Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Wonogiri

Laron Goreng

LARON GORENG

Malam itu seluruh anggota Gagas lengkap berkumpul di rumah Giman. Kami berempat sedang membantu keluarga Giman membuat gaplek. Gaplek merupakan makanan pokok di daerah Wonogiri pada saat itu. Yang kami sedang lakukan adalah mengupas ketela pohon (singkong) dari kulitnya. Itu adalah langkah paling awal dalam pembuatan gaplek. Kegiatan keluarga Giman memang adalah memproduksi gaplek, untuk dijadikan tepung lalu di jual. Keluarga ini adalah salah satu dari ribuan keluarga lain yang turut berpartisipasi sehingga kota Wonogiri ini terkenal dengan sebutan Kota Gaplek.

Suasana di dalam rumah sederhana yang hanya berlantaikan tanah itu begitu hening, dari luar terdengar sayup-sayup suara jangkrik saling bersahutan di kebun yang gelap. Kami hanya diterangi oleh sebuah lampu sentir, yaitu botol kecil yang berisi minyak dan bersumbu. Sinarnya berwarna merah dan sangat redup.

Suasana itu membuat aku sedikit melamun dan berpikir tentang gengku ini. Gagas, Geng Anak Gragas, yang sangat kompak, sehati. Apakah diantara kami berempat ini tidak ada perbedaan sehingga kami bisa kompak? Ternyata tidak. Kami punya banyak sekali perbedaan. Mengenai nama geng saja sejak semula sudah berbeda pendapat. Aku yang mendirikan geng ini memberi nama Gagas, singkatan dari kata geng anak gragas. Mereka bertiga, yang putra daerah Wonogiri itu menolak kata “gragas”, karena tidak mengerti apa artinya.

Aku berkata, “Gragas itu artinya pemakan segala, itu bahasa Jawa Timuran”. Yahmin langsung menjawab, “Oh, kalau disini namanya bukan gragas, tapi grangsang.” Jadi mereka mengusulkan nama Gebog, singkatan dari Geng Bocah Grangsang. Begitulah, sampai sekarang pun belum ada titik temu. Jadi sementara ini kami memiliki dua nama. Terserah masing-masing, mau pakai nama yang mana.

Perbedaan yang lain adalah, bahwa aku ini anak Jawa Timur, suka bicara ceplas-ceplos. Maksudnya aku seringkali langsung mengatakan apa saja yang ada di dalam kepalaku ini tanpa dipikir lebih dahulu. Disamping itu aku juga suka bicara dengan suara yang keras. Sedangkan mereka berbicara dengan suara yang pelan, sopan, berpikir dulu sebelum bicara dan bicaranya tidak langsung ke pokok masalah, sering menggunakan istilah-istilah. Hal itulah yang terkadang membingungkan aku si anak Malang ini.

“Maan, jukukno wakul..!– Man, ambilkan wakul” Teriak simboknya Giman dari dapur. ‘Wakul’ adalah tempat nasi yang terbuat dari bambu. Memang dari tadi sudah tercium harumnya sego tiwul (nasi dari gaplek) yang baru masak. Dan si mbok rupanya masih di dapur memasak sayur.

Suasana kembali menjadi hening, membuat aku melanjutkan lamunanku. Lalu apa yang membuat kami tetap kompak? Apakah karena kami sama-sama anak gragas (ngrangsang)? Ada benarnya, tetapi rupanya bukan hanya hal itu yang membuat kami ini menjadi sehati. Ternyata kami ini saling membutuhkan. Aku memerlukan teman yang bisa mengerem kenakalanku ini yang kadang suka nekad dan keras kepala. Juga, mereka pun bisa mengajariku tentang kebiasaan dan tata-krama. Sedangkan dari diriku, sahabat-sahabat gengku itu memerlukan ide-ide yang membuat mereka lebih dinamis, lebih hidup dan bergairah.

Para orang tua mereka juga tampak senang dengan kehadiranku dalam persahabatan itu. Mungkin mereka terhibur melihat seorang “anak kota” yang nakal tapi lucu. Kami memang saling berbeda, tetapi kami tetap kompak dan bersatu hati. Buktinya kalau ada salah seorang dari kami beberapa hari saja tidak hadir di markas besar kami yang letaknya di pinggir kuburan di tepi Bengawan Solo, kami selalu merasa khawatir dan langsung bergerak mencarinya.

Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang melintasi tempat kami berkumpul. “Laron..!” kataku. Dan kami pun dengan cepat bergerak. Masing-masing sudah tahu apa yang harus kami lakukan. “Laron” adalah serangga kecil yang bersayap yang berasal anai-anai atau rayap. Kami mengambil ember besar berisi air. Di atas ember itu kami nyalakan sebuah lampu teplok. ‘Lampu teplok’ adalah lampu minyak yang di sekeliling sumbunya dilindungi dengan semprong, kaca bulat, sehingga nyalanya tidak tertiup angin. Lampu teplok tersebut sinarnya lebih terang dari pada sentir.

Benar juga, beberapa detik kemudian ruangan itu sudah di penuhi oleh ribuan laron yang beterbangan ke sana kemari. Laron-laron tersebut selalu mencari sinar terang. Karenanya begitu melihat sinar dari lampu teplok dan bayangan sinar di air yang di dalam ember, mereka langsung menerjunkan diri ke dalam ember. Sangat seru, bagaikan ratusan pesawat-pesawat kamikaze Jepang yang menerjunkan diri ke kapal-kapal perang Amerika di Pearl Harbour.

Dalam waktu tak terlalu lama ember sudah dipenuhi dengan laron yang tewas terapung. Mboknya Giman sudah menyiapkan wajan tanpa minyak di atas tungku. Maka laron-laron itu langsung kami masukkan ke dalam wajan tanpa minyak itu.

“Sreeeng…” Begitulah suara laron yang masih basah saat kami masukkan kedalam penggorengan. Tidak berapa lama, terciumlah bau yang sangat sedap dari laron goreng, ini karena laron-laron itu mengeluarkan minyak dari dalam tubuhnya sendiri. Langkah berikutnya adalah wajan tersebut kami kipasi dan beterbanganlah sayap-sayap laron hangus itu dari dalam wajan.

Akhirnya, pekerjaan kami mengupas dan membelah singkong itu telah selesai. Kami pun makan bersama, keluarga Giman beserta kami anggota geng. Menu malam itu adalah sego (nasi) tiwul, sayur lodeh dan laron goreng. Nikmatnya bukan kepalang. Kami makan dengan “posisi bebas”, ada yang duduk di atas tikar, ada yang duduk di atas dingklik (bangku pendek), tapi kebanyakan makan sambil jongkok, gaya makan khas Wonogiri.

Malam itu aku berjalan kaki pulang sambil membawa oleh-oleh perut kenyang. Rasa gurih laron goreng masih belum hilang dari mulutku. Tetapi jauh lebih penting dari itu semua, malam itu aku menjadi lebih paham akan arti sebuah persahabatan. Aku merasa bersyukur, memiliki teman-teman dari keluarga yang sangat sederhana (baca: miskin) tetapi mereka tulus. Aku bangga pada geng Gagas ini, kompak dan sehati. Sebuah pengalaman dan pelajaran yang akan kukenang selamanya, terimakasih geng Gagas. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Rumah Baru

RUMAH BARU

Walau semula agak ragu, akhirnya Pak Mojo mengambil keputusan untuk pindah ke rumah baru. Rumah baru kami di Perumahan Rakyat di daerah Kajen, di belakang kabupaten.

Sebelum pindah, lebih dulu kami meninjau rumah yang hampir selesai itu. Rumah tersebut adalah salah satu dari sepuluh rumah batu yang bentuknya seragam dan saling berhadapan, ada lima rumah di setiap sisi. Ada perbedaan yang mencolok antara rumah lama kami di Jalan Raya Jurang Gempal, dengan rumah baru ini.

Rumah kami yang lama terletak di tepi jalan raya dan letak rumahnya lebih tinggi dari jalan. Sedangkan rumah baru kami ini letaknya di ujung sebuah jalan yang lebih kecil dan berbatu. Lokasinya lebih rendah dibanding jalan-jalan yang ada di kota Wonogiri. Ada dua macam perasaan bercampur aduk di dalam hatiku. Rasa berat meninggalkan rumah lama dan rasa penasaran akan lingkungan yang baru nanti.

Maka tibalah harinya, Pak Mojo, Bu Mojo dan aku pindah dan menempati rumah baru kami itu. Semangatku makin tinggi setelah mencium aroma rumah baru. Bau cat tembok yang belum lagi kering serta debu semen yang kadang menyesakkan dada.

Aku senang sekaligus sedikit bingung membayangkan betapa banyaknya hal-hal yang nanti harus kuamati dan kuselidiki di daerah baru ini. Misalnya, perkampungan di sebelah kanan rumah kami setelah ujung jalan komplek, juga ada sebuah sendang, semacam kolam berbatu yang mengeluarkan air bersih dari mata air di bawahnya, letaknya di sudut jalan di atas komplek. Atau tetangga di depan rumah kami, yaitu Pak Wayat, yang rumahnya paling ujung dekat kampung. Konon ia adalah seorang pejabat tinggi dibidang keuangan. Pak Wayat langsung akan merombak dan memperluas tanah dan juga rumahnya.

Di tengah kebingunganku untuk memberi perhatian pada hal yang mana lebih dulu, tiba-tiba aku mendapat kunjungan mendadak dari sahabat-sahabatku, anggota Gagas, Geng Anak Gragas. Mereka langsung kuajak tur berkeliling rumah dan kebun. Mereka begitu kagum akan rumah baru ini, sementara aku begitu bangga.

“Halaman ini mau ditanami apa?” celetuk si Yahmin. Pertanyaan mendadak dari Yahmin itu serta merta memprovokasi pikiranku. Aku menjadi sadar, bahwa aku juga harus menaruh perhatian kepada halaman rumahku, ada halaman depan dan juga ada kebun di belakang rumah baru ini.

“Ayo, kita pergi ke Pertanian.” lanjut Yahmin, seakan membangunkanku dari kebingungan. Maka setelah meminta ijin dan juga sejumlah uang dari pak Mojo, kami berempat pergi berjalan kaki menuju ke Pertanian. Yang dimaksud dengan Pertanian, adalah sebuah tempat pembibitan aneka tanaman yang berada di pinggir kota Wonogiri.

Disana kami membeli bermacam-macam bibit tanaman, ada rumput gajah, bibit mangga harum manis dan mangga golek, tomat dan anggur. Sebagai tambahan aku juga membeli sebatang kayu dari batang pohon kelapa yang telah dilubangi di bagian dalamnya. Lubang ini yang akan berfungsi sebagai rumah bagi lebah madu. Aku sungguh bersemangat, karena ini adalah keinginanku sejak dulu, yaitu beternak lebah madu.

Kami juga membeli beberapa peralatan untuk berkebun. Seperti cangkul, arit, cetok dan ‘gembor’. Gembor adalah semacam ember, yang diberi moncong lebar, berlubang-lubang kecil untuk menyiram tanaman.

Maka dimulailah sebuah kesibukan di rumah baruku. Kalau di rumah Pak Wayat, yang di ujung komplek itu dipenuhi dengan tukang-tukang untuk membangun kembali rumahnya, maka di rumahku penuh dengan tukang-tukang kebun cilik yang juga sibuk dengan cangkul-cangkulnya. Alhasil selama tiga hari ini, anggota geng Gagas libur dan tidak beroperasi untuk berburu belalang, tetapi sibuk di rumah baruku.

Pada hari keempat, aku merasa puas melihat hasil kerja kami di kebun itu. Halaman depan telah ditanami rumput gajah, dibatasi dengan rumput krekot berwarna merah. Pada sisi kiri dan kanan halaman depan, tertanam pohon mangga golek dan mangga harum manis. Di kebun belakang ada tanaman tomat, anggur hijau dan ketela pohon. Tetapi dari itu semua aku paling tertarik dengan potongan batang pohon kelapa yang telah dilubangi tengahnya itu. Potongan ini kugantung di ujung paling belakang kebun, sebagai rumah lebah madu. Aku girang membayangkan bahwa sebentar lagi aku akan mempunyai bisnis madu lebah!

Setelah bekerja keras selama empat hari berturut-turut, kami berempat anggota Gragas duduk-duduk beristirahat bersama sambil membayangkan, bahwa dalam beberapa bulan lagi di sini akan ada sebuah taman yang indah dan teduh. Hari sudah siang saat kudengar teman-teman gengku itu tertawa cekikikan di teras belakang rumah. Aku penasaran. Ketika kuintip, ternyata mereka sedang makan siang. Mereka saling memperlihatkan isi piringnya sambil tertawa mengangguk-angguk. Dan apa yang mereka saling perlihatkan dan tertawakan ternyata bukanlah lauk yang mereka makan. Tetapi nasi, nasi putih!

Aku tersadar dan terharu. Memang setelah perang usai, perekonomian keluarga kami mulai membaik dan kami kembali bisa makan nasi putih lagi setiap hari. Tetapi bagi tiga sahabatku ini tidak begitu, buat mereka nasi putih tetap menjadi barang mewah. Mereka tinggal di desa yang miskin dan gersang. Makanan pokok mereka tetap ‘sego tiwul’, nasi dari gaplek (singkong).

Lewat jendela belakang, aku memandangi tiga sahabatku yang luar biasa itu, aku bersyukur dan merasa turut berbahagia. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K dan SR Kristiawan

Cobek Meletot

COBEK MELETOT

Hari itu, pertemuan rutin Geng Anak Gragas tidak lengkap, hanya Katno, Giman dan aku sendiri. Kurang satu anak yaitu si Yahmin. Hanya kami bertiga yang duduk-duduk berkumpul di basecamp kami, di samping kuburan di pinggir sungai Bengawan Solo.

Dari keempat anggota geng-ku ini, Yahminlah yang paling bijak. Ia anak yang tenang, sabar dan sudi membimbing anak yang lain. Katno dan Giman sifatnya penurut, selalu menjalankan tugas dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab. Sedangkan aku sendiri dikenal sebagai anak yang paling banyak ide, banyak tingkah, dan kadang sering membuat mereka bingung. Walau kami berbeda, kami tetap satu, kami berempat sangat kompak.

Siang itu aku terpikir tentang si Yahmin, mengapa ia sampai tidak hadir pada pertemuan ini. Mungkin saja ia belum menyelesaikan tugas harian keluarganya yaitu mengambil tanah liat, yang biasa disebut lempung, di tepi sungai. Lempung adalah bahan dasar untuk membuat gerabah, sebutan untuk peralatan yang dibuat dari tanah liat.

Di rumahnya yang berdindingkan gedek, atau anyaman bambu itulah Yahmin tinggal. Ia hidup bertiga bersama bapak dan si mboknya (ibunya). Keluarga si Yahmin adalah keluarga pembuat gerabah. Mereka membuat berbagai macam peralatan dapur dan peralatan rumah tangga, seperti  cobek, piring, mangkuk dan lain sebagainya. Jika ada pesanan khusus keluarga Yahmin juga bisa membuat guci, gentong, bahkan genteng dan batu-bata.

Sehari-hari tugas Yahmin adalah mengambil lempung yang memang banyak terdapat di tepi sungai Bengawan Solo. Yahmin menggali untuk mendapatkan lempung, tanah yang berwarna merah dan liat yang berkualitas bagus, yaitu tanah lekat dan bersih dari akar tanaman. Lempung itu lalu ia pikul ke rumahnya lalu ditumpuk seperti sebuah bukit kecil. Pada bagian atasnya dibuat lekukan seperti kawah. Lalu kawah itu diisi penuh dengan air. Tugas bapaknya adalah menginjak-injak tanah lempung itu sampai lumat dan mencapai kelembekan tertentu, untuk kemudian ditutup dengan kain basah agar tidak mengeras.

Yang tersulit adalah tugas si mbok yang harus membentuk lempung itu menjadi apa yang akan dibuat. Caranya dengan menggunakan papan putar, yang di putar menggunakan kaki.

“Ayo kita ke rumah Yahmin!” kataku kepada si Katno dan Giman. Aku punya firasat kurang baik siang itu. Benar saja, setelah kami masuk ke rumah Yahmin, aku melihat bapaknya Yahmin sedang tergeletak di atas dipan. Rupanya ia sedang sakit keras. Sejenak aku mengamati sekeliling rumah itu, dan aku berkesimpulan bahwa keluarga ini perlu bantuan segera.

Aku menemukan kayu-kayu bakar dan tumpukan jerami sudah siap di dekat tobong. Tobong adalah rumah tempat pembakaran gerabah yang sudah dijemur dan sudah kering. Ternyata bahan-bahan yang harus mereka bakar masih belum siap, padahal empat hari lagi akan tiba Hari Pasaran. Di Hari Pasaran itulah gerabah buatan keluarga Yahmin ini harus dijual ke pasar kota Wonogiri. Jadi, menurutku, keadaan bisnis mereka ini memang sudah “kritis”.

Kami bertiga langsung terjun turun tangan untuk membantu keluarga si Yahmin. Katno dan Giman bertugas menginjak-injak tumpukan lempung, sedangkan aku membantu Yahmin membuat genteng menggunakan cetakannya. ”Miin, lempung Miin..!”, kata bapaknya Yahmin, sambil berusaha bangkit dari dipannya. “Sampun, Bapak sare mawon..— Sudah, bapak tidur saja.” kataku kepada bapaknya Yahmin.

Yahmin pun bergegas pergi dengan membawa pikulannya menuju sungai untuk mengambil lempung tambahan. Pembuatan genteng itu masih sangat tradisional, menggunakan tangan, bukan pakai mesin press.

Kuletakkan gumpalan lempung yang lembek di atas cetakan genteng, kemudian kutekan kuat-kuat sambil meratakan di atas cetakan. Lalu kusiramkan sedikit air di atasnya dan meratakan lagi agar permukaan genteng menjadi halus dan pori-pori nya tertutup. Berikutnya aku tinggal memotong pinggiran genteng tersebut, lalu di angin-anginkan di tempat yang teduh disamping rumah. Sebelumnya aku sudah sering belajar bagaimana cara membuat genteng ini, saat menjemput Yahmin untuk pergi bermain.

Saat sedang asik membuat genteng, mataku sempat melirik kearah papan putar yang sedang dipakai oleh si mbok untuk membuat guci. Sewaktu si mbok berhenti untuk beristirahat makan, aku langsung mengambil alih dan duduk di samping papan putar tersebut. Aku ingin mencoba alat ini. “Papan putar” itu adalah dua buah papan bulat yang ditumpuk, tetapi di poros tengahnya diberi semacam paku yang menumpang pada papan di bawahnya, sehingga papan yang di atas bisa diputar. Kedua papan bulat itu di letakkan di atas tanah, sehingga cara memutarnya dengan menggunakan kaki.

Aku mencoba memutar papan itu dengan kakiku, dan di tengah papan itu kuletakkan gumpalan lempung yang masih sangat lembek. Lempung itu pun berputar, bagian tengahnya kupegang dengan jari-jariku yang sudah aku basahi. Saat jari-jariku kutarik pelan-pelan melebar, maka lempung itu juga mengikuti jari-jariku. Wow, luar biasa, aku serasa sedang bermain sulap!

Tetapi yang menjadi masalah adalah papan putar itu sudah agak rusak, jadi papan itu berputar sambil bergoyang turun naik. Setelah bersusah payah karena memang tidak mudah, akhirnya, aku berhasil membuat sebuah “cobek” walaupun bentuknya tidak karuan, meletot-letot. “Hihihi,” simboknya Yahmin tidak tahan menahan tawa saat melihat cobek hasil karyaku itu. “Hush!..” ujar bapaknya Yahmin kepada si mbok. Si mbok rupanya kaget lalu menutup mulutnya dengan tangan sambil menahan tawa.

Dua hari sebelum Hari Pasaran, api di tobong pun dinyalakan untuk membakar gerabah yang sudah pada kering itu. Sewaktu melihat api membara sangat panas di dalam tobong itu aku membayangkan bahwa cobek meletot hasil karya perdanaku itu juga sedang ikut dibakar dan diproses. Proses pembakaran gerabah itu berlangsung satu setengah hari, hari-hari yang menegangkan buatku.

Dua hari kemudian, tibalah Hari Pasaran di Wonogiri. Masyarakat berbondong-bondong menuju ke Pasar Kota untuk berjual-beli. Dari halaman rumahku aku melihat simboknya Yahmin berjalan terbongkok-bongkok menuju ke pasar. Ia membawa beban berat berupa bakul besar di punggungnya yang di penuhi dengan gerabah dagangannya. Sedangkan si Yahmin berjalan setengah berlari di belakang sang ibu, membawa pikulan penuh dengan gerabah hasil karyanya sendiri. Aku berlari masuk rumah, tak mau kalah, dengan bangga aku memasang cobek mletot hasil karyaku untuk kupajang pada dinding kamarku. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pit-Pitan

PIT-PITAN

Pit adalah istilah yang dipakai masyarakat daerah Solo dan Wonogiri, artinya sepeda. Pit, datang dari kata ”Fiets”, bahasa Belanda. Sedangkan kata pit-pitan, beda lagi artinya, yaitu jalan-jalan dengan naik pit.

Waktu itu aku duduk di kelas tiga di SDN Tiga di kota Wonogiri. Menurutku anak-anak kelas tiga adalah anak-anak yang paling aktif dan dinamis di SD kami itu. Banyak ide dan kegiatan-kegiatan yang seru. Salah satu contohnya adalah saat kami mengadakan sandiwara perang, yang juga pernah aku ceritakan dulu.

Pagi itu kami berdelapan, semuanya merupakan teman sekelas. Kami sudah berkumpul dan siap dengan sepeda masing-masing. Semuanya anak laki-laki yang sudah biasa bersepeda jarak jauh. Kami akan pit-pitan menuju ke tempat wisata yang sangat terkenal di daerah Solo dan sekitarnya, yaitu Waduk Mulur.

Bagi masyarakat sekitar, Waduk Mulur adalah tujuan favorit untuk berwisata, letaknya di daerah Sukoharjo, kota kabupaten di selatan kota Solo. Aku sendiri belum pernah melihat langsung Waduk Mulur ini, itu sebabnya aku sangat bersemangat untuk ikut.

Dengan kompak kami berdelapan sudah berjejer di depan sekolahku, siap untuk berangkat. Tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Dari kejauhan muncul seorang anak perempuan, datang berlari-lari sambil melambaikan tangannya. Ah, itu si Vinny! Vinny, adalah anak perempuan yang merasa paling cantik di kelas kami. Ia berkulit putih dan berambut ikal. Aku bertanya-tanya dalam hati, mau apa Vinny ke sini? Sambil berlari dan berteriak ia menyampaikan bahwa ia mau ikut bersepeda bersama kami.

Kami semua menjadi tegang karena siapakah yang akan membonceng si Vinny? Ini kan pit-pitan jarak jauh, ke Waduk Mulur. Aku lalu berteriak kepada teman-temanku, “Yahno..!.” Sambil melirik ke arah Yahno, salah satu teman kami di situ.             Ternyata semua teman-temanku sepakat. Mereka juga menunjuk Yahno sebagai anak yang bertugas membonceng si Vinny. Maka Vinny pun langsung naik nangkring di boncengan sepeda si Yahno. Yahno memang adalah teman kami yang paling besar dan kuat. Betisnya besar berotot seperti betis para tukang becak yang sering aku lihat di kota Solo. Saat itu aku tersenyum geli melihat wajah si Yahno. Ia terlihat senyum sumringah membawa si Vinny di boncengannya.

Tahap pertama dari perjalanan kami adalah menuju ke batu Plintheng Semar. Sebuah batu raksasa di puncak tanjakan tajam di Utara kota Wonogiri. Aku tiba lebih dulu di batu Plintheng Semar, karena aku ingin mengamati lebih detil tentang batu tersebut. Ternyata di belakang batu sebesar rumah yang nangkring di tebing dan bersandar pada pohon asam itu, terdapat sebuah taman. Di taman itu ada beberapa tempat duduk yang terbuat dari batu.

Yang menarik perhatianku adalah ada beberapa orang yang duduk bersila di bawah batu Plintheng Semar itu. Sedang apa mereka? Menurut teman seperjalananku, mereka sedang bersemedi atau bertapa. Di daerah Wonogiri ini banyak tempat yang sering dipakai orang untuk bersemedi. Misalnya di Alas Kethu (Hutan Kethu), sebuah bukit yang dipenuhi dengan hutan jati.

Kami lalu terus mengayuh sepeda kami, menanjak menyusuri sisi timur pegunungan itu. Kami hendak menuju ke puncak bukit terendah, yang nanti akan kami lompati menuju ke punggung sisi barat. Sewaktu berada di tanjakan terakhir sebelum puncak gunung, tiba-tiba sepedaku terguncang keras sampai hampir terjatuh.

“Aku melu kowe, yoo..— aku ikut kamu yaa”. Rupanya itu si Vinny. Sambil meloncat tanpa permisi ia duduk ke tempat boncengan sepedaku. Entah mengapa, walau dengan adanya Vinny tentu membuat sepedaku menjadi lebih berat, tetapi kehadirannya membuatku seakan memiliki kekuatan tambahan untuk menggenjot sepedaku di jalan menanjak menuju puncak pegunungan itu. Kukayuh sepedaku sambil berdiri di atas pedal. Aku hanya fokus pada puncak tanjakan, dengan keyakinan dan harapan bahwa setelah sampai di atas nanti, jalanan pasti akan menurun.

Akhirnya aku berhasil membonceng si Vinny sampai puncak tanjakan. Sewaktu jalan sudah mulai menurun, Vinny berpindah boncengan ke sepeda temanku yang lain.

Setelah melewati pegunungan itu, jalanan mulai rata mendatar. Si Yahno, yang juga merangkap sebagai penunjuk jalan, membawa kami melalui jalan-jalan kecil menyusuri ladang, persawahan dan pedesaan. Aku sangat menikmati keindahan dan kesegaran pemandangan alam di Jawa Tengah ini.

Hari mulai terasa panas ketika kami melewati sebuah ladang yang sangat luas. Ladang itu ditanami dengan Krai. “Krai” adalah nama buah sejenis mentimun. Kalau mentimun, warnanya hijau muda, tapi krai warna hijaunya lebih lebih tua dan airnya lebih banyak.

“Paak, nyuwun krai ne nggih… — paak minta krainya ya…”. Teriak si Yahno kepada seorang bapak yang sedang berada di tengah ladang. “Nggiih, monggoo.. — yaa, silakan”, jawab si bapak tani itu. Maka kami pun mulai memetik buah krai itu, masing-masing tiga buah. Aku kembali menggenjot sepedaku, kali ini sambil makan buah krai itu. Luar biasa, rasanya dingin seperti habis minum air es. Rasa dingin itu mengalir dari tenggorokan, turun ke dada dan ke perut dan seluruh badanku pun menjadi segar kembali.

Baru kusadari saat itu bahwa ladang tersebut tidak memiliki pagar sama sekali. Sehingga orang yang lewat di jalan tersebut bisa dengan bebas memetik buah krai ini untuk menghilangkan rasa hausnya. Itulah rasa sosial khas orang desa. Hati dan tangannya seakan selalu terbuka untuk memberi dan berbagi kepada orang lain. Contoh lainnya adalah, banyak rumah-rumah yang berada di tepi jalan yang kami lewati menyediakan gentong dan siwur yang berisi air bersih untuk diminum oleh siapa pun yang lewat disitu. Gratis

Kami kemudian memasuki sebuah kota kecil yang bernama Selogiri. Dalam perjalanan kami menuju Waduk Mulur di daerah Sukoharjo ini, memang telah kami rencanakan bahwa Selogiri ini akan kami gunakan sebagai tempat persinggahan. Menurut kakak-kakak kelas kami, kota Selogiri merupakan tempat bersejarah dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.

Benar juga, begitu kami memasuki kota Selogiri, kami menemukan sebuah taman yang di tengahnya berdiri dengan kokoh sebuah tugu setinggi rumah. Tugu tersebut terdiri dari batu yang berwarna hitam legam, bentuknya menyerupai sebuah gapura. Di tengah gapura tersebut ada sebuah lubang berbentuk segi empat yang tinggi, selebar sekitar dua meter, semacam pintu masuk ke tugu itu. Untuk memasukinya kami harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari batu hitam yang sama.

Daerah tersebut merupakan Astana, atau tempat pemakaman keluarga raja Mangkunegaran. Konon, ada seorang pangeran yang bernama Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Samber Nyawa yang mendirikan sebuah kerajaan kecil di daerah Selogiri itu. Daerah tersebut kemudian menjadi cikal bakal dari daerah Wonogiri. Raden Mas Said sangat gigih melawan kolonial Belanda. Raden Mas Said, atau Pengeran Samber Nyawa kemudian menjadi raja pertama dari kerajaan Mangkunegaran, yang keratonnya berada di pusat kota Surakarta, atau Solo.

Banyak tempat petilasan atau peninggalan sejarah di Selogiri, tetapi kami tidak sempat mengunjunginya satu persatu. Tujuan utama kami, delapan anak petualang sepeda, dan ditambah seorang anak perempuan pembonceng adalah tetap, Waduk Mulur.

Setelah sampai di depan pasar kota Sukoharjo, kami berbelok menuju ke arah timur, dan sampailah di tujuan akhir perjalanan kami, Waduk Mulur. Sebuah waduk yang sangat kondang.

Waduk itu memang sangat luas dan indah dipandang mata. Banyak wisatawan duduk-duduk di sekitar waduk. Tempat itu juga dipenuhi oleh para penjual makanan dan penjual cindera mata. Bagi teman-teman SD-ku, siapa pun yang pernah bersepeda sampai ke Waduk Mulur, mereka dianggap telah mencapai prestasi yang patut di banggakan.

Dalam perjalanan kami pulang, ada kejadian yang pertama kali kualami seumur hidupku. Sewaktu kami bersepeda berombongan melewati jalan raya Solo-Wonogiri, tiba-tiba saja terjadi hujan sangat deras. Guna menghemat waktu kami memutuskan untuk tidak berhenti dan jalan terus. Kira-kira setengah jam kemudian hujan mereda. Dan kemudian aku terkejut melihat apa yang ada di depanku. Tanah yang sedang kulewati ini, tanahnya kering kerontang! Bagiku ini merupakan kejadian yang ajaib. Mengapa tadi hujan dan basah, dan sekarang semua kering? Di dalam pikiranku, jika turun hujan maka di seluruh dunia pasti juga mengalami hal yang sama. Begitu juga sebaliknya, jika sedang kering, di semua tempat pasti juga kering. Tetapi anehnya ini tidak begitu. Sungguh mengherankan. Aku harus membuktikan bahwa ini nyata.

Maka kuajak dua anggota rombonganku untuk kembali lagi ke tempat hujan deras tadi. Dan memang benar, ketika kami kembali memasuki daerah tadi, di situ masih sama, hujan deras. Ini luar biasa! Kami bertiga lalu mondar-mandir. Pergi ke daerah yang kering dan dan kembali ke daerah yang hujan. Akhirnya aku menemukan batas antara tempat yang basah dan yang kering. Saat itu aku baru paham dan percaya, bahwa tidak ada yang namanya hujan merata di seluruh dunia. Kemudian aku mengejar rombongan menuju pulang.

Sewaktu akan melewati jalan yang menanjak mendaki pegunungan, aku sengaja menggenjot sepedaku mendahului yang lain. Maksudku agar aku menjauh dari si Vinny, yang suka pindah-pindah boncengan itu. Ketika jalanan mulai menurun menuju kotaku, Wonogiri, aku pun berani losrem (melepas rem), sehingga pitku meluncur kencang.

Aku sangat puas dengan acara “pit-pitan” hari itu. Aku telah menikmati pemandangan sawah dan desa, belajar sejarah, dan membuka tabir “misteri hujan” tadi. Nanti, kalau ada orang yang bertanya, apakah aku pernah pit-pitan ke Waduk Mulur, akan kujawab dengan bangga. Sudah! (*)

.

Penulis: Antonius Sutejo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Seminggu Serasa Setahun

SEMINGGU SERASA SETAHUN

“No mengundang kita ke Jakarta. Kita berangkat hari Sabtu, minggu depan.” Kata pak Mojo kepada bu Mojo di depanku.

Ayahg angkatku itu mengatakan dengan nada datar saja. Tetapi bagiku, berita tersebut bagaikan suara gelegar letusan gunung berapi.

Dalam pikiranku aku membagi kalimat itu menjadi beberapa bagian. Kata ‘Jakarta’ merupakan kejutan bagiku, karena artinya kami pasti naik Kereta Api Ekspres. Kata ‘berangkat’ adalah sebuah kepastian yang seakan mampu meledakkan dadaku. Sedangkan ‘Sabtu minggu depan’ merupakan rentang waktu menunggu yang akan selalu membangkitkan rasa khawatirku, jadi berangkat atau tidak.

Sejak detik itu, di depan mataku sering terlihat sebuah Kereta Api Ekspres. Jenis kereta inilah yang dulu sering aku lihat di stasiun kota Jombang. Gerbong-gerbongnya yang besar dengan cat yang mengkilat indah. Lokomotifnya yang sebesar rumah, bulat memanjang dengan telinga di samping kiri-kanan kepalanya. Sungguh gagah dan jantan. Kalau terlambat diberangkatkan, dia akan mendengus bagaikan seekor naga hitam. “Josssh..” sambil mengeluarkan asap panas warna putih dari hidungnya.

Pada malam pertama setelah berita mengagetkan itu, tidurku tidak pernah tenang. Aku sering bermimpi dan terbangun karena dikejutkan oleh suara Kereta Api Ekspres yang melintas di depan kamar tidurku. Aku sering terbangun dan menangis, karena dalam mimpiku aku kecewa kehabisan karcis kereta.

Pagi harinya aku bangun dengan kepala terasa berat dan sakit. Nafsu makanku sirna. Sepanjang hari aku kebingungan, tidak tahu apa yang akan kukerjakan. Di hari-hari berikutnya terjadi lagi hal yang sama. Dalam pikiranku berkecamuk kejadian-kejadian yang sangat membingungkan dan penuh kekhawatiran. Aku demikian takut kalau perjalanan ke Jakarta nanti dibatalkan. Semenjak itu aku jarang keluar rumah.

“Kenapa sudah tiga hari ini kamu tidak kelihatan?” Kata Yahmin kepadaku di depan para anggota Gagas, Geng Anak Gragas, di basecamp samping kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Rupanya aku sedang disidang oleh mereka.

Yahmin melanjutkan, ”Lihat mukamu pucat, badanmu kurus seperti orang kurang gizi!” Aku pun berusaha menjelaskan duduk persoalan mengapa aku sering absen. Bahwa aku sedang ‘sibuk’ memikirkan rencana keberangkatanku menuju Jakarta hari Sabtu minggu depan.

Yahmin mencoba menasihatiku ”Kalau mau ke Jakarta, seharusnya kamu menjadi gembira. Tapi kok makin kacau dan kurus begini, itu sakit pikiran namanya.” Sebagai pendiri Gagas, aku tidak boleh kalah berdebat dari Yahmin.

Maka aku mencoba berdalih,

”Min, yang mengganggu pikiranku ini bukan masalah aku akan pergi ke Jakarta, tetapi yang aku takutkan adalah, kalau nanti aku tidak boleh pulang ke Wonogiri karena tenagaku dibutuhkan di Jakarta. Kalau itu terjadi, kalian yang harus terus menjalankan geng kita ini.” Sunyi. Mereka terdiam, tidak melanjutkan perdebatan. Biarlah mereka berpikir sendiri.

Setiap hari aku berharap hari itu adalah hari Jumat, hari dimulainya libur panjang. Di sekolah aku sudah kehilangan konsentrasi belajar. Misalnya kemarin, aku dipanggil oleh ibu guru dan aku mendapat marah besar. Pasalnya aku kepergok sedang menggambar Kereta Api Ekspres pada waktu pelajaran berhitung.   Apalagi sewaktu laci mejaku dibongkarnya, terdapat banyak sekali kertas-kertas dengan gambar kereta api. Sementara setiap malam aku masih rutin bermimpi buruk. Sungguh melelahkan. Aku menyesali para orang tua, mengapa mereka sering menjanjikan sesuatu kepada anak kecil terlalu jauh dari harinya. Hal ini membuatku sangat tersiksa. Aku sudah tidak sabar lagi untuk naik Kereta Api Ekspress ke Jakarta!.

Akhirnya, setelah serasa setahun menunggu dan sakit pikiran. Siang itu kami telah berdiri manis menunggu di stasiun kereta api Solo Balapan di kota Solo. Kami menunggu di Spoor Satu (rel nomer satu). Jantungku semakin berdebar-debar menunggu kereta kami yang belum juga datang.

Yang lebih dulu tiba adalah kereta yang masuk di rel nomor dua dan nomor tiga. Aku semakin khawatir dan gelisah. Jantungku berdegup kencang, badanku rasanya panas dingin. Medadak aku melihat Pak Sep Sepur bertopi merah mendekati rel nomer satu. Sambil memandang ke arah Timur, dia meniup peluitnya keras-keras. Dan kemudian masuklah Kereta Api Ekspres itu, berhenti di depan kami, di rel nomer satu. Hatiku lega girang bukan kepalang.

Kami memasuki gerbong mewah tersebut dan duduk diatas kursi yang sangat empuk. Aku masih merasa tak percaya ini semua nyata. Dengan tertib para penumpang masuk ke dalam gerbong. Masing-masing penumpang punya tempat duduk sendiri, tidak ada yang berdiri maupun duduk di lantai.

Tak lama kemudian keretaku mulai bergerak pelan dengan sangat lembut, hampir tak ada hentakan sama sekali. Dalam waktu singkat kereta api ekspress sudah melesat cepat, tanpa terasa adanya goncangan yang kasar.

Seperti biasa mataku mulai melihat berkeliling dan mulai mengamati. Gerbong kami ini terlihat sangat indah, bersih dan berbau wangi. Begitu juga para penumpangnya, berpakaian bagus rapih serta beraroma parfum harum. Aku berusaha keras untuk bisa menoleh ke kiri dan ke kanan sambil tetap duduk diam dan bersikap sopan.

Tiba-tiba di sampingku melintas seorang pelayan membawa baki makanan. Maka terciumlah bau harum masakan yang sepertinya sangat lezat. Hampir saja aku melompat dan mengintip isi baki tersebut. Tetapi kemudian sadar dan aku duduk sopan dan tenang. Aku harus bersikap seperti anak orang kaya sekarang. Karena aku adalah penumpang Kereta Api Ekspress!

Tiba-tiba aku merasakan sebuah perasaan yang sangat lega. Walau serasa seperti setahun, penantianku seminggu ini telah usai. Impianku sudah menjadi nyata. Goyangan lembut Kereta Api Ekspres ini, membuat mataku mulai meredup. Sebelum tertidur, didalam hati, aku mengirimkan salam untuk sahabatku, si Sepur Kluthuk. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Kereta Kiriman Tuhan

KERETA KIRIMAN TUHAN

Kalau ada yang bertanya padaku, jenis kendaraan apa yang paling berkesan dalam hidupku, jawabannya adalah ‘sepur kluthuk’. Jenis kereta api unik ini seakan diciptakan Tuhan untuk memberi banyak pelajaran padaku tentang kehidupan. Terutama pada masa kecilku.

“Bapak badhe tindak pundi?” Aku bertanya menggunakan bahasa Jawa tinggi kepada seorang bapak yang duduk di bangku di depanku. Ia  tertawa mendengar pertanyaanku. Bisa jadi logat bahasa Jawaku terdengar aneh, maklum aku adalah anak Jawa Timur.

”Mau ke Sukoharjo, nak. Anak aslinya dari mana?” Wah, bapak itu ganti bertanya, menggunakan Bahasa Indonesia pula. Aku menjawab ”Dari Malang pak.”

Itulah awal percakapanku dengan seorang bapak yang baik dan ramah. Mungkin dia seorang guru, jadi kita sebut saja ia pak guru. Kami berdua duduk berhadapan di atas Sepur Kluthuk dari Wonogiri menuju Solo. Pak guru yang cukup sepuh itu seakan tertawa setiap kali ia berbicara. Hal itulah yang membuat aku merasa nyaman berbincang dengannya.

Di sudut gerbong di depanku, sekelompok pemuda sedang ngobrol sambil berbicara keras-keras. Mereka menggunakan bahasa Indonesia yang aneh. Mereka sering menggunakan kata-kata, elu, gue, dong deh, deh dong deh.

Rupanya pak guru tahu apa yang ada dalam pikiranku.      Ia berkata sambil tersenyum, ”Itu bahasa Betawi nak, mereka sudah sering ke Jakarta. Mungkin saja mereka berbicara keras-keras itu untuk pamer, bahwa mereka sudah menjadi orang Jakarta.”

”Orang-orang tua yang mendengar mereka itu ya banyak yang kurang senang, tetapi bagi anak-anak lain, itu baik, karena membuat banyak anak-anak lain ingin ke Jakarta juga agar bisa berbahasa Betawi.” Lanjutnya sambil tersenyum simpul.

Melihat aku terbengong, maka ia pun menambahkan. Ia menjelaskan bahwa memang Wonogiri ini tanahnya gersang, hanya bisa ditanami palawija. Belum lagi di Wonogiri sering terjadi ‘paceklik’ artinya gagal panen, kekeringan hingga kekurangan pangan.

Ia juga menjelaskan alasan mengapa banyak anak-anak yang diharapkan keluar dari Wonogiri. Biasaya saat mereka menjelang dewasa atau setelah tamat SMP. Itu semua agar mereka tidak menjadi beban bagi keluarga di desanya. Mereka menyebar ke kota-kota besar di Indonesia dan bekerja sebagai penjaga toko, pembantu rumah tangga, atau sebagai tukang baso dan sebagainya. Faktanya banyak juga diantara mereka yang hidupnya berhasil dan sukses di luar Wonogiri.

Sepur kluthuk kami memasuki stasiun Nguter. Pak guru melanjutkan ceritanya, kali ini tentang daerah Nguter ini. Penduduk dari daerah Nguter juga banyak yang  menyebar ke kota-kota besar, termasuk Jakarta. Mereka berjualan ‘es puter’.   Jenis es yang sangat terkenal ini disebut es puter karena proses pembuatannya. Adonan yang terbuat dari santan itu diputar-putar dalam alat pembuat es hingga mengkristal dan menjadi seperti es krim. Jadi kalau ada orang berjualan es puter dengan bunyi, “Neng, kleneng, kleneng,” hampir bisa dipastikan orang itu berasal dari daerah ini. Konon es puter dari desa Nguter ini rasanya enak sekali, sangat sulit bagi orang lain untuk menirunya.

Aku bertanya lagi kepada pak guru: ”Lalu kalau mereka meningggalkan desa mereka, kapan mereka bisa berkumpul bersama keluarga lagi pak?”

Ia menjawab, ”Ya kalau hari raya Lebaran, nak”.

Aku pun jadi mengerti, bahwa selama setahun mereka bekerja keras menghasilkan uang demi menghidupi keluarga mereka di desa. Mereka juga mengumpulkan uang agar pada hari Lebaran mereka bisa pulang kampung beramai-ramai.

Itulah sebabnya pada setiap hari raya lebaran seluruh desa menajdi sangat meriah. Mereka saling mengunjungi dan bersilaturahmi sambil membagi-bagikan uang kepada anak-anak. Mereka mengenakan pakaian terbaiknya, sebagai lambang tingkat kesuksesan mereka. Setelah liburan hari raya usai, mereka kembali pergi meninggalkan desanya untuk bekerja di kota lain. Desa yang mereka tinggalkan kembali menjadi sepi, tetap kering kerontang. Sementara anak-anak kecil mendapatkan cita-cita baru untuk kelak juga meninggalkan desa dan bekerja di kota besar.

Sepur kluthuk kembali melanjutkan perjalanan dengan lamban, seperti biasa. Sepoi angin dari jendela membuat kami mengantuk. Para pemuda ‘Jakarte’ yang tadi ribut pun telah lelap tertidur.

Obrolan dengan pak guru membuatku teringat akan Mbah kandungku di Kaligunting. Ia juga “mengusir” anak cucunya keluar dari desa yang tandus itu untuk berkelana dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar sana.

Sepur Kluthuk memasuki stasiun Sukoharjo. Bapak yang baik hati itu bersiap-siap akan turun. Aku berkata padanya, ”Matur nuwun, pak guru,”—terima kasih pak guru. Eh…, aku keceplosan memanggilnya guru. Ia tertawa dan lalu turun.

Lagi-lagi di dalam sepur kluthuk aku belajar suatu hal yang penting. Hal yang kelak menjadi salah satu pegangan hidupku. Aku percaya Tuhan lah yang selalu “mengirim” sepur kluthuk  untukku. Dan kali ini satu paket dengan “pak guru”, untuk menemani dan mengajariku siang itu. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Mahasiswa Nyojo

MAHASISWA NYOJO

“Anak lelaki Pak Kerto diterima menjadi mahasiswa di Jogja!” Demikian berita heboh yang tersiar hari itu. Peristiwa kecil ini pun membuat aku tertarik untuk mengamatinya.

Keluarga Kerto (bukan nama sebenarnya) adalah keluarga yang sederhana, seperti keluarga kebanyakan yang tinggal di Wonogiri. Mereka bergaul seperti layaknya kebiasaan masyarakat di sini, sehari-hari saling berkunjung dan bersilahturahmi satu dengan yang lainnya. Biasa saja.

Begitu tersiar kabar bahwa anaknya diterima sebagai mahasiswa Nyojo (sebutan lain untuk kota Jogjakarta), hal itu membuat sebuah perubahan. Keluarga Kerto menjadi lebih sering dikunjungi oleh para kerabat dan tetangganya. Orang-orang banyak datang berkunjung untuk mengucapkan selamat.

Disamping itu, mereka juga menyampaikan pujian dan sanjungan kepada pak Kerto dan bu Kerto. Awalnya terlihat Pak Kerto dan isterinya berusaha tetap merendahkan dirinya, tetapi puji-pujian dan sanjungan itu datang bertubi-tubi menghujani mereka dari segala penjuru. Lama kelamaan hal ini ternyata juga membawa perubahan juga terhadap sikap Pak dan bu Kerto.

Belakangan ini cara Pak Kerto kelihatan berjalan lebih tegak dibanding sebelumnya. Kini ia pun menjadi lebih rajin menyalami siapapun yang ditemuinya. Bu Kerto juga menjadi lebih sering berkunjung ke rumah tetangga dan rajin menghadiri pertemuan ibu-ibu. Mungkin karena ia begitu menikmati puji-pujian dan sanjungan dari para tetangganya.

Aku mengamati dan berpikir, ternyata besar juga pengaruh dari arti ‘mahasiswa Nyojo’ ini bagi lingkungan kami. Aku jadi teringat pada ‘ndoro dokter’. Sebelum menjadi dokter ia pun juga harus menjadi seorang mahasiswa. Jadi menurutku mahasiswa adalah calon dokter, atau mahasiswa adalah setengah dokter. Jadi mahasiswa adalah setengah ndoro! Sedangkan status sosial seorang ‘ndoro’, di masyarakat Wonogiri adalah lebih tinggi daripada orang kebanyakan. Kalau semua ini benar, maka bisa dimengerti jika derajat keluarga Kerto sekarang jadi meningkat.

****

Pada suatu pagi, ada perubahan besar di rumah kami. Pak Mojo mendatangkan beberapa tukang untuk merombak kamar tidur tamu rumah kami. Bagian dalam kamar itu, dibersihkan dan temboknya di cat ulang. Tempat tidur, meja tulis dan kursi-kursinya semua di ganti. Wah, kamar itu menjadi lebih indah.

Pak Mojo juga memerintahkan kepada Bu Mojo untuk mengganti seluruh menu makanan di rumah.

“Mau ada apa ini pak”. Pelan-pelan aku bertanya ke pak Mojo.

Pak Mojo menjawab: “Mau ada tamu mahasiswa Nyojo!” kata pak Mojo serius. Aku jadi penasaran, macam apa sih yang namanya mahasiswa Nyojo ini.

Beberapa hari kemudian sang mahasiswa pun tiba. Orangnya memang gagah, masih muda dan kelihatan sekali ia adalah orang kota dan bisa jadi adalah anaknya orang kaya. Saat datang dan memasuki kamar tamu kami, ia agak sedikit canggung dan kurang nyaman. Padahal, menurutku, kamar itu sudah sangat bersih dan bagus karena Pak Mojo sudah habis-habisan merombak kamar itu, bahkan berikut perabotannya.

Kepada Pak Mojo pun ia tidak banyak bicara, hanya seperlunya saja. Setiap hari ia banyak berdiam diri di dalam kamar dan keluar hanya untuk mandi dan pada waktu makan saja. Aku sudah dua kali mencoba menyapanya, tapi ia cuek saja. Mungkin memang ia sangat sibuk atau tidak terlalu suka kepada anak kecil. Jadi sejak itu, sosoknya pun terhapus dari perhatianku.

Setelah lima hari menginap, akhirnya sang mahasiswa Nyojo ini pun pergi, meninggalkan kamar tamu yang indah itu. Dan menu makanan di rumah pun kembali seperti semula, sederhana. Aku menjadi yakin, begitu besar pengaruh seorang mahasiswa Nyojo di lingkungan dan masyarakat kami.

****

            Di bagian lain kotaku ini tinggalah seorang ndoro, Ndoro Dono (bukan nama sebenarnya). Ia termasuk salah satu orang penting dan terpandang di kota ini. Ia memiliki empat orang anak gadis, semuanya cantik-cantik. Karena kecantikannya, mereka menjadi perhatian dan sering menjadi bahan pergunjingan masyarakat di kota ini.

Sudah menjadi rahasia umum juga di masyarakat Wonogiri bahwa anak perempuan sulungnya sering berganti-ganti pacar. Pacar-pacarnya adalah lelaki lokal Wonogiri, dari kalangan biasa-biasa saja. Para ibu sering merasa khawatir akan hal ini. Mereka takut kalau-kalau si cantik ini akan salah pilih dalam mencari pasangan hidupnya.

Sampai akhirnya, tersiar sebuah berita, bahwa putri pertama dari ndoro itu akan bertunangan. Masyarakat sekitar bertanya-tanya, siapakah lelaki yang akhirnya akan mempersunting puteri cantik ini?. Tetapi kemudian seluruh masyarakat merasa lega dan bersyukur, karena calon suami sang puteri itu adalah seorang mahasiswa dari Nyojo.

Maka aku pun semakin percaya dan yakin bahwa status ‘mahasiswa nyojo’ itu memiliki peran penting dalam masyarakat di sekitarku. (*)

 

*Cerita ini kupersembahkan untuk para mahasiswa dan alumni UGM.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

 

*Cerita ini kupersembahkan untuk para mahasiswa UGM.

Goro Goro

GORO GORO

Aku benar-benar menikmati tinggal di kota yang indah dan sangat menantang ini, Wonogiri. Begitu banyak kota yang pernah aku kunjungi dan aku tinggali. Malang, Mojokerto, Jombang, Solo dan beberapa kota kecil lainnya. Setiap kota memiliki tempat untuk berpetualang. Tetapi Wonogiri adalah kota yang paling aku sukai.

Walau kota ini cenderung sepi, tetapi memiliki banyak tempat untuk dikunjungi dan juga segudang tempat bermain. Misalnya seperti Gunung Gandul, Bengawan Solo, Alas (hutan) Ketu dan masih banyak lagi. Belum lagi mengenai bahasa dan tata cara hidupnya yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat Jawa Timur tempat aku tinggal. Untukku ini semua sangat menantang untuk diamati dan dipelajari. Rasanya hampir setiap hari aku menemukan hal yang sama sekali baru untukku. Sungguh mengasikkan.

Di kota kecil seperti Wonogiri ini, setiap kejadian sekecil apapun selalu menjadi bahan pembicaraan di masyarakat banyak. Seperti misalnya dua hari terakhir ini, hampir seluruh masyarakat kota, besar-kecil tua-muda sedang ramai membicarakan tentang akan adanya sebuah pergelaran Wayang Kulit semalam suntuk. Pertunjukan Wayang Kulit ini akan diadakan di rumah salah satu orang terkaya di kota ini, yang letaknya di lereng gunung di sebelah Utara kota Wonogiri.

Untungnya aku sudah memiliki teman-teman putra daerah, yaitu dalam bentuk geng, GAGAS, Geng Anak Gragas. Dari empat anak anggota geng ini hanya aku sendiri yang bukan anak asli Wonogiri. Aku adalah anak Jawa Timur. Tetapi, justru akulah yang mendirikan geng ini karena kami mempunyai kesamaan, yaitu nggragas, pemakan segala.

“Min, wayang kulit itu apa?” Aku bertanya kepada  Yahmin, anak yang paling senior didalam geng, anak asli Wonogiri. Konon Yahmin adalah anak penggemar wayang.

Yahmin menjawab,

“Wayang itu adalah sebuah cerita kuno yang diceritakan dalam bentuk bayang-bayang, para tokohnya digambarkan di atas potongan-potongan kulit kambing”. Sepertinya Yahmin agak sulit untuk menjelaskan padaku, dia melanjutkan, “Ah sudahlah, nanti kamu lihat dan nonton sendiri saja.”.

Ia berpikir sejenak kemudian berkata,

“Nanti teman-temanku akan membantu supaya geng kita ini bisa duduk di dekat kotak wayang di samping pak Dalang.” Wah, aku menjadi tambah tak sabar menunggu hari mainnya pertunjukan wayang kulit ini.

Maka pada malam diadakannya acara wayang kulit itu, berangkatlah kami, Geng Anak Gragas. Kami akan menonton wayang kulit, semalam suntuk.

Suara musik gamelan Jawa terdengar sayup-sayup dari hampir seluruh sudut kota Wonogiri. Ini karena pertunjukan wayang itu diadakan di lereng gunung sehingga suaranya terbawa angin ke mana-mana. Kami berjalan ke arah Utara dengan penuh semangat, apalagi aku anak Jawa Timur, yang belum pernah sekalipun nonton pertunjukan wayang kulit.

Kami berjalan dengan cepat karena sudah tidak sabar lagi ingin cepat sampai. Kalau bunyi gamelan terdengar keras bertalu-talu, katanya itu sedang adegan perang, maka kami pun berlari. Tetapi kalau suara gamelan terdengar agak lebih pelan, itu tandanya sedang ada adegan ‘Jejer’, artinya sedang berkumpul untuk berdialog, maka kami pun berjalan biasa lagi.

Setelah, menaiki dan menuruni lereng gunung, sampailah kami di lokasi pertunjukan, di rumah yang besar milik orang terkaya itu. Begitu kami memasuki halaman rumah tersebut, aku terpesona melihat suasananya. Didepan pendopo telah dipasang tenda yang sangat besar. Area di bawah tenda itulah yang dipakai sebagai tempat pertunjukan. Pandanganku tertuju kepada sebuah layar dari kain warna putih yang sangat lebar. Dibawah layar itu ada dua susun batang pohon pisang yang melintang sepanjang layar itu. Di sisi kiri dan kanan layar yang biasa disebut ‘Kelir’ itu, berjejer puluhan wayang yang terbuat dari kulit kambing yang ditancapkan diatas batang pohon pisang itu. Wayang-wayang kulit itu berjejer sangat rapat, bahkan hampir saling bertumpukan satu dengan yang lain.

Semua wayang tersebut menghadap ke tengah kelir. Bagian tengah-tengah kelir itulah yang dikosongkan, dan dibatasi dengan ‘Gunungan’, atau gambar gunung. Di atas lantai, didepan kelir dan batang pohon pisang itu duduk pak dalang yang akan memainkan wayang kulit itu.

Di belakang pak dalang terdapat perangkat gamelan beserta para penabuhnya yang memakan tempat yang cukup luas karena begitu banyaknya jenis alat musik gamelan. Di belakang gamelan itulah tempat duduk para penonton. Ada yang lesehan, duduk diatas kursi atau sambil berdiri berderet, sampai ke pagar. Bahkan sampai ada yang berdiri di tepi jalan depan rumah.

Disisi kanan pak dalang duduklah para ‘pesinden’, para penyanyi. Sedangkan di samping kiri pak dalang ada sebuah kotak kayu yang tebal dan besar dan panjang. Kotak itulah yang sering dipukul oleh pak dalang dengan sebuah pemukul dari kayu, “Dhok, dhorodhok dhok..” demikian bunyinya. Bunyi ini adalah sebagai pertanda pergantian dialog antar peran wayang tersebut.

Di bagian belakang, di atas pak dalang, tergantung sebuah ‘Blencong’, yaitu semacam lampu atau lebih tepatnya obor. Blencong ini bentuknya seperti ceret, yang diisi dengan minyak tanah dan di moncongnya dipasang sumbu, sehingga nyalanya selalu bergerak-gerak kalau tertiup angin. Blencong inilah yang dipakai untuk menerangi layar dan wayang-wayang yang dimainkan oleh pak dalang.

Dari belakang layar sana kita hanya bisa melihat bayangan hitam dari wayang kulit, tetapi bayangan itu terlihat seperti bergerak-gerak karena sinar dari blencong di belakangnya.

Di pendopo, dibelakang layar, disanalah tempat para tamu terhormat duduk. Mereka tidak duduk di atas kursi menghadap ke layar, tetapi mereka duduk lesehan, menghadap ke meja-meja pendek bundar. Mengapa? Rupanya para tamu terhormat itu menonton wayang kulit tidak dengan matanya, tapi dengan telinganya, karena mereka sambil sibuk main kartu!

Aneh, mereka pun ramai ribut sendiri, apalagi kalau ada yang menang, mereka berteriak keras-keras sambil membanting kartunya. Aku sebenarnya merasa kasihan kepada pak dalang yang sedang bercerita serius sesuai lakon wayang malam itu. Tetapi hal tersebut rupanya sudah biasa terjadi, jadi tidak ada yang tersinggung kecuali aku, mungkin.

Nah, lalu, dimanakah tempat untuk anak-anak? Tempat paling terhormat untuk anak-anak adalah di samping kotak, bersebelahan dengan pak dalang. Diatas tikar seluas dua kali dua meter itulah area yang diperebutkan oleh puluhan anak yang ingin menonton dengan jelas. Perebutan tempat duduk di samping kotak itu sangat keras dan terkadang kasar. Mereka saling gusur, dorong dengan mata melotot. Mereka yang terkuatlah yang bisa menguasai tempat itu. Disinilah peran Yahmin, senior di geng kami. Yahmin telah mengutus teman-temannya, anak-anak jagoan, untuk datang lebih dulu untuk ‘menduduki’ tempat terhormat itu.

Yang mulai aku amati dengan serius adalah pak dalang. Dia adalah orang yang luar biasa. Dia bisa ‘nembang’ – nyanyi dengan suara yang sangat merdu. Dia bisa menirukan suara bermacam-macam peran, puluhan mungkin ratusan peran. Setiap peran suaranya berbeda, ada yang rendah dan berat, ada yang sengau, ada yang cempreng merepet. Suara itu bisa berubah dengan sangat cepat, terutama pada saat terjadi dialog antara beberapa peran. Pak dalang konon harus menguasai lakon-lakon atau judul cerita yang jumlahnya banyak sekali. Malam itu lakonnya adalah “Petruk Dadi Ratu”— Petruk menjadi raja.

Tiba-tiba ada sebuah suara yang mengejutkan kami semua. Pak dalang memukul kotaknya dengan sekeras kerasnya dan berulang-ulang. Anak-anak yang berada di samping kotak, yang tadinya semua tertidur seperti puluhan ikan lele mati yang berserakan, serentak melompat terbangun dan langsung memusatkan perhatian ke layar. Inilah yang sudah mereka tunggu-tunggu, yaitu GORO GORO.

Goro goro, mungkin artinya adalah huru-hara yang sangat dashyat. Pak dalang melagukan suasana huru-hara ini dengan suara keras seperti ini, “Bumi gonjang ganjing, langit kelap-kelap katon…”—Bumi bergoyang-goyang dan langit bergemerlapan oleh halilintar….

Semula kukira “keributan” ini dibuat untuk menyambut kedatangan sesosok Dewa yang sangat berkuasa di langit dan bumi. Tetapi ternyata yang muncul adalah Semar dan anak-anaknya Gareng dan Bagong. Mereka adalah rakyat kecil dalam dunia pewayangan. Mereka adalah punakawan atau pelayan, yang membantu dan mendampingi sang Arjuna, seorang satria dari Amarta.

Lalu mengapa anak-anak ini sampai begitu semangat dan terbangun dari tidurnya? Rupanya karena dalam bagian Goro-goro inilah bahasa yang dipakai adalah bahasa rakyat, bukan seperti pada bagian atau adegan lain yang menggunakan bahasa Kawi yang sulit dimengerti oleh anak-anak seperti kami. Bahasa Kawi hanya dimengerti oleh mereka yang seudah biasa menonton wayang.

Dalam adegan ini terjadi dialog antara kiyai Semar dengan anak-anaknya Gareng dan Bagong. Lalu dimanakah Petruk, yang juga anaknya Semar? Dalam lakon ini, Petruk sedang minggat dan menjadi raja di sebuah kerajaan lain. Maka dalam cerita ini Semar dan kedua anaknya itu sedang mencari Petruk yang menghilang.          Pada akhirnya mereka menemukan Petruk, yang sedang duduk di singgasana kerajaannya. Ada adegan lucu yang aku ingat, yaitu Petruk, meskipun sudah menjadi ‘raja’ dan duduk di singgasana, tetapi kelakuannya ya masih seperti rakyat.

Dalam cerita itu ‘raja’ Petruk ingin mempunyai permaisuri, tetapi ia menolak semua putri-putri cantik yang ditawarkan untuknya, tak ada satupun yg membuat ia tertarik. Tiba-tiba Sang ‘raja’ Petruk melihat seorang perempuan yang melintas di ruangan itu. Lalu ‘raja’ Petruk berteriak, “Lha, itu, itu, aku mau sama yang baru lewat tadi!”.

Seluruh punggawa kerajaan mencari perempuan yang baru lewat tadi, ternyata perempuan itu adalah mbok-mbok tukang pel lantai. Adegan ini membuat semua penonton tertawa.

Di akhir lakon itu, Semar, bapaknya Petruk, berhasil mengembalikan anaknya menjadi rakyat kembali. Dan mereka kembali ke habitat semula, menjadi rakyat, abdi dari sang Arjuna, satria dari Amarta, salah satu dari lima bersaudara, Pandawa lima.

Pagi itu aku pulang menuruni gunung dengan perasaan senang dan puas. Aku telah punya pengalaman menonton Wayang Kulit, semalam suntuk. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Akar Garis Darah

AKAR GARIS DARAH

BARU beberapa bulan aku tinggal di Wonogiri, ketika suatu pagi saat aku sedang asik bermain di halaman rumah, tiba-tiba datang seorang tamu. Seorang tamu yang kehadirannya membuat aku sangat terkejut, tamu itu adalah Om No!

Ya, aku masih ingat betul bahwa itu adalah Om No, anaknya Mbah Tanjung, Malang. Bukankah jarak antara kota Malang dan Wonogiri ini sangat jauh? Jadi mengapa Om No bisa tiba-tiba muncul disini?

Kami berdua berbincang dan tertawa-tawa bersama mengenang masa saat masih tinggal bersama di Jalan Tanjung Gang Dua Malang dulu, dirumah Mbah Tanjung. Di rumah itu kami hanya berbeda status saja. Aku di situ sejak masih bayi, karena ayah kandungku meninggal dunia, sedangkan Om No adalah anak kandung dari Mbah Tanjung.

Meskipun dulu terkenal bandel dan sering membuliku, tetapi aku tahu bahwa Om No sebenarnya sayang padaku Kami berdua itu memiliki ikatan batin yang kuat. Mungkin juga karena kami berdua memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama suka berpetualang. Contohnya, Om No sering menyelundupkanku ke dalam gedung bioskop, yang filmnya untuk tujuh belas tahun keatas. Sungguh kenangan yang lucu dan seru.

“Ayo ikut yuk ke desa Kaligunting.” Ujar Om No kepadaku. Mendengar ajakan mendadak itu, aku langsung berlari ke kamar mandi dan cepat-cepat berganti baju. Aku takut kalau ajakan itu akan batal, atau dilarang oleh pak Mojo.

Dalam beberapa menit saja aku sudah siap, aku berdiri tegak di samping Om No. Aku sangat yakin bahwa perjalanan bersama Om No kali ini juga akan seru. Walaupun awalnya Pak Mojo menunjukkan sikap agak kurang senang dengan rencana mereka ini, tetapi akhirnya toh kami berangkat juga menuju desa Kaligunting.

Om No dan Ompa akan mengunjungi rumah Mbah Kaligunting, ayah kandung dari ayah kandungku. Konon, Mbah Kaligunting ini adalah seorang kepala desa yang sangat disegani oleh rakyatnya dan juga oleh masyarakat desa-desa sekitarnya. Aku sungguh sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau, Mbah Kaligunting. Ini adalah pertamakalinya aku akan berjumpa dengan Mbah Kakungku sendiri, Mbah Kakung kandungku.

Dengan naik Sepur Kluthuk kami berangkat dari stasiun kereta api Wonogiri menuju ke arah Selatan. Setelah berhenti dan melewati stasiun Nguntoronadi, kereta api ini tiba di stasiun terakhir, yaitu stasiun Baturetno. Kami pun turun di stasiun ini. Di stasiun ini pula lokomotif Sepur Kluthuk dipindahkan dari depan ke gerbong paling belakang, untuk kemudian kereta api akan kembali menuju Wonogiri dan Solo.

Dari stasiun Baturetno ini Ompa dan Om No harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju desa Kaligunting. Kami ditemani oleh seorang bapak dari Baturetno yang juga merupakan anggota keluarga besar Kaligunting. Bapak ini jugalah yang akan menjadi penunjuk jalan bagi Ompa dan Om No.

Kami berjalan menuju ke arah Barat. Setelah sekitar satu jam perjalanan berjalan kaki, kami kemudian berbelok ke arah Selatan. Bapak pengantar itu mengatakan bahwa ia memilih menggunakan jalan pintas, karena kalau berjalan kaki dengan rute biasa akan sangat jauh.

Perjalanan berjalan kaki ini cukup melelahkan, karena hampir semua area yang kami lewati adalah tanah yang tandus dan gersang. Di kanan kiri kami membentang lahan yang kering dengan tanah yang merekah dengan lubang-lubang menganga yang mengerikan.

Menurut bapak pengantar, kita akan menyeberangi dua sungai. Sungai yang pertama merupakan tanda bahwa kita sudah melalui setengah perjalanan, dan di seberang sungai yang kedua itulah letaknya desa Kaligunting.

Sudah hampir tiga jam perjalanan tapi kami belum juga bertemu sungai yang pertama. Walau lelah tetapi aku tetap berjalan dengan penuh semangat. Om No juga tidak mau kalah, ia berjalan lebih tegap dan kemudian mengeluarkan harmonikanya. Ia kemudian memainkan sebuah lagu, lagu perjuangan tentara Amerika seperti di dalam film perang, yang berjudul Halls of Montezuma.

Di sungai yang pertama kami harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Orang sekitar mengatakan perlu berjalan kaki memutar sekitar 20 kilometer untuk bertemu sebuah jembatan penyebrangan. Wah menyeberang sungai dengan masuk ke dalam air ini merupakan pengalaman baru yang seru. Air sungai pertama ini setinggi dada orang dewasa. Aku di gendong bapak pengantar di atas lehernya, kami harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terbawa arus sungai. Pengalaman yang menegangkan, pengalaman seperti inilah yang aku sukai.

Setelah hampir 5 jam berjalan kaki lagi akhirnya tiba juga kami di sungai yang kedua. Nah sungai inilah yang namanya sungai Kaligunting. Cukup lebar juga, sekitar lima puluh meter lebih. Sungai ini juga tidak memiliki jembatan, sehingga untuk menyeberanginya lagi-lagi kami harus berjalan kaki masuk ke dalam air. Beruntung hari itu sungai tidak sedang banjir, sehingga tinggi air hanya sepinggang orang dewasa. Kali ini aku tak lagi digendong di atas leher, cukup gendong belakang di punggung pak pengantar.

Setelah mereka tiba dengan selamat di seberang sungai, aku bisa merasakan dalam hatiku bahwa aku sudah memasuki wilayah desa Kaligunting desanya Mbah Kaligunting, mbah kandungku, akar dari garis darahku, akar dari garis darah Ompa. Hatiku berdebar-debar keras sepanjang sisa perjalanan dari sungai menuju ke rumahnya. Ini luar biasa, aku akan bertemu dengan Mbah Kakung kandungku

Saat akhirnya tiba di rumah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh isi rumah itu terlihat heboh menyambut kedatangan kami.

Kami kemudian langsung duduk beristirahat, karena kelelahan setelah mengadakan perjalanan panjang tadi. Saat itu tiba-tiba aku mulai merasa agak kikuk dengan suasana yang ada. Aku merasa bahwa seisi rumah itu terus memandangiku, seakan ada yang aneh pada diriku.

Tiba-tiba Mbah Kakung berteriak dengan kerasnya, “Degan, degan, penekno degaan. – panjatkan kelapa muda”. Maka dalam waktu tidak lama, belasan kelapa muda disuguhkan, dan kami semua menikmati segarnya kelapa muda, asli desa Kaligunting.

Setelah melepas rasa haus dengan air kelapa muda, akhirnya aku mulai mengerti mengapa orang seisi rumah Mbah Kaligunting ini memandangiku. Hal ini rupanya karena aku adalah cucu dari anak lelaki pertama, dari sepuluh anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Putri berkata kepada Ompa, “Bapakmu dulu lebih ganteng daripada kamu.” Kata-kata itu langsung membuat aku menjadi penasaran ingin sekali melihat wajah almarhum bapak kandungku, tetapi seluruh keluarga di rumah itu kemudian mengatakan bahwa tak ada satupun foto dari ayah kandungku. Aku mendadak menjadi sedikit sedih dan kecewa

Tetapi hari itu sungguh hari yang luar biasa untukku, aku merasa bagaikan seorang ‘tamu kehormatan’ di rumah Mbah Kaligunting. Semua orang seakan ingin melayani aku, termasuk Pak Lik (om) atau Bu Lik (tante). Aku merasakan ‘rasa’ yang berbeda, aku merasa sepeti mendapatkan guyuran kasih sayang dari saudara-saudaraku sepertalian darah.

Hari itu aku juga melihat bahwa Mbah Kakung tidak saja sangat disegani oleh rakyat di desanya, tetapi juga oleh keluarganya sendiri. Dirumah itu Mbah Kakung terlihat “angker” dan sangat berwibawa. Apapun yang diperintahkannya, semua orang tergopoh-gopoh untuk melaksanakannya. Itulah Mbah Kaligunting, Mbah Kakung kandungnya Ompa, sosok yang sangat berwibawa. Dia lah akar dari garis darahku. Aku terkagum.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: SR Kristiawan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑