DESA DI BAWAH AIR
Seperti biasa, setiap kali masuk ke dalam suatu daerah yang baru, aku selalu tertarik untuk menyelidiki dan mengeksplorasi daerah tersebut.
Maka dengan ditemani oleh Pak Lik, aku mulai melakukan tour keliling Rumah Mbah Kaligunting ini. Rumah ini sangat luas, baik tanahnya ataupun bangunannya. Di atas halaman depan rumah, berdiri sebuah pendopo yang besar dan terbuka. Tempat itu biasa digunakan sebagai tempat pertemuan warga. Jika tidak sedang digunakan, ruangan itu ditutup dengan dinding ‘gebyok’, yaitu semacam daun pintu yang bisa di buka tutup. Di sudut depan pendopo itu ada seperangkat alat musik Gamelan Jawa.
Di belakang pendopo itu terdapat bangunan rumah utama, yang terdiri dari ruangan besar dan dikelilingi dengan kamar-kamar. Ruang tengah tersebut digunakan sebagai ruang keluarga. Di ruangan tersebut juga terdapat meja makan yang besar. Di sudut ruangan itu ada sebuah meja pendek berlubang-lubang untuk mendirikan tombak, payung besar dan lain-lain.
Di samping rumah utama tersebut, ada bangunan tersendiri yang digunakan sebagai dapur. Cukup luas untuk ukuran sebuah dapur. Di atas perapiannya, terdapat para-para untuk menyimpan padi dan persediaan makanan untuk Mbah Kakung atau jika ada tamu datang.
Yang luar biasa adalah di seluruh tempat itu tidak terdapat secuilpun bagian yang menggunakan semen. Jadi semua bangunan itu berlantai tanah dan berdinding kayu. Itulah rumah seorang kepala desa di daerah minus, desa yang kekurangan, tandus, gersang dan kering. Sungguh sangat sederhana.
Tetapi kondisi dan kesederhanaan pedesaan yang miskin itu tidak menjadi masalah bagiku yang lahir di kota. Walau bisa di katakan aku adalah “anak kota”, tetapi Tuhan sudah mempersiapkan mentalku dengan memberikan pengalaman di dalam Sepur Kluthuk selama pengungsian dulu. Di sana aku berkenalan dengan orang-orang yang sederhana dan bahkan bisa dikatakan miskin. Juga pengalaman berjalan kaki selama lebih dari lima jam, melewati tanah-tanah gersang dan kering. Itu semua yang membuatku memasuki rumah dan menghadap Mbah Kaligunting ini dengan sikap yang merunduk, hormat dan tanpa rasa gamang.
Siang itu Mbah Kakung mengajakku untuk makan siang bersama di sebuah meja makan besar, sementara Om No sudah melanjutkan perjalanan ke desanya Mbah Tanjung yang tidak jauh dari desa Kaligunting.
Tetapi aku merasa ada yang aneh. Aneh karena yang makan di meja besar itu hanya aku dan Mbah Kakung saja, sedangkan yang lain berada diluar rumah. Mereka berkumpul di dapur, termasuk Mbah Putri.
Mbah Kakung lah yang melayaniku mengambilkan nasi dan lauk nya. Tentu saja itu membuat aku menjadi merasa sedikit canggung, tapi begitulah rupanya aturan di situ. Mbah Putri hanya datang melayani kalau dipanggil saja. Setelah selesai makan dan keluar menuju ke pendopo, barulah Mbah Putri dan Pak Lik, Bu Lik makan bersama di meja makan besar itu.
Sore harinya diadakan acara kuliner ala Wonogiri. Pak Lik dan beberapa petugas desa, mengajakku pergi ke ladang luas yang terletak di depan rumah Mbah Kaligunting. Di sana mereka mencabut ketela pohon dan ubi jalar bersama-samaku. Di halaman depan rupanya sudah disiapkan api unggun yang besar. Pak Lik bertanya kepadaku, “Kamu mau ubi bakar atau ubi rebus?” Aku langsung menjawab, “Rebus, Lik.”
Tetapi setelah itu aku menjadi penasaran dan berpikir, mana mungkin kita bisa merebus ubi di atas api unggun? Apa yang dilakukan Pak Lik setelah itu sungguh menarik perhatianku. Pak Lik membungkus ubi tersebut dengan daun pisang dengan tebal. Kemudian bungkusan ubi itu dimasukkannya ke bawah bara api, bara yang sudah tertimbun dengan abu berwarna putih. Lalu mengobrol sebentar, tiba-tiba aku menciump bau wangi dari ubi rebus. Setelah daun yang hangus itu di buka, keluarlah ubi seperti habis dikukus. Rasanya nikmat sekali, luar biasa!
“Gooo..” Tiba-tiba terdengar suara Mbah Kakung berteriak memanggil ‘Jogo’ (penjaga). Mbah Kakung memerintahkan agar penjaga itu mengumpulkan para Niyaga (penabuh gamelan). Semua yang mendengar itu kelihatan sumringah dan gembira karena mereka tahu artinya malam ini akan ada acara ‘klenengan’, musik instrumental Jawa.
Sore itu juga aku diajak mandi di sungai yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari rumah. Airnya segar dan jernih. sambil mandi aku membantu Bu Lik, mencari air bersih dengan cara membuat ‘belik’, yaitu menggali lubang di pasir di tepi sungai. Kemudian air yang ada di dalam lubang itu dikeluarkan sedikit demi sedikit, sehingga tersisalah air yang sangat jernih. Air itulah yang kemudian diambil sedikit demi sedikit untuk dibawa pulang ke rumah dengan menggunakan alat yang bernama ‘klenting’, yaitu gentong kecil yang bisa dibawa diatas pinggang. Sungguh pengalaman baru yang menarik buatku.
Malam harinya, pendopo Kepala Desa Kaligunting berubah menjadi meriah dan terang benderang oleh sinar lampu petromaks. Para penabuh gamelan pun berdatangan. Sejak saat itu pula aku mulai fokus kepada para penabuh tersebut. Dengan seksama aku memperhatikan proses mereka mempersiapkan dan membersihkan alat-alat musik gamelan yang beraneka ragam itu.
Kemudian lagu pertama pun dimulai. Aku makin serius memperhatikan, aku belajar bahwa nada musik Jawa berbeda dengan nada musik biasanya. Aku juga mulai mencari-cari, siapa sebenarnya yang menjadi dirigen, yang mengatur cepat lambat dan berakhirnya sebuah lagu. Ternyata dirigennya adalah orang yang bermain alat musik kendang. Si tukang kendang.
Kemudian aku diam-diam dan perlahan mendekat ingin ikut memainkan alat musik itu. Tetapi akhirnya aku lebih tertarik pada alat yang bernama ‘kenong’ yaitu alat yang terbuat dari kuningan, yang bentuknya seperti kue bolu kukus yang atasnya benjol. Selanjutnya aku mengamati bagaimana cara mereka menabuhnya dan juga mempelajari letak nada-nadanya.
Setelah mulai sedikit hafal, aku tinggal mencari lagu yang mudah untuk dimainkan. Kemudian mereka mengalunkan gendhing (lagu) yang berjudul ‘Sampak’. Karena menganggap lagu tersebut agak mudah, aku meminta kepada para penabuh gamelan agar lagu Sampak di mainkan berulang-ulang. Tetapi rupanya orang-orang lain di situ mulai bosan, karena lagu tersebut terus diulang-ulang.
Setelah malam larut, maka usai pula lah acara ‘klenengan’ malam itu. Para penabuh mulai beranjak pulang, lampu petromaks telah dimatikan. Tapi di tengah kegelapan malam itu masih terdengar suara ‘kenong’ yang aku mainkan, lagunya…, Sampak.
Acara terakhirku di tengah malam itu adalah melihat bintang bersama Bu Lik. Malam itu malam yang gelap, tidak ada sinar bulan. Kami berdua berbaring tidur-tiduran di halaman depan di atas selembar tikar, memandang ke atas, ke langit. Bintang-bintang terlihat sangat jelas. Bu Lik mengajariku mencari Bintang Salib Selatan. Dengan menarik garis lurus dari puncak salib ke bawah sampai ke cakrawala, itulah titik arah Selatan. Banyak nama bintang-bintang yang diberitahukan oleh Lik Nik kepadaku malam itu.
Setelah lewat tengah malam menjelang dini hari barulah aku pergi tidur, dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.
Itulah pengalamanku di desa Kaligunting, sebuah desa yang miskin, gersang, tandus dan termasuk desa minus. Tetapi itu adalah desanya Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungku. Seorang kepala desa yang disegani oleh rakyatnya, oleh desa-desa sekitarnya dan oleh keluarganya. Aku sangat kagum akan kesederhanaannya juga atas pengabdiannya sebagai kepala desa di daerah yang sangat minus itu.
Pantas saja anak cucunya seperti ‘diusir’-nya dari desa itu untuk pergi keluar, untuk bertumbuh, berkembang, bersekolah dan hidup dimana pun asal jangan di desa Kaligunting.
Sejak dulu rupanya Mbah Kaligunting punya firasat bahwa desanya itu tidak mungkin akan pernah maju. Dan firasat Mbah Kaligunting itu ternyata benar. Beberapa puluh tahun kemudian, pada tahun 1978, desa Kaligunting lenyap dalam arti kata sesungguhnya, desa itu kini berada di dalam air, di dasar Waduk Gajah Mungkur.
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: SR Kristiawan
