Cari

Antonius Sutedjo

Tag

bengawan solo

Demam Perang

DEMAM PERANG

Beberapa hari terakhir ini aku merasa galau dan mudah marah. Ini semua karena aku dan teman-temanku telah dilarang bermain perang-perangan lagi.

Para orang tua kami mengeluarkan larangan itu karena mereka menganggap bahwa memang perang telah selesai. Apa lagi permainan perang  antar kampung yang biasa kami lakukan itu selalu meninggalkan bekas ‘kerusakan’ yang menurut mereka cukup parah.

Banyak tanaman di pinggir jalan dan di kebun jatuh terkapar bertumbangan. Di atas jalanan, halaman bahkan atap rumah dipenuhi bubuk warna putih bagaikan salju. Keadaan ini semua terjadi karena kami bermain perang-perangan dengan cara saling melempar ‘granat lontong’ yaitu kantong kertas yang bentuknya seperti lontong dan diisi dengan bubuk kapur, atau gamping.

Para orangtua di seluruh kota dengan tegas menganggap bahwa kota Wonogiri telah aman. Tetapi aku sungguh tidak setuju. Menurutku perang belum sepenuhnya selesai, karena aku masih merasakan adanya ‘demam perang’ yang melanda, baik bagi anggota Geng Anak Gragas dan juga bagi semua anak-anak di Wonogiri. Aku pun jujur mengakui bahwa level ‘demam’-ku lah yang paling tinggi dan parah. Karena itu aku tegas tidak setuju dengan adanya larangan permainan perang-perangan itu.

Kemudian aku kumpulkan semua anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di basecamp kami, di dekat kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Aku sampaikan gagasanku kepada mereka.

“Wahai teman-teman seperjuangan, sadarlah, kita tidak bisa tinggal diam saja menghadapi pelarangan atas kegiatan main perang-perangan ini!” Para anggota GAGAS duduk rapih menyimak pidatoku yang kali ini berapi-api. Aku lihat mereka menyetujui akan pandanganku ini, mereka mendengar sambil mengangguk-anggukan kepala.

“Teman-temanku, inilah saatnya, sudah tiba waktunya kita semua harus bergerak dan melakukan sebuah aksi. Ayo, sesegera mungkin kita akan mengadakan sebuah….. Sandiwara Perang!.

Kemudian kusampaikan garis besar dari rencana tersebut dan menyatakan bahwa Sandiwara Perang ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, pekan depan.

Yang akan menjadi tim inti dari pertunjukan ini adalah seluruh anggota GAGAS. Mendengar ini posisi duduk mereka semakin tegak, mengambil sikap sempurna, sambil mata mereka menatap ke arahku dan seakan berkata, “Siap, komandan!”.

Aku pun bergerak cepat. Tempat pertunjukan pun sudah kutetapkan, yaitu di teras depan rumah Pak Mojo, di Jalan Jurang Gempal. Teras depan rumah itu cukup luas, dan terbuka, hanya dibatasi dengan pagar tembok setinggi pinggang yang berlubang-lubang, sehingga bisa kelihatan juga dari luar. Sebagai panggung kami akan menggunakan kamar tamu depan yang pintunya cukup lebar.

Aku pun langsung menghadap ke pak Mojo, ayah angkatku, dan menyampaikan rencana besar tersebut yang akan menggunakan teras depan dan ruang tamu miliknya. Seperti biasanya, Pak Mojo, jika sudah melihat sikapku yang menggebu-gebu seperti itu, beliau hanya diam, itu tandanya ia tidak setuju dan tidak menolak. Dan aku pun dengan cepat langsung menganggap bahwa pak Mojo telah setuju.

Langkah berikutnya adalah mencari pemain. Aku akan melibatkan teman-teman SD-ku, termasuk kakak-kakak kelasku, yaitu kelas empat sampai kelas enam. Aku kemudian mulai menyebarkan berita, dari mulut ke mulut, bahwa aku akan mengadakan sebuah Sandiwara Perang.

Berita tersebut dengan cepat menyebar. Aku bisa merasakan hal itu, karena kemanapun aku berjalan, anak-anak memandang diriku dengan penuh kekaguman. Beberapa anak bahkan sengaja mendekatiku, bertanya tentang rencana sandiwara ini. Tentu saja aku tahu, bahwa mereka mendekatiku karena berharap akan terpilih menjadi salah satu pemain sandiwara ini.

Kemudian aku menunjuk empat orang anak yang akan memerankan tentara Belanda. Caraku memilih keempat orang anak ini cukup mudah. Asalkan mukanya cukup tampan, kulitnya tidak terlalu gelap, dan hidungnya tidak pesek.  Mereka semua aku kumpulkan di Posko, yaitu di kebon kosong di seberang sekolah, di bawah pohon kenari. Aku katakan kepada para calon ‘tentara belanda’ itu.

“Kalian semua harus bangga karena terpilih, ini bukti bahwa kalian itu cukup tampan.” Mereka kelihatan sangat senang dengan pujian dariku ini. “Kalian harus beritahukan kepada orang tua kalian akan rencana ini, ingat, beri tahu bukan minta ijin.” ujarku.

“Dan jika ada orang tua kalian yang tidak setuju, kalian akan aku ganti dengan anak lainnya. Rupanya caraku ini berhasil. Keesokan harinya mereka semua membawa kabar bahwa orang tua mereka mendukung, bahkan ada seorang ibu yang akan membuatkan seragam tentara Belanda untuk keempat anak itu. Mendengar itu aku hanya senyum-senyum kecil sambil mengangguk-angguk. Padahal di dalam hati aku bersorak keras kegirangan.

Dengan cara yang sama aku pun menunjuk pemeran-pemeran lainnya: tentara kita, juru rawat, rakyat, dan lain-lainnya. Bantuan dari para orang tua pun mulai banyak mengalir. Mungkin para orang tua itu juga sudah tertular penyakit “demam perang”, terkena demam perjuangan para pahlawan kita. Atau mungkin kalau tidak mendukung mereka takut nanti dikira pro Belanda.

Begitulah caraku mempersiapkan sandiwara perang ini. Semua hal aku urus dan aku atur sendiri. Aku hanya mempercayakan kesuksesan proyek besar tersebut kepada anggota gengku, geng GAGAS.

Dengan rutin aku sering mengumpulkan mereka di posko, dibawah pohon kenari. Karena mereka inilah yang nantinya akan mempersiapkan panggung dan latar belakangnya.

Latar belakang panggung kami akan berupa hutan yang rimbun dan ada sedikit atap rumah dan sebuah bangku panjang di tengahnya. Untuk mempersiapkan itu semua, bagi anak GAGAS, bukanlah menjadi masalah.

“Darah!” kataku tiba-tiba. Mendadak aku baru teringat, bahwa darah sangat diperlukan untuk nanti dioleskan pada pemeran tentara kita yang luka-luka. Aku kemudian berpikir bahwa kita harus segera menghubungi rumah sakit.

Tetapi tiba-tiba Yahmin berkata, “Kalau perkara darah, biar aku yang urus.” Aku terbengong dan membatin, bagaimana caranya Yahmin akan mendapatkan darah?. Tetapi, seperti biasa, Yahmin berdiri sambil tersenyum dan lalu pergi memetik daun jati yang lebar dan kasar seperti amplas itu. Kemudian daun jati tersebut di remas-remasnya, dan ajaib, daun jati itu berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Hebat kau Yahmin!

Maka, hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sandiwara Perang sore ini akan dipentaskan. Aku mengambil keputusan bahwa tidak perlu gladi resik, aku berkata, “Ini adalah sandiwara perang, sandiwara ini minim dialog.”

Untuk setiap adegan, aku hanya memberikan garis besarnya saja kepada para pemain. Kuberikan arahan bahwa yang utama adalah adegan perang, saling menyerang. Tentara Belanda menyerang tentara kita, lalu kita balas dengan serangan gerilya. Lalu ada adegan seorang tentara kita yang luka dan ditolong oleh seorang suster cantik, berlanjut dengan adegan perpisahan antara suster cantik itu dengan tentara yang akan maju berperang.

Adegan terakhir adalah tentara Belanda diusir pergi oleh tentara kita. Jadi kebanyakan adalah suara tembakan dan bom, suara-suara ini akan dibuat menggunakan mesiu dari peluru sungguhan yang kami temukan dari sisa bekas perang yang lalu.

***

Sore itu para penonton mulai memenuhi teras depan rumah Pak Mojo. Pementasan Sandiwara Perang pun dimulai. Suara-suara ledakan mulai berdentuman. Bau mesiu menyengat tajam tercium hingga ke jalan raya. Orang-orang yang sedang lewat berbondong-bondong masuk ke halaman rumah Pak Mojo, mereka ingin menonton apa yang sedang terjadi.

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi sewaktu adegan perpisahan antara suster cantik yang akan ditinggal kekasihnya ke medan perang. Terjadi dialog yang memilukan antara keduanya.            Aku pun sempat bingung, entah dari mana mereka dapatkan dialog yang panjang dan mengharukan itu. Mungkin mereka dilatih oleh orang tuanya. Aku sendiri sempat terkesima sampai-sampai aku tak sadar bahwa adegan itu sudah melewati batas waktunya.

Aku baru saja hendak berdiri untuk memotong adegan itu, ketika aku mengintip ke arah penonton. Aku melihat banyak penonton yang terharu, bahkan banyak ibu-ibu yang mengusap air matanya. Apalagi sewaktu suster cantik itu menyerahkan sapu tangannya kepada kekasihnya sebagai kenang-kenangan dan disimpan sewaktu dirinya berada medan perang.

Adegan terakhir sebagai klimaks adalah adegan sewaktu tentara Republik berhasil mengusir tentara Belanda penjajah dari kota Wonogiri. Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan.

Sebagai penutup, semua pemain berdiri di depan panggung, untuk menyambut tepuk tangan penonton yang panjang itu. Aku pun kemudian maju ke depan, untuk memberikan pidato penutup.

Dengan lantang aku berkata kepada para penonton. “Bapak Ibu dan saudar-saudara sekalian, ayo kita semua menghormati para pejuang yang sudah membebaskan kita dari penjajahan. Para orang tua juga diharapkan menghargai anak-anak, merekalah kelak yang akan menggantikan para pejuang kemerdekaan kita itu.”

Sebagai akhir kata, Aku mengajak para penonton untuk mengucapkan tekad kita.

“Sekali merdeka……..”

Semua penonton menjawab serempak

“Tetap merdekaaa!!!…….”.

Demikianlah Sandiwara Perang pun berakhir dengan sukses. Aku sangat puas dan tidak galau lagi. ‘Demam’-ku sudah hilang. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Gunung Gandul

GUNUNG GANDUL

HARI ini, cita-citaku untuk mendaki Gunung Gandul akan segera tercapai. Bukit ini menjulang tinggi di sisi barat kota Wonogiri. Aku bersama empat orang temanku di SDN 3 Wonogiri sudah berkumpul di stasiun kereta api kota Wonogiri.

Stasiun ini letaknya tepat di kaki Gunung Gandul. Kami sudah siap, hanya tinggal menunggu kedatangan dua anak perempuan lagi yang sudah berjanji akan ikut mendaki bersama.

Sambil menunggu, iseng-iseng aku bertanya kepada teman-temanku, “Siapa yang pernah melihat Gunung Gandul ini dari seberang bukit, dari sisi barat?”. Mereka hanya melongo mendengar pertanyaanku itu, mungkin mereka tidak menduga ada pertanyaan semacam itu. Maka aku menjadi paham, bahwa mereka memang belum pernah melihat bukit ini dari sisi sebaliknya. Maklum, mereka semua dilahirkan di kota ini, yang terletak di sisi timur dari Gunung Gandul, sejak lahir mereka hanya melihat bukit ini dari sisi timur,

Sangat berbeda dengan diriku, justru pertama kali aku melihat Gunung Gandul ini adalah dari sisi sebelah barat. Begini ceritanya.

***

Akibat dari perang yang terjadi, beberapa tahun lalu aku dan keluargaku mengungsi dari kota Solo ke kota Wonogiri ini dengan menggunakan kendaraan truk besar. Sepanjang perjalanan itu aku  berdiri di pinggir bak truk bagian depan yang membuatku bisa dengan jelas menikmati pemandangan selama perjalanan.

Dengan truk besar ini, dari kota Solo kami menuju ke arah selatan, melewati jalanan yang datar dengan pemandangan yang indah. Kami melewati banyak persawahan, desa-desa. Semakin ke selatan aku bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi tanahnya terlihat semakin gersang dan kering.

Setelah truk kami berbelok menuju ke arah timur, aku dikejutkan oleh pemandangan yang menarik. Jauh di hadapanku terlihat sebuah perbukitan yang tinggi, yang membujur dari utara ke selatan. Bukit-bukit ini bagaikan sebuah barisan, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Deretan perbukitan ini semakin lama semakin dekat, membuat diriku semakin bersemangat dan bergairah.

Ketika aku menoleh ke kanan aku melihat, di atas salah satu puncak bukit yang tertinggi, ada  bukit lagi berwana kehitaman. Ini sangat berbeda dengan deretan bukit lainnya yang berwarna coklat tanah. Pemandangan ini sangat menarik perhatianku.

“Pak, itu batu atau bukit?” tanyaku pada seorang bapak yang duduk dibelakangku. Bapak itu menjawab sambil matanya hampir terpejam menahan kantuk, “Itu bukit batu,” katanya lirih. Wah ini luar biasa, pikirku, mungkin ini adalah keajaiban dunia! Ada sebuah batu raksasa yang tumbuh di puncak bukit! Aku kemudian berpikir keras tentang hal ini, sambil tetap menatap kagum kepada bukit batu ajaib itu.

“Itu namanya Gunung Gandul nak, ” kata si bapak itu kemudian tanpa aku harus bertanya. Rupanya dia tahu bahwa aku sedang memperhatikan bukit batu tersebut, Gunung Gandul.    Mendengar nama itu spontan aku melihat ke arah langit diatas batu itu. Batu sebesar itu nggandul  (menggantung) kemana? Aku sudah berusaha mencari-cari tetapi tidak kutemukan seutas talipun yang menggantung batu itu.

Kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya lagi ke bapak tadi, “Pak, mengapa namanya Gunung Gandul?”. Dijawabnya singkat, “Yo embuh! – Entah ya!” Mendengar jawaban itu, aku menjadi paham, artinya titik. No more question, ia tidak mau aku bertanya lagi. Tapi bukankah aku tidak boleh mudah menyerah? Aku harus mencari akal. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya aku menemukan pertanyaan lain, yang bukan tentang Gunung Gandul.

Aku bertanya, “Pak, Wonogiri masih jauh ya?”. Eh, bapak itu menjawab juga, “Nggak jauh lagi, setelah kita melewati bukit di depan ini, belok kanan, di situlah Wonogiri, dibawah Gandul.”

Wah, kota Wonogiri letaknya ada di bawah Gunung Gandul?  Jawaban itu membuatku semakin bersemangat dan penasaran tentang kota Wonogiri beserta Gunung Gandulnya ini.

Tiba-tiba truk kami berhenti di pinggir jalan, hanya sebentar, rupanya ada beberapa orang  yang akan turun di sini. Sewaktu aku melihat ke keatas tebing di sisi kanan jalan di lereng perbukitan itu, aku dikejutkan lagi oleh sebuah pemandangan yang  juga sangat menarik. Aku melihat ada sebuah batu yang sangat besar, sebesar gedung bertingkat tiga.

Batu yang bentuknya lonjong seperti telur itu bertengger di pinggir tebing curam tersebut. Yang aneh dan menarik adalah, batu besar itu di bersandar pada sebuah pohon.

Pohon itu terlihat sudah sangat tua umurnya. Kulitnya terkelupas, mungkin karena kelelahan memangku batu raksasa itu. Bagiku, terus terang ini agak mengerikan. Kalau tebing curam itu longsor atau pohon itu tumbang karena tidak kuat lagi menahan batu, maka batu sebesar itu akan jatuh dan menutupi seluruh jalan raya. Aku tak berani membayangkannya.

“Batu itu namanya Plintheng Semar, sudah seperti itu sejak ratusan atau mungkin malah ribuan tahun yang lalu,” kata bapak yang tadi duduk di belakangku sambil bangkit berdiri. Plintheng Semar?

Lagi-lagi aku mulai berpikir keras, sambil membayangkan. Kalau batunya saja sebesar itu, lalu sebesar apa plintheng (ketapel) nya? Dan sebesar apa pula pak Semar nya? (Semar adalah nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan).

Belum selesai aku mencoba mengkalkulasinya, truk kami sudah mulai bergerak lagi menuruni jalan memasuki kota Wonogiri. Kini di hadapanku terhamparlah pemandangan kota Wonogiri yang mempesona.

Tetapi kemudian kepalaku kembali dipenuhi dengan berbagai pertanyaan menarik yang belum juga terjawab. Gunung Gandul, menggantung dimana? Plintheng Semar, sebesar apa plinthengnya dan sebesar apa Semarnya? Semua pertanyaan itu harus kutemukan jawabannya. Menurutku ini sungguh menantang.

***

            Akhirnya, kedua anak perempuan yang kami tunggu-tunggu, yang mau ikut mendaki, tiba juga di stasiun tempat mereka berkumpul. Kedua anak perempuan ini terlambat cukup lama.

Hal ini membuat aku agak jengkel sambil kemudian berpikir, maklum, salah satu dari mereka adalah si Vinny. Seorang anak perempuan yang merasa, paling cantik di kelasku. Tetapi kenyataan sebenarnya Vinny memang cantik, berbeda dengan anak-anak perempuan lainnya. Kulitnya kuning langsat, seperti anak orang Belanda, mungkin karena alasan itu dia suka sok merasa paling cantik. Dan mungkin karena alasan itu juga lah, dia suka bergaya acuh tak acuh terhadapku.

Akhirnya kami siap memulai pendakian ke puncak Gunung Gandul. Kami menyeberangi rel kereta api dan jalanan langsung menanjak. Awalnya kami melewati perkampungan, setelah itu melewati jalan setapak yang menanjak curam. Baru setengah perjalanan teman-temanku sudah tampak kelelahan, mereka minta beristirahat dibawah pohon.

Aku merasa sedikit jengkel berjalan bersama mereka. Sudah jalannya lambat, sering beristirahat pula. Sambil tertawa dalam hati aku berpikir, Mungkin di situlah bedanya, mereka itu kan anak rumahan yang “kurang gizi”, sedangkan Ompa anak berandalan, pemakan serangga, tapi “kelebihan gizi”.

Setelah beberapa jam berjalan akhirnya kami mencapai puncak, yaitu di kaki bukit batu itu. Pemandangan dari tempat itu sungguh indah. Kami bisa melihat kota Wonogiri dan sungai bengawan Solo dengan jelas. Tetapi aku berpikir dan mengamati sekitar, lokasi ini bukanlah puncak yang sebenarnya. Menurutku yang dinamakan puncak sebenarnya adalah puncak di atas Gunung Gandul, di atas bukit batu itu.

Kebanyakan orang kalau sudah tiba di bawah bukit batu, mereka anggap mereka telah mencapai puncak Gunung Gandul. Menurutku pendapat itu salah kaprah. Karena dari sisi timur, untuk mencapai puncak bukit batu itu harus memanjat sebuah tebing tegak lurus keatas.

Kemudian aku berkata kepada semua teman-temannya, “Ayo, siapa yang mau ikut saya ke puncak batu di atas sana?”. Mereka semua kaget. Ada yang memandangku dengan pandangan memelas yang seolah mengatakan, “Ampun…” Ada yang tiba-tiba lari ke belakang semak-semak, entah mau apa ke sana.

Karena tidak ada diantara mereka yang berani ikut, maka aku pun berjalan sendirian menuju ke bukit batu itu.

Aku tidak mendaki dari sisi timur, tetapi aku merayap dulu menuju ke sisi barat. Tentu saja aku berani melakukan ini karena aku pernah melihat batu ini dari sisi barat.

Aha… , ternyata perkiraanku benar. Seperti yang pernah kulihat dari sisi barat dulu, di sisi ini  ternyata tanahnya lebih tinggi, sehingga menjadi lebih mudah untuk mencapai puncak batu itu. Apalagi aku tinggal mengikuti bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya saja yang ada di bebatuan itu.

Namun mendekati puncak, ada kesulitan menghadang: batunya terbelah dua! Oh, oh, apa yang harus  kulakukan? Aku berpikir sejenak… Ya, ya, aku akan merayap naik melewati terowongan belahan batu itu. Keluar dari terowongan itu, aku tinggal memanjat dinding batu sekitar sepuluh meter lagi.

Setelah berjuang keras memanjat, sampailah aku di puncak sebenarnya dari Gunung Gandul ini. Aku juga menemukan ada dataran di puncak, tapi hanya sekitar lima meter saja lebarnya dan miring. Membuat aku harus ekstra hatihati.

Aku puas dan bangga. Dari puncak itu aku bisa melihat dengan jelas ke seluruh arah. Timur, barat dan seluruh perbukitan yang membujur dari utara ke selatan.

Selama perjalanan turun, Vinny, temanku anak perempuan yang (sok) Belanda itu, selalu berjalan di sampingku. Ia menyimak mendengarkan cerita ‘kepahlawanan’ku, kisah perjuanganku memanjat tebing tadi.

Tentu saja cerita itu telah kutambahkan dengan bumbu-bumbu, agar terlihat bahwa diriku lebih hebat dibanding teman-temannya yang lain. Sementara aku berjalan dan mengobrol berdua bersama Vinny, anak-anak lainnya mengikuti kami dari belakang, mereka diam saja. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Renang Gaya Batu

Sketsa Ilustrasi karya: Tjatri Devi

RENANG GAYA BATU

SEMAKIN hari aku merasa semakin bangga menjadi anggota GAGAS, Geng Anak Gragas. Mengapa? Salah satunya adalah karena aku merasa beruntung bahwa tiga temanku anggota lainnya adalah putra daerah, Wonogiri. Mereka telah mengenal wilayah ini sejak lahir. Mereka mengetahui semua, sampai hal yang sekecil-kecilnya.

Apalagi yang namanya Yahmin, dia adalah anak yang paling tahu segala hal. Disamping itu Yahmin juga rajin mengajari aku, anak Malang ini. Sering kuceritakan pada Yahmin bahwa sewaktu aku masih tinggal di Malang, aku pernah menjadi anggota GATAN, Geng Anak Tanjung, Malang.

Kepada Yahmin aku ceritakan pula tentang kehebatan si Cacak, pemimpin GATAN di Malang, tentang penjelajahan kami dari kampung ke kampung, tentang Cacak yang selalu memimpin barisannya dengan tongkatnya, dan sebagainya. Yahmin mendengarkan semua itu hanya dengan senyum-senyum sambil diam saja.

Siang itu, setelah kami selesai menikmati pesta belalang dan burung bakar, Geng Anak Gragas melanjutkan perjalanan. Kali ini kami bergerak menuju ke sungai. Tiba-tiba Yahmin berteriak, “Le, ayo nglangi, leee.. – Ayo kita berenang”. Kemudian kami berlari kencang menuju ke tepi sungai Bengawan Solo yang besar itu. Dari atas tebing yang cukup tinggi di tepi sungai itu, anak-anak melepaskan baju dan celana, lalu mereka menceburkan diri ke sungai.

Demi solidaritas, aku pun melakukan hal yang sama. Tanpa pikir panjang aku cepat-cepat melepaskan baju, celana dan kemudian byuurr….., aku sudah terjun ke dalam sungai. Dan apa yang tidak aku duga-duga pun terjadi. Aku lupa bahwa sebenarnya aku tidak bisa berenang!

Yang terjadi berikutnya adalah peristiwa yang pasti sulit untuk kulupakan seumur hidupku. Tubuhku sudah berada di dalam air. Tadinya aku bermaksud ingin mencabut keputusanku untuk terjun ke air, tetapi itu tidak mungkin lagi karena aku merasa bahwa tubuhku sedang merosot terus ke bawah, di dalam air itu, semakin lama dalam. Kemudian aku sempat beharap agar kakiku akan segera sampai ke dasar sungai untuk kemudian aku akan mencoba melompat kembali ke atas, ke permukaan.

Tetapi yang terjadi adalah kakiku tidak juga menginjak sesuatu. Aku mendadak menjadi panik. Ini tidak boleh terjadi. Aku merasa badanku terus merosot ke bawah. Aku juga merasa sudah tidak tahan lagi menahan napas, air pun mulai masuk ke dalam mulutku. Tetapi kakiku belum mencapai ke tanah juga. Aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya pasrah membiarkan tubuhku tenggelam. Yang terakhir terlintas di pikiranku, sewaktu aku berada di dalam air sungai yang tanpa dasar itu, adalah muka si … Cacak.

Tiba-tiba aku sudah tergeletak di atas rerumputan di pinggir sungai. Aku merasa kepalaku sudah berada di atas tanah, sedangkan kakiku ada yang mengangkat ke atas. Lalu keluarlah banyak air dari dalam mulutku. Kemudian aku terduduk sendirian sambil masih terbatuk-batuk. Sedangkan teman-temanku anak-anak geng sudah kembali berenang.

Dalam kesendirianku itu, aku berpikir lagi mengenai Cacak. Mengapa dulu dia tidak mengajariku berenang? Apakah dia, sang pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, yang legendaris itu juga tidak bisa berenang? Padahal aku telah menyanjung-nyanjung dirinnya di depan si Yahmin. Aku jadi merasa malu pada Yahmin, yang telah mendengarkan tentang kehebatan Cacak sebagai pemimpin. Pantas saja Yahmin saat itu hanya diam sambil senyum-senyum saja. Mungkin begitulah gaya kearifan orang Wonogiri.

Tiba-tiba Yahmin keluar dari sungai lalu mendekatiku. Melihat bahwa aku telah sadarkan diri, ia pun duduk di sampingku.

Ia menasihatiku, “Kalau kamu belum bisa menyelam jangan berenang, itu berbahaya” katanya.

Yahmin lanjut menjelaskan mengenai sungai Bengawan Solo, bahwa kalau permukaan air sungai beriak, itu tandanya tidak dalam. Kalau permukaan air tenang, tidak bergelombang, itu tandanya sangat dalam.   Bagian sungai yang dalam itu namanya, ‘kedung’. Kalau permukaan airnya berputar, itu harus dihindari. Karena bisa-bisa kita terhisap ke dalam. Pantas, rupanya tadi aku bersama anak-anak itu terjun di ‘kedung’.

Yahmin ini rupanya tidak suka banyak berteori. Aku langsung diajaknya ke sungai yang dangkal, yang airnya hanya setinggi lutut. Kemudian aku disuruhnya membenamkan kepala ke dalam air sambil menghitung sendiri, dalam berapa hitungan kepalaku dapat bertahan di dalam air. Lalu Yahmin meninggalkanku dan kembali berenang bersama teman-temannya.

Aku kemudian berlatih sendiri dengan serius. Semula diriku hanya bertahan di dalam air dalam lima hitungan saja, lama kelamaan meningkat terus.

Sewaktu Yahmin datang kembali, aku sudah mampu menyelam selama lima belas hitungan. Yahmin lalu membawaku ke atas tebing, dan tanpa ijinku aku kemudian didorongnya terjun ke kedung yang dalam itu.

Akupun terjun ke dalam air seperti tadi, tetapi kali ini aku tetap tenang sambil menahan napas. Aku lalu mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakiku seperti katak. Gerakan itu teratur dan tidak terburu-buru. Aku melihat warna air diatasku kelihatan semakin lama semakin terang, kemudian kepalaku pun muncul di atas permukaan air. Sambil menghisap udara cepat-cepat dan kemudian masuk kembali ke dalam air, aku mendengar jelas teman-temanku bertepuk tangan keras-keras dari atas tebing.

Aku kemudian berenang ke tepi sungai dan merasa sedikit haru. Hari ini aku sudah bisa berenang. Aku tersenyum kepada Yahmin dan kedua temannya. Mereka membalas dengan tertawa terbahak-bahak sambil terjun lagi ke kedung, bagian terdalam dari sungai Bengawan Solo.

Tak mau kalah aku pun ikut terjun lagi, kali ini dengan gaya “gado-gado”. Mungkin jika di dalam dunia olah raga renang, gaya ini disebut dengan “Gaya Punggung Katak Kupu Kupu Bebas”.

***

Seperempat abad setelah kejadian tesebut, 25 tahun kemudian, aku, si Ompa ini sudah menikah. Pernah suatu kali di kantor Utie, istriku, ada acara pekan olahraga. Salah satu perlombaan yang di lombakan adalah lomba renang. Aku baru semangat ingin mendaftar setelah mengetahui dalam lomba renang itu ada cabang: “Renang Gaya Batu” yaitu menyelam.

Pada akhir perlombaan, semua peserta sudah keluar dan sudah lama berada di atas air, mereka menungguku di tepi kolam. Tetapi aku masih tenang-tenang saja berada di dasar kolam, sambil merayap-rayap menghitung ubin lantai kolam renang itu. Beberapa peserta mulai terlihat panik saat menyadari aku belum juga keluar dari dalam air.

Hari itu aku mendapat piala, juara “Renang Gaya Batu”. Piala itu kuangkat tinggi-tinggi dan dalam imajinasiku aku membayangkan, aku, si Ompa, sedang menyerahkan piala itu kepada Yahmin. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Blog di WordPress.com.

Atas ↑