SUNDA KELAPA
Untuk memenuhi janjiku pada teman-teman sekolahku di SDN 3 Wonogiri, aku sudah siap untuk membuat cerita petualanganku hari ini.
Pagi-pagi aku sudah nangkring di tangga trem listrik menuju Utara. Ya, ke Utara. Karena kemarin sewaktu tremku memutar balik di ujung rel di Utara sana, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Aku mencium bau sesuatu, yang membuatku ingin kembali lagi ke sana dan menyelidiki, bau apakah itu.
Trem listrikku meluncur melewati Kramat Raya, Senen dan Lapangan Banteng. Aku sudah mengenal semua jalan itu sebelumnya. Begitu pula dengan Pasar Baru. Setelah belok ke kiri menyusuri Kali Ciliwung dan mentok di Harmoni, tremku kemudian belok kanan jalan terus ke Utara. Aku sudah tidak sabar untuk segera sampai di ujung rel kereta ini.
Akhirnya setelah melewati Beos, atau stasiun Jakarta Kota yang megah itu, sampailah trem listrikku di ujung utara rel. Aku turun di situ. Benar saja dugaanku. Lagi-lagi aku mencium bau yang aneh yang belum pernah kukenal sebelumnya. Kemudian aku berjalan kaki ke arah utara mencari sumber bau itu. Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Aku tercengang dengan apa yang tampak jauh di depanku. Laut. Aku berlari tanpa memperhatikan lagi apa yang ada di kiri-kananku. Aku terus berlari melalui dermaga beton. Dan sampailah aku di ujung. Aku sekarang berada di tepi laut. Sebuah pelabuhan, inilah dia rupanya Pelabuhan Sunda Kelapa. Bau yang kucium itu ternyata harum sebuah pelabuhan.
Sambil masih tercengang, aku duduk di tepi dermaga itu. Aku memandang ke depan, ke laut lepas. Ini adalah pemandangan yang luar biasa bagiku. Di sekolah memang aku pernah berlajar bahwa ada suatu tempat yang dinamakan laut. Laut itu luas. Tetapi hari ini adalah hari pertama kali aku melihat laut dalam hidupku.
Aku pun mulai berpikir, sepanjang pengamatanku, yang namanya air, seluas apa pun pasti ada batasnya. Seperti air pada kolam renang, sungai atau danau yang luas pun pasti ada batasnya. Tapi bagaimana dengan laut? Kenapa seperti tidak ada batasnya? Kalau tidak ada batasnya, lalu air laut itu tumpah ke mana? Itulah yang membuatku bertanya-tanya. Kalau sekiranya aku bisa, aku ingin menyelidiki apa yang ada di balik ujung laut sana.
Saat sedang asik berpikir dan mengamati laut itu, tiba-tiba mataku tertuju pada satu titik hitam di garis ujung laut itu. Tadinya aku tidak begitu memperhatikannya. Tetapi titik hitam itu semakin lama semakin membesar, bagaikan sebuah benda yang muncul dari dalam air. Setelah beberapa menit kemudian barulah aku mengerti, titik hitam itu adalah sebuah kapal.
Kapal itu sangat besar, mungkin sebesar lapangan tempat aku bermain sepak bola di Wonogiri. Lalu aku bertanya dalam hati, apakah kapal ini juga akan berlabuh di pelabuhan ini? Bukankah pelabuhan ini terlalu kecil untuk kapal sebesar itu? Tidak berapa lama, pertanyaanku sudah terjawab. Ternyata kapal itu tidak menuju ke sini, namun ia berjalan ke arah timur. Belakangan aku baru tahu bahwa di sebelah timur sana ada sebuah pelabuhan besar, bernama Tanjung Priok. Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan yang menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa ini.
Cukup lama aku duduk disitu. Matahari semakin bersinar terik. Aku mulai merasa haus dan lapar, aku pergi meninggalkan dermaga itu dengan masih membawa beribu pertanyaan tentang laut.
Sambil berjalan mencari warung makanan, aku mengamati banyak sekali kapal-kapal layar yang sangat besar. Mereka berjajar rapi dan seakan berhimpitan dengan bagian depannya yang tajam dan mendongak ke atas. Bagaikan leher burung cangak sawah yang panjang yang sedang berbaris. Di depan kapal-kapal kayu itu berderet truk-truk penuh muatan. Truk itu berada di atas dermaga beton. Suasana di situ sangat hiruk-pikuk dan banyak sekali debu yang beterbangan. Kapal-kapal tersebut sedang melakukan “bongkar muat”. Banyak kuli angkut yang sedang mengangkut semen dan menaikannya ke atas kapal. Begitu juga dengan kapal di sebelahnya, kuli angkut sedang bekerja menggotong rotan dan menurunkannya dari atas kapal.
Akhirnya aku menemukan penjual makanan. Seorang penjual lontong, tahu goreng dan telor asin. Ia berjualan di bawah pohon di tepi dermaga. Aku pun duduk di atas bangku pendek sambil mengambil satu buah lontong, sepotong tahu goreng dan memesan segelas teh tawar kepada penjual itu. Cukuplah menu itu bagiku untuk berkelana seharian. Aku harus berhemat, agar tidak membebani Om No. Toh ini acaraku hari ini bukannya wisata kuliner, tapi pengamatan sejarah.
“Pak, kapal-kapal kayu ini kok bentuknya aneh dan unik, itu kapal apa?”, tanyaku kepada bapak penjual lontong. “Oh, itu kapal Pinisi. Kapal layar itu dibuat dari kayu semua, pembuatnya orang Bugis. Kapal Pinisi ini sangat terkenal di dunia, kapal kebanggaan bangsa kita. Lihat tuh, banyak orang-orang asing datang ke sini buat ngeliat kapal Pinisi ini.”
Bapak ini rupanya banyak tahu tentang kapal Pinisi. Ia menjelaskan, bahwa kapal Pinisi yang ada dalam pelabuhan ini, namanya kapal Pinisi Lambo. Yaitu jenis kapal Pinisi yang bagian belakangnya sudah dipotong, mungkin untuk tempat mesin kapal, jika diperlukan. Pinisi Lambo hanya memiliki satu tiang utama.
Sedangkan kapal Pinisi yang sesungguhnya, bagian depan dan belakangnya sama-sama runcing, dan memiliki dua tiang layar utama. Kapal Pinisi yang panjang itu benar-benar merupakan kebanggaan orang Bugis dan bangsa kita. Kapal itu sering berlayar keliling dunia dan sangat dikagumi oleh bangsa-bangsa lain.
Setelah aku mendengar penjelasan bapak penjual lontong tadi, aku kembali memperhatikan kuli-kuli angkut yang sedang bekerja itu. Aku jadi mengagumi mereka. Mereka sangat kuat, mampu mengangkat beban yang sangat berat. Misalnya saja mengangkat satu sak semen atau sekarung beras dipundaknya. Sungguh luar biasa.
Namun ada lagi yang lebih membuat aku kagum. Yaitu saat mereka memanggul beban sambil berjalan meniti selembar papan yang memantul-mantul bagaikan pemain sirkus. Hebat sekali mereka.
Setelah menghilangkan rasa lapar dan hausku, aku pun berjalan kembali menuju ke benteng yang sempat aku lewati tadi, saat terburu-buru berlari ketika melihat laut. Benteng itu terlihat tebal dan kuat, tapi terlihat kurang terawat karena dindingnya sudah berlumut. Tiba-tiba aku melihat ada sekelompok orang berkerumun. Mereka sedang mendengarkan seorang bapak-bapak yang sedang memberikan penjelasan tentang benteng itu.
Melihat itu, aku menjadi penasaran dan mendekati mereka. Namun, ada kejadian yang kurang menyenangkanku. Ketika mereka melihat aku mendekat, rupanya mereka menjadi curiga padaku. Karena tas yang tadinya mereka tenteng, langsung dikepit erat-erat di bawah ketiak mereka. Aku sadar diri, aku sedikit menjauh dari para wisatawan tersebut, dan duduk di atas batu, sendirian. Tetapi aku masih bisa mendengarkan apa yang diuraikan oleh pemandu wisata itu. Aku ingin mencuri dengar.
“Pelabuhan Sunda Kelapa ini, pada abad ke lima saja sudah merupakan pelabuhan yang besar dan terkenal di dunia. Banyak kapal-kapal besar berdatangan dari Timur Tengah, India Selatan, Tiongkok dan Jepang berlabuh di pelabuhan ini.” Mendengar uraian pemandu wisata tersebut aku menjadi terperangah. Ternyata, aku sekarang ini sedang berada di tempat bersejarah. Aku pun tetap duduk diam, seakan sedang memandang ke laut, tetapi telingaku ku arahkan ke pemandu wisata itu.
***
Baru-baru ini aku mengenang dan berusaha mempelajari lagi tentang Sunda Kelapa ini. Di abad ke dua belas, Sunda Kelapa ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda atau Pajajaran. Dan pada tahun 1522 Portugis bekerja sama dengan kerajaan Sunda, sehingga Portugis bisa mendirikan loji (gedung) dan benteng ini, guna menangkal serangan dari kerajaan Demak dan Cirebon.
Tanggal 22 Juni 1527, pasukan Demak mengusir Portugis dan menduduki Sunda Kelapa di bawah pimpinan Fatahilah. Maka nama Sunda Kelapa diganti menjadi “Jayakarta”. Tanggal 22 Juni itulah yang kelak dijadikan tanggal ulang tahun kota Jakarta. Kemudian pada tahun 1619, Jayakarta direbut oleh Belanda dan Jayakarta berganti nama menjadi “Batavia”. Dan ketika pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, barulah kemudian Batavia dirubah kembali namanya menjadi “Jakarta”. Sampai sekarang. Dan saat ini nama Pelabuhan Sunda Kelapa dihidupkan kembali. Karena nama ini menjadi awal sejarah berdirinya Jakarta.
***
Pemandu wisata itu memberikan penjelasan sambil berpindah-pindah tempat dan para wisatawan yang bergerombol itu mengikutinya dengan setia. Aku termasuk yang mengikuti mereka. Tetapi mungkin karena aku sangat serius mendengarkan kisah sejarah tersebut maka aku sudah tidak dikira tukang copet lagi.
Hari sudah mulai sore. Aku pun kembali menuju stasiun trem tadi. Sambil nangkring di tangga trem listrik menuju pulang itu, aku masih teringat kata pemandu wisata tadi. Ia sempat bercerita bahwa jaman dulu sebelum ada trem listrik ini, masih menggunakan alat transportasi berupa trem beroda ban mobil yang ditarik oleh empat ekor kuda yang mulutnya diberi besi. Mungkin karena itu, kita jadi sering mendengar istilah”jaman kuda gigit besi”.
Tak terasa tremku sudah sampai di Jalan Kramat Pulo. Aku melompat turun dengan membawa perasaan puas dengan petualanganku hari ini. Nanti saat aku pulang ke kotaku Wonogiri, aku pasti akan bercerita panjang tentang sejarah Sunda Kelapa dan Jakarta ini kepada teman-teman ku. Di SDN Tiga Wonogiri. (*)
.
Penulis: Antonius Sutedjo
Penyunting: Veronica K & SR Kristiawan.


September 18, 2015 at 22:34
salam kenal……
SukaSuka