar biasa di rumah Mbah Tanjung. Rumah yang semula sudah dipenuhi anak-anak itu semakin ramai dan heboh. Ada yang kami tunggu-tunggu saat itu, yakni SINTERKLAS.

Sinterklas adalah sosok seorang laki-laki tua berkulit putih, berkacamata, bertubuh tinggi dan selalu membawa tongkat. Sinterklas memiliki kumis dan jenggot berwarna putih yang lebat, berbaju jubah merah serta menggunakan topi tinggi yang juga berwarna merah. Cerita tentang Sinterklas ini diceritakan oleh Tante Jah. Ia adalah wanita yang berperan menjadi ibu asuh bagi kami, anak-anak di rumah itu.

Menurut Tante Jah, Sinterklas tinggal di Negeri Belanda, yang konon pada bulan Desember tahun itu, akan mengunjungi Indonesia. Jadi, ada kemungkinan Sinterklas juga akan mengunjungi kota Malang.

Sinterklas biasanya dengan kudanya melakukan perjalanan bersama seorang asisten yang bernama Pit Hitam (Zwarte Piet), seorang lelaki kurus berkulit hitam legam. Sinterklas akan berkeliling dari rumah ke rumah membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak yang berkelakuan baik. Sedangkan si Pit Hitam tugasnya menghukum anak-anak yang nakal.

Tante Jah menceritakan itu semua dengan muka serius, disertai gerakan-gerakan untuk memberi tekanan tertentu pada apa yang ia ceritakan. Anak-anak mendengarkan cerita Tante Jah dengan muka yang tegang, mata yang melotot, dan mulut yang agak melongo. Begitu pula diriku, sama ekspresinya seperti mereka. Kami semua terkagum-kagum akan kebaikan hati dan kehebatan Sinterklas.

Tante Jah meminta agar anak-anak mempersiapkan diri, karena mungkin sewaktu-waktu Sinterklas datang kemari, ke rumah Mbah Tanjung.

Sejak hari itu tingkah laku anak-anak menjadi berubah drastis. Ada yang tiba-tiba menjadi rajin menyapu rumah, membersihkan tempat tidur, dan membuka-buka buku pelajaran sekolah. Aku juga tidak ketinggalan. Aku mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja, kursi dan lemari yang ada di ruang tengah. Tetapi dalam melakukannya aku lebih banyak beristirahat dari pada bekerjanya. Hanya kalau Tante Jah melewati ruang tamu saja, maka dengan sigap aku mulai membersihkan kursi-kursi, meja atau lemari. Tujuanku, agar nanti kalau ditanya oleh Sinterklas, Tante Jah akan melaporkan bahwa akulah yang terbaik diantara anak-anak lain.

Beberapa hari kemudian, anak-anak dikumpulkan lagi oleh Tante Jah. Katanya akan ada pengumuman penting. Dengan penuh harap, kami mengelilingi sang Tante yang berwibawa itu. “Ini serius. Sinterklas malam ini akan singgah di kota Malang,” kata Tante Jah. Anak-anakpun menjadi semakin tegang, terlebih lagi aku.

“Jadi, agar Sinterklas mau mampir ke rumah ini, kita harus memancing kudanya Sinterklas itu dengan menyediakan makanan yang disukai kuda. Kalian harus mengumpulkan rumput dan dimasukan ke dalam sepatu kalian masing-masing. Kemudian sepatu yang berisi rumput itu harus diletakkan di ruang tengah ini,” kata Tante Jah melanjutkan.

Maka berhamburanlah kami mencari rumput, dengan membawa sepatu masing-masing. Tetapi aku tidak mau mengambil rumput dari halaman rumah itu. Aku menyeberang ke halaman tetangga yang memiliki rumput lebih hijau dan lebat. Dengan rumput terbaik, maka pastilah kuda Sinterklas akan tertarik karena rumput di sepatuku lebih hijau dan panjang dari pada sepatu anak-anak lain. Dan dengan begitu, ia akan mendapatkan hadiah yang terbaik dan lebih besar.

Pada malam hari itu kami diharuskan untuk tidur lebih awal. Sehingga jika tengah malam Sinterklas singgah ke rumah kami, anak-anak sedang tidur lelap. Itulah perintah Tante Jah. Sebelum jam 9 malam, kami sudah bersiap tidur. Lampu kamar pun dimatikan.

Semua anak-anak sudah mulai “ngorok“. Hanya aku saja yang belum bisa tidur. Aku masih saja memikirkan bagaimana caranya nanti Sinterklas dan Pit Hitam masuk ke dalam rumah. Jika masuk melalui atap rumah, apakah Sinterklas tidak akan memecahkan genteng-genteng sehingga membuat bocor ketika hujan turun? Perkara ini agak mengganggu pikiranku.

Ketika Tante Jah membuka pintu kamar kami untuk memeriksa apakah kami sudah pada tidur, aku dengan cepat pura-pura sudah tidur nyenyak. Aku mengatur nafas panjang-panjang seperti orang yang sudah lelap tidur.

Dan benar saja, di tengah malam itu mulai terdengar suara-suara, “geletak-geletuk”. Aku menjadi semakin tegang. Suara itu tidak datang dari atas atap rumah, tetapi dari ruang tengah. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku dan mengintip apa yang terjadi di ruang tengah. Aku tidak berani mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Aku berdiri jauh dari pintu, menempel ke tembok sehingga tidak akan terlihat dari ruang tengah yang terang.

Hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kulihat dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu. Ada tangan-tangan yang bergerak-gerak dan menaruh kotak-kotak hadiah yang sudah dihias ke dalam sepatu-sepatu yang sebelumnya berisi rumput. Aku terkejut, tapi pada akhirnya aku mengerti, siapakah sebenarnya “Sinterklas” itu. Kemudian aku pun mengendap-endap kembali naik ke tempat tidur, lalu tidur pulas.

Pagi hari tiba, suasana menjadi meriah. Anak-anak termasuk aku mulai membuka bungkusan-bungkusan hadiah. Kami bersorak-sorak girang sambil memegang hadiah masing-masing. Tidak ketinggalan aku juga ikut berteriak-teriak senang. Kemudian kami diminta bernyanyi sebagai tanda terima kasih kepada Sinterklas. Seperti biasanya, aku bernyanyi paling keras dan paling merdu.

Tentu saja aku masih ingat apa yang kusaksikan semalam. Tetapi, di depan anak-anak-anak lain aku bersikap seakan-akan aku tidak tahu apa-apa. Aku melakukan semacam gerakan “tutup mulut”. Aku tidak mau membuat tante Jah kecewa. Ia yang sudah bekerja keras mempersiapkan kedatangan Sinterklas ke kota Malang setiap tahun. Aku berjanji tidak pernah membuka “rahasia” malam itu kepada anak-anak yang lain.

Biarlah suatu saat nanti, mereka akan tahu sendiri rahasia Sinterklas, mungkin kalau sudah dewasa, tetapi bukan dari aku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

Tukang Obat Idola

TUKANG OBAT IDOLA

MINGGU pagi sepulang dari gereja, aku tidak langsung pulang. aku mampir dan nongkrong dulu di alun-alun kota Malang. Menunggu sang idola, seorang penjual obat.

Setelah agak siang, datang seorang lelaki kekar dengan banyak bawaan. Koper besar, ransel besar, juga kardus besar. Mengapa ia tidak naik sepeda atau pakai gerobak? Entahlah. Mungkin karena tidak praktis.

Ia hidup seperti bangsa nomaden. Hidupnya berpindah-pindah dari satu lapangan ke lapangan yang lain, dari kota yang satu ke kota lainnya. Pun di alun-alun Malang ini, ia hanya beberapa jam, atau sampai obat dagangannya habis. Itu pun stok obat yang dibawanya tidak banyak, secukupnya saja.

Setelah menemukan tempat yang teduh, di dekat jalan kecil tempat lalu lalang pejalan kaki, ia meletakkan dan menata barang-barang bawaanya. Lalu dibuatnya garis di atas tanah dengan bubuk kapur putih sebagai batas untuk para penonton. Kemudian dengan tenang ia duduk lagi di atas singgasananya, sebuah kursi lipat.

Setelah orang-orang dan lalu lintas cukup ramai, idolaku pun memulai aksinya. Ia mengeluarkan keranjang yang dikerudungi dengan kain warna hitam. Keranjang itu diletakkan di tengah, tapi agak ke kanan. Yang mengherankan, setelah itu orang-orang yang berlalu-lalang mulai berhenti. Satu persatu, makin lama makin banyak.

Melihat penontonnya semakin bertambah, ia pun mengambil sebuah kotak kayu lalu dipukulnya keras-keras sambil berteriak, “Hayo, hayo, hayoo… yang mau melihat ular menari, tidak usah jauh-jauh ke India, di sini juga ada ular menari. Hayo, hayoo…” Ia terus berteriak sambil tongkatnya diketuk-ketukkan ke atas kain penutup kotak misterius itu.

Dalam waktu singkat orang-orang pun semakin ramai, berkumpul, berdesakan di atas batas garis kapur putih itu. Di deretan paling depan adalah anak-anak kecil. Mereka menjadi penggembira yang aktif dan menguntungkan bagi sang tukang obat. Sorakannya, tepuk tangan dan celetukannya meramaikan kerumunan ini. Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu si ular menari.

Sambil terus berbicara, sang tukang obat membuat gerakan-gerakan yang seakan-akan hendak memulai atraksinya. Apalagi kalau sudah ngomong, ia pandai memilih kata-kata lucu atau setengah jorok tapi dengan bahasa yang halus. Ia sangat lihai menarik perhatian penonton dengan berkata, “Hei, tahu nggak sekarang banyak orang cantik, orang ganteng, yang kulitnya gimana?… kadasen!”

Semua penonton tertawa, termasuk yang kulitnya kadasen. Ia pun meneruskan, “Kadas, kudis, gatal, luka, akan lenyap dengan olesan obat ajaib saya…”

Tidak lama kemudian, ia berdiri, lalu berkeliling sambil mengoleskan obat kulit ajaibnya ke tangan-tangan penonton yang telah diulurkan ke depan, termasuk anak-anak, tentu saja. Itu semua hanya perlu waktu sekitar sepuluh detik saja. Setelah itu, ia kembali ke kursi lipatnya.

Mantra “kadas-kudis-gatal-luka” itulah yang diucapkannya berulang-ulang. Setiap kali hendak memulai atraksi ular menari, selalu dibelokkannya ke produk obat jualannya. Akhirnya, stok obat pun habis dalam waktu yang tidak sampai 2 jam, dan para penonton lalu berangsur-angsur membubarkan diri. Sepertinya, mereka semua sudah lupa pada si ular menari.

Demikianlah kisah tentang si tukang obat di alun-alun kota Malang yang banyak menginspirasi diriku. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting : Veronica K & SR Kristiawan

Alun-alun kota Malang tahun 1930
Alun-alun kota Malang tahun 1930
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑