TUKANG OBAT IDOLA

MINGGU pagi sepulang dari gereja, aku tidak langsung pulang. aku mampir dan nongkrong dulu di alun-alun kota Malang. Menunggu sang idola, seorang penjual obat.

Setelah agak siang, datang seorang lelaki kekar dengan banyak bawaan. Koper besar, ransel besar, juga kardus besar. Mengapa ia tidak naik sepeda atau pakai gerobak? Entahlah. Mungkin karena tidak praktis.

Ia hidup seperti bangsa nomaden. Hidupnya berpindah-pindah dari satu lapangan ke lapangan yang lain, dari kota yang satu ke kota lainnya. Pun di alun-alun Malang ini, ia hanya beberapa jam, atau sampai obat dagangannya habis. Itu pun stok obat yang dibawanya tidak banyak, secukupnya saja.

Setelah menemukan tempat yang teduh, di dekat jalan kecil tempat lalu lalang pejalan kaki, ia meletakkan dan menata barang-barang bawaanya. Lalu dibuatnya garis di atas tanah dengan bubuk kapur putih sebagai batas untuk para penonton. Kemudian dengan tenang ia duduk lagi di atas singgasananya, sebuah kursi lipat.

Setelah orang-orang dan lalu lintas cukup ramai, idolaku pun memulai aksinya. Ia mengeluarkan keranjang yang dikerudungi dengan kain warna hitam. Keranjang itu diletakkan di tengah, tapi agak ke kanan. Yang mengherankan, setelah itu orang-orang yang berlalu-lalang mulai berhenti. Satu persatu, makin lama makin banyak.

Melihat penontonnya semakin bertambah, ia pun mengambil sebuah kotak kayu lalu dipukulnya keras-keras sambil berteriak, “Hayo, hayo, hayoo… yang mau melihat ular menari, tidak usah jauh-jauh ke India, di sini juga ada ular menari. Hayo, hayoo…” Ia terus berteriak sambil tongkatnya diketuk-ketukkan ke atas kain penutup kotak misterius itu.

Dalam waktu singkat orang-orang pun semakin ramai, berkumpul, berdesakan di atas batas garis kapur putih itu. Di deretan paling depan adalah anak-anak kecil. Mereka menjadi penggembira yang aktif dan menguntungkan bagi sang tukang obat. Sorakannya, tepuk tangan dan celetukannya meramaikan kerumunan ini. Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu si ular menari.

Sambil terus berbicara, sang tukang obat membuat gerakan-gerakan yang seakan-akan hendak memulai atraksinya. Apalagi kalau sudah ngomong, ia pandai memilih kata-kata lucu atau setengah jorok tapi dengan bahasa yang halus. Ia sangat lihai menarik perhatian penonton dengan berkata, “Hei, tahu nggak sekarang banyak orang cantik, orang ganteng, yang kulitnya gimana?… kadasen!”

Semua penonton tertawa, termasuk yang kulitnya kadasen. Ia pun meneruskan, “Kadas, kudis, gatal, luka, akan lenyap dengan olesan obat ajaib saya…”

Tidak lama kemudian, ia berdiri, lalu berkeliling sambil mengoleskan obat kulit ajaibnya ke tangan-tangan penonton yang telah diulurkan ke depan, termasuk anak-anak, tentu saja. Itu semua hanya perlu waktu sekitar sepuluh detik saja. Setelah itu, ia kembali ke kursi lipatnya.

Mantra “kadas-kudis-gatal-luka” itulah yang diucapkannya berulang-ulang. Setiap kali hendak memulai atraksi ular menari, selalu dibelokkannya ke produk obat jualannya. Akhirnya, stok obat pun habis dalam waktu yang tidak sampai 2 jam, dan para penonton lalu berangsur-angsur membubarkan diri. Sepertinya, mereka semua sudah lupa pada si ular menari.

Demikianlah kisah tentang si tukang obat di alun-alun kota Malang yang banyak menginspirasi diriku. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting : Veronica K & SR Kristiawan

Alun-alun kota Malang tahun 1930
Alun-alun kota Malang tahun 1930
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015
Menantu Ompa di Alun Alun Kota Malang 2015