
.
PEREMPUAN MISTERIUS
SEJAK masih bayi, aku tinggal di rumah Mbah Tanjung di Kota Malang. Aku tinggal bersama anak-anak lain yang lebih besar yang juga dititipkan oleh orang tua mereka. Alasan aku dititipkan adalah karena ayahku telah meninggal dunia ketika aku masih bayi.
Aku ingat secara samar-samar saat aku masih sangat kecil, saat aku belum bisa melakukan banyak hal. Mungkin saat itu aku baru bisa duduk dan merangkak, belum bisa berjalan.
Nah ijinkan aku sekarang mencoba mengingat-ingat jauh ke masa kecilku.
Aku masih ingat saat-saat dimana ada sosok seorang perempuan sedang duduk di depanku, di atas dipan. Perempuan itu memandangku sambil menangis. Saat itu, aku bingung, mengapa ia terus menangis di depanku. Siapakah perempuan itu sebenarnya. Terkadang aku digendongnya berjalan mondar-mandir di sekitar rumah Mbah Tanjung. Sebelum ia pergi, aku dikembalikan lagi ke atas dipan, lalu perempuan itu menangis lagi sambil memandangi aku. Tidak berapa lama kemudian perempuan itu pergi dan tak kelihatan lagi.
Pada lain waktu, kejadian seperti itu terulang lagi. Perempuan itu datang ke rumah Mbah Tanjung, duduk lagi di dipan tepat di depanku, menggendongku, dan menangis lagi sambil memandangiku, lalu ia pergi lagi.
Aku merasa aneh melihat perempuan asing itu. Pernah suatu kali aku digendongnya, berjalan mondar-mandir, diajaknya menuju halaman, melihat-lihat apa yang ada disitu. Ada ayam, kucing, burung, yang sepertinya ia ingin menunjukan semua itu kepadaku. Padahal aku ini sudah terbiasa melihatnya, karena memang binatang-binatang itu setiap hari ada di sekitar rumah Mbah Tanjung. Aku yang masih sangat kecil waktu itu menurut saja.
.Suatu pagi perempuan itu datang lagi. Tetapi, kali ini ia tidak menangis. Aku lalu ‘didandani’-nya dengan pakaian rapih. Tidak lama kemudian, aku telah berada dalam gendongannya, dan yang aku ingat, tiba-tiba kami sudah berada di tengah keramaian pasar. Ya, aku diajaknya ke pasar.
Di pasar, perempuan itu berbisik ke telingaku, “Koe arep opo?…(kamu mau apa?).” Aku lalu menunjuk apa saja yang ada di depanku. Ada kue, aku tunjuk, dan ia membelikan kue itu buatku. Lalu aku menunjuk lagi ke tempat lain. Ada permen, aku tunjuk, dan perempuan itu lalu membelikannya. Begitu seterusnya, apapun yang aku tunjuk selalu dibelikannya, hingga sekeranjang penuh. Aku merasa sangat bahagia saat itu. Pulang dari pasar, kami berdua naik becak. Di atas becak aku tertidur. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat sosok perempuan itu.
Bertahun-tahun kemudian setelah kejadian itu, aku baru mengerti bahwa perempuan misterius itu adalah Ibu kandungku.
.
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi
