MAINAN ANAK PERANG
TENTARA Belanda telah pergi meninggalkan Wonogiri. Suasana damai, aman, tenteram dan nyaman mulai terasa lagi di kota ini. Gunung Gandul tetap tegak berdiri dan siap untuk didaki. Mbok-mbok bakul pun mulai meramaikan lagi Pasar Wonogiri dan juga memeriahkan suasa jalanan di depan rumahku, di Jalan Jurang Gempal.
Tetapi benarkah itu semua? Ternyata tidak. “perang lain” ternyata baru saja akan dimulai. Semua harus mempersiapkan diri karena Belanda akan kembali datang. Itu lah yang ada di dalam pikiran kami, aku dan anak-anak Wonogiri anggota GAGAS (Geng Anak Gragas).
Maka secara hampir serentak muncullah “tentara-tentara kecil” di seluruh Wonogiri. Mereka mereka memperlengkapi diri dengan “senjata”masing-masing.
Sementara itu senjata kegemaranku adalah senjata otomatis laras panjang. Senjata itu buatanku sendiri, yaitu terbuat dari tulangan daun pisang, yang di kiri-kanannya di beri enam buah ‘coakan’ (belahan) dari atas ke bawah. Masing-masing coakan itu sepanjang sekitar sepuluh sentimeter. Coakan itu bisa dibuka dari atas ke bawah. Maka kalau tulangan daun pisang itu di genggam dengan telapak tangan dan di dorong dari bawah ke atas, maka coakan-coakan itu akan menutup dengan suara cukup keras, suaranya plok..plok…plok. Dan kalau dorongannya cepat, maka suaranya akan mirip sekali seperti rentetan suara tembakan senjata otomatis.
Selain ituaku juga suka menggunakan ikat pinggang. Pada ikat pinggangku itu bergelantungan granat. Granat adalah senjata bulat segenggaman orang dewasa, yang gunanya untuk dilemparkan ke arah musuh dan kemudian akan meledak. Konon ada dua macam granat, dibedakan dari bentuknya. Ada Granat Nanas dan ada Granat Manggis. Tetapi jenis“granat” yang aku sering gunakan adalah jenis ‘Granat Lontong’, karena bentuknya yang bulat dan panjang seperti lontong.
Granat Lontong ini terbuat dari gulungan kertas yang kemudian di dalamnya diisi dengan bubuk kapur berwarna putih, yang namanya gamping. Di kedua ujung gulungan kertas itu lalu ditutup dengan cara dilipat dan di lem rapat. Aku sangat menyukai Granat Lontong ini.
Kalau granat ini dilempar dan jatuh ke tanah maka granat itu akan pecah dan menyebarlah bubuk putih tadi. Kalau granat ini aku lemparkan lebih tinggi lagi jauh ke udara, dengan sebelumnya sedikit dilubangi, maka granat ini akan melayang di udara sambil meninggalkan taburan bubuk putih, bagaikan asap sebuah roket. Menurtku dan teman-teman senjata ini sangat keren.
Maka, dengan ‘perlengkapan-perlengkapan perang’ itu, kini para anggota geng anak GAGAS merasa bahwa tugas kami bukan lah hanya mencari makan saja, tetapi juga untuk siap berperang melawan penjajah.
Kami anak-anak Wonogiri ini berprinsip bahwa kami semua tidak takut terhadap tentara Belanda, meskipun tentara Belanda diperlengkapi dengan pesawat tempur, meriam dan kendaraan perang yang canggih, bahkan walaupun juga dipersenjatai dengan makanan kalengan yang enak-enak dan melimpah. Kami ini lebih menghargai tentara-tentara Republik yang sederhana tetapi mempunyai semangat kepahlawanan yang membuat kami, kagum dan bangga.
Siang itu, setelah menyelesaikan operasi makan belalang para anggota Geng Anak Gragas, melanjutkan perjalanan napak tilas ke ‘front’, yaitu lokasi yang dulunya merupakan garis depan dari perjuangan tentara kita.
Kami menyeberangi jembatan sungai Bengawan Solo, dan menuju ke Pokoh, lokasi tempat tentara kita mengadakan serangan-serangan ke arah Kota Wonogiri, yang diduduki Belanda.
Pokoh terletak diseberang sungai Bengawan Solo. Disitu, dipinggir sungai terdapat tanah terbuka yang luas dan dipenuhi semak belukar. Kemudian kami pun memulai sebuah operasi “pencarian” di tempat tersebut.
Operasi pencarian yang kami lakukan ternyata mendatangkan hasil. Kami menemukan banyak selongsong bekas peluru yang ditembakkan dari tempat itu. Perlu diketahui, bahwa jika senjata ditembakkan, pelurunya akan melesat, tetapi selongsong peluru akan terlontar ke samping dari senjata itu. Banyak sekali kami temukan selongsong peluru yang bertebaran disitu.
Tetapi operasi pencarian kami terus berlanjut. Kami mulai juga membongkar semak-semak di daerah itu, sambil mencari ular tentunya. Akhirnya kami menemukan apa yang sebenarnya kami cari-cari, yaitu peluru yang masih utuh, yang belum ditembakkan.
Maka dengan hati-hati kami memasukkan peluru utuh tersebut ke dalam sebuah kantong. Setelah itu kami kembali pulang menyeberangi jembatan dan menuju ke base-camp. Di sana kami sembunyikan peluru-peluru tersebut di bawah bebatuan di semak-semak, lalu kami pulang ke rumah.
Keesokan harinya kami kembali ke pos dengan membawa beberapa perlengkapan berupa tang, pisau dan gunting. Acara geng GAGAS hari itu hanya satu, yaitu mencoba membongkar peluru-peluru utuh yang kemarin kami temukan, tentu saja tanpa ada yang boleh meledak.
Dengan sangat hati-hati kami melepaskan kepala peluru yang tajam itu dari selongsongnya. Semua ini harus dilakukan dengan sangat lembut, tidak boleh ada satu hentakan pun . Kalau sampai ada hentakan, atau peluru itu terjatuh apalagi terantuk di benda keras, maka mesiu yang ada di dalam peluru itu akan meledak, dan kepala peluru yang tajam itu bisa melesat dan menerjang apapun dan siapapun yang menghalanginya.
Setelah bersusah payah dan penuh ketegangan akhirnya sebuah peluru berhasil mereka buka. Lalu dengan cermat dan berhati-hati kami keluarkan mesiu yang ada di dalam peluru itu. Ini sungguh berbahaya, “please don’t try this at home” ya….
Mesiu yang sangat berbahaya tersebut berbeda-beda bentuknya, ada yang berbentuk seperti bihun yang berwarna kuning, ada juga yang berbentuk biji-biji batu yang kecil-kecil sebesar beras dan berwarna hitam. Mesiu itulah yang kemudian kami kumpulkan dengan hati-hati dan kemudian kami masukkan ke dalam kotak. Aku mengambil sejumput kecil mesiu itu lalu kubungkus dengan kertas timah. Nah, sekarang jadilah sebuah “bom kecil”.
Bungkusan kertas timah yang di dalamnya berisi mesiu itu kami letakkan di atas batu yang besar dan rata bagian atasnya, lalu ditumbuk dengan batu lainnya maka “DOR!!..”, terjadilah ledakan yang keras. Semakin besar bungkusan itu, semakin besar dan keras pula suara ledakannya. Kadang-kadang kami sering berpura-pura menembak ‘musuh’ dengan ledakan yang sebenarnya, dari mesiu itu.
Pada suatu siang, kami bersiap untuk mengadakan latihan perang-perangan secara besar-besaran antar kampung. Kampungku, yang berada di Selatan Jalan Raya Jurang Gempal, akan melawan Kampung yang berada di sisi Utara jalan raya. Perundingan pun diadakan, kami semua sepakat bahwa perang-perangan itu hanya akan menggunakan Granat Lontong, tidak boleh menggunakan batu, anak panah atau senjata tajam lainnya. Pertempuran akan dilakukan dengan saling melempar ‘granat’ berisi gamping (bubuk kapur).
Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Pasukanku berhasil mendesak musuh masuk ke utara jalan raya. Aku paling semangat berteriak memberikan aba-aba agar pasukan kampung kami maju menyerang lawan. Dan mereka pun dengan keberanian yang luar biasa maju ke depan sambil berteriak-teriak.
Aku memberikan aba-aba itu bukan dari depan, tapi dari belakang pasukan, karena pasukan terdepan adalah anak-anak yang badannya lebih besar daripada badanku. Dan aku pun harus selalu waspada memperhatikan barisan yang terdepan itu. Kalau mereka kelihatan akan mundur, maka aku akan berlari terlebih dulu meninggalkan pertempuran itu.
Beruntunglah anak-anak dari kampung kami berhasil memenangkan perang tersebut, dengan meninggalkan “kerusakan” parah di pihak lawan. Jalanan, halaman dan atap-atap rumah dipenuhi dengan bubuk berwarna putih, bagaikan salju yang menyelimuti rumah-rumah di Iceland, di dekat kutub utara sana. Sejak itu permainan perang-perangan yang biasa anak-anak suka lakukan ini dilarang.
Maka kembalilah anggota GAGAS, Geng Anak Gragas ke posnya, untuk kembali kepada tugas semula, mencari makan. Belalang! (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi



