Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Solo

Seminggu Serasa Setahun

SEMINGGU SERASA SETAHUN

“No mengundang kita ke Jakarta. Kita berangkat hari Sabtu, minggu depan.” Kata pak Mojo kepada bu Mojo di depanku.

Ayahg angkatku itu mengatakan dengan nada datar saja. Tetapi bagiku, berita tersebut bagaikan suara gelegar letusan gunung berapi.

Dalam pikiranku aku membagi kalimat itu menjadi beberapa bagian. Kata ‘Jakarta’ merupakan kejutan bagiku, karena artinya kami pasti naik Kereta Api Ekspres. Kata ‘berangkat’ adalah sebuah kepastian yang seakan mampu meledakkan dadaku. Sedangkan ‘Sabtu minggu depan’ merupakan rentang waktu menunggu yang akan selalu membangkitkan rasa khawatirku, jadi berangkat atau tidak.

Sejak detik itu, di depan mataku sering terlihat sebuah Kereta Api Ekspres. Jenis kereta inilah yang dulu sering aku lihat di stasiun kota Jombang. Gerbong-gerbongnya yang besar dengan cat yang mengkilat indah. Lokomotifnya yang sebesar rumah, bulat memanjang dengan telinga di samping kiri-kanan kepalanya. Sungguh gagah dan jantan. Kalau terlambat diberangkatkan, dia akan mendengus bagaikan seekor naga hitam. “Josssh..” sambil mengeluarkan asap panas warna putih dari hidungnya.

Pada malam pertama setelah berita mengagetkan itu, tidurku tidak pernah tenang. Aku sering bermimpi dan terbangun karena dikejutkan oleh suara Kereta Api Ekspres yang melintas di depan kamar tidurku. Aku sering terbangun dan menangis, karena dalam mimpiku aku kecewa kehabisan karcis kereta.

Pagi harinya aku bangun dengan kepala terasa berat dan sakit. Nafsu makanku sirna. Sepanjang hari aku kebingungan, tidak tahu apa yang akan kukerjakan. Di hari-hari berikutnya terjadi lagi hal yang sama. Dalam pikiranku berkecamuk kejadian-kejadian yang sangat membingungkan dan penuh kekhawatiran. Aku demikian takut kalau perjalanan ke Jakarta nanti dibatalkan. Semenjak itu aku jarang keluar rumah.

“Kenapa sudah tiga hari ini kamu tidak kelihatan?” Kata Yahmin kepadaku di depan para anggota Gagas, Geng Anak Gragas, di basecamp samping kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Rupanya aku sedang disidang oleh mereka.

Yahmin melanjutkan, ”Lihat mukamu pucat, badanmu kurus seperti orang kurang gizi!” Aku pun berusaha menjelaskan duduk persoalan mengapa aku sering absen. Bahwa aku sedang ‘sibuk’ memikirkan rencana keberangkatanku menuju Jakarta hari Sabtu minggu depan.

Yahmin mencoba menasihatiku ”Kalau mau ke Jakarta, seharusnya kamu menjadi gembira. Tapi kok makin kacau dan kurus begini, itu sakit pikiran namanya.” Sebagai pendiri Gagas, aku tidak boleh kalah berdebat dari Yahmin.

Maka aku mencoba berdalih,

”Min, yang mengganggu pikiranku ini bukan masalah aku akan pergi ke Jakarta, tetapi yang aku takutkan adalah, kalau nanti aku tidak boleh pulang ke Wonogiri karena tenagaku dibutuhkan di Jakarta. Kalau itu terjadi, kalian yang harus terus menjalankan geng kita ini.” Sunyi. Mereka terdiam, tidak melanjutkan perdebatan. Biarlah mereka berpikir sendiri.

Setiap hari aku berharap hari itu adalah hari Jumat, hari dimulainya libur panjang. Di sekolah aku sudah kehilangan konsentrasi belajar. Misalnya kemarin, aku dipanggil oleh ibu guru dan aku mendapat marah besar. Pasalnya aku kepergok sedang menggambar Kereta Api Ekspres pada waktu pelajaran berhitung.   Apalagi sewaktu laci mejaku dibongkarnya, terdapat banyak sekali kertas-kertas dengan gambar kereta api. Sementara setiap malam aku masih rutin bermimpi buruk. Sungguh melelahkan. Aku menyesali para orang tua, mengapa mereka sering menjanjikan sesuatu kepada anak kecil terlalu jauh dari harinya. Hal ini membuatku sangat tersiksa. Aku sudah tidak sabar lagi untuk naik Kereta Api Ekspress ke Jakarta!.

Akhirnya, setelah serasa setahun menunggu dan sakit pikiran. Siang itu kami telah berdiri manis menunggu di stasiun kereta api Solo Balapan di kota Solo. Kami menunggu di Spoor Satu (rel nomer satu). Jantungku semakin berdebar-debar menunggu kereta kami yang belum juga datang.

Yang lebih dulu tiba adalah kereta yang masuk di rel nomor dua dan nomor tiga. Aku semakin khawatir dan gelisah. Jantungku berdegup kencang, badanku rasanya panas dingin. Medadak aku melihat Pak Sep Sepur bertopi merah mendekati rel nomer satu. Sambil memandang ke arah Timur, dia meniup peluitnya keras-keras. Dan kemudian masuklah Kereta Api Ekspres itu, berhenti di depan kami, di rel nomer satu. Hatiku lega girang bukan kepalang.

Kami memasuki gerbong mewah tersebut dan duduk diatas kursi yang sangat empuk. Aku masih merasa tak percaya ini semua nyata. Dengan tertib para penumpang masuk ke dalam gerbong. Masing-masing penumpang punya tempat duduk sendiri, tidak ada yang berdiri maupun duduk di lantai.

Tak lama kemudian keretaku mulai bergerak pelan dengan sangat lembut, hampir tak ada hentakan sama sekali. Dalam waktu singkat kereta api ekspress sudah melesat cepat, tanpa terasa adanya goncangan yang kasar.

Seperti biasa mataku mulai melihat berkeliling dan mulai mengamati. Gerbong kami ini terlihat sangat indah, bersih dan berbau wangi. Begitu juga para penumpangnya, berpakaian bagus rapih serta beraroma parfum harum. Aku berusaha keras untuk bisa menoleh ke kiri dan ke kanan sambil tetap duduk diam dan bersikap sopan.

Tiba-tiba di sampingku melintas seorang pelayan membawa baki makanan. Maka terciumlah bau harum masakan yang sepertinya sangat lezat. Hampir saja aku melompat dan mengintip isi baki tersebut. Tetapi kemudian sadar dan aku duduk sopan dan tenang. Aku harus bersikap seperti anak orang kaya sekarang. Karena aku adalah penumpang Kereta Api Ekspress!

Tiba-tiba aku merasakan sebuah perasaan yang sangat lega. Walau serasa seperti setahun, penantianku seminggu ini telah usai. Impianku sudah menjadi nyata. Goyangan lembut Kereta Api Ekspres ini, membuat mataku mulai meredup. Sebelum tertidur, didalam hati, aku mengirimkan salam untuk sahabatku, si Sepur Kluthuk. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Terbang di atas Bengawan Solo

Jembatan kereta api yang melintasi Bengawan Solo.

.

TERBANG DI ATAS BENGAWAN SOLO

SOLO merupakan kota yang paling nyaman dan tentram menurutku. Setiap hari, dimanapun itu, selama masih berada di kota Solo, sayup-sayup akan terdengar alunan musik keroncong, atau musik gamelan Jawa yang mengalun lembut. Benar-benar membuat hati damai.

Namun, yang selama ini aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ketenangan kota Solo terkoyak oleh kerasnya suara bom. Anak-anak di sekitar rumah kami menjadi panik mendengar dentuman-dentuman keras itu. Tetapi, aku tampak tenang-tenang saja. Kepada mereka aku bilang bahwa itu suara perang. Lalu aku pun bercerita, pengalaman-pengalamanku melihat perang. Terutama pengalaman sewaktu di Mojokerto, ketika aku tiarap di depan meriam Belanda yang sedang ditembakkan.

Mendengarkan aku bercerita, mereka terkagum-kagum. Termasuk anak-anak yang lebih besar dariku. Mungkin mereka melihat caraku bercerita, sehingga mereka percaya bahwa aku tidak bohong dan mengada-ada. Seperti biasa, aku menikmati perhatian dan reaksi mereka.

Pada suatu siang, seingatku, aku sudah berada di atas sebuah truk. Truk yang akan membawaku kembali mengungsi. Truk pengangkut pengungsi ini langsung menuju ke arah selatan, keluar dari kota Solo. Belum jauh menempuh perjalanan dari kota Solo, jalan besar yang akan dilewati di depan kami ditutup. Beritanya, di depan ada jembatan yang terputus karena terkena ledakan bom.

Aku tidak tahu siapa yang menghancurkan jembatan itu, apakah tentara Belanda, atau tentara kita sendiri. Sebab, pada waktu itu ada istilah yang disebut dengan “Bumi Hangus”. Artinya, pihak Republik sendiri yang menghancurkan tempat-tempat penting, seperti jembatan atau bangunan tertentu, tujuannya agar nanti tidak bisa dipergunakan oleh tentara Belanda.

Akhirnya, truk kami berbelok memasuki jalan bertanah, melintasi kampung dan sawah-sawah. Kemudian, tahu-tahu, truk kami sudah berjalan di atas rel kereta api. Sebuah petualangan yang sangat menarik buatku tentunya.

Jadi, di atas landasan rel kereta api itu diletakkan papan-papan berjejer selebar dua papan dengan ukuran lebih lebar sedikit dari roda truk. Itu semua dijejer sepanjang rel kereta api dan roda-roda truk kami harus melewati papan-papan tersebut. Sungguh menegangkan, tapi seru!

Aku memperhatikan, membayangkan pengemudi truk kami pasti sudah sangat berpengalaman. Ini terlihat dari caranya mengemudikan truk, jalannya pelan tapi pasti. Pak sopir dibantu oleh dua orang kenek yang berdiri di luar pintu truk kiri dan kanan. Mereka bertugas mengawasi jalannya roda-roda depan, memastikan roda berjalan tepat di tengah papan-papan kayu.

Semua penumpang truk pun tegang, tidak hanya aku. Tetapi, melihat kelihaian pak sopir mengemudikan truk itu, aku yakin akan selamat. Truk berjalan dengan lancar, tidak tersendat-sendat. Itu yang membuatku hampir lupa, bahwa truk kami sedang berjalan di atas papan kayu dan di atas rel.

Sewaktu aku melihat jauh ke depan, aku sangat terkejut. Truk kami akan melewati jembatan besi yang sangat panjang. Jembatan itu melintasi sungai Bengawan Solo yang sangat lebar. Tapi kemudian, truk kami sudah berada di atas jembatan. Ini lebih seru, petualangan yang takkan terlupakan.

Aku segera bergegas, berdiri di pinggir bak truk yang paling depan. Luar biasa, seperti terbang rasanya. Aku merasa sedang terbang di atas sungai Bengawan Solo. Sungai yang lebar dan dalam itu berada di kiri-kanan kami.

Tiba-tiba aku teringat akan si Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung dulu di Malang. Seharusnya Cacak melihat ini. Aku sedang berada di depan, memimpin rombongan pengungsi. Bukan dengan berjalan kaki, tapi di atas truk, di atas jembatan, di atas sungai yang sangat lebar dan dalam. Pasti Cacak akan bangga melihatnya, menyaksikan aku bekas anak buahnya yang dulu pernah diangkat sebagai anggota Geng ketika aku masih TK.

Akhirnya, truk kami sampai ke jalan besar, dan berjalan terus menuju ke arah selatan, menuju kota Kabupaten Wonogiri. Di kejauhan, aku melihat deretan gunung yang memanjang, bagaikan sedang berbaris dari utara ke selatan. Pada salah satu puncaknya terlihat sebuah batu yang sangat-sangat besar. Orang yang berdiri di belakangku mengatakan bahwa batu besar yang di atas itu berada di puncak Gunung Gandul.

Gunung Gandul adalah gunung yang sangat terkenal untuk wisata. Bahkan, ada lagu yang berjudul Gunung Gandul. Kata orang-orang, Kota Wonogiri terletak di balik gunung tersebut. Untuk sampai ke kota tujuan, truk kami, truk para pengungsi perang, mulai menanjak, mendaki untuk melompati gunung, untuk menuju ke kota yang berada di balik gunung batu itu. Kota Wonogiri.

Setelah berhasil mendaki, lalu menuruni bukit, truk kami masuk ke kota Wonogiri. Sejak pada pandangan pertama, aku sudah jatuh cinta kepada Wonogiri. Jalanan di kota ini berbukit-bukit, naik dan turun, tidak ada jalan yang rata seperti kota-kota lain yang pernah aku datangi. Mungkin, karena Kota Wonogiri ini berada di kaki gunung batu itu.

Di sebelah barat, terlihat Gunung Gandul yang di atasnya terdapat sebuah batu yang maha besar itu. Dari pusat kota Wonogiri ke timur, terlihat jalanan menurun sampai ke tepi Sungai Bengawan Solo yang sangat lebar nan dalam. Di sisi utara Wonogiri, ada lagi sebuah gunung di mana sisi kaki gunung itu ditumbuhi pohon-pohon jati. Sungguh indah!

Namun, jika kita memandang ke arah Selatan pandangan mata akan sampai ke Pantai Selatan. Aku merasa bahwa sepertinya kota ini akan menjadi tempat yang cocok bagiku untuk berpetualang.

Di dalam hati, aku sempat bertanya lagi, apakah suatu saat nanti tentara Belanda juga akan menyusul ke kota ini? Dan kami harus pergi mengungsi lagi? Sementara sebelah selatan Kota Wonogiri adalah Laut Selatan. Apa kami harus nyebur ke Laut Selatan?

Semoga kota ini menjadi tempat pengungsian kami yang terakhir. Semoga… (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑