Cari

Antonius Sutedjo

Tag

cerpen si ompa

Pertempuran Darat

KNIL
KNIL

PERTEMPURAN DARAT

 

SEPERTI yang pernah aku ceritakan sebelumnya, sejak tinggal di kota Mojokerto aku sudah berkenalan dengan suasana perang. Aku pernah menyaksikan serangan udara, penembakan canon Belanda ke wilayah tentara Republik, dan gempuran mortir tentara Indonesia ke kota yang sudah diduduki Belanda. Tetapi satu hal yang belum pernah aku lihat, yakni pertempuran darat langsung, seperti dalam film-film perang.

Perang membuat aku terpaksa mengungsi. Mulai dari Mojokerto, Jombang, Solo, lalu ke Wonogiri. Di kota terakhir ini Pak Mojo memutuskan untuk tidak akan mengungsi lagi. Semula aku juga berpikir begitu, karena mana mungkin tentara Belanda tertarik untuk menduduki kota ini. Toh Wonogiri hanya sebuah kota kecil.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Sejak kemarin malam, aku sudah mendengar suara dentuman-dentuman, semakin lama semakin dekat. Tetapi saat siang hari suara dentuman sudah tidak terdengar lagi. Jadi aku mengira bahwa tentara Belanda hanya ingin menakut-nakuti saja.

Namun, suara dentuman tadi malam terdengar semakin lebih mendekat. Apalagi suara itu terdengar seperti hujan peluru canon yang jatuh di kota Wonogiri. Aku lantas berpikir, sepertinya keadaan akan semakin serius.

Benar saja, tidak lama kemudian aku mendengar ada dua jenis suara tembakan. Yang satu suara rentetan tembakan dengan dentuman besar, sedangkan yang satunya terdengar lebih ringan dan letusannya hanya satu-dua kali, jarang-jarang. Aku langsung berpikir, mengacu pada sebuah film yang pernah aku tonton, bahwa ini seperti pertempuran darat.

Dua jenis suara tembakan itu semakin lama semakin mendekat. Sepertinya dari arah kota melalui Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami. Aku pun semakin bersemangat menempelkan mataku ke dekat kaca jendela, mengintip. Sedangkan Pak Mojo dan Bu Mojo duduk di lantai pojok ruangan. Pak Mojo menyuruhku untuk segera turun dari jendela, agar tidak kelihatan dari luar. Tetapi aku tetap bandel, mengintip ke luar sambil berdiri di atas kursi dekat kaca jendela.

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa tentara yang lewat sambil melepaskan tembakan, bergerak mundur ke arah Timur, ke arah jembatan sungai Bengawan Solo. Sedangkan dari arah kota, terdengar rentetan suara letusan senjata berat.

Lama kelamaan suara-suara itu seperti semakin mendekati jalan depan rumah. Dari dalam rumah terdengar derap sepatu tentara yang semakin lama semakin mendekat. Aku mendadak menjadi tegang dan takut, tetapi aku sungguh ingin melihatnya langsung. Benarkah itu suara derap sepatu tentara Belanda. Belum lama aku berpikir, muncul barisan tentara berbaju loreng yang masing-masing memegang senjata laras panjang. Aku sungguh terkejut dengan apa yang kulihat. Ternyata mereka bukan tentara yang berkulit putih, tapi berkulit gelap!

Aku jadi ingat, rupanya merekalah yang disebut tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). KNIL adalah pasukan yang biasa dipakai oleh Belanda untuk lebih dulu menyerbu ke daerah yang akan didudukinya. Anggota tentara KNIL kebanyakan adalah orang pribumi

Di jalanan depan rumahku, para tentara yang berbaju loreng itu berteriak-teriak sambil sesekali melepaskan tembakan. Mereka memerintahkan semua laki-laki dewasa agar segera keluar dari dalam rumah sambil mengangkat tangan.

Aku kemudian menyaksikan rumah tetangga di seberang jalan didobrak. Dengan sepatunya yang kuat, tentara itu menendang pintu rumahnya, karena terlalu lama tidak dibuka dari dalam. Aku menjadi semakin ketakutan.

Dan tiba-tiba saja aku melihat sudah ada seorang tentara di halaman rumah kami. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu depan dan keluar. Aku tidak mau pintu rumahku dirusak. Baik digedor atau didobrak seperti rumah tetangga itu.

Tentara itu bertanya sambil berteriak, apakah ada laki-laki dewasa di rumah kami. Sambil gemetar hebat tidak mampu bicara, aku hanya mengacungkan jari telunjukku. Yang ingin aku katakan adalah bahwa di rumah kami hanya ada satu lelaki dewasa.

Kemudian aku menjerit memanggil Pak Mojo agar segera keluar. Dengan ketakutan Pak Mojo keluar sambil mengangkat kedua tangannya. Tentara itu masih tidak percaya, bahwa memang hanya ada satu orang laki-laki di dalam rumah kami. Ia lalu memeriksa masuk ke dalam rumah. Setelah yakin tidak ada orang yang dicarinya, tentara itu menggelandang Pak Mojo keluar, ke tepi jalan.

Semua laki-laki itu diperintahkan untuk duduk berjejer di tepi jalan, sambil meletakkan kedua tangan mereka di belakang kepala masing-masing. Aku melihat, beberapa pemuda mendapat tendangan sepatu lars tentara. Aku melihat Pak Mojo tidak dipukul, hanya kepalanya saja yang digoyang-goyang.

Akhirnya, semua laki-laki itu digiring menuju ke arah kota dengan todongan senjata laras panjang. Saat hari telah menjelang sore, akhirnya Pak Mojo pulang kembali ke rumah dengan tidak kurang suatu apapun. Syukurlah…

Setelah kota Wonogiri mereka anggap aman, saat hari menjelang gelap baru tampak iring-iringan kendaraan militer berwarna loreng yang membawa tentara Belanda, berkulit putih, memasuki kota Wonogiri. Suasana malam itu sungguh mencekam. Kami tidak bisa tidur karena harus selalu waspada. Suara dentuman dan letusan senjata sesekali terdengar di kejauhan, di seberang Sungai Bengawan solo. Akhirnya kota Wonogiri juga diduduki oleh tentara Belanda, batinku.

Sepanjang malam kami berdoa agar tidak terjadi apa-apa malam itu, juga esok harinya dan hari-hari setelahnya. Aku juga berdoa agar kami tidak harus pergi mengungsi lagi. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Gentong dan Siwur

.

Ilustrasi sketsa by Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

GENTONG DAN SIWUR

KOTA Wonogiri, bagiku, adalah kota yang indah. Selama tinggal di kota yang berbukit-bukit ini aku merasa nyaman., meskipun kota Wonogiri bukan termasuk kota besar.

Dari pusat kota, sepanjang jalan ke arah timur, jalan raya tampak menurun, landai hingga ke sungai Bengawan Solo. Di sungai itu terdapat sebuah jembatan. Satu-satunya jembatan yang menjadi penghubung antara desa dan kota. Daerah yang menurun di sekitar jembatan itu bernama Jurang Gempal.

Di tepi jalan raya yang melandai itulah, letak rumah yang kami tempati. Rumah kami sangat istimewa. Bentuknya bagaikan tribun stadion sepakbola, karena berada lebih tinggi dari jalan raya. Dari tepi jalan raya itu, kami harus menaiki empat tangga yang terbuat dari batu kali untuk sampai ke halaman rumah. Dan masih dua tangga lagi untuk tiba ke lantai teras rumah kami.

Dari teras depan rumah ini aku bisa memandang dan mengamati dengan jelas kondisi jalan raya, yang sangat lengang. Hanya sesekali aku mendengar deru mobil truk yang menanjak ke barat menuju pusat kota. Suara mesin truk yang bermuatan berat dan penuh berbunyi meraung-raung keras karena harus berjuang mendaki jalanan yang menanjak. Biasanya truk-truk itu membawa hasil bumi dari desa-desa menuju ke Pasar Kota Wonogiri.

Pasar Kota Wonogiri terletak di pusat kota. Meski cukup luas areanya, pada hari-hari biasa pasar itu tidak terlalu ramai. Kecuali pada hari-hari khusus, atau yang disebut dengan Hari Pasaran, yaitu satu hari sekali dalam sepekan.

Pada Hari Pasaran, pasar ini dipenuhi sesak oleh para penjual dan pembeli. Saking ramainya bahkan sampai tumpah ke tepi jalan raya, hingga di depan pertokoan. Mereka bukan hanya berasal dari kota Wonogiri, tetapi juga dari desa dan kota-kota sekitarnya. Mereka datang dari segala penjuru arah. Jika orang-orang itu yang datang dari arah Timur, dari desa-desa di seberang sungai Bengawan Solo, mereka pasti melewati jalan di depan rumah kami.

Aku tentu saja juga ingin terlibat dalam kemeriahan Hari Pasaran itu. Hari itu aku sudah bangun sejak masih gelap. Aku mempersiapkan gentong (semacam guci gemuk bermulut kecil yang terbuat dari tanah liat). Gentong itu kubersihkan, lalu kuletakkan di tepi jalan tepat di depan halaman rumah.

Kuisi gentong itu dengan air sumur hingga penuh, lalu kututup dengan sebuah papan kayu. Untuk mengambil air dari dalam gentong, kusiapkan sebuah siwur. Siwur adalah sebuah tempurung kelapa yang sudah dibersihkan, dihaluskan dan diberi gagang kayu.

Gentong berisi air dan siwur ini kusediakan untuk orang-orang menuju ke pasar yang nanti akan melewati rumah kami. Jika mereka kehausan dalam perjalanan, mereka boleh minum dari gentong-ku itu. Gratis, bahkan dengan senang hati. Gentong-gentong seperti ini juga disediakan oleh penghuni rumah lain, jika rumahnya dilewati rute orang menuju pasar pada Hari Pasaran.

Walau hari masih gelap, tetapi dari jalan Jurang Gempal sudah mulai terdengar suara bersahut-sahutan, “kiit, kiit…, kiit, kiit…” Bunyi itu berasal dari serombongan lelaki yang membawa barang dengan pikulan dari bambu. Karena terbebani berat, bambu pikulan itu melengkung naik-turun, dan menimbulkan bunyi yang berirama ritmis. Jika berbunyi cepat dan nyaris tanpa jeda, pertanda bahwa orang yang memikul sedang berlari atau berjalan cepat setengah berlari.

Sewaktu aku berjalan ke depan rumah untuk mulai mengisi air ke dalam gentong, Aku melihat mereka bergerak berombongan. Tubuh mereka tampak kuyup dibasahi keringat. Mereka berlari dengan senyap, tanpa ada yang berbicara. Beberapa terlihat sudah kelelahan, tapi mereka terus berlari. Mungkin mereka itu ingin segera sampai tujuan. Entah berapa puluh kilometer jarak yang sudah mereka tempuh dari desa mereka.

Saat sinar remang-remang mulai muncul di ufuk timur dan suasana di jalanan depan rumah semakin ramai, maka itu tandanya kemeriahan Hari Pasaran sudah dimulai. Dari arah timur datang serombongan besar mbok-mbok (ibu-ibu) Setelah tampak dekat, aku mengamati mereka berjalan berkelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kecil itu terdiri sekitar lima orang.

Mbok-mbok itu berjalan berurutan bagaikan kawanan semut, yang bersuara ribut, berbicara keras-keras satu sama lain. Memang begitu. Jika seorang Mbok yang paling depan bicara, maka suaranya harus bisa didengarkan Mbok yang paling belakang. Kalau sampai tidak terdengar, maka Mbok yang paling belakang akan protes, berteriak-teriak, dan akan membuat suasana semakin gaduh. Topik perbincangan mbok-mbok di setiap kelompok-kelompok kecil itu pun berbeda-beda.

Mbok-mbok itu, kebanyakan memakai pakaian kebaya yang longgar agar dapat bergerak leluasa dan cepat. Pada bagian lengannya digulung sampai ke siku. Sedangkan yang bagian bawah sedikit di atas lutut.

Tiba-tiba ada satu Mbok, anggota kelompok kecil keluar dari rombongan barisan, menuju ke arah gentongku. Dari jarak dekat, aku mengamatinya. Mbok itu membuka tutup gentong, lalu mengambil air dengan siwur dan meminum airnya. Setelah itu, ia membasahi muka, tangan dan menyiram kedua kakinya dengan air dari gentong milikku.

Tidak berlama-lama, Mbok itu lalu menutup gentong dan pergi begitu saja. Ia tidak menyapaku sama sekali. Padahal aku sedang duduk di tangga batu, di depannya. Ia lekas berlari menyusul dan kembali ke dalam kelompoknya. Seperti takut ketinggalan informasi di tengah pergunjingan sedang berlangsung seru.

Ada lagi yang unik, aku pernah melihat seorang Mbok di kejauhan yang tiba-tiba keluar dari rombongannya. Ia berlari menuju rerumputan di pinggir jalan, lalu mengangkat kainnya ujung bawah dan kemudian kakinya mengangkang. Apa yang dilakukannya? Mbok itu kemudian, maaf, pipis sambil berdiri! Di Hari Pasaran kejadian ini merupakan pemandangan yang sudah sering dan biasa terjadi.

Kembali ke gentong. Tugasku adalah menjaga agar gentongku selalu terisi penuh. Hari itu gentongku sangat sering disinggahi Mbok-mbok. Maklum matahari mulai meninggi dan hari sudah terasa panas. Semakin siang orang-orang yang lewat di depan rumah kami semakin berkurang. Aku membayangkan, siang itu Pasar Kota Wonogiri pasti sudah melimpah ruah dengan para pedagang, penjual hasil bumi, dan hasil kerajinan dari desa masing-masing.

Sore harinya, sekitar jam tiga, matahari sudah mulai condong ke barat. Kemeriahan Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami pun dimulai lagi. Jika pada paginya, barisan manusia itu datang dari desa menuju kota, sebaliknya pada sore hari orang-orang dari pasar itu seakan berbaris tiada terputus, pulang menuju desa mereka masing-masing.

Sebelum barisan itu datang, aku sudah mengisi gentongku penuh-penuh. Sore ini yang terjadi jauh lebih meriah dan lebih heboh dibandingkan tadi pagi. Kalau tadi pagi yang bersuara ribut hanya mbok-mbok saja, kali ini justru yang para lelaki yang paling heboh.

Mereka tertawa keras-keras, berbicara dan berteriak-teriak. Mengapa? Sebab ketika berangkat di pagi hari, mereka memikul beban bawaan yang sangat berat, sedang dalam perjalanan pulang mereka hanya membawa pikulan kosong. Mereka bisa berjalan seenaknya, tidak lagi harus diatur oleh ritme pikulan yang membebani pundak mereka.

Para lelaki itu membawa kain polos berwarna mencolok. Merah, kuning, dan sebagainya. Anehnya kain warna-warni itu tidak dilipat dan disimpan di keranjang yang dipikulnya, tapi dikibar-kibarkan, ada yang dikalungkan di leher atau diikatkan di kepala.

Mereka ingin menunjukkan kebanggaan dan kebahagiaannya satu sama lain. Bahwa barang dagangan mereka terjual habis, ada yang mungkin bisa membelikan oleh-oleh untuk kekasih atau isterinya di rumah. Walaupun mungkin kelihatan agak berlebihan, tetapi kain-kain warna mencolok itu adalah simbol hasil dari jerih payah mereka bekerja keras selama sepekan ini. Dan juga tentunya, adalah imbalan dari beratnya memikul hasil bumi mereka, dari desa menuju pasar di pusat kota.

Melihat semua itu aku ikut senang. Terlebih karena air gentongku sore itu tetap laris-manis, menghilangkan dahaga mereka.

Matahari sudah bersembunyi dibalik Gunung Gandul, meninggalkan semburat cahaya berwarna jingga, yang semakin lama semakin redup. Hari mulai gelap. Aku bergegas membereskan gentong dan siwur. Kubuang air yang tersisa, kubersihkan dan kusimpannya kembali di dapur. Tugasku pada Hari Pasaran ini selesai sudah.

Gentong dan siwur telah beristirahat kembali agar siap untuk menjalankan tugas mulianya pada Hari Pasaran pekan depan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Terbang di atas Bengawan Solo

Jembatan kereta api yang melintasi Bengawan Solo.

.

TERBANG DI ATAS BENGAWAN SOLO

SOLO merupakan kota yang paling nyaman dan tentram menurutku. Setiap hari, dimanapun itu, selama masih berada di kota Solo, sayup-sayup akan terdengar alunan musik keroncong, atau musik gamelan Jawa yang mengalun lembut. Benar-benar membuat hati damai.

Namun, yang selama ini aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ketenangan kota Solo terkoyak oleh kerasnya suara bom. Anak-anak di sekitar rumah kami menjadi panik mendengar dentuman-dentuman keras itu. Tetapi, aku tampak tenang-tenang saja. Kepada mereka aku bilang bahwa itu suara perang. Lalu aku pun bercerita, pengalaman-pengalamanku melihat perang. Terutama pengalaman sewaktu di Mojokerto, ketika aku tiarap di depan meriam Belanda yang sedang ditembakkan.

Mendengarkan aku bercerita, mereka terkagum-kagum. Termasuk anak-anak yang lebih besar dariku. Mungkin mereka melihat caraku bercerita, sehingga mereka percaya bahwa aku tidak bohong dan mengada-ada. Seperti biasa, aku menikmati perhatian dan reaksi mereka.

Pada suatu siang, seingatku, aku sudah berada di atas sebuah truk. Truk yang akan membawaku kembali mengungsi. Truk pengangkut pengungsi ini langsung menuju ke arah selatan, keluar dari kota Solo. Belum jauh menempuh perjalanan dari kota Solo, jalan besar yang akan dilewati di depan kami ditutup. Beritanya, di depan ada jembatan yang terputus karena terkena ledakan bom.

Aku tidak tahu siapa yang menghancurkan jembatan itu, apakah tentara Belanda, atau tentara kita sendiri. Sebab, pada waktu itu ada istilah yang disebut dengan “Bumi Hangus”. Artinya, pihak Republik sendiri yang menghancurkan tempat-tempat penting, seperti jembatan atau bangunan tertentu, tujuannya agar nanti tidak bisa dipergunakan oleh tentara Belanda.

Akhirnya, truk kami berbelok memasuki jalan bertanah, melintasi kampung dan sawah-sawah. Kemudian, tahu-tahu, truk kami sudah berjalan di atas rel kereta api. Sebuah petualangan yang sangat menarik buatku tentunya.

Jadi, di atas landasan rel kereta api itu diletakkan papan-papan berjejer selebar dua papan dengan ukuran lebih lebar sedikit dari roda truk. Itu semua dijejer sepanjang rel kereta api dan roda-roda truk kami harus melewati papan-papan tersebut. Sungguh menegangkan, tapi seru!

Aku memperhatikan, membayangkan pengemudi truk kami pasti sudah sangat berpengalaman. Ini terlihat dari caranya mengemudikan truk, jalannya pelan tapi pasti. Pak sopir dibantu oleh dua orang kenek yang berdiri di luar pintu truk kiri dan kanan. Mereka bertugas mengawasi jalannya roda-roda depan, memastikan roda berjalan tepat di tengah papan-papan kayu.

Semua penumpang truk pun tegang, tidak hanya aku. Tetapi, melihat kelihaian pak sopir mengemudikan truk itu, aku yakin akan selamat. Truk berjalan dengan lancar, tidak tersendat-sendat. Itu yang membuatku hampir lupa, bahwa truk kami sedang berjalan di atas papan kayu dan di atas rel.

Sewaktu aku melihat jauh ke depan, aku sangat terkejut. Truk kami akan melewati jembatan besi yang sangat panjang. Jembatan itu melintasi sungai Bengawan Solo yang sangat lebar. Tapi kemudian, truk kami sudah berada di atas jembatan. Ini lebih seru, petualangan yang takkan terlupakan.

Aku segera bergegas, berdiri di pinggir bak truk yang paling depan. Luar biasa, seperti terbang rasanya. Aku merasa sedang terbang di atas sungai Bengawan Solo. Sungai yang lebar dan dalam itu berada di kiri-kanan kami.

Tiba-tiba aku teringat akan si Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung dulu di Malang. Seharusnya Cacak melihat ini. Aku sedang berada di depan, memimpin rombongan pengungsi. Bukan dengan berjalan kaki, tapi di atas truk, di atas jembatan, di atas sungai yang sangat lebar dan dalam. Pasti Cacak akan bangga melihatnya, menyaksikan aku bekas anak buahnya yang dulu pernah diangkat sebagai anggota Geng ketika aku masih TK.

Akhirnya, truk kami sampai ke jalan besar, dan berjalan terus menuju ke arah selatan, menuju kota Kabupaten Wonogiri. Di kejauhan, aku melihat deretan gunung yang memanjang, bagaikan sedang berbaris dari utara ke selatan. Pada salah satu puncaknya terlihat sebuah batu yang sangat-sangat besar. Orang yang berdiri di belakangku mengatakan bahwa batu besar yang di atas itu berada di puncak Gunung Gandul.

Gunung Gandul adalah gunung yang sangat terkenal untuk wisata. Bahkan, ada lagu yang berjudul Gunung Gandul. Kata orang-orang, Kota Wonogiri terletak di balik gunung tersebut. Untuk sampai ke kota tujuan, truk kami, truk para pengungsi perang, mulai menanjak, mendaki untuk melompati gunung, untuk menuju ke kota yang berada di balik gunung batu itu. Kota Wonogiri.

Setelah berhasil mendaki, lalu menuruni bukit, truk kami masuk ke kota Wonogiri. Sejak pada pandangan pertama, aku sudah jatuh cinta kepada Wonogiri. Jalanan di kota ini berbukit-bukit, naik dan turun, tidak ada jalan yang rata seperti kota-kota lain yang pernah aku datangi. Mungkin, karena Kota Wonogiri ini berada di kaki gunung batu itu.

Di sebelah barat, terlihat Gunung Gandul yang di atasnya terdapat sebuah batu yang maha besar itu. Dari pusat kota Wonogiri ke timur, terlihat jalanan menurun sampai ke tepi Sungai Bengawan Solo yang sangat lebar nan dalam. Di sisi utara Wonogiri, ada lagi sebuah gunung di mana sisi kaki gunung itu ditumbuhi pohon-pohon jati. Sungguh indah!

Namun, jika kita memandang ke arah Selatan pandangan mata akan sampai ke Pantai Selatan. Aku merasa bahwa sepertinya kota ini akan menjadi tempat yang cocok bagiku untuk berpetualang.

Di dalam hati, aku sempat bertanya lagi, apakah suatu saat nanti tentara Belanda juga akan menyusul ke kota ini? Dan kami harus pergi mengungsi lagi? Sementara sebelah selatan Kota Wonogiri adalah Laut Selatan. Apa kami harus nyebur ke Laut Selatan?

Semoga kota ini menjadi tempat pengungsian kami yang terakhir. Semoga… (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Antara Nasi dan Makan

CSO nasi

ANTARA NASI DAN MAKAN

MAKAN adalah bagian terpenting di dalam kehidupan masa kecilku. Alam pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan perkara makan. Aktivitasku sehari-hari pun selalu melibatkan perkara ini.

Pagi hari bangun tidur, fokusku adalah menunggu makan pagi. Siang hari, yang kupikirkan adalah menanti makan siang. Juga pada malam hari, aku baru bisa tidur sempurna kalau sudah makan malam. Bagiku, yang disebut makan itu berarti makan nasi.

Aku pun memiliki banyak istilah yang berhubungan dengan masalah “makan”. Dan istilah-istilah tersebut aku pegang dengan teguh. Istilah “jalan-jalan”, misalnya, aku artikan sama dengan “makan-makan”. Maksudnya, kalau kita pergi jalan-jalan, ya harus makan-makan. kalau tidak ada makan-makannya itu bukan jalan-jalan namanya.

Seringkali yang mengecewakanku, istilah versiku berbeda dengan istilah versi para orang tua. Mereka tidak mengerti bahwa makan adalah persoalan “hidup dan mati” bagiku.

Pernah pada suatu sore orang tua angkatku, Pak Mojo dan Bu Mojo, mengajakku jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto. Kami berkunjung ke rumah teman Pak Mojo. Kunjungan itu cukup lama. Aku bersabar, sebab aku berharap nanti sewaktu pulang pasti akan akan ada acara makan-makan. Aku pun sudah membayangkan menu makanan apa yang nanti akan kupilih. Aku sabar menanti.

Tetapi tenyata yang kemudian terjadi, kami langsung pulang ke rumah. Tidak singgah ke restoran lebih dahulu! Bagiku, hal ini tidak sesuai dengan apa yang “seharusnya” terjadi. Aku lalu protes keras, dengan cara menutup pintu kamar keras-keras sambil menunjukkan kejengkelanku. Tetapi, mereka justru memandang heran ke arahku. Mereka tidak memahaminya. Aku merasa tidak diperhatikan, dicuekin. Hal yang seperti itu sering menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan membekas lama di hati aku.

Aku juga punya istilah lain perihal makan. “Makan-makan” itu artinya “makan nasi”. Kalau bukan nasi yang dimakan, itu namanya “jajan-jajan”. Ada lagi, jika makan-makan yang dilakukan di luar rumah, menurutku itu namanya rekreasi, atau jaman sekarang istilahnya wisata kuliner.

Seringkali setelah makan-makan di luar, setelah pulang, setibanya di rumah, aku minta makan lagi. Maka terjadilah kehebohan kecil, akibat benturan persepsi tentang istilah itu. Para orang tua seringkali tidak mau mengerti, bahwa bagiku perkara ini sudah seperti masalah harga diri. Seharusnya mereka “wajib” menghargainya, termasuk penggunaan istilah-istilah yang telah kubuat sendiri.

Sebenarnya persoalan apa yang membuat “per-makan-an” ini sangat serius dan sensitif bagi diriku pada masa itu? Beginilah riwayatnya.

Peristiwa ini terjadi ketika aku tinggal di rumah Mbah Tanjung. Pada waktu masih balita, ketika mulai bisa berjalan, berdiri sambil merayap-rayap sambil berpegangan pinggir dipan, aku mulai bisa mengamati sayup-sayup segala kejadian di sekitarku. Aku melihat orang-orang yang bejalan mondar mandir. Rupanya mereka sedang membantu Mbah Putri yang sedang memasak di dapur.

Kadang-kadang ada seorang Tante yang sedang berjalan menghampiriku, dan mencubit lenganku kuat-kuat. Aku merasakan cubitannya itu sakit sekali. Kalau nyubit nggak kira-kira! Setelah itu biasanya aku berteriak sekeras-kerasnya. Teriakanku itu kadang-kadang ada hasilnya, Mbah Putri akan menyuruh Tante-tante itu agar tidak menggangguku.

Kadang-kadang ada juga seorang Om yang tiba-tiba mendekatkan mukanya hingga hampir menempel ke mukaku. Ia lalu memperlihatkan muka terjeleknya yang seperti muka setan itu ke depan hidungku. Aku hanya terdiam, tanpa reaksi apapun. Karena toh hal itu tidak menyakitiku. Yang terpenting dari semuanya itu, yang aku tunggu-tunggu, yaitu prosesi pembagian… makan! Maka, segala rasa sakit dicubit akan serta merta menghilang, terhapus oleh nikmatnya makanan. Aku kemudian mencoba mengambil kesimpulan sendiri, bahwa nikmatnya makan akan selalu menghilangkan rasa sakit.

Kembali ke kota Mojokerto. Perkara benturan persepsi antara anak kecil dan orang tua tentang istilah makan ini terus berlanjut. Tetapi, sepertinya selalu saja pihakku yang dikalahkan. Hingga pada suatu pagi menjelang siang terjadilah sebuah peristiwa penting. Rumah kami kedatangan tamu, seorang Tante tetangga kami. Di ruang tengah ia mengobrol lama sekali dengan Bu Mojo. Sewaktu aku berjalan hendak melintasi mereka, Tante itu menyapaku, Hei, kamu sudah sarapan?” Aku spontan menjawab, “Belum Tante…” Aku menjawabnya dengan keras, tegas dan sesuai kenyataan.

Entah mengapa setelah itu sang Tante kelihatan merasa tidak enak kepada Bu Mojo. Ia kemudian cepat-cepat pamit pulang. Tak berapa lama, ketika aku sedang duduk-duduk di teras depan, tiba-tiba terdengar suara keras Bu Mojo memanggilku dari dapur. Ketika aku mendatanginya di dapur, aku kaget melihat wajah Bu Mojo yang merah padam. Mendadak sebuah sotil, sendok besi penggorengan, panas hampir saja menyambar kepalaku. Aku berdiri tegak di depan Bu Mojo sambil menatapnya dengan muka penuh tanda tanya.

Apakah salahku?, pikirku. Aku tidak mengerti mengapa Bu Mojo marah besar. Bu Mojo sampai berteriak-teriak, bahwa aku telah membuat malu keluarga di depan orang lain; bahwa keluarga kita adalah keluarga yang terhormat, sehingga tidak sepantasnya dipermalukan seperti ini, dan seterusnya dan seterusnya, masih panjang lagi.

Tetapi, aku masih tetap saja belum paham apa maksud Bu Mojo. Sampai akhirnya Bu Mojo bertanya, “Kenapa tadi waktu ditanya Tante, apakah kamu sudah sarapan, kamu jawab belum!”

Rupanya soal itu pokok masalah Bu Mojo marah. (Aku hanya menjawab di dalam hati, “Ya, memang belum sarapan”). Lantas, Bu Mojo melanjutkan dengan nada semakin keras, “Lalu yang kamu makan tadi pagi itu apa?”.

“Ketan,” jawabku lirih.

“Lha (ketan) itu kan juga sarapan!” kata Bu Mojo.

Nah, menjadi jelas sudah, sumber masalah besar yang dihadapi aku hadapi. “Sarapan” bagi Bu Mojo adalah makan apa saja pada pagi hari. Sedangkan dalam kamusku, “sarapan” adalah “makan nasi” pada waktu pagi. Masih terasa sambaran angin sotil pada pagi hari menjelang siang itu.

Bagaimanapun peristiwa itu ada hikmahnya bagiku. Sejak saat itu, setiap sarapan pagi selalu tersedia nasi! Mungkin itu berarti Bu Mojo telah mengakui bahwa, kamuskulah yang benar. Atau, mungkin juga Bu Mojo takut kalau tidak diberi nasi di pagi hari, aku akan berkeliling kampung, dan memberitakan kepada seluruh warga bahwa pagi itu aku belum diberi sarapan.

Namun, semua ini baru kemungkinan, dan perlu dikaji lebih lanjut. Setidaknya toh untuk sementara ‘kamus’ istilahku tentang pengertian makan yang dijadikan sebagai acuan resmi di rumah keluarga Pak Mojo. Demikian harap maklum. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kesederhanaan Dalam Sepur Kluthuk

cso pecel

KESEDERHANAAN DI DALAM SEPUR KLUTHUK

PERJALANAN mengungsi dengan Sepur Kluthuk pun berlanjut. Kereta api yang berjalan sangat lamban ini terus menyusuri stasiun-stasiun kecil menuju ke arah barat.

Bagiku, perjalanan ini sangat melelahkan. Sepanjang perjalanan aku sulit bisa tidur dengan posisi tetap. Posisi dudukku juga berubah-ubah terus, karena memang kereta ini penuh dengan penumpang sehingga harus berdesak-desakan. Dan lagi, seringkali aku dikagetkan oleh suara kereta-kereta lain yang menyusul, melintas ngebut sangat dekat di samping kereta kami. Seakan-akan mengejek aku dan sepur klutukku.

Hari sudah sore. Sepur kluthuk ini kembali akan memasuki sebuah stasiun kecil. Stasiun itu berada di tengah sawah. Sewaktu kereta berhenti, tiba-tiba Pak Mojo dan Bu Mojo berdiri serta mengambil barang-barang bawaannya. “Ayo turun…,” kata Pak Mojo.

Aku terkejut. Oh please… Aku yang sudah terbiasa dengan suasana stasiun besar di kota Jombang itu harus turun di tengah sawah begini? No way, pikirku sedikit sombong. Tetapi kemudian, aku menyadari situasi dan kondisi saat itu. Kali ini aku bisa tidak mengajukan protes apapun. Apa boleh buat!

Dengan langkah sedikit berat aku mengikuti Pak Mojo dan Bu Mojo berjalan menyusuri jalan berbatu-batu menuju ke sebuah desa. Sore sudah mulai berganti gelap saat kami tiba di rumah yang pemiliknya kupanggil: Pak De, salah satu keluarga dari Bu Mojo.

Malam itu para orang tua masih asyik mengobrol. Saat mataku terfokus pada dipan di dalam kamar tidur yang terbuka pintunya, seperti paranormal Pak De rupanya mengerti apa yang ada di dalam pikiranku. Pak De mempersilahkanku untuk tidur. Tanpa menunggu lama, kini aku sudah tergeletak di atas dipan. Masih terasa pegal-pegal akibat perjalanan tadi. Masih terngiang deru Kereta Ekspress yang menyusul keretaku. Tetapi, beberapa menit kemudian aku tertidur lelap.

Esok paginya, saat bangun tidur, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nafasku terasa sangat segar. Tercium harum aroma pepohonan seperti di perkebunan kopi semasa aku tinggal di Malang dulu. Benar saja, saat keluar rumah, aku sudah berada di bawah pepohonan yang tinggi-tinggi dan rindang bagaikan di dalam hutan. Pak De ternyata memiliki kebun yang sangat luas dan teduh.

Pak De kemudian meminta anak lelakinya yang sudah dewasa mengantarkan aku berkeliling kebun. Kami menyusuri jalan setapak yang ada di dalam kebun yang luas itu. Kepadaku, si Mas dengan bangga menunjukkan berbagai jenis pohon sambil menyebutkan nama pohon atau nama buahnya.

Si Mas mengajarkan padaku bahwa kalau kita berjalan di dalam kebun jangan hanya mengandalkan mata, tapi juga hidung. Lalu, ia berhenti sambil menengadahkan hidungnya. Rupanya si Mas mencium sesuatu. Aku juga mencium bau sesuatu…, buah nangka. Lalu dengan radar penciuman, kami mulai mencari sumber aroma itu. Dari kebun kami pulang dengan membawa buah nangka yang besar dan sudah masak.

Di rumah Pak De ini kami hanya menginap selama tiga hari. Kami akan melanjutkan perjalanan mengungsi ke arah barat, menjauhkan diri dari tentara Belanda. Pada pagi ketiga, kami sudah berada di pinggir rel menuju stasiun kecil. Setelah beberapa lama, datanglah kereta yang ditunggu-tunggu.

“Ya ampun! Sepur Kluthuk lagi…”

Tetapi, meski begitu, kali ini sikapku sudah berubah. Aku tidak lagi marah-marah kepada kereta-kereta besar yang menyusul kereta klutukku. Aku sudah mulai mengerti dan menjadi terbiasa. Aku mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang selama ini satu kereta bersamaku.

Aku melihat bahwa ternyata penumpang Sepur Klutuk adalah orang-orang yang sederhana dan baik hatinya. Aku perhatikan, mereka juga memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang kaya yang menaiki Kereta Ekspres yang dulu pernah aku lihat. Gaya berpakaian mereka pun berbeda. Teman-teman baruku di dalam kereta ini memakai pakaian yang jauh lebih sederhana.

Ibu-ibu atau mbok-mbok kebanyakan memakai kebaya dan kain yang ujung bagian bawahnya lebih tinggi dari mata kaki mereka. Mungkin supaya lebih praktis untuk berjalan. Suasana yang santai dan damai sangat terasa.

Terlebih lagi, kalau aku memperhatikan mbok-mbok yang lebih tua itu, mereka duduk dengan tenang sambil memutar-mutar susur (tembakau) di mulutnya. Sepertinya mereka tidak peduli bahwa tentara Belanda akan datang dan menyerbu kita. Selama susur masih bisa berputar di mulut, mereka merasakan kedamaian yang luar biasa. Hidup itu sederhana!

Sangat berbeda dengan para penumpang Kereta Ekspres yang selalu terburu-buru, harus tepat waktu. Moto penumpang kereta itu adalah Time is Money. Sedangkan bagi para penumpang Sepur Kluthuk adalah Waton Tekan (asal sampai). Mungkin sebab itulah Kereta Ekspres mempunyai jadwal yang ketat, bahkan menit-menitnya pun harus tepat. Jauh berbeda dibanding dengan sepurku. Kalau kereta sudah harus berangkat, para penumpang masih banyak yang belum naik kereta.

Pernah satu kali terjadi, aku masih ingat. Ketika itu Pak Sep sudah meniup peluitnya, tapi kemudian ada yang berteriak bahwa ada calon penumpang yang masih di dalam WC stasiun. Pak Sep pun hanya senyum-senyum sambil sabar menunggu.

Yang juga sering membuat suasana meriah di stasiun kecil yang kulewati adalah para pedagang asongan. Aku kagum dengan keuletan mereka dalam menjajakan dagangannya. Itu karena tujuan mereka hanya satu, dagangan harus habis sebelum pulang ke rumah.

Mereka terus berkeliling dari satu gerbong ke gerbong yang lain, sambil berjalan melompati orang-orang yang tiduran di lantai. Luar biasa, pikirku. Meski kereta bergoyang-goyang, mereka mampu melompati orang demi orang tanpa pernah meleset hingga menginjak tubuh orang-orang itu. Dengan penuh semangat mereka terus berjalan dan sesekali melompat sambil menawarkan dagangannya.

Di stasiun-stasiun kecil, yang paling sering dijual para pedagang adalah kacang rebus, rokok, dan makanan khas dari daerah setempat, semisal telor asin, jagung, tahu dan sebagainya. Cara menawarkannya pun khas. Kalau kacang seperti “Caaaang kaacaangkacang kacangkacang.” Kalau rokok, “Kooorokorokoroko.”

Tetapi ada juga mbok-mbok yang berdagang dengan tenang dan tidak perlu naik ke gerbong kereta. Ia hanya menurunkan sebuah bakul dari gendongannya, lalu diletakkan di atas batu-batu kerikil di samping rel. Kemudian, ia hanya perlu satu kali teriak, “Ceeel… peceeel…” Maka, seketika orang-orang berdatangan dari segala penjuru, mengerumuni Mbok Pecel yang hebat itu.

Walau aku merasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi kenyataannya aku sangat menikmati perjalanan dengan Sepur Kluthuk. Aku gembira dan bersyukur. Begitu banyak hal yang bisa kuamati dan kuperhatikan di dalam kereta api jenis ini. Perjalanan panjang bersama dengan orang-orang sederhana ini telah mengajarkan diriku untuk lebih menghargai mereka.

Perjalanan panjang kami akhirnya berujung di sebuah stasiun yang besar, Stasiun Solo Balapan. Kami pun turun. Sembari turun, lagi-lagi aku berpikir, sekarang mana mungkin tentara Belanda bisa menyusul kami…. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sepur Kluthuk

cso sepur

SEPUR KLUTHUK

SEBELUM kota Jombang juga diduduki oleh tentara Belanda, kami bertiga, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku sudah meninggalkan kota Jombang. Dengan kereta rel nomor empat dari stasiun kota Jombang, kami menuju ke Barat. Semakin jauh dari Jombang, hati kami agak tenang karena merasa semakin jauh dari tentara Belanda.

Hanya saja sepanjang perjalanan, aku sering merasa heran. Mengapa kereta ini selalu berhenti di setiap stasiun? Termasuk berhenti di stasiun-stasiun yang sangat kecil. Bahkan, juga kadang harus menunggu selama berjam-jam di tengah sawah, di sana kereta kami berpapasan atau disusul oleh kereta-kereta lainnya yang tidak berhenti. Sungguh menyebalkan!

Beberapa lama kemudian, aku mengerti, bahwa kereta yang kunaiki ini adalah kereta yang paling lamban. Tugas kereta ini hanya menghubungkan satu desa dengan desa lainnya yang dilewati jalur rel kereta. Kereta api seperti ini biasanya dijuluki dengan istilah Sepur Kluthuk.

Entah dari mana asal istilah itu. Bisa jadi karena terlalu lambat jalannya sehingga berbunyi kluthuk… kluthuk… kluthuk.

Aku masih memikirkan kota Jombang yang baru saja kutinggalkan, terutama deretan rel kereta api dan stasiun kota Jombang. Tempat itu seperti Disneyland bagiku. Sebuah arena bermain yang luar biasa.

Tatkala mulai bosan dengan permainan “paku-pisau”, biasanya aku pergi ke dalam stasiun. Aku mengamati semua yang terjadi di dalam stasiun kota Jombang itu. Biasanya aku duduk-duduk di bangku yang biasanya digunakan calon penumpang menunggu kedatangan kereta. Aku senang duduk di bangku panjang itu. Alasanku sederhana, karena bangku panjang itu letaknya di sebelah kantin, sehingga aku bisa setiap saat mencium sedapnya aroma masakan.

Aku bersyukur, pada usia sekecil itu aku pernah menyaksikan Kereta Api dalam arti kata sebenarnya, yakni kereta yang dijalankan menggunakan api. Tungku yang terletak di depan kamar masinis itu dinyalakan menggunakan kayu gelondongan, yang kira-kira sepanjang satu meter. Sedang, lokomotifnya berwarna hitam legam, berukuran lebih besar, bahan bakarnya menggunakan batubara. Api tungku yang membara itu digunakan untuk memanaskan air yang berada di perut lokomotif itu. Tekanan air yang mendidih di dalam tabung raksasa di atas lokomotif itu yang dipakai untuk menggerakkan roda-roda lokomotif dan menarik gerbong-gerbong di belakangnya.

Suatu sore, di dalam stasiun itu aku memperhatikan bahwa jalur rel nomor dua sampai dengan nomor empat, semuanya sudah terisi oleh rangkaian kereta yang sudah siap berangkat tapi belum juga diberangkatkan. Semua kereta, dan tentu saja termasuk seisi penumpangnya, diwajibkan menunggu sebuah kereta yang datang dari arah barat. Ketika menunggu itu, terlihat sebuah titik kecil dari arah barat. Semakin lama titik itu semakin besar. Para penumpang melihatnya dengan tegang, termasuk aku.

Sebuah kereta melaju kencang dari arah barat. Itulah sang Kereta Ekspres, rajanya kereta, mendekat dan akan memasuki stasiun Jombang. Para calon penumpang pun sudah berjajar di samping rel nomor satu. Kemudian dari ruang kepala stasiun keluar seorang pria yang gagah, memakai jas berwarna cerah, di kepalanya memakai topi tinggi berwarna merah seperti topi yang dipakai oleh tentara Perancis. Kami biasanya memanggilnya, Pak Sep.

Pak Sep memegang sebuah tongkat yang diujungnya ada bulatan berwana merah. Penampilan Pak Sep memang mencolok, sehingga semua orang tahu bahwa dialah penguasa stasiun. Kemudian Pak Sep berjalan menuju pinggir rel, menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah kereta berada di jarak yang cukup, hampir memasuki stasiun, Pak Sep meniup peluit besar warna keemasan. Suara peluit Pak Sep itu sangat nyaring sehingga terdengar diseluruh stasiun, yang bahkan terdengar sampai ke rumah Tante Jom.

Kereta Ekspres pun menderu memasuki stasiun. Terdengar derit suara rem dan kereta berhenti tepat di tempat yang telah ditentukan. Para porter pengangkut barang naik-turun memanggul koper-koper para penumpang. Masing-masing bekas penumpang dan calon penumpang saling turun dan naik. Semua itu berlangsung sangat cepat.

Pak masinis sibuk bergerak mengatur nyala api tungku. Secara sigap dan cepat para petugas mengisi air ke perut lokomotif raksasa itu dengan menggunakan selang besar dan corong. Tidak sampai lima menit, semua selesai dan Kereta Ekspres telah siap diberangkatkan.

Pak masinis berdiri melongok keluar dari kamarnya di lokomotif dan tegak menghadap ke belakang. Matanya menatap kepada Pak Sep yang berada di tengah peron stasiun. Kemudian Pak Sep meniup panjang peluitnya sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya. Pertanda sebuah perintah, “Lekas berangkatkan!” Pak masinis yang tampak gagah dan profesional itu lalu menarik tuas tali di atasnya dua kali, maka terdengarlah suara “Tut…Tut…” menjawab perintah keberangkatan, yang artinya “Siap, laksanakan!”

Kereta Ekspres yang besar dan gagah itupun bergerak perlahan, makin lama makin cepat, dan kemudian bagaikan anak panah melesat arah timur, meninggalkan stasiun Jombang menuju ke Surabaya.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku bukan berada di dalam Kereta Ekspres, tapi di dalam Sepur Kluthuk, kereta yang tadi berangkat dari jalur rel nomor empat. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa Sepur Kluthuk-ku ini sedang memasuki stasiun kecil untuk lagi-lagi menikmati takdirnya, menunggu dan dibalap oleh kereta-kereta yang lebih besar dan lebih penting. Demikianlah nasibmu, Sepur Kluthuk.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sangat Memalukan

SANGAT MEMALUKAN

 

SEJAUH pengamatanku, rumah Pak Mojo di Jalan Brantas Mojokerto adalah rumah yang cukup tenang, atau dapat juga dikatakan sepi. Apalagi buatku yang sudah terbiasa dengan keramaian di rumah Mbah Tanjung di Jalan Tanjung Gang Dua, Malang.

Bisa jadi karena yang tinggal di rumah Pak Mojo ini hanyalah kami bertiga. Pak Mojo, bu Mojo dan aku. Sedangkan si Om yang tinggal di kamar belakang dekat dapur hanya kadang-kadang saja berada di rumah. Sehingga sehari-hari suasana di rumah itu terasa sepi.

Pada suatu hari rumah kami kehadiran seorang Om yang sangat menarik perhatianku. Sebut saja namanya: Om Do. Om Do adalah anggota keluarga besar dari Pak Mojo. Ia dititipkan di rumah ini oleh orang tuanya untuk bersekolah di sebuah SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Mojokerto. Perawakan Om yang baru ini agak kurus tapi ngganteng, keren bagaikan Arjuna dalam dunia pewayangan.

Semakin hari aku semakin tertarik dengan sosok Om Do ini. Perilakunya sangat kalem, tertib, menjaga sopan santun dan disiplin. Saat berbicara dia selalu menggunakan kata-kata yang baik, positif, dan sopan. Bahkan menurutku suaranya demikian pelan, sehingga hanya bisa terdengar dari jarak satu meter darinya. Kalau berbicara lebih dari jarak satu meter dari Om Do, maka harus lebih mendekatkan kepala ke depan dan pasang telinga baik-baik.

Aku sungguh senang dengan kehadiran Om Do di rumah. Bukan hanya karena aku mendapat teman baru, tapi juga karena ia sangat sayang kepadaku. Bila aku sedang mengoceh apa saja, bercerita banyak, bahkan bicara tidak keruan, Om Do selalu bersedia mendengarkan.

Ketika si Om sedang belajar dan aku yang berada di dekatnya terus berbicara, ia tidak pernah mengusirku. Ia hanya diam sambil terus belajar. Tapi tentu saja lama kelamaan aku juga yang harus tahu diri. Pelan-pelan aku pamit dari kamar Om Do, lalu keluar bermain sendiri atau berusaha mencari pendengar lain yang saat itu tidak sedang belajar.

Seringkali saat Om Do merasa jenuh di rumah, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan ke alun-alun, melihat-lihat barang-barang yang digelar di lapak para PKL (Pedagang Kaki Lima). Tetapi, yang aku amati ia jarang sekali membeli sesuatu. Dalam perjalanan pulang, si Om selalu mengajakku untuk mampir minum es dawet di tempat langganan kami.

Pernah pada suatu hari libur aku diajak jalan-jalan oleh Om Do. Ternyata kali ini acaranya istimewa. Nonton bioskop. Setelah Om Do selesai antri membeli karcis, kami masuk ke tempat pertunjukan film itu. Aku girang bukan kepalang, sambil berjingkrak-jingkrak aku menuju ke tempat duduk.

Wow, ternyata kami duduk di bagian yang selalu aku idam-idamkan sebelumnya, yaitu kursi deretan paling depan. Bahkan kursi untukku berada di tengah, tepat di dekat layar yang putih dan sangat besar.

Lampu bioskop masih menyala terang, film belum dimulai. Sambil menunggu, aku terus berbicara sambil tertawa-tawa, aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku senang dan berterimakasih karena bisa duduk di tempat sangat istimewa itu. Tetapi anehnya Om Do hanya duduk diam di kursinya serta menunduk dalam-dalam. Sambil memegang perut, badannya meringkuk bagaikan udang. Hal ini membuatku agak khawatir, jangan-jangan ia sedang sakit perut yang bisa saja mengajakku pulang, dan tidak jadi menonton film. Tetapi kemudian aku kembali larut menikmati suasana itu dengan tertawa-tawa dan bernyanyi.

Karena terlalu senang, spontan aku berdiri di atas kursi di barisan paling depan itu. Aku lalu berputar, menghadap ke belakang, ke arah penonton di belakang kami. Aku tertegun melihat pemandangan yang mengagumkan. Aku melihat ada beratus-ratus orang yang duduk dan mereka semua menghadap ke arahku. Tentu saja sebenarnya mereka menghadap ke layar lebar di belakangku. Tetapi, di dalam perasaanku waktu itu, mereka menghadap ke arahku dan mau menonton aku!

Beberapa diantara mereka ada yang mengobrol dengan kiri-kanan mereka, tetapi ada juga beberapa yang melihat ke arahku. Sebagian ada yang tertawa-tawa sambil menunjuk aku. Beberapa orang yang duduk di deretan paling di depan mulai melotot dan dengan telunjuknya menyuruh agar aku segera duduk. Tetapi di bagian sebelah kiriku banyak juga yang melambaikan tangan kepadaku. Heran, sungguh aku sangat menikmati pemandangan ini.

Lampu teater dimatikan dan pertunjukan film dimulai. Aku kembali duduk bersandar, bersiap menonton. Begitu pula dengan Om Do, yang rupanya sakit perutnya mendadak sembuh. Pertunjukkan film dimulai. Film perang!

Dalam perjalanan pulang dari bioskop ada kejadian yang membuat hatiku sedikit tegang. Entah mengapa Om Do sikapnya berubah. Ia berjalan dengan sikap yang sangat tidak biasa. Berjalan lebih cepat, diam seribu-bahasa dan mukanya terlihat keras, seperti marah. Aku sungguh bingung dan tidak mengerti apa yang membuatnya marah. Es dawet langganan kami-pun dia lewati saja.

“Sangat memalukan,” katanya sambil terus bergegas. Hanya dua kata itu yang ia katakan hingga kami tiba di rumah. Waktu itu aku masih kecil dan tidak paham apa arti kata-kata itu. Yang lebih membuat aku heran lagi adalah sejak saat itu Om Do tidak lagi bersikap ramah terhadapku. Sedangkan aku masih tetap tidak mengerti arti dan makna kedua kata itu: sangat memalukan. Yang aku ingat, beberapa bulan setelah kejadian itu Om Do tidak tinggal di rumah kami lagi. Entah ke mana.

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, setelah beranjak dewasa, aku baru mengerti maksud dua kata yang Om Do ucapkan: sangat memalukan.

Rupanya begini, masa itu, tempat duduk di bioskop terbagi dalam beberapa kelas. Kelas yang paling mahal dan bergengsi bernama Kelas Balkon dan Kelas Loge (baca: lose), letaknya di paling belakang. Kelas yang lebih murah, kelas menengah dinamakan: Kelas Stales. Sedangkan kelas yang ekonomis alias paling murah namanya Kelas Satu, yang berada di barisan paling depan, yang paling dekat dengan layar. Waktu itu kantong Om Do sangat cekak, apalagi untuk dua tiket, dirinya dan diriku. Ia hanya mampu beli karcis Kelas Satu yang di dekat layar.

Sewaktu lampu gedung masih menyala Om Do menundukkan kepala dan badannya meringkuk seperti sedang sakit perut, itu karena ia takut kepergok teman-temannya. Ia malu jika ketahuan membeli tiket Kelas Satu yang juga sering dijuluki Kelas Kambing. Rupanya saat itu Om Do merasa sangat malu. Dan celakanya, aku, keponakannya yang belum mengerti apa-apa ini justru berdiri berlama-lama di depan menghadap ke seluruh penonton. Itulah yang membuat beberapa temannya tahu bahwa Om Do duduk di Kelas Kambing.

Ternyata, deretan kursi bioskop yang selama ini sangat kuidam-idamkan itu adalah Kelas Kambing, kelas yang paling murah! Maka, terungkaplah makna dua kata yang diucapkan Om Do waktu itu: sangat memalukan!

Buat Om Do yang baik, dimanapun kini berada, aku mohon maaf. Aku dulu belum mengerti, saat itu aku masih anak TK. Tetapi kuucapkan banyak terimakasih karena sudah ditraktir nonton film di Kelas Kambing. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Tukang Obat Idola

TUKANG OBAT IDOLA

MINGGU pagi sepulang dari gereja, aku tidak langsung pulang. aku mampir dan nongkrong dulu di alun-alun kota Malang. Menunggu sang idola, seorang penjual obat.

Setelah agak siang, datang seorang lelaki kekar dengan banyak bawaan. Koper besar, ransel besar, juga kardus besar. Mengapa ia tidak naik sepeda atau pakai gerobak? Entahlah. Mungkin karena tidak praktis.

Ia hidup seperti bangsa nomaden. Hidupnya berpindah-pindah dari satu lapangan ke lapangan yang lain, dari kota yang satu ke kota lainnya. Pun di alun-alun Malang ini, ia hanya beberapa jam, atau sampai obat dagangannya habis. Itu pun stok obat yang dibawanya tidak banyak, secukupnya saja.

Setelah menemukan tempat yang teduh, di dekat jalan kecil tempat lalu lalang pejalan kaki, ia meletakkan dan menata barang-barang bawaanya. Lalu dibuatnya garis di atas tanah dengan bubuk kapur putih sebagai batas untuk para penonton. Kemudian dengan tenang ia duduk lagi di atas singgasananya, sebuah kursi lipat.

Setelah orang-orang dan lalu lintas cukup ramai, idolaku pun memulai aksinya. Ia mengeluarkan keranjang yang dikerudungi dengan kain warna hitam. Keranjang itu diletakkan di tengah, tapi agak ke kanan. Yang mengherankan, setelah itu orang-orang yang berlalu-lalang mulai berhenti. Satu persatu, makin lama makin banyak.

Melihat penontonnya semakin bertambah, ia pun mengambil sebuah kotak kayu lalu dipukulnya keras-keras sambil berteriak, “Hayo, hayo, hayoo… yang mau melihat ular menari, tidak usah jauh-jauh ke India, di sini juga ada ular menari. Hayo, hayoo…” Ia terus berteriak sambil tongkatnya diketuk-ketukkan ke atas kain penutup kotak misterius itu.

Dalam waktu singkat orang-orang pun semakin ramai, berkumpul, berdesakan di atas batas garis kapur putih itu. Di deretan paling depan adalah anak-anak kecil. Mereka menjadi penggembira yang aktif dan menguntungkan bagi sang tukang obat. Sorakannya, tepuk tangan dan celetukannya meramaikan kerumunan ini. Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu si ular menari.

Sambil terus berbicara, sang tukang obat membuat gerakan-gerakan yang seakan-akan hendak memulai atraksinya. Apalagi kalau sudah ngomong, ia pandai memilih kata-kata lucu atau setengah jorok tapi dengan bahasa yang halus. Ia sangat lihai menarik perhatian penonton dengan berkata, “Hei, tahu nggak sekarang banyak orang cantik, orang ganteng, yang kulitnya gimana?… kadasen!”

Semua penonton tertawa, termasuk yang kulitnya kadasen. Ia pun meneruskan, “Kadas, kudis, gatal, luka, akan lenyap dengan olesan obat ajaib saya…”

Tidak lama kemudian, ia berdiri, lalu berkeliling sambil mengoleskan obat kulit ajaibnya ke tangan-tangan penonton yang telah diulurkan ke depan, termasuk anak-anak, tentu saja. Itu semua hanya perlu waktu sekitar sepuluh detik saja. Setelah itu, ia kembali ke kursi lipatnya.

Mantra “kadas-kudis-gatal-luka” itulah yang diucapkannya berulang-ulang. Setiap kali hendak memulai atraksi ular menari, selalu dibelokkannya ke produk obat jualannya. Akhirnya, stok obat pun habis dalam waktu yang tidak sampai 2 jam, dan para penonton lalu berangsur-angsur membubarkan diri. Sepertinya, mereka semua sudah lupa pada si ular menari.

Demikianlah kisah tentang si tukang obat di alun-alun kota Malang yang banyak menginspirasi diriku. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting : Veronica K & SR Kristiawan

Alun-alun kota Malang tahun 1930
Alun-alun kota Malang tahun 1930
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015

Blog di WordPress.com.

Atas ↑