TATA KRAMA

Aku bersyukur bisa tumbuh sebagai anak yang cukup diberi kebebasan. Bebas bermain di luar rumah dan bebas berpetualang. Orangtua hanya mengharuskanku untuk sudah berada di rumah lagi saat hari menjelang petang dan pada waktu-waktu tertentu, misalnya waktu makan.

Dengan kebebasan seperti itu hidupku menjadi bersemangat dan bergairah. Aku selalu ingin mengamati dan menyelidiki apapun yang terjadi di sekelilingku, terutama yang menarik perhatianku. Tetapi ada satu hal yang menjadi kerisauanku, yaitu yang menyangkut masalah ‘tata krama’. Soal tata krama ini seakan menjadi momok yang menegangkan buatku.

Liburan panjang sekolahku, SDN Tiga Wonogiri telah dimulai. Sesuai rencana, aku bersama kedua orangtua angkat ku berangkat ke Jakarta, naik Kereta Api Ekspres yang telah lama aku impi-impikan. Kereta api ini memang jauh lebih mewah dan nyaman dibanding dengan sepur kluthuk yang kumuh itu.

Baru saja lima menit aku duduk di kursi empuk itu saat aku tersadar bahwa ternyata di dalam kereta ini aku tidak bisa bergerak bebas sesuka hatiku seperti di dalam sepur kluthuk. Aku mulai merasa tidak betah. Aku heran, mengapa anak-anak lain di dalam gerbong itu bisa duduk dengan tenang, mematung. Sebaliknya mungkin mereka juga merasa heran melihat aku, anak yang tidak bisa diam dan selalu bergerak. Aku merasa aku harus duduk tenang dan sopan sebagaimana layaknya anak orang kaya penumpang Kereta Api Ekspres lainnya. Mungkin begitulah tata krama dalam jenis kereta ini.

Sebenarnya aku hanya penasaran pada satu hal yang sangat menarik perhatianku di kereta ini. Yaitu kepada pelayan yang mondar mandir membawa baki makanan. Setiap kali dia lewat selalu saja menebarkan bau sedap makanan yang berbeda. Aku bertanya-tanya dari mana makanan itu berasal. Aku harus segera menemukan akal agar bisa meninggalkan tempat dudukku. Aku harus segera mencari tahu tentang hal ini. Rasa ingin tahuku sudah menggelora.

“Bu, aku mau pipis”, kataku kepada Bu Mojo di sampingku. Dengan gaya badanku yang bergerak-gerak seakan untuk pergi ke kamar kecil sekarang ini adalah hal yang mendesak dan mutlak, aku berdiri dan berlari meninggalkan kursi empukku. Setelah keluar dari kamar kecil, aku tidak kembali ke kursiku. Diam-diam aku mengikuti pak pelayan yang membawa nampan kosong itu.

Setelah menyusuri gerbong-gerbong yang bersih berbau wangi itu, sampailah aku di sebuah gerbong yang menurutku aneh. Setengah dari gerbong itu tertutup rapat dan dipakai sebagai dapur. Rupanya dari gerbong inilah asalnya semua makanan-makanan itu. Ketika aku melihat sisi lainnya, terdapat beberapa kursi dan meja seperti di restoran. Aku takjub dan terpana, ada sebuah restoran di dalam sebuah kereta api! Cukup lama aku duduk di situ sambil mengamati orang-orang yang sedang makan di restoran itu. Gerbong khusus itu bernama gerbong restorasi.

Tetapi tak lama kemudian aku tersadar dan segera bergegas kembali ke kursiku. Dalam hati aku merasa bersalah, aku telah “mencuri lihat gerbong” restorasi tanpa ijin. Apakah aku telah melanggar tata krama sebagai penumpang Kereta Api Ekspres? Aku merasa takut dan tak enak hati.

****

Pagi itu Om No mengajakku berkunjung ke rumah seorang tanteku yang tinggal di bagian Selatan Jakarta. Cukup jauh dari rumah Om No di Kramat Pulo di mana aku tinggal selama liburan panjang sekolahku. Om No meninggalkanku di rumah tanteku itu, karena rencananya aku akan menginap di situ.

Tanteku itu menikah dengan seorang pejabat tinggi pemerintah. Rumahnya besar, bersih dan rapih. Aku berkesimpulan bahwa keluarga tante merupakan keluarga yang memiliki gaya hidup orang berada dan berpendidikan tinggi. Hidupnya tertib, berdisiplin dan menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama. Mereka semua bersikap baik terhadapku.

Saat tiba waktunya makan siang, kami semua duduk di sekeliling meja makan yang telah tertata rapi. Di sisi piring porselen yang indah itu tersedia sendok dan garpu berlapis perak yang mengkilat. Nasi putih serta lauk pauknya pun membangkitkan selera. Tanpa sengaja mataku tertuju dan terpana pada ayam goreng di atas baki lebar yang berada tepat di depanku. Dalam hati aku langsung menimbang-nimbang akan memilih paha atau dada sambil memandangi ayam goreng itu. Tiba-tiba aku terkejut dan sadar bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang melihat ke arah makanan di meja. Tante dan anak-anak sedang menghadap lurus ke arah ayahnya yang sedang berbicara.

Akhirnya acara makan bersama pun dimulai. Aku mendapatkan paha ayam goreng, memang itulah yang aku harapkan. Aku pun makan menggunakan sendok dan garpu dengan sangat hati-hati. Mengapa? Karena selama kami makan itu, aku tidak pernah sekalipun mendengar suara dentingan sendok atau garpu mereka yang terantuk ke piring. Bagiku hal itu sangat tidak biasa dan tak mudah untuk dilakukan.

Keringat dinginku terasa hampir mengucur. Meskipun dengan susah payah, akhirnya aku berhasil makan tanpa bunyi. Di ujung acara makan bersama yang bagiku sangat menegangkan itu, aku dengan sengaja menyisakan tulang paha ayamku. Ini memang kebiasaanku, tulang ayam ini akan kujadikan sebagai “gong”. Potongan ini akan kumakan setelah nasiku habis. Lalu kemudian aku gigit tulang rawan yang berwarna putih merangsang itu, krek!.., suaranya keras memecah keheningan.

“Haaahh!?….,” tiba-tiba terdengar suara mereka bagaikan koor. Semua mata di sekeliling meja makan itu melotot, memandangku seakan aku ini makhluk yang menjijikkan. Aku menunduk dengan sangat sangat malu. Rupanya aku telah melakukan pelanggaran berat atas tata krama di meja makan tersebut.

Detik itu juga, aku memutuskan untuk batal menginap di rumah tanteku itu. Begitu berat aku menanggung malu. Aku minta ijin untuk pulang. Tanteku berusaha menahan aku untuk tetap menginap, tetapi aku bersikukuh untuk pulang ke rumah Om No. Aku katakan kepada mereka, bahwa aku bisa pulang sendiri tanpa diantar, aku sudah biasa bepergian sendiri ke mana-mana. Akhirnya mereka mengalah, namun karena mereka merasa bertanggung jawab atas diriku, akhirnya si Om mengantar aku pulang ke rumah Om No di Kramat Pulo.

Saat aku berjalan masuk ke dalam rumah, Om No terkejut tetapi langsung berkata, “Udeh??.” Aku menjawab dengan suara lebih keras,”Udeh!!!” lalu kami pun tertawa keras-keras. Tanpa bertanya, Om No sudah tahu mengapa aku pulang. Aku kembali ke habitatku, sebagai anak petualang yang bebas lepas. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan