Cari

Antonius Sutedjo

Tag

kramat pulo

Tata Krama

TATA KRAMA

Aku bersyukur bisa tumbuh sebagai anak yang cukup diberi kebebasan. Bebas bermain di luar rumah dan bebas berpetualang. Orangtua hanya mengharuskanku untuk sudah berada di rumah lagi saat hari menjelang petang dan pada waktu-waktu tertentu, misalnya waktu makan.

Dengan kebebasan seperti itu hidupku menjadi bersemangat dan bergairah. Aku selalu ingin mengamati dan menyelidiki apapun yang terjadi di sekelilingku, terutama yang menarik perhatianku. Tetapi ada satu hal yang menjadi kerisauanku, yaitu yang menyangkut masalah ‘tata krama’. Soal tata krama ini seakan menjadi momok yang menegangkan buatku.

Liburan panjang sekolahku, SDN Tiga Wonogiri telah dimulai. Sesuai rencana, aku bersama kedua orangtua angkat ku berangkat ke Jakarta, naik Kereta Api Ekspres yang telah lama aku impi-impikan. Kereta api ini memang jauh lebih mewah dan nyaman dibanding dengan sepur kluthuk yang kumuh itu.

Baru saja lima menit aku duduk di kursi empuk itu saat aku tersadar bahwa ternyata di dalam kereta ini aku tidak bisa bergerak bebas sesuka hatiku seperti di dalam sepur kluthuk. Aku mulai merasa tidak betah. Aku heran, mengapa anak-anak lain di dalam gerbong itu bisa duduk dengan tenang, mematung. Sebaliknya mungkin mereka juga merasa heran melihat aku, anak yang tidak bisa diam dan selalu bergerak. Aku merasa aku harus duduk tenang dan sopan sebagaimana layaknya anak orang kaya penumpang Kereta Api Ekspres lainnya. Mungkin begitulah tata krama dalam jenis kereta ini.

Sebenarnya aku hanya penasaran pada satu hal yang sangat menarik perhatianku di kereta ini. Yaitu kepada pelayan yang mondar mandir membawa baki makanan. Setiap kali dia lewat selalu saja menebarkan bau sedap makanan yang berbeda. Aku bertanya-tanya dari mana makanan itu berasal. Aku harus segera menemukan akal agar bisa meninggalkan tempat dudukku. Aku harus segera mencari tahu tentang hal ini. Rasa ingin tahuku sudah menggelora.

“Bu, aku mau pipis”, kataku kepada Bu Mojo di sampingku. Dengan gaya badanku yang bergerak-gerak seakan untuk pergi ke kamar kecil sekarang ini adalah hal yang mendesak dan mutlak, aku berdiri dan berlari meninggalkan kursi empukku. Setelah keluar dari kamar kecil, aku tidak kembali ke kursiku. Diam-diam aku mengikuti pak pelayan yang membawa nampan kosong itu.

Setelah menyusuri gerbong-gerbong yang bersih berbau wangi itu, sampailah aku di sebuah gerbong yang menurutku aneh. Setengah dari gerbong itu tertutup rapat dan dipakai sebagai dapur. Rupanya dari gerbong inilah asalnya semua makanan-makanan itu. Ketika aku melihat sisi lainnya, terdapat beberapa kursi dan meja seperti di restoran. Aku takjub dan terpana, ada sebuah restoran di dalam sebuah kereta api! Cukup lama aku duduk di situ sambil mengamati orang-orang yang sedang makan di restoran itu. Gerbong khusus itu bernama gerbong restorasi.

Tetapi tak lama kemudian aku tersadar dan segera bergegas kembali ke kursiku. Dalam hati aku merasa bersalah, aku telah “mencuri lihat gerbong” restorasi tanpa ijin. Apakah aku telah melanggar tata krama sebagai penumpang Kereta Api Ekspres? Aku merasa takut dan tak enak hati.

****

Pagi itu Om No mengajakku berkunjung ke rumah seorang tanteku yang tinggal di bagian Selatan Jakarta. Cukup jauh dari rumah Om No di Kramat Pulo di mana aku tinggal selama liburan panjang sekolahku. Om No meninggalkanku di rumah tanteku itu, karena rencananya aku akan menginap di situ.

Tanteku itu menikah dengan seorang pejabat tinggi pemerintah. Rumahnya besar, bersih dan rapih. Aku berkesimpulan bahwa keluarga tante merupakan keluarga yang memiliki gaya hidup orang berada dan berpendidikan tinggi. Hidupnya tertib, berdisiplin dan menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama. Mereka semua bersikap baik terhadapku.

Saat tiba waktunya makan siang, kami semua duduk di sekeliling meja makan yang telah tertata rapi. Di sisi piring porselen yang indah itu tersedia sendok dan garpu berlapis perak yang mengkilat. Nasi putih serta lauk pauknya pun membangkitkan selera. Tanpa sengaja mataku tertuju dan terpana pada ayam goreng di atas baki lebar yang berada tepat di depanku. Dalam hati aku langsung menimbang-nimbang akan memilih paha atau dada sambil memandangi ayam goreng itu. Tiba-tiba aku terkejut dan sadar bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang melihat ke arah makanan di meja. Tante dan anak-anak sedang menghadap lurus ke arah ayahnya yang sedang berbicara.

Akhirnya acara makan bersama pun dimulai. Aku mendapatkan paha ayam goreng, memang itulah yang aku harapkan. Aku pun makan menggunakan sendok dan garpu dengan sangat hati-hati. Mengapa? Karena selama kami makan itu, aku tidak pernah sekalipun mendengar suara dentingan sendok atau garpu mereka yang terantuk ke piring. Bagiku hal itu sangat tidak biasa dan tak mudah untuk dilakukan.

Keringat dinginku terasa hampir mengucur. Meskipun dengan susah payah, akhirnya aku berhasil makan tanpa bunyi. Di ujung acara makan bersama yang bagiku sangat menegangkan itu, aku dengan sengaja menyisakan tulang paha ayamku. Ini memang kebiasaanku, tulang ayam ini akan kujadikan sebagai “gong”. Potongan ini akan kumakan setelah nasiku habis. Lalu kemudian aku gigit tulang rawan yang berwarna putih merangsang itu, krek!.., suaranya keras memecah keheningan.

“Haaahh!?….,” tiba-tiba terdengar suara mereka bagaikan koor. Semua mata di sekeliling meja makan itu melotot, memandangku seakan aku ini makhluk yang menjijikkan. Aku menunduk dengan sangat sangat malu. Rupanya aku telah melakukan pelanggaran berat atas tata krama di meja makan tersebut.

Detik itu juga, aku memutuskan untuk batal menginap di rumah tanteku itu. Begitu berat aku menanggung malu. Aku minta ijin untuk pulang. Tanteku berusaha menahan aku untuk tetap menginap, tetapi aku bersikukuh untuk pulang ke rumah Om No. Aku katakan kepada mereka, bahwa aku bisa pulang sendiri tanpa diantar, aku sudah biasa bepergian sendiri ke mana-mana. Akhirnya mereka mengalah, namun karena mereka merasa bertanggung jawab atas diriku, akhirnya si Om mengantar aku pulang ke rumah Om No di Kramat Pulo.

Saat aku berjalan masuk ke dalam rumah, Om No terkejut tetapi langsung berkata, “Udeh??.” Aku menjawab dengan suara lebih keras,”Udeh!!!” lalu kami pun tertawa keras-keras. Tanpa bertanya, Om No sudah tahu mengapa aku pulang. Aku kembali ke habitatku, sebagai anak petualang yang bebas lepas. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

Suara

SUARA

Ya, suara. Buat anak-anak sepertiku yang berasal dari kota kecil, suara hiruk pikuk kota Jakarta ini sungguh menakjubkan.

Sudah beberapa hari ini aku, Pak Mojo dan bu Mojo tinggal menginap di Jalan Kramat Pulo ini. Suara-suara dari suasana sekitar rumah Om No ini sangat menarik perhatianku. Berbagai macam jenis suara baru berhasil aku tangkap di kota ini. Suara-suara yang hampir tak pernah kudengar di kota asalku, Wonogiri. Saat malam hari pun suasana sekitar Kramat Pulo ini yang sungguh meriah, padat dengan bermacam suara.

Gubraakk..” Lagi-lagi aku dikejutkan oleh suara itu . Aku segera berlari menuju sumber suara tadi. Benar, tabrakan becak lagi. Tabrakan becak ini adalah yang kedua kalinya yang terjadi malam ini. Kembali aku menyaksikan berlangsungnya “adu mulut” antara kedua tukang becak, termasuk para penumpangnya. Ramai dan seru. Konon memang kejadian ini sering terjadi di Kramat Pulo.

Menurut pengamatanku, Jalan Kramat Pulo ini selalu ramai dari pagi hingga tengah malam. Jalan ini memang merupakan jalan pintas bagi kendaraan yang datang dari arah timur Senen yang akan menuju ke Kramat. Suara ribut ramai riuh rendah yang setiap hari terdengar itu umumnya berasal dari suara bel becak yang bermacam-macam bunyinya.

Ada yang berbunyi klining klining, jreng jreng atau jrek jrek, ada yang dok dok (asal pukul belakang bak becak), ada pula yang reketek, reketek, reketek.. Suara yang terakhir ini berasal dari alat pukul bel becak yang dimasukkan ke dalam jeruji roda. Dan uniknya, suara ribut itu kadang diselingi dengan suara, gubraak! Tabrakan becak.

Ada lagi suara lain yang juga menarik perhatianku. Yaitu suara nyaring, melengking bernada sangat tinggi dan “meliuk-liuk” dari penyanyi perempuan India. Suara itu makin jelas jika aku duduk sendirian di samping gedung bioskop Rivoli yang menghadap ke Jalan Kramat Raya. Dari dalam gedung bioskop itulah sering terdengar suara yang penyanyi India itu. Suara film India yang bocor keluar bioskop.

Bioskop Rivoli terkenal karena sering memutar film India. Bahkan gara-gara sering mendengar lengkingan suara penyanyi India itu, yang tajam bagaikan sembilu dan menyayat hati, sekarang aku memiliki dua jenis film favorit. Yaitu film perang dan film India.

Film India bagiku sangat menarik. Selalu menghibur. Dalam satu judul film saja, isinya lengkap. Ada tarian, nyanyian, kisah percintaan, sampai pertentangan budaya antara budaya modern dan asli India.

Saat itu sudah hampir pukul dua belas tengah malam. Aku belum bisa tertidur. Aku masih duduk di depan rumah Om No. Suara-suara di Jalan Kramat Pulo masih ramai. Ada suara becak, suara orang berjualan makanan, dan ada lagi suara sekelompok laki-laki yang duduk mengobrol dan berbicara keras-keras. Menarik dan aneh, karena sebenarnya mereka duduk saling berdekatan di sebuah warung.

Aku berjalan menuju ke warung, sumber suara itu, aku duduk di sebelah Pak Jali, penjaga keamanan di daerah ini.Usia Pak Jali sudah agak tua. Pendiam namun berwibawa. Ia orang Betawi asli. Oleh karena itu banyak orang memanggilnya babe (ayah).

“Be, kenapa mereka ribut sih, babe ngga tegur?”, tanyaku. Pak Jali menjawab dengan tenang, “Biarin aje die-die ribut, asal kagak ganggu keamanan. Die-die itu pendatang, bukan Betawi asli.” Melihat aku asik mendengar dan tertarik dengan penjelasannya, Pak Jali lalu melanjutkan penjelasanya. Ia mengatakan bahwa di Jakarta ini semakin banyak pendatang. Mereka datang dari berbagai daerah, ada yang dari Jawa, ada yang dari seberang pulau.   Pak Jali juga menjelaskan bahwa ia bisa membedakan mana yang dari Jawa dan mana yang dari “seberang”. Caranya? Yaitu dengan mendengarkan suara gaya mereka berbicara. Ada yang halus, ada yang keras meledak-ledak. “Jadi ya biar saja. Inilah Jakarta.”, kata Pak Jali yang orang Betawi asli.

Hampir sudah jam dua dini hari. Kantuk mulai datang, aku berjalan pulang. Suara-suara di Jalan Kramat Pulo pun sudah mulai sepi. Di kesunyian itu aku jadi teringat akan pesan teman-teman sekolahku di SD Negeri Tiga di Wonogiri, ”Nanti, setelah pulang dari Jakarta, kamu harus cerita banyak, ya.” Hal ini yang mendorongku juga untuk mengisi liburan panjang ini dengan lebih banyak lagi berpetualang di Jakarta. Malam ini aku punya tambahan cerita untuk mereka semua, tentang suara.

Hampir pagi, aku harus tidur. Besok siap berkelana lagi, dengan Trem Listrikku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑