COBEK MELETOT
Hari itu, pertemuan rutin Geng Anak Gragas tidak lengkap, hanya Katno, Giman dan aku sendiri. Kurang satu anak yaitu si Yahmin. Hanya kami bertiga yang duduk-duduk berkumpul di basecamp kami, di samping kuburan di pinggir sungai Bengawan Solo.
Dari keempat anggota geng-ku ini, Yahminlah yang paling bijak. Ia anak yang tenang, sabar dan sudi membimbing anak yang lain. Katno dan Giman sifatnya penurut, selalu menjalankan tugas dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab. Sedangkan aku sendiri dikenal sebagai anak yang paling banyak ide, banyak tingkah, dan kadang sering membuat mereka bingung. Walau kami berbeda, kami tetap satu, kami berempat sangat kompak.
Siang itu aku terpikir tentang si Yahmin, mengapa ia sampai tidak hadir pada pertemuan ini. Mungkin saja ia belum menyelesaikan tugas harian keluarganya yaitu mengambil tanah liat, yang biasa disebut lempung, di tepi sungai. Lempung adalah bahan dasar untuk membuat gerabah, sebutan untuk peralatan yang dibuat dari tanah liat.
Di rumahnya yang berdindingkan gedek, atau anyaman bambu itulah Yahmin tinggal. Ia hidup bertiga bersama bapak dan si mboknya (ibunya). Keluarga si Yahmin adalah keluarga pembuat gerabah. Mereka membuat berbagai macam peralatan dapur dan peralatan rumah tangga, seperti cobek, piring, mangkuk dan lain sebagainya. Jika ada pesanan khusus keluarga Yahmin juga bisa membuat guci, gentong, bahkan genteng dan batu-bata.
Sehari-hari tugas Yahmin adalah mengambil lempung yang memang banyak terdapat di tepi sungai Bengawan Solo. Yahmin menggali untuk mendapatkan lempung, tanah yang berwarna merah dan liat yang berkualitas bagus, yaitu tanah lekat dan bersih dari akar tanaman. Lempung itu lalu ia pikul ke rumahnya lalu ditumpuk seperti sebuah bukit kecil. Pada bagian atasnya dibuat lekukan seperti kawah. Lalu kawah itu diisi penuh dengan air. Tugas bapaknya adalah menginjak-injak tanah lempung itu sampai lumat dan mencapai kelembekan tertentu, untuk kemudian ditutup dengan kain basah agar tidak mengeras.
Yang tersulit adalah tugas si mbok yang harus membentuk lempung itu menjadi apa yang akan dibuat. Caranya dengan menggunakan papan putar, yang di putar menggunakan kaki.
“Ayo kita ke rumah Yahmin!” kataku kepada si Katno dan Giman. Aku punya firasat kurang baik siang itu. Benar saja, setelah kami masuk ke rumah Yahmin, aku melihat bapaknya Yahmin sedang tergeletak di atas dipan. Rupanya ia sedang sakit keras. Sejenak aku mengamati sekeliling rumah itu, dan aku berkesimpulan bahwa keluarga ini perlu bantuan segera.
Aku menemukan kayu-kayu bakar dan tumpukan jerami sudah siap di dekat tobong. Tobong adalah rumah tempat pembakaran gerabah yang sudah dijemur dan sudah kering. Ternyata bahan-bahan yang harus mereka bakar masih belum siap, padahal empat hari lagi akan tiba Hari Pasaran. Di Hari Pasaran itulah gerabah buatan keluarga Yahmin ini harus dijual ke pasar kota Wonogiri. Jadi, menurutku, keadaan bisnis mereka ini memang sudah “kritis”.
Kami bertiga langsung terjun turun tangan untuk membantu keluarga si Yahmin. Katno dan Giman bertugas menginjak-injak tumpukan lempung, sedangkan aku membantu Yahmin membuat genteng menggunakan cetakannya. ”Miin, lempung Miin..!”, kata bapaknya Yahmin, sambil berusaha bangkit dari dipannya. “Sampun, Bapak sare mawon..— Sudah, bapak tidur saja.” kataku kepada bapaknya Yahmin.
Yahmin pun bergegas pergi dengan membawa pikulannya menuju sungai untuk mengambil lempung tambahan. Pembuatan genteng itu masih sangat tradisional, menggunakan tangan, bukan pakai mesin press.
Kuletakkan gumpalan lempung yang lembek di atas cetakan genteng, kemudian kutekan kuat-kuat sambil meratakan di atas cetakan. Lalu kusiramkan sedikit air di atasnya dan meratakan lagi agar permukaan genteng menjadi halus dan pori-pori nya tertutup. Berikutnya aku tinggal memotong pinggiran genteng tersebut, lalu di angin-anginkan di tempat yang teduh disamping rumah. Sebelumnya aku sudah sering belajar bagaimana cara membuat genteng ini, saat menjemput Yahmin untuk pergi bermain.
Saat sedang asik membuat genteng, mataku sempat melirik kearah papan putar yang sedang dipakai oleh si mbok untuk membuat guci. Sewaktu si mbok berhenti untuk beristirahat makan, aku langsung mengambil alih dan duduk di samping papan putar tersebut. Aku ingin mencoba alat ini. “Papan putar” itu adalah dua buah papan bulat yang ditumpuk, tetapi di poros tengahnya diberi semacam paku yang menumpang pada papan di bawahnya, sehingga papan yang di atas bisa diputar. Kedua papan bulat itu di letakkan di atas tanah, sehingga cara memutarnya dengan menggunakan kaki.
Aku mencoba memutar papan itu dengan kakiku, dan di tengah papan itu kuletakkan gumpalan lempung yang masih sangat lembek. Lempung itu pun berputar, bagian tengahnya kupegang dengan jari-jariku yang sudah aku basahi. Saat jari-jariku kutarik pelan-pelan melebar, maka lempung itu juga mengikuti jari-jariku. Wow, luar biasa, aku serasa sedang bermain sulap!
Tetapi yang menjadi masalah adalah papan putar itu sudah agak rusak, jadi papan itu berputar sambil bergoyang turun naik. Setelah bersusah payah karena memang tidak mudah, akhirnya, aku berhasil membuat sebuah “cobek” walaupun bentuknya tidak karuan, meletot-letot. “Hihihi,” simboknya Yahmin tidak tahan menahan tawa saat melihat cobek hasil karyaku itu. “Hush!..” ujar bapaknya Yahmin kepada si mbok. Si mbok rupanya kaget lalu menutup mulutnya dengan tangan sambil menahan tawa.
Dua hari sebelum Hari Pasaran, api di tobong pun dinyalakan untuk membakar gerabah yang sudah pada kering itu. Sewaktu melihat api membara sangat panas di dalam tobong itu aku membayangkan bahwa cobek meletot hasil karya perdanaku itu juga sedang ikut dibakar dan diproses. Proses pembakaran gerabah itu berlangsung satu setengah hari, hari-hari yang menegangkan buatku.
Dua hari kemudian, tibalah Hari Pasaran di Wonogiri. Masyarakat berbondong-bondong menuju ke Pasar Kota untuk berjual-beli. Dari halaman rumahku aku melihat simboknya Yahmin berjalan terbongkok-bongkok menuju ke pasar. Ia membawa beban berat berupa bakul besar di punggungnya yang di penuhi dengan gerabah dagangannya. Sedangkan si Yahmin berjalan setengah berlari di belakang sang ibu, membawa pikulan penuh dengan gerabah hasil karyanya sendiri. Aku berlari masuk rumah, tak mau kalah, dengan bangga aku memasang cobek mletot hasil karyaku untuk kupajang pada dinding kamarku. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
