DIKEJAR CELURIT

 SIANG itu Geng Anak Tanjung sedang berkumpul di bawah sebuah pohon besar di Lambou (berasal dari kata bahasa Belanda, Land Bouw, yang artinya pertanian). Lambou adalah sebuah lahan yang sangat luas. Letaknya berbatasan dengan gang-gang di Jalan Tanjung. Batas Lambou itu tepat berada beberapa puluh meter di belakang rumah kami, rumah Mbah Tanjung.

Cacak duduk di tanggul sambil memegang tongkatnya. Kami, para anak buah, duduk melingkar di depannya. Gayanya masih saja seperti Nabi Musa yang sedang berkhotbah di depan umatnya. Titahnya hari itu adalah agar kami pergi ke kebun tebu. Maksudnya, mencuri tebu! Memang kebun tebu yang sangat luas itu sudah siap panen. Maklum tebu-tebu saat itu sudah cukup besar dan sangat tinggi, yang menggoda untuk di…curi. Dan biasanya, pada musim seperti ini, pengamanan kebun tebu pun ditingkatkan. Pemilik kebun menyebar “centeng”. Centeng adalah orang-orang yang berbadan besar dan menyeramkan, terutama bagi anak-anak kecil. Kami biasa memanggil mereka: Pak Celurit!

Pak Celurit berwajah sangar dengan kumis panjang lebat nan melintang. Lengannya berhias gelang akar bahar. Seluruh jemarinya dilengkapi cincin batu akik yang besar-besar. Dan tentu saja, sesuai julukannya, ke mana pun ia pergi selalu menenteng celurit. Celurit, anda sudah tahu, adalah sebuah senjata tajam khas suku Madura.

Walaupun sejenis senjata tajam, celurit sebenarnya memiliki bentuk yang indah, melengkung, bagaikan bulan tanggal muda yang diberi gagang. Tetapi, aku sangat takut pada pada bagian ujung celurit dan lengkungan bagian dalamnya. Konon, ketajamannya luar biasa, bahkan bisa dipakai untuk mencukur jenggot dalam sekedipan mata.

Singkat cerita, kami para anggota geng sudah siap melaksanakan titah Cacak. Masing-masing dari kami sudah mempersenjatai diri dengan pisau. Kami berkumpul di pinggir batas kebun tebu. Tim pengawas” pun sudah disebar untuk mengkondisikan, kalau-kalau Pak Celurit muncul dari arah kanan atau kiri. Kalau Pak Celurit muncul, maka yang bertugas sebagai pengawas akan memberi kode kepada kami, lalu kami semua berlari ke kampung dan menyebar. Begitu strategi dari Cacak, sang pemimpin yang jenius.

Tetapi, strategi canggih ini pun kemudian menjadi buyar berantakan. Pada saat kami sedang asik-asiknya membabat tebu, tiba-tiba tanpa diduga dan luput dari intaian Tim Pengawas. Pak Celurit muncul dari dalam kebun yang sangat dekat dengan kami.

Kami semua terperanjat, termasuk Cacak, sang pemimpin. Dengan sigap Cacak langsung mengubah strateginya. Bukan lari ke kampung, tapi langsung masuk ke dalam kebun tebu yang lebat dan tinggi. Suatu langkah yang tepat. Spontan kami pun mengikuti jejaknya, berhamburan ke dalam kebun.

Celakanya, tidak kalah pintar, Pak Celurit berbalik masuk ke kebun mengejar kami. Maka, terjadilah sebuah adegan kejar-kejaran yang seru, bagaikan dalam film perang yang pernah aku tonton bersama Om No di bioskop. Terkadang untuk beberapa saat kami harus berhenti lalu harus diam, senyap. Cacak memasang telinganya. Dari suara gemerisiknya daun-daun tebu, akan ketahuan di mana posisi Pak Celurit.

Di tengah kesunyian yang mendebarkan itu tiba-tiba terdengar suara teriakan keras Pak Celurit. Tampaknya ia berhasil mengetahui posisi kami. Meski tidak menatap wajahnya, kami tahu ia marah-marah dan mengancam kami. Bergidik, Cacak yang diikuti anak-anak lain lari terbirit-birit dan sekencang-kencangnya menerobos lebatnya kebun tebu.

Kalian tidak boleh lupa bahwa aku ini adalah anggota geng yang paling kecil, begitu pula dengan ukuran langkah kakiku. Bisa ditebak, dalam pelarian itu aku terpisah dari rombongan. Dan aku pun tertinggal sendirian di dalam kebun tebu yang luas itu.

Aku duduk bersembunyi di balik rerumpunan tebu yang paling lebat. Suasananya sepi mencekam. Mendadak terdengar suara gemerisik, mendekat dan semakin dekat. Pada saat itulah aku merasakan sesuatu yang dinamakan “takut”, rasa takut yang hebat lagi sangat.

Dalam benakku terbayang ketajaman celurit yang mengkilat nan mengerikan. Tetapi, suara gemerisik itu terdengar semakin lama semakin menjauh. Meski masih ketakutan, aku berusaha lebih tenang. Aku memilih tetap berdiam diri.

Hingga akhirnya menjelang maghrib yang menegangkan, setelah beberapa jam bersembunyi, aku baru berhasil keluar dari kebun tebu dan berjalan menuju kampung dengan penuh rasa lega bercampur kemenangan.

Di pinggir kampung, Cacak dan seluruh anggota Geng Anak Tanjung telah menunggu kedatanganku. Mungkin saja mereka juga ketakutan dan khawatir akan nasibku anggota mereka yang paling kecil.

Sambil memegang tongkat, aku berjalan dengan tenang, gagah dan bangga mendekati mereka. Kemudian aku pun bercerita tentang keberanianku berkejar-kejaran dengan Pak Celurit. Tentu saja itu cerita yang aku buat-buat, kuberi banyak bumbu lalu kuaduk, supaya mereka lebih kagum mendengar kisah keberanianku.

Pada saat itulah aku merasa bahwa aku ini sudah selayaknya diangkat menjadi wakilnya Cacak. Wakil Pemimpin Geng Anak Tanjung, Gatan. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan