cso Belalang kayu

PEMAKAN SERANGGA

KETIKA suasana perang masih berkecamuk, semua daerah termasuk Wonogiri mengalami masa-masa yang sulit. Harga bahan-bahan pokok melambung, sangat tinggi, bahkan juga sangat sulit untuk mendapatkannya. Beras menghilang dari peredaran. Entah ke mana perginya. Maka, makanan kami sehari-hari adalah Tiwul, yaitu singkong yang dijemur di bawah matahari agar menjadi Gaplek, lalu ditumbuk halus dan ditanak seperti nasi. Jadilah… Sego Tiwul.

Pada mulanya makan Sego Tiwul setiap hari rasanya enak. Tetapi, kalau harus makan Sego Tiwul selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, ya repot juga… rasanya!

Ketika masa seperti itu, aku sering merindukan nasi putih. Saking rindunya, aku sering bermimpi sedang makan nasi putih dengan lauk ayam goreng. Jika tiba-tiba aku terbangun, aku menyesal. Kenapa harus terbangun tepat ketika enak-enaknya menikmati makan. Pernah juga aku bernazar, bahwa kelak kalau masa sulit ini telah lewat, aku akan makan sepiring nasi putih saja, tanpa lauk, tanpa sayur.

Sering sekali di meja makan hanya tersedia satu porsi. Satu piring nasi putih dan sepotong daging ayam goreng yang baru matang. Baunya harum sekali. Namun, nasi putih dan ayam goreng itu hanya untuk satu orang, yaitu Pak Mojo, ayah angkatku. Aku hanya berani berkeliling-keliling meja makan itu dan memandangi ayam goreng dan nasi putih itu sambil mengarahkankan hidungku ke arah sumber aromanya di atas meja itu. Aromanya, hemmm… seketika itu juga aku menelan ludah. Peristiwa seperti itu yang awalnya mendorong aku untuk bernazar.

Aku adalah makhluk “pemakan daging”, bukan manusia pemakan sayur atau buah-buahan. Rasa keinginan yang kuat untuk makan daging itu yang membuat aku mendirikan Geng Anak Gragas. Gragas berarti “suka memakan segala macam makanan, apa saja dimakan”. Maka, terbentuklah geng itu yang terdiri dari aku dan tiga orang temanku. Kami selalu berkumpul, merundingkan rencana dan operasi yang akan dilakukan.

Tujuan terbentuknya geng sudah jelas, adalah untuk berkelana sambil mencari makan, makanan apa saja yang dijumpai dan dimakan. Masing-masing dari setiap kami memperlengkapi persenjataan dengan sebuah pisau, tongkat panjang yang bercabang ujungnya, ketapel, jaring, dan korek api. Sedangkan di sakuku selalu siap sekantong garam, sekantong cabe rawit tumbuk, dan tembakau.

Operasi yang sering geng ini lakukan adalah, menuju lapangan di sekitar rumah kami. Di lapangan itu terdapat empat pohon kenari dan pohon mangga. Pohon kenari yang tinggi itu sedang berbuah rimbun. Kami menggunakan ketapel untuk meruntuhkan buah-buah kenari itu. Setelah buahnya berjatuhan di tanah, buah kenari itu kami tumbuk dengan batu besar agar kulit kerasnya pecah, dan terbelah.

Di dalam kulit keras itu terdapat biji kenari berwarna putih. Itulah sebenarnya yang kucari. Rasanya gurih. Tapi kadang-kadang biji kenari putih itu terburai akibat tumbukan kami dan tidak bisa diambil. Jika sudah begitu, maka aku korek memakai ujung peniti, hasilnya dimakan sedikit demi sedikit. Nikmat sekali!

Operasi geng Gragas berlanjut. Kami berjalan menyusuri kampung-kampung. Kalau ada pohon mangga yang sudah berbuah, maka salah satu anggota geng memanjat pohon itu tanpa suara. Kemudian memetik beberapa buah mangga, kemudian kami semua berlari menuju ke tanah kuburan di pinggir Sungai Bengawan Solo. Itulah letak basecamp atau kantor pusat geng kami.

Di sana kami duduk di rerumputan sambil memakan mangga muda disertai garam dan cabe rawit tumbuk yang sudah kami siapkan. Rasanya enak luar biasa!

Yang aku paling suka adalah jika menemukan mangga yang sudah menguning, alias matang di pohon. Aku lalu pelan-pelan memukul-mukulkan mangga itu ke tembok, ke pohon atau ke bebatuan. Perlahan dan terus-menerus hingga jika ditekan dengan tangan isi di dalam buah itu akan keluar kadang meleleh atau meleset kesana-kemari. Seperti jus mangga. Lalu aku mengigit dan menghisapnya sampai sesap habis. Jus manggaku ini adalah jus buah yang fresh, organik dan tanpa pengawet.

Operasi kami beralih ke semak-semak di sekitar tanah kuburan, lokasi basecamp geng kami. Di sana aku menemukan ular melata yang keluar dari semak-semak. Kami menangkap ular itu dengan menggunakan tongkat bercabang kami. Dari belakang, kupegang bagian kepala ular, lalu kuarahkan mulut ular itu ke belahan bambu sehingga ular itu menggigit bambu. Maka keluarlah cairan dari taring ular itu. Itulah racun ular.

Kemudian, giliran seorang temanku yang ahli menyembelih, menguliti dan memotong-motong ular itu. Setelah dipotong kecil-kecil, dagingnya ditusuk seperti sate. Tugasku selanjutnya adalah membuat api.

Setelah api membara, bersama-sama kami bakar sate daging ular itu hingga tercium aroma yang sangat sedap. Maka, pesta sate ular pun dimulai.

Geng Gragas juga sering beroperasi di dalam kampung-kampung. Jika kami menemukan ada gundukan-gundukan kecil di atas tanah. Itu pertanda di dalamnya ada makanan. Setelah gundukan itu aku singkirkan, maka akan tampak sebuah lubang kecil. Kemudian kumasukan sedikit tembakau ke dalam lubang itu dan mengisinya dengan air.

Dalam beberapa detik, maka akan keluar jangkrik berwarna putih yang penuh lemak. Jenis jangkrik putih itu namanya Gangsir. Gangsir-gangsir yang kami tangkap itu kami simpan di dalam kantong kain yang kami kalungkan di leher. Sambil berjalan sedikit tegap, kami melanjutkan operasi berikutnya.

Seperti operasi yang sudah-sudah, kami menuju ke semak-semak. Makanan yang paling banyak kami temukan di situ adalah belalang. Jika melihatnya, kami segera mengeluarkan jaring. Kami ikat jaring itu pada ujung tongkat yang kami bawa. Lalu dimulailah perburuan belalang. Biasanya kami mendapatkan belalang yang banyak sekali. Belalang-belalang hasil tangkapan, kami simpan di dalam kantung kami.

Selesai perburuan, kami kembali berkumpul di basecamp. Seperti biasa, tugasku adalah membuat api bebakaran. Geng Gragas siap berpesta serangga. Ada belalang, jangkrik, dan juga serangga lainnya termasuk entung (semacam kepompong) yang juga kami temukan di dalam semak-semak. Serangga-serangga bakar itu rasanya gurih dan lezat sekali.

Selain itu, menu favorit kami adalah burung bakar. Jika operasi perburuan burung dimulai, kami semua anggota geng menyebar. Senjata utamanya adalah katapel. Di daerah tempat tinggal kami banyak sekali burung yang hinggap di atas pohon dan juga di semak-semak. Burung yang terbanyak adalah Burung Tekukur. Dalam setiap perburuan, kami bisa mendapatkan tiga sampai lima ekor burung.

Petualangan Geng Gragas dilakukan hampir setiap hari. Kami selalu mendapatkan pengalaman-pengalaman yang seru, seperti ketika geng kami dikejar-kejar oleh pemilik pohon mangga. Dengan setiap hari berpetualangan, hidup kami selalu bergairah dan penuh tantangan. Hanya saja, Geng Anak Gragas itu dibenci oleh para orang tua yang menginginkan anak mereka bermain di dalam rumah. Anak-anak semacam itu kami namakan sebagai “anak rumahan”.

Dibandingkan dengan kami, anak-anak rumahan kulitnya lebih bersih dan halus. Maklumlah, memang mereka lebih banyak di dalam rumah, atau rajin cuci kaki dan cuci tangan, apalagi sebelum makan. Sedangkan kami, Geng Anak Gragas adalah brandalan yang hangus kulitnya karena sering terbakar matahari, terlebih lagi tangan kami yang baret-baret tidak karuan akibat perburuan di semak belukar.

Tetapi, kami merasa senang dan bahagia. Kami bebas berpetualang sambil mencari makanan kesukaan kami. Daging ular, daging burung, dan segala jenis serangga bisa menjadi santapan kami sehari-hari.

Kami juga sangat bersyukur bisa terbebas dari penyakit yang sering terjadi kepada anak-anak pada masa itu. Banyak anak yang terkena penyakit “kurang gizi”. Kami Geng Anak Gragas, justru mengalami “kelebihan gizi”. (*)

Penulis: Antonius Sutedjo

Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan

Ilustrasi: Mbah Google