Cari

Antonius Sutedjo

Tag

cerita si ompa

Pit-Pitan

PIT-PITAN

Pit adalah istilah yang dipakai masyarakat daerah Solo dan Wonogiri, artinya sepeda. Pit, datang dari kata ”Fiets”, bahasa Belanda. Sedangkan kata pit-pitan, beda lagi artinya, yaitu jalan-jalan dengan naik pit.

Waktu itu aku duduk di kelas tiga di SDN Tiga di kota Wonogiri. Menurutku anak-anak kelas tiga adalah anak-anak yang paling aktif dan dinamis di SD kami itu. Banyak ide dan kegiatan-kegiatan yang seru. Salah satu contohnya adalah saat kami mengadakan sandiwara perang, yang juga pernah aku ceritakan dulu.

Pagi itu kami berdelapan, semuanya merupakan teman sekelas. Kami sudah berkumpul dan siap dengan sepeda masing-masing. Semuanya anak laki-laki yang sudah biasa bersepeda jarak jauh. Kami akan pit-pitan menuju ke tempat wisata yang sangat terkenal di daerah Solo dan sekitarnya, yaitu Waduk Mulur.

Bagi masyarakat sekitar, Waduk Mulur adalah tujuan favorit untuk berwisata, letaknya di daerah Sukoharjo, kota kabupaten di selatan kota Solo. Aku sendiri belum pernah melihat langsung Waduk Mulur ini, itu sebabnya aku sangat bersemangat untuk ikut.

Dengan kompak kami berdelapan sudah berjejer di depan sekolahku, siap untuk berangkat. Tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Dari kejauhan muncul seorang anak perempuan, datang berlari-lari sambil melambaikan tangannya. Ah, itu si Vinny! Vinny, adalah anak perempuan yang merasa paling cantik di kelas kami. Ia berkulit putih dan berambut ikal. Aku bertanya-tanya dalam hati, mau apa Vinny ke sini? Sambil berlari dan berteriak ia menyampaikan bahwa ia mau ikut bersepeda bersama kami.

Kami semua menjadi tegang karena siapakah yang akan membonceng si Vinny? Ini kan pit-pitan jarak jauh, ke Waduk Mulur. Aku lalu berteriak kepada teman-temanku, “Yahno..!.” Sambil melirik ke arah Yahno, salah satu teman kami di situ.             Ternyata semua teman-temanku sepakat. Mereka juga menunjuk Yahno sebagai anak yang bertugas membonceng si Vinny. Maka Vinny pun langsung naik nangkring di boncengan sepeda si Yahno. Yahno memang adalah teman kami yang paling besar dan kuat. Betisnya besar berotot seperti betis para tukang becak yang sering aku lihat di kota Solo. Saat itu aku tersenyum geli melihat wajah si Yahno. Ia terlihat senyum sumringah membawa si Vinny di boncengannya.

Tahap pertama dari perjalanan kami adalah menuju ke batu Plintheng Semar. Sebuah batu raksasa di puncak tanjakan tajam di Utara kota Wonogiri. Aku tiba lebih dulu di batu Plintheng Semar, karena aku ingin mengamati lebih detil tentang batu tersebut. Ternyata di belakang batu sebesar rumah yang nangkring di tebing dan bersandar pada pohon asam itu, terdapat sebuah taman. Di taman itu ada beberapa tempat duduk yang terbuat dari batu.

Yang menarik perhatianku adalah ada beberapa orang yang duduk bersila di bawah batu Plintheng Semar itu. Sedang apa mereka? Menurut teman seperjalananku, mereka sedang bersemedi atau bertapa. Di daerah Wonogiri ini banyak tempat yang sering dipakai orang untuk bersemedi. Misalnya di Alas Kethu (Hutan Kethu), sebuah bukit yang dipenuhi dengan hutan jati.

Kami lalu terus mengayuh sepeda kami, menanjak menyusuri sisi timur pegunungan itu. Kami hendak menuju ke puncak bukit terendah, yang nanti akan kami lompati menuju ke punggung sisi barat. Sewaktu berada di tanjakan terakhir sebelum puncak gunung, tiba-tiba sepedaku terguncang keras sampai hampir terjatuh.

“Aku melu kowe, yoo..— aku ikut kamu yaa”. Rupanya itu si Vinny. Sambil meloncat tanpa permisi ia duduk ke tempat boncengan sepedaku. Entah mengapa, walau dengan adanya Vinny tentu membuat sepedaku menjadi lebih berat, tetapi kehadirannya membuatku seakan memiliki kekuatan tambahan untuk menggenjot sepedaku di jalan menanjak menuju puncak pegunungan itu. Kukayuh sepedaku sambil berdiri di atas pedal. Aku hanya fokus pada puncak tanjakan, dengan keyakinan dan harapan bahwa setelah sampai di atas nanti, jalanan pasti akan menurun.

Akhirnya aku berhasil membonceng si Vinny sampai puncak tanjakan. Sewaktu jalan sudah mulai menurun, Vinny berpindah boncengan ke sepeda temanku yang lain.

Setelah melewati pegunungan itu, jalanan mulai rata mendatar. Si Yahno, yang juga merangkap sebagai penunjuk jalan, membawa kami melalui jalan-jalan kecil menyusuri ladang, persawahan dan pedesaan. Aku sangat menikmati keindahan dan kesegaran pemandangan alam di Jawa Tengah ini.

Hari mulai terasa panas ketika kami melewati sebuah ladang yang sangat luas. Ladang itu ditanami dengan Krai. “Krai” adalah nama buah sejenis mentimun. Kalau mentimun, warnanya hijau muda, tapi krai warna hijaunya lebih lebih tua dan airnya lebih banyak.

“Paak, nyuwun krai ne nggih… — paak minta krainya ya…”. Teriak si Yahno kepada seorang bapak yang sedang berada di tengah ladang. “Nggiih, monggoo.. — yaa, silakan”, jawab si bapak tani itu. Maka kami pun mulai memetik buah krai itu, masing-masing tiga buah. Aku kembali menggenjot sepedaku, kali ini sambil makan buah krai itu. Luar biasa, rasanya dingin seperti habis minum air es. Rasa dingin itu mengalir dari tenggorokan, turun ke dada dan ke perut dan seluruh badanku pun menjadi segar kembali.

Baru kusadari saat itu bahwa ladang tersebut tidak memiliki pagar sama sekali. Sehingga orang yang lewat di jalan tersebut bisa dengan bebas memetik buah krai ini untuk menghilangkan rasa hausnya. Itulah rasa sosial khas orang desa. Hati dan tangannya seakan selalu terbuka untuk memberi dan berbagi kepada orang lain. Contoh lainnya adalah, banyak rumah-rumah yang berada di tepi jalan yang kami lewati menyediakan gentong dan siwur yang berisi air bersih untuk diminum oleh siapa pun yang lewat disitu. Gratis

Kami kemudian memasuki sebuah kota kecil yang bernama Selogiri. Dalam perjalanan kami menuju Waduk Mulur di daerah Sukoharjo ini, memang telah kami rencanakan bahwa Selogiri ini akan kami gunakan sebagai tempat persinggahan. Menurut kakak-kakak kelas kami, kota Selogiri merupakan tempat bersejarah dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.

Benar juga, begitu kami memasuki kota Selogiri, kami menemukan sebuah taman yang di tengahnya berdiri dengan kokoh sebuah tugu setinggi rumah. Tugu tersebut terdiri dari batu yang berwarna hitam legam, bentuknya menyerupai sebuah gapura. Di tengah gapura tersebut ada sebuah lubang berbentuk segi empat yang tinggi, selebar sekitar dua meter, semacam pintu masuk ke tugu itu. Untuk memasukinya kami harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari batu hitam yang sama.

Daerah tersebut merupakan Astana, atau tempat pemakaman keluarga raja Mangkunegaran. Konon, ada seorang pangeran yang bernama Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Samber Nyawa yang mendirikan sebuah kerajaan kecil di daerah Selogiri itu. Daerah tersebut kemudian menjadi cikal bakal dari daerah Wonogiri. Raden Mas Said sangat gigih melawan kolonial Belanda. Raden Mas Said, atau Pengeran Samber Nyawa kemudian menjadi raja pertama dari kerajaan Mangkunegaran, yang keratonnya berada di pusat kota Surakarta, atau Solo.

Banyak tempat petilasan atau peninggalan sejarah di Selogiri, tetapi kami tidak sempat mengunjunginya satu persatu. Tujuan utama kami, delapan anak petualang sepeda, dan ditambah seorang anak perempuan pembonceng adalah tetap, Waduk Mulur.

Setelah sampai di depan pasar kota Sukoharjo, kami berbelok menuju ke arah timur, dan sampailah di tujuan akhir perjalanan kami, Waduk Mulur. Sebuah waduk yang sangat kondang.

Waduk itu memang sangat luas dan indah dipandang mata. Banyak wisatawan duduk-duduk di sekitar waduk. Tempat itu juga dipenuhi oleh para penjual makanan dan penjual cindera mata. Bagi teman-teman SD-ku, siapa pun yang pernah bersepeda sampai ke Waduk Mulur, mereka dianggap telah mencapai prestasi yang patut di banggakan.

Dalam perjalanan kami pulang, ada kejadian yang pertama kali kualami seumur hidupku. Sewaktu kami bersepeda berombongan melewati jalan raya Solo-Wonogiri, tiba-tiba saja terjadi hujan sangat deras. Guna menghemat waktu kami memutuskan untuk tidak berhenti dan jalan terus. Kira-kira setengah jam kemudian hujan mereda. Dan kemudian aku terkejut melihat apa yang ada di depanku. Tanah yang sedang kulewati ini, tanahnya kering kerontang! Bagiku ini merupakan kejadian yang ajaib. Mengapa tadi hujan dan basah, dan sekarang semua kering? Di dalam pikiranku, jika turun hujan maka di seluruh dunia pasti juga mengalami hal yang sama. Begitu juga sebaliknya, jika sedang kering, di semua tempat pasti juga kering. Tetapi anehnya ini tidak begitu. Sungguh mengherankan. Aku harus membuktikan bahwa ini nyata.

Maka kuajak dua anggota rombonganku untuk kembali lagi ke tempat hujan deras tadi. Dan memang benar, ketika kami kembali memasuki daerah tadi, di situ masih sama, hujan deras. Ini luar biasa! Kami bertiga lalu mondar-mandir. Pergi ke daerah yang kering dan dan kembali ke daerah yang hujan. Akhirnya aku menemukan batas antara tempat yang basah dan yang kering. Saat itu aku baru paham dan percaya, bahwa tidak ada yang namanya hujan merata di seluruh dunia. Kemudian aku mengejar rombongan menuju pulang.

Sewaktu akan melewati jalan yang menanjak mendaki pegunungan, aku sengaja menggenjot sepedaku mendahului yang lain. Maksudku agar aku menjauh dari si Vinny, yang suka pindah-pindah boncengan itu. Ketika jalanan mulai menurun menuju kotaku, Wonogiri, aku pun berani losrem (melepas rem), sehingga pitku meluncur kencang.

Aku sangat puas dengan acara “pit-pitan” hari itu. Aku telah menikmati pemandangan sawah dan desa, belajar sejarah, dan membuka tabir “misteri hujan” tadi. Nanti, kalau ada orang yang bertanya, apakah aku pernah pit-pitan ke Waduk Mulur, akan kujawab dengan bangga. Sudah! (*)

.

Penulis: Antonius Sutejo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Akar Garis Darah

AKAR GARIS DARAH

BARU beberapa bulan aku tinggal di Wonogiri, ketika suatu pagi saat aku sedang asik bermain di halaman rumah, tiba-tiba datang seorang tamu. Seorang tamu yang kehadirannya membuat aku sangat terkejut, tamu itu adalah Om No!

Ya, aku masih ingat betul bahwa itu adalah Om No, anaknya Mbah Tanjung, Malang. Bukankah jarak antara kota Malang dan Wonogiri ini sangat jauh? Jadi mengapa Om No bisa tiba-tiba muncul disini?

Kami berdua berbincang dan tertawa-tawa bersama mengenang masa saat masih tinggal bersama di Jalan Tanjung Gang Dua Malang dulu, dirumah Mbah Tanjung. Di rumah itu kami hanya berbeda status saja. Aku di situ sejak masih bayi, karena ayah kandungku meninggal dunia, sedangkan Om No adalah anak kandung dari Mbah Tanjung.

Meskipun dulu terkenal bandel dan sering membuliku, tetapi aku tahu bahwa Om No sebenarnya sayang padaku Kami berdua itu memiliki ikatan batin yang kuat. Mungkin juga karena kami berdua memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama suka berpetualang. Contohnya, Om No sering menyelundupkanku ke dalam gedung bioskop, yang filmnya untuk tujuh belas tahun keatas. Sungguh kenangan yang lucu dan seru.

“Ayo ikut yuk ke desa Kaligunting.” Ujar Om No kepadaku. Mendengar ajakan mendadak itu, aku langsung berlari ke kamar mandi dan cepat-cepat berganti baju. Aku takut kalau ajakan itu akan batal, atau dilarang oleh pak Mojo.

Dalam beberapa menit saja aku sudah siap, aku berdiri tegak di samping Om No. Aku sangat yakin bahwa perjalanan bersama Om No kali ini juga akan seru. Walaupun awalnya Pak Mojo menunjukkan sikap agak kurang senang dengan rencana mereka ini, tetapi akhirnya toh kami berangkat juga menuju desa Kaligunting.

Om No dan Ompa akan mengunjungi rumah Mbah Kaligunting, ayah kandung dari ayah kandungku. Konon, Mbah Kaligunting ini adalah seorang kepala desa yang sangat disegani oleh rakyatnya dan juga oleh masyarakat desa-desa sekitarnya. Aku sungguh sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau, Mbah Kaligunting. Ini adalah pertamakalinya aku akan berjumpa dengan Mbah Kakungku sendiri, Mbah Kakung kandungku.

Dengan naik Sepur Kluthuk kami berangkat dari stasiun kereta api Wonogiri menuju ke arah Selatan. Setelah berhenti dan melewati stasiun Nguntoronadi, kereta api ini tiba di stasiun terakhir, yaitu stasiun Baturetno. Kami pun turun di stasiun ini. Di stasiun ini pula lokomotif Sepur Kluthuk dipindahkan dari depan ke gerbong paling belakang, untuk kemudian kereta api akan kembali menuju Wonogiri dan Solo.

Dari stasiun Baturetno ini Ompa dan Om No harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju desa Kaligunting. Kami ditemani oleh seorang bapak dari Baturetno yang juga merupakan anggota keluarga besar Kaligunting. Bapak ini jugalah yang akan menjadi penunjuk jalan bagi Ompa dan Om No.

Kami berjalan menuju ke arah Barat. Setelah sekitar satu jam perjalanan berjalan kaki, kami kemudian berbelok ke arah Selatan. Bapak pengantar itu mengatakan bahwa ia memilih menggunakan jalan pintas, karena kalau berjalan kaki dengan rute biasa akan sangat jauh.

Perjalanan berjalan kaki ini cukup melelahkan, karena hampir semua area yang kami lewati adalah tanah yang tandus dan gersang. Di kanan kiri kami membentang lahan yang kering dengan tanah yang merekah dengan lubang-lubang menganga yang mengerikan.

Menurut bapak pengantar, kita akan menyeberangi dua sungai. Sungai yang pertama merupakan tanda bahwa kita sudah melalui setengah perjalanan, dan di seberang sungai yang kedua itulah letaknya desa Kaligunting.

Sudah hampir tiga jam perjalanan tapi kami belum juga bertemu sungai yang pertama. Walau lelah tetapi aku tetap berjalan dengan penuh semangat. Om No juga tidak mau kalah, ia berjalan lebih tegap dan kemudian mengeluarkan harmonikanya. Ia kemudian memainkan sebuah lagu, lagu perjuangan tentara Amerika seperti di dalam film perang, yang berjudul Halls of Montezuma.

Di sungai yang pertama kami harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Orang sekitar mengatakan perlu berjalan kaki memutar sekitar 20 kilometer untuk bertemu sebuah jembatan penyebrangan. Wah menyeberang sungai dengan masuk ke dalam air ini merupakan pengalaman baru yang seru. Air sungai pertama ini setinggi dada orang dewasa. Aku di gendong bapak pengantar di atas lehernya, kami harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terbawa arus sungai. Pengalaman yang menegangkan, pengalaman seperti inilah yang aku sukai.

Setelah hampir 5 jam berjalan kaki lagi akhirnya tiba juga kami di sungai yang kedua. Nah sungai inilah yang namanya sungai Kaligunting. Cukup lebar juga, sekitar lima puluh meter lebih. Sungai ini juga tidak memiliki jembatan, sehingga untuk menyeberanginya lagi-lagi kami harus berjalan kaki masuk ke dalam air. Beruntung hari itu sungai tidak sedang banjir, sehingga tinggi air hanya sepinggang orang dewasa. Kali ini aku tak lagi digendong di atas leher, cukup gendong belakang di punggung pak pengantar.

Setelah mereka tiba dengan selamat di seberang sungai, aku bisa merasakan dalam hatiku bahwa aku sudah memasuki wilayah desa Kaligunting desanya Mbah Kaligunting, mbah kandungku, akar dari garis darahku, akar dari garis darah Ompa. Hatiku berdebar-debar keras sepanjang sisa perjalanan dari sungai menuju ke rumahnya. Ini luar biasa, aku akan bertemu dengan Mbah Kakung kandungku

Saat akhirnya tiba di rumah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh isi rumah itu terlihat heboh menyambut kedatangan kami.

Kami kemudian langsung duduk beristirahat, karena kelelahan setelah mengadakan perjalanan panjang tadi. Saat itu tiba-tiba aku mulai merasa agak kikuk dengan suasana yang ada. Aku merasa bahwa seisi rumah itu terus memandangiku, seakan ada yang aneh pada diriku.

Tiba-tiba Mbah Kakung berteriak dengan kerasnya, “Degan, degan, penekno degaan. – panjatkan kelapa muda”. Maka dalam waktu tidak lama, belasan kelapa muda disuguhkan, dan kami semua menikmati segarnya kelapa muda, asli desa Kaligunting.

Setelah melepas rasa haus dengan air kelapa muda, akhirnya aku mulai mengerti mengapa orang seisi rumah Mbah Kaligunting ini memandangiku. Hal ini rupanya karena aku adalah cucu dari anak lelaki pertama, dari sepuluh anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Putri berkata kepada Ompa, “Bapakmu dulu lebih ganteng daripada kamu.” Kata-kata itu langsung membuat aku menjadi penasaran ingin sekali melihat wajah almarhum bapak kandungku, tetapi seluruh keluarga di rumah itu kemudian mengatakan bahwa tak ada satupun foto dari ayah kandungku. Aku mendadak menjadi sedikit sedih dan kecewa

Tetapi hari itu sungguh hari yang luar biasa untukku, aku merasa bagaikan seorang ‘tamu kehormatan’ di rumah Mbah Kaligunting. Semua orang seakan ingin melayani aku, termasuk Pak Lik (om) atau Bu Lik (tante). Aku merasakan ‘rasa’ yang berbeda, aku merasa sepeti mendapatkan guyuran kasih sayang dari saudara-saudaraku sepertalian darah.

Hari itu aku juga melihat bahwa Mbah Kakung tidak saja sangat disegani oleh rakyat di desanya, tetapi juga oleh keluarganya sendiri. Dirumah itu Mbah Kakung terlihat “angker” dan sangat berwibawa. Apapun yang diperintahkannya, semua orang tergopoh-gopoh untuk melaksanakannya. Itulah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungnya Ompa, sosok yang sangat berwibawa. Dia lah akar dari garis darahku. Aku terkagum.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Pak Bende

Sketsa ilustrasi oleh Tjatri Devi

PAK BENDE

Setelah perjalanan yang panjang, mulai dari Mojokerto, Jombang dan Solo, akhirnya pengungsian Ompa dan keluarga berakhir di Wonogiri. Di sanalah mereka akhirnya menetap, dan perlahan-lahan Ompa pun mulai berkenalan dengan kota yang indah ini, juga belajar bergaul dengan orang-orangnya.

Belum lama tinggal di Wonogiri, suatu hari Ompa melihat seorang lelaki yang sangat menarik. Setiap kali melihat laki-laki itu, Ompa selalu dibuat penasaran. Betapa tidak! Laki-laki itu sangat terkenal dan selalu hadir di tengah masyarakat kota Wonogiri. Ia bertubuh kurus, usianya sekitar lima puluh tahunan. Ia selalu mengenakan blangkon dan baju lurik lengan panjang. Tangan kirinya selalu memegang sebuah bende, gong kecil, yang tergantung pada seutas tali. Sedangkan tangan kanannya memegang tongkat pendek yang digunakan memukul bende.

Tak seorang pun tahu nama laki-laki itu. Ia hanya dikenal dengan nama Pak Bende, karena ke mana-mana selalu membawa bende.

Siapa sih Pak Bende ini sebenarnya? Mengapa ia selalu blusukan ke sudut-sudut kampung di seluruh Wonogiri? batin Ompa setiap kali melihat laki-laki kurus itu. Makin hari Ompa makin penasaran, tak lelah-lelah ia mencari tahu tentang jati diri Pak Bende. Semua orang ditanyainya. Tapi semua orang hanya dapat menggeleng. Mereka tahu siapa Pak Bende, tapi… siapa persisnya nama sesungguhnya, juga apa persisnya pekerjaan laki-laki itu, tidak seorang pun yang tahu.

Lalu pada suatu hari seseorang berkata pada Ompa, “Pak Bende? Oh… dia itu Juru Penerang.” Ompa kagum bukan buatan mendengar istilah itu. Juru Penerang? Apa itu?
“Juru Penerang tugasnya memberi penerangan dan informasi kepada seluruh rakyat kota Wonogiri, agar warga tahu apa yang akan terjadi pada hari itu.” Mendengar itu Ompa hanya bisa mengangguk-angguk. “Nah, sekarang, apakah kamu tahu apa itu Bende?” orang itu ganti bertanya. Ompa berpikir sebentar. Ia tahu, bende itu gong. Tapi apa persisnya, ia tidak tahu. Maka dengan enggan ia pun menggeleng. “Yah, aku sendiri juga tidak tahu jawabnya. Itu sebabnya aku tanya,” orang itu berkata lalu tertawa.

Tapi bukan Ompa jika ia tidak mencari jawabannya hingga jelas sejelas-jelasnya. Maka ia pun segera bertanya sana-sini dan mengumpulkan berbagai informasi. Dan sebelum hari itu berakhir, Ompa sudah tahu bende adalah gong kecil dalam perangkat gamelan Jawa, dan termasuk dalam kelompok gong.

Kelompok gong ini semua tergantung pada tali dan dikaitkan pada kayu panjang yang diukir dengan indah. Gong paling besar biasanya hanya dipukul sekali saja sebagai tanda penutup pada akhir lagu. Gong itu suaranya rendah, berat, dan gemanya berdengung sangat panjang. Namun jangkauan suara gong tidak terlalu jauh.“Guunngggg…,,” demikian bunyinya, mantap dan agung.

Tapi bende si gong kecil, suaranya lebih kecil dan nyaring: “ Dung, dung, dung…” Dan walaupun kecil, jangkauan suaranya bisa mencapai satu kilometer bahkan lebih, tergantung medannya, apakah tertutup atau terbuka. Itulah sebabnya Pak Bende selalu menggunakan bende.

Setiap hari Pak Bende menyusuri jalanan di seluruh kota. Pada setiap perempatan, Pak Bende berhenti dan memukul bende-nya beberapa kali: “Dung, dung, dung…” Kemudian ia akan berbicara dengan suara sangat nyaring, bagaikan menggunakan pengeras suara. Ucapannya pun sangat jelas. Mungkin karena itulah ia diangkat sebagai juru penerang. Pak Bende berbicara cukup panjang dan menggunakan bahasa Jawa Tinggi.

Ia berkata, “Woro woro, poro piyantun kakung miwah putri—pengumuman bagi para priyayi pria maupun wanita. Lanjutnya, “Ing dalu meniko bade wonten pagelaran ringgit wacucal—pada malam ini akan diadakan pertunjukan wayang kulit…”

Demikian seterusnya dan seterusnya. Semua orang di sekitarnya akan mendengarkan apa yang disampaikan Pak Bende dengan saksama. Mereka yang merasa kurang pendengarannya mulai mendekat supaya bisa menyimak lebih jelas apa yang dikatakan Pak Bende.

“Wah, informasi yang disampaikan Pak Bende selalu cukup banyak,” Ompa memperhatikan dengan penuh kekaguman. Misalnya tentang wayang kulit, tempat pertunjukan, mulainya jam berapa, siapa dalangnya, dan apa lakon yang akan dimainkan. Tetapi bukan itu yang membuat Ompa paling terkesan, melainkan karena Pak Bende selalu dapat menyampaikan semua itu tanpa menggunakan catatan.

“Hmmm… mungkinkah karena Pak Bende tidak bisa baca-tulis, maka ia hanya menggunakan ingatannya?” Dan bersama dengan setiap pertanyaannya yang tak terjawab itu, Ompa kecil pun semakin penasaran tentang kemampuan ingatan Pak Bende ini.

Maka suatu hari Ompa diam-diam sengaja mengikuti Pak Bende. Nah, benar juga, pada setiap pemberhentian selalu ada saja informasi yang terlewat untuk disampaikan. Kadang-kadang Pak Bende lupa menyebut nama dalangnya, tempat pertunjukan, atau yang lainnya. Pantas saja setiap selesai satu pengumuman, selalu ada saja orang yang mendekatinya untuk menanyakan tentang apa yang lupa diinformasikannya tadi. Dan Pak Bende dengan sabar dan bangga selalu melayani pertanyaan orang-orang itu.

Pernah suatu kali Ompa mengingatkan Pak Bende bahwa ada lagi yang kelupaan untuk disampaikan. Pak Bende kaget, memandang ke arah Ompa, dan menarik napas panjang. Lalu ia berjalan meninggalkan Ompa sambil berkata, ”Yo, wis ben wae—Ya, sudahlah, biarkan saja.” Setelah itu tanpa merasa bersalah ia pun melanjutkan perjalanannya sebagai juru penerang.

Kedatangan Pak Bende selalu dirindukan segenap warga kota Wonogiri. Satu minggu saja Pak Bende absen, seluruh lapisan warga pun langsung gelisah bertanya-tanya. Tak peduli tua, muda, anak-anak, apalagi ibu-ibu. Mungkin itu karena Pak Bende orangnya ramah dan terkadang senang menggoda ibu-ibu.

Setiap kali terdengar suara bende sayup-sayup di kejauhan, semua warga kota langsung penasaran dan bersiap mendengarkan berita yang ia sampaikan. Tapi kadang-kadang tiba-tiba suara bende menghilang, padahal orangnya belum lewat di tempat kami. Jika itu terjadi, orang-orang pun ribut, bertanya-tanya ke manakah laki-laki kurus itu. Ternyata Pak Bende sedang beristirahat sambil makan di warung.

Pak Bende selalu menjalankan tugasnya dengan setia dan tak kenal lelah. Ia menyusuri jalanan kota Wonogiri dari pagi hingga petang. Dengan hanya menggunakan bende dan suara nyaringnya, ia mampu mewartakan berbagai berita yang ditunggu-tunggu seluruh masyarakat kota Wonogiri.

Setiap kali matahari telah bersembunyi di balik Gunung Gandul, Pak Bende pun pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya. Ia merasa senang dan puas, tahu seluruh rakyat Wonogiri saat itu merasa senang setelah mendengar kabar malam itu akan ada pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Pendopo Kabupaten, Wonogiri. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Rosi L Simamora

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Gentong dan Siwur

.

Ilustrasi sketsa by Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

GENTONG DAN SIWUR

KOTA Wonogiri, bagiku, adalah kota yang indah. Selama tinggal di kota yang berbukit-bukit ini aku merasa nyaman., meskipun kota Wonogiri bukan termasuk kota besar.

Dari pusat kota, sepanjang jalan ke arah timur, jalan raya tampak menurun, landai hingga ke sungai Bengawan Solo. Di sungai itu terdapat sebuah jembatan. Satu-satunya jembatan yang menjadi penghubung antara desa dan kota. Daerah yang menurun di sekitar jembatan itu bernama Jurang Gempal.

Di tepi jalan raya yang melandai itulah, letak rumah yang kami tempati. Rumah kami sangat istimewa. Bentuknya bagaikan tribun stadion sepakbola, karena berada lebih tinggi dari jalan raya. Dari tepi jalan raya itu, kami harus menaiki empat tangga yang terbuat dari batu kali untuk sampai ke halaman rumah. Dan masih dua tangga lagi untuk tiba ke lantai teras rumah kami.

Dari teras depan rumah ini aku bisa memandang dan mengamati dengan jelas kondisi jalan raya, yang sangat lengang. Hanya sesekali aku mendengar deru mobil truk yang menanjak ke barat menuju pusat kota. Suara mesin truk yang bermuatan berat dan penuh berbunyi meraung-raung keras karena harus berjuang mendaki jalanan yang menanjak. Biasanya truk-truk itu membawa hasil bumi dari desa-desa menuju ke Pasar Kota Wonogiri.

Pasar Kota Wonogiri terletak di pusat kota. Meski cukup luas areanya, pada hari-hari biasa pasar itu tidak terlalu ramai. Kecuali pada hari-hari khusus, atau yang disebut dengan Hari Pasaran, yaitu satu hari sekali dalam sepekan.

Pada Hari Pasaran, pasar ini dipenuhi sesak oleh para penjual dan pembeli. Saking ramainya bahkan sampai tumpah ke tepi jalan raya, hingga di depan pertokoan. Mereka bukan hanya berasal dari kota Wonogiri, tetapi juga dari desa dan kota-kota sekitarnya. Mereka datang dari segala penjuru arah. Jika orang-orang itu yang datang dari arah Timur, dari desa-desa di seberang sungai Bengawan Solo, mereka pasti melewati jalan di depan rumah kami.

Aku tentu saja juga ingin terlibat dalam kemeriahan Hari Pasaran itu. Hari itu aku sudah bangun sejak masih gelap. Aku mempersiapkan gentong (semacam guci gemuk bermulut kecil yang terbuat dari tanah liat). Gentong itu kubersihkan, lalu kuletakkan di tepi jalan tepat di depan halaman rumah.

Kuisi gentong itu dengan air sumur hingga penuh, lalu kututup dengan sebuah papan kayu. Untuk mengambil air dari dalam gentong, kusiapkan sebuah siwur. Siwur adalah sebuah tempurung kelapa yang sudah dibersihkan, dihaluskan dan diberi gagang kayu.

Gentong berisi air dan siwur ini kusediakan untuk orang-orang menuju ke pasar yang nanti akan melewati rumah kami. Jika mereka kehausan dalam perjalanan, mereka boleh minum dari gentong-ku itu. Gratis, bahkan dengan senang hati. Gentong-gentong seperti ini juga disediakan oleh penghuni rumah lain, jika rumahnya dilewati rute orang menuju pasar pada Hari Pasaran.

Walau hari masih gelap, tetapi dari jalan Jurang Gempal sudah mulai terdengar suara bersahut-sahutan, “kiit, kiit…, kiit, kiit…” Bunyi itu berasal dari serombongan lelaki yang membawa barang dengan pikulan dari bambu. Karena terbebani berat, bambu pikulan itu melengkung naik-turun, dan menimbulkan bunyi yang berirama ritmis. Jika berbunyi cepat dan nyaris tanpa jeda, pertanda bahwa orang yang memikul sedang berlari atau berjalan cepat setengah berlari.

Sewaktu aku berjalan ke depan rumah untuk mulai mengisi air ke dalam gentong, Aku melihat mereka bergerak berombongan. Tubuh mereka tampak kuyup dibasahi keringat. Mereka berlari dengan senyap, tanpa ada yang berbicara. Beberapa terlihat sudah kelelahan, tapi mereka terus berlari. Mungkin mereka itu ingin segera sampai tujuan. Entah berapa puluh kilometer jarak yang sudah mereka tempuh dari desa mereka.

Saat sinar remang-remang mulai muncul di ufuk timur dan suasana di jalanan depan rumah semakin ramai, maka itu tandanya kemeriahan Hari Pasaran sudah dimulai. Dari arah timur datang serombongan besar mbok-mbok (ibu-ibu) Setelah tampak dekat, aku mengamati mereka berjalan berkelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kecil itu terdiri sekitar lima orang.

Mbok-mbok itu berjalan berurutan bagaikan kawanan semut, yang bersuara ribut, berbicara keras-keras satu sama lain. Memang begitu. Jika seorang Mbok yang paling depan bicara, maka suaranya harus bisa didengarkan Mbok yang paling belakang. Kalau sampai tidak terdengar, maka Mbok yang paling belakang akan protes, berteriak-teriak, dan akan membuat suasana semakin gaduh. Topik perbincangan mbok-mbok di setiap kelompok-kelompok kecil itu pun berbeda-beda.

Mbok-mbok itu, kebanyakan memakai pakaian kebaya yang longgar agar dapat bergerak leluasa dan cepat. Pada bagian lengannya digulung sampai ke siku. Sedangkan yang bagian bawah sedikit di atas lutut.

Tiba-tiba ada satu Mbok, anggota kelompok kecil keluar dari rombongan barisan, menuju ke arah gentongku. Dari jarak dekat, aku mengamatinya. Mbok itu membuka tutup gentong, lalu mengambil air dengan siwur dan meminum airnya. Setelah itu, ia membasahi muka, tangan dan menyiram kedua kakinya dengan air dari gentong milikku.

Tidak berlama-lama, Mbok itu lalu menutup gentong dan pergi begitu saja. Ia tidak menyapaku sama sekali. Padahal aku sedang duduk di tangga batu, di depannya. Ia lekas berlari menyusul dan kembali ke dalam kelompoknya. Seperti takut ketinggalan informasi di tengah pergunjingan sedang berlangsung seru.

Ada lagi yang unik, aku pernah melihat seorang Mbok di kejauhan yang tiba-tiba keluar dari rombongannya. Ia berlari menuju rerumputan di pinggir jalan, lalu mengangkat kainnya ujung bawah dan kemudian kakinya mengangkang. Apa yang dilakukannya? Mbok itu kemudian, maaf, pipis sambil berdiri! Di Hari Pasaran kejadian ini merupakan pemandangan yang sudah sering dan biasa terjadi.

Kembali ke gentong. Tugasku adalah menjaga agar gentongku selalu terisi penuh. Hari itu gentongku sangat sering disinggahi Mbok-mbok. Maklum matahari mulai meninggi dan hari sudah terasa panas. Semakin siang orang-orang yang lewat di depan rumah kami semakin berkurang. Aku membayangkan, siang itu Pasar Kota Wonogiri pasti sudah melimpah ruah dengan para pedagang, penjual hasil bumi, dan hasil kerajinan dari desa masing-masing.

Sore harinya, sekitar jam tiga, matahari sudah mulai condong ke barat. Kemeriahan Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami pun dimulai lagi. Jika pada paginya, barisan manusia itu datang dari desa menuju kota, sebaliknya pada sore hari orang-orang dari pasar itu seakan berbaris tiada terputus, pulang menuju desa mereka masing-masing.

Sebelum barisan itu datang, aku sudah mengisi gentongku penuh-penuh. Sore ini yang terjadi jauh lebih meriah dan lebih heboh dibandingkan tadi pagi. Kalau tadi pagi yang bersuara ribut hanya mbok-mbok saja, kali ini justru yang para lelaki yang paling heboh.

Mereka tertawa keras-keras, berbicara dan berteriak-teriak. Mengapa? Sebab ketika berangkat di pagi hari, mereka memikul beban bawaan yang sangat berat, sedang dalam perjalanan pulang mereka hanya membawa pikulan kosong. Mereka bisa berjalan seenaknya, tidak lagi harus diatur oleh ritme pikulan yang membebani pundak mereka.

Para lelaki itu membawa kain polos berwarna mencolok. Merah, kuning, dan sebagainya. Anehnya kain warna-warni itu tidak dilipat dan disimpan di keranjang yang dipikulnya, tapi dikibar-kibarkan, ada yang dikalungkan di leher atau diikatkan di kepala.

Mereka ingin menunjukkan kebanggaan dan kebahagiaannya satu sama lain. Bahwa barang dagangan mereka terjual habis, ada yang mungkin bisa membelikan oleh-oleh untuk kekasih atau isterinya di rumah. Walaupun mungkin kelihatan agak berlebihan, tetapi kain-kain warna mencolok itu adalah simbol hasil dari jerih payah mereka bekerja keras selama sepekan ini. Dan juga tentunya, adalah imbalan dari beratnya memikul hasil bumi mereka, dari desa menuju pasar di pusat kota.

Melihat semua itu aku ikut senang. Terlebih karena air gentongku sore itu tetap laris-manis, menghilangkan dahaga mereka.

Matahari sudah bersembunyi dibalik Gunung Gandul, meninggalkan semburat cahaya berwarna jingga, yang semakin lama semakin redup. Hari mulai gelap. Aku bergegas membereskan gentong dan siwur. Kubuang air yang tersisa, kubersihkan dan kusimpannya kembali di dapur. Tugasku pada Hari Pasaran ini selesai sudah.

Gentong dan siwur telah beristirahat kembali agar siap untuk menjalankan tugas mulianya pada Hari Pasaran pekan depan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑