wpid-mtf_hemtn_296.jpg.jpg

LAYANG-LAYANG MALAM

SAAT sedang asik-asiknya menikmati bersekolah di Taman Kanak-kanak, di Jalan Semeru (Semeru Straat) Malang, tiba-tiba aku harus berpindah ke kota lain, yaitu ke kota Mojokerto, Jawa Timur.

Kejadiannya sangat mendadak dan cepat. Aku hanya ingat, di Mojokerto aku sudah berada di rumah Mbah Mojo. Mbah Mojo adalah adik kandung Mbah Tanjung. Di Mojokerto ini, secara resmi aku diangkat sebagai anak oleh Mbah Mojo. Maka, panggilan “Mbah” berubah menjadi panggilan… “Bapak, Pak Mojo.”

Rumah Pak Mojo berada di Jalan Brantas. Rumahnya menghadap ke sungai Brantas yang sangat lebar. Sungai di depan rumah kami itu merupakan pertemuan dari dua sungai yang memang sudah cukup besar. Rumah-rumah di seberang sungai kelihatan sangat kecil.

Bagiku, pemandangan di depan rumah itu terlihat sangat indah. Aku sering sendirian berlama-lama duduk di teras depan, menikmati pemandangan indah itu. Ditambah lagi suasana di sekitar rumah yang sangat sepi dan tenang. Jarang sekali kendaraan yang melintasi jalanan di depan rumah. Seringkali di saat seperti itu aku jadi teringat akan kehidupanku sebelumnya di kota Malang.

Aku rindu akan hiruk pikuk suara anak-anak di Jalan Tanjung Gang Dua. Tetapi yang paling kurindukan hanyalah tiga orang, Om No dan Om Nu yang menyebalkan, serta Cacak, sang pemimpin Geng Anak Tanjung yang kukagumi. Tetapi, kenangan itu lambat-laun tertutup oleh kejadian-kejadian kecil, seperti berikut ini.

Sore itu, menjelang matahari terbenam, udara sangat cerah. Seperti biasa, aku duduk-duduk menikmati pemandangan sore di tepi sungai Brantas itu. Tiba-tiba mataku tertarik kepada banyak titik-titik kecil yang bergerak-gerak di langit di atas sungai. Ada titik yang besar dan ada titik yang kecil. Titik-titik itu adalah layang-layang yang berwarna-warni yang bergerak dinamis. Aku terpana.

Layang-layang yang besar terbang dengan lebih tenang. Sedangkan yang lebih kecil terbang lincah, gesit mondar-mandir, seperti mencari lawan untuk diajak adu kekuatan. Layang-layang dengan benang yang kuat dan berlumur bubuk gelas yang tajam akan memenangkan pertarungan. Sedang yang kalah akan terbang limbung, melayang kehilangan arah, dan jatuh ditelan air sungai. Ah, tiba-tiba saja, aku kepingin punya layang-layang.

Di rumah itu, ada seorang Om yang membantu keluarga Pak Mojo. Kamar tidurnya di belakang rumah, di samping dapur. Suatu ketika Om itu disuruh oleh Ibu Mojo untuk pergi ke toko yang terletak di gang belakang rumah, tanpa ijin, aku mengikutinya.

Dalam perjalanan menuju toko, aku melihat sebuah warung yang penuh dengan layang-layang, digantung berderet-deret dan berwarna-warni. Aku berhenti di warung itu dan mulai memilih-milih. Aku menjatuhkan pilihanku pada layang-layang yang bergambar burung Garuda. Aku pun langsung mendekap layang-layang itu, yang tentu saja, kemudian terjadilah ketegangan dengan si Om. Karena layang-layang itu jelas tidak tercantum dalam daftar belanjaannya. Tak bergeming, aku tetap memegang erat layang-layang bergambar burung Garuda itu.

Singkat cerita, aku yang menang, dan si Om membayarnya. Entah ia menggunakan uang siapa. Sambil berlari kecil kegirangan, aku tidak sabar lagi untuk menerbangkan si layang-layang.

Hari sudah mulai gelap, tetapi aku ingin menerbangkan layang-layang baru yang bergambar burung Garuda itu. Benang sudah di pasang dan layang-layang siap diterbangkan. Tetapi, Bapak melarangku bermain layang-layang. Bapak dengan tegas menyuruhku untuk menyimpan dulu layang-layang itu dan dinaikkan esok paginya karena hari sudah malam. Aku tidak setuju. Maka, kemudian terjadilah “huru-hara” di dalam rumah. Aku tetap bersikukuh. Aku ingin menerbangkannya malam itu juga.

Akhirnya, aku yang mengalah. Aku memutuskan untuk menerbangkan layang-layang itu di dalam rumah. Dengan susah payah, aku berlari mondar-mandir ke depan dan ke belakang rumah. Hasilnya bisa ditebak, tentu saja layang-layang itu tidak berhasil terbang, karena tidak ada angin. Maka, aku kembali ngotot untuk menerbangkan layang-layang ini di luar rumah, di pinggir sungai. Tetapi Bapak berkata, “Kan, di luar gelap.”

Aku menjawab, “Yo nggae sentolop ae… (Ya pakai senter saja…).” Maka, terjadilah huru-hara jilid dua di rumah itu. Tiba-tiba datang si Om membawa tangga ke dalam kamar tidurku. Si Om menggantung layang-layang itu dengan benang di sudut kamar, di bawah plafon. Lalu, ujung benang layang-layang itu diberikan kepadaku. Sungguh Cerdas!

Kini aku bisa memainkan layang-layang itu di kamar tidur. Aku berdiri dan berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut yang lain sambil memegang dan menarik-narik benang itu. Layang-layang itu bergerak-gerak seakan terbang tinggi di langit. Aku senang dan puas. Huru-hara malam itu pun berakhir damai.

Tidak bosan-bosan, sampai larut malam aku terus memainkan layang-layang itu. Saat kelelahan, aku memegang benangnya sambil duduk di samping tempat tidur. Aku merasa sangat bahagia. Dengan benang yang masih di tangan, sambil tersenyum aku tertidur.

Malam itu, aku bermimpi indah. Aku bermimpi menerbangkan layang-layangnyaku di atas Sungai Brantas. Layang-layangku yang bergambar burung Garuda itu terbang tinggi dan gagah di langit kota Mojokerto. (*)

.

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan