Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Ompa

Mainan Anak Perang

wpid-img-20150831-wa0125-01.jpeg

MAINAN ANAK PERANG

TENTARA Belanda telah pergi meninggalkan Wonogiri. Suasana damai, aman, tenteram dan nyaman mulai terasa lagi di kota ini. Gunung Gandul tetap tegak berdiri dan siap untuk didaki. Mbok-mbok bakul pun mulai meramaikan lagi Pasar Wonogiri dan juga memeriahkan suasa jalanan di depan rumahku, di Jalan Jurang Gempal.

Tetapi benarkah itu semua? Ternyata tidak. “perang lain” ternyata baru saja akan dimulai. Semua harus mempersiapkan diri karena Belanda akan kembali datang. Itu lah yang ada di dalam pikiran kami, aku dan anak-anak Wonogiri anggota GAGAS (Geng Anak Gragas).

Maka secara hampir serentak muncullah “tentara-tentara kecil” di seluruh Wonogiri. Mereka mereka memperlengkapi diri dengan “senjata”masing-masing.

Sementara itu senjata kegemaranku adalah senjata otomatis laras panjang. Senjata itu buatanku sendiri, yaitu terbuat dari tulangan daun pisang, yang di kiri-kanannya di beri enam buah ‘coakan’ (belahan) dari atas ke bawah. Masing-masing coakan itu sepanjang sekitar sepuluh sentimeter. Coakan itu bisa dibuka dari atas ke bawah. Maka kalau tulangan daun pisang itu di genggam dengan telapak tangan dan di dorong dari bawah ke atas, maka coakan-coakan itu akan menutup dengan suara cukup keras, suaranya plok..plok…plok. Dan kalau dorongannya cepat, maka suaranya akan mirip sekali seperti rentetan suara tembakan senjata otomatis.

Selain ituaku juga suka menggunakan ikat pinggang. Pada ikat pinggangku itu bergelantungan granat. Granat adalah senjata bulat segenggaman orang dewasa, yang gunanya untuk dilemparkan ke arah musuh dan kemudian akan meledak. Konon ada dua macam granat, dibedakan dari bentuknya. Ada Granat Nanas dan ada Granat Manggis. Tetapi jenis“granat” yang aku sering gunakan adalah jenis ‘Granat Lontong’, karena bentuknya yang bulat dan panjang seperti lontong.

Granat Lontong ini terbuat dari gulungan kertas yang kemudian di dalamnya diisi dengan bubuk kapur berwarna putih, yang namanya gamping. Di kedua ujung gulungan kertas itu lalu ditutup dengan cara dilipat dan di lem rapat. Aku sangat menyukai Granat Lontong ini.

Kalau granat ini dilempar dan jatuh ke tanah maka granat itu akan pecah dan menyebarlah bubuk putih tadi. Kalau granat ini aku lemparkan lebih tinggi lagi jauh ke udara, dengan sebelumnya sedikit dilubangi, maka  granat ini akan melayang di udara sambil meninggalkan taburan bubuk putih, bagaikan asap sebuah roket. Menurtku dan teman-teman senjata ini sangat keren.

Maka, dengan ‘perlengkapan-perlengkapan perang’ itu, kini para anggota geng anak GAGAS merasa bahwa tugas kami bukan lah hanya mencari makan saja, tetapi juga untuk siap berperang melawan penjajah.

Kami anak-anak Wonogiri ini berprinsip bahwa kami semua tidak takut terhadap tentara Belanda, meskipun tentara Belanda diperlengkapi dengan pesawat tempur, meriam dan kendaraan perang yang canggih, bahkan walaupun juga dipersenjatai dengan makanan kalengan yang enak-enak dan melimpah. Kami ini lebih menghargai tentara-tentara Republik yang sederhana tetapi mempunyai semangat kepahlawanan yang membuat kami, kagum dan bangga.

Siang itu, setelah menyelesaikan operasi makan belalang para anggota Geng Anak Gragas, melanjutkan perjalanan napak tilas ke ‘front’, yaitu lokasi yang dulunya merupakan garis depan dari perjuangan tentara kita.

Kami menyeberangi jembatan sungai Bengawan Solo, dan menuju ke Pokoh, lokasi tempat tentara kita mengadakan serangan-serangan ke arah Kota Wonogiri, yang diduduki Belanda.

Pokoh terletak diseberang sungai Bengawan Solo. Disitu, dipinggir sungai terdapat tanah terbuka yang luas dan dipenuhi semak belukar. Kemudian kami pun memulai sebuah operasi “pencarian” di tempat tersebut.

Operasi pencarian yang kami lakukan ternyata mendatangkan hasil. Kami menemukan banyak selongsong bekas peluru yang ditembakkan dari tempat itu. Perlu diketahui, bahwa jika senjata ditembakkan, pelurunya akan melesat, tetapi selongsong peluru akan terlontar ke samping dari senjata itu. Banyak sekali kami temukan selongsong peluru yang bertebaran disitu.

Tetapi operasi pencarian kami terus berlanjut. Kami mulai juga membongkar semak-semak di daerah itu, sambil mencari ular tentunya. Akhirnya kami menemukan apa yang sebenarnya kami cari-cari, yaitu peluru yang masih utuh, yang belum ditembakkan.

Maka dengan hati-hati kami memasukkan peluru utuh tersebut ke dalam sebuah kantong. Setelah itu kami kembali pulang menyeberangi jembatan dan menuju ke base-camp. Di sana kami sembunyikan peluru-peluru tersebut di bawah bebatuan di semak-semak, lalu kami pulang ke rumah.

Keesokan harinya kami kembali ke pos dengan membawa beberapa perlengkapan berupa tang, pisau dan gunting. Acara geng GAGAS hari itu hanya satu, yaitu mencoba membongkar peluru-peluru utuh yang kemarin kami temukan, tentu saja tanpa ada yang boleh meledak.

Dengan sangat hati-hati kami melepaskan kepala peluru yang tajam itu dari selongsongnya. Semua ini harus dilakukan dengan sangat lembut, tidak boleh ada satu hentakan pun . Kalau sampai ada hentakan, atau peluru itu terjatuh apalagi terantuk di benda keras, maka mesiu yang ada di dalam peluru itu akan meledak, dan kepala peluru yang tajam itu bisa melesat dan menerjang apapun dan siapapun yang menghalanginya.

Setelah bersusah payah dan penuh ketegangan akhirnya sebuah peluru berhasil mereka buka. Lalu dengan cermat dan berhati-hati kami keluarkan mesiu yang ada di dalam peluru itu. Ini sungguh berbahaya, “please don’t try this at home” ya….

Mesiu yang sangat berbahaya tersebut berbeda-beda bentuknya, ada yang berbentuk seperti bihun yang berwarna kuning, ada juga yang berbentuk biji-biji batu yang kecil-kecil sebesar beras dan berwarna hitam. Mesiu itulah yang kemudian kami kumpulkan dengan hati-hati dan kemudian kami masukkan ke dalam kotak. Aku mengambil sejumput kecil mesiu itu lalu kubungkus dengan kertas timah. Nah, sekarang jadilah sebuah “bom kecil”.

Bungkusan kertas timah yang di dalamnya berisi mesiu itu kami letakkan di atas batu yang besar dan rata bagian atasnya, lalu ditumbuk dengan batu lainnya maka “DOR!!..”, terjadilah ledakan yang keras. Semakin besar bungkusan itu, semakin besar dan keras pula suara ledakannya. Kadang-kadang kami sering berpura-pura menembak ‘musuh’ dengan ledakan yang sebenarnya, dari mesiu itu.

Pada suatu siang, kami bersiap untuk mengadakan latihan perang-perangan secara besar-besaran antar kampung. Kampungku, yang berada di Selatan Jalan Raya Jurang Gempal, akan melawan Kampung yang berada di sisi Utara jalan raya. Perundingan pun diadakan, kami semua sepakat bahwa perang-perangan itu hanya akan menggunakan Granat Lontong, tidak boleh menggunakan batu, anak panah atau senjata tajam lainnya. Pertempuran akan dilakukan dengan saling melempar ‘granat’ berisi gamping (bubuk kapur).

Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Pasukanku berhasil mendesak musuh masuk ke utara jalan raya. Aku paling semangat berteriak memberikan aba-aba agar pasukan kampung kami maju menyerang lawan. Dan mereka pun dengan keberanian yang luar biasa maju ke depan sambil berteriak-teriak.

Aku memberikan aba-aba itu bukan dari depan, tapi dari belakang pasukan, karena pasukan terdepan adalah anak-anak yang badannya lebih besar daripada badanku. Dan aku pun harus selalu waspada memperhatikan barisan yang terdepan itu. Kalau mereka kelihatan akan mundur, maka aku akan berlari terlebih dulu meninggalkan pertempuran itu.

Beruntunglah anak-anak dari kampung kami berhasil memenangkan perang tersebut, dengan meninggalkan “kerusakan” parah di pihak lawan. Jalanan, halaman dan atap-atap rumah dipenuhi dengan bubuk berwarna putih, bagaikan salju yang menyelimuti rumah-rumah di Iceland, di dekat kutub utara sana. Sejak itu permainan perang-perangan yang biasa anak-anak suka lakukan ini dilarang.

Maka kembalilah anggota GAGAS, Geng Anak Gragas ke posnya, untuk kembali kepada tugas semula, mencari makan. Belalang! (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Sang Pemintal

Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.
Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.

SANG PEMINTAL

AKU dilahirkan di kota Malang, di rumah Mbah Tanjung, di Jalan Tanjung Gang Dua. Setelah aku sekolah TK, aku pindah ke kota Mojokerto. Aku diangkat menjadi anak oleh Pak Mojo, adik Mbah Tanjung. Dari Mojokerto aku terpaksa mengungsi ke arah barat, ke Jombang, lalu ke Solo, dan mengungsi lagi sampai ke Wonogiri.

Jika ditarik benang merahnya, maka perjalanan panjangku ini ternyata menuju ke akar dari garis silsilah keluargaku. Mengapa? Karena ayah kandungku, almarhum, yang telah meninggalkanku saat aku masih bayi adalah anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Kaligunting tinggal di Desa Kaligunting, yang jaraknya sekitar tiga puluh kilometer di sebelah selatan Kota Wonogiri. Mbah Kaligunting adalah seorang Kepala Desa yang disegani, baik oleh warga Desa Kaligunting sendiri maupun warga desa-desa di sekitarnya.

Di depan rumahnya, Mbah Kaligunting memiliki tanah yang sangat luas, yang ditanami dengan palawija seperti jagung, singkong, ubi jalar dan semacamnya, termasuk kapas. Jenis palawija itu tergantung dari musimnya.

Pada masa itu banyak daerah di Indonesia yang sedang mengalami kesulitan, termasuk Wonogiri. Harga bahan-bahan pokok melambung tinggi. Sehingga beras pun hilang dari pasaran, jikapun ada harganya sangat-sangat mahal. Maka makanan pokok kami sehari-hari adalah Tiwul, yang berasal singkong kering (Gaplek) yang ditumbuk halus dan ditanak seperti nasi. Jadilah Sego Tiwul. (Nama yang aneh, sebab Sego Tiwul berarti juga nasi tiwul). Di rumah kami yang boleh makan nasi putih hanya Pak Mojo, karena beliau adalah kepala keluarga.

Pak Mojo punya kebiasaan merokok, tetapi saat itu harga rokok juga sangat mahal sehingga tidak terbeli. Pada suatu hari aku perhatikan bahwa Pak Mojo terlihat menderita karena ingin merokok. Aku pun tiba-tiba punya ide untuk membuat rokok sendiri.

Kemudian aku minta ke Bu Mojo sejumlah uang untuk membeli tembakau dan kertas Sek (kertas tipis untuk membungkus tembakau). Aku pergi ke pasar membeli kertas Sek, tembakau merk Virginia dan sausnya yang berbau wangi. Aku lalu membuat alat pelinting rokok, berupa sebatang pensil yang bulat dan di tengahnya diberi kertas yang sudah dilem pada sebuah pensil, seperti bendera. Maka, proses pembuatan rokok dimulai.

Pada pangkal lembaran kertas itu aku letakkan gulungan tembakau, lalu kuratakan seperti bentuk rokok. Kemudian pensil itu diputar, sehingga menekan cukup padat gulungan tembakau. Pensil itu kuputar terus-menerus. Selanjutnya kuletakkan kertas tipis yang sudah diberi lem di pinggirnya, yang lalu digilas oleh tembakau dan pensil itu. Woallaa, maka keluarlah sebatang rokok dari kertas itu. Pekerjaan terakhir adalah menggunting kedua ujung rokok untuk membuang tembakaunya yang kurag rapi. Maka jadilah batang rokok pertama produksiku sendiri.

Sewaktu Pak Mojo menarik isapan pertama rokok itu, Aku tegang, menanti reaksi Pak Mojo. Setelah menghembuskan asap rokok pertama dari mulutnya, muka Pak Mojo berubah menjadi cerah. Katanya, rokok buatanku itu jauh lebih enak daripada rokok buatan pabrik.

Aku percaya itu, karena tembakaunya masih segar, apalagi kutambah dengan saus tembakau yang sangat wangi. Pak Mojo sangat gembira. Ia kemudian menceritakan ke teman-temannya tentang Rokok Made in Sutedjo itu. Pesanan pun mulai mengalir, dan aku mulai mendapat keuntungan dari pabrik rokok kecil-kecilan milikku.

Suatu hari kami mendapat kunjungan dari Mbah Kaligunting, beserta Mbah Putri dan diiringi oleh seorang pengawal. Mbah Kaligunting membawa oleh-oleh untukku, cucunya ini, sekarung besar kapas, hasil tanaman dari desanya.

Si Mbah rupanya mendengar bahwa aku sedang berbisnis rokok. Maka beliau memberi kapas itu untuk dijual, dan hasil penjualannya bisa untuk membantu keuangan keluarga di Wonogiri.

Setelah rombongan dari desa itu pulang, kuperhatikan kapas di dalam karung itu. Aku berpikir akan sayang sekali kalau kapas itu dijual begitu saja ke pasar. Maka, aku pun berlari ke rumah seorang temanku yang ibunya pembuat benang tenun. Rumah temanku itu berada di dalam kampung, dekat sungai Bengawan Solo.

Rencananya, aku hendak belajar cara membuat benang tenun dari kapas. Dalam waktu dua hari aku sudah menguasai cara pembuatan benang. Ibu temanku itu baik sekali. Aku dibolehkan meminjam alat pemintal miliknya yang sudah tidak dipakai lagi. Dibantu oleh temanku itu, aku pulang dengan penuh semangat membawa semua peralatan tersebut.

Maka sejak saat itu dimulailah produksi ‘Pabrik Benang Tenun’. Proses pembuatan benang dari kapas itu membutuhkan waktu yang cukup panjang dan perlu ketelitian.

Tahap pertama adalah mengurai serabut kapas yang putih menjadi serabut yang sangat jarang dan lembut. Caranya, aku menggunakan semacam busur panah. Tali busur panah itu kutarik-tarik dan dilepaskan di atas gumpalan kapas. Dengan begitu, serabut kapas itu akan menempel di tali busur. Dan yang menempel itu adalah serabut-serabut yang sudah terurai sehingga menjadi sangat jarang dan lembut sekali.

Serabut halus yang sudah menempel di tali busur itu kemudian aku lepas dan kumpulkan. Serabut-serabut itu siap dipintal.

Proses yang paling sulit adalah saat memintal, yaitu membuat serabut yang sudah halus menjadi benang. Itu perlu keterampilan, ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Tangan kananku memutar roda pintal. Roda itu dihubungkan dengan karet ke jarum pintal. Sehingga, jika aku memutar roda itu, jarum pintal akan berputar dengan cepat sekali.

Kemudian aku menempelkan ujung dari serabut halus itu, ke ujung jarum alat pintal yang sudah berputar. Maka, ujung jarum yang berputar itu akan memilin serabut itu dan tergulung menjadi benang.

Jika tangan kiriku yang memegang serabut itu sudah cukup panjang, ke belakang, maka roda harus dihentikan. Lalu, tangan kiriku memasukan benang yang sudah jadi itu ke tengah jarum sehingga benang tergulung. Jika melakukannya dengan emosi atau sambil marah misalnya, benang-benang itu akan kusut atau menggumpal tidak rata. Jika sudah begitu, maka aku harus mengulangi prosesnya dari awal lagi.

Benang yang sudah siap harus digulung dan dililitkan dari telapak tangan sampai ke siku. Setiap sepuluh lilitan diberi tanda, dengan ikatan benang juga. Jumlah ikatan itulah yang dipakai untuk menghitung panjangnya benang. Gulungan benang itu kemudian ‘diukel’, yaitu digulung seperti rambut yang dikepang.

Benang buatanku ini lama kelamaan menjadi terkenal di seluruh pasar di Wonogiri, karena kuat dan halus merata. Aku membawa gulungan benang itu di dalam tas besar yang terbuat dari anyaman daun pandan kering.

Pagi itu aku membawa empat ‘Ukel’ (gulungan) benangnya di dalam tas pandan. Aku menjepit tas itu dengan ketiak, sambil tanganku menjepit lubang tas bagian depan. Sewaktu aku memasuki pasar dan menuju ke tempat penjualan benang tenun, seperti biasa Mbok-Mbok banyak yang memanggilku, agar aku bersedia menjual benang kepada mereka. Tetapi, aku menemui seorang Mbok langgananku. Di depannya aku langsung berjongkok. Sewaktu merogoh tas, aku terkejut setengah mati. Tasku ternyata… kosong!

Empat gulung benang milikku yang kubuat susah payah lebih dari satu minggu itu telah lenyap dari tasku. Aku hampir pingsan. Mbok-mbok di situ mengerumuniku. Mereka mengatakan, bahwa benangku itu pasti telah diambil orang, karena tas pandan yang besar itu pada bagian belakangnya bolong melompong tidak tertutup.

Tanganku waktu itu ternyata terlalu kecil dan hanya sampai pada bagian tengah dan depan tas saja. Aku menangis tersedu-sedu dan duduk di tanah, di belakang Mbok-mbok itu berdiri. Aku sangat kecewa dan sedih sekali. Hingga sore hari aku hanya duduk termenung di situ.

Saat pasar mulai sepi, ada beberapa orang yang merasa kasihan kepadaku, mereka memberi minum dan makanan kepadaku. Menjelang maghrib, aku berjalan gontai menuju pulang. Perjalanan pulang itu terasa sangat panjang dan lama sekali, tidak kunjung sampai ke rumah.

Berhari-hari aku merenungi kejadian itu. Aku tidak habis mengerti, mengapa ada orang sejahat itu kepadaku. Aku terbayang kerja keras proses pembuatan empat ukel benang itu yang memakan waktu berhari-hari.

Pada saat kesedihanku mulai pudar dan aku siap hendak memintal benang lagi, di saat itu aku baru sadar bahwa stok kapas dari Mbah Kaligunting sudah habis. Ternyata, empat ukel yang hilang itu adalah empat ukel terakhirku!

Berakhir sudah nasib ‘Pabrik Benang Tenun’. Maka semua peralatan pemintalan pinjaman itu kukembalikan ke rumah ibu temanku. Setelah menyerahkan dan mengucapkan banyak terimakasih, aku pulang dengan berjalan setengah berlari. Aku pulang dengan semangat baru karena ini lah saatnya aku akan berganti bisnis! (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Terbang di atas Bengawan Solo

Jembatan kereta api yang melintasi Bengawan Solo.

.

TERBANG DI ATAS BENGAWAN SOLO

SOLO merupakan kota yang paling nyaman dan tentram menurutku. Setiap hari, dimanapun itu, selama masih berada di kota Solo, sayup-sayup akan terdengar alunan musik keroncong, atau musik gamelan Jawa yang mengalun lembut. Benar-benar membuat hati damai.

Namun, yang selama ini aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ketenangan kota Solo terkoyak oleh kerasnya suara bom. Anak-anak di sekitar rumah kami menjadi panik mendengar dentuman-dentuman keras itu. Tetapi, aku tampak tenang-tenang saja. Kepada mereka aku bilang bahwa itu suara perang. Lalu aku pun bercerita, pengalaman-pengalamanku melihat perang. Terutama pengalaman sewaktu di Mojokerto, ketika aku tiarap di depan meriam Belanda yang sedang ditembakkan.

Mendengarkan aku bercerita, mereka terkagum-kagum. Termasuk anak-anak yang lebih besar dariku. Mungkin mereka melihat caraku bercerita, sehingga mereka percaya bahwa aku tidak bohong dan mengada-ada. Seperti biasa, aku menikmati perhatian dan reaksi mereka.

Pada suatu siang, seingatku, aku sudah berada di atas sebuah truk. Truk yang akan membawaku kembali mengungsi. Truk pengangkut pengungsi ini langsung menuju ke arah selatan, keluar dari kota Solo. Belum jauh menempuh perjalanan dari kota Solo, jalan besar yang akan dilewati di depan kami ditutup. Beritanya, di depan ada jembatan yang terputus karena terkena ledakan bom.

Aku tidak tahu siapa yang menghancurkan jembatan itu, apakah tentara Belanda, atau tentara kita sendiri. Sebab, pada waktu itu ada istilah yang disebut dengan “Bumi Hangus”. Artinya, pihak Republik sendiri yang menghancurkan tempat-tempat penting, seperti jembatan atau bangunan tertentu, tujuannya agar nanti tidak bisa dipergunakan oleh tentara Belanda.

Akhirnya, truk kami berbelok memasuki jalan bertanah, melintasi kampung dan sawah-sawah. Kemudian, tahu-tahu, truk kami sudah berjalan di atas rel kereta api. Sebuah petualangan yang sangat menarik buatku tentunya.

Jadi, di atas landasan rel kereta api itu diletakkan papan-papan berjejer selebar dua papan dengan ukuran lebih lebar sedikit dari roda truk. Itu semua dijejer sepanjang rel kereta api dan roda-roda truk kami harus melewati papan-papan tersebut. Sungguh menegangkan, tapi seru!

Aku memperhatikan, membayangkan pengemudi truk kami pasti sudah sangat berpengalaman. Ini terlihat dari caranya mengemudikan truk, jalannya pelan tapi pasti. Pak sopir dibantu oleh dua orang kenek yang berdiri di luar pintu truk kiri dan kanan. Mereka bertugas mengawasi jalannya roda-roda depan, memastikan roda berjalan tepat di tengah papan-papan kayu.

Semua penumpang truk pun tegang, tidak hanya aku. Tetapi, melihat kelihaian pak sopir mengemudikan truk itu, aku yakin akan selamat. Truk berjalan dengan lancar, tidak tersendat-sendat. Itu yang membuatku hampir lupa, bahwa truk kami sedang berjalan di atas papan kayu dan di atas rel.

Sewaktu aku melihat jauh ke depan, aku sangat terkejut. Truk kami akan melewati jembatan besi yang sangat panjang. Jembatan itu melintasi sungai Bengawan Solo yang sangat lebar. Tapi kemudian, truk kami sudah berada di atas jembatan. Ini lebih seru, petualangan yang takkan terlupakan.

Aku segera bergegas, berdiri di pinggir bak truk yang paling depan. Luar biasa, seperti terbang rasanya. Aku merasa sedang terbang di atas sungai Bengawan Solo. Sungai yang lebar dan dalam itu berada di kiri-kanan kami.

Tiba-tiba aku teringat akan si Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung dulu di Malang. Seharusnya Cacak melihat ini. Aku sedang berada di depan, memimpin rombongan pengungsi. Bukan dengan berjalan kaki, tapi di atas truk, di atas jembatan, di atas sungai yang sangat lebar dan dalam. Pasti Cacak akan bangga melihatnya, menyaksikan aku bekas anak buahnya yang dulu pernah diangkat sebagai anggota Geng ketika aku masih TK.

Akhirnya, truk kami sampai ke jalan besar, dan berjalan terus menuju ke arah selatan, menuju kota Kabupaten Wonogiri. Di kejauhan, aku melihat deretan gunung yang memanjang, bagaikan sedang berbaris dari utara ke selatan. Pada salah satu puncaknya terlihat sebuah batu yang sangat-sangat besar. Orang yang berdiri di belakangku mengatakan bahwa batu besar yang di atas itu berada di puncak Gunung Gandul.

Gunung Gandul adalah gunung yang sangat terkenal untuk wisata. Bahkan, ada lagu yang berjudul Gunung Gandul. Kata orang-orang, Kota Wonogiri terletak di balik gunung tersebut. Untuk sampai ke kota tujuan, truk kami, truk para pengungsi perang, mulai menanjak, mendaki untuk melompati gunung, untuk menuju ke kota yang berada di balik gunung batu itu. Kota Wonogiri.

Setelah berhasil mendaki, lalu menuruni bukit, truk kami masuk ke kota Wonogiri. Sejak pada pandangan pertama, aku sudah jatuh cinta kepada Wonogiri. Jalanan di kota ini berbukit-bukit, naik dan turun, tidak ada jalan yang rata seperti kota-kota lain yang pernah aku datangi. Mungkin, karena Kota Wonogiri ini berada di kaki gunung batu itu.

Di sebelah barat, terlihat Gunung Gandul yang di atasnya terdapat sebuah batu yang maha besar itu. Dari pusat kota Wonogiri ke timur, terlihat jalanan menurun sampai ke tepi Sungai Bengawan Solo yang sangat lebar nan dalam. Di sisi utara Wonogiri, ada lagi sebuah gunung di mana sisi kaki gunung itu ditumbuhi pohon-pohon jati. Sungguh indah!

Namun, jika kita memandang ke arah Selatan pandangan mata akan sampai ke Pantai Selatan. Aku merasa bahwa sepertinya kota ini akan menjadi tempat yang cocok bagiku untuk berpetualang.

Di dalam hati, aku sempat bertanya lagi, apakah suatu saat nanti tentara Belanda juga akan menyusul ke kota ini? Dan kami harus pergi mengungsi lagi? Sementara sebelah selatan Kota Wonogiri adalah Laut Selatan. Apa kami harus nyebur ke Laut Selatan?

Semoga kota ini menjadi tempat pengungsian kami yang terakhir. Semoga… (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Antara Nasi dan Makan

CSO nasi

ANTARA NASI DAN MAKAN

MAKAN adalah bagian terpenting di dalam kehidupan masa kecilku. Alam pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan perkara makan. Aktivitasku sehari-hari pun selalu melibatkan perkara ini.

Pagi hari bangun tidur, fokusku adalah menunggu makan pagi. Siang hari, yang kupikirkan adalah menanti makan siang. Juga pada malam hari, aku baru bisa tidur sempurna kalau sudah makan malam. Bagiku, yang disebut makan itu berarti makan nasi.

Aku pun memiliki banyak istilah yang berhubungan dengan masalah “makan”. Dan istilah-istilah tersebut aku pegang dengan teguh. Istilah “jalan-jalan”, misalnya, aku artikan sama dengan “makan-makan”. Maksudnya, kalau kita pergi jalan-jalan, ya harus makan-makan. kalau tidak ada makan-makannya itu bukan jalan-jalan namanya.

Seringkali yang mengecewakanku, istilah versiku berbeda dengan istilah versi para orang tua. Mereka tidak mengerti bahwa makan adalah persoalan “hidup dan mati” bagiku.

Pernah pada suatu sore orang tua angkatku, Pak Mojo dan Bu Mojo, mengajakku jalan-jalan ke pusat kota Mojokerto. Kami berkunjung ke rumah teman Pak Mojo. Kunjungan itu cukup lama. Aku bersabar, sebab aku berharap nanti sewaktu pulang pasti akan akan ada acara makan-makan. Aku pun sudah membayangkan menu makanan apa yang nanti akan kupilih. Aku sabar menanti.

Tetapi tenyata yang kemudian terjadi, kami langsung pulang ke rumah. Tidak singgah ke restoran lebih dahulu! Bagiku, hal ini tidak sesuai dengan apa yang “seharusnya” terjadi. Aku lalu protes keras, dengan cara menutup pintu kamar keras-keras sambil menunjukkan kejengkelanku. Tetapi, mereka justru memandang heran ke arahku. Mereka tidak memahaminya. Aku merasa tidak diperhatikan, dicuekin. Hal yang seperti itu sering menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan membekas lama di hati aku.

Aku juga punya istilah lain perihal makan. “Makan-makan” itu artinya “makan nasi”. Kalau bukan nasi yang dimakan, itu namanya “jajan-jajan”. Ada lagi, jika makan-makan yang dilakukan di luar rumah, menurutku itu namanya rekreasi, atau jaman sekarang istilahnya wisata kuliner.

Seringkali setelah makan-makan di luar, setelah pulang, setibanya di rumah, aku minta makan lagi. Maka terjadilah kehebohan kecil, akibat benturan persepsi tentang istilah itu. Para orang tua seringkali tidak mau mengerti, bahwa bagiku perkara ini sudah seperti masalah harga diri. Seharusnya mereka “wajib” menghargainya, termasuk penggunaan istilah-istilah yang telah kubuat sendiri.

Sebenarnya persoalan apa yang membuat “per-makan-an” ini sangat serius dan sensitif bagi diriku pada masa itu? Beginilah riwayatnya.

Peristiwa ini terjadi ketika aku tinggal di rumah Mbah Tanjung. Pada waktu masih balita, ketika mulai bisa berjalan, berdiri sambil merayap-rayap sambil berpegangan pinggir dipan, aku mulai bisa mengamati sayup-sayup segala kejadian di sekitarku. Aku melihat orang-orang yang bejalan mondar mandir. Rupanya mereka sedang membantu Mbah Putri yang sedang memasak di dapur.

Kadang-kadang ada seorang Tante yang sedang berjalan menghampiriku, dan mencubit lenganku kuat-kuat. Aku merasakan cubitannya itu sakit sekali. Kalau nyubit nggak kira-kira! Setelah itu biasanya aku berteriak sekeras-kerasnya. Teriakanku itu kadang-kadang ada hasilnya, Mbah Putri akan menyuruh Tante-tante itu agar tidak menggangguku.

Kadang-kadang ada juga seorang Om yang tiba-tiba mendekatkan mukanya hingga hampir menempel ke mukaku. Ia lalu memperlihatkan muka terjeleknya yang seperti muka setan itu ke depan hidungku. Aku hanya terdiam, tanpa reaksi apapun. Karena toh hal itu tidak menyakitiku. Yang terpenting dari semuanya itu, yang aku tunggu-tunggu, yaitu prosesi pembagian… makan! Maka, segala rasa sakit dicubit akan serta merta menghilang, terhapus oleh nikmatnya makanan. Aku kemudian mencoba mengambil kesimpulan sendiri, bahwa nikmatnya makan akan selalu menghilangkan rasa sakit.

Kembali ke kota Mojokerto. Perkara benturan persepsi antara anak kecil dan orang tua tentang istilah makan ini terus berlanjut. Tetapi, sepertinya selalu saja pihakku yang dikalahkan. Hingga pada suatu pagi menjelang siang terjadilah sebuah peristiwa penting. Rumah kami kedatangan tamu, seorang Tante tetangga kami. Di ruang tengah ia mengobrol lama sekali dengan Bu Mojo. Sewaktu aku berjalan hendak melintasi mereka, Tante itu menyapaku, Hei, kamu sudah sarapan?” Aku spontan menjawab, “Belum Tante…” Aku menjawabnya dengan keras, tegas dan sesuai kenyataan.

Entah mengapa setelah itu sang Tante kelihatan merasa tidak enak kepada Bu Mojo. Ia kemudian cepat-cepat pamit pulang. Tak berapa lama, ketika aku sedang duduk-duduk di teras depan, tiba-tiba terdengar suara keras Bu Mojo memanggilku dari dapur. Ketika aku mendatanginya di dapur, aku kaget melihat wajah Bu Mojo yang merah padam. Mendadak sebuah sotil, sendok besi penggorengan, panas hampir saja menyambar kepalaku. Aku berdiri tegak di depan Bu Mojo sambil menatapnya dengan muka penuh tanda tanya.

Apakah salahku?, pikirku. Aku tidak mengerti mengapa Bu Mojo marah besar. Bu Mojo sampai berteriak-teriak, bahwa aku telah membuat malu keluarga di depan orang lain; bahwa keluarga kita adalah keluarga yang terhormat, sehingga tidak sepantasnya dipermalukan seperti ini, dan seterusnya dan seterusnya, masih panjang lagi.

Tetapi, aku masih tetap saja belum paham apa maksud Bu Mojo. Sampai akhirnya Bu Mojo bertanya, “Kenapa tadi waktu ditanya Tante, apakah kamu sudah sarapan, kamu jawab belum!”

Rupanya soal itu pokok masalah Bu Mojo marah. (Aku hanya menjawab di dalam hati, “Ya, memang belum sarapan”). Lantas, Bu Mojo melanjutkan dengan nada semakin keras, “Lalu yang kamu makan tadi pagi itu apa?”.

“Ketan,” jawabku lirih.

“Lha (ketan) itu kan juga sarapan!” kata Bu Mojo.

Nah, menjadi jelas sudah, sumber masalah besar yang dihadapi aku hadapi. “Sarapan” bagi Bu Mojo adalah makan apa saja pada pagi hari. Sedangkan dalam kamusku, “sarapan” adalah “makan nasi” pada waktu pagi. Masih terasa sambaran angin sotil pada pagi hari menjelang siang itu.

Bagaimanapun peristiwa itu ada hikmahnya bagiku. Sejak saat itu, setiap sarapan pagi selalu tersedia nasi! Mungkin itu berarti Bu Mojo telah mengakui bahwa, kamuskulah yang benar. Atau, mungkin juga Bu Mojo takut kalau tidak diberi nasi di pagi hari, aku akan berkeliling kampung, dan memberitakan kepada seluruh warga bahwa pagi itu aku belum diberi sarapan.

Namun, semua ini baru kemungkinan, dan perlu dikaji lebih lanjut. Setidaknya toh untuk sementara ‘kamus’ istilahku tentang pengertian makan yang dijadikan sebagai acuan resmi di rumah keluarga Pak Mojo. Demikian harap maklum. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Kereta Barang Jam Satu

Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

.

KERETA  BARANG  JAM  SATU

PAGI sudah menjelang siang ketika aku terbangun dari tidur. Masih setengah sadar dan agak bingung, sejenak aku merenung, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Aku teringat perjalanan mengungsi dari kota Mojokerto ke kota Jombang. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.

Setelah lebih sadar, aku mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Aku berada di rumah Tante Jom, adik dari bu Mojo. Rumah Tante Jom adalah rumah yang sangat sederhana yang hanya terdiri dari satu ruangan memanjang, selebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter.

Ruangan panjang itu disekat menjadi tiga ruangan kecil. Terdiri dari ruangan yang kecil untuk tamu di depan, kamar tidur di bagian tengah, dan yang paling belakang adalah sebuah dapur kecil. Di dapur itu terdapat tungku yang terletak di atas lantai.

Di dalam rumah papan sederhana itu terasa agak pengap dan gelap. Hanya ada sebuah jendela kecil, yang hanya di bagian depan rumah. Rumah itu memang sangat sederhana, tapi kelak aku merasa itu adalah rumah terindah yang pernah aku tinggali.

Aku turun dari tempat tidur dan menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu, angin disertai debu jalanan masuk ke dalam rumah. Aku baru sadar bahwa rumah tante Jom terletak tepat di pinggir jalan raya, menghadap lalu-lintas yang ramai, sangat bising. Dengan cepat aku menutup lagi pintu pintu depan itu. Aku lalu berjalan menuju ke pintu belakang yang berada di dekat dapur. Begitu pintu terbuka, aku sangat terpukau dan takjub dengan pemandangan yang kulihat.

Di belakang rumah Tante Jom itu, aku melihat pemandangan yang menariknya melebihi Dunia Fantasi Ancol, atau Disneyland yang mengagumkan sekalipun. Bagiku pemandangan di belakang rumah itu sangat menantang dan merangsang jiwa anak-anak seperti diriku.

Yang pertama kulihat adalah rel kereta api. Bukan hanya satu rel, tetapi ada empat rel yang berjajar. Dari pintu belakang itu, aku langsung meloncat keluar. Rel-rel itu aku perhatikan dengan seksama, dari empat menjadi tiga, menjadi dua, lalu menyatu dengan rel utama yang menuju ke kanan, ke arah barat, arah Jakarta.

Aku menengok ke kiri, arah timur. Terlihat gedung stasiun yang sangat besar. Pada dinding sebelah atas bangunan yang terbuat dari baja itu tertulis huruf yang besar-besar: JOMBANG.

Tulisan raksasa itu bagaikan ucapan selamat datang bagi para penumpang kereta api yang memasuki stasiun kota Jombang. Rupanya rumah tante Jom terletak tepat di sebelah stasiun kereta api kota Jombang. Kali ini aku baru benar-benar paham.

Melalui pintu belakang itu aku juga menemukan sesuatu yang sangat menarik. Sederet kabel dari kawat baja menyusuri pinggiran rel, tersusun sejajar seperti kabel-kabel listrik bertegangan tinggi yang sering disebut Sutet. Tetapi, deretan kawat itu dipasang sangat rendah, setinggi pinggang orang dewasa. Rupanya kawat-kawat baja itu bisa ditarik atau diulur yang dikendalikan dari dalam stasiun untuk menggabungkan atau memisahkan rel satu dengan rel lainnya.

Pada hari kedua tinggal di rumah Tante Jom, aku sudah bisa menjadi tukang ramal jalur kereta api. Kalau ada kereta datang dari sebelah Barat, aku bisa tahu kereta yang baru datang itu akan masuk lewat rel nomor berapa. Kalau terlihat ada kereta yang hendak masuk ke stasiun, seringkali aku mengumpulkan anak-anak tetangga. Kepada mereka aku berlagak meramal, bahwa kereta itu akan melewati rel nomor dua. Dan benar, kereta yang baru datang itu memasuki jalur rel nomor dua. Mereka takjub. Anak-anak tetangga itu terbengong melihat ramalanku yang selalu tepat. Dan aku sangat menikmati melihat muka-muka bengong itu.

Beberapa hari kemudian, aku berganti permainan. Setiap kali ada kereta yang melintas di depanku, aku pusatkan perhatianku kepada rel besi yang dilindas oleh roda besi kereta api. Wow, besi dilindas oleh besi. Kemudian aku mengadakan percobaan.

Sebelum kereta datang, aku letakkan sebuah batu kecil di atas rel. Sewaktu kereta lewat dengan cepat, batu itu lenyap tidak berbekas. Aku mendapat sebuah ide. Aku letakkan sebuah paku di atas rel di depanku. Apa yang terjadi? Paku itu terlindas oleh roda kereta, tetapi kemudian paku itu terpental. Aku mencari paku tadi. Setelah ditemukan, aku kaget minta ampun. Paku itu sudah berubah bentuk, menjadi pisau yang tajam. Luar biasa! Aku pun mulai mengumpulkan banyak paku, dengan segala ukuran.

Dalam waktu singkat, paku-paku itu sudah berubah menjadi pisau atau mata tombak kecil. Aku sudah seperti memiliki sebuah pabrik. Pisau-pisau dan tombak “hasil produksi”-ku itu kukumpulkan dan kuletakkan di samping pintu belakang rumah. Semakin lama semakin banyak dan semakin menumpuk.

Selain itu, ketika mengungsi di rumah Tante Jom ini aku juga menemukan hal yang baru dan menarik. Setiap ada kereta api yang melintas, seluruh rumah terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa. Pada mulanya hal itu sangat menggangguku, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Kalau terjadi “gempa” ketika aku sedang tidur di malam hari, bagiku, justru serasa tidur di dalam ayunan. Goncangan kereta api itu seperti menina-bobokan aku.

Ada sebuah rangkaian kereta yang melintas setiap jam satu lewat tengah malam. Goncangan serangkaian kereta barang yang panjang itu terjadi lebih lama dibandingkan dengan kereta lain. Aku sangat menikmati goyangan kereta barang itu.

Suatu malam, menjelang dini hari, terjadi sebuah keributan. Penghuni seisi rumah Tante Jom terbangun. Para tetangga juga terbangun dan keluar rumah. Ada yang berteriak-teriak lantang dengan sedikit panik, “Kereta barang belum lewat!”Setelah keributan mereda, orang-orang mencoba tidur lagi. Satu jam kemudian kereta barang melintas. Rumah bergoyang-goyang. Meski sejenak kaget, tapi kemudian goyangan itu justru membuai tidur kami. Itulah Kereta Barang Jam Satu, kereta yang setiap malam kami dirindukan.

Belum genap dua minggu mengungsi, tinggal di rumah Tante Jom, belum juga bosan aku tidur digoyang-goyang Kereta Barang Jam Satu, pada suatu malam sayup-sayup kembali terdengar suara dentuman-dentuman.

Sepertinya tentara Belanda akan ke Jombang, menyusul kami ke pengungsian. Maka esok harinya, kami berangkat meninggalkan kota Jombang. Kota yang mulai aku sukai. Kami kembali harus mengungsi menuju ke arah Barat. Kali ini tidak lagi berjalan kaki, tapi naik kereta api. Kami berangkat dengan kereta rel nomer empat, dari stasiun kereta api kota Jombang.

Ketika kereta api mulai begerak perlahan, melintasi rumah Tante Jom, aku melongok keluar jendela. Aku memandang rumah itu dengan sedih. Tanganku melambai ke arah rumah itu. Rumah terindah yang harus kutinggalkan. Terlebih, aku juga harus meninggalkan pisau buatanku yang masih menumpuk, teronggok di dekat pintu belakang rumah Tante Jom. Selamat tinggal Jombang, selamat tinggal Kereta Barang Jam Satu. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Guling, Sahabat Dalam Pengungsian

GULING, SAHABAT DALAM PENGUNGSIAN

 

SIANG itu terlihat banyak orang bergerombol sambil berbisik-bisik. Yang mereka pergunjingkan adalah bahwa pasukan kita, Pasukan Republik, akan mengadakan penyerbuan besar-besaran ke kota Mojokerto. Agar tidak terjadi banyak korban, maka warga diminta mengungsi ke arah barat kota, wilayah yang sudah dikuasi tentara republik.

Pada tengah malam itu juga dengan berbisik-bisik aku dibangunkan Pak Mojo. Kami harus mengungsi. Kami harus bersiap dan segera berangkat saat itu juga. Semua dilakukan dengan terburu-buru dan diam-diam agar tidak tercium oleh mata-mata tentara Belanda.

Di tepi jalan depan rumah telah berbaris banyak orang dalam jumlah besar. Sekitar seratus orang sudah siap untuk mulai berjalan. Mereka membawa barang seadanya. Aku pun begitu, aku menyambar sebuah barang untuk dibawa. Guling!

Akhirnya, barisan pengungsi itu mulai bergerak. Berangkat berjalan kaki menuju ke Barat, ke wilayah yang tidak (belum) diduduki tentara Belanda. Kami semua harus berjalan dengan tenang. Tidak ada yang boleh mengeluarkan suara. Setiap orang berjalan sambil memikul atau menggedong barang bawaan masing-masing. Tidak mau kalah, aku pun memeluk erat guling kesayangan.

Awalnya aku berjalan dengan sangat semangat, tetapi baru beberapa langkah aku minta digendong. Maka sejak itu, di sepanjang perjalanan aku digendong di punggung beberapa orang secara bergantian. Mereka takut jika tidak digendong, aku akan menangis atau berteriak yang bisa mengusik tentara Belanda yang sedang lelap tidur.

Pernah suatu malam kami melewati sebuah desa. Suasananya sangat sepi. Mungkin karena penduduk di desa itu sudah pasti sudah pulas tidur. Tiba-tiba aku terbangun, kaget karena gulingku tidak ada. Aku panik dan berteriak-teriak, “Bantaal, bantaaalkuu!…” Tidak lama kemudian seseorang terburu-buru menyerahkan barang yang aku minta: guling.

Entah ada berapa kali siang dan berapa kali malam kami berjalan. Entah berapa puluh kali aku berpindah dari satu punggung orang ke punggung orang yang lain. Aku tidak ingat, karena toh tugas utamaku selama perjalanan mengungsi itu hanya tidur saja.

Setelah dewasa aku baru tahu, bahwa kami mengungsi ke Jombang. Jarak dari Mojokerto ke kota itu sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi, bagiku yang masih kecil, perjalanan itu terasa panjang dan lama. Rasanya tidak sampai-sampai ke tempat tujuan, pikirku waktu itu. Demi keamanan, kami hanya berjalan pada malam hari dan seringkali kami mampir di sebuah desa untuk waktu yang cukup lama. Seingatku, hampir di setiap desa ada dapur umum yang dibuat ibu-ibu desa tersebut untuk membantu para pengungsi yang melewati desa mereka.

Suatu kali kami memaksa berjalan di siang hari. Supaya tidak memantulkan sinar matahari, semua sepeda yang dibawa ditutupi, termasuk sepeda Pak Mojo. Terutama pada bagian sepeda yang mengkilat, seperti setang sepeda, dibungkus kain, dan bagian atasnya ditutupi ranting-ranting pohon. Persis seperti semak-semak berjalan. Siasat ini dilakukan agar kami tidak terlihat oleh pilot pesawat tempur Belanda.

Pada perjalanan siang hari itu, tiba-tiba terdengar bunyi pesawat tempur Belanda. Gawat! Kepala rombongan segera memberi tanda, bahwa kami saat itu juga semua harus tiarap di rerumputan, di tepi jalan pinggiran sawah. Suasana sangat mencekam!

Mendengar deru pesawat tempur itu mendekat, aku langsung berusaha berdiri ingin melihat. Tetapi, tiba-tiba sebuah tangan yang besar melintas di atas kepalaku. Menarikku ke bawah, masuk ke dalam pelukan rerumputan. Aku tidak menyerah. Sambil tiduran, aku membuka sebelah mata mengintip dan menyaksikan pesawat Belanda sedang berputar-putar. Tiba-tiba pesawat itu menukik sangat rendah hingga di atas barisan rombongan kami. Suasana semakin mencekam!

Terdengar rentetan tembakan. Aku melihat peluru-peluru berjatuhan ke kanan-kiri rombongan. Untungnya, tidak lama kemudian pesawat Belanda itu kembali menanjak naik, terbang menuju ke arah timur dan tidak kembali lagi. Segera setelah itu kami serombongan pengungsi melanjutkan perjalanan. Sebuah peristiwa yang sungguh menegangkan.

Akhirnya, kami sampai di kota Jombang. Setelah memasuki kota tujuan tersebut, rombongan pengungsi mulai membubarkan diri. Mereka berjalan sendiri-sendiri, mencari tempat mengungsi. Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, menumpang di rumah kerabat dari bu Mojo, tepatnya di samping barat stasiun kota Jombang.

Dan malam itu aku adalah anak yang paling berbahagia. Karena pada akhirnya aku bisa tidur nyenyak di atas dipan, tanpa harus terguncang-guncang seperti saat digendong. Malam itu, aku merasa ingin tidur selama seribu tahun.

Sebelum tidur aku sempat berpikir, kami semua telah berhasil meninggalkan kota Mojokerto dengan berhari-hari berjalan, manalah mungkin tentara Belanda itu bisa menyusul kami?. Dan lalu aku pun tertidur pulas, sambil peluk guling. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Tiarap di Depan Tembakan Meriam

TIARAP DI DEPAN TEMBAKAN MERIAM

 

SEPI. Demikianlah suasana di sekitar rumah di Jalan Brantas Mojokerto, rumah pak Mojo, tempatku tinggal. Sungai Brantas yang luas itu tetap setia mengalir tenang tapi indah dipandang mata. Hanya saja entah mengapa, ada perasaan aneh yang kurasakan hari itu. Tidak seperti biasanya.

Masyarakat penghuni kampung bawah, di belakang rumah kami, akhir-akhir ini memang terasa tidak seramah dan gembira seperti biasanya. Mereka terlihat berubah menjadi serius dan tegang. Mereka sering bergerombol, mengerumuni radio dan mendengarkan orang yang sedang berpidato dengan suara keras dan berapi-api. “Itu kan Bung Tomo!” kata seorang temanku yang selalu berlagak serba tahu, mungkin karena ia sudah duduk di kelas empat SD. Ia mengatakan itu kepadaku dengan sikap sedikit mengejek, seolah ia teman dekatnya Bung Tomo.

Dan benar saja, kesunyian pagi itu terkoyak oleh suara sirine yang meraung-raung dengan sangat keras. Sirine yang terletak di atas sebuah menara di seberang sungai Brantas itu bagaikan seekor Dinosaurus yang meraung marah, menyeramkan. Sirine itu dibunyikan sebagai tanda bahwa akan adanya serangan udara oleh tentara Belanda.

Bunyi sirine yang pertama berarti seluruh warga harus berlindung di bawah kolong tempat tidur. Sedangkan bagi yang sedang berada di luar rumah, diharuskan berlindung di bawah pepohonan agar tidak terlihat oleh pesawat Belanda.

Bunyi sirene yang kedua berarti pertanda bahwa situasi sudah aman. Kami sudah boleh keluar dari tempat berlindung. Masyarakat sekitar sudah sering dilatih agar cepat tanggap terhadap peringatan atau tanda bahaya ini. Karena terlalu sering, justru banyak orang menjadi tidak sigap lagi.

Tetapi, bunyi sirine siang hari itu meraung lebih lama dari biasanya. Di sela-sela bunyi sirene itu terdengar sayup-sayup suara mendengung di langit. Sebagai salah satu penggemar film perang, aku dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah suara pesawat tempur Belanda. Maka, di saat orang-orang dewasa berhambur berlindung takut di bawah tempat tidur, aku yang nakal ini malah sudah nangkring di atas cabang pohon mangga yang berada di halaman depan rumah Pak Mojo.

Pohon mangga itu tinggi dan rimbun daunnya. Menurutku, pilot pesawat tempur itu tidak akan bisa melihatku. Dari sela-sela dedaunan pohon mangga, dengan jelas aku bisa melihat dua pesawat Belanda itu terbang berputar-putar di atas kota Mojokerto, juga di atas kali Brantas di depan aku berada.

Salah satu dari pesawat tersebut terbang berputar-putar di seberang sungai di sekitar menara sirine. Tiba-tiba aku melihat pesawat tempur itu terbang menukik tajam, dan pada saat pesawat mulai menanjak lagi terdengarlah bunyi ledakan yang dahsyat. Api berkobar sangat besar. Kemudian asap berwana hitam mengepul menjulang tinggi. Tubuhku gemetar.

Setelah menjatuhkan beberapa bom, pesawat itu terbang kembali ke arah Timur. Keadaan kembali sunyi, yang terlihat hanya kepulan asap hitam. Rupanya hari itu Mojokerto di bombardir, dihujani bom oleh tentara Belanda. Sirine sudah tidak berbunyi lagi. Keesokan harinya orang-orang di kampung bawah ramai bergerombol sambil membicarakan berita terbaru. Kota Mojokerto telah berhasil diduduki oleh pasukan tentara Belanda!

Aku tidak melihat apapun tentang pendudukan pasukan Belanda tersebut, karena lokasi rumah berada di sebelah Barat kota Mojokerto. Aku tidak melihat pertempuran darat seperti yang biasa dilihat di film perang. Mungkin pertempuran itu terjadi di sisi timur Mojokerto, karena pesawat Belanda datang dari arah timur. Mungkin kota Surabaya yang lebih dulu dikuasai Belanda.

Sore harinya, terdengar suara dentuman yang menggelegar lagi. Suara itu datang dari tengah kota Mojokerto. Anehnya, dentuman keras itu tidak hanya terjadi satu kali, tapi terdengar setiap lima sampai sepuluh detik. Semua itu sungguh menarik perhatianku, dan membuat rasa ingin tahu didalam diriku membara menyala-nyala.

Dengan cepat aku lalu berlari menuju ke alun-alun, ke arah Selatan kampung bawah, sambil berteriak, “Reeek, ayo ndelok, reek” (Rek, ayo nonton, rek).”

Aku terus berlari sambil berteriak-teriak. Saat aku menengok ke belakang, aku melihat ada serombongan anak-anak kecil yang mengikutiku. Aku seakan merasa seperti Cacak, sang Pemimpin Geng Anak Tanjung di kota Malang dulu.

Akhirnya, aku sampai di sisi barat alun-alun. Di sana Aku menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Bukan main, benar-benar seperti yang ada di film-film perang. Di tengah alun-alun di sisi Timur, ada sederet meriam kecil milik tentara Belanda. Meriam itu namanya canon (baca: Kanon). Canon, adalah sebuah meriam kecil yang memiliki roda.

Di bagian depan canon ada semacam perisai dari baja bersegi empat. Dari tengah perisai baja itu menyembul moncong meriam. Aku bisa melihat ada empat buah canon yang berderet menghadap ke atas, ke arah Barat. Jadi, moncong canon-canon itu menghadap ke arahku dan teman-teman yang sedang tiarap di atas rumput.

Bagian inilah yang paling seru. Saat meriam itu ditembakkan, muncul kilatan api dari mulut canon. Terdengar suara ledakan yang dahsyat, memekakkan telinga. Peluru meriam itu berdesing di langit di atas kepalaku dan teman-temaku, lalu jatuh jauh di sebelah Barat kota Mojokerto. Untuk mengurangi suara dentuman, kami harus menutup telinga. Meskipun telinga sudah ditutup, tetapi setiap kali meriam berdentum dada serasa seperti ditimpa sansak, yakni sekarung pasir yang biasa digunakan untuk latihan tinju.

Menjelang Maghrib, serangan tentara Belanda baru berhenti. Aku berdoa agar peluru-peluru canon tadi berjatuhan di tengah sawah saja, sehingga tidak jatuh korban di pihak tentara Indonesia. Aku dan teman-temanku pun pulang sambil membawa dada yang masih terasa sesak.

Pada tengah malamnya terdengar kabar yang membuat hatiku bangga. Ada serangan balasan dari tentara kita menjawab serangan canon Belanda siang tadi. Dari arah Barat, tentara Republik Indonesia menggempur tentara Belanda di kota Mojokerto. Hujan peluru mortir itu juga berjatuhan di daerah kampung bawah dan di sekitar rumah kami. Suasana tegang dan mencekam.

Malam itu kami, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku, berlindung di bawah kolong tempat tidur, sambil berdoa.

(Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke 70)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

wpid-fb_img_1439780262731.jpg

Sebuah Rahasia

SEBUAH RAHASIA

 PADA awal bulan Desember terjadi kesibukan yang luar biasa di rumah Mbah Tanjung. Rumah yang semula sudah dipenuhi anak-anak itu semakin ramai dan heboh. Ada yang kami tunggu-tunggu saat itu, yakni SINTERKLAS.

Sinterklas adalah sosok seorang laki-laki tua berkulit putih, berkacamata, bertubuh tinggi dan selalu membawa tongkat. Sinterklas memiliki kumis dan jenggot berwarna putih yang lebat, berbaju jubah merah serta menggunakan topi tinggi yang juga berwarna merah. Cerita tentang Sinterklas ini diceritakan oleh Tante Jah. Ia adalah wanita yang berperan menjadi ibu asuh bagi kami, anak-anak di rumah itu.

Menurut Tante Jah, Sinterklas tinggal di Negeri Belanda, yang konon pada bulan Desember tahun itu, akan mengunjungi Indonesia. Jadi, ada kemungkinan Sinterklas juga akan mengunjungi kota Malang.

Sinterklas biasanya dengan kudanya melakukan perjalanan bersama seorang asisten yang bernama Pit Hitam (Zwarte Piet), seorang lelaki kurus berkulit hitam legam. Sinterklas akan berkeliling dari rumah ke rumah membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak yang berkelakuan baik. Sedangkan si Pit Hitam tugasnya menghukum anak-anak yang nakal.

Tante Jah menceritakan itu semua dengan muka serius, disertai gerakan-gerakan untuk memberi tekanan tertentu pada apa yang ia ceritakan. Anak-anak mendengarkan cerita Tante Jah dengan muka yang tegang, mata yang melotot, dan mulut yang agak melongo. Begitu pula diriku, sama ekspresinya seperti mereka. Kami semua terkagum-kagum akan kebaikan hati dan kehebatan Sinterklas.

Tante Jah meminta agar anak-anak mempersiapkan diri, karena mungkin sewaktu-waktu Sinterklas datang kemari, ke rumah Mbah Tanjung.

Sejak hari itu tingkah laku anak-anak menjadi berubah drastis. Ada yang tiba-tiba menjadi rajin menyapu rumah, membersihkan tempat tidur, dan membuka-buka buku pelajaran sekolah. Aku juga tidak ketinggalan. Aku mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja, kursi dan lemari yang ada di ruang tengah. Tetapi dalam melakukannya aku lebih banyak beristirahat dari pada bekerjanya. Hanya kalau Tante Jah melewati ruang tamu saja, maka dengan sigap aku mulai membersihkan kursi-kursi, meja atau lemari. Tujuanku, agar nanti kalau ditanya oleh Sinterklas, Tante Jah akan melaporkan bahwa akulah yang terbaik diantara anak-anak lain.

Beberapa hari kemudian, anak-anak dikumpulkan lagi oleh Tante Jah. Katanya akan ada pengumuman penting. Dengan penuh harap, kami mengelilingi sang Tante yang berwibawa itu. “Ini serius. Sinterklas malam ini akan singgah di kota Malang,” kata Tante Jah. Anak-anakpun menjadi semakin tegang, terlebih lagi aku.

“Jadi, agar Sinterklas mau mampir ke rumah ini, kita harus memancing kudanya Sinterklas itu dengan menyediakan makanan yang disukai kuda. Kalian harus mengumpulkan rumput dan dimasukan ke dalam sepatu kalian masing-masing. Kemudian sepatu yang berisi rumput itu harus diletakkan di ruang tengah ini,” kata Tante Jah melanjutkan.

Maka berhamburanlah kami mencari rumput, dengan membawa sepatu masing-masing. Tetapi aku tidak mau mengambil rumput dari halaman rumah itu. Aku menyeberang ke halaman tetangga yang memiliki rumput lebih hijau dan lebat. Dengan rumput terbaik, maka pastilah kuda Sinterklas akan tertarik karena rumput di sepatuku lebih hijau dan panjang dari pada sepatu anak-anak lain. Dan dengan begitu, ia akan mendapatkan hadiah yang terbaik dan lebih besar.

Pada malam hari itu kami diharuskan untuk tidur lebih awal. Sehingga jika tengah malam Sinterklas singgah ke rumah kami, anak-anak sedang tidur lelap. Itulah perintah Tante Jah. Sebelum jam 9 malam, kami sudah bersiap tidur. Lampu kamar pun dimatikan.

Semua anak-anak sudah mulai “ngorok“. Hanya aku saja yang belum bisa tidur. Aku masih saja memikirkan bagaimana caranya nanti Sinterklas dan Pit Hitam masuk ke dalam rumah. Jika masuk melalui atap rumah, apakah Sinterklas tidak akan memecahkan genteng-genteng sehingga membuat bocor ketika hujan turun? Perkara ini agak mengganggu pikiranku.

Ketika Tante Jah membuka pintu kamar kami untuk memeriksa apakah kami sudah pada tidur, aku dengan cepat pura-pura sudah tidur nyenyak. Aku mengatur nafas panjang-panjang seperti orang yang sudah lelap tidur.

Dan benar saja, di tengah malam itu mulai terdengar suara-suara, “geletak-geletuk”. Aku menjadi semakin tegang. Suara itu tidak datang dari atas atap rumah, tetapi dari ruang tengah. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku dan mengintip apa yang terjadi di ruang tengah. Aku tidak berani mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Aku berdiri jauh dari pintu, menempel ke tembok sehingga tidak akan terlihat dari ruang tengah yang terang.

Hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kulihat dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu. Ada tangan-tangan yang bergerak-gerak dan menaruh kotak-kotak hadiah yang sudah dihias ke dalam sepatu-sepatu yang sebelumnya berisi rumput. Aku terkejut, tapi pada akhirnya aku mengerti, siapakah sebenarnya “Sinterklas” itu. Kemudian aku pun mengendap-endap kembali naik ke tempat tidur, lalu tidur pulas.

Pagi hari tiba, suasana menjadi meriah. Anak-anak termasuk aku mulai membuka bungkusan-bungkusan hadiah. Kami bersorak-sorak girang sambil memegang hadiah masing-masing. Tidak ketinggalan aku juga ikut berteriak-teriak senang. Kemudian kami diminta bernyanyi sebagai tanda terima kasih kepada Sinterklas. Seperti biasanya, aku bernyanyi paling keras dan paling merdu.

Tentu saja aku masih ingat apa yang kusaksikan semalam. Tetapi, di depan anak-anak-anak lain aku bersikap seakan-akan aku tidak tahu apa-apa. Aku melakukan semacam gerakan “tutup mulut”. Aku tidak mau membuat tante Jah kecewa. Ia yang sudah bekerja keras mempersiapkan kedatangan Sinterklas ke kota Malang setiap tahun. Aku berjanji tidak pernah membuka “rahasia” malam itu kepada anak-anak yang lain.

Biarlah suatu saat nanti, mereka akan tahu sendiri rahasia Sinterklas, mungkin kalau sudah dewasa, tetapi bukan dari aku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

Naik Becak

NAIK BECAK

SETELAH ayahku meninggal dunia saat aku masih bayi, aku dititipkan dan dibesarkan oleh sebuah keluarga yang tinggal di Jalan Tanjung Gang 2 di kota Malang, Jawa Timur. Di jalan itu terdapat sebuah rumah milik seseorang yang kita sebut saja sebagai Mbah Tanjung.

Mbah Tanjung merupakan pahlawan bagi keluarga besar kami karena beliau bersedia menampung anak-anak yang dititipkan oleh orang tua mereka. Meski berada di sebuah gang, tetapi rumah Mbah Tanjung cukup besar serta memiliki halaman depan yang luas. Suasana rumah itu selalu meriah dengan suara anak-anak, ramai hilir mudik anak-anak, berlarian, sradak-sruduk, bagaikan panti asuhan yatim piatu. Diantara anak-anak yang tinggal di sana, akulah yang paling kecil. Mungkin karena itu aku sering jadi “pusat perhatian”, entah mereka ganggu atau mereka bully.

Sejauh ingatanku, rutinitasku sebagai anak kecil adalah bermain, berkelahi, menangis, dan makan. Dari siklus tersebut, fokusku yang paling utama adalah pada.., MAKAN.

Aku selalu disiplin saat waktu makan tiba. Siap datang paling awal. Tetapi entah mengapa, selalu saja timbul masalah ketika “proses makan”.

Begini ceritanya…

Mbah Tanjung memiliki dua anak laki-laki yang jauh lebih besar daripada anak-anak yang lain, sebab itulah mereka dipanggil om. Mereka bandel bukan kepalang. Ada-ada saja kelakuan mereka, apalagi dalam mengganggu anak-anak yang lebih kecil. Dan selalu saja aku yang mereka jadikan bulan-bulanan, mungkin karena aku adalah anak yang paling kecil, yang nggemesin, dan tidak mungkin melawan.

Saat pembagian makanan, saat anak-anak lain sudah mendapat jatahnya dan mulai makan, aku belum mendapatkan jatah makan. Entah siapa diantara mereka yang menyembunyikan jatah makanku. Faktanya, makin hari mereka makin kompak menggangguku. Maka lambat tapi pasti, aku merasa tidak nyaman baik secara fisik karena lapar maupun secara mental sebab harga diri. Dan untuk melawan itu semua, aku mengeluarkan sebuah jurus jitu: menangis! Awalnya aku hanya merengek-rengek agar dikasihani. Karena tidak ada respon, akhirnya aku menangis lebih keras lagi. Jika masih tetap tidak ada perhatian, akupun tancap gas, menangis sekeras-kerasnya, dan selama-lamanya. Dan hasilnya? Jatah makanku tetap saja tidak dikeluarkan!

Saat hampir menyerah, aku yang masih tersengal-sengal menangis, melangkah menuju ke pojok ruangan dan duduk di lantai. Sembari berusaha menenangkan diri, aku menggores-gores lantai sekenanya seperti ingin menggambar sesuatu yang belum jelas bentuknya. Dan akupun mulai bernyanyi. Maka terjadilah sebuah keajaiban!

Kedua Om bandel itu mendatangiku, sambil senyum-senyum menyodorkan jatah makanku. Detik itu juga aku mendapat pencerahan, bahwa menangis ternyata sudah tidak lagi menjadi senjata yang memadai. Kini aku menemukan senjata yang lebih modern… menyanyi!

Sejak saat itu, jika tiba waktunya pembagian makan, tanpa dikomando aku langsung menyanyi. Tetapi, setiap kali keinginan mereka berubah, persyaratan menyanyi pun mereka ganti, seperti kurang keras, kurang bagus, ganti lagu atau tambah lagu. Aku menurut saja. Oke, oke, enggak apa, yang penting makan, pikirku. Maka dalam waktu relatif singkat, statusku di rumah itu berganti, menjadi penyanyi.

Hampir setiap malam aku “ditanggap” untuk menghibur seluruh isi rumah Jalan Tanjung Gang Dua itu. Bahkan Mbah Putri pun kadang ikut-ikutan request lagu. Sebab konon katanya, suaraku tidak fals

Makin hari karier dan popularitasku semakin melejit. Sebelum masuk sekolah TK (Taman Kanak-kanak) saja aku sudah mendapat job serius!

Waktu itu ada perayaan besar di instansi tempat Mbah Tanjung bekerja. Ada sekitar 200 karyawan dan keluarganya memenuhi aula gedung megah itu. Di sana sudah siap sebuah panggung besar dan aku harus menyanyi dengan diiringi oleh sebuah orkes yang terdiri dari gitar, biola, drum dan bas betot. Aku diminta menyanyikan lagu “Naik Becak” ciptaan Ibu Soed.

Sebelum aku naik ke panggung untuk menyanyi, aku melihat sebuah kursi di tengah panggung menghadap ke penonton. Kursi itu bakal menjadi “becak”, pikirku. Begitu orkes bas betot memulai intro lagu, aku naik ke atas panggung, menyanyi dan bergaya sesuai kata-kata dalam lagu Naik Becak.

Aku tidak hanya bernyanyi berdiri diam, tapi sambil berjalan-jalan, kadang aku melambaikan tangan yang seolah-olah memanggil becak, atau duduk di kursi sambil mengangkat kaki seperti sedang naik becak, dan seterusnya mengikuti lagu yang dinyanyikannya.

Saya mau tamasya

berkeliling keliling kota

hendak melihat-lihat keramaian yang ada

saya panggilkan becak

kereta tak berkuda

becak, becak, tolong bawa saya

 

Saya duduk sendiri

sambil mengangkat kaki

melihat dengan aksi

ke kanan dan ke kiri

lihat becakku lari

bagai takkan berhenti

becak, becak, jalan hati-hati

Selesai bernyanyi, sesuai arahan dari panitia, aku membungkukkan badan ke arah penonton. Apa yang terjadi setelah itu?

Aku shock bukan main. Seluruh penonton di aula itu bertepuk-tangan. Bahkan sebagian dari mereka bertepuk tangan sambil berdiri. Mereka bertepuk tangan sangat lama, sangat lama. Aku tahu, mereka bertepuk tangan untukku. Peristiwa itu membuat diriku terpana. Ada suatu perasaan aneh di dalam dadaku, seperti ada kupu-kupu yang menari-nari di dalam perutku. Peristiwa itu sangat membekas dalam diriku.

***

   Berpuluh-tahun kemudian, pada awal tahun 90an, aku yang sudah bekerja dan menikah, berkesempatan mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan oleh The Dale Carnegie Course. Pada akhir sesi kursus, diadakan semacam adu keterampilan berbicara di depan orang banyak untuk menentukan siapa yang terbaik di dalam angkatan tersebut. Setiap peserta harus maju satu persatu untuk berbicara mengenai topik tertentu. Topik yang ditentukan adalah topik tentang hal-hal atau kejadian yang paling berkesan sewaktu kanak-kanak.

Satu persatu para peserta maju untuk menceritakan pengalamannya, dan bagus-bagus ceritanya. Ada yang mengharukan, mendebarkan, dan sebagainya. Begitu mendapat giliran, aku maju ke depan, tidak untuk bicara, tetapi kusambar sebuah kursi, kutaruh di depan kelas, lalu kunyanyikan lagu Naik Becak sembari bergaya.

Aku bergaya seperti di atas panggung persis semasa aku kecil dulu yang masih berumur lima tahun. Akhirnya, tentu seperti yang sudah diduga, aku dinobatkan menjadi peserta terbaik, dan memperoleh plakat emas dari The Dale Carnegie Course yang berpusat di Amerika.(*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑