PIT-PITAN
Pit adalah istilah yang dipakai masyarakat daerah Solo dan Wonogiri, artinya sepeda. Pit, datang dari kata ”Fiets”, bahasa Belanda. Sedangkan kata pit-pitan, beda lagi artinya, yaitu jalan-jalan dengan naik pit.
Waktu itu aku duduk di kelas tiga di SDN Tiga di kota Wonogiri. Menurutku anak-anak kelas tiga adalah anak-anak yang paling aktif dan dinamis di SD kami itu. Banyak ide dan kegiatan-kegiatan yang seru. Salah satu contohnya adalah saat kami mengadakan sandiwara perang, yang juga pernah aku ceritakan dulu.
Pagi itu kami berdelapan, semuanya merupakan teman sekelas. Kami sudah berkumpul dan siap dengan sepeda masing-masing. Semuanya anak laki-laki yang sudah biasa bersepeda jarak jauh. Kami akan pit-pitan menuju ke tempat wisata yang sangat terkenal di daerah Solo dan sekitarnya, yaitu Waduk Mulur.
Bagi masyarakat sekitar, Waduk Mulur adalah tujuan favorit untuk berwisata, letaknya di daerah Sukoharjo, kota kabupaten di selatan kota Solo. Aku sendiri belum pernah melihat langsung Waduk Mulur ini, itu sebabnya aku sangat bersemangat untuk ikut.
Dengan kompak kami berdelapan sudah berjejer di depan sekolahku, siap untuk berangkat. Tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Dari kejauhan muncul seorang anak perempuan, datang berlari-lari sambil melambaikan tangannya. Ah, itu si Vinny! Vinny, adalah anak perempuan yang merasa paling cantik di kelas kami. Ia berkulit putih dan berambut ikal. Aku bertanya-tanya dalam hati, mau apa Vinny ke sini? Sambil berlari dan berteriak ia menyampaikan bahwa ia mau ikut bersepeda bersama kami.
Kami semua menjadi tegang karena siapakah yang akan membonceng si Vinny? Ini kan pit-pitan jarak jauh, ke Waduk Mulur. Aku lalu berteriak kepada teman-temanku, “Yahno..!.” Sambil melirik ke arah Yahno, salah satu teman kami di situ. Ternyata semua teman-temanku sepakat. Mereka juga menunjuk Yahno sebagai anak yang bertugas membonceng si Vinny. Maka Vinny pun langsung naik nangkring di boncengan sepeda si Yahno. Yahno memang adalah teman kami yang paling besar dan kuat. Betisnya besar berotot seperti betis para tukang becak yang sering aku lihat di kota Solo. Saat itu aku tersenyum geli melihat wajah si Yahno. Ia terlihat senyum sumringah membawa si Vinny di boncengannya.
Tahap pertama dari perjalanan kami adalah menuju ke batu Plintheng Semar. Sebuah batu raksasa di puncak tanjakan tajam di Utara kota Wonogiri. Aku tiba lebih dulu di batu Plintheng Semar, karena aku ingin mengamati lebih detil tentang batu tersebut. Ternyata di belakang batu sebesar rumah yang nangkring di tebing dan bersandar pada pohon asam itu, terdapat sebuah taman. Di taman itu ada beberapa tempat duduk yang terbuat dari batu.
Yang menarik perhatianku adalah ada beberapa orang yang duduk bersila di bawah batu Plintheng Semar itu. Sedang apa mereka? Menurut teman seperjalananku, mereka sedang bersemedi atau bertapa. Di daerah Wonogiri ini banyak tempat yang sering dipakai orang untuk bersemedi. Misalnya di Alas Kethu (Hutan Kethu), sebuah bukit yang dipenuhi dengan hutan jati.
Kami lalu terus mengayuh sepeda kami, menanjak menyusuri sisi timur pegunungan itu. Kami hendak menuju ke puncak bukit terendah, yang nanti akan kami lompati menuju ke punggung sisi barat. Sewaktu berada di tanjakan terakhir sebelum puncak gunung, tiba-tiba sepedaku terguncang keras sampai hampir terjatuh.
“Aku melu kowe, yoo..— aku ikut kamu yaa”. Rupanya itu si Vinny. Sambil meloncat tanpa permisi ia duduk ke tempat boncengan sepedaku. Entah mengapa, walau dengan adanya Vinny tentu membuat sepedaku menjadi lebih berat, tetapi kehadirannya membuatku seakan memiliki kekuatan tambahan untuk menggenjot sepedaku di jalan menanjak menuju puncak pegunungan itu. Kukayuh sepedaku sambil berdiri di atas pedal. Aku hanya fokus pada puncak tanjakan, dengan keyakinan dan harapan bahwa setelah sampai di atas nanti, jalanan pasti akan menurun.
Akhirnya aku berhasil membonceng si Vinny sampai puncak tanjakan. Sewaktu jalan sudah mulai menurun, Vinny berpindah boncengan ke sepeda temanku yang lain.
Setelah melewati pegunungan itu, jalanan mulai rata mendatar. Si Yahno, yang juga merangkap sebagai penunjuk jalan, membawa kami melalui jalan-jalan kecil menyusuri ladang, persawahan dan pedesaan. Aku sangat menikmati keindahan dan kesegaran pemandangan alam di Jawa Tengah ini.
Hari mulai terasa panas ketika kami melewati sebuah ladang yang sangat luas. Ladang itu ditanami dengan Krai. “Krai” adalah nama buah sejenis mentimun. Kalau mentimun, warnanya hijau muda, tapi krai warna hijaunya lebih lebih tua dan airnya lebih banyak.
“Paak, nyuwun krai ne nggih… — paak minta krainya ya…”. Teriak si Yahno kepada seorang bapak yang sedang berada di tengah ladang. “Nggiih, monggoo.. — yaa, silakan”, jawab si bapak tani itu. Maka kami pun mulai memetik buah krai itu, masing-masing tiga buah. Aku kembali menggenjot sepedaku, kali ini sambil makan buah krai itu. Luar biasa, rasanya dingin seperti habis minum air es. Rasa dingin itu mengalir dari tenggorokan, turun ke dada dan ke perut dan seluruh badanku pun menjadi segar kembali.
Baru kusadari saat itu bahwa ladang tersebut tidak memiliki pagar sama sekali. Sehingga orang yang lewat di jalan tersebut bisa dengan bebas memetik buah krai ini untuk menghilangkan rasa hausnya. Itulah rasa sosial khas orang desa. Hati dan tangannya seakan selalu terbuka untuk memberi dan berbagi kepada orang lain. Contoh lainnya adalah, banyak rumah-rumah yang berada di tepi jalan yang kami lewati menyediakan gentong dan siwur yang berisi air bersih untuk diminum oleh siapa pun yang lewat disitu. Gratis
Kami kemudian memasuki sebuah kota kecil yang bernama Selogiri. Dalam perjalanan kami menuju Waduk Mulur di daerah Sukoharjo ini, memang telah kami rencanakan bahwa Selogiri ini akan kami gunakan sebagai tempat persinggahan. Menurut kakak-kakak kelas kami, kota Selogiri merupakan tempat bersejarah dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.
Benar juga, begitu kami memasuki kota Selogiri, kami menemukan sebuah taman yang di tengahnya berdiri dengan kokoh sebuah tugu setinggi rumah. Tugu tersebut terdiri dari batu yang berwarna hitam legam, bentuknya menyerupai sebuah gapura. Di tengah gapura tersebut ada sebuah lubang berbentuk segi empat yang tinggi, selebar sekitar dua meter, semacam pintu masuk ke tugu itu. Untuk memasukinya kami harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari batu hitam yang sama.
Daerah tersebut merupakan Astana, atau tempat pemakaman keluarga raja Mangkunegaran. Konon, ada seorang pangeran yang bernama Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Samber Nyawa yang mendirikan sebuah kerajaan kecil di daerah Selogiri itu. Daerah tersebut kemudian menjadi cikal bakal dari daerah Wonogiri. Raden Mas Said sangat gigih melawan kolonial Belanda. Raden Mas Said, atau Pengeran Samber Nyawa kemudian menjadi raja pertama dari kerajaan Mangkunegaran, yang keratonnya berada di pusat kota Surakarta, atau Solo.
Banyak tempat petilasan atau peninggalan sejarah di Selogiri, tetapi kami tidak sempat mengunjunginya satu persatu. Tujuan utama kami, delapan anak petualang sepeda, dan ditambah seorang anak perempuan pembonceng adalah tetap, Waduk Mulur.
Setelah sampai di depan pasar kota Sukoharjo, kami berbelok menuju ke arah timur, dan sampailah di tujuan akhir perjalanan kami, Waduk Mulur. Sebuah waduk yang sangat kondang.
Waduk itu memang sangat luas dan indah dipandang mata. Banyak wisatawan duduk-duduk di sekitar waduk. Tempat itu juga dipenuhi oleh para penjual makanan dan penjual cindera mata. Bagi teman-teman SD-ku, siapa pun yang pernah bersepeda sampai ke Waduk Mulur, mereka dianggap telah mencapai prestasi yang patut di banggakan.
Dalam perjalanan kami pulang, ada kejadian yang pertama kali kualami seumur hidupku. Sewaktu kami bersepeda berombongan melewati jalan raya Solo-Wonogiri, tiba-tiba saja terjadi hujan sangat deras. Guna menghemat waktu kami memutuskan untuk tidak berhenti dan jalan terus. Kira-kira setengah jam kemudian hujan mereda. Dan kemudian aku terkejut melihat apa yang ada di depanku. Tanah yang sedang kulewati ini, tanahnya kering kerontang! Bagiku ini merupakan kejadian yang ajaib. Mengapa tadi hujan dan basah, dan sekarang semua kering? Di dalam pikiranku, jika turun hujan maka di seluruh dunia pasti juga mengalami hal yang sama. Begitu juga sebaliknya, jika sedang kering, di semua tempat pasti juga kering. Tetapi anehnya ini tidak begitu. Sungguh mengherankan. Aku harus membuktikan bahwa ini nyata.
Maka kuajak dua anggota rombonganku untuk kembali lagi ke tempat hujan deras tadi. Dan memang benar, ketika kami kembali memasuki daerah tadi, di situ masih sama, hujan deras. Ini luar biasa! Kami bertiga lalu mondar-mandir. Pergi ke daerah yang kering dan dan kembali ke daerah yang hujan. Akhirnya aku menemukan batas antara tempat yang basah dan yang kering. Saat itu aku baru paham dan percaya, bahwa tidak ada yang namanya hujan merata di seluruh dunia. Kemudian aku mengejar rombongan menuju pulang.
Sewaktu akan melewati jalan yang menanjak mendaki pegunungan, aku sengaja menggenjot sepedaku mendahului yang lain. Maksudku agar aku menjauh dari si Vinny, yang suka pindah-pindah boncengan itu. Ketika jalanan mulai menurun menuju kotaku, Wonogiri, aku pun berani losrem (melepas rem), sehingga pitku meluncur kencang.
Aku sangat puas dengan acara “pit-pitan” hari itu. Aku telah menikmati pemandangan sawah dan desa, belajar sejarah, dan membuka tabir “misteri hujan” tadi. Nanti, kalau ada orang yang bertanya, apakah aku pernah pit-pitan ke Waduk Mulur, akan kujawab dengan bangga. Sudah! (*)
.
Penulis: Antonius Sutejo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan


