Cari

Antonius Sutedjo

Tag

Wonogiri

Demam Perang

DEMAM PERANG

Beberapa hari terakhir ini aku merasa galau dan mudah marah. Ini semua karena aku dan teman-temanku telah dilarang bermain perang-perangan lagi.

Para orang tua kami mengeluarkan larangan itu karena mereka menganggap bahwa memang perang telah selesai. Apa lagi permainan perang  antar kampung yang biasa kami lakukan itu selalu meninggalkan bekas ‘kerusakan’ yang menurut mereka cukup parah.

Banyak tanaman di pinggir jalan dan di kebun jatuh terkapar bertumbangan. Di atas jalanan, halaman bahkan atap rumah dipenuhi bubuk warna putih bagaikan salju. Keadaan ini semua terjadi karena kami bermain perang-perangan dengan cara saling melempar ‘granat lontong’ yaitu kantong kertas yang bentuknya seperti lontong dan diisi dengan bubuk kapur, atau gamping.

Para orangtua di seluruh kota dengan tegas menganggap bahwa kota Wonogiri telah aman. Tetapi aku sungguh tidak setuju. Menurutku perang belum sepenuhnya selesai, karena aku masih merasakan adanya ‘demam perang’ yang melanda, baik bagi anggota Geng Anak Gragas dan juga bagi semua anak-anak di Wonogiri. Aku pun jujur mengakui bahwa level ‘demam’-ku lah yang paling tinggi dan parah. Karena itu aku tegas tidak setuju dengan adanya larangan permainan perang-perangan itu.

Kemudian aku kumpulkan semua anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di basecamp kami, di dekat kuburan di tepi sungai Bengawan Solo. Aku sampaikan gagasanku kepada mereka.

“Wahai teman-teman seperjuangan, sadarlah, kita tidak bisa tinggal diam saja menghadapi pelarangan atas kegiatan main perang-perangan ini!” Para anggota GAGAS duduk rapih menyimak pidatoku yang kali ini berapi-api. Aku lihat mereka menyetujui akan pandanganku ini, mereka mendengar sambil mengangguk-anggukan kepala.

“Teman-temanku, inilah saatnya, sudah tiba waktunya kita semua harus bergerak dan melakukan sebuah aksi. Ayo, sesegera mungkin kita akan mengadakan sebuah….. Sandiwara Perang!.

Kemudian kusampaikan garis besar dari rencana tersebut dan menyatakan bahwa Sandiwara Perang ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, pekan depan.

Yang akan menjadi tim inti dari pertunjukan ini adalah seluruh anggota GAGAS. Mendengar ini posisi duduk mereka semakin tegak, mengambil sikap sempurna, sambil mata mereka menatap ke arahku dan seakan berkata, “Siap, komandan!”.

Aku pun bergerak cepat. Tempat pertunjukan pun sudah kutetapkan, yaitu di teras depan rumah Pak Mojo, di Jalan Jurang Gempal. Teras depan rumah itu cukup luas, dan terbuka, hanya dibatasi dengan pagar tembok setinggi pinggang yang berlubang-lubang, sehingga bisa kelihatan juga dari luar. Sebagai panggung kami akan menggunakan kamar tamu depan yang pintunya cukup lebar.

Aku pun langsung menghadap ke pak Mojo, ayah angkatku, dan menyampaikan rencana besar tersebut yang akan menggunakan teras depan dan ruang tamu miliknya. Seperti biasanya, Pak Mojo, jika sudah melihat sikapku yang menggebu-gebu seperti itu, beliau hanya diam, itu tandanya ia tidak setuju dan tidak menolak. Dan aku pun dengan cepat langsung menganggap bahwa pak Mojo telah setuju.

Langkah berikutnya adalah mencari pemain. Aku akan melibatkan teman-teman SD-ku, termasuk kakak-kakak kelasku, yaitu kelas empat sampai kelas enam. Aku kemudian mulai menyebarkan berita, dari mulut ke mulut, bahwa aku akan mengadakan sebuah Sandiwara Perang.

Berita tersebut dengan cepat menyebar. Aku bisa merasakan hal itu, karena kemanapun aku berjalan, anak-anak memandang diriku dengan penuh kekaguman. Beberapa anak bahkan sengaja mendekatiku, bertanya tentang rencana sandiwara ini. Tentu saja aku tahu, bahwa mereka mendekatiku karena berharap akan terpilih menjadi salah satu pemain sandiwara ini.

Kemudian aku menunjuk empat orang anak yang akan memerankan tentara Belanda. Caraku memilih keempat orang anak ini cukup mudah. Asalkan mukanya cukup tampan, kulitnya tidak terlalu gelap, dan hidungnya tidak pesek.  Mereka semua aku kumpulkan di Posko, yaitu di kebon kosong di seberang sekolah, di bawah pohon kenari. Aku katakan kepada para calon ‘tentara belanda’ itu.

“Kalian semua harus bangga karena terpilih, ini bukti bahwa kalian itu cukup tampan.” Mereka kelihatan sangat senang dengan pujian dariku ini. “Kalian harus beritahukan kepada orang tua kalian akan rencana ini, ingat, beri tahu bukan minta ijin.” ujarku.

“Dan jika ada orang tua kalian yang tidak setuju, kalian akan aku ganti dengan anak lainnya. Rupanya caraku ini berhasil. Keesokan harinya mereka semua membawa kabar bahwa orang tua mereka mendukung, bahkan ada seorang ibu yang akan membuatkan seragam tentara Belanda untuk keempat anak itu. Mendengar itu aku hanya senyum-senyum kecil sambil mengangguk-angguk. Padahal di dalam hati aku bersorak keras kegirangan.

Dengan cara yang sama aku pun menunjuk pemeran-pemeran lainnya: tentara kita, juru rawat, rakyat, dan lain-lainnya. Bantuan dari para orang tua pun mulai banyak mengalir. Mungkin para orang tua itu juga sudah tertular penyakit “demam perang”, terkena demam perjuangan para pahlawan kita. Atau mungkin kalau tidak mendukung mereka takut nanti dikira pro Belanda.

Begitulah caraku mempersiapkan sandiwara perang ini. Semua hal aku urus dan aku atur sendiri. Aku hanya mempercayakan kesuksesan proyek besar tersebut kepada anggota gengku, geng GAGAS.

Dengan rutin aku sering mengumpulkan mereka di posko, dibawah pohon kenari. Karena mereka inilah yang nantinya akan mempersiapkan panggung dan latar belakangnya.

Latar belakang panggung kami akan berupa hutan yang rimbun dan ada sedikit atap rumah dan sebuah bangku panjang di tengahnya. Untuk mempersiapkan itu semua, bagi anak GAGAS, bukanlah menjadi masalah.

“Darah!” kataku tiba-tiba. Mendadak aku baru teringat, bahwa darah sangat diperlukan untuk nanti dioleskan pada pemeran tentara kita yang luka-luka. Aku kemudian berpikir bahwa kita harus segera menghubungi rumah sakit.

Tetapi tiba-tiba Yahmin berkata, “Kalau perkara darah, biar aku yang urus.” Aku terbengong dan membatin, bagaimana caranya Yahmin akan mendapatkan darah?. Tetapi, seperti biasa, Yahmin berdiri sambil tersenyum dan lalu pergi memetik daun jati yang lebar dan kasar seperti amplas itu. Kemudian daun jati tersebut di remas-remasnya, dan ajaib, daun jati itu berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Hebat kau Yahmin!

Maka, hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sandiwara Perang sore ini akan dipentaskan. Aku mengambil keputusan bahwa tidak perlu gladi resik, aku berkata, “Ini adalah sandiwara perang, sandiwara ini minim dialog.”

Untuk setiap adegan, aku hanya memberikan garis besarnya saja kepada para pemain. Kuberikan arahan bahwa yang utama adalah adegan perang, saling menyerang. Tentara Belanda menyerang tentara kita, lalu kita balas dengan serangan gerilya. Lalu ada adegan seorang tentara kita yang luka dan ditolong oleh seorang suster cantik, berlanjut dengan adegan perpisahan antara suster cantik itu dengan tentara yang akan maju berperang.

Adegan terakhir adalah tentara Belanda diusir pergi oleh tentara kita. Jadi kebanyakan adalah suara tembakan dan bom, suara-suara ini akan dibuat menggunakan mesiu dari peluru sungguhan yang kami temukan dari sisa bekas perang yang lalu.

***

Sore itu para penonton mulai memenuhi teras depan rumah Pak Mojo. Pementasan Sandiwara Perang pun dimulai. Suara-suara ledakan mulai berdentuman. Bau mesiu menyengat tajam tercium hingga ke jalan raya. Orang-orang yang sedang lewat berbondong-bondong masuk ke halaman rumah Pak Mojo, mereka ingin menonton apa yang sedang terjadi.

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi sewaktu adegan perpisahan antara suster cantik yang akan ditinggal kekasihnya ke medan perang. Terjadi dialog yang memilukan antara keduanya.            Aku pun sempat bingung, entah dari mana mereka dapatkan dialog yang panjang dan mengharukan itu. Mungkin mereka dilatih oleh orang tuanya. Aku sendiri sempat terkesima sampai-sampai aku tak sadar bahwa adegan itu sudah melewati batas waktunya.

Aku baru saja hendak berdiri untuk memotong adegan itu, ketika aku mengintip ke arah penonton. Aku melihat banyak penonton yang terharu, bahkan banyak ibu-ibu yang mengusap air matanya. Apalagi sewaktu suster cantik itu menyerahkan sapu tangannya kepada kekasihnya sebagai kenang-kenangan dan disimpan sewaktu dirinya berada medan perang.

Adegan terakhir sebagai klimaks adalah adegan sewaktu tentara Republik berhasil mengusir tentara Belanda penjajah dari kota Wonogiri. Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan.

Sebagai penutup, semua pemain berdiri di depan panggung, untuk menyambut tepuk tangan penonton yang panjang itu. Aku pun kemudian maju ke depan, untuk memberikan pidato penutup.

Dengan lantang aku berkata kepada para penonton. “Bapak Ibu dan saudar-saudara sekalian, ayo kita semua menghormati para pejuang yang sudah membebaskan kita dari penjajahan. Para orang tua juga diharapkan menghargai anak-anak, merekalah kelak yang akan menggantikan para pejuang kemerdekaan kita itu.”

Sebagai akhir kata, Aku mengajak para penonton untuk mengucapkan tekad kita.

“Sekali merdeka……..”

Semua penonton menjawab serempak

“Tetap merdekaaa!!!…….”.

Demikianlah Sandiwara Perang pun berakhir dengan sukses. Aku sangat puas dan tidak galau lagi. ‘Demam’-ku sudah hilang. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Gunung Gandul

GUNUNG GANDUL

HARI ini, cita-citaku untuk mendaki Gunung Gandul akan segera tercapai. Bukit ini menjulang tinggi di sisi barat kota Wonogiri. Aku bersama empat orang temanku di SDN 3 Wonogiri sudah berkumpul di stasiun kereta api kota Wonogiri.

Stasiun ini letaknya tepat di kaki Gunung Gandul. Kami sudah siap, hanya tinggal menunggu kedatangan dua anak perempuan lagi yang sudah berjanji akan ikut mendaki bersama.

Sambil menunggu, iseng-iseng aku bertanya kepada teman-temanku, “Siapa yang pernah melihat Gunung Gandul ini dari seberang bukit, dari sisi barat?”. Mereka hanya melongo mendengar pertanyaanku itu, mungkin mereka tidak menduga ada pertanyaan semacam itu. Maka aku menjadi paham, bahwa mereka memang belum pernah melihat bukit ini dari sisi sebaliknya. Maklum, mereka semua dilahirkan di kota ini, yang terletak di sisi timur dari Gunung Gandul, sejak lahir mereka hanya melihat bukit ini dari sisi timur,

Sangat berbeda dengan diriku, justru pertama kali aku melihat Gunung Gandul ini adalah dari sisi sebelah barat. Begini ceritanya.

***

Akibat dari perang yang terjadi, beberapa tahun lalu aku dan keluargaku mengungsi dari kota Solo ke kota Wonogiri ini dengan menggunakan kendaraan truk besar. Sepanjang perjalanan itu aku  berdiri di pinggir bak truk bagian depan yang membuatku bisa dengan jelas menikmati pemandangan selama perjalanan.

Dengan truk besar ini, dari kota Solo kami menuju ke arah selatan, melewati jalanan yang datar dengan pemandangan yang indah. Kami melewati banyak persawahan, desa-desa. Semakin ke selatan aku bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi tanahnya terlihat semakin gersang dan kering.

Setelah truk kami berbelok menuju ke arah timur, aku dikejutkan oleh pemandangan yang menarik. Jauh di hadapanku terlihat sebuah perbukitan yang tinggi, yang membujur dari utara ke selatan. Bukit-bukit ini bagaikan sebuah barisan, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Deretan perbukitan ini semakin lama semakin dekat, membuat diriku semakin bersemangat dan bergairah.

Ketika aku menoleh ke kanan aku melihat, di atas salah satu puncak bukit yang tertinggi, ada  bukit lagi berwana kehitaman. Ini sangat berbeda dengan deretan bukit lainnya yang berwarna coklat tanah. Pemandangan ini sangat menarik perhatianku.

“Pak, itu batu atau bukit?” tanyaku pada seorang bapak yang duduk dibelakangku. Bapak itu menjawab sambil matanya hampir terpejam menahan kantuk, “Itu bukit batu,” katanya lirih. Wah ini luar biasa, pikirku, mungkin ini adalah keajaiban dunia! Ada sebuah batu raksasa yang tumbuh di puncak bukit! Aku kemudian berpikir keras tentang hal ini, sambil tetap menatap kagum kepada bukit batu ajaib itu.

“Itu namanya Gunung Gandul nak, ” kata si bapak itu kemudian tanpa aku harus bertanya. Rupanya dia tahu bahwa aku sedang memperhatikan bukit batu tersebut, Gunung Gandul.    Mendengar nama itu spontan aku melihat ke arah langit diatas batu itu. Batu sebesar itu nggandul  (menggantung) kemana? Aku sudah berusaha mencari-cari tetapi tidak kutemukan seutas talipun yang menggantung batu itu.

Kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya lagi ke bapak tadi, “Pak, mengapa namanya Gunung Gandul?”. Dijawabnya singkat, “Yo embuh! – Entah ya!” Mendengar jawaban itu, aku menjadi paham, artinya titik. No more question, ia tidak mau aku bertanya lagi. Tapi bukankah aku tidak boleh mudah menyerah? Aku harus mencari akal. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya aku menemukan pertanyaan lain, yang bukan tentang Gunung Gandul.

Aku bertanya, “Pak, Wonogiri masih jauh ya?”. Eh, bapak itu menjawab juga, “Nggak jauh lagi, setelah kita melewati bukit di depan ini, belok kanan, di situlah Wonogiri, dibawah Gandul.”

Wah, kota Wonogiri letaknya ada di bawah Gunung Gandul?  Jawaban itu membuatku semakin bersemangat dan penasaran tentang kota Wonogiri beserta Gunung Gandulnya ini.

Tiba-tiba truk kami berhenti di pinggir jalan, hanya sebentar, rupanya ada beberapa orang  yang akan turun di sini. Sewaktu aku melihat ke keatas tebing di sisi kanan jalan di lereng perbukitan itu, aku dikejutkan lagi oleh sebuah pemandangan yang  juga sangat menarik. Aku melihat ada sebuah batu yang sangat besar, sebesar gedung bertingkat tiga.

Batu yang bentuknya lonjong seperti telur itu bertengger di pinggir tebing curam tersebut. Yang aneh dan menarik adalah, batu besar itu di bersandar pada sebuah pohon.

Pohon itu terlihat sudah sangat tua umurnya. Kulitnya terkelupas, mungkin karena kelelahan memangku batu raksasa itu. Bagiku, terus terang ini agak mengerikan. Kalau tebing curam itu longsor atau pohon itu tumbang karena tidak kuat lagi menahan batu, maka batu sebesar itu akan jatuh dan menutupi seluruh jalan raya. Aku tak berani membayangkannya.

“Batu itu namanya Plintheng Semar, sudah seperti itu sejak ratusan atau mungkin malah ribuan tahun yang lalu,” kata bapak yang tadi duduk di belakangku sambil bangkit berdiri. Plintheng Semar?

Lagi-lagi aku mulai berpikir keras, sambil membayangkan. Kalau batunya saja sebesar itu, lalu sebesar apa plintheng (ketapel) nya? Dan sebesar apa pula pak Semar nya? (Semar adalah nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan).

Belum selesai aku mencoba mengkalkulasinya, truk kami sudah mulai bergerak lagi menuruni jalan memasuki kota Wonogiri. Kini di hadapanku terhamparlah pemandangan kota Wonogiri yang mempesona.

Tetapi kemudian kepalaku kembali dipenuhi dengan berbagai pertanyaan menarik yang belum juga terjawab. Gunung Gandul, menggantung dimana? Plintheng Semar, sebesar apa plinthengnya dan sebesar apa Semarnya? Semua pertanyaan itu harus kutemukan jawabannya. Menurutku ini sungguh menantang.

***

            Akhirnya, kedua anak perempuan yang kami tunggu-tunggu, yang mau ikut mendaki, tiba juga di stasiun tempat mereka berkumpul. Kedua anak perempuan ini terlambat cukup lama.

Hal ini membuat aku agak jengkel sambil kemudian berpikir, maklum, salah satu dari mereka adalah si Vinny. Seorang anak perempuan yang merasa, paling cantik di kelasku. Tetapi kenyataan sebenarnya Vinny memang cantik, berbeda dengan anak-anak perempuan lainnya. Kulitnya kuning langsat, seperti anak orang Belanda, mungkin karena alasan itu dia suka sok merasa paling cantik. Dan mungkin karena alasan itu juga lah, dia suka bergaya acuh tak acuh terhadapku.

Akhirnya kami siap memulai pendakian ke puncak Gunung Gandul. Kami menyeberangi rel kereta api dan jalanan langsung menanjak. Awalnya kami melewati perkampungan, setelah itu melewati jalan setapak yang menanjak curam. Baru setengah perjalanan teman-temanku sudah tampak kelelahan, mereka minta beristirahat dibawah pohon.

Aku merasa sedikit jengkel berjalan bersama mereka. Sudah jalannya lambat, sering beristirahat pula. Sambil tertawa dalam hati aku berpikir, Mungkin di situlah bedanya, mereka itu kan anak rumahan yang “kurang gizi”, sedangkan Ompa anak berandalan, pemakan serangga, tapi “kelebihan gizi”.

Setelah beberapa jam berjalan akhirnya kami mencapai puncak, yaitu di kaki bukit batu itu. Pemandangan dari tempat itu sungguh indah. Kami bisa melihat kota Wonogiri dan sungai bengawan Solo dengan jelas. Tetapi aku berpikir dan mengamati sekitar, lokasi ini bukanlah puncak yang sebenarnya. Menurutku yang dinamakan puncak sebenarnya adalah puncak di atas Gunung Gandul, di atas bukit batu itu.

Kebanyakan orang kalau sudah tiba di bawah bukit batu, mereka anggap mereka telah mencapai puncak Gunung Gandul. Menurutku pendapat itu salah kaprah. Karena dari sisi timur, untuk mencapai puncak bukit batu itu harus memanjat sebuah tebing tegak lurus keatas.

Kemudian aku berkata kepada semua teman-temannya, “Ayo, siapa yang mau ikut saya ke puncak batu di atas sana?”. Mereka semua kaget. Ada yang memandangku dengan pandangan memelas yang seolah mengatakan, “Ampun…” Ada yang tiba-tiba lari ke belakang semak-semak, entah mau apa ke sana.

Karena tidak ada diantara mereka yang berani ikut, maka aku pun berjalan sendirian menuju ke bukit batu itu.

Aku tidak mendaki dari sisi timur, tetapi aku merayap dulu menuju ke sisi barat. Tentu saja aku berani melakukan ini karena aku pernah melihat batu ini dari sisi barat.

Aha… , ternyata perkiraanku benar. Seperti yang pernah kulihat dari sisi barat dulu, di sisi ini  ternyata tanahnya lebih tinggi, sehingga menjadi lebih mudah untuk mencapai puncak batu itu. Apalagi aku tinggal mengikuti bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya saja yang ada di bebatuan itu.

Namun mendekati puncak, ada kesulitan menghadang: batunya terbelah dua! Oh, oh, apa yang harus  kulakukan? Aku berpikir sejenak… Ya, ya, aku akan merayap naik melewati terowongan belahan batu itu. Keluar dari terowongan itu, aku tinggal memanjat dinding batu sekitar sepuluh meter lagi.

Setelah berjuang keras memanjat, sampailah aku di puncak sebenarnya dari Gunung Gandul ini. Aku juga menemukan ada dataran di puncak, tapi hanya sekitar lima meter saja lebarnya dan miring. Membuat aku harus ekstra hatihati.

Aku puas dan bangga. Dari puncak itu aku bisa melihat dengan jelas ke seluruh arah. Timur, barat dan seluruh perbukitan yang membujur dari utara ke selatan.

Selama perjalanan turun, Vinny, temanku anak perempuan yang (sok) Belanda itu, selalu berjalan di sampingku. Ia menyimak mendengarkan cerita ‘kepahlawanan’ku, kisah perjuanganku memanjat tebing tadi.

Tentu saja cerita itu telah kutambahkan dengan bumbu-bumbu, agar terlihat bahwa diriku lebih hebat dibanding teman-temannya yang lain. Sementara aku berjalan dan mengobrol berdua bersama Vinny, anak-anak lainnya mengikuti kami dari belakang, mereka diam saja. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pak Bende

Sketsa ilustrasi oleh Tjatri Devi

PAK BENDE

Setelah perjalanan yang panjang, mulai dari Mojokerto, Jombang dan Solo, akhirnya pengungsian Ompa dan keluarga berakhir di Wonogiri. Di sanalah mereka akhirnya menetap, dan perlahan-lahan Ompa pun mulai berkenalan dengan kota yang indah ini, juga belajar bergaul dengan orang-orangnya.

Belum lama tinggal di Wonogiri, suatu hari Ompa melihat seorang lelaki yang sangat menarik. Setiap kali melihat laki-laki itu, Ompa selalu dibuat penasaran. Betapa tidak! Laki-laki itu sangat terkenal dan selalu hadir di tengah masyarakat kota Wonogiri. Ia bertubuh kurus, usianya sekitar lima puluh tahunan. Ia selalu mengenakan blangkon dan baju lurik lengan panjang. Tangan kirinya selalu memegang sebuah bende, gong kecil, yang tergantung pada seutas tali. Sedangkan tangan kanannya memegang tongkat pendek yang digunakan memukul bende.

Tak seorang pun tahu nama laki-laki itu. Ia hanya dikenal dengan nama Pak Bende, karena ke mana-mana selalu membawa bende.

Siapa sih Pak Bende ini sebenarnya? Mengapa ia selalu blusukan ke sudut-sudut kampung di seluruh Wonogiri? batin Ompa setiap kali melihat laki-laki kurus itu. Makin hari Ompa makin penasaran, tak lelah-lelah ia mencari tahu tentang jati diri Pak Bende. Semua orang ditanyainya. Tapi semua orang hanya dapat menggeleng. Mereka tahu siapa Pak Bende, tapi… siapa persisnya nama sesungguhnya, juga apa persisnya pekerjaan laki-laki itu, tidak seorang pun yang tahu.

Lalu pada suatu hari seseorang berkata pada Ompa, “Pak Bende? Oh… dia itu Juru Penerang.” Ompa kagum bukan buatan mendengar istilah itu. Juru Penerang? Apa itu?
“Juru Penerang tugasnya memberi penerangan dan informasi kepada seluruh rakyat kota Wonogiri, agar warga tahu apa yang akan terjadi pada hari itu.” Mendengar itu Ompa hanya bisa mengangguk-angguk. “Nah, sekarang, apakah kamu tahu apa itu Bende?” orang itu ganti bertanya. Ompa berpikir sebentar. Ia tahu, bende itu gong. Tapi apa persisnya, ia tidak tahu. Maka dengan enggan ia pun menggeleng. “Yah, aku sendiri juga tidak tahu jawabnya. Itu sebabnya aku tanya,” orang itu berkata lalu tertawa.

Tapi bukan Ompa jika ia tidak mencari jawabannya hingga jelas sejelas-jelasnya. Maka ia pun segera bertanya sana-sini dan mengumpulkan berbagai informasi. Dan sebelum hari itu berakhir, Ompa sudah tahu bende adalah gong kecil dalam perangkat gamelan Jawa, dan termasuk dalam kelompok gong.

Kelompok gong ini semua tergantung pada tali dan dikaitkan pada kayu panjang yang diukir dengan indah. Gong paling besar biasanya hanya dipukul sekali saja sebagai tanda penutup pada akhir lagu. Gong itu suaranya rendah, berat, dan gemanya berdengung sangat panjang. Namun jangkauan suara gong tidak terlalu jauh.“Guunngggg…,,” demikian bunyinya, mantap dan agung.

Tapi bende si gong kecil, suaranya lebih kecil dan nyaring: “ Dung, dung, dung…” Dan walaupun kecil, jangkauan suaranya bisa mencapai satu kilometer bahkan lebih, tergantung medannya, apakah tertutup atau terbuka. Itulah sebabnya Pak Bende selalu menggunakan bende.

Setiap hari Pak Bende menyusuri jalanan di seluruh kota. Pada setiap perempatan, Pak Bende berhenti dan memukul bende-nya beberapa kali: “Dung, dung, dung…” Kemudian ia akan berbicara dengan suara sangat nyaring, bagaikan menggunakan pengeras suara. Ucapannya pun sangat jelas. Mungkin karena itulah ia diangkat sebagai juru penerang. Pak Bende berbicara cukup panjang dan menggunakan bahasa Jawa Tinggi.

Ia berkata, “Woro woro, poro piyantun kakung miwah putri—pengumuman bagi para priyayi pria maupun wanita. Lanjutnya, “Ing dalu meniko bade wonten pagelaran ringgit wacucal—pada malam ini akan diadakan pertunjukan wayang kulit…”

Demikian seterusnya dan seterusnya. Semua orang di sekitarnya akan mendengarkan apa yang disampaikan Pak Bende dengan saksama. Mereka yang merasa kurang pendengarannya mulai mendekat supaya bisa menyimak lebih jelas apa yang dikatakan Pak Bende.

“Wah, informasi yang disampaikan Pak Bende selalu cukup banyak,” Ompa memperhatikan dengan penuh kekaguman. Misalnya tentang wayang kulit, tempat pertunjukan, mulainya jam berapa, siapa dalangnya, dan apa lakon yang akan dimainkan. Tetapi bukan itu yang membuat Ompa paling terkesan, melainkan karena Pak Bende selalu dapat menyampaikan semua itu tanpa menggunakan catatan.

“Hmmm… mungkinkah karena Pak Bende tidak bisa baca-tulis, maka ia hanya menggunakan ingatannya?” Dan bersama dengan setiap pertanyaannya yang tak terjawab itu, Ompa kecil pun semakin penasaran tentang kemampuan ingatan Pak Bende ini.

Maka suatu hari Ompa diam-diam sengaja mengikuti Pak Bende. Nah, benar juga, pada setiap pemberhentian selalu ada saja informasi yang terlewat untuk disampaikan. Kadang-kadang Pak Bende lupa menyebut nama dalangnya, tempat pertunjukan, atau yang lainnya. Pantas saja setiap selesai satu pengumuman, selalu ada saja orang yang mendekatinya untuk menanyakan tentang apa yang lupa diinformasikannya tadi. Dan Pak Bende dengan sabar dan bangga selalu melayani pertanyaan orang-orang itu.

Pernah suatu kali Ompa mengingatkan Pak Bende bahwa ada lagi yang kelupaan untuk disampaikan. Pak Bende kaget, memandang ke arah Ompa, dan menarik napas panjang. Lalu ia berjalan meninggalkan Ompa sambil berkata, ”Yo, wis ben wae—Ya, sudahlah, biarkan saja.” Setelah itu tanpa merasa bersalah ia pun melanjutkan perjalanannya sebagai juru penerang.

Kedatangan Pak Bende selalu dirindukan segenap warga kota Wonogiri. Satu minggu saja Pak Bende absen, seluruh lapisan warga pun langsung gelisah bertanya-tanya. Tak peduli tua, muda, anak-anak, apalagi ibu-ibu. Mungkin itu karena Pak Bende orangnya ramah dan terkadang senang menggoda ibu-ibu.

Setiap kali terdengar suara bende sayup-sayup di kejauhan, semua warga kota langsung penasaran dan bersiap mendengarkan berita yang ia sampaikan. Tapi kadang-kadang tiba-tiba suara bende menghilang, padahal orangnya belum lewat di tempat kami. Jika itu terjadi, orang-orang pun ribut, bertanya-tanya ke manakah laki-laki kurus itu. Ternyata Pak Bende sedang beristirahat sambil makan di warung.

Pak Bende selalu menjalankan tugasnya dengan setia dan tak kenal lelah. Ia menyusuri jalanan kota Wonogiri dari pagi hingga petang. Dengan hanya menggunakan bende dan suara nyaringnya, ia mampu mewartakan berbagai berita yang ditunggu-tunggu seluruh masyarakat kota Wonogiri.

Setiap kali matahari telah bersembunyi di balik Gunung Gandul, Pak Bende pun pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya. Ia merasa senang dan puas, tahu seluruh rakyat Wonogiri saat itu merasa senang setelah mendengar kabar malam itu akan ada pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Pendopo Kabupaten, Wonogiri. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Rosi L Simamora

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Renang Gaya Batu

Sketsa Ilustrasi karya: Tjatri Devi

RENANG GAYA BATU

SEMAKIN hari aku merasa semakin bangga menjadi anggota GAGAS, Geng Anak Gragas. Mengapa? Salah satunya adalah karena aku merasa beruntung bahwa tiga temanku anggota lainnya adalah putra daerah, Wonogiri. Mereka telah mengenal wilayah ini sejak lahir. Mereka mengetahui semua, sampai hal yang sekecil-kecilnya.

Apalagi yang namanya Yahmin, dia adalah anak yang paling tahu segala hal. Disamping itu Yahmin juga rajin mengajari aku, anak Malang ini. Sering kuceritakan pada Yahmin bahwa sewaktu aku masih tinggal di Malang, aku pernah menjadi anggota GATAN, Geng Anak Tanjung, Malang.

Kepada Yahmin aku ceritakan pula tentang kehebatan si Cacak, pemimpin GATAN di Malang, tentang penjelajahan kami dari kampung ke kampung, tentang Cacak yang selalu memimpin barisannya dengan tongkatnya, dan sebagainya. Yahmin mendengarkan semua itu hanya dengan senyum-senyum sambil diam saja.

Siang itu, setelah kami selesai menikmati pesta belalang dan burung bakar, Geng Anak Gragas melanjutkan perjalanan. Kali ini kami bergerak menuju ke sungai. Tiba-tiba Yahmin berteriak, “Le, ayo nglangi, leee.. – Ayo kita berenang”. Kemudian kami berlari kencang menuju ke tepi sungai Bengawan Solo yang besar itu. Dari atas tebing yang cukup tinggi di tepi sungai itu, anak-anak melepaskan baju dan celana, lalu mereka menceburkan diri ke sungai.

Demi solidaritas, aku pun melakukan hal yang sama. Tanpa pikir panjang aku cepat-cepat melepaskan baju, celana dan kemudian byuurr….., aku sudah terjun ke dalam sungai. Dan apa yang tidak aku duga-duga pun terjadi. Aku lupa bahwa sebenarnya aku tidak bisa berenang!

Yang terjadi berikutnya adalah peristiwa yang pasti sulit untuk kulupakan seumur hidupku. Tubuhku sudah berada di dalam air. Tadinya aku bermaksud ingin mencabut keputusanku untuk terjun ke air, tetapi itu tidak mungkin lagi karena aku merasa bahwa tubuhku sedang merosot terus ke bawah, di dalam air itu, semakin lama dalam. Kemudian aku sempat beharap agar kakiku akan segera sampai ke dasar sungai untuk kemudian aku akan mencoba melompat kembali ke atas, ke permukaan.

Tetapi yang terjadi adalah kakiku tidak juga menginjak sesuatu. Aku mendadak menjadi panik. Ini tidak boleh terjadi. Aku merasa badanku terus merosot ke bawah. Aku juga merasa sudah tidak tahan lagi menahan napas, air pun mulai masuk ke dalam mulutku. Tetapi kakiku belum mencapai ke tanah juga. Aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya pasrah membiarkan tubuhku tenggelam. Yang terakhir terlintas di pikiranku, sewaktu aku berada di dalam air sungai yang tanpa dasar itu, adalah muka si … Cacak.

Tiba-tiba aku sudah tergeletak di atas rerumputan di pinggir sungai. Aku merasa kepalaku sudah berada di atas tanah, sedangkan kakiku ada yang mengangkat ke atas. Lalu keluarlah banyak air dari dalam mulutku. Kemudian aku terduduk sendirian sambil masih terbatuk-batuk. Sedangkan teman-temanku anak-anak geng sudah kembali berenang.

Dalam kesendirianku itu, aku berpikir lagi mengenai Cacak. Mengapa dulu dia tidak mengajariku berenang? Apakah dia, sang pemimpin Geng Anak Tanjung, Malang, yang legendaris itu juga tidak bisa berenang? Padahal aku telah menyanjung-nyanjung dirinnya di depan si Yahmin. Aku jadi merasa malu pada Yahmin, yang telah mendengarkan tentang kehebatan Cacak sebagai pemimpin. Pantas saja Yahmin saat itu hanya diam sambil senyum-senyum saja. Mungkin begitulah gaya kearifan orang Wonogiri.

Tiba-tiba Yahmin keluar dari sungai lalu mendekatiku. Melihat bahwa aku telah sadarkan diri, ia pun duduk di sampingku.

Ia menasihatiku, “Kalau kamu belum bisa menyelam jangan berenang, itu berbahaya” katanya.

Yahmin lanjut menjelaskan mengenai sungai Bengawan Solo, bahwa kalau permukaan air sungai beriak, itu tandanya tidak dalam. Kalau permukaan air tenang, tidak bergelombang, itu tandanya sangat dalam.   Bagian sungai yang dalam itu namanya, ‘kedung’. Kalau permukaan airnya berputar, itu harus dihindari. Karena bisa-bisa kita terhisap ke dalam. Pantas, rupanya tadi aku bersama anak-anak itu terjun di ‘kedung’.

Yahmin ini rupanya tidak suka banyak berteori. Aku langsung diajaknya ke sungai yang dangkal, yang airnya hanya setinggi lutut. Kemudian aku disuruhnya membenamkan kepala ke dalam air sambil menghitung sendiri, dalam berapa hitungan kepalaku dapat bertahan di dalam air. Lalu Yahmin meninggalkanku dan kembali berenang bersama teman-temannya.

Aku kemudian berlatih sendiri dengan serius. Semula diriku hanya bertahan di dalam air dalam lima hitungan saja, lama kelamaan meningkat terus.

Sewaktu Yahmin datang kembali, aku sudah mampu menyelam selama lima belas hitungan. Yahmin lalu membawaku ke atas tebing, dan tanpa ijinku aku kemudian didorongnya terjun ke kedung yang dalam itu.

Akupun terjun ke dalam air seperti tadi, tetapi kali ini aku tetap tenang sambil menahan napas. Aku lalu mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakiku seperti katak. Gerakan itu teratur dan tidak terburu-buru. Aku melihat warna air diatasku kelihatan semakin lama semakin terang, kemudian kepalaku pun muncul di atas permukaan air. Sambil menghisap udara cepat-cepat dan kemudian masuk kembali ke dalam air, aku mendengar jelas teman-temanku bertepuk tangan keras-keras dari atas tebing.

Aku kemudian berenang ke tepi sungai dan merasa sedikit haru. Hari ini aku sudah bisa berenang. Aku tersenyum kepada Yahmin dan kedua temannya. Mereka membalas dengan tertawa terbahak-bahak sambil terjun lagi ke kedung, bagian terdalam dari sungai Bengawan Solo.

Tak mau kalah aku pun ikut terjun lagi, kali ini dengan gaya “gado-gado”. Mungkin jika di dalam dunia olah raga renang, gaya ini disebut dengan “Gaya Punggung Katak Kupu Kupu Bebas”.

***

Seperempat abad setelah kejadian tesebut, 25 tahun kemudian, aku, si Ompa ini sudah menikah. Pernah suatu kali di kantor Utie, istriku, ada acara pekan olahraga. Salah satu perlombaan yang di lombakan adalah lomba renang. Aku baru semangat ingin mendaftar setelah mengetahui dalam lomba renang itu ada cabang: “Renang Gaya Batu” yaitu menyelam.

Pada akhir perlombaan, semua peserta sudah keluar dan sudah lama berada di atas air, mereka menungguku di tepi kolam. Tetapi aku masih tenang-tenang saja berada di dasar kolam, sambil merayap-rayap menghitung ubin lantai kolam renang itu. Beberapa peserta mulai terlihat panik saat menyadari aku belum juga keluar dari dalam air.

Hari itu aku mendapat piala, juara “Renang Gaya Batu”. Piala itu kuangkat tinggi-tinggi dan dalam imajinasiku aku membayangkan, aku, si Ompa, sedang menyerahkan piala itu kepada Yahmin. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Mainan Anak Perang

wpid-img-20150831-wa0125-01.jpeg

MAINAN ANAK PERANG

TENTARA Belanda telah pergi meninggalkan Wonogiri. Suasana damai, aman, tenteram dan nyaman mulai terasa lagi di kota ini. Gunung Gandul tetap tegak berdiri dan siap untuk didaki. Mbok-mbok bakul pun mulai meramaikan lagi Pasar Wonogiri dan juga memeriahkan suasa jalanan di depan rumahku, di Jalan Jurang Gempal.

Tetapi benarkah itu semua? Ternyata tidak. “perang lain” ternyata baru saja akan dimulai. Semua harus mempersiapkan diri karena Belanda akan kembali datang. Itu lah yang ada di dalam pikiran kami, aku dan anak-anak Wonogiri anggota GAGAS (Geng Anak Gragas).

Maka secara hampir serentak muncullah “tentara-tentara kecil” di seluruh Wonogiri. Mereka mereka memperlengkapi diri dengan “senjata”masing-masing.

Sementara itu senjata kegemaranku adalah senjata otomatis laras panjang. Senjata itu buatanku sendiri, yaitu terbuat dari tulangan daun pisang, yang di kiri-kanannya di beri enam buah ‘coakan’ (belahan) dari atas ke bawah. Masing-masing coakan itu sepanjang sekitar sepuluh sentimeter. Coakan itu bisa dibuka dari atas ke bawah. Maka kalau tulangan daun pisang itu di genggam dengan telapak tangan dan di dorong dari bawah ke atas, maka coakan-coakan itu akan menutup dengan suara cukup keras, suaranya plok..plok…plok. Dan kalau dorongannya cepat, maka suaranya akan mirip sekali seperti rentetan suara tembakan senjata otomatis.

Selain ituaku juga suka menggunakan ikat pinggang. Pada ikat pinggangku itu bergelantungan granat. Granat adalah senjata bulat segenggaman orang dewasa, yang gunanya untuk dilemparkan ke arah musuh dan kemudian akan meledak. Konon ada dua macam granat, dibedakan dari bentuknya. Ada Granat Nanas dan ada Granat Manggis. Tetapi jenis“granat” yang aku sering gunakan adalah jenis ‘Granat Lontong’, karena bentuknya yang bulat dan panjang seperti lontong.

Granat Lontong ini terbuat dari gulungan kertas yang kemudian di dalamnya diisi dengan bubuk kapur berwarna putih, yang namanya gamping. Di kedua ujung gulungan kertas itu lalu ditutup dengan cara dilipat dan di lem rapat. Aku sangat menyukai Granat Lontong ini.

Kalau granat ini dilempar dan jatuh ke tanah maka granat itu akan pecah dan menyebarlah bubuk putih tadi. Kalau granat ini aku lemparkan lebih tinggi lagi jauh ke udara, dengan sebelumnya sedikit dilubangi, maka  granat ini akan melayang di udara sambil meninggalkan taburan bubuk putih, bagaikan asap sebuah roket. Menurtku dan teman-teman senjata ini sangat keren.

Maka, dengan ‘perlengkapan-perlengkapan perang’ itu, kini para anggota geng anak GAGAS merasa bahwa tugas kami bukan lah hanya mencari makan saja, tetapi juga untuk siap berperang melawan penjajah.

Kami anak-anak Wonogiri ini berprinsip bahwa kami semua tidak takut terhadap tentara Belanda, meskipun tentara Belanda diperlengkapi dengan pesawat tempur, meriam dan kendaraan perang yang canggih, bahkan walaupun juga dipersenjatai dengan makanan kalengan yang enak-enak dan melimpah. Kami ini lebih menghargai tentara-tentara Republik yang sederhana tetapi mempunyai semangat kepahlawanan yang membuat kami, kagum dan bangga.

Siang itu, setelah menyelesaikan operasi makan belalang para anggota Geng Anak Gragas, melanjutkan perjalanan napak tilas ke ‘front’, yaitu lokasi yang dulunya merupakan garis depan dari perjuangan tentara kita.

Kami menyeberangi jembatan sungai Bengawan Solo, dan menuju ke Pokoh, lokasi tempat tentara kita mengadakan serangan-serangan ke arah Kota Wonogiri, yang diduduki Belanda.

Pokoh terletak diseberang sungai Bengawan Solo. Disitu, dipinggir sungai terdapat tanah terbuka yang luas dan dipenuhi semak belukar. Kemudian kami pun memulai sebuah operasi “pencarian” di tempat tersebut.

Operasi pencarian yang kami lakukan ternyata mendatangkan hasil. Kami menemukan banyak selongsong bekas peluru yang ditembakkan dari tempat itu. Perlu diketahui, bahwa jika senjata ditembakkan, pelurunya akan melesat, tetapi selongsong peluru akan terlontar ke samping dari senjata itu. Banyak sekali kami temukan selongsong peluru yang bertebaran disitu.

Tetapi operasi pencarian kami terus berlanjut. Kami mulai juga membongkar semak-semak di daerah itu, sambil mencari ular tentunya. Akhirnya kami menemukan apa yang sebenarnya kami cari-cari, yaitu peluru yang masih utuh, yang belum ditembakkan.

Maka dengan hati-hati kami memasukkan peluru utuh tersebut ke dalam sebuah kantong. Setelah itu kami kembali pulang menyeberangi jembatan dan menuju ke base-camp. Di sana kami sembunyikan peluru-peluru tersebut di bawah bebatuan di semak-semak, lalu kami pulang ke rumah.

Keesokan harinya kami kembali ke pos dengan membawa beberapa perlengkapan berupa tang, pisau dan gunting. Acara geng GAGAS hari itu hanya satu, yaitu mencoba membongkar peluru-peluru utuh yang kemarin kami temukan, tentu saja tanpa ada yang boleh meledak.

Dengan sangat hati-hati kami melepaskan kepala peluru yang tajam itu dari selongsongnya. Semua ini harus dilakukan dengan sangat lembut, tidak boleh ada satu hentakan pun . Kalau sampai ada hentakan, atau peluru itu terjatuh apalagi terantuk di benda keras, maka mesiu yang ada di dalam peluru itu akan meledak, dan kepala peluru yang tajam itu bisa melesat dan menerjang apapun dan siapapun yang menghalanginya.

Setelah bersusah payah dan penuh ketegangan akhirnya sebuah peluru berhasil mereka buka. Lalu dengan cermat dan berhati-hati kami keluarkan mesiu yang ada di dalam peluru itu. Ini sungguh berbahaya, “please don’t try this at home” ya….

Mesiu yang sangat berbahaya tersebut berbeda-beda bentuknya, ada yang berbentuk seperti bihun yang berwarna kuning, ada juga yang berbentuk biji-biji batu yang kecil-kecil sebesar beras dan berwarna hitam. Mesiu itulah yang kemudian kami kumpulkan dengan hati-hati dan kemudian kami masukkan ke dalam kotak. Aku mengambil sejumput kecil mesiu itu lalu kubungkus dengan kertas timah. Nah, sekarang jadilah sebuah “bom kecil”.

Bungkusan kertas timah yang di dalamnya berisi mesiu itu kami letakkan di atas batu yang besar dan rata bagian atasnya, lalu ditumbuk dengan batu lainnya maka “DOR!!..”, terjadilah ledakan yang keras. Semakin besar bungkusan itu, semakin besar dan keras pula suara ledakannya. Kadang-kadang kami sering berpura-pura menembak ‘musuh’ dengan ledakan yang sebenarnya, dari mesiu itu.

Pada suatu siang, kami bersiap untuk mengadakan latihan perang-perangan secara besar-besaran antar kampung. Kampungku, yang berada di Selatan Jalan Raya Jurang Gempal, akan melawan Kampung yang berada di sisi Utara jalan raya. Perundingan pun diadakan, kami semua sepakat bahwa perang-perangan itu hanya akan menggunakan Granat Lontong, tidak boleh menggunakan batu, anak panah atau senjata tajam lainnya. Pertempuran akan dilakukan dengan saling melempar ‘granat’ berisi gamping (bubuk kapur).

Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Pasukanku berhasil mendesak musuh masuk ke utara jalan raya. Aku paling semangat berteriak memberikan aba-aba agar pasukan kampung kami maju menyerang lawan. Dan mereka pun dengan keberanian yang luar biasa maju ke depan sambil berteriak-teriak.

Aku memberikan aba-aba itu bukan dari depan, tapi dari belakang pasukan, karena pasukan terdepan adalah anak-anak yang badannya lebih besar daripada badanku. Dan aku pun harus selalu waspada memperhatikan barisan yang terdepan itu. Kalau mereka kelihatan akan mundur, maka aku akan berlari terlebih dulu meninggalkan pertempuran itu.

Beruntunglah anak-anak dari kampung kami berhasil memenangkan perang tersebut, dengan meninggalkan “kerusakan” parah di pihak lawan. Jalanan, halaman dan atap-atap rumah dipenuhi dengan bubuk berwarna putih, bagaikan salju yang menyelimuti rumah-rumah di Iceland, di dekat kutub utara sana. Sejak itu permainan perang-perangan yang biasa anak-anak suka lakukan ini dilarang.

Maka kembalilah anggota GAGAS, Geng Anak Gragas ke posnya, untuk kembali kepada tugas semula, mencari makan. Belalang! (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Sketsa Ilustrasi: Tjatri Devi

Selebriti Sekolah

SELEBRITI SEKOLAH

SAAT itu kota Wonogiri sudah mulai aman dan berangsur bebas dari suasana perang akibat pendudukan tentara Belanda. Kota Wonogiri kembali menjadi kota yang indah, aman dan nyaman. Gunung Gandul pun masih berdiri tegak dan gagah di sisi Barat kota Wonogiri.

Musim bersekolah dimulai kembali. Aku mulai masuk ke Sekolah Rakyat Negeri Tiga Wonogiri. Gedung sekolahnya tidak jauh dari rumah keluarga Pak Mojo di Jalan Jurang Gempal. Dari rumah, aku cukup berjalan kaki kurang lebih dua puluh menit untuk tiba sekolah.

Aku hanya tinggal menyusuri jalan raya di depan rumah, lalu belok ke kiri ke arah kota. Setelah mencapai ujung tanjakan, jalanan mulai agak rata. Di sisi kanan setelah tanjakan itu ada sebuah gedung penyimpanan garam, namanya Gudang Garam. Dari sana tinggal sedikit berjalan lurus, maka tibalah aku di sekolahku.

Di seberang gudang garam dan gedung sekolah tersebut terhampar luas sebuah tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon-pohon. Di situlah letaknya tempat pohon kenari yang biaa aku kunjungi.

Bagiku, sekolah bukan hanya sekedar tempat belajar saja, tetapi juga tempat berpetualang yang menggairahkan. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan penuh semangat dan riang gembira, karena aku percaya bahwa setiap hari akan selalu saja terjadi banyak hal-hal yang baru.

Kedatanganku di sekolah selalu disambut dengan ramah oleh teman-teman dan juga para guru. Mengapa? Karena di sekolah itu aku memang agak berbeda dari anak-anak lain. Aku adalah seorang anak yang berasal dari Jawa Timur, setiap hari mereka tidak sabar untuk mendengarkan aku berbicara dengan dialek Jawa Timuran.

Bahasa dan dialeknya memang berbeda. Misalnya: ”Ini bagaimana sih bung”. Kalau bahasa Jawa Tengah: ”Iki piye to cah”. Sedangkan bahasa Jawa Timuran: ”Yok oopo se, rek”. Jauh berbeda kan? Disamping itu di Jawa Tengah orang-orang berbicara dengan nada suara yang halus. Sedangkan aku yang bergaya Jawa Timuran mempunyai suara yang keras dan nyaris meledak-ledak kalau berbicara.

Setiap hari seluruh anak selalu tidak sabar menunggu terdengarnya lonceng tanda waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, anak-anak itu langsung berkerumun di pojok halaman sekolah. Mereka sudah siap menantikan kehadiranku, si Ompa.

Aku kadang-kadang tidak langsung juga mendatangi kerumunan itu. Biarlah mereka penasaran dulu. Saat akhirnya aku menghampiri kerumunan itu, aku selalu berjalan dengan pelan, berlagak seperti sang pengkhotbah yang datang dan mengharapkan sambutan dari para pendengarnya.

Sementara itu anak-anak perempuan hanya bergerombol dan melihat kami dari jauh. Setiap kali aku mencoba mendekati mereka, mereka selalu menghindar, sambil menutup mulut dan tertawa-tawa melihatku.

Tak lama kemudian aku pun sudah berada di tengah anak-anak tersebut dan mulai bercerita tentang pengalaman perangku. Kadang-kadang mereka terlihat kurang mengerti dengan apa yang aku katakan, karena aku memakai bahasa dialek Jawa Timuran, maka untuk memperjelas ceritaku, aku juga melakukan gerakan-gerakan tubuh dan tangan. Bukankah aku telah belajar itu dari si tukang obat, di pinggir alun-alun kota Malang, sewaktu aku masih TK dulu?

Sambil bercerita aku selalu sambil mengamati mata teman-temaku. Mata mereka melotot, terkagum-kagum padaku. Aku merasa senang dan sangat menikmati itu semua.

Pernah suatu hari, di saat jam istirahat sekolah, aku diminta datang ke kantor guru. Aku kaget dan khawatir kalau-kalau aku akan ditegur karena kebiasaanku suka berpidato di depan teman-teman. Di dalam ruangan kantor sudah berkumpul para guru. Aku diminta berdiri di depan mereka. Terus terang aku merasa tegang dan gugup.

Lalu para guru itu satu persatu mulai mewawancaraiku secara bergantian. Mereka memintaku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Persis seperti orang yang sedang diaudisi. Tetapi sesaat kemudan mereka mulai tertawa terbahak-bahak mendengarkan caraku menjawab dan bercerita.

Makin hari aku semakin merasa bagaikan seorang selebriti di sekolah itu. Setiap kali ada ibu atau bapak guru berpapasan jalan denganku, mereka tersenyum dan kemudian menepuk-nepuk bahuku. Aku merasa sangat bahagia.

Aku juga terkenal di sekolah karena aku suka menyanyi. Saat pelajaran menyanyi, anak-anak harus maju satu persatu. Seringkali aku sengaja dilewatkan dan tidak dipanggil. Setelah semua anak sudah mendapat giliran dan bernyanyi di depan kelas, baru kemdian aku diminta maju untuk menyanyi. Aku selalu menyanyi dengan lantang dan keras. Tak heran suaraku terdengar sampai ke seluruh sudut sekolah.

Siang hari, di saat bubaran sekolah, hanya teman-teman laki-laki yang pemberani lah yang mau berjalan bersamaku. Yang lain berjalan menjauh, apalagi anak-anak perempuan, mereka hanya tersenyum ke arahku dengan matanya, tetapi mulutnya ditutupi dengan tangannya. Mengapa? Karena mereka tahu di dalam ranselku seringkali ada seekor ular hidup melingkar. Aku memang sering membawa ular peliharaanku ke sekolah, untuk aksi-aksian saja, biar kelihatan keren.

Maka siang itu semua anak-anak pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Tetapi tidak denganku, aku masih akan ada pertemuan penting dengan para anggota GAGAS, Geng Anak Gragas, di kebon kosong di seberang sekolahan, di bawah pohon kenari. (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Pertempuran Darat

KNIL
KNIL

PERTEMPURAN DARAT

 

SEPERTI yang pernah aku ceritakan sebelumnya, sejak tinggal di kota Mojokerto aku sudah berkenalan dengan suasana perang. Aku pernah menyaksikan serangan udara, penembakan canon Belanda ke wilayah tentara Republik, dan gempuran mortir tentara Indonesia ke kota yang sudah diduduki Belanda. Tetapi satu hal yang belum pernah aku lihat, yakni pertempuran darat langsung, seperti dalam film-film perang.

Perang membuat aku terpaksa mengungsi. Mulai dari Mojokerto, Jombang, Solo, lalu ke Wonogiri. Di kota terakhir ini Pak Mojo memutuskan untuk tidak akan mengungsi lagi. Semula aku juga berpikir begitu, karena mana mungkin tentara Belanda tertarik untuk menduduki kota ini. Toh Wonogiri hanya sebuah kota kecil.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Sejak kemarin malam, aku sudah mendengar suara dentuman-dentuman, semakin lama semakin dekat. Tetapi saat siang hari suara dentuman sudah tidak terdengar lagi. Jadi aku mengira bahwa tentara Belanda hanya ingin menakut-nakuti saja.

Namun, suara dentuman tadi malam terdengar semakin lebih mendekat. Apalagi suara itu terdengar seperti hujan peluru canon yang jatuh di kota Wonogiri. Aku lantas berpikir, sepertinya keadaan akan semakin serius.

Benar saja, tidak lama kemudian aku mendengar ada dua jenis suara tembakan. Yang satu suara rentetan tembakan dengan dentuman besar, sedangkan yang satunya terdengar lebih ringan dan letusannya hanya satu-dua kali, jarang-jarang. Aku langsung berpikir, mengacu pada sebuah film yang pernah aku tonton, bahwa ini seperti pertempuran darat.

Dua jenis suara tembakan itu semakin lama semakin mendekat. Sepertinya dari arah kota melalui Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami. Aku pun semakin bersemangat menempelkan mataku ke dekat kaca jendela, mengintip. Sedangkan Pak Mojo dan Bu Mojo duduk di lantai pojok ruangan. Pak Mojo menyuruhku untuk segera turun dari jendela, agar tidak kelihatan dari luar. Tetapi aku tetap bandel, mengintip ke luar sambil berdiri di atas kursi dekat kaca jendela.

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa tentara yang lewat sambil melepaskan tembakan, bergerak mundur ke arah Timur, ke arah jembatan sungai Bengawan Solo. Sedangkan dari arah kota, terdengar rentetan suara letusan senjata berat.

Lama kelamaan suara-suara itu seperti semakin mendekati jalan depan rumah. Dari dalam rumah terdengar derap sepatu tentara yang semakin lama semakin mendekat. Aku mendadak menjadi tegang dan takut, tetapi aku sungguh ingin melihatnya langsung. Benarkah itu suara derap sepatu tentara Belanda. Belum lama aku berpikir, muncul barisan tentara berbaju loreng yang masing-masing memegang senjata laras panjang. Aku sungguh terkejut dengan apa yang kulihat. Ternyata mereka bukan tentara yang berkulit putih, tapi berkulit gelap!

Aku jadi ingat, rupanya merekalah yang disebut tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). KNIL adalah pasukan yang biasa dipakai oleh Belanda untuk lebih dulu menyerbu ke daerah yang akan didudukinya. Anggota tentara KNIL kebanyakan adalah orang pribumi

Di jalanan depan rumahku, para tentara yang berbaju loreng itu berteriak-teriak sambil sesekali melepaskan tembakan. Mereka memerintahkan semua laki-laki dewasa agar segera keluar dari dalam rumah sambil mengangkat tangan.

Aku kemudian menyaksikan rumah tetangga di seberang jalan didobrak. Dengan sepatunya yang kuat, tentara itu menendang pintu rumahnya, karena terlalu lama tidak dibuka dari dalam. Aku menjadi semakin ketakutan.

Dan tiba-tiba saja aku melihat sudah ada seorang tentara di halaman rumah kami. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu depan dan keluar. Aku tidak mau pintu rumahku dirusak. Baik digedor atau didobrak seperti rumah tetangga itu.

Tentara itu bertanya sambil berteriak, apakah ada laki-laki dewasa di rumah kami. Sambil gemetar hebat tidak mampu bicara, aku hanya mengacungkan jari telunjukku. Yang ingin aku katakan adalah bahwa di rumah kami hanya ada satu lelaki dewasa.

Kemudian aku menjerit memanggil Pak Mojo agar segera keluar. Dengan ketakutan Pak Mojo keluar sambil mengangkat kedua tangannya. Tentara itu masih tidak percaya, bahwa memang hanya ada satu orang laki-laki di dalam rumah kami. Ia lalu memeriksa masuk ke dalam rumah. Setelah yakin tidak ada orang yang dicarinya, tentara itu menggelandang Pak Mojo keluar, ke tepi jalan.

Semua laki-laki itu diperintahkan untuk duduk berjejer di tepi jalan, sambil meletakkan kedua tangan mereka di belakang kepala masing-masing. Aku melihat, beberapa pemuda mendapat tendangan sepatu lars tentara. Aku melihat Pak Mojo tidak dipukul, hanya kepalanya saja yang digoyang-goyang.

Akhirnya, semua laki-laki itu digiring menuju ke arah kota dengan todongan senjata laras panjang. Saat hari telah menjelang sore, akhirnya Pak Mojo pulang kembali ke rumah dengan tidak kurang suatu apapun. Syukurlah…

Setelah kota Wonogiri mereka anggap aman, saat hari menjelang gelap baru tampak iring-iringan kendaraan militer berwarna loreng yang membawa tentara Belanda, berkulit putih, memasuki kota Wonogiri. Suasana malam itu sungguh mencekam. Kami tidak bisa tidur karena harus selalu waspada. Suara dentuman dan letusan senjata sesekali terdengar di kejauhan, di seberang Sungai Bengawan solo. Akhirnya kota Wonogiri juga diduduki oleh tentara Belanda, batinku.

Sepanjang malam kami berdoa agar tidak terjadi apa-apa malam itu, juga esok harinya dan hari-hari setelahnya. Aku juga berdoa agar kami tidak harus pergi mengungsi lagi. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Sang Pemintal

Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.
Ilustrasi jenis alat pemintal yang Ompa kecil gunakan.

SANG PEMINTAL

AKU dilahirkan di kota Malang, di rumah Mbah Tanjung, di Jalan Tanjung Gang Dua. Setelah aku sekolah TK, aku pindah ke kota Mojokerto. Aku diangkat menjadi anak oleh Pak Mojo, adik Mbah Tanjung. Dari Mojokerto aku terpaksa mengungsi ke arah barat, ke Jombang, lalu ke Solo, dan mengungsi lagi sampai ke Wonogiri.

Jika ditarik benang merahnya, maka perjalanan panjangku ini ternyata menuju ke akar dari garis silsilah keluargaku. Mengapa? Karena ayah kandungku, almarhum, yang telah meninggalkanku saat aku masih bayi adalah anak dari Mbah Kaligunting.

Mbah Kaligunting tinggal di Desa Kaligunting, yang jaraknya sekitar tiga puluh kilometer di sebelah selatan Kota Wonogiri. Mbah Kaligunting adalah seorang Kepala Desa yang disegani, baik oleh warga Desa Kaligunting sendiri maupun warga desa-desa di sekitarnya.

Di depan rumahnya, Mbah Kaligunting memiliki tanah yang sangat luas, yang ditanami dengan palawija seperti jagung, singkong, ubi jalar dan semacamnya, termasuk kapas. Jenis palawija itu tergantung dari musimnya.

Pada masa itu banyak daerah di Indonesia yang sedang mengalami kesulitan, termasuk Wonogiri. Harga bahan-bahan pokok melambung tinggi. Sehingga beras pun hilang dari pasaran, jikapun ada harganya sangat-sangat mahal. Maka makanan pokok kami sehari-hari adalah Tiwul, yang berasal singkong kering (Gaplek) yang ditumbuk halus dan ditanak seperti nasi. Jadilah Sego Tiwul. (Nama yang aneh, sebab Sego Tiwul berarti juga nasi tiwul). Di rumah kami yang boleh makan nasi putih hanya Pak Mojo, karena beliau adalah kepala keluarga.

Pak Mojo punya kebiasaan merokok, tetapi saat itu harga rokok juga sangat mahal sehingga tidak terbeli. Pada suatu hari aku perhatikan bahwa Pak Mojo terlihat menderita karena ingin merokok. Aku pun tiba-tiba punya ide untuk membuat rokok sendiri.

Kemudian aku minta ke Bu Mojo sejumlah uang untuk membeli tembakau dan kertas Sek (kertas tipis untuk membungkus tembakau). Aku pergi ke pasar membeli kertas Sek, tembakau merk Virginia dan sausnya yang berbau wangi. Aku lalu membuat alat pelinting rokok, berupa sebatang pensil yang bulat dan di tengahnya diberi kertas yang sudah dilem pada sebuah pensil, seperti bendera. Maka, proses pembuatan rokok dimulai.

Pada pangkal lembaran kertas itu aku letakkan gulungan tembakau, lalu kuratakan seperti bentuk rokok. Kemudian pensil itu diputar, sehingga menekan cukup padat gulungan tembakau. Pensil itu kuputar terus-menerus. Selanjutnya kuletakkan kertas tipis yang sudah diberi lem di pinggirnya, yang lalu digilas oleh tembakau dan pensil itu. Woallaa, maka keluarlah sebatang rokok dari kertas itu. Pekerjaan terakhir adalah menggunting kedua ujung rokok untuk membuang tembakaunya yang kurag rapi. Maka jadilah batang rokok pertama produksiku sendiri.

Sewaktu Pak Mojo menarik isapan pertama rokok itu, Aku tegang, menanti reaksi Pak Mojo. Setelah menghembuskan asap rokok pertama dari mulutnya, muka Pak Mojo berubah menjadi cerah. Katanya, rokok buatanku itu jauh lebih enak daripada rokok buatan pabrik.

Aku percaya itu, karena tembakaunya masih segar, apalagi kutambah dengan saus tembakau yang sangat wangi. Pak Mojo sangat gembira. Ia kemudian menceritakan ke teman-temannya tentang Rokok Made in Sutedjo itu. Pesanan pun mulai mengalir, dan aku mulai mendapat keuntungan dari pabrik rokok kecil-kecilan milikku.

Suatu hari kami mendapat kunjungan dari Mbah Kaligunting, beserta Mbah Putri dan diiringi oleh seorang pengawal. Mbah Kaligunting membawa oleh-oleh untukku, cucunya ini, sekarung besar kapas, hasil tanaman dari desanya.

Si Mbah rupanya mendengar bahwa aku sedang berbisnis rokok. Maka beliau memberi kapas itu untuk dijual, dan hasil penjualannya bisa untuk membantu keuangan keluarga di Wonogiri.

Setelah rombongan dari desa itu pulang, kuperhatikan kapas di dalam karung itu. Aku berpikir akan sayang sekali kalau kapas itu dijual begitu saja ke pasar. Maka, aku pun berlari ke rumah seorang temanku yang ibunya pembuat benang tenun. Rumah temanku itu berada di dalam kampung, dekat sungai Bengawan Solo.

Rencananya, aku hendak belajar cara membuat benang tenun dari kapas. Dalam waktu dua hari aku sudah menguasai cara pembuatan benang. Ibu temanku itu baik sekali. Aku dibolehkan meminjam alat pemintal miliknya yang sudah tidak dipakai lagi. Dibantu oleh temanku itu, aku pulang dengan penuh semangat membawa semua peralatan tersebut.

Maka sejak saat itu dimulailah produksi ‘Pabrik Benang Tenun’. Proses pembuatan benang dari kapas itu membutuhkan waktu yang cukup panjang dan perlu ketelitian.

Tahap pertama adalah mengurai serabut kapas yang putih menjadi serabut yang sangat jarang dan lembut. Caranya, aku menggunakan semacam busur panah. Tali busur panah itu kutarik-tarik dan dilepaskan di atas gumpalan kapas. Dengan begitu, serabut kapas itu akan menempel di tali busur. Dan yang menempel itu adalah serabut-serabut yang sudah terurai sehingga menjadi sangat jarang dan lembut sekali.

Serabut halus yang sudah menempel di tali busur itu kemudian aku lepas dan kumpulkan. Serabut-serabut itu siap dipintal.

Proses yang paling sulit adalah saat memintal, yaitu membuat serabut yang sudah halus menjadi benang. Itu perlu keterampilan, ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Tangan kananku memutar roda pintal. Roda itu dihubungkan dengan karet ke jarum pintal. Sehingga, jika aku memutar roda itu, jarum pintal akan berputar dengan cepat sekali.

Kemudian aku menempelkan ujung dari serabut halus itu, ke ujung jarum alat pintal yang sudah berputar. Maka, ujung jarum yang berputar itu akan memilin serabut itu dan tergulung menjadi benang.

Jika tangan kiriku yang memegang serabut itu sudah cukup panjang, ke belakang, maka roda harus dihentikan. Lalu, tangan kiriku memasukan benang yang sudah jadi itu ke tengah jarum sehingga benang tergulung. Jika melakukannya dengan emosi atau sambil marah misalnya, benang-benang itu akan kusut atau menggumpal tidak rata. Jika sudah begitu, maka aku harus mengulangi prosesnya dari awal lagi.

Benang yang sudah siap harus digulung dan dililitkan dari telapak tangan sampai ke siku. Setiap sepuluh lilitan diberi tanda, dengan ikatan benang juga. Jumlah ikatan itulah yang dipakai untuk menghitung panjangnya benang. Gulungan benang itu kemudian ‘diukel’, yaitu digulung seperti rambut yang dikepang.

Benang buatanku ini lama kelamaan menjadi terkenal di seluruh pasar di Wonogiri, karena kuat dan halus merata. Aku membawa gulungan benang itu di dalam tas besar yang terbuat dari anyaman daun pandan kering.

Pagi itu aku membawa empat ‘Ukel’ (gulungan) benangnya di dalam tas pandan. Aku menjepit tas itu dengan ketiak, sambil tanganku menjepit lubang tas bagian depan. Sewaktu aku memasuki pasar dan menuju ke tempat penjualan benang tenun, seperti biasa Mbok-Mbok banyak yang memanggilku, agar aku bersedia menjual benang kepada mereka. Tetapi, aku menemui seorang Mbok langgananku. Di depannya aku langsung berjongkok. Sewaktu merogoh tas, aku terkejut setengah mati. Tasku ternyata… kosong!

Empat gulung benang milikku yang kubuat susah payah lebih dari satu minggu itu telah lenyap dari tasku. Aku hampir pingsan. Mbok-mbok di situ mengerumuniku. Mereka mengatakan, bahwa benangku itu pasti telah diambil orang, karena tas pandan yang besar itu pada bagian belakangnya bolong melompong tidak tertutup.

Tanganku waktu itu ternyata terlalu kecil dan hanya sampai pada bagian tengah dan depan tas saja. Aku menangis tersedu-sedu dan duduk di tanah, di belakang Mbok-mbok itu berdiri. Aku sangat kecewa dan sedih sekali. Hingga sore hari aku hanya duduk termenung di situ.

Saat pasar mulai sepi, ada beberapa orang yang merasa kasihan kepadaku, mereka memberi minum dan makanan kepadaku. Menjelang maghrib, aku berjalan gontai menuju pulang. Perjalanan pulang itu terasa sangat panjang dan lama sekali, tidak kunjung sampai ke rumah.

Berhari-hari aku merenungi kejadian itu. Aku tidak habis mengerti, mengapa ada orang sejahat itu kepadaku. Aku terbayang kerja keras proses pembuatan empat ukel benang itu yang memakan waktu berhari-hari.

Pada saat kesedihanku mulai pudar dan aku siap hendak memintal benang lagi, di saat itu aku baru sadar bahwa stok kapas dari Mbah Kaligunting sudah habis. Ternyata, empat ukel yang hilang itu adalah empat ukel terakhirku!

Berakhir sudah nasib ‘Pabrik Benang Tenun’. Maka semua peralatan pemintalan pinjaman itu kukembalikan ke rumah ibu temanku. Setelah menyerahkan dan mengucapkan banyak terimakasih, aku pulang dengan berjalan setengah berlari. Aku pulang dengan semangat baru karena ini lah saatnya aku akan berganti bisnis! (*)

.

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google

Gentong dan Siwur

.

Ilustrasi sketsa by Devi
Ilustrasi sketsa by Tjatri Devi

GENTONG DAN SIWUR

KOTA Wonogiri, bagiku, adalah kota yang indah. Selama tinggal di kota yang berbukit-bukit ini aku merasa nyaman., meskipun kota Wonogiri bukan termasuk kota besar.

Dari pusat kota, sepanjang jalan ke arah timur, jalan raya tampak menurun, landai hingga ke sungai Bengawan Solo. Di sungai itu terdapat sebuah jembatan. Satu-satunya jembatan yang menjadi penghubung antara desa dan kota. Daerah yang menurun di sekitar jembatan itu bernama Jurang Gempal.

Di tepi jalan raya yang melandai itulah, letak rumah yang kami tempati. Rumah kami sangat istimewa. Bentuknya bagaikan tribun stadion sepakbola, karena berada lebih tinggi dari jalan raya. Dari tepi jalan raya itu, kami harus menaiki empat tangga yang terbuat dari batu kali untuk sampai ke halaman rumah. Dan masih dua tangga lagi untuk tiba ke lantai teras rumah kami.

Dari teras depan rumah ini aku bisa memandang dan mengamati dengan jelas kondisi jalan raya, yang sangat lengang. Hanya sesekali aku mendengar deru mobil truk yang menanjak ke barat menuju pusat kota. Suara mesin truk yang bermuatan berat dan penuh berbunyi meraung-raung keras karena harus berjuang mendaki jalanan yang menanjak. Biasanya truk-truk itu membawa hasil bumi dari desa-desa menuju ke Pasar Kota Wonogiri.

Pasar Kota Wonogiri terletak di pusat kota. Meski cukup luas areanya, pada hari-hari biasa pasar itu tidak terlalu ramai. Kecuali pada hari-hari khusus, atau yang disebut dengan Hari Pasaran, yaitu satu hari sekali dalam sepekan.

Pada Hari Pasaran, pasar ini dipenuhi sesak oleh para penjual dan pembeli. Saking ramainya bahkan sampai tumpah ke tepi jalan raya, hingga di depan pertokoan. Mereka bukan hanya berasal dari kota Wonogiri, tetapi juga dari desa dan kota-kota sekitarnya. Mereka datang dari segala penjuru arah. Jika orang-orang itu yang datang dari arah Timur, dari desa-desa di seberang sungai Bengawan Solo, mereka pasti melewati jalan di depan rumah kami.

Aku tentu saja juga ingin terlibat dalam kemeriahan Hari Pasaran itu. Hari itu aku sudah bangun sejak masih gelap. Aku mempersiapkan gentong (semacam guci gemuk bermulut kecil yang terbuat dari tanah liat). Gentong itu kubersihkan, lalu kuletakkan di tepi jalan tepat di depan halaman rumah.

Kuisi gentong itu dengan air sumur hingga penuh, lalu kututup dengan sebuah papan kayu. Untuk mengambil air dari dalam gentong, kusiapkan sebuah siwur. Siwur adalah sebuah tempurung kelapa yang sudah dibersihkan, dihaluskan dan diberi gagang kayu.

Gentong berisi air dan siwur ini kusediakan untuk orang-orang menuju ke pasar yang nanti akan melewati rumah kami. Jika mereka kehausan dalam perjalanan, mereka boleh minum dari gentong-ku itu. Gratis, bahkan dengan senang hati. Gentong-gentong seperti ini juga disediakan oleh penghuni rumah lain, jika rumahnya dilewati rute orang menuju pasar pada Hari Pasaran.

Walau hari masih gelap, tetapi dari jalan Jurang Gempal sudah mulai terdengar suara bersahut-sahutan, “kiit, kiit…, kiit, kiit…” Bunyi itu berasal dari serombongan lelaki yang membawa barang dengan pikulan dari bambu. Karena terbebani berat, bambu pikulan itu melengkung naik-turun, dan menimbulkan bunyi yang berirama ritmis. Jika berbunyi cepat dan nyaris tanpa jeda, pertanda bahwa orang yang memikul sedang berlari atau berjalan cepat setengah berlari.

Sewaktu aku berjalan ke depan rumah untuk mulai mengisi air ke dalam gentong, Aku melihat mereka bergerak berombongan. Tubuh mereka tampak kuyup dibasahi keringat. Mereka berlari dengan senyap, tanpa ada yang berbicara. Beberapa terlihat sudah kelelahan, tapi mereka terus berlari. Mungkin mereka itu ingin segera sampai tujuan. Entah berapa puluh kilometer jarak yang sudah mereka tempuh dari desa mereka.

Saat sinar remang-remang mulai muncul di ufuk timur dan suasana di jalanan depan rumah semakin ramai, maka itu tandanya kemeriahan Hari Pasaran sudah dimulai. Dari arah timur datang serombongan besar mbok-mbok (ibu-ibu) Setelah tampak dekat, aku mengamati mereka berjalan berkelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kecil itu terdiri sekitar lima orang.

Mbok-mbok itu berjalan berurutan bagaikan kawanan semut, yang bersuara ribut, berbicara keras-keras satu sama lain. Memang begitu. Jika seorang Mbok yang paling depan bicara, maka suaranya harus bisa didengarkan Mbok yang paling belakang. Kalau sampai tidak terdengar, maka Mbok yang paling belakang akan protes, berteriak-teriak, dan akan membuat suasana semakin gaduh. Topik perbincangan mbok-mbok di setiap kelompok-kelompok kecil itu pun berbeda-beda.

Mbok-mbok itu, kebanyakan memakai pakaian kebaya yang longgar agar dapat bergerak leluasa dan cepat. Pada bagian lengannya digulung sampai ke siku. Sedangkan yang bagian bawah sedikit di atas lutut.

Tiba-tiba ada satu Mbok, anggota kelompok kecil keluar dari rombongan barisan, menuju ke arah gentongku. Dari jarak dekat, aku mengamatinya. Mbok itu membuka tutup gentong, lalu mengambil air dengan siwur dan meminum airnya. Setelah itu, ia membasahi muka, tangan dan menyiram kedua kakinya dengan air dari gentong milikku.

Tidak berlama-lama, Mbok itu lalu menutup gentong dan pergi begitu saja. Ia tidak menyapaku sama sekali. Padahal aku sedang duduk di tangga batu, di depannya. Ia lekas berlari menyusul dan kembali ke dalam kelompoknya. Seperti takut ketinggalan informasi di tengah pergunjingan sedang berlangsung seru.

Ada lagi yang unik, aku pernah melihat seorang Mbok di kejauhan yang tiba-tiba keluar dari rombongannya. Ia berlari menuju rerumputan di pinggir jalan, lalu mengangkat kainnya ujung bawah dan kemudian kakinya mengangkang. Apa yang dilakukannya? Mbok itu kemudian, maaf, pipis sambil berdiri! Di Hari Pasaran kejadian ini merupakan pemandangan yang sudah sering dan biasa terjadi.

Kembali ke gentong. Tugasku adalah menjaga agar gentongku selalu terisi penuh. Hari itu gentongku sangat sering disinggahi Mbok-mbok. Maklum matahari mulai meninggi dan hari sudah terasa panas. Semakin siang orang-orang yang lewat di depan rumah kami semakin berkurang. Aku membayangkan, siang itu Pasar Kota Wonogiri pasti sudah melimpah ruah dengan para pedagang, penjual hasil bumi, dan hasil kerajinan dari desa masing-masing.

Sore harinya, sekitar jam tiga, matahari sudah mulai condong ke barat. Kemeriahan Jalan Jurang Gempal di depan rumah kami pun dimulai lagi. Jika pada paginya, barisan manusia itu datang dari desa menuju kota, sebaliknya pada sore hari orang-orang dari pasar itu seakan berbaris tiada terputus, pulang menuju desa mereka masing-masing.

Sebelum barisan itu datang, aku sudah mengisi gentongku penuh-penuh. Sore ini yang terjadi jauh lebih meriah dan lebih heboh dibandingkan tadi pagi. Kalau tadi pagi yang bersuara ribut hanya mbok-mbok saja, kali ini justru yang para lelaki yang paling heboh.

Mereka tertawa keras-keras, berbicara dan berteriak-teriak. Mengapa? Sebab ketika berangkat di pagi hari, mereka memikul beban bawaan yang sangat berat, sedang dalam perjalanan pulang mereka hanya membawa pikulan kosong. Mereka bisa berjalan seenaknya, tidak lagi harus diatur oleh ritme pikulan yang membebani pundak mereka.

Para lelaki itu membawa kain polos berwarna mencolok. Merah, kuning, dan sebagainya. Anehnya kain warna-warni itu tidak dilipat dan disimpan di keranjang yang dipikulnya, tapi dikibar-kibarkan, ada yang dikalungkan di leher atau diikatkan di kepala.

Mereka ingin menunjukkan kebanggaan dan kebahagiaannya satu sama lain. Bahwa barang dagangan mereka terjual habis, ada yang mungkin bisa membelikan oleh-oleh untuk kekasih atau isterinya di rumah. Walaupun mungkin kelihatan agak berlebihan, tetapi kain-kain warna mencolok itu adalah simbol hasil dari jerih payah mereka bekerja keras selama sepekan ini. Dan juga tentunya, adalah imbalan dari beratnya memikul hasil bumi mereka, dari desa menuju pasar di pusat kota.

Melihat semua itu aku ikut senang. Terlebih karena air gentongku sore itu tetap laris-manis, menghilangkan dahaga mereka.

Matahari sudah bersembunyi dibalik Gunung Gandul, meninggalkan semburat cahaya berwarna jingga, yang semakin lama semakin redup. Hari mulai gelap. Aku bergegas membereskan gentong dan siwur. Kubuang air yang tersisa, kubersihkan dan kusimpannya kembali di dapur. Tugasku pada Hari Pasaran ini selesai sudah.

Gentong dan siwur telah beristirahat kembali agar siap untuk menjalankan tugas mulianya pada Hari Pasaran pekan depan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Tjatri Devi

Blog di WordPress.com.

Atas ↑