TIARAP DI DEPAN TEMBAKAN MERIAM
SEPI. Demikianlah suasana di sekitar rumah di Jalan Brantas Mojokerto, rumah pak Mojo, tempatku tinggal. Sungai Brantas yang luas itu tetap setia mengalir tenang tapi indah dipandang mata. Hanya saja entah mengapa, ada perasaan aneh yang kurasakan hari itu. Tidak seperti biasanya.
Masyarakat penghuni kampung bawah, di belakang rumah kami, akhir-akhir ini memang terasa tidak seramah dan gembira seperti biasanya. Mereka terlihat berubah menjadi serius dan tegang. Mereka sering bergerombol, mengerumuni radio dan mendengarkan orang yang sedang berpidato dengan suara keras dan berapi-api. “Itu kan Bung Tomo!” kata seorang temanku yang selalu berlagak serba tahu, mungkin karena ia sudah duduk di kelas empat SD. Ia mengatakan itu kepadaku dengan sikap sedikit mengejek, seolah ia teman dekatnya Bung Tomo.
Dan benar saja, kesunyian pagi itu terkoyak oleh suara sirine yang meraung-raung dengan sangat keras. Sirine yang terletak di atas sebuah menara di seberang sungai Brantas itu bagaikan seekor Dinosaurus yang meraung marah, menyeramkan. Sirine itu dibunyikan sebagai tanda bahwa akan adanya serangan udara oleh tentara Belanda.
Bunyi sirine yang pertama berarti seluruh warga harus berlindung di bawah kolong tempat tidur. Sedangkan bagi yang sedang berada di luar rumah, diharuskan berlindung di bawah pepohonan agar tidak terlihat oleh pesawat Belanda.
Bunyi sirene yang kedua berarti pertanda bahwa situasi sudah aman. Kami sudah boleh keluar dari tempat berlindung. Masyarakat sekitar sudah sering dilatih agar cepat tanggap terhadap peringatan atau tanda bahaya ini. Karena terlalu sering, justru banyak orang menjadi tidak sigap lagi.
Tetapi, bunyi sirine siang hari itu meraung lebih lama dari biasanya. Di sela-sela bunyi sirene itu terdengar sayup-sayup suara mendengung di langit. Sebagai salah satu penggemar film perang, aku dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah suara pesawat tempur Belanda. Maka, di saat orang-orang dewasa berhambur berlindung takut di bawah tempat tidur, aku yang nakal ini malah sudah nangkring di atas cabang pohon mangga yang berada di halaman depan rumah Pak Mojo.
Pohon mangga itu tinggi dan rimbun daunnya. Menurutku, pilot pesawat tempur itu tidak akan bisa melihatku. Dari sela-sela dedaunan pohon mangga, dengan jelas aku bisa melihat dua pesawat Belanda itu terbang berputar-putar di atas kota Mojokerto, juga di atas kali Brantas di depan aku berada.
Salah satu dari pesawat tersebut terbang berputar-putar di seberang sungai di sekitar menara sirine. Tiba-tiba aku melihat pesawat tempur itu terbang menukik tajam, dan pada saat pesawat mulai menanjak lagi terdengarlah bunyi ledakan yang dahsyat. Api berkobar sangat besar. Kemudian asap berwana hitam mengepul menjulang tinggi. Tubuhku gemetar.
Setelah menjatuhkan beberapa bom, pesawat itu terbang kembali ke arah Timur. Keadaan kembali sunyi, yang terlihat hanya kepulan asap hitam. Rupanya hari itu Mojokerto di bombardir, dihujani bom oleh tentara Belanda. Sirine sudah tidak berbunyi lagi. Keesokan harinya orang-orang di kampung bawah ramai bergerombol sambil membicarakan berita terbaru. Kota Mojokerto telah berhasil diduduki oleh pasukan tentara Belanda!
Aku tidak melihat apapun tentang pendudukan pasukan Belanda tersebut, karena lokasi rumah berada di sebelah Barat kota Mojokerto. Aku tidak melihat pertempuran darat seperti yang biasa dilihat di film perang. Mungkin pertempuran itu terjadi di sisi timur Mojokerto, karena pesawat Belanda datang dari arah timur. Mungkin kota Surabaya yang lebih dulu dikuasai Belanda.
Sore harinya, terdengar suara dentuman yang menggelegar lagi. Suara itu datang dari tengah kota Mojokerto. Anehnya, dentuman keras itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi terdengar setiap lima sampai sepuluh detik. Semua itu sungguh menarik perhatianku, dan membuat rasa ingin tahu didalam diriku membara menyala-nyala.
Dengan cepat aku lalu berlari menuju ke alun-alun, ke arah Selatan kampung bawah, sambil berteriak, “Reeek, ayo ndelok, reek” (Rek, ayo nonton, rek).”
Aku terus berlari sambil berteriak-teriak. Saat aku menengok ke belakang, aku melihat ada serombongan anak-anak kecil yang mengikutiku. Aku seakan merasa seperti Cacak, sang Pemimpin Geng Anak Tanjung di kota Malang dulu.
Akhirnya, aku sampai di sisi barat alun-alun. Di sana Aku menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Bukan main, benar-benar seperti yang ada di film-film perang. Di tengah alun-alun di sisi Timur, ada sederet meriam kecil milik tentara Belanda. Meriam itu namanya canon (baca: Kanon). Canon, adalah sebuah meriam kecil yang memiliki roda.
Di bagian depan canon ada semacam perisai dari baja bersegi empat. Dari tengah perisai baja itu menyembul moncong meriam. Aku bisa melihat ada empat buah canon yang berderet menghadap ke atas, ke arah Barat. Jadi, moncong canon-canon itu menghadap ke arahku dan teman-teman yang sedang tiarap di atas rumput.
Bagian inilah yang paling seru. Saat meriam itu ditembakkan, muncul kilatan api dari mulut canon. Terdengar suara ledakan yang dahsyat, memekakkan telinga. Peluru meriam itu berdesing di langit di atas kepalaku dan teman-temaku, lalu jatuh jauh di sebelah Barat kota Mojokerto. Untuk mengurangi suara dentuman, kami harus menutup telinga. Meskipun telinga sudah ditutup, tetapi setiap kali meriam berdentum dada serasa seperti ditimpa sansak, yakni sekarung pasir yang biasa digunakan untuk latihan tinju.
Menjelang Maghrib, serangan tentara Belanda baru berhenti. Aku berdoa agar peluru-peluru canon tadi berjatuhan di tengah sawah saja, sehingga tidak jatuh korban di pihak tentara Indonesia. Aku dan teman-temanku pun pulang sambil membawa dada yang masih terasa sesak.
Pada tengah malamnya terdengar kabar yang membuat hatiku bangga. Ada serangan balasan dari tentara kita menjawab serangan canon Belanda siang tadi. Dari arah Barat, tentara Republik Indonesia menggempur tentara Belanda di kota Mojokerto. Hujan peluru mortir itu juga berjatuhan di daerah kampung bawah dan di sekitar rumah kami. Suasana tegang dan mencekam.
Malam itu kami, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, berlindung di bawah kolong tempat tidur, sambil berdoa.
(Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke 70)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

