NAIK PERINGKAT SATU GENERASI
SAAT meninggalkan rumah Mbah Tanjung di kota Malang dan pindah ke kota Mojokerto, aku masih sekolah di Taman Kanak-kanak. Aku secara resmi telah diangkat sebagai anak oleh Mbah Mojo. Karena statusku sudah resmi menjadi anak Mbah Mojo, maka terjadi kekacauan dalam silsilah di keluargaku. Perubahan status ini berdampak besar pada diriku.
Sewaktu di Malang, biasanya aku memanggil anak-anak Mbah Tanjung dengan panggilan Om, seperti Om No dan Om Nu. Tetapi, setelah statusku menjadi anak Pak Mojo, maka mulai saat itu aku tidak boleh lagi memanggil mereka dengan panggilan Om. Aku harus memanggil mereka dengan Mas, Mas No dan Mas Nu. Jika aku sampai salah memanggil mereka, maka Pak Mojo akan marah besar.
Pak Mojo sangat keras dalam perkara panggilan ini. Demikian juga kepada seluruh anggota keluarga besar yang lain, aku diwajibkan memanggil mereka dengan cara yang baru. Sebenarnya hal ini membuat aku merasa seperti naik peringkat satu generasi, tetapi hal ini malah seringkali membuatku menjadi bingung. Pak Mojo tetap bersikeras meminta supaya panggilan kepada mereka diubah. Sementara keluarga besar lainnya seakan “tidak rela” dengan perubahan sistem panggilan ini. Mbah Tanjung menjadi Pak Tanjung. Om Nu menjadi Mas Nu. Yang semula Tante, berubah menjadi Mbak, dan seterusnya dan seterusnya.
Lucunya adalah keadaan pada saat tidak ada Pak Mojo di sekitar kami, semua panggilan akan kembali ke panggilan yang semula. Karena memang mereka menghendaki bahwa panggilan terhadap keluarga besar itu, tidak perlu diubah, tetap sama seperti saat aku belum diangkat anak oleh Pak Mojo.
Ketika ada keluarga besar datang berkunjung ke Mojokerto, sering terjadi keributan. Kalau aku salah memanggil mereka dengan sebutan yang lama, maka Pak Mojo akan marah besar. Marah baik kepadaku maupun kepada keluarga.
Keributan-keributan seperti ini membuat aku bingung dan merasa apatis jika menyangkut hubungan antar-keluarga. Memang beberapa anggota keluarga yang lain mengganggap kekisruhan ini sebagai hal kecil yang lucu dan biasa saja. Tetapi, bagiku, ini adalah hal yang sangat serius.
Suatu hari di rumah Mbah Mojo, kami saling memanggil dengan cara lama. Om ya Om, tante ya tante. Tetapi, tiba-tiba di antara mereka ada yang mengatakan, “Awas-awas, ada Pak Mojo!” Kami sempat panik, tapi kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
Seringkali juga aku mendapat wejangan panjang lebar dari Pak Mojo, mengenai statusku di dalam keluarga besarnya. Maksud Pak Mojo, agar aku tidak salah dalam menyebut panggilan baru itu. Pak Mojo menjelaskan dan memberi contoh. Misalnya, kepada si ‘ini’ aku harus panggil ‘Mas’. Kepada si ‘itu’ sekarang harus panggil ‘Nak’, si ‘ini’ sekarang harus dipanggil ‘Pak’, begitu seterusnya. Sungguh membingungkan!
Sebenarnya aku merasa malas dan jengkel perkara perubahan nama panggilan ini. Tetapi, nyatanya perkara yang membingungkanku ini berlangsung terus.
Ya begitulah, mungkin hal ini terlihat kecil dan biasa untuk orang lain, tetapi tidak bagiku.
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi
