NI HAO
Setiap kali aku naik trem listrik ke jurusan Utara Jakarta, aku sering melihat ada beberapa penumpang yang berbicara menggunakan bahasa yang asing bagiku. Kadang bernada tinggi, kadang bernada rendah. Turun naik. Aha.., ini rupanya bahasa Mandarin yang terkenal itu. Yang menarik perhatianku adalah mereka selalu turun atau naik dari halte yang sama, halte di daerah Glodok.
Suatu pagi aku naik trem listrik menuju ke Utara. Rencananya aku hendak melihat laut lagi. Namun, belum lagi aku sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, trem baru sampai di halte ujung kali Ciliwung, tiba-tiba aku ingin segera turun dari trem dan menyelidiki daerah itu. Aku pun turun.
Aku mulai berjalan menyusuri Jalan Pancoran, Kota. Dan sampailah aku di Pasar Glodok. Aku berjalan melewati jalan-jalan kecil dan memasuki gang-gang yang sangat banyak di daerah itu. Rupanya aku telah memasuki wilayah Pecinan yang sangat luas. Di wilayah ini sebagian besar penduduknya adalah orang warga keturunan Tionghoa.
Aku tertegun karena begitu banyaknya pemandangan baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku seperti berada di dunia lain, seperti sedang bermimpi. Tetapi aku sadar bahwa ini nyata dan sangat menarik untuk diamati dan diselidiki. Aku membatin, aku pasti bakal mempunyai bahan cerita yang hebat untuk kuceritakan ke teman-teman SD ku di Wonogiri nanti.
Aku berdiri di ujung sebuah jalan kecil yang penuh orang lalu-lalang. Mereka adalah orang-orang keturunan Tionghoa. Itu terlihat dari kulitnya yang berwarna kuning dan bermata sipit. Mereka berbicara dengan suara keras tapi dengan nada suara meliuk-liuk seakan sedang bernyanyi.
Setiap kali berpapasan, mereka saling menyapa dengan kata “Ni hao” atau terkadang “Ni hao ma”. Karena seringnya mendengar kata itu diucapkan, maka aku menyimpulkan sendiri, bahwa itu adalah kata sapaan, seperti kata “halo” atau “apa khabar?”. Setelah suku kata “ni” yang bernada tinggi, kemudian menukik dengan halusnya ”hao” yang bernada lebih rendah, sehingga kata itu menjadi merdu suaranya serta menunjukkan keramahan dari orang yang mengatakannya.
Orang-orang ini berjalan kaki dengan sangat cepat, semua tampak sibuk. Di kiri kanan jalan itu terdapat rumah-rumah tua bertembok kokoh. Ada beberapa rumah yang memiliki dua lantai, biasanya lantai dasar digunakan untuk toko atau restoran.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesuatu, ada seseorang bapak setengah tua, kurus, yang terseok-seok menarik sebuah gerobak. Gerobak itu berisi penuh dengan kaleng-kaleng besar berisi air bersih. Apa yang kulihat itu merubah pandanganku selama ini tentang orang Tionghoa. Dulu temanku pernah mengatakan bahwa semua orang Tionghoa adalah orang kaya dan berkecukupan. Kalau bukan seorang pengusaha, ya setidaknya memiliki toko. Namun dari apa yang kulihat sekarang, orang Tionghoa ini adalah seorang penarik gerobak air. Berarti selama ini pandanganku salah, ternyata tidak semua orang Tionghoa itu kaya raya, tapi ada juga yang bukan orang berada.
Di sepanjang jalan itu pula aku melihat banyak papan nama yang menggunakan tulisan berhuruf cina yang bagaikan lukisan, cukup rumit.
Sambil beristirahat aku duduk di pinggir jalan di dekat sebuah sebuah toko. Rupanya itu adalah sebuah toko obat. Aku mulai mengamati toko ini. Tadinya kukira itu adalah sebuah apotek biasa. Namun ternyata apotek ini bukan menjual obat biasa, tapi “obat ramuan Cina”.
Di dalamnya terdapat berderet toples-toples yang berisi bermacam-macam akar, biji-bijian, daun dan kayu yang sudah di keringkan. Menempel di dinding ada sebuah lemari kayu yang panjang. Bagian depannya terdiri dari puluhan laci-laci kecil. Setiap kotak laci itu berisi bahan-bahan untuk ramuan obat.
Si engkoh, penjaga toko obat itu menerima kertas resep, resepnya ditulis dengan huruf Cina. Si engkoh lalu membaca resep tersebut dan mulai membuka laci-laci obat dan mengambil bahan-bahan ramuan sesuai yang ditulis di resep. Bahan ramuan itu lalu ditimbang menggunakan timbangan yang unik, yaitu berupa tongkat kecil yang ditengahnya diberi tali yang ujungnya dipegang oleh si engkoh. Di kedua ujung tongkat itulah diletakkan alat penimbang dan bahan ramuan obat. Sebetulnya mungkin obat itu juga disebut jamu, karena bahan-bahannya terdiri dari tumbuh-tumbuhan, yang biasanya harus diseduh dengan air mendidih. Dari sisa air yang berisi ramuan itulah yang diminum.
Kemudian perhatianku berpindah ke warung makan yang banyak terdapat di jalan kecil tersebut. Kebanyakan dari mereka berjualan mie. Aku melihat ada dua orang lelaki yang duduk ngobrol di warung mie di seberang jalan. Kemudian mie pesanannya pun keluar. Mereka lalu mengambil sumpit, yaitu dua batang bambu atau kayu kecil untuk makan. Kemudian mereka mulai makan. Diangkatlah satu kaki mereka ke atas bangku. Sambil mengaduk-aduk mie yang masih sangat panas itu, mereka juga menuangkan sambal ke dalam mangkok.
Dengan menggunakan sumpit, mie yang masih mengepulkan uap panas itu diambilnya dan dimasukkan ke mulutnya. Kemudian, inilah bagian yang seru. Mie yang panas itu seakan dihisapnya tanpa putus, sambil dibantu dengan sumpit yang mendorong mie dari mangkok ke mulutnya dengan cepat. Luar biasa. Dalam waktu singkat mangkok itu pun kosong.
Aku melihat, mereka itu bukan hanya makan enak, tetapi juga makan nikmat. Itu terlihat dari cara mereka menikmati makanan itu dengan satu kakinya diangkat di atas bangku. Setelah makan, wajah mereka kelihatan puas, keringatnya bercucuran.
Menurutku makan enak dan makan nikmat itu berbeda. Aku jadi teringat di desa-desa di Wonogiri, di desa Mbah ku di Kaligunting, atau di rumah keluarga para anggota geng ku, Geng Anak Gragas, yang putra daerah Wonogiri. Bagi mereka, yang dinamakan makan nikmat itu bukan duduk di kursi, atau di bangku, tetapi mereka berjongkok di atas lantai, dan cara makannya menggunakan tangan. Aku pernah mencoba makan sambil jongkok, memang cepat kenyang. Tapi ketika selesai makan, begitu berdiri sudah lapar lagi. Makanya di daerah Wonogiri terdapat istilah, “mindo”. Yang artinya makan yang kedua setelah makan siang. Biasanya sekitar jam tiga siang.
Aku melanjutkan perjalananku keluar masuk gang di daerah Pecinan itu. Jalan tersebut banyak dihiasi dengan lampion berwarna merah yang digantung di atas jalanan atau di depan rumah. Tiba-tiba aku mendengar suara alat musik, biola. Suaranya sangat merdu dan mendayu-dayu.
Kulihat ada seseorang kakek yang sedang menggesek biolanya dengan penuh perasaan sambil berjalan mondar-mandir di teras rumahnya. Aku berhenti untuk memperhatikan si kakek sambil kunikmati permaiannya. Kakek itu tidak peduli dengan suara hiruk-pikuk di sekitarnya. Semua orang memang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Tetapi aku yakin, telinga mereka pasti menikmati juga gesekan biola si kakek yang mungkin sedang melantunkan sebuah lagu klasik dari Tiongkok sana. Aku pun melanjutkan perjalananku
Aku mendengar suara di kejauhan. ”Jreng,jreng,jreng..”. Suara itu bertalu-talu. Aku segera berlari menuju suara itu. Aku menyangka ada pertunjukan “leang leong” seperti yang dulu aku pernah lihat di kota Malang. Leong adalah tiruan ular naga yang kepalanya sangat menyeramkan, sedangkan badannya sangat panjang, yang terbuat dari kain yang bergambar, sisik kulit naga. Leong itu di angkat dengan menggunakan tongkat oleh beberapa orang.
Aku terus berlari ke arah sumber suara itu. Ternyata suara ribut itu datangnya dari dalam sebuah gedung. Ketika aku masuk ke dalam, aku sedikit kecewa, karena ternyata tidak ada apa-apa, mereka hanya sedang latihan musik saja.
Di gang berikutnya, aku mencium bau seperti kemenyan di desa-desa di Jawa. Tetapi rupanya itu bau wangi dari sejenis dupa, yang mereka sebut hio. Hio adalah sebuah tongkat kecil sebesar lidi yang dilapisi dengan sejenis bahan wewangian yang dikeringkan. Kalau hio itu dibakar di ujungnya, lidi tersebut akan mengeluarkan asap yang berbau wangi.
Bau wangi ini datang dari sebuah bangunan yang bercat merah, namanya Klenteng. Klenteng, yang atapnya melengkung-lengkung indah itu adalah tempat orang cina bersembahyang. Yang menarik perhatianku, di dalam klenteng itu banyak sekali lilin berwarna merah, dengan tulisan berhuruf cina. Lilin itu bermacam-macam besarnya. Bahkan ada lilin yang sebesar pohon kenari seperti yang ada di kebon kosong diseberang sekolahku, di Wonogiri.
Daerah pecinan ini begitu sangat luas. Kalau ingin melihat seluruhnya mungkin tidak akan cukup dua hari, pikirku. Aku merasa lelah, tetapi aku puas dengan petualanganku hari ini. Aku kemudian duduk sendirian di atas tempat duduk dari batu yang berada di luar klenteng.
Ketika aku sedang asik mengamati orang-orang yang keluar masuk klenteng untuk bersembahyang, segerombolan anak-anak Tionghoa yang mengerumuniku. Aku kaget, mereka adalah sebuah geng, geng anak-anak Tionghoa. Itu kelihatan dari pakaiannya dan badannya yang kumuh. Aku tertawa dalam hati setelah aku melihat bahwa geng ini juga ada pemimpinnya. Ia memakai tongkat. Persis seperti Cacak, pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang .
Dulu aku adalah juga anggota semacam itu, anak buahnya Cacak. Aku baru sadar, mereka mengira aku adalah anggota geng lain di daerah pecinan itu. Mungkin karena mataku yang memang juga agak sipit dan pakaianku yang juga lusuh. Mereka menunjuk-nunjuk padaku sambil berbicara bahasa Mandarin. Sambil tersenyum, aku berkata kepada mereka, ”Mbuh, ora weruh!”—entah, aku tidak tahu! Mereka terlihat kaget dan saling memandang satu dengan yang lain. Akhirnya mereka pergi meninggalkanku lalu melanjutkan perjalanan mereka sambil berkata ”buh,buh,buh..”.
Hari sudah sore, aku kembali pulang ke rumah di Kramat Pulo, tempat aku dan kedua orangtua angkatku menginap di Jakarta ini. Di atas tangga trem listrik yang melaju pelan itu, aku berlatih mengucapkan kalimat sapaan yang baru aku dengar hari itu. Aku tersenyum puas, sepertinya aku sudah bisa mengucapkannya dengan baik dan benar. Sebuah kalimat terpenting di dalam bahasa Mandarin. Ni hao. (*)
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
