MAHASISWA NYOJO
“Anak lelaki Pak Kerto diterima menjadi mahasiswa di Jogja!” Demikian berita heboh yang tersiar hari itu. Peristiwa kecil ini pun membuat aku tertarik untuk mengamatinya.
Keluarga Kerto (bukan nama sebenarnya) adalah keluarga yang sederhana, seperti keluarga kebanyakan yang tinggal di Wonogiri. Mereka bergaul seperti layaknya kebiasaan masyarakat di sini, sehari-hari saling berkunjung dan bersilahturahmi satu dengan yang lainnya. Biasa saja.
Begitu tersiar kabar bahwa anaknya diterima sebagai mahasiswa Nyojo (sebutan lain untuk kota Jogjakarta), hal itu membuat sebuah perubahan. Keluarga Kerto menjadi lebih sering dikunjungi oleh para kerabat dan tetangganya. Orang-orang banyak datang berkunjung untuk mengucapkan selamat.
Disamping itu, mereka juga menyampaikan pujian dan sanjungan kepada pak Kerto dan bu Kerto. Awalnya terlihat Pak Kerto dan isterinya berusaha tetap merendahkan dirinya, tetapi puji-pujian dan sanjungan itu datang bertubi-tubi menghujani mereka dari segala penjuru. Lama kelamaan hal ini ternyata juga membawa perubahan juga terhadap sikap Pak dan bu Kerto.
Belakangan ini cara Pak Kerto kelihatan berjalan lebih tegak dibanding sebelumnya. Kini ia pun menjadi lebih rajin menyalami siapapun yang ditemuinya. Bu Kerto juga menjadi lebih sering berkunjung ke rumah tetangga dan rajin menghadiri pertemuan ibu-ibu. Mungkin karena ia begitu menikmati puji-pujian dan sanjungan dari para tetangganya.
Aku mengamati dan berpikir, ternyata besar juga pengaruh dari arti ‘mahasiswa Nyojo’ ini bagi lingkungan kami. Aku jadi teringat pada ‘ndoro dokter’. Sebelum menjadi dokter ia pun juga harus menjadi seorang mahasiswa. Jadi menurutku mahasiswa adalah calon dokter, atau mahasiswa adalah setengah dokter. Jadi mahasiswa adalah setengah ndoro! Sedangkan status sosial seorang ‘ndoro’, di masyarakat Wonogiri adalah lebih tinggi daripada orang kebanyakan. Kalau semua ini benar, maka bisa dimengerti jika derajat keluarga Kerto sekarang jadi meningkat.
****
Pada suatu pagi, ada perubahan besar di rumah kami. Pak Mojo mendatangkan beberapa tukang untuk merombak kamar tidur tamu rumah kami. Bagian dalam kamar itu, dibersihkan dan temboknya di cat ulang. Tempat tidur, meja tulis dan kursi-kursinya semua di ganti. Wah, kamar itu menjadi lebih indah.
Pak Mojo juga memerintahkan kepada Bu Mojo untuk mengganti seluruh menu makanan di rumah.
“Mau ada apa ini pak”. Pelan-pelan aku bertanya ke pak Mojo.
Pak Mojo menjawab: “Mau ada tamu mahasiswa Nyojo!” kata pak Mojo serius. Aku jadi penasaran, macam apa sih yang namanya mahasiswa Nyojo ini.
Beberapa hari kemudian sang mahasiswa pun tiba. Orangnya memang gagah, masih muda dan kelihatan sekali ia adalah orang kota dan bisa jadi adalah anaknya orang kaya. Saat datang dan memasuki kamar tamu kami, ia agak sedikit canggung dan kurang nyaman. Padahal, menurutku, kamar itu sudah sangat bersih dan bagus karena Pak Mojo sudah habis-habisan merombak kamar itu, bahkan berikut perabotannya.
Kepada Pak Mojo pun ia tidak banyak bicara, hanya seperlunya saja. Setiap hari ia banyak berdiam diri di dalam kamar dan keluar hanya untuk mandi dan pada waktu makan saja. Aku sudah dua kali mencoba menyapanya, tapi ia cuek saja. Mungkin memang ia sangat sibuk atau tidak terlalu suka kepada anak kecil. Jadi sejak itu, sosoknya pun terhapus dari perhatianku.
Setelah lima hari menginap, akhirnya sang mahasiswa Nyojo ini pun pergi, meninggalkan kamar tamu yang indah itu. Dan menu makanan di rumah pun kembali seperti semula, sederhana. Aku menjadi yakin, begitu besar pengaruh seorang mahasiswa Nyojo di lingkungan dan masyarakat kami.
****
Di bagian lain kotaku ini tinggalah seorang ndoro, Ndoro Dono (bukan nama sebenarnya). Ia termasuk salah satu orang penting dan terpandang di kota ini. Ia memiliki empat orang anak gadis, semuanya cantik-cantik. Karena kecantikannya, mereka menjadi perhatian dan sering menjadi bahan pergunjingan masyarakat di kota ini.
Sudah menjadi rahasia umum juga di masyarakat Wonogiri bahwa anak perempuan sulungnya sering berganti-ganti pacar. Pacar-pacarnya adalah lelaki lokal Wonogiri, dari kalangan biasa-biasa saja. Para ibu sering merasa khawatir akan hal ini. Mereka takut kalau-kalau si cantik ini akan salah pilih dalam mencari pasangan hidupnya.
Sampai akhirnya, tersiar sebuah berita, bahwa putri pertama dari ndoro itu akan bertunangan. Masyarakat sekitar bertanya-tanya, siapakah lelaki yang akhirnya akan mempersunting puteri cantik ini?. Tetapi kemudian seluruh masyarakat merasa lega dan bersyukur, karena calon suami sang puteri itu adalah seorang mahasiswa dari Nyojo.
Maka aku pun semakin percaya dan yakin bahwa status ‘mahasiswa nyojo’ itu memiliki peran penting dalam masyarakat di sekitarku. (*)
*Cerita ini kupersembahkan untuk para mahasiswa dan alumni UGM.
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
*Cerita ini kupersembahkan untuk para mahasiswa UGM.
