LARON GORENG
Malam itu seluruh anggota Gagas lengkap berkumpul di rumah Giman. Kami berempat sedang membantu keluarga Giman membuat gaplek. Gaplek merupakan makanan pokok di daerah Wonogiri pada saat itu. Yang kami sedang lakukan adalah mengupas ketela pohon (singkong) dari kulitnya. Itu adalah langkah paling awal dalam pembuatan gaplek. Kegiatan keluarga Giman memang adalah memproduksi gaplek, untuk dijadikan tepung lalu di jual. Keluarga ini adalah salah satu dari ribuan keluarga lain yang turut berpartisipasi sehingga kota Wonogiri ini terkenal dengan sebutan Kota Gaplek.
Suasana di dalam rumah sederhana yang hanya berlantaikan tanah itu begitu hening, dari luar terdengar sayup-sayup suara jangkrik saling bersahutan di kebun yang gelap. Kami hanya diterangi oleh sebuah lampu sentir, yaitu botol kecil yang berisi minyak dan bersumbu. Sinarnya berwarna merah dan sangat redup.
Suasana itu membuat aku sedikit melamun dan berpikir tentang gengku ini. Gagas, Geng Anak Gragas, yang sangat kompak, sehati. Apakah diantara kami berempat ini tidak ada perbedaan sehingga kami bisa kompak? Ternyata tidak. Kami punya banyak sekali perbedaan. Mengenai nama geng saja sejak semula sudah berbeda pendapat. Aku yang mendirikan geng ini memberi nama Gagas, singkatan dari kata geng anak gragas. Mereka bertiga, yang putra daerah Wonogiri itu menolak kata “gragas”, karena tidak mengerti apa artinya.
Aku berkata, “Gragas itu artinya pemakan segala, itu bahasa Jawa Timuran”. Yahmin langsung menjawab, “Oh, kalau disini namanya bukan gragas, tapi grangsang.” Jadi mereka mengusulkan nama Gebog, singkatan dari Geng Bocah Grangsang. Begitulah, sampai sekarang pun belum ada titik temu. Jadi sementara ini kami memiliki dua nama. Terserah masing-masing, mau pakai nama yang mana.
Perbedaan yang lain adalah, bahwa aku ini anak Jawa Timur, suka bicara ceplas-ceplos. Maksudnya aku seringkali langsung mengatakan apa saja yang ada di dalam kepalaku ini tanpa dipikir lebih dahulu. Disamping itu aku juga suka bicara dengan suara yang keras. Sedangkan mereka berbicara dengan suara yang pelan, sopan, berpikir dulu sebelum bicara dan bicaranya tidak langsung ke pokok masalah, sering menggunakan istilah-istilah. Hal itulah yang terkadang membingungkan aku si anak Malang ini.
“Maan, jukukno wakul..!– Man, ambilkan wakul” Teriak simboknya Giman dari dapur. ‘Wakul’ adalah tempat nasi yang terbuat dari bambu. Memang dari tadi sudah tercium harumnya sego tiwul (nasi dari gaplek) yang baru masak. Dan si mbok rupanya masih di dapur memasak sayur.
Suasana kembali menjadi hening, membuat aku melanjutkan lamunanku. Lalu apa yang membuat kami tetap kompak? Apakah karena kami sama-sama anak gragas (ngrangsang)? Ada benarnya, tetapi rupanya bukan hanya hal itu yang membuat kami ini menjadi sehati. Ternyata kami ini saling membutuhkan. Aku memerlukan teman yang bisa mengerem kenakalanku ini yang kadang suka nekad dan keras kepala. Juga, mereka pun bisa mengajariku tentang kebiasaan dan tata-krama. Sedangkan dari diriku, sahabat-sahabat gengku itu memerlukan ide-ide yang membuat mereka lebih dinamis, lebih hidup dan bergairah.
Para orang tua mereka juga tampak senang dengan kehadiranku dalam persahabatan itu. Mungkin mereka terhibur melihat seorang “anak kota” yang nakal tapi lucu. Kami memang saling berbeda, tetapi kami tetap kompak dan bersatu hati. Buktinya kalau ada salah seorang dari kami beberapa hari saja tidak hadir di markas besar kami yang letaknya di pinggir kuburan di tepi Bengawan Solo, kami selalu merasa khawatir dan langsung bergerak mencarinya.
Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang melintasi tempat kami berkumpul. “Laron..!” kataku. Dan kami pun dengan cepat bergerak. Masing-masing sudah tahu apa yang harus kami lakukan. “Laron” adalah serangga kecil yang bersayap yang berasal anai-anai atau rayap. Kami mengambil ember besar berisi air. Di atas ember itu kami nyalakan sebuah lampu teplok. ‘Lampu teplok’ adalah lampu minyak yang di sekeliling sumbunya dilindungi dengan semprong, kaca bulat, sehingga nyalanya tidak tertiup angin. Lampu teplok tersebut sinarnya lebih terang dari pada sentir.
Benar juga, beberapa detik kemudian ruangan itu sudah di penuhi oleh ribuan laron yang beterbangan ke sana kemari. Laron-laron tersebut selalu mencari sinar terang. Karenanya begitu melihat sinar dari lampu teplok dan bayangan sinar di air yang di dalam ember, mereka langsung menerjunkan diri ke dalam ember. Sangat seru, bagaikan ratusan pesawat-pesawat kamikaze Jepang yang menerjunkan diri ke kapal-kapal perang Amerika di Pearl Harbour.
Dalam waktu tak terlalu lama ember sudah dipenuhi dengan laron yang tewas terapung. Mboknya Giman sudah menyiapkan wajan tanpa minyak di atas tungku. Maka laron-laron itu langsung kami masukkan ke dalam wajan tanpa minyak itu.
“Sreeeng…” Begitulah suara laron yang masih basah saat kami masukkan kedalam penggorengan. Tidak berapa lama, terciumlah bau yang sangat sedap dari laron goreng, ini karena laron-laron itu mengeluarkan minyak dari dalam tubuhnya sendiri. Langkah berikutnya adalah wajan tersebut kami kipasi dan beterbanganlah sayap-sayap laron hangus itu dari dalam wajan.
Akhirnya, pekerjaan kami mengupas dan membelah singkong itu telah selesai. Kami pun makan bersama, keluarga Giman beserta kami anggota geng. Menu malam itu adalah sego (nasi) tiwul, sayur lodeh dan laron goreng. Nikmatnya bukan kepalang. Kami makan dengan “posisi bebas”, ada yang duduk di atas tikar, ada yang duduk di atas dingklik (bangku pendek), tapi kebanyakan makan sambil jongkok, gaya makan khas Wonogiri.
Malam itu aku berjalan kaki pulang sambil membawa oleh-oleh perut kenyang. Rasa gurih laron goreng masih belum hilang dari mulutku. Tetapi jauh lebih penting dari itu semua, malam itu aku menjadi lebih paham akan arti sebuah persahabatan. Aku merasa bersyukur, memiliki teman-teman dari keluarga yang sangat sederhana (baca: miskin) tetapi mereka tulus. Aku bangga pada geng Gagas ini, kompak dan sehati. Sebuah pengalaman dan pelajaran yang akan kukenang selamanya, terimakasih geng Gagas. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan
