SEMINGGU SERASA SETAHUN
“No mengundang kita ke Jakarta. Kita berangkat hari Sabtu, minggu depan.” Kata pak Mojo kepada bu Mojo di depanku.
Ayahg angkatku itu mengatakan dengan nada datar saja. Tetapi bagiku, berita tersebut bagaikan suara gelegar letusan gunung berapi.
Dalam pikiranku aku membagi kalimat itu menjadi beberapa bagian. Kata ‘Jakarta’ merupakan kejutan bagiku, karena artinya kami pasti naik Kereta Api Ekspres. Kata ‘berangkat’ adalah sebuah kepastian yang seakan mampu meledakkan dadaku. Sedangkan ‘Sabtu minggu depan’ merupakan rentang waktu menunggu yang akan selalu membangkitkan rasa khawatirku, jadi berangkat atau tidak.
Sejak detik itu, di depan mataku sering terlihat sebuah Kereta Api Ekspres. Jenis kereta inilah yang dulu sering aku lihat di stasiun kota Jombang. Gerbong-gerbongnya yang besar dengan cat yang mengkilat indah. Lokomotifnya yang sebesar rumah, bulat memanjang dengan telinga di samping kiri-kanan kepalanya. Sungguh gagah dan jantan. Kalau terlambat diberangkatkan, dia akan mendengus bagaikan seekor naga hitam. “Josssh..” sambil mengeluarkan asap panas warna putih dari hidungnya.
Pada malam pertama setelah berita mengagetkan itu, tidurku tidak pernah tenang. Aku sering bermimpi dan terbangun karena dikejutkan oleh suara Kereta Api Ekspres yang melintas di depan kamar tidurku. Aku sering terbangun dan menangis, karena dalam mimpiku aku kecewa kehabisan karcis kereta.
Pagi harinya aku bangun dengan kepala terasa berat dan sakit. Nafsu makanku sirna. Sepanjang hari aku kebingungan, tidak tahu apa yang akan kukerjakan. Di hari-hari berikutnya terjadi lagi hal yang sama. Dalam pikiranku berkecamuk kejadian-kejadian yang sangat membingungkan dan penuh kekhawatiran. Aku demikian takut kalau perjalanan ke Jakarta nanti dibatalkan. Semenjak itu aku jarang keluar rumah.
“Kenapa sudah tiga hari ini kamu tidak kelihatan?” Kata Yahmin kepadaku di depan para anggota Gagas, Geng Anak Gragas, di basecamp samping kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Rupanya aku sedang disidang oleh mereka.
Yahmin melanjutkan, ”Lihat mukamu pucat, badanmu kurus seperti orang kurang gizi!” Aku pun berusaha menjelaskan duduk persoalan mengapa aku sering absen. Bahwa aku sedang ‘sibuk’ memikirkan rencana keberangkatanku menuju Jakarta hari Sabtu minggu depan.
Yahmin mencoba menasihatiku ”Kalau mau ke Jakarta, seharusnya kamu menjadi gembira. Tapi kok makin kacau dan kurus begini, itu sakit pikiran namanya.” Sebagai pendiri Gagas, aku tidak boleh kalah berdebat dari Yahmin.
Maka aku mencoba berdalih,
”Min, yang mengganggu pikiranku ini bukan masalah aku akan pergi ke Jakarta, tetapi yang aku takutkan adalah, kalau nanti aku tidak boleh pulang ke Wonogiri karena tenagaku dibutuhkan di Jakarta. Kalau itu terjadi, kalian yang harus terus menjalankan geng kita ini.” Sunyi. Mereka terdiam, tidak melanjutkan perdebatan. Biarlah mereka berpikir sendiri.
Setiap hari aku berharap hari itu adalah hari Jumat, hari dimulainya libur panjang. Di sekolah aku sudah kehilangan konsentrasi belajar. Misalnya kemarin, aku dipanggil oleh ibu guru dan aku mendapat marah besar. Pasalnya aku kepergok sedang menggambar Kereta Api Ekspres pada waktu pelajaran berhitung. Apalagi sewaktu laci mejaku dibongkarnya, terdapat banyak sekali kertas-kertas dengan gambar kereta api. Sementara setiap malam aku masih rutin bermimpi buruk. Sungguh melelahkan. Aku menyesali para orang tua, mengapa mereka sering menjanjikan sesuatu kepada anak kecil terlalu jauh dari harinya. Hal ini membuatku sangat tersiksa. Aku sudah tidak sabar lagi untuk naik Kereta Api Ekspress ke Jakarta!.
Akhirnya, setelah serasa setahun menunggu dan sakit pikiran. Siang itu kami telah berdiri manis menunggu di stasiun kereta api Solo Balapan di kota Solo. Kami menunggu di Spoor Satu (rel nomer satu). Jantungku semakin berdebar-debar menunggu kereta kami yang belum juga datang.
Yang lebih dulu tiba adalah kereta yang masuk di rel nomor dua dan nomor tiga. Aku semakin khawatir dan gelisah. Jantungku berdegup kencang, badanku rasanya panas dingin. Medadak aku melihat Pak Sep Sepur bertopi merah mendekati rel nomer satu. Sambil memandang ke arah Timur, dia meniup peluitnya keras-keras. Dan kemudian masuklah Kereta Api Ekspres itu, berhenti di depan kami, di rel nomer satu. Hatiku lega girang bukan kepalang.
Kami memasuki gerbong mewah tersebut dan duduk diatas kursi yang sangat empuk. Aku masih merasa tak percaya ini semua nyata. Dengan tertib para penumpang masuk ke dalam gerbong. Masing-masing penumpang punya tempat duduk sendiri, tidak ada yang berdiri maupun duduk di lantai.
Tak lama kemudian keretaku mulai bergerak pelan dengan sangat lembut, hampir tak ada hentakan sama sekali. Dalam waktu singkat kereta api ekspress sudah melesat cepat, tanpa terasa adanya goncangan yang kasar.
Seperti biasa mataku mulai melihat berkeliling dan mulai mengamati. Gerbong kami ini terlihat sangat indah, bersih dan berbau wangi. Begitu juga para penumpangnya, berpakaian bagus rapih serta beraroma parfum harum. Aku berusaha keras untuk bisa menoleh ke kiri dan ke kanan sambil tetap duduk diam dan bersikap sopan.
Tiba-tiba di sampingku melintas seorang pelayan membawa baki makanan. Maka terciumlah bau harum masakan yang sepertinya sangat lezat. Hampir saja aku melompat dan mengintip isi baki tersebut. Tetapi kemudian sadar dan aku duduk sopan dan tenang. Aku harus bersikap seperti anak orang kaya sekarang. Karena aku adalah penumpang Kereta Api Ekspress!
Tiba-tiba aku merasakan sebuah perasaan yang sangat lega. Walau serasa seperti setahun, penantianku seminggu ini telah usai. Impianku sudah menjadi nyata. Goyangan lembut Kereta Api Ekspres ini, membuat mataku mulai meredup. Sebelum tertidur, didalam hati, aku mengirimkan salam untuk sahabatku, si Sepur Kluthuk. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
