Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Jombang

Sepur Kluthuk

cso sepur

SEPUR KLUTHUK

SEBELUM kota Jombang juga diduduki oleh tentara Belanda, kami bertiga, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku sudah meninggalkan kota Jombang. Dengan kereta rel nomor empat dari stasiun kota Jombang, kami menuju ke Barat. Semakin jauh dari Jombang, hati kami agak tenang karena merasa semakin jauh dari tentara Belanda.

Hanya saja sepanjang perjalanan, aku sering merasa heran. Mengapa kereta ini selalu berhenti di setiap stasiun? Termasuk berhenti di stasiun-stasiun yang sangat kecil. Bahkan, juga kadang harus menunggu selama berjam-jam di tengah sawah, di sana kereta kami berpapasan atau disusul oleh kereta-kereta lainnya yang tidak berhenti. Sungguh menyebalkan!

Beberapa lama kemudian, aku mengerti, bahwa kereta yang kunaiki ini adalah kereta yang paling lamban. Tugas kereta ini hanya menghubungkan satu desa dengan desa lainnya yang dilewati jalur rel kereta. Kereta api seperti ini biasanya dijuluki dengan istilah Sepur Kluthuk.

Entah dari mana asal istilah itu. Bisa jadi karena terlalu lambat jalannya sehingga berbunyi kluthuk… kluthuk… kluthuk.

Aku masih memikirkan kota Jombang yang baru saja kutinggalkan, terutama deretan rel kereta api dan stasiun kota Jombang. Tempat itu seperti Disneyland bagiku. Sebuah arena bermain yang luar biasa.

Tatkala mulai bosan dengan permainan “paku-pisau”, biasanya aku pergi ke dalam stasiun. Aku mengamati semua yang terjadi di dalam stasiun kota Jombang itu. Biasanya aku duduk-duduk di bangku yang biasanya digunakan calon penumpang menunggu kedatangan kereta. Aku senang duduk di bangku panjang itu. Alasanku sederhana, karena bangku panjang itu letaknya di sebelah kantin, sehingga aku bisa setiap saat mencium sedapnya aroma masakan.

Aku bersyukur, pada usia sekecil itu aku pernah menyaksikan Kereta Api dalam arti kata sebenarnya, yakni kereta yang dijalankan menggunakan api. Tungku yang terletak di depan kamar masinis itu dinyalakan menggunakan kayu gelondongan, yang kira-kira sepanjang satu meter. Sedang, lokomotifnya berwarna hitam legam, berukuran lebih besar, bahan bakarnya menggunakan batubara. Api tungku yang membara itu digunakan untuk memanaskan air yang berada di perut lokomotif itu. Tekanan air yang mendidih di dalam tabung raksasa di atas lokomotif itu yang dipakai untuk menggerakkan roda-roda lokomotif dan menarik gerbong-gerbong di belakangnya.

Suatu sore, di dalam stasiun itu aku memperhatikan bahwa jalur rel nomor dua sampai dengan nomor empat, semuanya sudah terisi oleh rangkaian kereta yang sudah siap berangkat tapi belum juga diberangkatkan. Semua kereta, dan tentu saja termasuk seisi penumpangnya, diwajibkan menunggu sebuah kereta yang datang dari arah barat. Ketika menunggu itu, terlihat sebuah titik kecil dari arah barat. Semakin lama titik itu semakin besar. Para penumpang melihatnya dengan tegang, termasuk aku.

Sebuah kereta melaju kencang dari arah barat. Itulah sang Kereta Ekspres, rajanya kereta, mendekat dan akan memasuki stasiun Jombang. Para calon penumpang pun sudah berjajar di samping rel nomor satu. Kemudian dari ruang kepala stasiun keluar seorang pria yang gagah, memakai jas berwarna cerah, di kepalanya memakai topi tinggi berwarna merah seperti topi yang dipakai oleh tentara Perancis. Kami biasanya memanggilnya, Pak Sep.

Pak Sep memegang sebuah tongkat yang diujungnya ada bulatan berwana merah. Penampilan Pak Sep memang mencolok, sehingga semua orang tahu bahwa dialah penguasa stasiun. Kemudian Pak Sep berjalan menuju pinggir rel, menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah kereta berada di jarak yang cukup, hampir memasuki stasiun, Pak Sep meniup peluit besar warna keemasan. Suara peluit Pak Sep itu sangat nyaring sehingga terdengar diseluruh stasiun, yang bahkan terdengar sampai ke rumah Tante Jom.

Kereta Ekspres pun menderu memasuki stasiun. Terdengar derit suara rem dan kereta berhenti tepat di tempat yang telah ditentukan. Para porter pengangkut barang naik-turun memanggul koper-koper para penumpang. Masing-masing bekas penumpang dan calon penumpang saling turun dan naik. Semua itu berlangsung sangat cepat.

Pak masinis sibuk bergerak mengatur nyala api tungku. Secara sigap dan cepat para petugas mengisi air ke perut lokomotif raksasa itu dengan menggunakan selang besar dan corong. Tidak sampai lima menit, semua selesai dan Kereta Ekspres telah siap diberangkatkan.

Pak masinis berdiri melongok keluar dari kamarnya di lokomotif dan tegak menghadap ke belakang. Matanya menatap kepada Pak Sep yang berada di tengah peron stasiun. Kemudian Pak Sep meniup panjang peluitnya sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat saktinya. Pertanda sebuah perintah, “Lekas berangkatkan!” Pak masinis yang tampak gagah dan profesional itu lalu menarik tuas tali di atasnya dua kali, maka terdengarlah suara “Tut…Tut…” menjawab perintah keberangkatan, yang artinya “Siap, laksanakan!”

Kereta Ekspres yang besar dan gagah itupun bergerak perlahan, makin lama makin cepat, dan kemudian bagaikan anak panah melesat arah timur, meninggalkan stasiun Jombang menuju ke Surabaya.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku bukan berada di dalam Kereta Ekspres, tapi di dalam Sepur Kluthuk, kereta yang tadi berangkat dari jalur rel nomor empat. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa Sepur Kluthuk-ku ini sedang memasuki stasiun kecil untuk lagi-lagi menikmati takdirnya, menunggu dan dibalap oleh kereta-kereta yang lebih besar dan lebih penting. Demikianlah nasibmu, Sepur Kluthuk.

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kereta Barang Jam Satu

Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

.

KERETA  BARANG  JAM  SATU

PAGI sudah menjelang siang ketika aku terbangun dari tidur. Masih setengah sadar dan agak bingung, sejenak aku merenung, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Aku teringat perjalanan mengungsi dari kota Mojokerto ke kota Jombang. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.

Setelah lebih sadar, aku mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Aku berada di rumah Tante Jom, adik dari bu Mojo. Rumah Tante Jom adalah rumah yang sangat sederhana yang hanya terdiri dari satu ruangan memanjang, selebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter.

Ruangan panjang itu disekat menjadi tiga ruangan kecil. Terdiri dari ruangan yang kecil untuk tamu di depan, kamar tidur di bagian tengah, dan yang paling belakang adalah sebuah dapur kecil. Di dapur itu terdapat tungku yang terletak di atas lantai.

Di dalam rumah papan sederhana itu terasa agak pengap dan gelap. Hanya ada sebuah jendela kecil, yang hanya di bagian depan rumah. Rumah itu memang sangat sederhana, tapi kelak aku merasa itu adalah rumah terindah yang pernah aku tinggali.

Aku turun dari tempat tidur dan menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu, angin disertai debu jalanan masuk ke dalam rumah. Aku baru sadar bahwa rumah tante Jom terletak tepat di pinggir jalan raya, menghadap lalu-lintas yang ramai, sangat bising. Dengan cepat aku menutup lagi pintu pintu depan itu. Aku lalu berjalan menuju ke pintu belakang yang berada di dekat dapur. Begitu pintu terbuka, aku sangat terpukau dan takjub dengan pemandangan yang kulihat.

Di belakang rumah Tante Jom itu, aku melihat pemandangan yang menariknya melebihi Dunia Fantasi Ancol, atau Disneyland yang mengagumkan sekalipun. Bagiku pemandangan di belakang rumah itu sangat menantang dan merangsang jiwa anak-anak seperti diriku.

Yang pertama kulihat adalah rel kereta api. Bukan hanya satu rel, tetapi ada empat rel yang berjajar. Dari pintu belakang itu, aku langsung meloncat keluar. Rel-rel itu aku perhatikan dengan seksama, dari empat menjadi tiga, menjadi dua, lalu menyatu dengan rel utama yang menuju ke kanan, ke arah barat, arah Jakarta.

Aku menengok ke kiri, arah timur. Terlihat gedung stasiun yang sangat besar. Pada dinding sebelah atas bangunan yang terbuat dari baja itu tertulis huruf yang besar-besar: JOMBANG.

Tulisan raksasa itu bagaikan ucapan selamat datang bagi para penumpang kereta api yang memasuki stasiun kota Jombang. Rupanya rumah tante Jom terletak tepat di sebelah stasiun kereta api kota Jombang. Kali ini aku baru benar-benar paham.

Melalui pintu belakang itu aku juga menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sederet kabel dari kawat baja menyusuri pinggiran rel, tersusun sejajar seperti kabel-kabel listrik bertegangan tinggi yang sering disebut Sutet. Tetapi, deretan kawat itu dipasang sangat rendah, setinggi pinggang orang dewasa. Rupanya kawat-kawat baja itu bisa ditarik atau diulur yang dikendalikan dari dalam stasiun untuk menggabungkan atau memisahkan rel satu dengan rel lainnya.

Pada hari kedua tinggal di rumah Tante Jom, aku sudah bisa menjadi tukang ramal jalur kereta api. Kalau ada kereta datang dari sebelah Barat, aku bisa tahu kereta yang baru datang itu akan masuk lewat rel nomor berapa. Kalau terlihat ada kereta yang hendak masuk ke stasiun, seringkali aku mengumpulkan anak-anak tetangga. Kepada mereka aku berlagak meramal, bahwa kereta itu akan melewati rel nomor dua. Dan benar, kereta yang baru datang itu memasuki jalur rel nomor dua. Mereka takjub. Anak-anak tetangga itu terbengong melihat ramalanku yang selalu tepat. Dan aku sangat menikmati melihat muka-muka bengong itu.

Beberapa hari kemudian, aku berganti permainan. Setiap kali ada kereta yang melintas di depanku, aku pusatkan perhatianku kepada rel besi yang dilindas oleh roda besi kereta api. Wow, besi dilindas oleh besi. Kemudian aku mengadakan percobaan.

Sebelum kereta datang, aku letakkan sebuah batu kecil di atas rel. Sewaktu kereta lewat dengan cepat, batu itu lenyap tidak berbekas. Aku mendapat sebuah ide. Aku letakkan sebuah paku di atas rel di depanku. Apa yang terjadi? Paku itu terlindas oleh roda kereta, tetapi kemudian paku itu terpental. Aku mencari paku tadi. Setelah ditemukan, aku kaget minta ampun. Paku itu sudah berubah bentuk, menjadi pisau yang tajam. Luar biasa! Aku pun mulai mengumpulkan banyak paku, dengan segala ukuran.

Dalam waktu singkat, paku-paku itu sudah berubah menjadi pisau atau mata tombak kecil. Aku sudah seperti memiliki sebuah pabrik. Pisau-pisau dan tombak “hasil produksi”-ku itu kukumpulkan dan kuletakkan di samping pintu belakang rumah. Semakin lama semakin banyak dan semakin menumpuk.

Selain itu, ketika mengungsi di rumah Tante Jom ini aku juga menemukan hal yang baru dan menarik. Setiap ada kereta api yang melintas, seluruh rumah terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa. Pada mulanya hal itu sangat menggangguku, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Kalau terjadi “gempa” ketika aku sedang tidur di malam hari, bagiku, justru serasa tidur di dalam ayunan. Goncangan kereta api itu seperti menina-bobokan aku.

Ada sebuah rangkaian kereta yang melintas setiap jam satu lewat tengah malam. Goncangan serangkaian kereta barang yang panjang itu terjadi lebih lama dibandingkan dengan kereta lain. Aku sangat menikmati goyangan kereta barang itu.

Suatu malam, menjelang dini hari, terjadi sebuah keributan. Penghuni seisi rumah Tante Jom terbangun. Para tetangga juga terbangun dan keluar rumah. Ada yang berteriak-teriak lantang dengan sedikit panik, “Kereta barang belum lewat!”Setelah keributan mereda, orang-orang mencoba tidur lagi. Satu jam kemudian kereta barang melintas. Rumah bergoyang-goyang. Meski sejenak kaget, tapi kemudian goyangan itu justru membuai tidur kami. Itulah Kereta Barang Jam Satu, kereta yang setiap malam kami dirindukan.

Belum genap dua minggu mengungsi, tinggal di rumah Tante Jom, belum juga bosan aku tidur digoyang-goyang Kereta Barang Jam Satu, pada suatu malam sayup-sayup kembali terdengar suara dentuman-dentuman.

Sepertinya tentara Belanda akan ke Jombang, menyusul kami ke pengungsian. Maka esok harinya, kami berangkat meninggalkan kota Jombang. Kota yang mulai aku sukai. Kami kembali harus mengungsi menuju ke arah Barat. Kali ini tidak lagi berjalan kaki, tapi naik kereta api. Kami berangkat dengan kereta rel nomer empat, dari stasiun kereta api kota Jombang.

Ketika kereta api mulai begerak perlahan, melintasi rumah Tante Jom, aku melongok keluar jendela. Aku memandang rumah itu dengan sedih. Tanganku melambai ke arah rumah itu. Rumah terindah yang harus kutinggalkan. Terlebih, aku juga harus meninggalkan pisau buatanku yang masih menumpuk, teronggok di dekat pintu belakang rumah Tante Jom. Selamat tinggal Jombang, selamat tinggal Kereta Barang Jam Satu. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Guling, Sahabat Dalam Pengungsian

GULING, SAHABAT DALAM PENGUNGSIAN

 

SIANG itu terlihat banyak orang bergerombol sambil berbisik-bisik. Yang mereka pergunjingkan adalah bahwa pasukan kita, Pasukan Republik, akan mengadakan penyerbuan besar-besaran ke kota Mojokerto. Agar tidak terjadi banyak korban, maka warga diminta mengungsi ke arah barat kota, wilayah yang sudah dikuasi tentara republik.

Pada tengah malam itu juga dengan berbisik-bisik aku dibangunkan Pak Mojo. Kami harus mengungsi. Kami harus bersiap dan segera berangkat saat itu juga. Semua dilakukan dengan terburu-buru dan diam-diam agar tidak tercium oleh mata-mata tentara Belanda.

Di tepi jalan depan rumah telah berbaris banyak orang dalam jumlah besar. Sekitar seratus orang sudah siap untuk mulai berjalan. Mereka membawa barang seadanya. Aku pun begitu, aku menyambar sebuah barang untuk dibawa. Guling!

Akhirnya, barisan pengungsi itu mulai bergerak. Berangkat berjalan kaki menuju ke Barat, ke wilayah yang tidak (belum) diduduki tentara Belanda. Kami semua harus berjalan dengan tenang. Tidak ada yang boleh mengeluarkan suara. Setiap orang berjalan sambil memikul atau menggedong barang bawaan masing-masing. Tidak mau kalah, aku pun memeluk erat guling kesayangan.

Awalnya aku berjalan dengan sangat semangat, tetapi baru beberapa langkah aku minta digendong. Maka sejak itu, di sepanjang perjalanan aku digendong di punggung beberapa orang secara bergantian. Mereka takut jika tidak digendong, aku akan menangis atau berteriak yang bisa mengusik tentara Belanda yang sedang lelap tidur.

Pernah suatu malam kami melewati sebuah desa. Suasananya sangat sepi. Mungkin karena penduduk di desa itu sudah pasti sudah pulas tidur. Tiba-tiba aku terbangun, kaget karena gulingku tidak ada. Aku panik dan berteriak-teriak, “Bantaal, bantaaalkuu!…” Tidak lama kemudian seseorang terburu-buru menyerahkan barang yang aku minta: guling.

Entah ada berapa kali siang dan berapa kali malam kami berjalan. Entah berapa puluh kali aku berpindah dari satu punggung orang ke punggung orang yang lain. Aku tidak ingat, karena toh tugas utamaku selama perjalanan mengungsi itu hanya tidur saja.

Setelah dewasa aku baru tahu, bahwa kami mengungsi ke Jombang. Jarak dari Mojokerto ke kota itu sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi, bagiku yang masih kecil, perjalanan itu terasa panjang dan lama. Rasanya tidak sampai-sampai ke tempat tujuan, pikirku waktu itu. Demi keamanan, kami hanya berjalan pada malam hari dan seringkali kami mampir di sebuah desa untuk waktu yang cukup lama. Seingatku, hampir di setiap desa ada dapur umum yang dibuat ibu-ibu desa tersebut untuk membantu para pengungsi yang melewati desa mereka.

Suatu kali kami memaksa berjalan di siang hari. Supaya tidak memantulkan sinar matahari, semua sepeda yang dibawa ditutupi, termasuk sepeda Pak Mojo. Terutama pada bagian sepeda yang mengkilat, seperti setang sepeda, dibungkus kain, dan bagian atasnya ditutupi ranting-ranting pohon. Persis seperti semak-semak berjalan. Siasat ini dilakukan agar kami tidak terlihat oleh pilot pesawat tempur Belanda.

Pada perjalanan siang hari itu, tiba-tiba terdengar bunyi pesawat tempur Belanda. Gawat! Kepala rombongan segera memberi tanda, bahwa kami saat itu juga semua harus tiarap di rerumputan, di tepi jalan pinggiran sawah. Suasana sangat mencekam!

Mendengar deru pesawat tempur itu mendekat, aku langsung berusaha berdiri ingin melihat. Tetapi, tiba-tiba sebuah tangan yang besar melintas di atas kepalaku. Menarikku ke bawah, masuk ke dalam pelukan rerumputan. Aku tidak menyerah. Sambil tiduran, aku membuka sebelah mata mengintip dan menyaksikan pesawat Belanda sedang berputar-putar. Tiba-tiba pesawat itu menukik sangat rendah hingga di atas barisan rombongan kami. Suasana semakin mencekam!

Terdengar rentetan tembakan. Aku melihat peluru-peluru berjatuhan ke kanan-kiri rombongan. Untungnya, tidak lama kemudian pesawat Belanda itu kembali menanjak naik, terbang menuju ke arah timur dan tidak kembali lagi. Segera setelah itu kami serombongan pengungsi melanjutkan perjalanan. Sebuah peristiwa yang sungguh menegangkan.

Akhirnya, kami sampai di kota Jombang. Setelah memasuki kota tujuan tersebut, rombongan pengungsi mulai membubarkan diri. Mereka berjalan sendiri-sendiri, mencari tempat mengungsi. Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, menumpang di rumah kerabat dari bu Mojo, tepatnya di samping barat stasiun kota Jombang.

Dan malam itu aku adalah anak yang paling berbahagia. Karena pada akhirnya aku bisa tidur nyenyak di atas dipan, tanpa harus terguncang-guncang seperti saat digendong. Malam itu, aku merasa ingin tidur selama seribu tahun.

Sebelum tidur aku sempat berpikir, kami semua telah berhasil meninggalkan kota Mojokerto dengan berhari-hari berjalan, manalah mungkin tentara Belanda itu bisa menyusul kami?. Dan lalu aku pun tertidur pulas, sambil peluk guling. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑