Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Jaman Perang

Kesederhanaan Dalam Sepur Kluthuk

cso pecel

KESEDERHANAAN DI DALAM SEPUR KLUTHUK

PERJALANAN mengungsi dengan Sepur Kluthuk pun berlanjut. Kereta api yang berjalan sangat lamban ini terus menyusuri stasiun-stasiun kecil menuju ke arah barat.

Bagiku, perjalanan ini sangat melelahkan. Sepanjang perjalanan aku sulit bisa tidur dengan posisi tetap. Posisi dudukku juga berubah-ubah terus, karena memang kereta ini penuh dengan penumpang sehingga harus berdesak-desakan. Dan lagi, seringkali aku dikagetkan oleh suara kereta-kereta lain yang menyusul, melintas ngebut sangat dekat di samping kereta kami. Seakan-akan mengejek aku dan sepur klutukku.

Hari sudah sore. Sepur kluthuk ini kembali akan memasuki sebuah stasiun kecil. Stasiun itu berada di tengah sawah. Sewaktu kereta berhenti, tiba-tiba Pak Mojo dan Bu Mojo berdiri serta mengambil barang-barang bawaannya. “Ayo turun…,” kata Pak Mojo.

Aku terkejut. Oh please… Aku yang sudah terbiasa dengan suasana stasiun besar di kota Jombang itu harus turun di tengah sawah begini? No way, pikirku sedikit sombong. Tetapi kemudian, aku menyadari situasi dan kondisi saat itu. Kali ini aku bisa tidak mengajukan protes apapun. Apa boleh buat!

Dengan langkah sedikit berat aku mengikuti Pak Mojo dan Bu Mojo berjalan menyusuri jalan berbatu-batu menuju ke sebuah desa. Sore sudah mulai berganti gelap saat kami tiba di rumah yang pemiliknya kupanggil: Pak De, salah satu keluarga dari Bu Mojo.

Malam itu para orang tua masih asyik mengobrol. Saat mataku terfokus pada dipan di dalam kamar tidur yang terbuka pintunya, seperti paranormal Pak De rupanya mengerti apa yang ada di dalam pikiranku. Pak De mempersilahkanku untuk tidur. Tanpa menunggu lama, kini aku sudah tergeletak di atas dipan. Masih terasa pegal-pegal akibat perjalanan tadi. Masih terngiang deru Kereta Ekspress yang menyusul keretaku. Tetapi, beberapa menit kemudian aku tertidur lelap.

Esok paginya, saat bangun tidur, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nafasku terasa sangat segar. Tercium harum aroma pepohonan seperti di perkebunan kopi semasa aku tinggal di Malang dulu. Benar saja, saat keluar rumah, aku sudah berada di bawah pepohonan yang tinggi-tinggi dan rindang bagaikan di dalam hutan. Pak De ternyata memiliki kebun yang sangat luas dan teduh.

Pak De kemudian meminta anak lelakinya yang sudah dewasa mengantarkan aku berkeliling kebun. Kami menyusuri jalan setapak yang ada di dalam kebun yang luas itu. Kepadaku, si Mas dengan bangga menunjukkan berbagai jenis pohon sambil menyebutkan nama pohon atau nama buahnya.

Si Mas mengajarkan padaku bahwa kalau kita berjalan di dalam kebun jangan hanya mengandalkan mata, tapi juga hidung. Lalu, ia berhenti sambil menengadahkan hidungnya. Rupanya si Mas mencium sesuatu. Aku juga mencium bau sesuatu…, buah nangka. Lalu dengan radar penciuman, kami mulai mencari sumber aroma itu. Dari kebun kami pulang dengan membawa buah nangka yang besar dan sudah masak.

Di rumah Pak De ini kami hanya menginap selama tiga hari. Kami akan melanjutkan perjalanan mengungsi ke arah barat, menjauhkan diri dari tentara Belanda. Pada pagi ketiga, kami sudah berada di pinggir rel menuju stasiun kecil. Setelah beberapa lama, datanglah kereta yang ditunggu-tunggu.

“Ya ampun! Sepur Kluthuk lagi…”

Tetapi, meski begitu, kali ini sikapku sudah berubah. Aku tidak lagi marah-marah kepada kereta-kereta besar yang menyusul kereta klutukku. Aku sudah mulai mengerti dan menjadi terbiasa. Aku mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang selama ini satu kereta bersamaku.

Aku melihat bahwa ternyata penumpang Sepur Klutuk adalah orang-orang yang sederhana dan baik hatinya. Aku perhatikan, mereka juga memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang kaya yang menaiki Kereta Ekspres yang dulu pernah aku lihat. Gaya berpakaian mereka pun berbeda. Teman-teman baruku di dalam kereta ini memakai pakaian yang jauh lebih sederhana.

Ibu-ibu atau mbok-mbok kebanyakan memakai kebaya dan kain yang ujung bagian bawahnya lebih tinggi dari mata kaki mereka. Mungkin supaya lebih praktis untuk berjalan. Suasana yang santai dan damai sangat terasa.

Terlebih lagi, kalau aku memperhatikan mbok-mbok yang lebih tua itu, mereka duduk dengan tenang sambil memutar-mutar susur (tembakau) di mulutnya. Sepertinya mereka tidak peduli bahwa tentara Belanda akan datang dan menyerbu kita. Selama susur masih bisa berputar di mulut, mereka merasakan kedamaian yang luar biasa. Hidup itu sederhana!

Sangat berbeda dengan para penumpang Kereta Ekspres yang selalu terburu-buru, harus tepat waktu. Moto penumpang kereta itu adalah Time is Money. Sedangkan bagi para penumpang Sepur Kluthuk adalah Waton Tekan (asal sampai). Mungkin sebab itulah Kereta Ekspres mempunyai jadwal yang ketat, bahkan menit-menitnya pun harus tepat. Jauh berbeda dibanding dengan sepurku. Kalau kereta sudah harus berangkat, para penumpang masih banyak yang belum naik kereta.

Pernah satu kali terjadi, aku masih ingat. Ketika itu Pak Sep sudah meniup peluitnya, tapi kemudian ada yang berteriak bahwa ada calon penumpang yang masih di dalam WC stasiun. Pak Sep pun hanya senyum-senyum sambil sabar menunggu.

Yang juga sering membuat suasana meriah di stasiun kecil yang kulewati adalah para pedagang asongan. Aku kagum dengan keuletan mereka dalam menjajakan dagangannya. Itu karena tujuan mereka hanya satu, dagangan harus habis sebelum pulang ke rumah.

Mereka terus berkeliling dari satu gerbong ke gerbong yang lain, sambil berjalan melompati orang-orang yang tiduran di lantai. Luar biasa, pikirku. Meski kereta bergoyang-goyang, mereka mampu melompati orang demi orang tanpa pernah meleset hingga menginjak tubuh orang-orang itu. Dengan penuh semangat mereka terus berjalan dan sesekali melompat sambil menawarkan dagangannya.

Di stasiun-stasiun kecil, yang paling sering dijual para pedagang adalah kacang rebus, rokok, dan makanan khas dari daerah setempat, semisal telor asin, jagung, tahu dan sebagainya. Cara menawarkannya pun khas. Kalau kacang seperti “Caaaang kaacaangkacang kacangkacang.” Kalau rokok, “Kooorokorokoroko.”

Tetapi ada juga mbok-mbok yang berdagang dengan tenang dan tidak perlu naik ke gerbong kereta. Ia hanya menurunkan sebuah bakul dari gendongannya, lalu diletakkan di atas batu-batu kerikil di samping rel. Kemudian, ia hanya perlu satu kali teriak, “Ceeel… peceeel…” Maka, seketika orang-orang berdatangan dari segala penjuru, mengerumuni Mbok Pecel yang hebat itu.

Walau aku merasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi kenyataannya aku sangat menikmati perjalanan dengan Sepur Kluthuk. Aku gembira dan bersyukur. Begitu banyak hal yang bisa kuamati dan kuperhatikan di dalam kereta api jenis ini. Perjalanan panjang bersama dengan orang-orang sederhana ini telah mengajarkan diriku untuk lebih menghargai mereka.

Perjalanan panjang kami akhirnya berujung di sebuah stasiun yang besar, Stasiun Solo Balapan. Kami pun turun. Sembari turun, lagi-lagi aku berpikir, sekarang mana mungkin tentara Belanda bisa menyusul kami…. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sepur Kluthuk

cso sepur

SEPUR KLUTHUK

SEBELUM kota Jombang juga diduduki oleh tentara Belanda, kami bertiga, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku sudah meninggalkan kota Jombang. Dengan kereta rel nomor empat dari stasiun kota Jombang, kami menuju ke Barat. Semakin jauh dari Jombang, hati kami agak tenang karena merasa semakin jauh dari tentara Belanda.

Hanya saja sepanjang perjalanan, aku sering merasa heran. Mengapa kereta ini selalu berhenti di setiap stasiun? Termasuk berhenti di stasiun-stasiun yang sangat kecil. Bahkan, juga kadang harus menunggu selama berjam-jam di tengah sawah, di sana kereta kami berpapasan atau disusul oleh kereta-kereta lainnya yang tidak berhenti. Sungguh menyebalkan!

Beberapa lama kemudian, aku mengerti, bahwa kereta yang kunaiki ini adalah kereta yang paling lamban. Tugas kereta ini hanya menghubungkan satu desa dengan desa lainnya yang dilewati jalur rel kereta. Kereta api seperti ini biasanya dijuluki dengan istilah Sepur Kluthuk.

Entah dari mana asal istilah itu. Bisa jadi karena terlalu lambat jalannya sehingga berbunyi kluthuk… kluthuk… kluthuk.

Aku masih memikirkan kota Jombang yang baru saja kutinggalkan, terutama deretan rel kereta api dan stasiun kota Jombang. Tempat itu seperti Disneyland bagiku. Sebuah arena bermain yang luar biasa.

Tatkala mulai bosan dengan permainan “paku-pisau”, biasanya aku pergi ke dalam stasiun. Aku mengamati semua yang terjadi di dalam stasiun kota Jombang itu. Biasanya aku duduk-duduk di bangku yang biasanya digunakan calon penumpang menunggu kedatangan kereta. Aku senang duduk di bangku panjang itu. Alasanku sederhana, karena bangku panjang itu letaknya di sebelah kantin, sehingga aku bisa setiap saat mencium sedapnya aroma masakan.

Aku bersyukur, pada usia sekecil itu aku pernah menyaksikan Kereta Api dalam arti kata sebenarnya, yakni kereta yang dijalankan menggunakan api. Tungku yang terletak di depan kamar masinis itu dinyalakan menggunakan kayu gelondongan, yang kira-kira sepanjang satu meter. Sedang, lokomotifnya berwarna hitam legam, berukuran lebih besar, bahan bakarnya menggunakan batubara. Api tungku yang membara itu digunakan untuk memanaskan air yang berada di perut lokomotif itu. Tekanan air yang mendidih di dalam tabung raksasa di atas lokomotif itu yang dipakai untuk menggerakkan roda-roda lokomotif dan menarik gerbong-gerbong di belakangnya.

Suatu sore, di dalam stasiun itu aku memperhatikan bahwa jalur rel nomor dua sampai dengan nomor empat, semuanya sudah terisi oleh rangkaian kereta yang sudah siap berangkat tapi belum juga diberangkatkan. Semua kereta, dan tentu saja termasuk seisi penumpangnya, diwajibkan menunggu sebuah kereta yang datang dari arah barat. Ketika menunggu itu, terlihat sebuah titik kecil dari arah barat. Semakin lama titik itu semakin besar. Para penumpang melihatnya dengan tegang, termasuk aku.

Sebuah kereta melaju kencang dari arah barat. Itulah sang Kereta Ekspres, rajanya kereta, mendekat dan akan memasuki stasiun Jombang. Para calon penumpang pun sudah berjajar di samping rel nomor satu. Kemudian dari ruang kepala stasiun keluar seorang pria yang gagah, memakai jas berwarna cerah, di kepalanya memakai topi tinggi berwarna merah seperti topi yang dipakai oleh tentara Perancis. Kami biasanya memanggilnya, Pak Sep.

Pak Sep memegang sebuah tongkat yang diujungnya ada bulatan berwana merah. Penampilan Pak Sep memang mencolok, sehingga semua orang tahu bahwa dialah penguasa stasiun. Kemudian Pak Sep berjalan menuju pinggir rel, menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah kereta berada di jarak yang cukup, hampir memasuki stasiun, Pak Sep meniup peluit besar warna keemasan. Suara peluit Pak Sep itu sangat nyaring sehingga terdengar diseluruh stasiun, yang bahkan terdengar sampai ke rumah Tante Jom.

Kereta Ekspres pun menderu memasuki stasiun. Terdengar derit suara rem dan kereta berhenti tepat di tempat yang telah ditentukan. Para porter pengangkut barang naik-turun memanggul koper-koper para penumpang. Masing-masing bekas penumpang dan calon penumpang saling turun dan naik. Semua itu berlangsung sangat cepat.

Pak masinis sibuk bergerak mengatur nyala api tungku. Secara sigap dan cepat para petugas mengisi air ke perut lokomotif raksasa itu dengan menggunakan selang besar dan corong. Tidak sampai lima menit, semua selesai dan Kereta Ekspres telah siap diberangkatkan.

Pak masinis berdiri melongok keluar dari kamarnya di lokomotif dan tegak menghadap ke belakang. Matanya menatap kepada Pak Sep yang berada di tengah peron stasiun. Kemudian Pak Sep meniup panjang peluitnya sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya. Pertanda sebuah perintah, “Lekas berangkatkan!” Pak masinis yang tampak gagah dan profesional itu lalu menarik tuas tali di atasnya dua kali, maka terdengarlah suara “Tut…Tut…” menjawab perintah keberangkatan, yang artinya “Siap, laksanakan!”

Kereta Ekspres yang besar dan gagah itupun bergerak perlahan, makin lama makin cepat, dan kemudian bagaikan anak panah melesat arah timur, meninggalkan stasiun Jombang menuju ke Surabaya.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku bukan berada di dalam Kereta Ekspres, tapi di dalam Sepur Kluthuk, kereta yang tadi berangkat dari jalur rel nomor empat. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa Sepur Kluthuk-ku ini sedang memasuki stasiun kecil untuk lagi-lagi menikmati takdirnya, menunggu dan dibalap oleh kereta-kereta yang lebih besar dan lebih penting. Demikianlah nasibmu, Sepur Kluthuk.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Tiarap di Depan Tembakan Meriam

TIARAP DI DEPAN TEMBAKAN MERIAM

 

SEPI. Demikianlah suasana di sekitar rumah di Jalan Brantas Mojokerto, rumah pak Mojo, tempatku tinggal. Sungai Brantas yang luas itu tetap setia mengalir tenang tapi indah dipandang mata. Hanya saja entah mengapa, ada perasaan aneh yang kurasakan hari itu. Tidak seperti biasanya.

Masyarakat penghuni kampung bawah, di belakang rumah kami, akhir-akhir ini memang terasa tidak seramah dan gembira seperti biasanya. Mereka terlihat berubah menjadi serius dan tegang. Mereka sering bergerombol, mengerumuni radio dan mendengarkan orang yang sedang berpidato dengan suara keras dan berapi-api. “Itu kan Bung Tomo!” kata seorang temanku yang selalu berlagak serba tahu, mungkin karena ia sudah duduk di kelas empat SD. Ia mengatakan itu kepadaku dengan sikap sedikit mengejek, seolah ia teman dekatnya Bung Tomo.

Dan benar saja, kesunyian pagi itu terkoyak oleh suara sirine yang meraung-raung dengan sangat keras. Sirine yang terletak di atas sebuah menara di seberang sungai Brantas itu bagaikan seekor Dinosaurus yang meraung marah, menyeramkan. Sirine itu dibunyikan sebagai tanda bahwa akan adanya serangan udara oleh tentara Belanda.

Bunyi sirine yang pertama berarti seluruh warga harus berlindung di bawah kolong tempat tidur. Sedangkan bagi yang sedang berada di luar rumah, diharuskan berlindung di bawah pepohonan agar tidak terlihat oleh pesawat Belanda.

Bunyi sirene yang kedua berarti pertanda bahwa situasi sudah aman. Kami sudah boleh keluar dari tempat berlindung. Masyarakat sekitar sudah sering dilatih agar cepat tanggap terhadap peringatan atau tanda bahaya ini. Karena terlalu sering, justru banyak orang menjadi tidak sigap lagi.

Tetapi, bunyi sirine siang hari itu meraung lebih lama dari biasanya. Di sela-sela bunyi sirene itu terdengar sayup-sayup suara mendengung di langit. Sebagai salah satu penggemar film perang, aku dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah suara pesawat tempur Belanda. Maka, di saat orang-orang dewasa berhambur berlindung takut di bawah tempat tidur, aku yang nakal ini malah sudah nangkring di atas cabang pohon mangga yang berada di halaman depan rumah Pak Mojo.

Pohon mangga itu tinggi dan rimbun daunnya. Menurutku, pilot pesawat tempur itu tidak akan bisa melihatku. Dari sela-sela dedaunan pohon mangga, dengan jelas aku bisa melihat dua pesawat Belanda itu terbang berputar-putar di atas kota Mojokerto, juga di atas kali Brantas di depan aku berada.

Salah satu dari pesawat tersebut terbang berputar-putar di seberang sungai di sekitar menara sirine. Tiba-tiba aku melihat pesawat tempur itu terbang menukik tajam, dan pada saat pesawat mulai menanjak lagi terdengarlah bunyi ledakan yang dahsyat. Api berkobar sangat besar. Kemudian asap berwana hitam mengepul menjulang tinggi. Tubuhku gemetar.

Setelah menjatuhkan beberapa bom, pesawat itu terbang kembali ke arah Timur. Keadaan kembali sunyi, yang terlihat hanya kepulan asap hitam. Rupanya hari itu Mojokerto di bombardir, dihujani bom oleh tentara Belanda. Sirine sudah tidak berbunyi lagi. Keesokan harinya orang-orang di kampung bawah ramai bergerombol sambil membicarakan berita terbaru. Kota Mojokerto telah berhasil diduduki oleh pasukan tentara Belanda!

Aku tidak melihat apapun tentang pendudukan pasukan Belanda tersebut, karena lokasi rumah berada di sebelah Barat kota Mojokerto. Aku tidak melihat pertempuran darat seperti yang biasa dilihat di film perang. Mungkin pertempuran itu terjadi di sisi timur Mojokerto, karena pesawat Belanda datang dari arah timur. Mungkin kota Surabaya yang lebih dulu dikuasai Belanda.

Sore harinya, terdengar suara dentuman yang menggelegar lagi. Suara itu datang dari tengah kota Mojokerto. Anehnya, dentuman keras itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi terdengar setiap lima sampai sepuluh detik. Semua itu sungguh menarik perhatianku, dan membuat rasa ingin tahu didalam diriku membara menyala-nyala.

Dengan cepat aku lalu berlari menuju ke alun-alun, ke arah Selatan kampung bawah, sambil berteriak, “Reeek, ayo ndelok, reek” (Rek, ayo nonton, rek).”

Aku terus berlari sambil berteriak-teriak. Saat aku menengok ke belakang, aku melihat ada serombongan anak-anak kecil yang mengikutiku. Aku seakan merasa seperti Cacak, sang Pemimpin Geng Anak Tanjung di kota Malang dulu.

Akhirnya, aku sampai di sisi barat alun-alun. Di sana Aku menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Bukan main, benar-benar seperti yang ada di film-film perang. Di tengah alun-alun di sisi Timur, ada sederet meriam kecil milik tentara Belanda. Meriam itu namanya canon (baca: Kanon). Canon, adalah sebuah meriam kecil yang memiliki roda.

Di bagian depan canon ada semacam perisai dari baja bersegi empat. Dari tengah perisai baja itu menyembul moncong meriam. Aku bisa melihat ada empat buah canon yang berderet menghadap ke atas, ke arah Barat. Jadi, moncong canon-canon itu menghadap ke arahku dan teman-teman yang sedang tiarap di atas rumput.

Bagian inilah yang paling seru. Saat meriam itu ditembakkan, muncul kilatan api dari mulut canon. Terdengar suara ledakan yang dahsyat, memekakkan telinga. Peluru meriam itu berdesing di langit di atas kepalaku dan teman-temaku, lalu jatuh jauh di sebelah Barat kota Mojokerto. Untuk mengurangi suara dentuman, kami harus menutup telinga. Meskipun telinga sudah ditutup, tetapi setiap kali meriam berdentum dada serasa seperti ditimpa sansak, yakni sekarung pasir yang biasa digunakan untuk latihan tinju.

Menjelang Maghrib, serangan tentara Belanda baru berhenti. Aku berdoa agar peluru-peluru canon tadi berjatuhan di tengah sawah saja, sehingga tidak jatuh korban di pihak tentara Indonesia. Aku dan teman-temanku pun pulang sambil membawa dada yang masih terasa sesak.

Pada tengah malamnya terdengar kabar yang membuat hatiku bangga. Ada serangan balasan dari tentara kita menjawab serangan canon Belanda siang tadi. Dari arah Barat, tentara Republik Indonesia menggempur tentara Belanda di kota Mojokerto. Hujan peluru mortir itu juga berjatuhan di daerah kampung bawah dan di sekitar rumah kami. Suasana tegang dan mencekam.

Malam itu kami, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, berlindung di bawah kolong tempat tidur, sambil berdoa.

(Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke 70)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

wpid-fb_img_1439780262731.jpg

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑