GEROBAK SI JA’IM
SEWAKTU kecil, aku sudah sering berdoa. Itu karena aku tinggal di dalam keluarga yang rajin berdoa, keluarga Mbah Tanjung. Di rumah besar di Jalan Tanjung Gang Dua, setiap hari ada acara doa bersama. Biasanya doa malam hari sebelum tidur. Doa sebelum makan dilakukan sendiri-sendiri, tetapi anak-anak selalu diingatkan oleh yang lebih dewasa. “Hayoo… Sudah berdoa belum?”. Aku paling sering mendapat teguran itu.
Bagiku, ada sebuah doa yang paling menyenangkan, yaitu doa yang dikabulkan. Meski bagaimana sebuah doa yang bisa sampai terkabul, itu masih menjadi misteri buat diriku.
Pada suatu siang setelah sekolah, badan aku sudah terasa lelah. Padahal hari itu aku masih harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Sekolahku di Taman Kanak Kanak di Jalan Semeru (Semeru Straat) Malang. Jarak dari sekolahku ke rumah Mbah Tanjung yang baru di Jalan Lowok Waru sekitar 4 kilometer. Parahnya lagi, siang itu matahari kota Malang tersenyum sumringah dengan teriknya. Detik itu juga aku berdoa, “Tuhan, aku capek. Tolong aku Tuhan.” Hanya itu saja yang kukatakan dalam hati sembari berjalan pulang agak sempoyongan.
Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar sayup-sayup suara kloneng-kloneng. Terimakasih Tuhan, bisikku dalam hati. Aku hafal luar kepala suara itu. Bunyi “kloneng-kloneng” itu adalah suara kalung pada leher sapi yang menarik gerobak beroda ban karet milik si Ja’im. Suaranya semakin dekat, dan benar munculah gerobak sapi. Ja’im. Kusir gerobak itu adalah sahabatku.
Ja’im memandangku sambil tersenyum lebar, senyuman seorang sahabat. “Melok? (Ikut?),” tanyanya. Secepat kilat aku melompat ke atas gerobak dan duduk di samping Ja’im. Sahabatku itu kemudian mengayun-ayunkan cambuknya untuk melarang anak-anak lain yang ingin ikut naik ke gerobaknya.
Ja’im adalah seorang laki-laki kurus berumur sekitar tiga puluhan tahun. Ia termasuk tipe orang yang tenang, sabar dan pendiam. Ja’im hanya kelihatan marah kalau ada anak-anak yang mau menumpang gerobaknya. Tetapi, mengapa aku dibolehkan naik bahkan diajaknya?
Begini riwayatnya. Beberapa minggu sebelumnya, saat aku dan teman-teman sekolahku beramai-ramai hendak menaiki gerobak itu, Ja’im berusaha menghalau kami semua agar tidak naik gerobaknya. Tetapi terlambat, aku sudah terlanjur berhasil naik dan nangkring di atas gerobak itu.
Saat mata sang kusir menatapku tajam, apa yang aku lakukan? Aku hanya tersenyum lebar yang cenderung nyengir kepada kusir kurus itu. Ajaib, aku tidak diusirnya. Ia hanya melengos sebal, lalu kembali memandang ke depan sambil mencambuk sapinya agar berjalan lebih cepat. Itulah cerita perkenalan pertamaku dengan Ja’im.
Sejak saat itu, setiap kali menumpang gerobak itu, aku selalu terus mengoceh, dan rupanya Ja’im senang dengan cerita-cerita yang aku ceritakan. Aku bercerita tentang berbagai hal. Tentang kejadian di sekolah, di rumah, atau kejadian-kejadian lucu lainnya. Mendengar aku bercerita, terkadang ia tertawa atau tersenyum senang, tapi tanpa komentar apapun. Mungkin, itulah persahabatan yang ideal. Yang satu menjadi pembicara yang baik, yang lain menjadi pendengar yang baik.
Pada saat duduk atas gerobak sapi di siang terik itu, aku sempat merenung dan berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi. Doa yang terkabul. Bagaimana prosesnya? Kok, Tuhan bisa secepat itu menolongku dengan menyediakan gerobak si Ja’im. Tetapi, pikiran itu terpotong oleh kerasnya suara cambuk ke pantat sapi, jalanan agak menanjak setelah melewati jembatan kali Brantas.
Aku selalu menikmati perjalanan menumpang gerobak Ja’im. Apalagi sambil ditemani suasana teduh dan sejuk oleh semilirnya angin Malang yang dingin. Goyangan gerobak beroda ban karet yang lembut itu, berpadu dengan bunyi “klonengan” kalung di leher sapi yang ritmis. Ah, itu semua membuat mataku semakin berat, makin redup. Tetapi sebelum aku tertidur, aku masih sempat melirik si Ja’im. Ia masih tetap duduk tenang, memandang ke depan sambil mengendalikan sapinya.
“Wis rek, muduno! (sudah rek, turunlah!)”.
Hampir saja aku terpental kaget dibangunkan si Ja’im. Rupanya kami sudah tiba di mulut gang rumah Mbah Tanjung. Aku pun meloncat turun sambil melambaikan tangan ke arah Ja’im. Ia membalas lambaian tanganku dengan nyengir sambil mengangkat tinggi-tinggi cambuknya lalu dialamatkan ke sapinya.
Sambil berjalan memasuki gang menuju ke rumah, aku memikirkan lagi bagaimana cara Tuhan mengirimkan gerobak si Ja’im. Tetapi, lagi-lagi pikiran itu terhapus karena aku sudah tiba di rumah. Seperti biasanya, aku harus segera berganti pakaian, mencuci kaki dan tangan, sambil semangat menunggu panggilan untuk… makan! (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan


Agustus 13, 2015 at 08:54
Simbiosis mutualisme, ompa senang dapat tumpangan, si Ja’im senang dapat hiburan di hari2 nya yg monoton..
SukaDisukai oleh 1 orang
Agustus 13, 2015 at 10:54
Ja’im yg baik hati, ja’im yg memberkati. Sehingga membekas di hati.. *you’re so cuiiitt ‘im”*
SukaDisukai oleh 1 orang