Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Kaligunting

Desa di Bawah Air

DESA DI BAWAH AIR

 

Seperti biasa, setiap kali masuk ke dalam suatu daerah yang baru, aku selalu tertarik untuk menyelidiki dan mengeksplorasi daerah tersebut.

Maka dengan ditemani oleh Pak Lik, aku mulai melakukan tour keliling Rumah Mbah Kaligunting ini. Rumah ini sangat luas, baik tanahnya ataupun bangunannya. Di atas halaman depan rumah, berdiri sebuah pendopo yang besar dan terbuka. Tempat itu biasa digunakan sebagai tempat pertemuan warga. Jika tidak sedang digunakan, ruangan itu ditutup dengan dinding ‘gebyok’, yaitu semacam daun pintu yang bisa di buka tutup. Di sudut depan pendopo itu ada seperangkat alat musik Gamelan Jawa.

Di belakang pendopo itu terdapat bangunan rumah utama, yang terdiri dari ruangan besar dan dikelilingi dengan kamar-kamar. Ruang tengah tersebut digunakan sebagai ruang keluarga. Di ruangan tersebut juga terdapat meja makan yang besar. Di sudut ruangan itu ada sebuah meja pendek berlubang-lubang untuk mendirikan tombak, payung besar dan lain-lain.

Di samping rumah utama tersebut, ada bangunan tersendiri yang digunakan sebagai dapur. Cukup luas untuk ukuran sebuah dapur. Di atas perapiannya, terdapat para-para untuk menyimpan padi dan persediaan makanan untuk Mbah Kakung atau jika ada tamu datang.

Yang luar biasa adalah di seluruh tempat itu tidak terdapat secuilpun bagian yang menggunakan semen. Jadi semua bangunan itu berlantai tanah dan berdinding kayu. Itulah rumah seorang kepala desa di daerah minus, desa yang kekurangan, tandus, gersang dan kering. Sungguh sangat sederhana.

Tetapi kondisi dan kesederhanaan pedesaan yang miskin itu tidak menjadi masalah bagiku yang lahir di kota. Walau bisa di katakan aku adalah “anak kota”, tetapi Tuhan sudah mempersiapkan mentalku dengan memberikan pengalaman di dalam Sepur Kluthuk selama pengungsian dulu. Di sana aku berkenalan dengan orang-orang yang sederhana dan bahkan bisa dikatakan miskin. Juga pengalaman berjalan kaki selama lebih dari lima jam, melewati tanah-tanah gersang dan kering. Itu semua yang membuatku memasuki rumah dan menghadap Mbah Kaligunting ini dengan sikap yang merunduk, hormat dan tanpa rasa gamang.

Siang itu Mbah Kakung mengajakku untuk makan siang bersama di sebuah meja makan besar, sementara Om No sudah melanjutkan perjalanan ke desanya Mbah Tanjung yang tidak jauh dari desa Kaligunting.

Tetapi aku merasa ada yang aneh. Aneh karena yang makan di meja besar itu hanya aku dan Mbah Kakung saja, sedangkan yang lain berada diluar rumah. Mereka berkumpul di dapur, termasuk Mbah Putri.

Mbah Kakung lah yang melayaniku mengambilkan nasi dan lauk nya. Tentu saja itu membuat aku menjadi merasa sedikit canggung, tapi begitulah rupanya aturan di situ. Mbah Putri hanya datang melayani kalau dipanggil saja. Setelah selesai makan dan keluar menuju ke pendopo, barulah Mbah Putri dan Pak Lik, Bu Lik makan bersama di meja makan besar itu.

Sore harinya diadakan acara kuliner ala Wonogiri. Pak Lik dan beberapa petugas desa, mengajakku pergi ke ladang luas yang terletak di depan rumah Mbah Kaligunting. Di sana mereka mencabut ketela pohon dan ubi jalar bersama-samaku. Di halaman depan rupanya sudah disiapkan api unggun yang besar. Pak Lik bertanya kepadaku, “Kamu mau ubi bakar atau ubi rebus?” Aku langsung menjawab, “Rebus, Lik.”

Tetapi setelah itu aku menjadi penasaran dan berpikir, mana mungkin kita bisa merebus ubi di atas api unggun? Apa yang dilakukan Pak Lik setelah itu sungguh menarik perhatianku. Pak Lik membungkus ubi tersebut dengan daun pisang dengan tebal. Kemudian bungkusan ubi itu dimasukkannya ke bawah bara api, bara yang sudah tertimbun dengan abu berwarna putih. Lalu mengobrol sebentar, tiba-tiba aku menciump bau wangi dari ubi rebus. Setelah daun yang hangus itu di buka, keluarlah ubi seperti habis  dikukus. Rasanya nikmat sekali, luar biasa!

“Gooo..” Tiba-tiba terdengar suara Mbah Kakung berteriak memanggil  ‘Jogo’ (penjaga). Mbah Kakung memerintahkan agar penjaga itu mengumpulkan para Niyaga (penabuh gamelan). Semua yang mendengar itu kelihatan sumringah dan gembira karena mereka tahu artinya malam ini akan ada acara ‘klenengan’, musik instrumental Jawa.

Sore itu juga aku diajak mandi di sungai yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari rumah.  Airnya segar dan jernih. sambil mandi aku membantu Bu Lik, mencari air bersih dengan cara membuat ‘belik’, yaitu menggali lubang di pasir di tepi sungai. Kemudian air yang ada di dalam lubang itu dikeluarkan sedikit demi sedikit, sehingga tersisalah air yang sangat jernih. Air itulah yang kemudian diambil sedikit demi sedikit untuk dibawa pulang ke rumah dengan menggunakan alat yang bernama ‘klenting’, yaitu gentong kecil yang bisa dibawa diatas pinggang. Sungguh pengalaman baru yang menarik buatku.

Malam harinya, pendopo Kepala Desa Kaligunting berubah menjadi meriah dan terang benderang oleh sinar lampu petromaks. Para penabuh gamelan pun berdatangan. Sejak saat itu pula aku mulai fokus kepada para penabuh tersebut. Dengan seksama aku memperhatikan proses mereka mempersiapkan dan membersihkan alat-alat musik gamelan yang beraneka ragam itu.

Kemudian lagu pertama pun dimulai. Aku makin serius memperhatikan, aku belajar bahwa nada musik Jawa berbeda dengan nada musik biasanya. Aku juga mulai mencari-cari, siapa sebenarnya yang menjadi dirigen, yang mengatur cepat lambat dan berakhirnya sebuah lagu. Ternyata dirigennya adalah orang yang bermain alat musik kendang. Si tukang kendang.

Kemudian aku diam-diam dan perlahan mendekat ingin ikut memainkan alat musik itu. Tetapi akhirnya aku lebih tertarik pada alat yang bernama ‘kenong’ yaitu alat yang terbuat dari kuningan, yang bentuknya seperti kue bolu kukus yang atasnya benjol. Selanjutnya aku mengamati bagaimana cara mereka menabuhnya dan juga mempelajari letak nada-nadanya.

Setelah mulai sedikit hafal, aku tinggal mencari lagu yang mudah untuk dimainkan. Kemudian mereka mengalunkan gendhing (lagu) yang berjudul ‘Sampak’. Karena menganggap lagu tersebut agak mudah, aku meminta kepada para penabuh gamelan agar lagu Sampak di mainkan berulang-ulang. Tetapi rupanya orang-orang lain di situ mulai bosan, karena lagu tersebut terus diulang-ulang.

Setelah malam larut, maka usai pula lah acara ‘klenengan’ malam itu. Para penabuh mulai beranjak pulang, lampu petromaks telah dimatikan. Tapi di tengah kegelapan malam itu masih terdengar suara ‘kenong’ yang aku mainkan, lagunya…, Sampak.

Acara terakhirku di tengah malam itu adalah melihat bintang bersama Bu Lik. Malam itu malam yang gelap, tidak ada sinar bulan. Kami berdua berbaring tidur-tiduran di halaman depan di atas selembar tikar, memandang ke atas, ke langit. Bintang-bintang terlihat sangat jelas. Bu Lik mengajariku mencari Bintang Salib Selatan. Dengan menarik garis lurus dari puncak salib ke bawah sampai ke cakrawala, itulah titik arah Selatan. Banyak nama bintang-bintang yang diberitahukan oleh Lik Nik kepadaku malam itu.

Setelah lewat tengah malam menjelang dini hari barulah aku pergi tidur, dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.

Itulah pengalamanku di desa Kaligunting, sebuah desa yang miskin, gersang, tandus dan termasuk desa minus. Tetapi itu adalah desanya Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungku. Seorang kepala desa yang disegani oleh rakyatnya, oleh desa-desa sekitarnya dan oleh keluarganya. Aku sangat kagum akan kesederhanaannya juga atas pengabdiannya sebagai kepala desa di daerah yang sangat minus itu.

Pantas saja anak cucunya seperti ‘diusir’-nya dari desa itu untuk pergi keluar, untuk bertumbuh, berkembang, bersekolah dan hidup dimana pun asal jangan di desa Kaligunting.

Sejak dulu rupanya Mbah Kaligunting punya firasat bahwa desanya itu tidak mungkin akan pernah maju. Dan firasat Mbah Kaligunting itu ternyata benar. Beberapa puluh tahun kemudian, pada tahun 1978, desa Kaligunting lenyap dalam arti kata sesungguhnya, desa itu kini berada di dalam air, di dasar Waduk Gajah Mungkur.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Akar Garis Darah

AKAR GARIS DARAH

BARU beberapa bulan aku tinggal di Wonogiri, ketika suatu pagi saat aku sedang asik bermain di halaman rumah, tiba-tiba datang seorang tamu. Seorang tamu yang kehadirannya membuat aku sangat terkejut, tamu itu adalah Om No!

Ya, aku masih ingat betul bahwa itu adalah Om No, anaknya Mbah Tanjung, Malang. Bukankah jarak antara kota Malang dan Wonogiri ini sangat jauh? Jadi mengapa Om No bisa tiba-tiba muncul disini?

Kami berdua berbincang dan tertawa-tawa bersama mengenang masa saat masih tinggal bersama di Jalan Tanjung Gang Dua Malang dulu, dirumah Mbah Tanjung. Di rumah itu kami hanya berbeda status saja. Aku di situ sejak masih bayi, karena ayah kandungku meninggal dunia, sedangkan Om No adalah anak kandung dari Mbah Tanjung.

Meskipun dulu terkenal bandel dan sering membuliku, tetapi aku tahu bahwa Om No sebenarnya sayang padaku Kami berdua itu memiliki ikatan batin yang kuat. Mungkin juga karena kami berdua memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama suka berpetualang. Contohnya, Om No sering menyelundupkanku ke dalam gedung bioskop, yang filmnya untuk tujuh belas tahun keatas. Sungguh kenangan yang lucu dan seru.

“Ayo ikut yuk ke desa Kaligunting.” Ujar Om No kepadaku. Mendengar ajakan mendadak itu, aku langsung berlari ke kamar mandi dan cepat-cepat berganti baju. Aku takut kalau ajakan itu akan batal, atau dilarang oleh pak Mojo.

Dalam beberapa menit saja aku sudah siap, aku berdiri tegak di samping Om No. Aku sangat yakin bahwa perjalanan bersama Om No kali ini juga akan seru. Walaupun awalnya Pak Mojo menunjukkan sikap agak kurang senang dengan rencana mereka ini, tetapi akhirnya toh kami berangkat juga menuju desa Kaligunting.

Om No dan Ompa akan mengunjungi rumah Mbah Kaligunting, ayah kandung dari ayah kandungku. Konon, Mbah Kaligunting ini adalah seorang kepala desa yang sangat disegani oleh rakyatnya dan juga oleh masyarakat desa-desa sekitarnya. Aku sungguh sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau, Mbah Kaligunting. Ini adalah pertamakalinya aku akan berjumpa dengan Mbah Kakungku sendiri, Mbah Kakung kandungku.

Dengan naik Sepur Kluthuk kami berangkat dari stasiun kereta api Wonogiri menuju ke arah Selatan. Setelah berhenti dan melewati stasiun Nguntoronadi, kereta api ini tiba di stasiun terakhir, yaitu stasiun Baturetno. Kami pun turun di stasiun ini. Di stasiun ini pula lokomotif Sepur Kluthuk dipindahkan dari depan ke gerbong paling belakang, untuk kemudian kereta api akan kembali menuju Wonogiri dan Solo.

Dari stasiun Baturetno ini Ompa dan Om No harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju desa Kaligunting. Kami ditemani oleh seorang bapak dari Baturetno yang juga merupakan anggota keluarga besar Kaligunting. Bapak ini jugalah yang akan menjadi penunjuk jalan bagi Ompa dan Om No.

Kami berjalan menuju ke arah Barat. Setelah sekitar satu jam perjalanan berjalan kaki, kami kemudian berbelok ke arah Selatan. Bapak pengantar itu mengatakan bahwa ia memilih menggunakan jalan pintas, karena kalau berjalan kaki dengan rute biasa akan sangat jauh.

Perjalanan berjalan kaki ini cukup melelahkan, karena hampir semua area yang kami lewati adalah tanah yang tandus dan gersang. Di kanan kiri kami membentang lahan yang kering dengan tanah yang merekah dengan lubang-lubang menganga yang mengerikan.

Menurut bapak pengantar, kita akan menyeberangi dua sungai. Sungai yang pertama merupakan tanda bahwa kita sudah melalui setengah perjalanan, dan di seberang sungai yang kedua itulah letaknya desa Kaligunting.

Sudah hampir tiga jam perjalanan tapi kami belum juga bertemu sungai yang pertama. Walau lelah tetapi aku tetap berjalan dengan penuh semangat. Om No juga tidak mau kalah, ia berjalan lebih tegap dan kemudian mengeluarkan harmonikanya. Ia kemudian memainkan sebuah lagu, lagu perjuangan tentara Amerika seperti di dalam film perang, yang berjudul Halls of Montezuma.

Di sungai yang pertama kami harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Orang sekitar mengatakan perlu berjalan kaki memutar sekitar 20 kilometer untuk bertemu sebuah jembatan penyebrangan. Wah menyeberang sungai dengan masuk ke dalam air ini merupakan pengalaman baru yang seru. Air sungai pertama ini setinggi dada orang dewasa. Aku di gendong bapak pengantar di atas lehernya, kami harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terbawa arus sungai. Pengalaman yang menegangkan, pengalaman seperti inilah yang aku sukai.

Setelah hampir 5 jam berjalan kaki lagi akhirnya tiba juga kami di sungai yang kedua. Nah sungai inilah yang namanya sungai Kaligunting. Cukup lebar juga, sekitar lima puluh meter lebih. Sungai ini juga tidak memiliki jembatan, sehingga untuk menyeberanginya lagi-lagi kami harus berjalan kaki masuk ke dalam air. Beruntung hari itu sungai tidak sedang banjir, sehingga tinggi air hanya sepinggang orang dewasa. Kali ini aku tak lagi digendong di atas leher, cukup gendong belakang di punggung pak pengantar.

Setelah mereka tiba dengan selamat di seberang sungai, aku bisa merasakan dalam hatiku bahwa aku sudah memasuki wilayah desa Kaligunting desanya Mbah Kaligunting, mbah kandungku, akar dari garis darahku, akar dari garis darah Ompa. Hatiku berdebar-debar keras sepanjang sisa perjalanan dari sungai menuju ke rumahnya. Ini luar biasa, aku akan bertemu dengan Mbah Kakung kandungku

Saat akhirnya tiba di rumah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh isi rumah itu terlihat heboh menyambut kedatangan kami.

Kami kemudian langsung duduk beristirahat, karena kelelahan setelah mengadakan perjalanan panjang tadi. Saat itu tiba-tiba aku mulai merasa agak kikuk dengan suasana yang ada. Aku merasa bahwa seisi rumah itu terus memandangiku, seakan ada yang aneh pada diriku.

Tiba-tiba Mbah Kakung berteriak dengan kerasnya, “Degan, degan, penekno degaan. – panjatkan kelapa muda”. Maka dalam waktu tidak lama, belasan kelapa muda disuguhkan, dan kami semua menikmati segarnya kelapa muda, asli desa Kaligunting.

Setelah melepas rasa haus dengan air kelapa muda, akhirnya aku mulai mengerti mengapa orang seisi rumah Mbah Kaligunting ini memandangiku. Hal ini rupanya karena aku adalah cucu dari anak lelaki pertama, dari sepuluh anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Putri berkata kepada Ompa, “Bapakmu dulu lebih ganteng daripada kamu.” Kata-kata itu langsung membuat aku menjadi penasaran ingin sekali melihat wajah almarhum bapak kandungku, tetapi seluruh keluarga di rumah itu kemudian mengatakan bahwa tak ada satupun foto dari ayah kandungku. Aku mendadak menjadi sedikit sedih dan kecewa

Tetapi hari itu sungguh hari yang luar biasa untukku, aku merasa bagaikan seorang ‘tamu kehormatan’ di rumah Mbah Kaligunting. Semua orang seakan ingin melayani aku, termasuk Pak Lik (om) atau Bu Lik (tante). Aku merasakan ‘rasa’ yang berbeda, aku merasa sepeti mendapatkan guyuran kasih sayang dari saudara-saudaraku sepertalian darah.

Hari itu aku juga melihat bahwa Mbah Kakung tidak saja sangat disegani oleh rakyat di desanya, tetapi juga oleh keluarganya sendiri. Dirumah itu Mbah Kakung terlihat “angker” dan sangat berwibawa. Apapun yang diperintahkannya, semua orang tergopoh-gopoh untuk melaksanakannya. Itulah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungnya Ompa, sosok yang sangat berwibawa. Dia lah akar dari garis darahku. Aku terkagum.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑